Sabtu, 11 Oktober 2014

Apatah Kun-Mu



Matahari saban pagi, kuhitung jari
Telah lebih dekat mana ini, mati atau lahir.

Saat menguak mata, kutunggu kapan atap rumah jatuh menimpa,
Biar sekali terkubur cerita-cerita.
Bukan lembut matahari, yang meleleh-lelehkannya lagi.
Saat kepala tinggalkan bantal tidur ini, Ayah,
yang ingin kudengar hanya gelegar sangkakala.
Biar pecah kenangan, biar lantak jiwa sekalian.
Bukan cericit burung, yang lebih mirip duri desahmu.
Aku bangun lebih subuh. Tiap kalinya kuguyur air di tubuh sekujur, menyerap jarum-jarum gigil.
Aku berharap tulang-tulangku patah dan kulit ini gegas mati rasa.
Bukan justru mengamini alir airnya, basah yang kian serupa amis keringat kita.

Berganti hari-hari, bersilih musim-musim, dan ingatan menetap.
Tak pindah perih barang sesenti, barang semili.
Mengental terus di sudut-sudut mata, memekat melulu di ujung-ujung langkah.

Tragedi ini siapakah yang mengutus, Tuhan? Siapakah yang habis memberi restu,
yang sedang memain-mainkan Kun-Mu?

Patah ke mana sayap-sayap malaikat di punggung kekar seorang ayah?
Dulu ia kumpul segala tabiat lembut demi menimang kasih
putrinya yang masih persih.
Yang menghalau lelah dan kantuknya demi mengayun-menidurkan rewel putrinya.
Patah ke mana sayap-sayap malaikat di punggung kekar seorang ayah?
Yang pernah tegak berdiri menameng segala bahaya bagi si putri.
Mengapa pula tahu-tahu kini serumah aku pria dewasa yang malah membahayakan diri?

Apatah Kun-Mu, tak Engkau bikin bicara saja benda-benda.
Biar melapor ranjang tidur, dan boneka-boneka besar di almari, kamar, dan ruang tengah.
Apatah Kun-Mu tak Engkau bikin bergerak saja benda-benda.
Genteng, tangga, perabot, apalah itu di sana, Engkau jatuhkanlah saja di kepalanya hingga pecah.
Apatah Kun-Mu, membiarkan dendam biak di dada seorang anak ke pada Ayah-Nya.
Sementara malaikatmu yang satu, ibuku, berpeluh air mata, memohon-mohonkan sang anak berhati permata.

Aku tak bisa berkata apa-apa, Tuhan.
Kau tahu rasanya
ketika orang yang paling kaucinta
bahkan tak bisa kaupercaya?

Aku tak bisa berkata apa-apa, Ibu.
Luka yang mematah-matahkan lidah itu,
Siapakah yang akan ganti menyuarakan nanti?

Tinggal aku di sini, sendiri.
Merawat bisuku yang ngilu dan perih, dengan takut yang lain.
Melawan trauma yang kemarau, dengan berhujan-hujan air mata yang derau.



Makassar, 11 Oktober 2014

Jumat, 10 Oktober 2014

Sebelum Engkau Siap Bertanggung Jawab

“Cinta itu tanggung jawab.”
—99 Cahaya di Langit Eropa

Saat kau belum siap bertanggung jawab memastikan kabahagiaan seseorang, jangan memasukkannya ke hidupmu. Saya akhirnya percaya, urusan perasaan itu berbahaya. Selalu percaya, luka apapun yang kautoreh di hati orang-orang yang tulus mencintaimu akan dicatat bumi dan langit baik-baik, untuk dibacakannya kembali padamu di lain hari lewat orang serupa atau yang lain, lewat luka yang sama atau yang mirip.

Makanya aneh, kata sahabat saya, saat orang-orang bisa naik awan karena begitu banyak yang mencintainya, bisa merasa aman saat menyakiti perasaan seseorang dengan sengaja, tidak berhati-hati dalam menyikapi cinta orang lain. Mana tahu kita hari ini adalah bentukan sekumpul doa-doa orang yang mencinta dan membenci kita?

Saat kau belum siap memastikan kebahagiaan seseorang, jangan memasukkannya ke hidupmu, sengaja membekalinya kenangan dan harapan yang mengiris-iris kekuatannya. Hati adalah kerak telur dan doa-doa serupa palu. Manusia bisa saling menjaga, atau sekali berpukulan hingga berdarah.

Mari berhati-hati dengan cinta yang jatuh di tangan maupun hati!

 
Makassar, 09 Oktober 2014

Senin, 08 September 2014

horizon



pada satu titik, pandangan memungkinkanmu mendapati langit dan bumi bertemu. titik itu kita namai horizon (kaki langit).

dalam hidup, jika ada titik yang memungkinkan kita dan Tuhan bertemu, horizon itu paling mungkin senama doa.

