Senin, 29 November 2010

BUTIR-BUTIR HIDUPKU

Aku telah belajar....
Bahwa kelas terbaik di dunia ini adalah di kaki seseorang yang tua

Aku telah belajar....
Bahwa ketika kau jatuh cinta, ia akan menampak

Aku telah belajar....
Bahwa hanya orang yang berkata kepadaku, "Kau telah membahagiakanku!", yang benar-benar membahagiakanku.

Aku telah belajar....
Bahwa menemukan anak yang tertidur di pangkuanmu adalah salah satu perasaan yang paling damai di dunia.

Aku telah belajar....
Bahwa menjadi baik jauh lebih penting ketimbang menjadi benar.

Aku telah belajar....
Bahwa kau tak seharusnya pernah menolak hadiah dari seorang anak.

Aku telah belajar....
Bahwa saya selalu bisa mendoakan seseorang ketika saya tak kuasa menolongnya dengan cara apapun.

Aku telah belajar....
Bahwa seserius apapun kehidupanmu menuntutmu, setiap orang butuh seorang teman juga ketika melakukan hal-hal keliru

Aku telah belajar....
Bahwa terkadang yang dibutuhkan seluruh orang adalah tangan untuk pegangan dan hati tempat mengadu

Aku telah belajar....
Bahwa jalan-jalan ringan dengan ayahku di sekitar blok di malam musim panas ketika aku masih kecil itulah yang sangat berpengaruh bagiku ketika menginjak dewasa.

Aku telah belajar....
Bahwa hidup ini seperti rol tisu toilet. Yang paling ujung, yang paling cepat habis.

Aku telah belajar....
Bahwa kita harus gembira Tuhan tidak memberi kita segala yang kita pinta.

Aku telah belajar....
Bahwa uang tidak bisa membeli kelas

Aku telah belajar....
Bahwa peristiwa-peristiwa kecil keseharian yang membuat hidup spektakuler.

Aku telah belajar....
Bahwa di bawah batok seseorang adalah seseorang yang ingin dihargai dan dicinta.

Aku telah belajar....
Bahwa Bahwa Tuhan tidak mengerjakan semuanya sekali jadi. Apa yang membuatku berkata bisa?

Aku telah belajar....
Bahwa mengabaikan fakta-fakta tidak akan mengubah fakta.

Aku telah belajar....
Bahwa jika kau ingin bergaul terlalu dekat dengan seseorang, kau hanya membiarkan dia untuk terus melukaimu.

Aku telah belajar....
Bahwa cinta, bukan waktu, menyembuhkan segala luka

Aku telah belajar....
Bahwa jalan terbaik untukku biar tumbuh sebagai pribadi adalah dengan bergaul dengan orang-orang yang lebih cerdas dariku.

Aku telah belajar....
Bahwa setiap orang yang kau temui layak mendapatkan sambutan senyum darimu

Aku telah belajar....
Bahwa tiada yang lebih indah dari tidur bersama bayi-bayimu dan merasakan nafas mereka menyentuh pipimu

Aku telah belajar....
Bahwa tiada yang sempurna sampai kau jatuh cinta kepada mereka

Aku telah belajar....
Bahwa hidup ini keras, tapi aku lebih keras lagi.

Aku telah belajar....
Bahwa berbagai peluang itu tak pernah hilang, seseorang akan menggunakan peluang-peluang yang kau lewatkan.

Aku telah belajar....
Bahwa ketika kau memendam benci, kebahagiaan dimanapun akan kandas

Aku telah belajar....
Bahwa aku mengandaikan dapat mengatakan kepada mamaku bahwa aku mencintainya lebih dari sekali sebelum ia meninggal.

Aku telah belajar....
Bahwa seseorang harus menjaga kata-katanya lembut dan halus, sebab besok mungkin ia akan memakannya.

