Sabtu, 30 September 2017

Harapan

Mimpi-mimpi, sebagaimana penyesalan, terus tumbuh. Harapan-harapan, sebagaimana kenangan, sering sulit dikendalikan.

Kadang kita hanya ingin bahagia walau tak nyata. Itu mengapa kita suka membiarkan harapan membesar melebihi jangkauan dua lengan.

Kita dikuasai harapan dan terbelenggu dalam bayangan-bayangan semu. Mulai merasa kecewa sebab menilai kebaikan Tuhan hanya sejauh harapan-harapan kita saja.

Kita mengupayakan–bahkan mengejar–segala hal dengan buta. Kita mulai membangun ambisi. Dalam kendali yang buruk, ambisi itu pun berubah menjadi obsesi yang tidak terkendali.

Kita lupa mensyukuri apa yang dekat dan kita punyai. Lupa bahwa Tuhan menjanjikan nikmat lebih di dalam syukur dan alpa menitipkan harapan pada pemegang kabul. Kita luput mengingat bahwa harapan-harapan didekatkan tidak hanya dalam upaya, tapi juga keberserahan.

Selasa, 26 September 2017

Kebaikan yang Terasa Buruk

Aku akhirnya belajar. Ada sesuatu yang aneh ketika mendengar alasan ‘kau terlalu baik bagiku’ yang digunakan banyak orang untuk meninggalkan. Dulu aku bertanya-tanya bagaimana bisa mereka justru meninggalkan orang (yang dianggap) baik itu, ketika orang lain di luar sana justru kesusahan mencari yang demikian. Aku bertanya penuh kebingungan sampai suatu hari mendapati kalimat itu keluar dari mulutku sendiri.

Kau terlalu baik bagiku, maka aku meninggalkanmu.

Terasa benar-benar aneh memahaminya. Sama seperti potongan percakapan di film The Perks of Being a Wolf Flower yang kurang lebih berbunyi, “Why do nice people choose the wrong people to date?” Guru bocah lelaki yang bertanya itu memberi jawaban amat sederhana. “We deserve someone we think we deserve.”

Seseorang yang layak bagi kita.

Seperti apa seseorang yang layak tersebut? Tentu itu tergantung bagaimana kita memandang diri sendiri. Sebab cara kita memandang diri menentukan cara kita memandang orang lain. Sesuatu yang mengantarku pada perspektif baru tentang seperti apa orang baik itu. Tentang baik yang membuat seseorang justru meninggalkanmu. Baik yang…, kau tahu, membuat orang lain merasa buruk saat di dekatnya.

Kadang memang, kita tak mencari sosok yang membuat terkagum-kagum, sosok yang terasa tidak teraih, yang begitu tinggi. Kita hanya mencari yang sederhana. Orang yang kebaikannya sering tidak tampak, tapi bersamanya kita merasa lebih baik.

Maka suatu hari nanti, jika seseorang meninggalkanmu dengan alasan tersebut, pahamilah. Saat ia mengatakan kau terlalu baik bagiku, bisa jadi ia sebenarnya sedang berujar: kau membuatku merasa buruk.

Aku belajar tentang kaidah penting ini. Konsep kesataraan ini. Sebab hubungan cinta selalu tentang keseimbangan. Segala yang tak berimbang selalu rentan menghancurkan suatu bangunan.

Ketika ada satu yang superior, si inferior akan menanggung guncangan lebih. Saat ada satu merasa berbuat lebih, sebagai pecinta sejati, yang satu pun ingin memberi lebih.

Namun, bukan itu. Bukan tentang siapa yang lebih banyak memberi, bukan soal siapa yang paling mencintai. Karena hakikat kebaikan adalah membuat pecinta berlomba-lomba terhadapnya. Sekali lagi, bukan itu.

Yang tengah kubicarakan adalah sikap. Sikap kita terhadap cinta, sikap kita kepada pasangan. Bagaimana cara meletakkan kebaikan itu ke dalam hubungan sehingga membuat kita sama-sama bertumbuh, bukan justru menjadi hama bagi salah satu atau keduanya.

Itu mengapa kebaikan sulit didefinisikan, sebab ia tak baku. Seperti cinta, selalu butuh penyesuaian-penyesuaian tertentu.

Kita mungkin merasa telah melakukan yang terbaik, tapi belum tentu sudah benar dan sesuai. KIta mungkin merasa memberi banyak, tapi belum tentu memberi apa yang pasangan kita butuhkan. Mari memeriksa diri sendiri sebelum terpikir melempar kesalahan. Karena mereka yang saling mencintai dengan besar pun, dapat dibelah dengan ketidakcocokan kecil, tidak saling memahami yang berujung rumit.

Sabtu, 09 September 2017

Terbaik

Sebaik-baik seseorang, ia tak bisa jadi orang yang tepat bagi semua orang. Walau bagaimana kita membandingkan dan mencari orang-orang baik dalam bayangan kita itu, bukan berarti yang kita temukan adalah yang terbaik. Bisa saja ia justru bentuk paling sempurna dari angan-angan kita semata. Aku sering mendengar jodoh yang terbaik itu bukan yang paling sempurna, tapi yang tepat, yang pas, yang sesuai. Katanya seperti kepingan puzzle yang benar. Pas.

Namun, aku memikirkannya lagi. Seperti apa pas itu sebenarnya. Apakah yang memiliki sifat sama dengan kita, atau justru yang benar-benar bertolak belakang? Apakah yang memiliki minat atau kegemaran yang serupa, atau justru yang amat berbeda? Apakah yang nyambung diajak bicara, apakah yang sepemikiran, atau yang bagaimana? Rumit sekali.

