Senin, 08 September 2014

horizon



pada satu titik, pandangan memungkinkanmu mendapati langit dan bumi bertemu. titik itu kita namai horizon (kaki langit).

dalam hidup, jika ada titik yang memungkinkan kita dan Tuhan bertemu, horizon itu paling mungkin senama doa.

Selasa, 02 September 2014

Kutulis Ini Dari Samping Tempatmu Sekarang Berbaring



Meskipun seperti sekumpulan perjalanan yang penuh aral, kehidupan harus terus dilanjutkan. Demikian usia tak memberimu pilihan untuk berbalik ke saat-saat yang kauingin. Kauingin ubah, kauingin ulangi, atau yang kauingin tinggali untuk berhenti. Kecuali mengenang, tak ada yang bisa diubah.
Semesta bekerja dengan aturan-aturan yang keras. Kita bisa memilih menjadi lebih keras kepala, dan terus berbenturan dengannya. Tetapi, batu apakah kita ini? Cuma kerikil kecil yang mencoba-coba kesaktiannya pada bola besar yang menggelinding.
Dik, memang akan ada saatnya kebahagiaan-kebahagiaan kita yang sederhana ditempa, bahkan ketika kita merasa tak bersalah dan tak pernah mencari gara-gara. Sebagai kakak dan saudara perempuanmu satu-satunya apa yang bisa kuajarkan padamu bila seringnya kaudapati aku menangis sendirian, berurai air mata setiap saat? Aku menyembunyikan banyak sekali hal, tapi seolah-olah kelemahanlah yang paling tak kuasa kusimpan rapat.
Yang sebenarnya, akulah yang belajar banyak hal darimu. Kita dua orang saudara, hanya sama dalam satu hal, keras kepala. Selebihnya semua bisa sebeda langit dan tanah. dalam segala perkara, dalam segala urusan. Maka aku tidak akan banyak mengajarimu, lebih-lebih mendikte tentang bagaimana seharusnya ‘bola besar yang menggelinding’ itu dihadapi, sebab belum satupun dari kita terbukti berhasil dengan cara-cara kita sendiri. Aku hanya akan membagi isi kepalaku yang ribut tak karuan ini. Tak lebih.
Dari samping tempatmu sekarang berbaring, di sinilah aku tinggal menyaksamai pulas wajahmu. Sesekali kipas angin yang menempel di dinding membawa helai-helai rambutmu menari-nari. Kauhafal benar jam tidurku. Aku bisa tidur di antara pukul delapan hingga dua belas malam, pukul tujuh hingga sebelas pagi, pukul sepuluh hingga dua siang. Tergantung. Tapi tidak di pukul satu malam hingga pukul lima subuh. Seolah-olah saat-saat itulah hidupku mencapai puncak keberlangsungannya. Ah, tidak perlu kuceritakan ulang! Aku hanya sedang berpikir-berpikir. Isi kepalaku ramai sekali dan berisik. Sudah demikian larut, tapi ia masih lebih sibuk dari kota-kota yang tak tahu istirahat. Tak teratur sekali, persis tulisan ini.
Cuma tiba-tiba saja teringat. Berbilang usia, siapa yang rasa satu lagi adikku masuk ke bangku kuliah. Selamat memasuki babak dunia yang beda, Nu! Selamat bertanggung jawab untuk memastikan diri memiliki banyak pengalaman sebelum beranjak ke luar dari bagian dunia paling luas dari kehidupan.
Kau tahu, kupikir, jika usiamu seperti uang, maka pengalaman-pengalaman itu adalah hasil belanjaan yang setiap perempuan akan bawa pulang kembali ke rumah-rumahnya. Kauolah, lalu hidangkan bagi keluarga kecilmu di sana. Kau harus memiliki pasokan yang mumpuni, karena kau hanya bisa berbelanja satu kali, hanya bisa membelanjakan uangmu satu kali. Tak ada yang bisa ditukar kembali, tak ada hari esok lagi.
Pernah kau bertemu dengan seseorang yang senang sekali nyerocos, menasihati ini itu, tapi tak ada satu pun dari kata-katanya yang pernah ia lakukan? (Anggaplah macamku, misalnya. Hihi) Orang-orang seperti itu menyebalkan sekali, kan? Begitu pula, orang tua bisa kelihatan sangat menjengkelkan bagi anak-anaknya saat memberi pelajaran kehidupan yang tak pernah sama sekali ia alami dan hadapi dalam hidupnya sendiri.
