Rabu, 11 Juni 2014

Kalau Kau Seperti Aku


Kalau kau seperti aku, bergagasan bila cinta bukanlah sebuah akhir, aku memikirkan ia berarti seperti sebuah perjalanan. Perjalanan yang pasti berujung. Tinggal kita memilih dari sekian rute yang ada, mana yang paling panjang untuk ditempuh. Yang paling panjang yang boleh jadi berarti paling penuh rintang.

Sekali lagi, itu kalau kau seperti aku.

Rabu, 04 Juni 2014

Hei, Gadis, Pantai, dan Bintang-bintang di Langit!

Yang kita buru dari pantai selalunya bukan senja, tapi bintang-bintangnya.
Dan, harus kau tahu, selalunya yang kurindu dari jadwal rutin bulanan kita ini bukanlah pantai, tapi kau; cerita-ceritamu, teori-teorimu mengenai cinta, hidup, pikiran-pikiranmu, kenangan-kenangan kita, rencana-rencana kita.

Tapi di sinilah aku sekarang, di atas tembok Fort Rotterdam, memandang jauh, jauh ke Akkarena sana. Sendirian. Dan, tak sedikitpun bisa sekadar mengirimu pesan semisal, "Hei, sibukkah? Kita belum ke pantai bulan ini. Ayo menikmati bintang-bintang lagi!"

Benar saja, aku hanya sampai mengetiknya. Hanya sampai di draft ponsel saja.