Maka berbicara tentang terbaik, aku lebih senang mengingat sebuah firman; Boleh jadi kau membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan bisa jadi kau suka akan sesuatu padahal ia sungguh buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.*

Kita pun paham, ukuran seperti apa yang patutnya diimani; terbaik sejauh kadar ilmu Allah, bukan sesempit keterbatasan manusia. Allah yang paling tahu kesesuaian jiwa, yang mengetahui luar dan dalamnya, yang tampak maupun terhijab.


Bukankah kita mengenal istikharah? Daripada gamang sendiri menentukan ketepatan, kenapa kita tak coba menanyakannya saja pada Yang Menulis Ketetapan?

Selasa, 05 September 2017

Untuk Diriku

Dalam perjalanan berubah, bukan berarti kita tidak akan diperhadapkan oleh persimpangan yang sama.

Dalam perjalanan berbenah, bukan artinya kita tidak akan tersandung oleh kesalahan berulang.

Justru sebaliknya. Terus-menerus dipersinggungkan kita dengan hal-hal itu.

Saat membulatkan dan menetapkan haluan, jerat-jerat keinginan untuk berbelok ke lorong kecil yang terlihat misterius di kanan sana, ke jalan besar yang tampak riuh-ramai di kiri kita, mesti dihadapi berkali.

Kita bisa saja telah berjanji untuk tidak jatuh ke dosa serupa, tapi dosa itu mendatangi kita lebih kukuh dari janji yang kita patok. Selamanya kita akan beradu kekuatan. Seperti pertarungan dingin di ujung jurang.

Sebab, ini perjalanan. Sebab berubah dan menjadi baik adalah perjalanan, bukan rumah yang diam lantas ditetapi.

Pada masanya, kita mungkin kembali berbelok, kita barangkali terjatuh lagi. Kita pun tersakiti lebih. Semakin sulit memulihkan diri. Jalan kebenaran yang meski tahu kita cara untuk kembali, akan semakin getir ditempuh. Memang begitu.

Tapi sekali lagi, sebab ini perjalanan, Hai Diriku. Titik hentinya di ujung ajal. Rasa sakit, kegetiran, kecewa, lelah, dan marah yang kautanggung sekarang pun, bukan alasan untuk berhenti melangkahkan kakimu ke tempat di mana ia mestinya menapak. Tidak peduli betapa dinginnya rasa malu dan sedihmu, tidak layak kau berputus asa dari ampunan Allah. Sungguh kufur kau memandang kebesaran dan keluasan rahmat-Nya jika demikian.


Walau sungguh sulit dan jauh, semoga aku tak pernah menyerah untuk mengatakan padamu: Mari kembali! Mari kita kembali… selagi masih ada waktu.

Sabtu, 02 September 2017

Cara Memercayai

Aku teringat potongan percakapan dalam film Surga yang Tak Dirindukan.
Bagaimana kita tahu seseorang itu baik atau tidak jika bukan kita yang memercayainya?

Tidak ada cara untuk benar-benar memastikan tentang diri seseorang, bukan? Bahkan ketika bertanya pada orang-orang yang telah berumah tangga belasan tahun pun, sering sekali kita mendapati jawaban serupa. Selalu saja ada hal baru yang ia temukan di diri pasangannya, kendati mereka berpikir telah saling mengenal satu sama lain, ada saja yang belum diketahui, ada saja yang tidak dimengerti.

Barangkali kepercayaan akhirnya tidak perlu didefinisikan lagi. Percaya ya percaya. Jika kita mempertanyakan seperti apa seharusnya memercayai, mari mulai memercayakan, mari mulai percaya. Sederhana. Mari coba memercayai orang baik yang mendatangimu dengan cara baik-baik itu.

Tidak ada hati yang sungguh aman, ‘kan? Toh perasaan hanya punya satu kepemilikan: Tuhan. Tentang rasamu dan rasanya, tak ada yang abadi. Bukankah mudah bagi-Nya membolak-balik hati? Tentang ketulusan, perkara kesetiaan, adalah sesuatu yang berada di masa depan. Bukankah kita dituntun untuk hanya berupaya selama dalam keimanan yang terbuka? Cukup mempercayakan kepercayaan kita kepada-Nya. Sederhana.


Saat membicarakan ini, bukankah sebenarnya kita juga sedang menguji kepercayaan kita kepada Tuhan?

Jumat, 01 September 2017

Alasan Bertahan

Hampir ada ratusan alasan untuk meninggalkan seseorang, sementara alasan untuk menetap mungkin bahkan tak sampai satu, hanya sepotong, barangkali cuma sekeping kecil.

Memang sesulit-sulitnya memilih, lebih sulit bersetia pada pilihan.


Siapa pun orangnya, seberapa pun berlebihnya, mata kita akan selalu menangkap cela. Sebab kekurangan adalah penyempurna manusia.

Kamis, 31 Agustus 2017

Terkadang

kadang air matamu hanya butuh diseka, tapi kau kira lebih tentram didekap.

kadang pundakmu cuma butuh ditepuk, tapi kau kira lebih baik dipeluk.

kadang kepalamu cuma ingin dielus, tapi kau kira lebih nyaman dikecup.

kadang kau cuma ingin berada di sisi seseorang, tapi kau kira lebih baik orang itu adalah dia.