Sabtu, 12 April 2014

salah silih


http://kikrezhatakeananda.files.wordpress.com

Seseorang mungkin melakukan kesalahan dengan meninggalkanmu pergi. Tapi kau diam membiarkannya berlalu, itu kesalahanmu yang pertama. Kau menyadarinya dan tetap tak kembali datang, itu kesalahanmu yang ke dua. Lalu tiba waktunya kau datang dan ia tak menyambutmu lebih-lebih meminta maaf, itu bukan kesalahannya. Itu salahmu, maka meminta maaflah, bahkan meski tak mungkin meminta dirinya pulang lagi, bahkan meski kedatanganmu ternyata jadi kesalahan yang ke tiga. Tidak masalah. Setiap cinta yang tidak diperjuangkan, mungkin hanya satu kesalahan, tapi ia tak pernah jadi sesuatu yang kecil.

Kau tahu, kadang-kadang seseorang melakukan satu kesalahan, kemudian kita membuat salah padanya dengan lebih banyak. Kita jadi tidak mengerti kenapa kata maaf dibuat, dan dimana seharusnya diletakkan. Karena di mata kita, orang lainlah yang selalu bersalah, dan kita yang terluka.

Senin, 07 April 2014

Sini Kuberitahu!

Kita kira bagian tersulit dari cinta yang berakhir adalah dukanya, padahal bukan. Yang paling rumit setelah usainya suatu jalinan cinta adalah kembali berperilaku ‘biasa-biasa saja’.


Kenapa kau pilih menghindari seseorang yang pernah begitu kaucintai? Karena kau kini membencinya? Karena melihatnya membuatmu sedih? Sini kuberitahu, kau itu hanya masih ketakutan. 

Kau takut jika bertemu harus melemparinya senyum. Kau takut sesaat lepas tersenyum, kenangan-kenangan indahmu malah pulang mengepung. Kau takut begitu ia menyapa 'hei', malah ucapan 'aku rindu' yang tak sengaja keluar dari mulutmu. Kau takut begitu ia ulurkan tangan bersalaman, kau justru langsung memeluknya.

Meski begitu kau juga takut jika kau buang muka, malah hatimu yang jatuh terlempar, pecah. Dan ia mungkin cuma tertawa diam-diam.

Senin, 24 Maret 2014

cinta

misal segala yang jatuh mesti dipungut.
tak ada lajang, tak ada gadis, tak ada bujang,
kau bukan suami, ku bukan istri,
semua kita hanya barang pungutan, tak lebih!

http://melizabethchapman.artspan.com/
 

Senin, 17 Maret 2014

Omong-omongan

http://clk7.blogspot.com/

Kau jatuh cinta pada seseorang, seseorang jatuh cinta padamu. Kau kejar seseorang, seseorang mengejarmu. Dan, kau tahu benar seseorang tersebut tak selalu adalah satu orang yang sama.

Kau memutuskan untuk memperjuangkan, tapi gampang menyerah. Kau putuskan untuk melepas sekalian, tapi gegabah dan tergesa-gesa. Kau putuskan menunggu, tapi malah tidak sabaran.

Kau habiskan hari-hari, sibuk bermain riang gembira, lalu berharap didatangkan pasangan yang serius membawamu menantang bahtera dunia yang kejam, Tuhan untungnya tak bisa menertawakan.

Kau sibuk menerka dan menduga, meski tahu Tuhan--bagaimanapun--punya jutaan cara untuk mendatangkan jodoh ke depan matamu, dan membuat hatimu bisa melihatnya dengan keyakinan penuh.

Padahal bukan takdir yang sering menyakiti kita, tapi tebak-tebakan kita sendiri. Padahal bukan Tuhan yang merumitkan jalan jodohmu, tapi laku-lakumu sendiri.

Dan, kau tau apa lagi masalah dalam soal cinta-cintaan ini?
Asal omong itu selalu gampang memang!

Rabu, 26 Februari 2014

Sederhanakan(lah)!


Tak mesti mengibaratkan wajahnya secerah mentari, matanya seteduh purnama, senyumnya sesejuk embun, hanya untuk berujar, “Kau cantik!”

Tak mesti berdandan lewat puisi-puisi cuma untuk mengatakan, “Aku mencintaimu."

Ungkapan tanpa metaforacukup tulus disampaikan, adakalanya jauh lebih memesona.

Menjadi sederhana bukankah tak pernah tak indah?

Kamis, 30 Januari 2014

Perempuan Yang Bernama Azure Azalea

 
Sebelumnya, aku tak mengenal perempuan yang bernama Azure Azalea. Yang ku tahu, seingatku dulu dia yang mengaddku dalam situs facebook sebelum akun facebook baruku. Aku yang suka memilih-milih pertemanan di Facebook, aku terlebih dahulu melihat profilnya sebelum ku konfirmasi pertemananku dengannya. Yah, mungkin karena kebanyakan mempunyai teman yang sama dan berada di Fakultas yang sama. Tanpa berlama-lama aku mengkonfirmasinya. Seperti biasanya, aku hanya membuka beranda facebookku.

