Selasa, 21 Juli 2015

Suatu Malam Di Selipan Percakapan Pendek Kita

pict from here

Ada cerita yang terus berjalan dalam sebuah puisi yang bagus.
Bagiku begitu.
Bahkah ketika aku merasa telah rampung menerjamahkan dan memaknainya, tetap saja dalam kondisi tertentu, sering kembali kutemukan kehidupan yang lain tiba-tiba bergerak dari sana. Beberapa puisi punya banyak jiwa yang bisa membuatku menangis satu waktu, dan tahu-tahu tersipu, marah, atau tertawa di kesempatan lain.
Kau bertanya mengapa aku menyukai puisi malam itu. Meski seperti kau tahu, tidak banyak waktu kita duduk berpanjang lebar untuk bercerita, seperti halnya tak banyak waktu untuk membaca lebih panjang, belum lagi memikirkannya.
Membaca puisi membuatku merenung, berpikir, dan berimajanasi lebih intens. Puisi memberiku ruang itu, ruang bercakap-cakap yang luas dan dalam dengan diri sendiri.

Sabtu, 18 Juli 2015

Hilal

pic from here

Sudah lima kali kunaikkan kalender di dinding. Dari kalender itu angka-angka berjatuhan bagai kelopak-kelopak bunga yang kukebiri, hingga terkumpul sekeranjang-sekeranjang untuk kutabur di pusara.
Lebaran tiba lagi. Seperti masih sekejap lalu aku terbangun dari kursi ruang tamu, mendapati kehadiranmu di ambang pintu. Menyatakan kalimat-kalimat yang tak pernah mampu aku ingat, sebab tengah separuh sadar, sebab tengah sepenuh terpanah. Kau tersenyum dan aku mengangguk. Entah mengapa dan bagaimana. Aku hanya ingat kembali tertidur dan melanjutkan mimpi setelahnya.
Hanya, tiba-tiba petang sudah menjelang. Belum sempat kusingkap mukena yang habis kupakai sembahyang, ketika sahabatmu memberondongku ke antara teriakan pilu orang-orang. Dari ambang pintu rumahmu, kurasa aku benar-benar dibangunkan Tuhan.
Silih berganti rangkulan kuterima dari keluarga, dari kawan-kawanmu. Di pundakku lirih mereka sampirkan kalimat-kalimat yang juga tak mampu aku ingat, sebab tengah separuh sadar, sebab tengah sepenuh terpanah. Aku mengangguk, namun tak ada lagi kau di hadapanku tersenyum. Hanya bayang-bayang abu-abu, yang pelan-pelan semakin pekat.

Berpekan-pekan silam. Jauh sebelum roda pesawat mengambil jarak dari landasan, dan burung besi tersebut membawamu pergi, kalimat ini saja yang sempat aku ingat pernah kau katakan dengan sungguh-sungguh.
“Kalau rindu, cari aku saat penghulu bulan. Tiap kali kau melihat lengkung sabit, aku tersenyum padamu di situ.”

Berentang sudah jarak pun waktu. Dan, Hilal, lebaran tiba lagi. Aku hanya ingin tahu, masih kaukah itu yang di sana tersenyum?