Menjadi perempuan tak pernah sederhana memang. Ah, aku tak ada habis pikirnya bagaimana bisa dulu punya pikiran cupek, berhasrat untuk menikah dini tanpa tahu apa-apa, tanpa peduli harus menyiapkan apa, tanpa memikirkan bagaimana pentingnya memegang peranan seorang istri dan ibu. Seolah-olah menikah itu selesai dengan jatuh cinta, bisa saling menatap dan tersenyum saban hari, dan bersenang-senang, lalu tak ada apa-apa lagi.
Hahaha, dini sekali membicarakan pernikahan, ya? Maafkan. Hanya ingin aku ingatkan, tak ada yang tahu kapan jodoh kita tiba, Dik. Mungkin hari ini, besok, bulan depan, tahun depan. Maka selagi bisa, sedari sekarang lakukan banyak hal. Tak ada maksudku membuatmu menganggap seolah-olah menikah itu tujuan hidup, atau akhir dari perjalanan seorang perempuan. Tapi ada masa-masa dalam hidup kau bisa bertanggung jawab utuh, mengambil keputusan sendiri atas hidupmu. Di masa yang lain, keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan, bahkan yang terkait dirimu, akan ada saatnya wajib kaubagi dengan pikiran orang lain.
Di bangku perkuliahan ini, coba hal-hal baru, tantang dirimu melakukan hal-hal ekstrim atau yang tak kausuka, temui dan ajak berkawan banyak orang. Punyai batasan, tapi jangan bangun benteng yang terlalu tinggi. Kelak sesuatu terjadi padamu, orang-orang sulit membantu bahkan meski ingin. Intinya, jangan hidup terlalu lurus. Apapun bakatmu, biarkan tumbuh dan memilih jalan-jalannya sendiri. Hal sekecil apapun itu yang kaubisa, percayalah kelak pasti berguna. Yayaya, kukatakan ini semua, sebelum kau sempat menyesal persis aku sekarang. Banyak hal terlewat sia-sia. Rasanya yang mau kulakukan ada segunung, tapi banyak yang terlambat. Aku anak sulung, dan tak ada kakak yang bisa menemani dan memperkenalkanku ini-itu, tak ada yang bisa dijadikan teman bicara. Semua mesti dipelajari dengan cepat dan seakan seorang diri. Tapi kau punya kakak-kakak, kan? Mereka tidak pula pernah ke mana-mana.
Kau itu cerdas, punya pendirian, dan tegas, tidak lembek, pemalas, dan random sepertiku. Bahkan ketimbang aku, kau punya selera yang lebih bagus pada sesuatu. So, berhenti berpikir selurus sekarang, Nu! Tentu saja semua terserah dirimu. Hanya kupikir, hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menantang batu adalah menjadi angin.
Ya, jadi angin sederhana yang meluas. Angin lembut yang tak bisa dilukai hidup yang seperti bola besar menggelinding tadi. Angin hidup yang bisa berkelana jauh, sejauh yang ia mampu. Jadi angin ceria yang bisa mengajak menari dahan-dahan, angin sejuk yang bisa menyentuh banyak orang. Angin yang membantu orang lain mengenali mana wangi busuk dan harum. Jadi angin yang tak perlu warna untuk dirasakan. Ayo sama-sama kita belajar, sama-sama saling bernasihat, sama-sama tak lupa untuk jadi saudara yang mengingatkan, berpapahan.
Ingat yang selalu diulang-ulang mama? Suatu saat kita mendapat musibah, orang-orang yang peduli dengan kita mungkin datang sehari dua hari, tapi mereka pasti pergi juga. Karena orang-orang juga punya masalahnya sendiri-sendiri untuk diurusi. Pada akhirnya cuma keluarga yang akan ada di sana. Baru akhir-akhir kumengerti pesan itu. Waktu awal-awal tarbiyah dulu, mama ingatkan untuk mendakwahi keluarga lebih mula sebelum ke luar ke sana ke sini. Ada yang selalu lebih penting dibangun, ada ikatan yang selalu lebih prioritas untuk dijaga. Sesuatu yang sudah dipilihkan oleh Allah lebih awal dari teman-teman bahkan pikiran-pikiran kita sekarang. Ya, keluarga.
Kita lahir menjadi keluarga, mari tak berakhir jauh darinya. Sekali lagi, selamat memulai perjalanan. Anggap saja ini semacam oleh-oleh kecil seorang kakak buat adiknya yang mungkin saja akan dibuat hidup berseberangan pikiran setelah sekian banyak pilihan yang dibuat, siapa tahu di jalan lapar, bisa dibuka-buka, dicicipi seadanya. hehehe. Tetap bersenang-senang, ya, Anak Muda!