Aku telah belajar....
Bahwa senyum adalah cara termurah untuk memperbaiki penampilanmu

Aku telah belajar....
Bahwa aku tak dapat memilih bagaimana aku merasa, tapi aku dapat memilih apa yang saya buat untuknya

Aku telah belajar...
Bahwa ketika cucumu yan baru lahir memegang jari lembutmu dengan tangan mungilnya, semangatmu akan terbangkitkan untuk hidup.

Aku telah belajar....
Bahwa setiap orang ingin hidup di puncak gunung, tapi seluruh kebahagiaan dan pertumbuhan terjadi ketika kau mendakinya

Aku telah belajar....
Bahwa yang terbaik adalah kau memberi nasehat hanya di dua lingkungan: ketika diminta dan ketika kehidupan mengancam situasi.

Aku telah belajar....
Bahwa semakin sedikit waktu yang tersedia untuk mengerjakan sesuatu, semakin banyak yang dapat kukerjakan.

Aku telah belajar....
kepada kamu semua... pastikan kau telah membaca dari awal hingga akhir..

Curahan Hati



Seakan rasa merayapi bekunya raga,
mengalir dalam nadi – nadi penuh irama,
saat RASA kembali menyapa,
saat DIA kembali tersenyum dengan karunia-Nya.

Terbungkam hatiku dalam baris kata, kala kutatap jingga di ufuk barat dunia. Senja kini telah tutupi cakrawala. Kelabu hati kian hadirkan bulir air mata, karena rasa makin terasa. Mengiris relung hati kian nyata, bayangpun seakan hantui dalam gelapnya indra.

Ada apa...?? Kenapa..?? Mengapa..??
Tanya sama yang mengusai benak rasa, tercipta dari kekhawatiran yang membabi buta.

Yaa Allah, yaa Rabbi...
Jikalau memang telah Engkau catatkan dia tercipta buatku...
Seandainya telah Engkau gariskan dia menjadi bidadariku...
Maka jodohkanlah kami,
Satukanlah hatinya dengan hatiku.
Selipkanlahlah kebahagiaan di antara kami,
Agar kemesraan itu terjadi dan abadi.

Tetapi...
Yaa Allah, yaa Ilahi...
Jikalau memang telah Engkau tetapkan dia bukan Mujahidahku...
Seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan Ibu dari anak-anakku...
Bawalah dia pergi jauh dari pandanganku,
Hapuskanlah dia dari ingatanku,
Dan serta periharalah daku dari kekecewaan ini.

Yaa Allah, Yang Maha Mengerti...
Berikanlah daku kekuatan,
Menolak bayangannya jauh sejauh-jauhnya dari lubuk hati,
Hilang bersama senja yang memerah,
Agar daku senantiasa tenang dan senang,
Walaupun tak bersanding dengannya di pelaminan.
Karena ku yakin, Engkau akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik...

Yaa Allah, Yang Maha Cinta...
Ku pasrahkan hidup dan kehidupanku pada Qadla dan Qadhar-Mu.
Cukuplah hanya Engkau yang menjadi pemeliharaku, di dunia dan akhirat...
Dengarkanlah rintihan hati dari hamba-Mu yang dhaif ini,
Dengarkanlah goresan hati dari hamba-Mu yang naif ini,
Jangan Engkau biarkan daku sendirian, di dunia ini maupun di akhirat...
Di tengah-tengah kehidupan yang liberalistik, kapitalistik, dan hedonistik ini...
Banyak hamba-Mu yang terjerumus ke lembah kehinaan,
Tak sedikit hamba-Mu yang terjerembab di lembah kenistaan,
Dengan berbagai macam jalan kemaksiatan, kemungkaran, dan kekufuran...
Maka karuniakanlah daku seorang Mar'atus Shalihah,
Agar daku dan dia bersama-sama membela kemuliaan agama-Mu,
Agar daku dan dia bersama-sama dapat membina kesejahteraan hidup,
Ke jalan yang Engkau ridhai...
Dan karuniakanlah kepadaku keturunan yang shalih dan shalihah,
Keturunan yang siap menjadi mujahid dan mujahidah,
Keturunan yang berani memperjuangkan Syariah dan Khilafah.