Sabtu, 31 Mei 2014

begitu banyak mau, begitu sedikit waktu



“Bisa meminta tolong? Tanggal 31 Mei ini, tuliskan untuk saya dengan kalimat apapun  sesuatu yang membuat saya sadar bahwa sudah semakin tua.”
                Kau tiba di sebuah obrolan tentang twit-twitku mengenai cinta dan lain-lain—yang sebenarnya selalu begitu. Rasanya sudah lama tidak ada seorangpun yang memintaku menuliskan tentang diri mereka. Jadi terasa membahagiakan.
Sering sekali aku dipusingkan dengan keinginan-keinginan menuliskan orang-orang di sekitar, hal-hal yang pernah mampir dalam hidup, membagikannya pada orang lain, dan berharap isi kepala dan hatiku bisa punya tempat yang lebih lowong untuk berputar-putar. Tapi lebih sering tidak kutemukan alasan yang tepat untuk menuliskan dan membagikan tulisan tentang mereka kepada mereka sendiri, atau kepada orang lain. Sementara menyimpan-nyimpan tulisan tersebut seperti membuat jalan misteri baru buat diriku sendiri. Menyulitkan. Maka dari itu, ini selalu terasa membahagiakan tiap kali diberi alasan-alasan yang yang kuat untuk menuliskan orang lain.
Kak Dayat, hai! Aku tahu jelas kau bahkan tidak tahu nama asliku siapa sebenarnya. Yang jelas kau tahu Azure Azalea adalah juniormu di FKM, berada di kelurahan yang sama pada PBLmu dua tahun sebelumnya. Sementara yang kuingat, kak Dayat adalah senior yang paling rajin menjenguk adik-adiknya di posko selama tiga semester PBL. Berbagi cerita dan pengalaman, memberi masukan-masukan mengenai program kerja, menawarkan bualan-bualan bagi 17 orang yang senang tertawa di tempat menginap kami yang memprihatinkan, atau sekadar membawakan kami gorengan. Uwuwu. Favorit memang kak Dayat deh! Dan, yang pasti kuingat dengan baik juga, aku dengan dan segala sesuatu tentang FKM memang tak pernah jadi mencolok. Itu akhirnya dimaklumi mengapa kak Dayat bahkan tak begitu mengenalku setelah itu. Ah! Tinggalkan curhat.
Hari ini ulang tahunmu kan, Kak? Menyaksamai bentuk permintaanmu di atas, kurasa-rasa ini memang pasti hari ulang tahunmu. Selamat bertambah tua. Aih, kata-kata tua memang tidak pernah enak di kuping, tapi begitu realitanya. Dan, sudah sifat realita sering menyakiti.
Banyak hal sudah terjadi dalam hidup masing-masing orang selama ini. Kita mencoba hal-hal baru, berjalan ke tempat-tempat baru, menemukan orang-orang baru. Sering juga takdir membawa kita pada pilihan-pilihan, menghadirkan kesempatan, bahaya. Hidup pernah mengayunkan kita tinggi-tinggi, mungkin juga pernah melemparkan kita sampai benar-benar patah. Bahkan sekalipun kita merasa kehidupan kita sangatlah lurus. Perasaan itu sendiri sebenarnya adalah riakan.
Kak, aku tak bisa mengingatkanmu seperti seorang ustaz yang berceramah agama. Membawa ayat-ayat, dalil-dalil, menakut-nakutimu tentang alam akhirat. Karena itu bisa kaudapatkan sendiri di tempat atau di tulisan yang lain. Tidak bisa juga mengingatkanmu seperti seorang sahabat yang benar-benar tahu jalan hidupmu, apa yang sungguh-sungguh kaubutuh, karena aku memang benaran tak tahu apa-apa tentang kak Dayat biarpun sedikit. Tidak bisa juga menuliskan hal-hal (yang anggaplah) indah seperti yang biasa aku lakukan. Tapi yang bisa kukatakan, Kak. Waktu tidak pernah mau tahu dan mengerti apapun tentang diri kita. Kita sendiri yang mesti tahu dan mengerti sifat itu.
Kau tahu, Kak. Begitu banyak harapan, impian, dan hal-hal yang ingin kulakukan setidaknya sebelum aku mati. Dan ada berapa di antara itu yang sudah terwujud? Bahkan yang sudah kumulai saja belum ada sehitungan jari. Apa kau juga seperti itu? Kuharap tidak, kuharap selama ini kau punya hidup yang lebih baik. Melakukan hal-hal yang kau sukai, memilih sesuai hati nurani, menjalankan impianmu dengan baik, mempunyai kehidupan ceria, keluarga yang hangat, teman-teman yang menyenangkan, dan memegang prinsip yang teguh. Kalaupun belum semuanya, kabar baiknya kita masih cukup muda untuk membalikkan roda kehidupan, jika ia ternyata memang berputar terlalu lambat. Yayaya. Aku selalu yakin muda-tuanya manusia sangat bergantung dari usia harapan-harapannya. Jadi, kupikir selama kau masih punya banyak hal untuk diimpikan dan dilakukan, kau masih bisa lantang-lantang menyebut dirimu muda. Begitu. Pembenaran, hahaha.
Aku ingat di sebuah film yang pernah kutonton (aduh aku lupa judulnya). Ada seorang ayah bernasihat pada anak gadisnya. Begini kurang-lebih
Kau tahu, Nak. Saat kau muda, semuanya terasa seperti kau ada di akhir dunia. Tapi tidak. Itu adalah awalnya. Mungkin kau harus bertemu beberapa bajingan, beberapa sandungan, dan pelecehan, tapi suatu hari, pada gilirannya hidup akan mempertemukanmu juga dengan seseorang, sebuah tempat, yang memperlakukanmu selayaknya.
Kau tahu, Nak. Bahkan pada malam hari, sebenarnya matahari tidak meninggalkan kita sendiri. Dia berada di belakang kita, tersenyum diam-diam. Sembari menunggu giliran yang tepat untuk memeluk kita dari depan.”
Kak, tidak banyak lagi yang bisa kukatakan. Sejak tadi aku sudah berputar-putar tak tentu dan berpanjang-lebar tak jelas. Sudah cukup, kukira. Selebihnya, cuma bisa kudoakan yang terbaik untukmu. Doa-doa selalu punya lengan yang lebih banyak dan panjang, kan? Bisa menjangkau orang-orang, menjangkau langit, dan masa depan dalam waktu bersamaan.
Terakhir, Selamat ulang tahun. Saya lebih suka mengatakan kepada teman-teman untuk berbahagia di hari ulang tahunnya ketimbang bersedih. Jika Allah saja Maha pemaaf, kenapa sulit bagi kita membuka hati untuk memaafkan kebodohan-kebodohan kita di masa lalu dan memulai lagi segalanya dengan senyum terangkat?
Sekali lagi, selamat ulang tahun, kak Dayat. Tetaplah jadi sosok yang menyenangkan bagi semua orang dan diri sendiri.

Makassar, 31 Mei 2014

Kamis, 22 Mei 2014

Di Hari Ulang Tahunmu, Saya Berdoa dan Berbahagia. Kehilangan Memang Tak Perlu Selalu Dirayakan Dengan Tangisan kan?


Ah, Isma Ulang Tahun. Yang ke berapa? ke 22? Oke, kakak Isma, Selamat! Haha. Kenapa saya memberi selamat? Maksud saya kenapa orang-orang terlalu sibuk memperdebatkan soal pantas tak pantasnya memberi selamat di hari ulang tahun? Maksud saya, selamat bisa berarti banyak hal kan? Menyelamati seluruh pencapaian yang orang tersebut raih, menyelamati seluruh jerih payah dan perjuangan yang pernah ia lakukan, meski entah telah berbuah atau tidak. Menyelamati nikmat yang pernah dan masih Tuhan beri, menyelamati seluruh kebahagiaan yang ia punya dan bagi. Selamat bisa berarti apa saja. Dan, saya tahu, saya pantas memberi selamat untuk Isma. 