Makassar, 02 September 2014
…. Sebelum nanti ditanyakan, “Untuk apa engkau habiskan masa muda?”

Kakak perempuanmu yang narsis, galau, dan senang kau tindas, Fiqah.

Rabu, 11 Juni 2014

Kalau Kau Seperti Aku

Lokasi: Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia

Kalau kau seperti aku, bergagasan bila cinta bukanlah sebuah akhir, aku memikirkan ia berarti seperti sebuah perjalanan. Perjalanan yang pasti berujung. Tinggal kita memilih dari sekian rute yang ada, mana yang paling panjang untuk ditempuh. Yang paling panjang yang boleh jadi berarti paling penuh rintang.

Sekali lagi, itu kalau kau seperti aku.

Rabu, 04 Juni 2014

Hei, Gadis, Pantai, dan Bintang-bintang di Langit!

Lokasi: Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
Yang kita buru dari pantai selalunya bukan senja, tapi bintang-bintangnya.
Dan, harus kau tahu, selalunya yang kurindu dari jadwal rutin bulanan kita ini bukanlah pantai, tapi kau; cerita-ceritamu, teori-teorimu mengenai cinta, hidup, pikiran-pikiranmu, kenangan-kenangan kita, rencana-rencana kita.

Tapi di sinilah aku sekarang, di atas tembok Fort Rotterdam, memandang jauh, jauh ke Akkarena sana. Sendirian. Dan, tak sedikitpun bisa sekadar mengirimu pesan semisal, "Hei, sibukkah? Kita belum ke pantai bulan ini. Ayo menikmati bintang-bintang lagi!"

Benar saja, aku hanya sampai mengetiknya. Hanya sampai di draft ponsel saja.


