Jumat, 30 Desember 2011

Senyum Perbedaan

(Disusun dari penggal-penggal kata buku Dalam Dekapan Ukhuwah)


“Ruh-ruh itu bagai pasukan yang dibariskan,
Jika mereka saling mengenal, maka bersepakatlah mereka.
Jika mereka saling merasa asing, berselisihlah mereka.”
HR. Bukhari

            Ada satu penanda penting yang menjadi nilai agung soal ruh-ruh yang diakrabkan iman. Mereka saling menghargai perbedaan. Mereka saling menghormati satu sama lain. Bagaimanapun merasa diri paling baik adalah tanah paling gersang dan lahan paling tandus bagi pohon iman kita, ungkap Salim A. Fillah mengibaratkan. Seiring itu, benih persaudaraan hampir mustahil bisa tumbuh disana. Merasa diri lebih baik dibanding yang lain adalah penghalang terbesar dalam menjalin hubungan baik dengan sesama.
            Bahkan yang mengerikan, seperti ditulis Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az-Zuhd, “Kami dahulu sepakat dan meyakini,” ujar beliau, “Seseorang yang menghina dan meremehkan sesosok mukmin sebab suatu dosa, sungguh takkan datang padanya kematian sebelum dia jatuh kedalam kemaksiatan dan dosa yang sama.”
            Ya. Maka tidak ada tempat untuk kesombongan dalam menyikapi perbedaan. Begitupula dalam menyampaikan kebaikan, menjadi pembawa kebenaran tak boleh hanya memedulikan soal mengatakan yang benar. Dia harus penuh perhatian untuk mengatakan yang benar, dengan cara yang indah, di saat yang paling tepat.
            Hikmah, inilah yang perlu kita pahami.
            Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi. Setiap manusia adalah tetap dirinya sendiri. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
            Berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin ummat. Tetapi jangan membebaninya dengan cara membandingkan dia terus menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz. Berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Berilah nasehat pada saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai Bahasa Ibrani dalam empat belas hari.
            Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat menjadi tokoh lain pada masa yang berbeda.
            Segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan dengan menuntut orang lain untuk berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, atau ‘Ali. Fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih, dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
            Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya, dan masing-masing kaki memiliki sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menajdi ikutan sepanjang masa.
Ya. Jika hujjah telah bertemu hujjah, tak boleh lagi ada hujat. Yang boleh ada ialah saling peluk mesra. Mereka para ruh yang diakrabkan iman saling memuji dengan tulus betapapun berlainannya pikiran dan pandangan.
“Kita saling bekerjasama, “ ujar Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, “Dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan kita saling menghormati, dalam hal-hal yang kita perselisihkan.”
Begitulah ruh-ruh yang diakrabkan iman...
+ + +

www.AzureAzalea.blogspot.com

Tetaplah begitu



Tetaplah begitu

berbaris pada
kelopak yang dermagai gerimis

juga dilembah yang melengkung
hangat pada pipi ku
yang tak pernah putih.

Tetaplah begitu

dengan segumpal kebeningan.

Biar aku mengaca dan terus mengaca

Tetaplah begitu

Setia menggantung namamu
disetiap doaku.

:-)


***



_Rafiqah Ulfah Masbah_

Dan kita masih akan berjumpa



Kita pernah  terceritera dalam sesederhananya kebersamaan yang sahaja
dilarik-larik senyuman yang rekah tanpa banyak suara
Akan tanggal.
dan kita tak pernah habis sia-sia
hanya sejenak merasakan
Tiada
Ada
dalam mengada

Meski harus berserah tangan tanpa jabat
kita masih akan berjumpa
dalam sekering-keringnya tinta
pada judul dimana kita mulai mengeja

Sederhananya,
Bacalah.
dengan lamat atau sekantuk-kantuk-nya mata
untuk menerima bungkusan rahasia
sebelum tanggal, tanggal

Ditempat dimana aku ditendang.
Kalian masih ada.
Dan kita masih akan berjumpa.
Bukan dalam kata keramat
Tapi pada titik terakhir yang simpulkan tempat kita
mengada.

(Disampul detik menyambut geram dunia. Ini pilihan)


_Rafiqah Ulfah Masbah_
www.AzureAzalea.blogspot.com

Rabu, 28 Desember 2011

Untitled



pernah aku mengancam

se
ka
li

*

pada
...
Mata
hari
Bu
Lan
Ma
Lam
Si
Ang

AAMIIN-kan doaku!!
sekali saja.