Kamis, 04 Juni 2015

Sepercik MIWF Hari Kedua

Hari ke-2 MIWF 2015. Saya bahagia. Pertama, Mimi sudah sembuh dan akhirnya bisa bersama sahabat sejauh cinta-sejauh usia-ku itu sehari penuh ini. Dalam tiap hal-hal menyenangkan, rasanya selalu berlipat-lipat kalau ada Mimi di dalamnya. Kedua, meskipun begitu sibuk mengomentari beberapa penampilan pada Under The Poetic Sky-nya MIWF, Bukan memang jiwaku ini. Ndak cocok memang saya beginian. Kenapa puisi itu harus bikin terputar-putar kata-kata, dan sebagainya dan sebagainya. Saya senang kawan-kawan sefakultasku banyak yang setidaknya "mau" menyempatkan diri ke sini. Ketiga, beberapa penampil kembali memukau. Saya begitu bahagia karena terharu dan dibuat menangis dengan cerita singkat yang Bryan Whalen tuturkan terbata-bata dalam bahasa Indonesia tentang Makassar dan bagaimana ia merasa diperlakukan. Ah, I love him. Saya dibuat tersenyum-senyum sendiri oleh tingkah manis Yana dan Nina, terutama pada bagian kak Khrisna dan Yana membacakan puisi Hujan Bulan Juni Sapardi dalam Bahasa Indonesia dan Makassar. Huwyeah! Terbait meman kak Khrisna. Dan penutup yang spektakuler dari El, Luna Vidya, dan Khrisna Pabichara dalam musikalisasi puisi Aku milik Chairil Anwar yang gagal menahan saya tak berteriak kencang; Yuwrawk, Gaes!
Menengok jam yang sudah berada pada hitungan nyaris sekarat-nya Cinderella, saya dan Ami beranjak cepat. Kelima (tadi belum selesai), bertemu Aqila lagi, sedang duduk terlipat kelelahan di depan stand buku. Pamit singkat karena satu dari ratusan volunteer yang begitu bekerja keras demi lancarnya seluruh acara sekaligus adik manis saya di FLP itu terlihat tidak lagi berenergi sekadar untuk tersenyum. Saya pun berlalu, sampai Aqila berteriak,
"Kak Fiqah."
"Iyaa."
"Mauka pelukki dulu."
Dia berjalan gontai sekali. Saya meraih lekas Aqila sambil tersenyum. Mungkin dengan sisa-sisa daya, Aqila memeluk saya dalam sekali.
"Bau sekali meka ini, Kak. Dari pagi belum ganti baju. Tapi biarmi."
"Sama jeki, Dek."
"Tiap kulihat ki selaluku mi itu mau pelukki, Kak, kalau saya ingatki pas baca puisi tempo hari."
Aqila mengeratkan pelukannya. Dan kami terdiam beberapa jenak.
"Hati-hatiki pulang, Kak Fiqah." kata ia akhirnya sambil melepaskan saya yang masih termangu dan berusaha menahan senyuman tetap pada lengkungnya. Tak tahu harus berkata apa.
Ah, Aqila. Padahal saya baru bertemu dia tiga kali, tapi tiap kalinya Aqila selalu bisa menarik banyak jarak antara dirinya dan hati orang-orang, atau setidaknya saya.


Begitulah tiap tahunnya, MIWF tak pernah alpa membagi pertemuan demi pertemuan, kehangatan demi kehangatan. 

Jumat, 29 Mei 2015

Apa-apa yang Tak Bisa Digapai Seluruhnya, Jangan Serta-merta Meninggalkan Semuanya

Barangkali saya orang yang pikirannya sedangkal; lebih baik dicap buruk, daripada dinilai munafik! Makanya sekali pengin baik, ya baik sekalian. Sekalinya bikin yang buruk, biasanya keterusan buruk. Relatif memang. Hanya, entahlah. Disebut (maaf) bejat mungkin mengerikan, tapi dikenal sebagai orang baik sungguh lebih menakutkan, dan bila ada yang lebih gelap dari keduanya, label palsu dan munafik itulah.

Hoam, tapi pikiran ya tetap pikiran. Sejulang apapun, manusia cuma mewarisi nol-koma-nol-nol-nol-sekian-sekian persen dari ilmu Allah. Sangat sedikit, sangat terbatas. Dan, itu yang sering saya lupakan, bahwa saya hanya manusia. Manusia biasa tentu berbuat kesalahan, tentu berbuat kekeliruan. Sedangkan insan semulia, se-tak-tercela Rasulullah Muhammad pun pernah ditegur oleh Allah. Diabadikan malah di kitab suci Alquran. Penanda yang adil sekali bahwa manusia punya kodratnya sendiri, dan ia bukan malaikat yang tak bernafsu, bukan hewan yang tak berpikiran. Meskipun ia bisa melampaui keduanya.