Sabtu, 31 Mei 2014

begitu banyak mau, begitu sedikit waktu



“Bisa meminta tolong? Tanggal 31 Mei ini, tuliskan untuk saya dengan kalimat apapun  sesuatu yang membuat saya sadar bahwa sudah semakin tua.”
                Kau tiba di sebuah obrolan tentang twit-twitku mengenai cinta dan lain-lain—yang sebenarnya selalu begitu. Rasanya sudah lama tidak ada seorangpun yang memintaku menuliskan tentang diri mereka. Jadi terasa membahagiakan.
Sering sekali aku dipusingkan dengan keinginan-keinginan menuliskan orang-orang di sekitar, hal-hal yang pernah mampir dalam hidup, membagikannya pada orang lain, dan berharap isi kepala dan hatiku bisa punya tempat yang lebih lowong untuk berputar-putar. Tapi lebih sering tidak kutemukan alasan yang tepat untuk menuliskan dan membagikan tulisan tentang mereka kepada mereka sendiri, atau kepada orang lain. Sementara menyimpan-nyimpan tulisan tersebut seperti membuat jalan misteri baru buat diriku sendiri. Menyulitkan. Maka dari itu, ini selalu terasa membahagiakan tiap kali diberi alasan-alasan yang yang kuat untuk menuliskan orang lain.
Kak Dayat, hai! Aku tahu jelas kau bahkan tidak tahu nama asliku siapa sebenarnya. Yang jelas kau tahu Azure Azalea adalah juniormu di FKM, berada di kelurahan yang sama pada PBLmu dua tahun sebelumnya. Sementara yang kuingat, kak Dayat adalah senior yang paling rajin menjenguk adik-adiknya di posko selama tiga semester PBL. Berbagi cerita dan pengalaman, memberi masukan-masukan mengenai program kerja, menawarkan bualan-bualan bagi 17 orang yang senang tertawa di tempat menginap kami yang memprihatinkan, atau sekadar membawakan kami gorengan. Uwuwu. Favorit memang kak Dayat deh! Dan, yang pasti kuingat dengan baik juga, aku dengan dan segala sesuatu tentang FKM memang tak pernah jadi mencolok. Itu akhirnya dimaklumi mengapa kak Dayat bahkan tak begitu mengenalku setelah itu. Ah! Tinggalkan curhat.
Hari ini ulang tahunmu kan, Kak? Menyaksamai bentuk permintaanmu di atas, kurasa-rasa ini memang pasti hari ulang tahunmu. Selamat bertambah tua. Aih, kata-kata tua memang tidak pernah enak di kuping, tapi begitu realitanya. Dan, sudah sifat realita sering menyakiti.
Banyak hal sudah terjadi dalam hidup masing-masing orang selama ini. Kita mencoba hal-hal baru, berjalan ke tempat-tempat baru, menemukan orang-orang baru. Sering juga takdir membawa kita pada pilihan-pilihan, menghadirkan kesempatan, bahaya. Hidup pernah mengayunkan kita tinggi-tinggi, mungkin juga pernah melemparkan kita sampai benar-benar patah. Bahkan sekalipun kita merasa kehidupan kita sangatlah lurus. Perasaan itu sendiri sebenarnya adalah riakan.
Kak, aku tak bisa mengingatkanmu seperti seorang ustaz yang berceramah agama. Membawa ayat-ayat, dalil-dalil, menakut-nakutimu tentang alam akhirat. Karena itu bisa kaudapatkan sendiri di tempat atau di tulisan yang lain. Tidak bisa juga mengingatkanmu seperti seorang sahabat yang benar-benar tahu jalan hidupmu, apa yang sungguh-sungguh kaubutuh, karena aku memang benaran tak tahu apa-apa tentang kak Dayat biarpun sedikit. Tidak bisa juga menuliskan hal-hal (yang anggaplah) indah seperti yang biasa aku lakukan. Tapi yang bisa kukatakan, Kak. Waktu tidak pernah mau tahu dan mengerti apapun tentang diri kita. Kita sendiri yang mesti tahu dan mengerti sifat itu.
Kau tahu, Kak. Begitu banyak harapan, impian, dan hal-hal yang ingin kulakukan setidaknya sebelum aku mati. Dan ada berapa di antara itu yang sudah terwujud? Bahkan yang sudah kumulai saja belum ada sehitungan jari. Apa kau juga seperti itu? Kuharap tidak, kuharap selama ini kau punya hidup yang lebih baik. Melakukan hal-hal yang kau sukai, memilih sesuai hati nurani, menjalankan impianmu dengan baik, mempunyai kehidupan ceria, keluarga yang hangat, teman-teman yang menyenangkan, dan memegang prinsip yang teguh. Kalaupun belum semuanya, kabar baiknya kita masih cukup muda untuk membalikkan roda kehidupan, jika ia ternyata memang berputar terlalu lambat. Yayaya. Aku selalu yakin muda-tuanya manusia sangat bergantung dari usia harapan-harapannya. Jadi, kupikir selama kau masih punya banyak hal untuk diimpikan dan dilakukan, kau masih bisa lantang-lantang menyebut dirimu muda. Begitu. Pembenaran, hahaha.
Aku ingat di sebuah film yang pernah kutonton (aduh aku lupa judulnya). Ada seorang ayah bernasihat pada anak gadisnya. Begini kurang-lebih
Kau tahu, Nak. Saat kau muda, semuanya terasa seperti kau ada di akhir dunia. Tapi tidak. Itu adalah awalnya. Mungkin kau harus bertemu beberapa bajingan, beberapa sandungan, dan pelecehan, tapi suatu hari, pada gilirannya hidup akan mempertemukanmu juga dengan seseorang, sebuah tempat, yang memperlakukanmu selayaknya.
Kau tahu, Nak. Bahkan pada malam hari, sebenarnya matahari tidak meninggalkan kita sendiri. Dia berada di belakang kita, tersenyum diam-diam. Sembari menunggu giliran yang tepat untuk memeluk kita dari depan.”
Kak, tidak banyak lagi yang bisa kukatakan. Sejak tadi aku sudah berputar-putar tak tentu dan berpanjang-lebar tak jelas. Sudah cukup, kukira. Selebihnya, cuma bisa kudoakan yang terbaik untukmu. Doa-doa selalu punya lengan yang lebih banyak dan panjang, kan? Bisa menjangkau orang-orang, menjangkau langit, dan masa depan dalam waktu bersamaan.
Terakhir, Selamat ulang tahun. Saya lebih suka mengatakan kepada teman-teman untuk berbahagia di hari ulang tahunnya ketimbang bersedih. Jika Allah saja Maha pemaaf, kenapa sulit bagi kita membuka hati untuk memaafkan kebodohan-kebodohan kita di masa lalu dan memulai lagi segalanya dengan senyum terangkat?
Sekali lagi, selamat ulang tahun, kak Dayat. Tetaplah jadi sosok yang menyenangkan bagi semua orang dan diri sendiri.