Selasa, 02 September 2014

Kutulis Ini Dari Samping Tempatmu Sekarang Berbaring



Meskipun seperti sekumpulan perjalanan yang penuh aral, kehidupan harus terus dilanjutkan. Demikian usia tak memberimu pilihan untuk berbalik ke saat-saat yang kauingin. Kauingin ubah, kauingin ulangi, atau yang kauingin tinggali untuk berhenti. Kecuali mengenang, tak ada yang bisa diubah.
Semesta bekerja dengan aturan-aturan yang keras. Kita bisa memilih menjadi lebih keras kepala, dan terus berbenturan dengannya. Tetapi, batu apakah kita ini? Cuma kerikil kecil yang mencoba-coba kesaktiannya pada bola besar yang menggelinding.
Dik, memang akan ada saatnya kebahagiaan-kebahagiaan kita yang sederhana ditempa, bahkan ketika kita merasa tak bersalah dan tak pernah mencari gara-gara. Sebagai kakak dan saudara perempuanmu satu-satunya apa yang bisa kuajarkan padamu bila seringnya kaudapati aku menangis sendirian, berurai air mata setiap saat? Aku menyembunyikan banyak sekali hal, tapi seolah-olah kelemahanlah yang paling tak kuasa kusimpan rapat.
Yang sebenarnya, akulah yang belajar banyak hal darimu. Kita dua orang saudara, hanya sama dalam satu hal, keras kepala. Selebihnya semua bisa sebeda langit dan tanah. dalam segala perkara, dalam segala urusan. Maka aku tidak akan banyak mengajarimu, lebih-lebih mendikte tentang bagaimana seharusnya ‘bola besar yang menggelinding’ itu dihadapi, sebab belum satupun dari kita terbukti berhasil dengan cara-cara kita sendiri. Aku hanya akan membagi isi kepalaku yang ribut tak karuan ini. Tak lebih.
Dari samping tempatmu sekarang berbaring, di sinilah aku tinggal menyaksamai pulas wajahmu. Sesekali kipas angin yang menempel di dinding membawa helai-helai rambutmu menari-nari. Kauhafal benar jam tidurku. Aku bisa tidur di antara pukul delapan hingga dua belas malam, pukul tujuh hingga sebelas pagi, pukul sepuluh hingga dua siang. Tergantung. Tapi tidak di pukul satu malam hingga pukul lima subuh. Seolah-olah saat-saat itulah hidupku mencapai puncak keberlangsungannya. Ah, tidak perlu kuceritakan ulang! Aku hanya sedang berpikir-berpikir. Isi kepalaku ramai sekali dan berisik. Sudah demikian larut, tapi ia masih lebih sibuk dari kota-kota yang tak tahu istirahat. Tak teratur sekali, persis tulisan ini.
Cuma tiba-tiba saja teringat. Berbilang usia, siapa yang rasa satu lagi adikku masuk ke bangku kuliah. Selamat memasuki babak dunia yang beda, Nu! Selamat bertanggung jawab untuk memastikan diri memiliki banyak pengalaman sebelum beranjak ke luar dari bagian dunia paling luas dari kehidupan.
Kau tahu, kupikir, jika usiamu seperti uang, maka pengalaman-pengalaman itu adalah hasil belanjaan yang setiap perempuan akan bawa pulang kembali ke rumah-rumahnya. Kauolah, lalu hidangkan bagi keluarga kecilmu di sana. Kau harus memiliki pasokan yang mumpuni, karena kau hanya bisa berbelanja satu kali, hanya bisa membelanjakan uangmu satu kali. Tak ada yang bisa ditukar kembali, tak ada hari esok lagi.
Pernah kau bertemu dengan seseorang yang senang sekali nyerocos, menasihati ini itu, tapi tak ada satu pun dari kata-katanya yang pernah ia lakukan? (Anggaplah macamku, misalnya. Hihi) Orang-orang seperti itu menyebalkan sekali, kan? Begitu pula, orang tua bisa kelihatan sangat menjengkelkan bagi anak-anaknya saat memberi pelajaran kehidupan yang tak pernah sama sekali ia alami dan hadapi dalam hidupnya sendiri.
Menjadi perempuan tak pernah sederhana memang. Ah, aku tak ada habis pikirnya bagaimana bisa dulu punya pikiran cupek, berhasrat untuk menikah dini tanpa tahu apa-apa, tanpa peduli harus menyiapkan apa, tanpa memikirkan bagaimana pentingnya memegang peranan seorang istri dan ibu. Seolah-olah menikah itu selesai dengan jatuh cinta, bisa saling menatap dan tersenyum saban hari, dan bersenang-senang, lalu tak ada apa-apa lagi.