Allah benar baik sekali mempersahabatkan saya dengan dua perempuan yang baik. Dua perempuan yang berikutnya memperantarai saya bertemu dengan guru yang amat lembut hati. Seseorang yang sangat banyak menjadi titik tolak perubahan masa-masa remaja kami waktu itu. Masih terpahat benar salah satu nasihat yang ‘kakak’ sering ulang-ulang, “Apa-apa yang tidak dapat digapai seluruhnya, jangan serta merta meninggalkan semuanya.” Untuk menjelaskan bahwa Islam itu bertahap, berkebaikan harus dilakukan terus menerus meskipun tak bisa seluruhnya, meskipun mungkin belum sempurna. Itulah mengapa surga punya banyak pintu khusus. Ada pintu yang khusus dimasuki untuk ahli shalat, ahli puasa, ahli sedekah, para mujahid, dsb. Mungkin sebab kita bisa unggul pada salah satu atau salah dua saja. Makanya, untuk manusia yang tidak bisa setengah-setengah, tapi sayangnya suka tidak fokus dan pemalas seperti saya, idealisme kacau macam paragraf pertama di atas itu seperti jurang setan yang dalam sekali.

Hm, tiba-tiba saya teringat potongan percakapan antara Elena dan Damon pada salah satu episode Series The Vampire Diaries di bawah ini;


Dalam beberapa kesempatan, potongan percakapan itu sering terngiang-ngiang dan terasa masuk akal. Tapi kemudian saya berpikir lagi, apa yang salah dari harapan kebaikan yang digantungkan orang lain kepada kita? Bukankah itu sebuah pertanda Allah menginginkan kebaikan dengan menutup cela-cela kita yang banyak. Membuat orang lain tetap melihat kita sebagai sosok yang baik? Menjadi cambuk tiap kali kita terpikir untuk berseleweng dalam hal-hal yang buruk? Agar terus berbenah diri?

Mengapa harus begitu bergantung pada penilaian diri sendiri? Selama yang kau tunjukkan tidak mengada-ada, tidak berdusta, tidak mengandung niatan macam-macam. Apa yang masalah dari penilaian orang lain? Bukankah yang penting di sini apa yang Allah tahu dari segala yang tersembunyi di dalam hati?

Ya, apa yang salah dari harapan kebaikan yang digantungkan orang lain? Apa untungnya andai kata mereka justru memandang buruk kepada kita? Selalu merasa kehadiran kita sebagai ancaman, sebagai beban? Mereka merasa tak aman, tak nyaman. Mungkin memang mereka tak bakal menaruh banyak harap, tapi tetap saja, membuat orang lain berperasaan buruk tidakkah pula menjadi salah satu bentuk pengzoliman?

Ah, tiap kali saya kembali berpikir bodoh dan dangkal seperti tadi, saya pergi ke depan cermin dan membentak diri sendiri, “Hei! Memangnya siapa yang suruh kau jadi orang sempurna? Memangnya kau siapa? Kau cuma disuruh bekerja keras, disuruh berbuat baik sebagai tebusan atas janjimu sendiri ke Tuhan sebelum dilahirkan. Siapa yang suruh kau jadi sempurna!?”

Lalu kembali lagi bergelut ke hal-hal yang perlu. Mungkin begitu saja yang bisa dilakukan untuk sementara, sambil merapikan lagi hal-hal yang terlanjur saya rusak. Sembari tetap berupaya mengembalikan mindset ke posisi yang benar. Bahwa keseluruhan hidup ini adalah bentuk peribadahan, bukan ranah pengekspresian ego. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, bukan yang paling sempurna. Bahwa patokan terendah seorang mukmin di tengah-tengah manusia adalah ‘aman’. Merasa aman saudaranya dari dirinya. Jadi tidak ada alasan untuk bertahan pada kondisi buruk. Atau berhenti di jalan kebaikan yang panjang, memang bercabang-cabang, dan juga penuh aral melintang.