Setiap kali dia memposting status-statusnya di jejaring sosial itu. Aku sering melihat postingannya yang membuatku tertarik untuk membacanya. Rangkaian kata-katanya begitu indah, padat  dan mudah dicerna. Hingga aku tertarik untuk mencari tahu tentangnya. Siapa Azure Azalea dan benarkah nama aslinya Azure Azalea ? Anak FLPkah ? Azure Azalea artinya apa ? Akhirnya, kudapati. Nama aslinya Rafiqah Ulfah Masbah, anak FLP (Forum Lingkar Pena) dan arti dari nama Azure Azalea sekaligus blognya. Sepertinya, aku berusaha keras mencari tahu tentangnya yang sebenarnya mudah.

Nama yang menurutku berala-ala Jepang itu.  Aku mengenalnya lewat sulaman kata-kata yang berhasil diolahnya melalui ide-idenya yang segar. Aku mengenalnya lewat kalimat-kalimat sederhananya yang penuh makna. Yah, aku mengenalnya lewat kata yang menggambarkan perangainya dan penilaianku langsung merujuk ke angka delapan.

Hingga pada suatu ketika aku berjalan di koridor kampus dan seperti pada foto yang kulihat di Facebook dari kejauhan aku melihat sosoknya yang berjalan dengan anggunnya sesuai penilaianku lewat tulisan-tulisan di blognya. Ah, aku tak begitu ingat berada pada situasi apa saat itu. Tapi, seingatku dia yang lebih dulu menyapaku. “Apakah aku dikenalnya ? Hmm, sepertinya iya yang tidak lain adalah seniornya.”, gumamku dalam hati.

Pada pertemuan yang beberapa kali terjadi dan tanpa rencana terkadang yang kulakukan hanyalah melemparnya dengan senyum. Dengan kepribadianku, aku malu-malu, benar-benar malu menyapanya lebih dulu yang bahkan menurut perasaanku tak pernah. Selain, Darwis Tere Liye, Asma Nadia, Oki Setiana Dewi, Salim A. Fillah, Helvi Tiana Rosa, Habiburrahman El- Shirazi, Ahmad Fuadi, dan Andrea Hirata. Aku juga mengaguminya secara diam-diam dengan gaya menulisnya, gaya bahasanya dan prestasi-prestasi kepenulisan yang dimilikinya. Yah, aku melihat namanya tercantum pada sampul buku di sebuah foto yang ditagnya saat itu. Aku menyukai tulisan-tulisannya dan sampai saat ini aku hanya mengenalnya lewat kata. Perempuan yang bernama Azure Azalea ^^
 
***
 

Selasa, 28 Januari 2014

Kau Kuncup Bunga Tidur


Pernah kamu mencintai seseorang yang selalu nampak jauh sekali? Seseorang yang justru semakin kautempuh malah semakin jauh, seseorang yang semakin wujudmu kautampakkan semakin ia menghilang, tapi justru bagaimanapun caramu bersembunyi, selalu saja kaumampu ia temui? Aku pernah.  Iya, aku pernah.

Kupikir bukan dosa langit tak hitam memimpikan bulan. Karena bukankah akhirnya bulan menjelang senja dan selepas subuh itu tak mustahil? Maka aku memilih untuk berani memimpikanmu. Takdir lalu membawa hari-hari, kejadian-kejadian, tulisan-tulisan, dan aku sadar telah banyak jalan kujejal, telah banyak lalu lintas kulanggar, sudah lama sejak kali pertama kau kulihat menjurikan sebuah ajang cipta-baca puisi, lalu kaumenemukanku membaca puisi dengan malu-malu di acara kepenulisan yang lain. Barangkali memang ini saatnya berhenti bermain dan dimain-mainkan takdir.

Memang belum juga bisa kukatakan kakiku lelah, namun bisa dibilang perjalanan sudah terlalu rintang. Aku tahu, mimpi hanyalah mimpi jika didiamkan di tidur. Saat kaubangun dan sudah pergi melewati hujan, kemarau, dan angin kencang, kakimu masih tegak menopang, namun pelukanmu sudah patah duluan, mencari ke sana ke sini, tak juga ia bisa kau raih, berarti itu memang mimpi. Yang sedang kauwujudkan adalah mimpi itu sendiri.

Aku lantas memilih mundur teratur. Melenyapkan wujud dari picingmu. Berhenti tepat sebagai kelakaran sunyi. Aku menyembunyikanmu di doa-doa, di tulisan-tulisan yang tidak kubagikan. Aku menyembunyikan namamu dengan simbol-simbol, dengan akronim-akronim agar tak tertelusur kotak pencarian, aku menyembunyikan diri di balik rekaan cinta-cinta, di banyak wajah-wajah yang kaukenal, tapi memang percuma. Percuma saja. Aku berhenti menunjukkan diri pun berhenti membacamu, berhenti mengikuti aktivitasmu pun berhenti acuh, tapi selalu bisa kautemukan dirimu di dalamku.

Jika sudah begini, kupikir sudah waktunya pulang ke atas kasur. Menutup jendela dan berhenti memancing bulan. Sudah waktunya kau kuterima sebagai kuncup bunga tidurku, yang tidak akan pernah dimekarkan matahari pagi musim apapun. Dan aku akan mengubah haluan mengejar tidur. Aku tidak akan lagi banyak bergadang sebab cuma di tidur kau adalah kenyataan yang bisa kupercaya. Dan setidaknya, kau bisa ingat di hidupmu ada yang pernah nyata kaulihat cintanya.

Setidaknya, aku belajar untuk tidak menjadi mimpi banyak orang. 
Aku tidak apa-apa.