Jumat, 31 Desember 2010

PERPISAHAN, KESENDIRIAN

suatu saat kubaca tentang ‘Umar ibn Al Khaththab
adalah ia menangis,
hingga janggut hitamnya mengkilatkan air mata
ketika perbendaharaan kisra persia dihadapkan
***
“jika memang ini kebaikan”, begitu katanya
“mengapa ia tak terjadi di masa Rasululullah dan Abu Bakr?
ya Allah, hendakkah engkau memisahkanku
dari kedua sahabatku?”
***
maka begitulah ‘Umar
lelaki yang ditakuti syaithan
ia takutkan perpisahan
###
suatu saat, kubaca tentang ‘Utsman ibn ‘Affan
adalah ia, hanya menunduk dan hening ketika disebut neraka
tetapi ia menangis, bahunya berguncang
dan menutup wajah dengan kedua telapak
ketika mendengar kata kubur
***
“mengapa”, begitu ditanyakan padanya
dia menjawab, “andaikan pun disiksa
di neraka, kita takkan sendirian
ada banyak kawan”
***
“tapi di dalam kubur
siksa apalagikah yang lebih mengerikan
daripada kesendirian?”
***
itulah ‘Utsman
lelaki yang selalu berbagi
lelaki yang bashirahnya sejernih embun pagi
lelaki yang begitu menjunjung tinggi
indahnya kebersamaan, manisnya persahabatan
ia takut akan kesendirian
###
kukatakan pada diriku..
begitulah para pejuang
bahkan rasa takut mereka
adalah kepahlawanan..
###

-Salim A. Fillah-

Rabu, 29 Desember 2010

Maka Pujilah . . .



          Bukankah tidak tulus,” tanya seorang mahasiswa, “Jika kita memaksakan diri memuji orang yang kita benci, atau orang yang kita musuhi ?
            Orang yang ditanya itu tersenyum. Namanya George W. Crane, seorang dokter, konsultan, dan psikolog. Saat mengajar di Northwestern University di Chicago pada tahun 1920-an, dia mendirikan apa yang disebutnya ‘Klub Pujian’.
            “Bukan,” kata Crane masih tetap tersenyum. “Anda bukannya tidak tulus ketika Anda memuji musuh Anda. Karena pujian itu adalah pernyataan yang jujur atas sifat atau keunggulan objektif yang memang pantas dipuji. Anda akan menemukan bahwa setiap orang memiliki sifat baik atau keunggulan,
            “Mungkin saja,” lanjut Crane dengan serius, “Pujian anda mengangkat semangat dalam jiwa orang-orang kesepian yang hampir putus asa untuk  berbuat baik. Anda tidak pernah tahu bahwa bisa saja pujian Anda yang sambil lalu itu, barangkali mengenai seorang anak laki-laki, anak perempuan, wanita, atau pria, pada titik penting ketika mereka-seandainya tidak mendapat sapaan itu-sudah akan menyerah.”.
            Segalanya adalah cermin. Kemampuan kita untuk mengaca, melihat hal-hal baik dan keunggulan pada siapapun yang ada disekeliling, baik dia adalah sahabat ataupun musuh, akan memberi nilai kabajikan pada tiap hubungan yang kita jalin dengan mereka. Kita bercermin, melihat bahwa ada selisih nilai antara kita dan sang bayang-bayang. Lalu kita menghargai kelebihannya. Memujinya, sehingga kebaikan itu makin bercahaya . . . :-)

from : buku Dalam Dekapan Ukhuwah

Kamis, 09 Desember 2010

Apa Citamu di tahun baru ini kawan?

 Tahun baru ini,
tahun dimana kita menapaki kedewasaan yang lebih tinggi
mengevaluasi jejak pengalaman setahun silam
menginsafi kekurangan dan kealfaan
lalu, merenda rencana dan niat suci tuk gapai setiap peluang di hadapan.

Ada asa yang terrasa
ada cinta yang terukir
ada haru yang melingkupi

Ya, ini tahun baru Sahabatku
Mari, mulai songsong masa depan dengan wajah berseri
dengan semangat yang tak pernah henti
dengan ikhtiar yang tak pernah gentar

Mari evaluasi,
Sudahkah impian kemarin telah terrealisasi semuanya?
Sudahkah perbaikan diri suksesi di tahun silam?
lalu, mari berhenti sejenak, dan mulailah menyusun target tahun ini
Tentu saja tak hanya target yang indah terpampang di dinding kamar
Berjuanglah sungguh-sungguh tuk komitmen menggapai semua targetmu

Hidup hanya sekali
persembahkan yang terbaik untukNya
hingga saat kita menutup mata kelak
Kita tersenyum bahagia telah mempersembahkan yang terbaik
dan orang sekitar kita menangis, karena kehilangan orang terbaik yang mereka temui
itulah DIRIMU yang LUAR BIASA.