Apa-apa yang tidak bisa digapai seluruhnya, jangan serta-merta meninggalkan semuanya. Begitulah.

Sabtu, 16 Mei 2015

Aku hanya mengerti dua hal mengenai jatuh hatinya orang yang baik; Ia menghormati orang yang dicintainya. Atau, menghormati dirinya untuk tidak mencederai kehormatan orang yang ia cintai.


Kamu benar, supaya cinta membuat kita terhormat, menghormati tiap kedatangannya pun diperlukan. Menghadapi cinta yang terbaik memang tak boleh digesa-gesa, namun bukan berarti semudahnya ditunda-tunda, kan? Memperlakukan kedatangan cinta pelik sekali, ya? Tentu saja. Sebab rasa cinta adalah rahmat dari Allah yang diturunkan ke hati (bukan dijatuhkan begitu saja). Jika ada yang membuat cinta terjatuh, pasti manusia itu sendiri, sebab tak menyimpannya dengan baik, tidak  membawanya dengan hati-hati.

Bahkan tidak hanya sampai di situ, sebab menghormati cinta tidak sesempit hati kita sendiri. Ia luas, jauh hingga ke lubuk-lubuk hati orang lain, jauh melampaui langit. Benar, bagaimana bila kamu yang membuat cinta seseorang terjatuh? Apa kamu akan membalik punggung, lantas berlalu pergi, tak peduli? Membiarkan orang itu merapikan sendiri kepingan-kepingan cintanya yang hancur berantakan?

Ya, menghormati cinta sungguh tak sesempit hati kita sendiri. Bukan hanya soal menghadapi cinta yang ada di hati, tapi juga cinta yang orang lain letakkan di tangan kita. Meskipun bagaimana seseorang bisa mencintai seorang yang lain selalu jadi hal yang misteri, namun pemahaman yang baik seharusnya tak mengaburkan dan menggelapkan hati seseorang.

Siapa yang tahu pada senyum, tutur, laku, atau perangai yang mana jangkar itu tak sengaja menyangkuti perasaannya, siapa yang tahu bahkan pada hal paling buruk dari diri kita sekali pun? Lalu, bila hal itu disebut ketidak-sengajaan, patutkah kita sengaja membiarkannya? Sengaja membiarkan orang tersebut terus tergantung pada kita? Sehingga ia mulai bertanya, mulai mencoba menggapai kejelasan dirinya? Lantas apa yang mau kita berikan? Harapan? Penolakan? Pengabaian? Hanya karena khawatir tidak terikat pada siapapun, takut sendiri, lalu membiarkannya tetap di sana sungguh sesuatu yang jahat.

Ah, ini mengapa sejak dahulu aku amat menghormatimu. Sebab kamu meletakkan cintaku dengan baik, tidak mencoba-coba menggenggamnya, tidak pula semena-mena melemparnya jatuh. Kamu membuatku terhormat dengan tak membuat cintaku bergantung. Cukup dengan menggantung harap pada-Nya, tempat kamu juga menggantung harap, meski entah untuk siapa. Kadang saja hatiku bergumam pelan, “Akukah orangnya?”

Jumat, 03 April 2015

Ada Surga di Rumahmu!

Surga itu begitu dekat.
Tapi, kenapa kita begitu sibuk mengejar yang jauh?