Sa---bit---hi-----d------u---p..
0
....0
...........0

Bulan Siang



Dan ini masih pagi
Ketika seseruput teh memanggang matahari
Dan ini masih siang
yang menggantung
bulan pada jaring-jaring mendung
Ini masih sore yang terlalu cepat.
Sementara pada pagi engkau
menjadi senja yang akan
tekur pada gelap
Malam tak meresap panas, tapi selalu menerus terang
Kita seringkalinya terbelalak di pagi kedua sampai 384.
Nganga
Serupa purnama lansia.


***


_Rafiqah Ulfah Masbah_

Jumat, 23 Desember 2011

Tentang Kenang Kunang-kunang



Tubuhku tergetar berkali-kali.
dengan kelopak berat yang tak juga mau berkompromi...
Sebelah kaki tegak menopang payah.
Sore ini...
Aku menemui takdir.

FLP.
Bukan tentang pena yang kalian semua angkat.
Tapi kali ini hanya tentang aku saja.
tentang bintang yang kujamah sisi-sisinya..
hingga aku paham.
Merekam cahaya.

"ah, penulis itu entah kenapa selalu lebay." kesahmu.

"hanya potret hatimu."
sanggahku.

Sepanjang hari dengan senyum diantra sekian liter muntahan angkasa.
juga basah yang tegaskn ngilu.
Pun
keluh yang menekur dari mulut-mulut mereka yang ingnkan pena sebagai kawan hidup.
Ah!!

Lagi-lagi hari ini habis dengan tawa.

Menertawakan semua yang bisa ditertawakan.
Meskipun tak layak.
Hanya karena dari sedikit kegilaan,
inspirasiku menari girang.

Dan aku yang terbata dan akrab dengan jari,
hari ini banyak suara.
Gila.
Jelas tak tahu tempat.

Tapi aku suka.
Katakan satu kali saja.
"Aku Gila".
Lama sudah ingin kudengar.

Kata banyak orang besar yang kucatat hari-hari.
"sukses itu tak diraih dari sekumpulan kewarasan".

Lampu dimatikan.
1:50 dini hari.

Bak panti ungsian bencana.
Aku brsandar & menatap satu-satu tubuh-tubuh telentang.
dengan satu cahaya handphone ini saja
hanya dua patah kalimat untukmu, sayang..
***
Doaku sederhana.
Semoga doa kalian dikabulkan.*
***
salam kunang-kunang



-Rafiqah Ulfah Masbah-
@Pucak, Maros


*Catatan Mahasiswa Biasa, Fitrawan Umar

Kamis, 22 Desember 2011

Bukan Sesuatu selainnya!



Bukan sesuatu selainnya.
Engkau bernama CINTA.

Bukan sesuatu seperti Selamat
atau ungakapan.
Hanya sesuatu
sepertimu juga.
CINTA..

*yang tak pernah tuntas & berbalas*

B-----
-U----
--N---
---D--
----A-

***
_Rafiqah Ulfah Masbah_

Hanya ada bait ini untuk hari ini!

 

CINTAI IBU TIAP HARI!
Beliau tidak butuh kata Selamat.
Juga tangis untuk sekali dalam setahunnya.
Hanya BUKTI!
BAKTI!
Ya.
Bukan hanya kata selamat di hari ini.
Tapi Cintamu yang Mengabadi..
Itu saja.

Tidakkah kau paham!!!??