Selamat berubah Sahabatku,
songsong tahun baru dengan senyuman, spirit dan keimanan
Semoga Allah kabulkan semua cita dan harapanmu di tahun ini. Amin

www.setiatraining.com

PERKEMBANGAN KONSUMSI ROKOK DI KALANGAN MASYARAKAT EKONOMI RENDAH


STUDI KASUS MASALAH KESEHATAN
Oleh :
RAFIQAH ULFAH MASBAH


Dalam Ekonomi kesehatan,
MEMBELI ROKOK = MEMBAYAR KEMATIAN DENGAN MAHAL
           
Realitas memperlihatkan bahwa rokok seperti menjadi rekan keseharian masyarakat di zaman ini, terutama di Indonesia. Seperti yang kita semua ketahui, rokok adalah satu dari produk pembunuh paling mematikan. Tercatat bahwa jumlah kematian per harinya dari dampak rokok di Indonesia setara dengan kematian penumpang 5 pesawat terbang. Namun, yang sangat disayangkan seolah pihak-pihak atau instansi pemerintahan menutup mata dalam penanganan kasus ini.
            Hal yang paling miris sebenarnya terjadi di negeri kita saat ini adalah kenyataan bahwa grafik pertumbuhan konsumsi rokok di kalangan masyarakat menengah ke bawah semakin tinggi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ternyata salah satu factor pesatnya konsumsi rokok ini adalah kapasitas pengetahuan yang tidak memadai tentang dampak negative atau bahaya rokok bagi kesehatan. Hal ini didasarkan pada pendataan laju pertumbuhan konsumsi rokok dari masyarakat tingkat elit sampai ke bawah. Data tersebut menunjukkan adanya penurunan konsumsi rokok di kalangan masyarakat elit dengan kapasitas pengetahuan yang memadai, dan justru meningkat secara signifikan pada masyarakat strata rendah yang tabu terhadap pengetahuan tentang bahaya rokok tadi.
            Masalah ini seharusnya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat dan pemerintah. Pokok permasalahan utamanya adalah bagaimana membangun ‘kesadaran’ akan besarnya bahaya rokok terhadap kesehatan. Cara terbaik yang bisa menekan masalah ini adalah dengan menggencarkan penyuluhan-penyuluhan di masyarakat khususnya masyarakat tingkat menengah ke bawah. Serta harus adanya dukungan besar dari pemerintah dan pengadaan pergantian atau pengalihan masukan dana dari penjualan rokok dengan bentuk lain yang bisa memenuhi penganggaran APBN pemerintah. Upaya penekanan laju konsumsi rokok ini tentu akan sangat membantu dalam pemenuhan tingkat kesehatan yang lebih baik di negeri kita tercinta ini, Indonesia.

Selasa, 07 Desember 2010

Keutamaan Bulan Muharram



Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman yamg artimya:

“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.

Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat
Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para shabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan
bahwa hal itu baik untuk dilakukan.

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan
sahabatnya dari Makkah dan Madinah.

LEGENDA DAN MITOS MUHARRAM

Di samping keutamaan bulan Muharram yang sumbernya sangat jelas, baik disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi banyak juga legenda dan mitos yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari ‘Asyura.

Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari ‘Asyura Nabi Adam diciptakan, Nabi Nuh as di selamatkan dari banjir besar, Nabi Ibrahim dilahirkan dan Allah Swt menerima taubatnya. Pada hari ‘Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi pada hari ‘Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari ‘Asyura.

Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari ‘Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhmmad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari ‘Asyura
tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari ‘Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari ‘Asyura.

BID’AH DI BULAN MUHARRAM

Selain legenda dan mitos yang dikait-kaitkan dengan Muharram, masih sangat banyak bid’ah yang jauh dari ajaran Islam. Lebih tepat lagi bahwa bid’ah tersebut merupakan warisan ajaran Hindu dan Budha yang sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran kepercayaan. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Kejawen.

Dari segi sistem penanggalan, memang penanggalan dengan sistem peredaran bulan bukan hanya dipakai oleh umat Islam, tetapi masyarakat Jawa juga menggunakan penanggalan dengan sistem itu. Dan awal bulannya dinamakan Suro. Pada hari Jum’at malam Sabtu, 1 Muharram 1428 H bertepatan dengan 1 Suro 1940. Sebenarnya penamaan bulan Suro, diambil dari ’Asyura yang berarti 10 Muharram. Kemudian sebutan ini menjadi nama bulan pertama bagi penanggalan Jawa.

Beberapa tradisi dan keyakinan yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa sudah sangat jelas bid’ah dan syiriknya, seperti Suro diyakini sebagai bulan yang keramat, gawat dan penuh bala. Maka diadakanlah upacara ruwatan dengan mengirim sesajen atau tumbal kelaut. Sebagian yang lain dengan cara bersemedi mensucikan diri bertapa di tempattempat sakral (di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya) dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan ‘berjaga hingga pagi hari’ di tempattempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng kraton sambil membisu.

Tradisi tidak mengadakan pernikahan, khitanan dan membangun rumah. Masyarakat berkeyakinan apabila melangsungkan acara itu maka akan membawa sial dan malapetaka bagi diri mereka.

Melakukan ritual ibadah tertentu di malam Suro, seperti selamatan atau syukuran, Sholat Asyuro, membaca Do’a Asyuro (dengan keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam
agama) dan tidak pernah ada contohnya dari Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam maupun para sahabatnya. Hadist-hadits yang menerangkan tentang Sholat Asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.