Turut dibuka dengan kisah mahsyur mengenai Uwais Al-Qarni, film Ada Surga di Rumahmu ini menyambut penonton dengan anggun sekali. Kita sudah hafal benar cerita ini. Ramadhan kecil yang dihukum sang ayah untuk membawa sebuah ceramah di tempat pengajian lepas melakukan pertengkaran bersama kawannya itu menceriterakan ulang agungnya ketaatan Uwais kepada sang ibu dengan air mata menitik. Ya, siapa pula yang begitu keras hati bila tak trenyuh tiap diperdengarkan kisah tersebut?
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada Al Adabul Mufrad : Ketika Abdullah bin Umar ra melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf ke Ka’bah dan ke manapun sang ibu ingin, orang tersebut sempat bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatan ini mungkinkah aku sudah membalas jasa ibuku?” Getir jawaban Abdullah bin Umar, “Belum. Setetes (keringatnya) pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.”
Belum setetes pun!
Perlu digaris-bawahi betul-betul hal itu oleh kita yang hari-hari ini bangga atau merasa cukup dengan pergi kesana-kemari menuntut ilmu, jauh menggali pengalaman, berupaya menebar kasih ke segala alam, bekerja memeras keringat siang-malam untuk dunia yang katanya demi akhirat juga, tapi menelentarkan surga terdekat dari diri, surga yang mempersembahkan kita kepada dunia, dunia pertama yang membawa surga di kakinya, ibu.
Film ini mengingatkan saya pada pesan mama yang rajin sekali beliau ulang-ulang tuahkan saat awal-awal terpapar lingkungan tarbiyah di SMA, lebih-lebih ketika menginjak dunia kampus, saat hasrat menjadi aktivis lagi menggebu-gebunya, agar saya ingat untuk mendakwahi keluarga lebih mula sebelum keluar ke mana-mana. Ada yang selalu lebih penting dibangun, kata beliau, ada ikatan yang selalu lebih prioritas dijaga. Sesuatu yang sudah dipilihkan oleh Allah lebih awal dari teman-teman bahkan pikiran-pikiran kita sekarang. Ya, keluarga.
Saya yakin telah banyak film mengenai orang tua, terutama ibu, yang pernah kita tonton. Mungkin paling sering membuat kita menangis dan marah. Ada Surga di Rumahmu ini termasuk yang mengandung banyak kejenakaan. Harus saya puji, film ini berhasil membuat kepala saya pening karena emosi yang ditarik ulur. Belum selesai tertawa, saya menangis, sebentar tertawa lagi. Hampir begitu terus.

Nonton bareng @flp_makassar (31/03/15)