_Rafiqah Ulfah Masbah_

Selasa, 13 Desember 2011

Sebuah Kisah yang Lahir dari Hujan




November ’95.
Siang ini padam. Matahari menutup wajah. Langit menumpah-numpahkan airnya tanpa peduli rengekan burung-burung. Jalan-jalan yang menjadi saksi beribu langkah yang entah kemana mengarah mulai tergenang. Sedikit-sedikit lengang. Hanya ada wajah-wajah penuh harap agar pemandangan tak lagi kabut. Ya, hujan selalu penuh prahara. Orang-orang memanggilnya tak bersahabat. Tapi untuk seseorang yang menemaniku ditengah jarum-jarum angkasa ini, Hujan adalah musim kesayangan.
            “Siapa namamu dik?” Sambil melompati kubangan air, aku bertanya basa-basi dengan anak laki-laki yang berdiri memayungiku sedari tadi. Masih sangat kecil. Kurasa mungkin usianya barulah 5 atau 6  tahun.
            “Kenalkan kak,” Ia meraih tanganku dengan sigap tanpa sempat kucegah, “Nama saya Ihsan. Muhammad Ihsan.” katanya dengan antusias yang menyala. Ada gelora dikilas mata anak ini. Sebuah pahatan ekspresi yang ikut menyesaki dadaku dengan semangat.
            “Namanya bagus. Kalau kakak boleh tahu, umur Ihsan berapa? Trus disini tinggal sama orang tua?”
            “Umur Ihsan masih enam tahun..” Dugaanku tepat. “Dan iya. Ihsan tinggal sama orang tua.”lanjutnya.
            “Ibu dan bapak sehari-hari bekerja apa dik?”
            “Jualan makanan kak..” Ia tersenyum.
            “Ihsan sudah sekolah?” tanyaku lagi.
            “Belum kak. Ini, sekarang masih kumpul-kumpul, kalau uangnya sudah cukup, Ihsan mau daftar sekolah tahun depan.”  jawabnya dengan raut muka yang sumringah. Meski basah harus lengket dikulitnya. Ia masih terus mengikutiku.
            “MasyaAllah.” Lidahku bergerak refleks. Mataku takjub.
            “Kata Ayah, laki-laki harus lebih besar dari dunia ini kak. Ihsan sih memang masih kecil. Masih enam tahun. Tapi kalau usia Ihsan sudah enam puluh, Ihsan harus sudah lebih besar dari Pak Presiden. Hehehe...” Ia tertawa. Bahunya yang kecil bergerak naik turun. Aku ikut tertawa. Dibawah ganas hujan ini tak ada bahkan segaris pun gambaran kesedihan diwajahnya.
           
            Sudah sampai, aku menepi di bawah gedung bertingkat tiga FKM UNHAS. Pelataran sudah sepi. Aku terlambat. Hm, Aku sempat mendesah dalam hati sampai kulihat Ihsan memperhatikan wajahku dengan ekspresi bingung. Segera kurogoh uang dari tas cokelat kesayanganku ini. Uang-uangku berceceran didalam sana. Tak lagi sempat berbaris rapi di dompet.
            “Ini dek.” Aku menyodorkan 10 lembar uang 5000 pada bocah itu sambil tersenyum.
            “Wah banyak sekali kak yang dikeluarkan.” protesnya sambil tertawa.
            “Tidak apa-apa, buat kamu saja semuanya.”
            “Sebanyak ini? Jangan kak. Ihsan tidak bisa terima.”  ucapnya kesah.
            “Sudah, San. Anggap saja sedekah dari kakak. Kalau ditolak kakak tersinggung berat.” Aku masih tersenyum.
            Ia menduduk. Matanya jelas melukiskan keengganan. Tapi akhirnya ia mengambil uang ditanganku dengan sedikit ragu. Anehnya, ia tiba-tiba berjalan pelan menghampiri seseorang. Aku mengernyit dahi.
            “Ini Bu, buat Ibu yah. Ini sedekah dari kakak yang ada disana.” Ihsan berbalik dan menunjukku.
            “Makasih banyak Nak. Makasih.” Aku hafal. Itu Ibu tua yang sering memulung disini. Ia menyalami tangan Ihsan dengan begitu gembira, matanya kaca.
            Lama aku menatap Ihsan. Menagih.
            “Loh. Kok uangnya malah dikasih?” tanyaku heran dan sedikit tersinggung.
            “Maaf kak. Ibu Ihsan mengajarkan Ihsan untuk mendapatkan uang dari usaha dan jerih payah Ihsan sendiri. Kata kakak uang itu sedekah. Jadi Ihsan berikan ke ibu-ibu itu. Ihsan mau terima uang dari hasil kerja Ihsan sendiri kak. 5000 sudah cukup. Hehe. Tenang kak, kakak tetap dapat pahala kok.”
            Anak itu tertawa lagi, dan lagi-lagi tertawa. Betapa bahagianya dia. Aku berdecak tak percaya. Entah bagaimana membahasakan perasaan. Dan Ihsan berlalu pergi. Aku masih terperanga dan hampir tak ingat bahwa anak itu sudah pamit. MasyaAllah..
***