Tradisi Ngalap Berkah dilakukan dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan kirab kerbau bule (kiyai slamet) di kraton Kasunan Solo, thowaf di tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, bergadang semalam suntuk dan lain-lainnya. Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang menunjukkannya. Semoga Alloh Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan dan kebid’ahan yang membinasakan.

Menyikapi berbagai macam tradisi, ritual, dan amalan yang jauh dari ajaran Islam, bahkan cenderung mengarah pada bid’ah, takahyul dan syirik, maka marilah kita bertobat kepada Allah dan melaksanakan amalan-amalan sunnah di bulan Muharram seperti
puasa. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.

Dari Abu Qatadah ra. Rasululllah ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat.” (HR. Muslim).

[sumber:http://lenidisini.dagdigdug.com/2009/01/04/keutamaan-bulan-muharram/]

Senin, 06 Desember 2010

Hukum - Hukum Tentang Puasa Muharram

Alhamdulillah pada saat ini kita telah berada di bulan Muharram, salah satu bulan dari empat bulan yang memiliki kehormatan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam sabda beliau: “Sesungguhnya zaman telah berputar kembali seperti bentuknya ketika Allah menciptakan langit-langit dan bumi, satu tahun itu 12 bulan dan di antaranya ada 4 bulan haram (yang memiliki kehormatan), 3 bulan (di antaranya) berturut-turut : Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan bulan Rajabnya Mudhor yang berada antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan bulan ini juga merupakan salah satu dari beberapa bulan yang Allah Ta’ala telah menurunkan syariat puasa khusus di dalamnya yaitu puasa yang kita kenal bersama dengan nama puasa asyura. Karena itu pada pembahasan kali ini, kami akan mengangkat beberapa hukum seputar puasa Asyuro, semoga kaum muslimin sekalian bisa mendapatkan ilmu dan pelajaran tentangnya sebelum terjun melaksanakannya.

1. Dalil-Dalil Tentang Disyari’atkannya.
a. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha beliau berkata, “Dulu pada hari Asyuro, orang-orang Quraisy berpuasa padanya di masa jahiliyah dan adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam dulu juga berpuasa padanya. Tatkala beliau berhijrah ke Madinah, beliau berpuasa padanya dan memerintahkan (manusia) untuk berpuasa padanya. Dan tatkala (puasa) ramadhan diwajibkan beliaupun meninggalkan (puasa) hari Asyuro. Maka (semenjak itu) siapa saja yang ingin (berpuasa padanya) maka dia berpuasa dan siapa saja yang ingin (untuk tidak berpuasa) maka dia meninggalkannya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Nabi datang (hijrah) ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro`, maka beliau bertanya: “Apa ini?”, mereka (orang-orang Yahudi) menjawab: “Ini adalah hari baik, ini adalah hari Allah menyelamatkan Bani Isra`il dari musuh mereka maka Musa berpuasa padanya”, beliau bersabda : “Kalau begitu saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian” maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan (manusia) untuk berpuasa”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
c. Hadits Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk berpuasa pada hari ‘Asyuro`, memotivasi dan mengambil perjanjian dari kami di sisi beliau, tatkala telah diwajibkan (puasa) Ramadhan, beliau tidak memerintahkan kami, tidakpula melarang kami dan tidak mengambil perjanjian dari kami di sisi beliau”. (HR. Muslim)
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa puasa asyura awal kali disyariatkan ketika beliau tiba pertama kali di kota Madinah. Adapun sebab asal pensyari’atannya yaitu karena pada hari itu Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dari musuhnya sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas di atas, jadi bukan karena mengikuti agamanya orang-orang Yahudi. Lihat Nailul Author (4/288)

2. Hukumnya.
Nampak jelas dari hadits-hadits di atas dan juga dari hadits-hadits yang lain yang semakna dengannya bahwa dulunya hukum puasa hari ‘Asyuro` adalah wajib karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas. Akan tetapi setelah turunnya kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan maka hukum wajib ini dimansukh (terhapus) menjadi sunnah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Muslim (8/6), “Para ulama telah bersepakat bahwa puasa pada hari ‘Asyuro` hukumnya sekarang (yaitu ketika telah diwajibkannya puasa Ramadhan) adalah sunnah dan bukan wajib”. Dan ijma’ akan hal ini juga telah dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah sebagaimana dalam Fathul Bary (2/246)

3. Keutamaannya.
Ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan berpuasa pada hari ‘Asyuro`, berikut di antaranya :
a. Hadits Abu Qotadah Al-Harits bin Rib’iy radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, maka beliau menjawab : “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang lalu dan (setahun) yang akan datang”, dan beliau ditanya tentang puasa hari ‘Asyuro` maka beliau menjawab : “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang lalu”. (HR. Muslim)
b. Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam sangat bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang dia lebih utamakan daripada selainnya kecuali pada hari ini hari ‘Asyuro` dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
c. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu secara marfu’, “Puasa yang paling afdhol setelah Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah Muharram dan sholat yang paling afdhol setelah sholat wajib adalah sholat lail”. (HR. Muslim)