Sederhana dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, kira-kira demikian gambaran umumnya. Anak lelaki yang bandel dan senang berkelahi, angan terkenal dan menjadi artis, orang tua dengan harapan anak-anaknya menjadi saleh, kenakalan-kenakalan khas santri pesantren, ketertarikan lawan jenis, perbedaan status sosial, film ini memang tertebak-tertebak saja arah ceritanya, tidak ada scene yang terlalu mewah, keanggunan sungai Musi yang menjadi salah satu icon penting kota Palembang, latar utama cerita ini, pun diperlihatkan dengan lembut dan apa adanya, tapi Aditya Gumay tahu apa yang paling substansial, isi cerita!
Baiklah, soundtrack filmnya saya sukaaa! Sampai di sini, kita ke-samping-kan hal-hal mengganggu seperti label-label sponsor yang menuntut terbaca di setiap film, termasuk nomor seri komik Naruto yang kata teman sebelah saya terbit di tahun 2014 (menyalahi latar waktu di film ini), juga keluhan dia mengenai kisah cinta segitiga yang—katanya—tak tahu ke mana berlabuh itu membuat saya tersadar sendiri, bahwa bukan itu yang inti, bukan kisah cinta segitiga itu yang menjadi bagian penting dalam film ini. Pada akhirnya cukup dengan satu scene penutup di antara megahnya Musi, Ramadhan (Husein Al Atas) dan Nayla (Nina Septiani) yang berdiri berdampingan, sebuah kalimat semenentramkan, Kau akan menjadi surga bagi anak-anakmu, Nayla, bukankah membuat genap sudah segala? Ehehe
Oh ya, meskipun bertema religi, yang tentu saja muatan nilai dan batasan-batasan syariat menjadi hal yang cukup sensitif, persoalan seperti interaksi lawan jenis tidak akan saya bahas lebih jauh. Kita bisa mengkaji hal tersebut sendiri-sendiri.
Novel (dengan judul sama) hasil adaptasi karya Oka Aurora ini pun belum saya baca sebelumnya, sehingga tak mungkin bagi saya untuk membanding-bandingkan. Saya hanya merasa alur cerita film yang terinspirasi dari kisah hidup Ust. Al-Habsyi ini terlalu banyak melompat. Pada beberapa bagian, kesan terburu-burunya cukup terasa. Mungkin karena penulis skenario dan sutradara berusaha terlalu keras memuat lebih banyak isi novel.
Adapun tentang tokoh-tokoh. Tolong saya, tolong cubitkan pipi si Raihan Khan (pemeran Ramadhan kecil) itu. Aih, saya sungguh-sungguh jatuh hati dengan dia di film ini. Husein Al Atas (Ramadhan dewasa) di luar dugaan juga sangat apik bermain peran. Satu titik saja yang terasa ‘kurang dapat’, yaitu ketika Ramadhan menangis di tempat wudu lepas mendapati seorang anak yatim-piatu tersedu-sedu berdoa dan berharap masih punya momen untuk dihabiskan bersama orang tua. Itu saja. Selebihnya pemeran lain, kecuali Nina Septiani (hanya masalah selera), tampil mengagumkan.
Ah, beberapa bagian cerita yang menjadi favorit saya benar-benar ingin saya tulis ulang dan bahas di catatan ini, tapi demi menjaga misi pribadi agar kalian mengadu hati sendiri di bioskop-bioskop terdekat, saya urungkan hasrat tersebut.
Akhir kata, izinkan saya mengutip petuah Ustaz Athar (Ust. Al-Habsyi) kepada Ramadhan di ujung ajalnya, “Seorang ibu selalu berani mati demi sepuluh anaknya, tapi sepuluh anak belum tentu berani mati demi seorang ibunya.” Selagi surga kita masih sedekat ini, ayo datangi, ayo sayangi!



---
Beberapa review dari teman-teman FLP Makassar juga bisa dilihat di sini:

Kamis, 26 Maret 2015

Otak Tidak Kotak; Mengapa Menjadi Runcing, Mengapa Begitu Datar?


"Lihat ini?" tunjuk dia ke mata kamera ponsel saya suatu ketika, "Seperti mata yang sedang menatapmu dengan tajam."

Dia sangat tidak senang dipotret, tidak makan di keramaian, dan tidak senang mendapat tatapan apapun saat melakukan hal-hal tertentu. Saya selalu tidak habis mengerti jalan pikiran kawan saya satu ini. Betapa rumitnya. Namun, jagad pikiran tiap-tiap orang adalah rimba dengan kebuasannya masing-masing. Kau tidak akan purna mengerti sebelum kau yang menjalankannya sendiri. Lagipula, bukan itu masalahnya.

Yang kita sepakat terima bahwa manusia adalah makhluk sosial, tak bisa berlepas diri satu sama lain. Secara fitrah semua orang bebas berpikir, bebas berekspresi, bebas menilai, meskipun tentu saja dunia membuat dinding dan atap tersendiri agar kebebasan itu tidak membengkak, atau menjulang terlalu tinggi. Empati, kalau biasa orang-orang sebut.