            Meski hujan telah reda, gigil masih terasa hingga tulang. Hm, Kuharap mestinya ada pelangi. Pelangi yang ceriakan siang ini. Seperti senyum kakak yang tadi. Dia baik sekali Tuhan. Semoga aku juga bisa jadi pemuda yang baik. Ah, aku bahkan belum bertanya namanya. Bagaimana mungkin aku lupa. Aku segera berbalik, berlari kecil ke tempat tadi dan berteriak dengan suara yang tidak nyaring.
            “Kakak !! Namanya siapa?”.
            Kulihat kakak yang baik itu menoleh kearahku dan melambai, ia berjalan mendekat.
            “Rain dek. Nama saya Rain.”
            Kakak itu  masih tersenyum tenang sebelum ekspresinya membuyar dan berteriak histeris.
            “Ihsan!! Awas!!” Aku belum sempat berpikir.
            Brak! Dan gelap.
***
            Aku duduk membatu didepan kamar rumah sakit. Kejadiannya terlalu cepat. Dadaku bergerak tak berarturan. Fikiranku melayang aral. Tadi hujan sempat reda, tapi sekarang membadai. Tuhan, selamatkan Ihsan. Selamatkan dia. Hanya kalimat itu yang masih tertata rapi dibenakku.
            Adzan maghrib berkumandang. Seorang pria ber-jas putih keluar dari ruang itu. Kakiku tegak tanpa diperintah. Hanya ada satu tanya.
            “Bagaimana Dok?”
            Pria paruh payah itu diam bebarapa saat. Menatapku dengan  mata menguatkan. Ya. Sudah jelas. Tapi aku tetap menunggu jawaban.
            “Maaf.”
            O Tuhan, Kurasa aku sudah tahu jawbannya. Jantungku nyaris lepas. Hatiku mendidih. Mataku gelap. Aku menghambur keluar rumah sakit. Tak ada lagi dayaku tuk menatap wajah Ihsan terakhir kali. Ku dengar dokter memanggil-manggil dari belakang. Tak kuhirau. Aku terus berlari. Mata ini bahkan tak lagi bisa berair. Mendadak kakiku lemas. Dan semua hitam.



***
            Desember 2011.
Di Perjalanan, aku terbiasa menyapa dan mengajak bicara siapa saja yang berdiri atau duduk didekatku. Tergantung mereka merasa nyaman atau tidak selanjutnya. Hari ini, yang duduk disampingku dalam penerbangan Jakarta-Singapura tampak tak biasa. Seorang ibu. Sudah cukup sepuh dengan keriput wajah mulai menggayut. Dalam pandangku, beliau agak kumal. Tenaga kerjakah? Setua ini?
Tetapi begitu aku menyapa, si ibu tersenyum lepas. Sekilas, semburat cahaya kebijaksanaan terlukis dari garis-garis ketuaan diwajahnya.
“Mau kemana bu?” tanyaku sambil tersenyum ta’zhim.
“Singapura nak,” jawab beliau bersahaja.
“Akan bekerja atau...”
“Bukan Nak. Anak pertama Ibu bekerja sebagai dosen disana.”
Ah, aku menyesal sudah bertanya demikian.
“Ibu mau nengok cucu. Anak Ibu baru saja melahirkan.” lanjut beliau.
“MasyaAllah. Sungguh bahagia menjadi ibu dari anak yang sukses.” Aku mengerjap mata.
Beliau  hanya mengangguk dan berucap “Alhamdulillah.”
“Oh iya, kalau adik-adiknya, Bu?”
Si Ibu menundukkan kepala. Beliau menghela nafas panjang.
“Anak Ibu Cuma dua Nak. Yang kedua laki-laki. Sekarang masih sementara kuliah S2 di Makassar.” Jawabnya menggantung.
 “Ada apa Bu?” Aku bertanya dengan wajah penuh bingung. Apa ada yang salah?
“Entah kenapa anak Ibu yang satu itu selalu bertingkah aneh Nak.”Suaranya mulai bergetar.
“Dia sangat obsesif untuk kuliah disana. Bahkan semua beasiswa keluar negeri ditolaknya. Tapi bukan itu. Ada sebuah nama yang selalu dia sebutkan. Katanya dia harus bertemu orang itu. Sampai kapanpun dia tidak akan meninggalkan kota itu sebelum bertemu dan berterimakasih. Ibu tidak tahu siapa dia, Nak. Tadinya Ibu fikir mungkin anak Ibu ada gangguang kejiwaan atau semacam itu. Tapi kata Dokter dia normal. Ibu sungguh tidak mengerti hingga detik ini. Anak Ibu menyebut orang itu dengan nama Rainbow.”
Aku menelan ludah. Darahku melonjak. Rainbow?. Nama Itu... Apa mungkin?. Kupaksakan diri untuk bertanya.
“Si.. Siapa nama anak Ibu??” tanyaku dengan bibir gemetar.
            Beliau menatapku datar.
“Ihsan Nak. Muhammad Ihsan.”