Isma seperti benang sari yang punya banyak serbuk kebahagiaan di dalam dirinya. Entahlah, seberapa banyak Isma sendiri sudah merasa bahagia, tapi saya yakin, kalau kau mengenalnya, tidak pernah sulit untuk tersenyum di dekat Isma. Sedikit saja kau kuak daun pintu ke hatinya, maka angin akan membawa serbuk-serbuk kebahagiaan tadi untuk mampir ke putik bibirmu. Isma perempuan yang menyenangkan. Dan sekali lagi, kenapa saya katakan saya pantas memberi Isma selamat, karena manusia yang bisa memegang senyuman orang banyak adalah salah satu orang yang kaya. Hal itu tak pernah jadi pekerjaan yang mudah. Pasti sudah sangat banyak hati yang pernah Isma sentuh. Tidak mengherankan kalau si Ziba dan Zora bisa punya cerita sepanjang ini. Uhuk

Lalu untuk seluruh prestasi, semua semangat, keberanian, masih tidak layakkah ia kuberi sebuah selamat? Dua puluh dua tahun hidup di atas gerahnya dunia ini, saya tahu tak pernah cukup untuk Isma mengatakan dirinya sudah berbuat banyak, tapi saya tetap akan memberi selamat.

Hei, Ism! Saya bahagia, kau masih ingat tempo hari pernah menulis ini ? Kita tak pernah menyepakati apa-apa, tentang apa itu beda teman dan sahabat, tentang kita namai apa sesungguhnya jalinan kita berdua, tentang sejak kapan tepatnya saya maupun kau bersahabat, sebab itu tak sepenting apa kita bisa begitu nyaman dan percaya satu sama lain, untuk berbagi cerita-cerita, rahasia, kenangan, harapan-harapan di masa depan, meski memang tak banyak hal yang bisa dan pernah kita lakukan bersama. Hanya saja itu sudah cukup untuk menyemai rasa sayang, bukan?

Ah, apa tepatnya yang harus saya katakan di hari ulang tahunmu ini? Apa tepatnya yang bisa saya beri? Tolong jangan meneror dengan kalimat semacam, "Katanya sayang, katanya sahabat..." Karena saya bisa betul-betul menggaruk kepala dan tersenyum aneh. Sangat tidak estetik. Haha. Tapi, meskipun klise untuk mengatakannyakarena bisa saja terdengar hanya mencari-cari alasan. Saya hanya bisa berdoa dan berbahagia untukmu sekarang, hanya bisa berharap masih ada ratusan dan ribuan kebahagiaan lagi yang akan bisa kita senyumi bersama.

Di hari ulang tahunmu ini, berbahagialah juga, lebih banyak dari semua kebahagiaan orang-orang yang pernah Isma bahagiakan. Sejatinya, ulang tahun memang adalah kehilangan yang dirayakan, tapi kehilangan juga tak perlu selalu dirayakan dengan tangisan, kan?

Oh ya, saya ingat kau pernah berharap seseorang mengirimimu sebuah surat di tanggal 22 Mei ini. Kau temukan kah? Hehe, jika ternyata belum, anggaplah saja tulisan ini sebagai penghibur.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, Isma Ariyani Iskandar! :)

Makassar, 22 Mei 2014
Azure Azalea

Senin, 19 Mei 2014

Hai, Kamu! Iya, Kamu.