Harmoni yang mendayu, menyentuh diri tuk terharu, terdiam seketika kala itu, membisu dalam alunan doa yang merdu, sejenak menyelam lupakan sendu, yang mendera seiring waktu, hempaskanku layaknya angin yang bertiup menderu, hampa yang membelenggu, kini terasa beda dalam kalbu. Aku telah memilihmu, dan percaya padamu.

http://mutiarahati-info.blogspot.com/2010/11/seakan-rasa-merayapi-bekunya-raga.html

Jumat, 26 November 2010

Sekedar ingin berbagi,tentang yang kita sebut itu "KEHILANGAN"

from : my friend ~_~


Apakah anda pernah kehilangan? apakah kehilangan itu?. bagi saya, bahasa kehilangan adalah seumpama sepoci air dari samudra atlantik yang sahabt sodorkan di depan mataku. lantas sahabat katakan dengan air muka dipenuhi kejujuran, "sahabatku, inilah samudra atlantik, aku membawakan buatmu, teguklah, semoga kau dipenuhi kedamaian". sungguh sepoci tak akan sama dengan seluas pandang mata, bukan?.

Kehilangan, setiap kata itu mengambil langkah lepas dari lidah dan bibir kita. selalu saja bulir air dari kolam mata mulai meruap mencari jalan menuju muara. apakah pada sebidang dada sebagai tempat bersandar, atau sebuah sapu tangan kenang-kenangan atau sebuah tikar sembahyang yang dipakai di hari lebaran. kita menumpahkan semuanya di sana. kita menuju laut, pasrahkan diri dalam debur gelombang. dan tentunya menenggelamkan diri dalam palung laut kehilangan.

Kehilangan selalu dapat tiba dalam lembar usia kita, tidak melihat dari ras mana, suku apa, jenis kelamin apa. apakah dia rakyat jelata atau siapapun dia. kehilangan selalu datang setelah sifat cinta bersemayam, "kau mencintainya...maka kau harus tabah saat kehilangan dirinya", begitu ujaran orang-orang tua dahulu di tanah ini. Sekarang saya bertanya kepada sahabt, apakah anda pernah kehilangan? lalu apa yang telah kita temukan dalam kehilangan kita ?.

Saya sering kehilangan, kehilangan orang yang saya cintai dan merasa jauh dari orang-orang yang sangat saya rindukan, kakek yang menuntun saya belajar mengaji sudah lama menghilang, tante yang sering mencubit paha saya waktu kecil sudah lama menghilang, guru tempat saya sering melinangkan air mata saat menatapnya juga telah hilang, banyak sahabat saya, yang saya cintai juga telah hilang, saya kehilangan mereka sebab betapa saya mencintai mereka. Dalam kehilanganku itu, semakin meneguhkan hati saya bahwa suatu ketika saya juga akan menghilang. Meninggalkan kawan-kawan dan mereka yang mencintai saya untuk merasakan kembali buah kehilangan yang sering saya rasakan. Semakin meneguhkan saya bahwa kehilangan sangat erat dengan melihat objek yang kita cintai, mendengar tutur katanya. memandang matanya atau menikmati senyumannya yang duhai itu. Saat semua itu tidak kita dapatkan atau saat kita inginkan, maka kita sekali lagi di terpa badai kehilangan . Itu berulang-ulang terjadi, diseling-selingi kerinduan, kenapa ada rindu? kenapa kita merindukannya ?.

Setelah sekian lama, dari sinilah benang merah saya temukan, ada hubungan tak langsung antara mencintai lalu kehilangan dan merindukan. betapa dia tidak benar-benar menghilang menurut saya, atau setidaknya tidak menghilang secara sempurna. ataupun kalau dia menghilang selalu menjadikan tempat dalam hatiku rumah barunya untuk menyembunyikan diri.