Makassar, 31 Mei 2014

Kamis, 22 Mei 2014

Di Hari Ulang Tahunmu, Saya Berdoa dan Berbahagia. Kehilangan Memang Tak Perlu Selalu Dirayakan Dengan Tangisan kan?


Ah, Isma Ulang Tahun. Yang ke berapa? ke 22? Oke, kakak Isma, Selamat! Haha. Kenapa saya memberi selamat? Maksud saya kenapa orang-orang terlalu sibuk memperdebatkan soal pantas tak pantasnya memberi selamat di hari ulang tahun? Maksud saya, selamat bisa berarti banyak hal kan? Menyelamati seluruh pencapaian yang orang tersebut raih, menyelamati seluruh jerih payah dan perjuangan yang pernah ia lakukan, meski entah telah berbuah atau tidak. Menyelamati nikmat yang pernah dan masih Tuhan beri, menyelamati seluruh kebahagiaan yang ia punya dan bagi. Selamat bisa berarti apa saja. Dan, saya tahu, saya pantas memberi selamat untuk Isma. 

Isma seperti benang sari yang punya banyak serbuk kebahagiaan di dalam dirinya. Entahlah, seberapa banyak Isma sendiri sudah merasa bahagia, tapi saya yakin, kalau kau mengenalnya, tidak pernah sulit untuk tersenyum di dekat Isma. Sedikit saja kau kuak daun pintu ke hatinya, maka angin akan membawa serbuk-serbuk kebahagiaan tadi untuk mampir ke putik bibirmu. Isma perempuan yang menyenangkan. Dan sekali lagi, kenapa saya katakan saya pantas memberi Isma selamat, karena manusia yang bisa memegang senyuman orang banyak adalah salah satu orang yang kaya. Hal itu tak pernah jadi pekerjaan yang mudah. Pasti sudah sangat banyak hati yang pernah Isma sentuh. Tidak mengherankan kalau si Ziba dan Zora bisa punya cerita sepanjang ini. Uhuk

Lalu untuk seluruh prestasi, semua semangat, keberanian, masih tidak layakkah ia kuberi sebuah selamat? Dua puluh dua tahun hidup di atas gerahnya dunia ini, saya tahu tak pernah cukup untuk Isma mengatakan dirinya sudah berbuat banyak, tapi saya tetap akan memberi selamat.

Hei, Ism! Saya bahagia, kau masih ingat tempo hari pernah menulis ini ? Kita tak pernah menyepakati apa-apa, tentang apa itu beda teman dan sahabat, tentang kita namai apa sesungguhnya jalinan kita berdua, tentang sejak kapan tepatnya saya maupun kau bersahabat, sebab itu tak sepenting apa kita bisa begitu nyaman dan percaya satu sama lain, untuk berbagi cerita-cerita, rahasia, kenangan, harapan-harapan di masa depan, meski memang tak banyak hal yang bisa dan pernah kita lakukan bersama. Hanya saja itu sudah cukup untuk menyemai rasa sayang, bukan?

Ah, apa tepatnya yang harus saya katakan di hari ulang tahunmu ini? Apa tepatnya yang bisa saya beri? Tolong jangan meneror dengan kalimat semacam, "Katanya sayang, katanya sahabat..." Karena saya bisa betul-betul menggaruk kepala dan tersenyum aneh. Sangat tidak estetik. Haha. Tapi, meskipun klise untuk mengatakannyakarena bisa saja terdengar hanya mencari-cari alasan. Saya hanya bisa berdoa dan berbahagia untukmu sekarang, hanya bisa berharap masih ada ratusan dan ribuan kebahagiaan lagi yang akan bisa kita senyumi bersama.

Di hari ulang tahunmu ini, berbahagialah juga, lebih banyak dari semua kebahagiaan orang-orang yang pernah Isma bahagiakan. Sejatinya, ulang tahun memang adalah kehilangan yang dirayakan, tapi kehilangan juga tak perlu selalu dirayakan dengan tangisan, kan?

Oh ya, saya ingat kau pernah berharap seseorang mengirimimu sebuah surat di tanggal 22 Mei ini. Kau temukan kah? Hehe, jika ternyata belum, anggaplah saja tulisan ini sebagai penghibur.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, Isma Ariyani Iskandar! :)

Makassar, 22 Mei 2014
Azure Azalea