Saya berharap tidak perlu menyeret-nyeret kasus Saut ke sini. Bila benar Chairil pernah mengujarkan kepada yang bukan sastrawan agar tidak usah sok tahu soal sastra, maka sayalah pula yang sedang disasar kalimat tersebut. Meski sayang, saya salah satu orang yang beranggapan ke-sok tahu-an itu tak ada. Orang-orang berbicara ini-itu karena hanya itulah yang ia tahu, sependek apapun ia kedengarannya. Dan, dalam pendek pengetahuan saya, paling sederhana bahasa itu alat komunikasi yang entah bagaimanapun bentuknya, selama mampu dimengerti dan diterima satu sama lain, maka itu bukan masalah. Hal-hal sarkas sekalipun, begitu iklim sehari-hari suatu kelompok menganggapnya wajar, maka 'sarkasme' di sana gugur dengan sendiri.

Ada adagium yang berbunyi, "Kemustahilan kedua setelah berharap menjadi Tuhan adalah berharap disukai semua orang." Apapun yang terjadi, mulai dari yang paling alim sampai yang paling bangsat lahir diikuti dengan penentangnya masing-masing. Bagaimana tidak runyam bila urusan baik-buruk dan suka-tak suka ini selalu jadi dua kutub yang saling memengaruhi? Alangkah malang sebuah gagasan jika melulu dipenggal (hanya) oleh pertimbangan suka-tak sukanya dunia. Kini paham kau betapa berkabut itu kata-kata. 

Semua yang dilakukan punya risiko, jelas. Paling demikian cara kerja kebebasan. Bila kau berani menendang, bersiaplah untuk dibanting. Berhenti di sini, keluar dan berlepas diri dari jagad kesastraan—yang tahu apalah adek ini, bang, tidaklah salah bagi si A dan B (tak usah saya sebut lagi nama mereka) untuk tersinggung dan tercederai. Tapi, Bung, remeh sekali bukan sebuah kehormatan jika ihwal yang begitu saja suruh aparat hukum dulu buat rapikan? Rasanya terlalu berlebihan! Apa juga urusannya? Belum lagi Anda jadi presiden, yang tiap hari kena tuntut, salah-salah sedikit dicaci-maki. Seluruh masyarakat NKRI ini mungkin sudah Anda buat dalam buih.

Katakan yang benar meskipun pahit!
Baiklah saya akan berhenti menghukumi satu pihak. Saya pun tidak membela cara tutur Saut, pilihan kata, lebih-lebih mendukung dengan membawa-bawa kalimat di atas. Meskipun, konteksnya barangkali tak begitu tepat, sabda Rasulullah SAW riwayat Al-Baihaqi dan Abu Dzar Al-Ghiffari tersebut hanya bisa membuat kita banyak belajar memaknai kepahitan.

Katakanlah yang benar meskipun pahit. Berkenaan dengan itu, Salim A. Fillah pernah dengan khusyuk melontar tanya, "Kepahitan bagi siapa?" Benar saja, tentu pahit di sini bagi yang mengucapkan. Pahit karena mungkin bisa membuatnya rugi, pahit karena mungkin bisa membuatnya bahaya, bukan pahit bagi si penerima. Sebab andai tak begitu, sabda beliau SAW mungkin akan berbunyi ‘Dengarkanlah yang benar, meskipun pahit’.

Kita mafhum, betapa banyak dasar-dasar berkebaikan yang berakhir sekadar sebagai dalih untuk memperkuat pikiran atau argumen. Seperti bunga yang tinggal petik bila diperlukan mempermanis keadaan. Betapa banyak pula maksud baik tercederai hanya karena tersandung persoalan etika? Namun hari-hari ini, kita yang berteguh-tak bergeser barang sedikit memegang jargon ‘baik itu selalu santun’ juga sedapat mungkin ingat, beberapa orang harus berteriak demi didengar, harus membuka pakaian bahkan dagingnya di tengah jalan hanya agar dilihat. Kita tahu, saya dan kamu juga tahu, kebanyakan manusia senang dengan hal-hal mencolok, kebanyakan manusia selalu tertarik dengan cemooh!

Lalu imbasnya? ...