 ***

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Kamis, 08 Desember 2011

Tempatku Bercerita (Rumah Ayah)



Tanah ini tak berubah,
masih dijejeri ratusan nisan bertuliskan nama-nama.
Kuparkirkan motor tepat disisi jalan.
Burung-burung sejak tadi berkicau.
Angin berhembus tenang,
mengajak menari puluhan pohon asam disekeliling,
membawa lari satu-satu daun kering,
berjatuhan di atas kepalaku dan menyentuh pipiku dengan lembut.
Seperti sebuah sambutan...
Ini juga akan menjadi tempatku pulang.

Aku duduk ditempat yang sama
pada pekan-pekan aku menengokmu dengan rasa yang sama.
Berolehkan cerita-cerita yang berbeda
membawa wajah-wajah yang tak kau temui mungkin sebelumnya.
Jika bisa kukatakan,
ini adalah tempat yang paling kusukai didunia.

Ayah...
Pusaramu basah.
Kutahu belakangan ini hujan selalu turun di tanah kita.
aku biasa merasa dingin.
Kadang ditengah malam pun menggigil.
Dan rasa macam apa yang kau temui tiap hari?
Adakah juga ikut menangis, atau tetap tersenyum bersama matahari dibalik onggokan awan tebal?.
Sungguh aku tak tahu Ayah.
Engkau pernah berada di duniaku,
tapi aku belum pernah menziarahi duniamu.
Aku hanya mengerti satu hal,
kelak, aku juga akan pulang..
Entah kapan.
Namaku juga akan berdiri tegak,
Rafiqah Ulfah Masbah
lahir : 17 januari 1993
wafat : ........

Masih tanda tanya, Yah.
Allah tak pernah memberitahu kita kapan waktunya.

Dan itulah mengapa aku ingin menangis setiap kali.
Kadang pekuburan ini tak lebih kotor dari jiwa anakmu ini,
kadang banyak rasa membadai disini.

Sungguh, Yah.
Aku sungguh tak meminta Izrail pergi jauh-jauh.
Hanya ada dua hal yg selalu menggelisahkanku..
Jika waktuku datang..
(1)
bagaimana keadaan hatiku?
(2)
sudahkan aku berjalan dijalan yang benar semasa hidup?


Dan itu pertanyaan yang tak pernah berkesudahan, Yah.
Hari ini kembali dilema.

Ayah masih hafal wajah Bunda?
Ayah tentu hafal.
Itu adalah wajah yang begitu kau cinta.
Sebuah pahatan yang selalu menawan.
Disana ada mata yang berlambang kasih sayang,
ada lukisan senyum yang damaikan jiwa.
Sebuah guratan yang selalu indahkan, Yah?
Tentu saja. :-)
tak akan pernah ada yang rela menghadiahi mata itu embun.
Ayah, begitupun aku,
tentu tak pernah sudi memahat kecewa di wajah itu.

D
I
L
E
M
A


hari ini mesti kutumpahkan lagi air matanya.
Bukan untuk menyakiti,
tapi jalan ini terlalu terjal.
Anakmu ini semakin hari semakin memangku berat usia.
Dan ia harus terus berjalan.
Berjalan dengan benar.
Akhirnya pun aku harus berterus terang,
bahwa mungkin harus kuambil jalan lain,
yang tanahnya tak subur,
penuh dengan musim rusak.

Tentu saja ia akan menangis Ayah.
Tak rela anaknya disentuh kebengisan.
Tapi begitu aku harus hidup.
Tak boleh selalu tersenyum..
Aku paham, Yah.
Tapi bagaimana harus kukatakan padanya?


Aku selalu meleleh dihadapan wajah itu..

Yaaa....
Dunia ini memang bertabur pilihan besar..

Tapi apakah aku benar untuk yang satu ini, Yah?