Kalau hanya sekadar cantik (rupawan dalam persepsimu), ah sudah terlalu banyak perempuan cantik di muka bumi ini. Kalau hanya sekadar tampan (dalam persepsi dangkalmu)—sekali lagi, juga—sudah cukup banyak laki-laki tampan di muka bumi ini. Tapi toh, kenapa juga orang tak pernah ada habisnya mencari kecantikan dan ketampanan? Sebenarnya bukan karena kuantitasnya sedikit, tapi menemui makna atau katakanlah kualitas dari sebuah kerupawananlah yang sulit.
Kenapa saya akhirnya kembali dan lagi-lagi membahas topik—setidak penting—ini, karena tidak ada juga lelahnya panca indra kita ini memotret fenomena yang—harusnya—mengiris hati bahkan pada diri saya sendiri.
Agus Noor, dalam salah buku puisi ciuman-nya menulis, “Di antara semua yang dimiliki perempuan, kecantikan ialah yang paling rapuh oleh waktu.” Saya sepakat sekali. Tapi tidak hanya perempuan, pria pun demikian, saya kira. Entah seunyu, seimut, semanis, secool, se-apapun itu dirimu. Mau asli kek, mau oplas kek. Mau sudah capek-capek fitness ampe six (six....six...six...apa lagi sih tuh namanya? Nah itulah pokoknya ye), mau seminggu tujuh kali nyalon, mau perawatan juta-jutaan cuma buat kelihatan putih, tinggi, langsing, berotot, or apapun lah itu, mau dah invest waktu, uang, dan sepenuh tenaga buat cuman kelihatan oke, cuma biar orang-orang bisa bilang Wooww.  Pulang-pulang (misalkan nih ya. Ini misal loh. Doa yang baik-baik saja) kita ditakdirin Tuhan nabrak sesuatu, keplingsat, jatoh, nabrak jemuran, mukamu yang jerawat pun kayaknya gak mungkin tumbuh disana lecet permanen, anggaplah bahkan bibir dan hidungmu dah gak jelas bentuknya apa. Tanganmu yang bulu pun malu nyokol patah dan mesti digips. Kakimu yang mesti pake lotion sekian senti saking takutnya item itu jadi malah item beneran karena ngepel aspal. Trus pacarmu yang cantiknya dah kayak Putri Indonesia, cowokmu yang kecenya minta ampun kayak boy band Korea. Saya nanya yah. Simpel saja, masih mungkin gak sih bilang kamu cantik? Bilang kamu cakep? Atau sederhananya, MASIH SUDI GAK DIA MENGANGGAPMU ADA? Sama seperti dulu saat dia memujamu sampai langit dan bulan sok-sokan dijanjiin, sampai agaknya surga tidak lagi jauh lebih indah dibanding semua tentang kalian. Seketika itu, sesimpel terjadinya insiden itu, semua mendadak berubah begitu saja.
Hanya dalam sekejap kau tertunduk merenungi dirimu di ranjang rumah sakit yang dikelilingi perawat dan pasien lain. Hanya bisa tertunduk lesu. Mungkin ada di antaranya yang tak sempat lagi berpikir persoalan rupa, kecuali sebuah kesyukuran, “Setidaknya bukan nyawa saya yang lansung dicabutNya, hanya nikmat kecil, yang pasti juga ada hikmahnya nanti.” Mungkin ada yang justru mengutuk Tuhan atas kesialan yang menimpanya, bahkan menganggap mati lebih baik seketika itu dibanding hidup menanggung luka yang memalukan. Dan, kalau itu dirimu, menurutmu, apa hal apa yang pertama kali terpikir? Sesal macam apa?
            Ah! Kecantikan dan ketampanan itu abstrak sekali kan, Kawan?. Menyerap banyak sekali energi, tapi bersamaan dengannya jatuh satu per satu. Karena usia bukankah tak bisa melawan waktu? Andai kata kesehatan, andai kata usia, atau andai kata surga bisa dibeli dengan uang, maka keberuntungan bagi mereka-mereka yang berada. Tapi toh, semua akan lenyap juga. Tapi toh, kita akan sama-sama kembali pada satu kesimpulan, bahwa bukan. Kerupawanan hakikatnya bukanlah hanya tentang fisik, bukan hanya tentang yang tampak dari mata kasar kita. Keindahan sesungguhnya bermekaran jauh di dalam diri seseorang yang memancar dalam raut-raut wajahnya yang mungkin bagi kita biasa tapi selalu mendamaikan, tersirat dari setiap ukiran senyumnya yang entah mengapa selalu membawa keteduhan. Kala bersama dia, kita tak dibuatnya terpesona dan sibuk memuja dirinya, tapi justru tenggelam dalam keindahan-keindahan Rabb kita, membawa kita merasa selalu cukup dengan seperti apapun keadaan, bahwa tak ada yang berbeda antara kita maupun dia. Padanya kita dituntun menyelami kelebihan-kelebihan diri kita sendiri. Berjalan bergandengan dengannya menjadikan kita lebih kuat dan kokoh sebagai “pribadi” yang terus menerus tumbuh menjadi lebih baik.
            Kerupawanan itu intisarinya adalah akhlak. Dan, akhlak seseorang sebagaimanapun berusahanya dipoles dari luar, tak akan bisa ditekan pancarannya. Jika buruk, buruk jugalah yang keluar, jika baik, baik jugalah yang tampak.
            Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi awal kita) hanyalah sejauh mata memandang. Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi yang benar) adalah sejauh hati merasa.


