Rabu, 24 Juni 2009

Raungan Jagad Raya



Anak-anak zaman, matahari tertegun di belukar-belukar sunyi.
adalah mimpi yang tak habis-habisnya menggarami luka
perihnya berlipat seperti hidup ditafsirkan sandiwara.
adalah sia-sia pulau demi pulau membiarkan cuaca 
silih berganti menapakkan kaki
mengiringi perputaran semesta
Sementara kita masih tinggal berdesakan di pinggir-pinggir kota
Bergelantungan pada sampah dan menjadi sampah.
Terpasung menikmati lagu, dan membatu.
Sewaktu langit berubah mendung,
Tega menjadikan tempurung rumah bagi anak-cucu

Itulah perbudakan kalbu
kelalaian telah mengiring kuasa murka
lorong-lorong kehidupan rombak tergilas rupa tragedi yang ditiupkan

Tangan-tangan penghuni khatulistiwa terulur
Suara-suarapun berpeluh
berirama sendu dalam jiwa harap terlindung.

Jutaan nyawa disini,
telah terenggut sebab kejahilan tangan anak-anak Adam sendiri.
Rimbunan sampah di sudut-sudut jalan
menjadi petaka dalam guyuran jarum-jarum hujan.
Longsor telah menghantam penjuru jagad
Betapa kita telah menjadi pembunuh atas saudara dan dirikita sendiri.
Di jagad semesta ini, segalanya menjadi harga mati!.
Jika kau menjamah seenak hati, kaupun akan dicambuk alam dengan pedih.
Itulah barteran yang adil.

Dan seperti inilah kita sekarang...
Berkawan dengan bandul besi, beralamatkan suaka
dengan bantal lampu angan-angan celaka
dalam pengap sepi, bahkan kulit daging saja berani menista.
Memang, tak ada luka sembuh sebelum disepuh ganjaran setimpal.
Malangnya, ketika alam ini akhirnya menangis . . . [-_-]


_Rafiqah Ulfah Masbah_