4. Orang yang telah makan sedang dia lupa atau tidak tahu bahwa hari itu adalah hari asyuro, apa yang dia lakukan ?
Masalah ini hukumnya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim (8/19), “Bab : Barangsiapa yang sudah makan pada hari ‘Asyuro` maka hendaknya dia menahan (berpuasa) pada sisa harinya”.
Ada dua dalil yang menunjukkan akan hal ini :
a. Hadits Salamah ibnul Akwa’ radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan seorang lelaki dari Bani Aslam agar mengumumkan kepada manusia bahwa barangsiapa yang yang sudah makan maka hendaknya dia berpuasa pada sisa harinya dan barangsiapa yang belum makan maka hendaknya dia berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyuro`”. (HR.Al- Bukhari dan Muslim)
b. Hadits Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiallahu ‘anha dia berkata, “Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam mengutus (utusan) kepada desa-desa Anshor pada subuh hari ‘Asyuro` (untuk menyerukan) : “Barangsiapa yang masuk di waktu subuh dalam keadaan berbuka (telah makan) maka hendaknya dia sempurnakan sisa harinya (dengan berpuasa) dan barangsiapa yang masuk di waktu subuh dalam keadaan berpuasa maka hendaknya dia berpuasa”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

5. Kapankah Hari ‘Asyuro` Itu?
Terdapat perselisihan pendapat di kalangan ulama dalam masalah penentuannya, dan pendapat yang paling kuat adalah bahwa hari asyura itu jatuh pada tanggal 10 Muharram. Ini adalah pendapat Said ibnul Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Imam Malik, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan ini merupakan pendapat jamahir (mayoritas) ulama terdahulu dan belakangan.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dia berkata, “Tatkala Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyuro` dan beliau memerintahkan (manusia) untuk berpuasa, mereka berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani”, maka Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda : “Jika tahun depan (saya masih hidup) insya Allah, maka kita akan berpuasa pada hari kesembilan”. (Ibnu ‘Abbas) berkata : Maka tahun depan belum datang sampai Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat”. (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, “Jika saya masih hidup sampai tahun depan maka (Demi Allah) sungguh betul-betul saya akan berpuasa pada hari kesembilan”.
Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah dalam Syarh Muslim (8/18), “Maka ini jelas menunjukkan bahwa dulu beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berpuasa pada tanggal 10 (Muharram) bukan tanggal 9”. Dan ini juga merupakan pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah.
Hal ini lebih dipertegas oleh perkataan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Asyuro`, hari kesepuluh”. (HR. At-Tirmizi dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmizi (1/399 no. 755))
Faedah:
Disunnahkan pula untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram karena Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berpuasa pada tanggal 10 dan berniat untuk berpuasa pada tanggal 9 tahun depannya sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas, ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq dan lain-lainnya. Hal ini juga berdasarkan ucapan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah pada hari ke 9 dan ke 10”. (Riwayat Abdurrozzaq (4/287) dan Al-Baihaqi (4/287))

Wallahu a’lam bish showab. Al-Atsariyyah.com

‘Utsman ibn ‘Affan


Untuk lelaki istimewa yang kita bicarakan kali ini, ism-nya Utsman bin Affan. Kuniyah-nya Abu ‘Abdillah. Dia memiliki gelar Dzun Nurain wal Hijratain (pemilik 2 cahaya yang berhijrah 2 kali), ism tashghir-nya adalah ‘Utsaim, begitu Rasulullah memanggilnya. Julukan Dzun Nurain didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah Saw yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.

‘Utsman adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. beliau lahir pada 574 Masehi dari golongan bani Ummayah. Nama ibu beliau adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). ‘Utsman mewakili karakter pemalu, pemurah dan penuh kelembutan yang menjadi mulia dengan keislamannya.

Beliau tak hanya dikenal pemalu pada manusia, tetapi lebih dari itu, pada Allah. Diriwayatkan bahwa mandinya ‘Utsman tidak dilakukan kecuali dalam rumah yang terkunci rapat, tertutup semua lubangnya, di kamar yang paling terkunci, dalam sebuah bilik rapat di kamar itu, dan dipasang  selubung kain yang tinggi. Itupun, “Utsman masih tak bisa menegakkan punggung karena rasa malu. Ia selalu malu pada Allah. Ia malu, jika nikmat-nikmat Allah tak ia nafkahkan dijalanNya. Maka ribuan unta, 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham menyertai perang Tabuk. Ia malu, jika ia kenyang sementara penduduk Madinah ditimpa paceklik. Maka 1000 unta penuh muatan ia bagikan gratis. Ia malu, jika ia minum air sejuk sementara penduduk Madinah meminum air bacin. Maka dibelinya sumur Raumah, lalu ia wakafkan.

Yang sangat jelas bahwa ‘Utsman memiliki kedudukan terhormat disisi Rasulullah SAW. Dalam suatu Hadits riwayat Muslim, ‘Aisyah menceritakan bahwa ketika Rasulullah terbaring dalam keadaan betisnya terbuka, datang Abu Bakar meminta izin masuk berbincang dan beliau juga tetap dalam keadaan seperti itu.Lalu ‘Umar datang dan beliau juga tetap dalam keadaan seperti itu. Lalu ketika ‘Utsman meminta izin masuk, beliau duduk dan merapikan pakaiannya. Ketika ‘Utsman keluar, ‘Aisyah menanyakan hal itu dan dijawab, “Patutkah aku tidak merasa malu pada lelaki yang para malaikat pun merasa malu kepadanya?”