Jika anakmu ingin hidup pada pilihannya,
pada cita-citanya...??
Tak sama dengan jalan orang kebanyakan


aku hanya ingin hidup sebagai seseorang.
Diatas restu Tuhan,
diatas restu kalian berdua.

Aku hanya ingin hidup dengan benar,
dan tersenyum kemudian,
meski berbaring dihimpit tanah..
Nisanku bisa kugambar senyum..
Seperti yang selalu kubuat...


Ah..
Sore ini mendung lagi..
Semoga badai ini segera berakhir...


Aku pulang dulu, Yah..
Aku belum makan siang,
dan bunda pasti baru pulang dari sekolah.
Mungkin lelah..
Aku harus kembali membantunya...

Esok,
atau lusa,
dan seperti pekan-pekan sebelumnya,
aku akan datang lagi Ayah..
Masih dengan motor Jupiter hitamku.
Atau mungkin keranda hijau.

:-)
hmm..
tak tahu.
Tapi biar kukatakan lagi...
Aku selalu merindukan Ayah..
Dan selalu cinta...

Wassalamu alaikum... :-)

Minggu, 04 Desember 2011

Membangun Peradaban Tinggi dari ujung Jemari


 oleh : Rafiqah Ulfah Masbah


        Adagium Latin ini tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. Menulis sebelum ini memang merupakan sesuatu yang tidak akrab dengan diri ini, hingga saya sadar dan berpikir, sudah cukupkah hanya dengan membaca, hanya dengan mendengarkan, hanya dengan merasa?.  Kemana hendaknya menyimpan rekam ilmu dari pelatihan-pelatihan yang saya ikuti, buku-buku yang saya baca, atau berita yang saya dengar, juga candaan sambil lalu yang penuh dengan makna. Apakah sekadar tuk tinggal menjadi bunga di akal fikiran saya saja, atau cukup bersemayam dijiwa untuk saya rasa?. Saya mengerti selanjutnya, Menulis adalah bagian dari upaya mengikat jejak pemahaman. Demikianlah kita fahami kalimat indah imam Asy-Syafi’i ini; Ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.
            Pena. Makhluk pertama yang diciptakan. Bahasa. Ilmu pertama yang yang diajarkan. Baca!. Ayat pertama yang diturunkan. Kita mafhum akhirnya bahwa menulis juga merupakan tugas dari iman. Hari ini jika kita mengabdikan diri sebagai seorang manusia yang hidup tuk saling memperbaiki satu sama lain, Menulis adalah salah satu cara kita berdialog kepada semua penduduk dunia bahkan yang tak kita kenal rupa dan nama.Mereka adalah saudara-saudara yang bisa diajak saling sapa, dan membagi nasehat-nasehat sederhana, meski tak pernah berjumpa.
            Setiap kata yang lahir dari hati, baik itu terungkap melalui lidah ataupun jari juga akan sampai ke hati. Kata itu menggugah tergantung bagaimana ia ditempatkan.Ia bisa menjelma bait kebaikan juga lagu keburukan. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat jariyah, kata Salim A. Fillah, melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. Karena karya yang tercatat bisa terus terbaca sepanjang zaman meski raga tak lagi di dunia.
            Kita tentu hanya berharap menjadi pemilik pena yang bijak. Yang dari jarinya mengalir kesantunan dan kearifan, melantun irama kebaikan, mengisi dunia dengan warna berbeda, hingga tanpa  kita sadar, mungkin saja kertas usang  berisi tulisan yang acap kali kita anggap tak berkualitas kemudian terserak-serak dapat menjadi awal, awal bagi penggugah perubahan besar.Dan semua itu menambah ketinggian nilai diri kita dipenghisaban alam akhirat.
            “Sejarah Islam ditulis dengan hitamnya tinta ulama dan merah darahnya para syuhada”(Abdullah Azzam). Maka Islam menjelma peradaban imiah dengan pena sebagai pilarnya dan perjuangan yang mengokohkan.Peradaban maju yang kita nikmati saat ini hanyalah implikasi ditemukanya kemampuan membaca dan menulis. Kemajuan ilmu pengetahuan selalu di awali dengan proses,dan proses itu akan hidup jika budaya literasi dilakukan. Semua ini menunjukkan betapa menulis adalah nafas bagi sebuah peradaban manusia.
Jika sebuah bacaan cukup membuka jendela wawasan, jika sebuah bacaan cukup menjadi pengetuk kebodohan. Jika membaca bisa menjembatani kebaikan. Menulislah untuk membaca, dan membacalah untuk menulis. Agar kita tahu, kita sedang menggandeng kata dakwah, sebuah upaya timbal balik tuk jadi lebih baik dan membaikkan. Kita hanya seorang pembelajar yang coba membagi sedikit nilai yang kita temukan dari lorong-lorong sempit hidup ini. Hanya belajar. Hanya sedikit. Hanya menulis.
Akhirnya hanya sebuah kalimat ajakan inilah yang selalu bisa saya tebarkan, Mari membangun peradaban tinggi dari ujung jemari.