Saat sepoci air jatuh dan pecah. isi samudra menghilang atau menemukan tempat baru dalam hatiku, di dalam hatiku ada kakek yang saban sore ke pasar dengan bersepeda, ada ibu yang sedang menjemur pakaian sambil bernyayi pelan lagu india, ada guruku yang berjalan anggun dengan kopiah putihnya sambil menyodorkan senyum gula ke mataku. semuanya ada sahabt. mereka tidak hilang, mereka selalu ada dalam hati kita.

begitu pula dengan saudaraku, abang Hilal Burhanuddin yang pada status akhirnya menulis :

"My journey still difficult to be enjoyable...
I need more pray from you guys..."


dan, kita kehilangan lagi , namun saya yakin dia pergi dengan membawa kita semua dalam hatinya. begitupun dengan dia yang selalu hidup di hati kita.

untuknya, saya haturkan puisi ini,untuk seorang kawan yang saya mulai mengenalnya

...

Menulis kehilangan di antara cinta dan rindu kepadamu

SETELAH kau temukan
kau mesti kembali ke pantai

kisahkan tualangmu saat menjelma sebiji pasir
yang jatuh di dasar palung

kau tahu, aku selamanya menjelma karang
menanti ombak, menanti badai
menanti mereka yang selalu kabari hikayatmu.

O. Mawar Hitam
O..Anggur Kekasih.

aku tetap karang yang batu
menyulam diri dalam desah terumbu waktu.

kisah perantaumu yang menjejak di tapak Attar
menangkap lirikan burung Srimuraq, adalah nun
yang tak terperi, bagiku.

...

di sini setia
hingga waktu bertukar kisah denganmu
tentang ombak yang ramai
dan palung-palung yang sunyi




tidak ada maksud untuk membuat sedih,namun jujur hanya ingin berbagi untuk apa yang pernah dan akan kita rasakan...,
dan hanya ingin berbagi dengan harapan dapat mengerti lalu tersenyum kembali ^_^

Salam Arif Wicaksono/Benang Kusut..........

Do'a Setengah Dewa



Ya Allah, kalau ia adalah calonku mudahkanlah,
Jika jauh, dekatkanlah
Jika dekat, satukanlah
Kalau bukan? Ayolah.. Fulanah ya Rabb..
Bagaimanapun.. Fulanah
Sekali Fulanah tetap Fulanah!
Fulanah atau mati!
Fulanah..! Fulanah..! Fulanah..! (Baca dengan semangat 45 )

Sahabatku,
berapa banyak diantara kita yang kadang berdo'a setengah memaksa
berharap setengah mengancam
berserah walau hati tak berpasrah

Saat do'a tak kunjung dikabulkan
saat realitas jauh dari idealitas
kita seakan ingin menyaingi kehendak Allah
mendahului takdir Allah
kurang percaya dengan qodo dan qodar Allah
Nauzdzubillah mindzalik

Belajarlah dari akhlak para nabi,
Ibrahim yang puluhan tahun memohon diberikan keturunan, tak kunjung satupun diberi
Namun do'a dan ikhtiar terus dilakukan
itulah keimanan, maka Ismail anak yang Soleh dihadiahkan

Telisik juga bagaimana Musa dan kaumnya tak pernah meragukan pertolongan Tuhannya
saat harus memilih masuk ke dalam samudra atau dibantai habis prajurit Fir'aun

Namun inilah uniknya kepasrahan
keyakinan dan kesungguhan dalam bertawakal kepada Allah
tak ada keraguan sedikitpun akan janji dan pertolonganNya
Maka, tepat saat tawakal berada di titik puncaknya
saat akal sehat tak bisa lagi mengelak
saat ikhtiar tak lagi dapat menakar
Di saat itulah pertolongan Allah seringkali berwujud
dengan rizki dari arah yang tiada diduga
dengan jodoh yang tak pernah disangka-sangka
dengan kemudahan setelah kesulitan

Pak Ary Ginanjar, cermat sekali mengatakan hal ini dengan Zero Mind Proccess, sebuah bentuk ketundukan dan kepasrahan yang menzerokan diri dan mengesakan Allah. Apa yang terjadi? saat Sekolah Dasar kita belajar, 1/0 = tak terhingga. Ya, akan ada pertolongan Allah yang melimpah dan tercurah, ada solusi setelah krisis yang sering tidak kita sadari dari mana munculnya.