Setelah wafatnya Umar bin Khatab sebagai khalifah kedua, Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga disaat umurnya 70 tahun waktu itu. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.
Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. sebuah sikap yang membuatnya mulia namun juga tak bias dicela. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada hari Jumat tanggal 17 Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.
* * *
Inilah ‘Utsman, Manusia yang malaikat pun malu kepadanya. Pemuda lembut hati yang dua kali Rasulullah nikahkan dengan dua puterinya. Seorang yang gigih menyerahkan harta dan jiwanya untuk membela Islam. Seorang terkasih yang untuknyalah Rasulullah mengulurkan lengannya yang suci dalam Bai’atur Ridhwan demi mendengar orang-orang Quraisy membunuhnya. ketulusannya membela agama Allah, dan cintanya kepada Sang Nabi tak mungkin dipertanyakan. Banyak kisah tentang diri beliau yang tak sempat dipaparkan satu per satu. Ialah ‘Utsman ibn ‘Affan . . .

_Mari mengambil pelajaran dari teladan-teladan sejarah & kehidupan_

Senin, 29 November 2010

BUTIR-BUTIR HIDUPKU

Aku telah belajar....
Bahwa kelas terbaik di dunia ini adalah di kaki seseorang yang tua

Aku telah belajar....
Bahwa ketika kau jatuh cinta, ia akan menampak

Aku telah belajar....
Bahwa hanya orang yang berkata kepadaku, "Kau telah membahagiakanku!", yang benar-benar membahagiakanku.

Aku telah belajar....
Bahwa menemukan anak yang tertidur di pangkuanmu adalah salah satu perasaan yang paling damai di dunia.

Aku telah belajar....
Bahwa menjadi baik jauh lebih penting ketimbang menjadi benar.

Aku telah belajar....
Bahwa kau tak seharusnya pernah menolak hadiah dari seorang anak.

Aku telah belajar....
Bahwa saya selalu bisa mendoakan seseorang ketika saya tak kuasa menolongnya dengan cara apapun.

Aku telah belajar....
Bahwa seserius apapun kehidupanmu menuntutmu, setiap orang butuh seorang teman juga ketika melakukan hal-hal keliru

Aku telah belajar....
Bahwa terkadang yang dibutuhkan seluruh orang adalah tangan untuk pegangan dan hati tempat mengadu

Aku telah belajar....
Bahwa jalan-jalan ringan dengan ayahku di sekitar blok di malam musim panas ketika aku masih kecil itulah yang sangat berpengaruh bagiku ketika menginjak dewasa.

Aku telah belajar....
Bahwa hidup ini seperti rol tisu toilet. Yang paling ujung, yang paling cepat habis.

Aku telah belajar....
Bahwa kita harus gembira Tuhan tidak memberi kita segala yang kita pinta.

Aku telah belajar....
Bahwa uang tidak bisa membeli kelas

Aku telah belajar....
Bahwa peristiwa-peristiwa kecil keseharian yang membuat hidup spektakuler.

Aku telah belajar....
Bahwa di bawah batok seseorang adalah seseorang yang ingin dihargai dan dicinta.

Aku telah belajar....
Bahwa Bahwa Tuhan tidak mengerjakan semuanya sekali jadi. Apa yang membuatku berkata bisa?

Aku telah belajar....
Bahwa mengabaikan fakta-fakta tidak akan mengubah fakta.

Aku telah belajar....
Bahwa jika kau ingin bergaul terlalu dekat dengan seseorang, kau hanya membiarkan dia untuk terus melukaimu.

Aku telah belajar....
Bahwa cinta, bukan waktu, menyembuhkan segala luka

Aku telah belajar....
Bahwa jalan terbaik untukku biar tumbuh sebagai pribadi adalah dengan bergaul dengan orang-orang yang lebih cerdas dariku.

Aku telah belajar....
Bahwa setiap orang yang kau temui layak mendapatkan sambutan senyum darimu

Aku telah belajar....
Bahwa tiada yang lebih indah dari tidur bersama bayi-bayimu dan merasakan nafas mereka menyentuh pipimu

Aku telah belajar....
Bahwa tiada yang sempurna sampai kau jatuh cinta kepada mereka

Aku telah belajar....
Bahwa hidup ini keras, tapi aku lebih keras lagi.

Aku telah belajar....
Bahwa berbagai peluang itu tak pernah hilang, seseorang akan menggunakan peluang-peluang yang kau lewatkan.

Aku telah belajar....
Bahwa ketika kau memendam benci, kebahagiaan dimanapun akan kandas

Aku telah belajar....
Bahwa aku mengandaikan dapat mengatakan kepada mamaku bahwa aku mencintainya lebih dari sekali sebelum ia meninggal.

Aku telah belajar....
Bahwa seseorang harus menjaga kata-katanya lembut dan halus, sebab besok mungkin ia akan memakannya.