Terakhir, izinkan saya bertanya. Sudah secantik atau setampan apa kamu hari ini? ^_^


Makassar, Long Time Ago

Sabtu, 10 Mei 2014

Seperti Bulan Kenangan Matahari, Apa yang Malam Minggu Kenangkan Untukmu Kali Ini?

Bulan adalah kenangan matahari. -M. Aan Mansyur-

http://www.mobgenic.com


Tuhan melahirkanmu dengan mengizinkan kesunyian-kesunyian yang nyaring dan fasih bertengger di setiap percakapan-percakapan yang tak mau selesai. Kita tak bisa menuntaskan semua kata-kata kepada semua orang. Waktu tidak menyediakan dirinya untuk dipakai semua pertanyaan, dan mulut orang-orang juga tak pernah cukup lowong untuk dimukimi jawaban-jawaban. Cinta pula tak tersuguh untuk setiap temu dan setiap orang untuk jadi penyelesaian. Pada saatnya, suka tak suka, sunyi akan membawamu duduk bersisian di taman-taman relungmu sendiri. Berbagi kabar, menyalin gambar-gambar lampau, bertukar angan dan khayal, atau mengemas ulang air-air mata.

Sunyi akan terus membawamu duduk kembali. Seperti aku kini terpaksa bercakap lagi di bawah bulan sabit yang ranum, di ujung-ujung biasan matahari. Mengenang-ngenang pertemuan, perpisahan, menghitung-hitung waktu. Sudah seberapa banyak atau tinggal berapa lama lagi. Kau ingat, kenangan selalu jadi suara sunyi yang terakhir. Sebab kemana pun pikiranmu merapah, semua yang kau lihat, dengar, ucap, dan sangka berakhir sebagai riwayat. Tak ada yang baru dari masa depan kecuali membaharunya kenangan.

Sunyi akan terus membawamu dan aku duduk kembali. Mendengarkannya bicara sampai pikiran-pikiran sesaknya menyisakan rongga untuk kita bernapas lega. Sampai sabit yang kau lihat kemarin memurnama, dan pindah di dua sudut senyumanmu. Sampai lengkungan terakhir matahari habis, dan menyisakanku malam untuk berihat, dan bulan sebagai kenangan. Sampai kita lebih kuat menantang kokok ayam, lengking burung-burung, klakson-klakson kendaraan, bahkan suara gesekan bibir dari kembang senyuman bapak Walikota yang baru.

Dan tiba akhirnya di sini. Setelah sunyi membawaku berjalan-jalan lagi, aku jadi terpikir-pikir, dulu sebelum diturunkan ke bumi, apa mungkin sunyilah yang jadi kenang-kenangan surga kepada Adam dan Hawa?

Ah, apa mungkin?
Mungkin!
Agh!  Kesunyian memang nyaring bunyinya.

Oh ya. Kalau kau, Sayang, simpulan apalagi yang sunyi kenangkan untukmu di malam minggu kali ini?


Maros, 3 Mei 2014

Minggu, 04 Mei 2014

Sehari Jadi Model Bersama Isma

Jadi, jika ditanya sejauh ini siapa yang paling punya banyak kesamaan dengan saya di FLP (Forum Lingkar Pena), dengan tegas akan saya katakan; Isma! Kami sama-sama pelupa, sama-sama teledor, punya beberapa kebiasaan yang sama, termasuk dalam hal hobi jepret-dijepret. Hahaha.

Fine! Ini bukan pagi lagi. Panasnya sudah membakar. Dan, kalian lihat saya pakai setelan warna apa? Pft!

Sebenarnya ini agak-agak ndak penting. Hahay.

Warna batunya lucu! :D

Hae, Purple! ;)



Kok jatuhnya jadi kayak foto prawed ya. Ism? Akkk...


Cute betul sih kamu, Nak... Nak...


Tunggu tunggu. Pangeran berkuda putihnya sudah on the way.

Hei, ekornya mana? Kok hilang?








Ceritanya pas lagi seru-seruan, si kakak ini datang-datang main ngejepret saja. :(





Serempong apapun rok kami, tetap saja nekat manjat-manjat.

Kata Isma paling suka fotoku yang ini
 
Nah, kalau saya paling suka foto Isma yang ini. :D

Yeay!!


Kami merasa beruntung menemukan photographer sebaik Syira--yang begitu berluas hatinya memenuhkan kamera dia dengan muka-muka kami. Lain kali, mungkin tidak semua orang akan memaafkan kenarsisan ini. Heuheu.


Leang-Leang
Curi waktu pas TOWR