Bergetar hati ini, saat menghayati kembali sirah Nabi akhir zaman,
yang disaat kecamuk perang, dan kekalalahan kaum Muslimin semakin terasa mendekat,
di atas kuda perang dan baju besi yang dipakai,
Sang Nabi berdo'a penuh harap dan keyakinan, namun bukan untuk memaksakan kehendak,
"Ya Allah, kalau Kau tidak memenangkan Kami pada peperangan ini, Maka siapa lagi yang akan mendakwahkan Islam. Maka tolonglah kami ya Rabb".
Kata yang jauh dari kepentingan dunia sesaat
kemenangan yang bukan untuk mendapatkan kekuasaan
namun karena kemuliaan perjuangan
atas nama keyakinan

Biidznillah, Allah menangkan kaum muslimin dalam peperangan itu
walau mungkin akal merasa kemenangan tak mungkin lagi
walau alasan untuk kalah itu lebih banyak
namun itulah kekuasaan Allah,
Keajaiban di atas Keajaiban. Cahaya di atas Cahaya!
yang jika Ia telah mengehendaki sesuatu, hanya berkata, "Kun!" "Jadil!"... Maka "Fayakun!" "Terjadilah"

Sahabatku jangan takut dengan apapun dalam hidup ini,
jika semuanya kita sandarkan dengan keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah
bahu membahu kita susun barisan mengejar ridhoNya
karena kekayaan bukanlah tujuan, popularitas bukan prioritas
namun keberkahan usia dan kebermanfaatan di jalanNya
itulah yang membuat kita hidup dalam kebahagiaan

dan saat kita menutup usia,
tersenyumlah, karena Allah ridho dengan perjuangan yang Anda, saya dan kita lakukan
Karena manusia telah banyak mencicipi manisnya kebermanfaatan..
Hidup hanya sekali, berjuanglah sampai tetes darah penghabisan.

dalam semangat Hari Guru!
www.setiatraining.com

Sabtu, 20 November 2010

Mencintai Penanda Dosa (Tulisan Salim A.Fillah)



“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Copyright By :
-salim a. fillah, http://salimafillah.com/-

***

NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya.

Senin, 15 November 2010

Dan Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya


Ketika Al-Musthafa berada dihadapan Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala, Tahukah kalian apa yang terjelma? Cinta! (Abu Bakar ra)

Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam "Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri". Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama.

"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang menjawabnya.

"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?"

"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya"

"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.

"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.

Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad.

"Assalamu’alaikum ya utusan Allah" dengan takzim malaikat memberi salam.

"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus dingin.

"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali"

"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?"

"Ia ku tinggal di atas langit dunia".

Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah.

"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta Al-Musthafa.

Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu".

"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.

"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti".

"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.

Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, "Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.

"Apakah engkau membenciku Jibril"

"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu.

Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan "Ummatku… Ummatku….". Dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.

Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.

Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.

Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi:

Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera, Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia, Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir

Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh. Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta.

Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi.

Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih ‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, "Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit.

Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis.

***

Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu:

Engkau adalah ke dua biji mata ini Dengan kepergianmu yang anggun, Aku seketika menjelma menjadi seorang buta Yang tak perkasa lagi melihat cahaya Siapapun yang ingin mati mengikutimu Biarlah ia pergi menemui ajalnya, Dan Aku, Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu

Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka. Adakah sahabat???

Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.

Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan. Mari Sahabat!

sumber : eramuslim

Jumat, 12 November 2010

In the Name of Allah


In the name of Allah we are born
In His name we live
and in His name we die

Our shadows prostrate to their Creator morning and evening
without our consent
Birds and animals usher in the times of prayer

Birds circumambulate the Ka'ba
while migrating birds stretch forth their wings
finding their way by Allah's Mercy

Only to feel unrest and leave once more
ever-searching, 
traveling discontent until they die

We, also wander
some blindly
while others see