Aku telah belajar....
Bahwa senyum adalah cara termurah untuk memperbaiki penampilanmu

Aku telah belajar....
Bahwa aku tak dapat memilih bagaimana aku merasa, tapi aku dapat memilih apa yang saya buat untuknya

Aku telah belajar...
Bahwa ketika cucumu yan baru lahir memegang jari lembutmu dengan tangan mungilnya, semangatmu akan terbangkitkan untuk hidup.

Aku telah belajar....
Bahwa setiap orang ingin hidup di puncak gunung, tapi seluruh kebahagiaan dan pertumbuhan terjadi ketika kau mendakinya

Aku telah belajar....
Bahwa yang terbaik adalah kau memberi nasehat hanya di dua lingkungan: ketika diminta dan ketika kehidupan mengancam situasi.

Aku telah belajar....
Bahwa semakin sedikit waktu yang tersedia untuk mengerjakan sesuatu, semakin banyak yang dapat kukerjakan.

Aku telah belajar....
kepada kamu semua... pastikan kau telah membaca dari awal hingga akhir..

Curahan Hati



Seakan rasa merayapi bekunya raga,
mengalir dalam nadi – nadi penuh irama,
saat RASA kembali menyapa,
saat DIA kembali tersenyum dengan karunia-Nya.

Terbungkam hatiku dalam baris kata, kala kutatap jingga di ufuk barat dunia. Senja kini telah tutupi cakrawala. Kelabu hati kian hadirkan bulir air mata, karena rasa makin terasa. Mengiris relung hati kian nyata, bayangpun seakan hantui dalam gelapnya indra.

Ada apa...?? Kenapa..?? Mengapa..??
Tanya sama yang mengusai benak rasa, tercipta dari kekhawatiran yang membabi buta.

Yaa Allah, yaa Rabbi...
Jikalau memang telah Engkau catatkan dia tercipta buatku...
Seandainya telah Engkau gariskan dia menjadi bidadariku...
Maka jodohkanlah kami,
Satukanlah hatinya dengan hatiku.
Selipkanlahlah kebahagiaan di antara kami,
Agar kemesraan itu terjadi dan abadi.

Tetapi...
Yaa Allah, yaa Ilahi...
Jikalau memang telah Engkau tetapkan dia bukan Mujahidahku...
Seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan Ibu dari anak-anakku...
Bawalah dia pergi jauh dari pandanganku,
Hapuskanlah dia dari ingatanku,
Dan serta periharalah daku dari kekecewaan ini.

Yaa Allah, Yang Maha Mengerti...
Berikanlah daku kekuatan,
Menolak bayangannya jauh sejauh-jauhnya dari lubuk hati,
Hilang bersama senja yang memerah,
Agar daku senantiasa tenang dan senang,
Walaupun tak bersanding dengannya di pelaminan.
Karena ku yakin, Engkau akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik...

Yaa Allah, Yang Maha Cinta...
Ku pasrahkan hidup dan kehidupanku pada Qadla dan Qadhar-Mu.
Cukuplah hanya Engkau yang menjadi pemeliharaku, di dunia dan akhirat...
Dengarkanlah rintihan hati dari hamba-Mu yang dhaif ini,
Dengarkanlah goresan hati dari hamba-Mu yang naif ini,
Jangan Engkau biarkan daku sendirian, di dunia ini maupun di akhirat...
Di tengah-tengah kehidupan yang liberalistik, kapitalistik, dan hedonistik ini...
Banyak hamba-Mu yang terjerumus ke lembah kehinaan,
Tak sedikit hamba-Mu yang terjerembab di lembah kenistaan,
Dengan berbagai macam jalan kemaksiatan, kemungkaran, dan kekufuran...
Maka karuniakanlah daku seorang Mar'atus Shalihah,
Agar daku dan dia bersama-sama membela kemuliaan agama-Mu,
Agar daku dan dia bersama-sama dapat membina kesejahteraan hidup,
Ke jalan yang Engkau ridhai...
Dan karuniakanlah kepadaku keturunan yang shalih dan shalihah,
Keturunan yang siap menjadi mujahid dan mujahidah,
Keturunan yang berani memperjuangkan Syariah dan Khilafah.

Harmoni yang mendayu, menyentuh diri tuk terharu, terdiam seketika kala itu, membisu dalam alunan doa yang merdu, sejenak menyelam lupakan sendu, yang mendera seiring waktu, hempaskanku layaknya angin yang bertiup menderu, hampa yang membelenggu, kini terasa beda dalam kalbu. Aku telah memilihmu, dan percaya padamu.

http://mutiarahati-info.blogspot.com/2010/11/seakan-rasa-merayapi-bekunya-raga.html

Jumat, 26 November 2010

Sekedar ingin berbagi,tentang yang kita sebut itu "KEHILANGAN"

from : my friend ~_~


Apakah anda pernah kehilangan? apakah kehilangan itu?. bagi saya, bahasa kehilangan adalah seumpama sepoci air dari samudra atlantik yang sahabt sodorkan di depan mataku. lantas sahabat katakan dengan air muka dipenuhi kejujuran, "sahabatku, inilah samudra atlantik, aku membawakan buatmu, teguklah, semoga kau dipenuhi kedamaian". sungguh sepoci tak akan sama dengan seluas pandang mata, bukan?.