Hahaha, dini sekali membicarakan pernikahan, ya? Maafkan. Hanya ingin aku ingatkan, tak ada yang tahu kapan jodoh kita tiba, Dik. Mungkin hari ini, besok, bulan depan, tahun depan. Maka selagi bisa, sedari sekarang lakukan banyak hal. Tak ada maksudku membuatmu menganggap seolah-olah menikah itu tujuan hidup, atau akhir dari perjalanan seorang perempuan. Tapi ada masa-masa dalam hidup kau bisa bertanggung jawab utuh, mengambil keputusan sendiri atas hidupmu. Di masa yang lain, keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan, bahkan yang terkait dirimu, akan ada saatnya wajib kaubagi dengan pikiran orang lain.
Di bangku perkuliahan ini, coba hal-hal baru, tantang dirimu melakukan hal-hal ekstrim atau yang tak kausuka, temui dan ajak berkawan banyak orang. Punyai batasan, tapi jangan bangun benteng yang terlalu tinggi. Kelak sesuatu terjadi padamu, orang-orang sulit membantu bahkan meski ingin. Intinya, jangan hidup terlalu lurus. Apapun bakatmu, biarkan tumbuh dan memilih jalan-jalannya sendiri. Hal sekecil apapun itu yang kaubisa, percayalah kelak pasti berguna. Yayaya, kukatakan ini semua, sebelum kau sempat menyesal persis aku sekarang. Banyak hal terlewat sia-sia. Rasanya yang mau kulakukan ada segunung, tapi banyak yang terlambat. Aku anak sulung, dan tak ada kakak yang bisa menemani dan memperkenalkanku ini-itu, tak ada yang bisa dijadikan teman bicara. Semua mesti dipelajari dengan cepat dan seakan seorang diri. Tapi kau punya kakak-kakak, kan? Mereka tidak pula pernah ke mana-mana.
Kau itu cerdas, punya pendirian, dan tegas, tidak lembek, pemalas, dan random sepertiku. Bahkan ketimbang aku, kau punya selera yang lebih bagus pada sesuatu. So, berhenti berpikir selurus sekarang, Nu! Tentu saja semua terserah dirimu. Hanya kupikir, hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menantang batu adalah menjadi angin.
Ya, jadi angin sederhana yang meluas. Angin lembut yang tak bisa dilukai hidup yang seperti bola besar menggelinding tadi. Angin hidup yang bisa berkelana jauh, sejauh yang ia mampu. Jadi angin ceria yang bisa mengajak menari dahan-dahan, angin sejuk yang bisa menyentuh banyak orang. Angin yang membantu orang lain mengenali mana wangi busuk dan harum. Jadi angin yang tak perlu warna untuk dirasakan. Ayo sama-sama kita belajar, sama-sama saling bernasihat, sama-sama tak lupa untuk jadi saudara yang mengingatkan, berpapahan.
Ingat yang selalu diulang-ulang mama? Suatu saat kita mendapat musibah, orang-orang yang peduli dengan kita mungkin datang sehari dua hari, tapi mereka pasti pergi juga. Karena orang-orang juga punya masalahnya sendiri-sendiri untuk diurusi. Pada akhirnya cuma keluarga yang akan ada di sana. Baru akhir-akhir kumengerti pesan itu. Waktu awal-awal tarbiyah dulu, mama ingatkan untuk mendakwahi keluarga lebih mula sebelum ke luar ke sana ke sini. Ada yang selalu lebih penting dibangun, ada ikatan yang selalu lebih prioritas untuk dijaga. Sesuatu yang sudah dipilihkan oleh Allah lebih awal dari teman-teman bahkan pikiran-pikiran kita sekarang. Ya, keluarga.
Kita lahir menjadi keluarga, mari tak berakhir jauh darinya. Sekali lagi, selamat memulai perjalanan. Anggap saja ini semacam oleh-oleh kecil seorang kakak buat adiknya yang mungkin saja akan dibuat hidup berseberangan pikiran setelah sekian banyak pilihan yang dibuat, siapa tahu di jalan lapar, bisa dibuka-buka, dicicipi seadanya. hehehe. Tetap bersenang-senang, ya, Anak Muda!


Makassar, 02 September 2014
…. Sebelum nanti ditanyakan, “Untuk apa engkau habiskan masa muda?”

Kakak perempuanmu yang narsis, galau, dan senang kau tindas, Fiqah.

Rabu, 11 Juni 2014

Kalau Kau Seperti Aku

Lokasi: Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia

Kalau kau seperti aku, bergagasan bila cinta bukanlah sebuah akhir, aku memikirkan ia berarti seperti sebuah perjalanan. Perjalanan yang pasti berujung. Tinggal kita memilih dari sekian rute yang ada, mana yang paling panjang untuk ditempuh. Yang paling panjang yang boleh jadi berarti paling penuh rintang.

Sekali lagi, itu kalau kau seperti aku.