Kehilangan, setiap kata itu mengambil langkah lepas dari lidah dan bibir kita. selalu saja bulir air dari kolam mata mulai meruap mencari jalan menuju muara. apakah pada sebidang dada sebagai tempat bersandar, atau sebuah sapu tangan kenang-kenangan atau sebuah tikar sembahyang yang dipakai di hari lebaran. kita menumpahkan semuanya di sana. kita menuju laut, pasrahkan diri dalam debur gelombang. dan tentunya menenggelamkan diri dalam palung laut kehilangan.

Kehilangan selalu dapat tiba dalam lembar usia kita, tidak melihat dari ras mana, suku apa, jenis kelamin apa. apakah dia rakyat jelata atau siapapun dia. kehilangan selalu datang setelah sifat cinta bersemayam, "kau mencintainya...maka kau harus tabah saat kehilangan dirinya", begitu ujaran orang-orang tua dahulu di tanah ini. Sekarang saya bertanya kepada sahabt, apakah anda pernah kehilangan? lalu apa yang telah kita temukan dalam kehilangan kita ?.

Saya sering kehilangan, kehilangan orang yang saya cintai dan merasa jauh dari orang-orang yang sangat saya rindukan, kakek yang menuntun saya belajar mengaji sudah lama menghilang, tante yang sering mencubit paha saya waktu kecil sudah lama menghilang, guru tempat saya sering melinangkan air mata saat menatapnya juga telah hilang, banyak sahabat saya, yang saya cintai juga telah hilang, saya kehilangan mereka sebab betapa saya mencintai mereka. Dalam kehilanganku itu, semakin meneguhkan hati saya bahwa suatu ketika saya juga akan menghilang. Meninggalkan kawan-kawan dan mereka yang mencintai saya untuk merasakan kembali buah kehilangan yang sering saya rasakan. Semakin meneguhkan saya bahwa kehilangan sangat erat dengan melihat objek yang kita cintai, mendengar tutur katanya. memandang matanya atau menikmati senyumannya yang duhai itu. Saat semua itu tidak kita dapatkan atau saat kita inginkan, maka kita sekali lagi di terpa badai kehilangan . Itu berulang-ulang terjadi, diseling-selingi kerinduan, kenapa ada rindu? kenapa kita merindukannya ?.

Setelah sekian lama, dari sinilah benang merah saya temukan, ada hubungan tak langsung antara mencintai lalu kehilangan dan merindukan. betapa dia tidak benar-benar menghilang menurut saya, atau setidaknya tidak menghilang secara sempurna. ataupun kalau dia menghilang selalu menjadikan tempat dalam hatiku rumah barunya untuk menyembunyikan diri.

Saat sepoci air jatuh dan pecah. isi samudra menghilang atau menemukan tempat baru dalam hatiku, di dalam hatiku ada kakek yang saban sore ke pasar dengan bersepeda, ada ibu yang sedang menjemur pakaian sambil bernyayi pelan lagu india, ada guruku yang berjalan anggun dengan kopiah putihnya sambil menyodorkan senyum gula ke mataku. semuanya ada sahabt. mereka tidak hilang, mereka selalu ada dalam hati kita.

begitu pula dengan saudaraku, abang Hilal Burhanuddin yang pada status akhirnya menulis :

"My journey still difficult to be enjoyable...
I need more pray from you guys..."


dan, kita kehilangan lagi , namun saya yakin dia pergi dengan membawa kita semua dalam hatinya. begitupun dengan dia yang selalu hidup di hati kita.

untuknya, saya haturkan puisi ini,untuk seorang kawan yang saya mulai mengenalnya

...

Menulis kehilangan di antara cinta dan rindu kepadamu

SETELAH kau temukan
kau mesti kembali ke pantai

kisahkan tualangmu saat menjelma sebiji pasir
yang jatuh di dasar palung

kau tahu, aku selamanya menjelma karang
menanti ombak, menanti badai
menanti mereka yang selalu kabari hikayatmu.

O. Mawar Hitam
O..Anggur Kekasih.

aku tetap karang yang batu
menyulam diri dalam desah terumbu waktu.

kisah perantaumu yang menjejak di tapak Attar
menangkap lirikan burung Srimuraq, adalah nun
yang tak terperi, bagiku.

...

di sini setia
hingga waktu bertukar kisah denganmu
tentang ombak yang ramai
dan palung-palung yang sunyi




tidak ada maksud untuk membuat sedih,namun jujur hanya ingin berbagi untuk apa yang pernah dan akan kita rasakan...,
dan hanya ingin berbagi dengan harapan dapat mengerti lalu tersenyum kembali ^_^

Salam Arif Wicaksono/Benang Kusut..........

Do'a Setengah Dewa



Ya Allah, kalau ia adalah calonku mudahkanlah,
Jika jauh, dekatkanlah
Jika dekat, satukanlah
Kalau bukan? Ayolah.. Fulanah ya Rabb..
Bagaimanapun.. Fulanah
Sekali Fulanah tetap Fulanah!
Fulanah atau mati!
Fulanah..! Fulanah..! Fulanah..! (Baca dengan semangat 45 )

Sahabatku,
berapa banyak diantara kita yang kadang berdo'a setengah memaksa
berharap setengah mengancam
berserah walau hati tak berpasrah

Saat do'a tak kunjung dikabulkan
saat realitas jauh dari idealitas
kita seakan ingin menyaingi kehendak Allah
mendahului takdir Allah
kurang percaya dengan qodo dan qodar Allah
Nauzdzubillah mindzalik

Belajarlah dari akhlak para nabi,
Ibrahim yang puluhan tahun memohon diberikan keturunan, tak kunjung satupun diberi
Namun do'a dan ikhtiar terus dilakukan
itulah keimanan, maka Ismail anak yang Soleh dihadiahkan

Telisik juga bagaimana Musa dan kaumnya tak pernah meragukan pertolongan Tuhannya
saat harus memilih masuk ke dalam samudra atau dibantai habis prajurit Fir'aun

Namun inilah uniknya kepasrahan
keyakinan dan kesungguhan dalam bertawakal kepada Allah
tak ada keraguan sedikitpun akan janji dan pertolonganNya
Maka, tepat saat tawakal berada di titik puncaknya
saat akal sehat tak bisa lagi mengelak
saat ikhtiar tak lagi dapat menakar
Di saat itulah pertolongan Allah seringkali berwujud
dengan rizki dari arah yang tiada diduga
dengan jodoh yang tak pernah disangka-sangka
dengan kemudahan setelah kesulitan

Pak Ary Ginanjar, cermat sekali mengatakan hal ini dengan Zero Mind Proccess, sebuah bentuk ketundukan dan kepasrahan yang menzerokan diri dan mengesakan Allah. Apa yang terjadi? saat Sekolah Dasar kita belajar, 1/0 = tak terhingga. Ya, akan ada pertolongan Allah yang melimpah dan tercurah, ada solusi setelah krisis yang sering tidak kita sadari dari mana munculnya.

Bergetar hati ini, saat menghayati kembali sirah Nabi akhir zaman,
yang disaat kecamuk perang, dan kekalalahan kaum Muslimin semakin terasa mendekat,
di atas kuda perang dan baju besi yang dipakai,
Sang Nabi berdo'a penuh harap dan keyakinan, namun bukan untuk memaksakan kehendak,
"Ya Allah, kalau Kau tidak memenangkan Kami pada peperangan ini, Maka siapa lagi yang akan mendakwahkan Islam. Maka tolonglah kami ya Rabb".
Kata yang jauh dari kepentingan dunia sesaat
kemenangan yang bukan untuk mendapatkan kekuasaan
namun karena kemuliaan perjuangan
atas nama keyakinan

Biidznillah, Allah menangkan kaum muslimin dalam peperangan itu
walau mungkin akal merasa kemenangan tak mungkin lagi
walau alasan untuk kalah itu lebih banyak
namun itulah kekuasaan Allah,
Keajaiban di atas Keajaiban. Cahaya di atas Cahaya!
yang jika Ia telah mengehendaki sesuatu, hanya berkata, "Kun!" "Jadil!"... Maka "Fayakun!" "Terjadilah"

Sahabatku jangan takut dengan apapun dalam hidup ini,
jika semuanya kita sandarkan dengan keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah
bahu membahu kita susun barisan mengejar ridhoNya
karena kekayaan bukanlah tujuan, popularitas bukan prioritas
namun keberkahan usia dan kebermanfaatan di jalanNya
itulah yang membuat kita hidup dalam kebahagiaan

dan saat kita menutup usia,
tersenyumlah, karena Allah ridho dengan perjuangan yang Anda, saya dan kita lakukan
Karena manusia telah banyak mencicipi manisnya kebermanfaatan..
Hidup hanya sekali, berjuanglah sampai tetes darah penghabisan.

dalam semangat Hari Guru!
www.setiatraining.com

Sabtu, 20 November 2010

Mencintai Penanda Dosa (Tulisan Salim A.Fillah)



“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Copyright By :
-salim a. fillah, http://salimafillah.com/-

***

NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya.

Senin, 15 November 2010

Dan Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya


Ketika Al-Musthafa berada dihadapan Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala, Tahukah kalian apa yang terjelma? Cinta! (Abu Bakar ra)

Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam "Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri". Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama.

"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang menjawabnya.

"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?"

"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya"

"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.

"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.

Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad.

"Assalamu’alaikum ya utusan Allah" dengan takzim malaikat memberi salam.

"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus dingin.

"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali"

"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?"

"Ia ku tinggal di atas langit dunia".

Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah.

"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta Al-Musthafa.

Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu".

"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.

"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti".

"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.

Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, "Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.

"Apakah engkau membenciku Jibril"

"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu.

Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan "Ummatku… Ummatku….". Dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.

Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.

Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.

Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi:

Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera, Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia, Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir

Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh. Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta.

Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi.

Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih ‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, "Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit.

Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis.

***

Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu:

Engkau adalah ke dua biji mata ini Dengan kepergianmu yang anggun, Aku seketika menjelma menjadi seorang buta Yang tak perkasa lagi melihat cahaya Siapapun yang ingin mati mengikutimu Biarlah ia pergi menemui ajalnya, Dan Aku, Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu

Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka. Adakah sahabat???

Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.

Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan. Mari Sahabat!

sumber : eramuslim