Sabtu, 03 Desember 2011

Hati Kami Sungguh Terlalu


Kami disni mencoba untuk mengerti
merenda empati dan simpati
ketika derita melanda dan mendera
aku mencoba menyelami keluhanmu
tapi, sia-sia !

Deritamu jadi tontonan dan suguhan
di televisi, di radio, di koran-koran
di warung-warung, di Hotel, di ruang tunggu
semua berbicara tentang kamu !
Jadi ulasan para ilmuwan
kajian para calon sarjana
kami semua bicara tentang derita
bicara bicara bicara, kemudian lupa
masing-masing kami, asyik sendiri
disera waktu dan kebutuhan

Disela-sela keacuhan yang kian angkuh
diantara diskusi dan seminar
darahmu terus berceceran
salju tak lagi berwarna putih
simponi biola melagukan rasa haru yang pilu

Sungguh, setiap saat terlihat deritamu
terusir, ternista, ternoda
tapi kami disini - asyik sendiri
merenda mimpi, memuja nikmat
masing-masing kami, merasa terasing
dan egoisme menjadi agama baru yang lagi laku
memang, kami-kami disini sungguh terlalu
hati kami beku membatu
jiwa kami jelaga hitam
Memang sesekali bicara
tapi, kemudian lupa !

Jumat, 02 Desember 2011

Mengalirkan Bening




Tidak selamanya setiap apa yang kita lihat, dengar, rasakan dan ketahui bisa mudah dipanggil. Karena manusia miliki fitrah.
Lupa.
Tak selamanya manusia punyai lidah setajam hari ini untuk sampaikan kalam ilahi.
Tak selamanya manusia hidup di dunia ini tuk membagi  ilmu meski  itu sedikit.
Sungguh nasehat menasehati adalah suatu air yang selalu bening.
Namun manusia adalah besi yang karat dibawa musim.
Dan jika air adalah sumber hidup manusia.
Maka mungkin mesti ada yang terus mengalirkannya, meski itu bukan lagi suara kita.

Ya. Sekiranya suatu nasehat begitu menyentuh dan mengubah.
Maka buku adalah nasehat yang terekam dan bisa dibuka setiap saat.

Maka kenapa aku ingin jadi penulis.
Karena ingin kusapa semua saudaraku di lintas zaman.
Mungkin mendongengkan sebelum tidurnya, menyemangati disaat lelahnya, menghibur ditengah kebosanannya.
Ya. Saling berbagi kebijaksanaan..
Dan bertukar cerita tentang realitas duniaku hari ini.
Mungkin disana tak lebih baik.
Tapi akhirnya kita sama-sama belajar. Selalu ada yang sama. Dan ada yang berputar bergantian.

Ah, sungguh menulis bukanlah unjuk kecerdasan..
Tapi hanya cara saling bermesra..
Mengukir pelangi dari beningnya air,
Saat matahari esok hari makin panas mendidih.


_Rafiqah Ulfah Masbah_

Kamis, 01 Desember 2011

Kembali Mengeja Hati



"Kenapa Engkau ingin menjadi penulis?
sebuah tanya.
tapi tidak. Bagiku itu gertakan.

Setiap disodori kalimat diatas.
Ingin kujawab dengan jawaban yang begitu cerdas.

Tapi aku balik menatap hati.
Sungguh jawaban macam apakah yang benar ada dan kupelihara.
Ah, benarkah aku menulis untuk Allah?
Ah, iyakah ini benar-benar dakwah?
Sungguhkah aku abdikan tulisan ini untuk menebar manfaat?

Ataukah...
hanya sebuah upaya mengokohkan eksistensi pribadi?
Ataukah..
hanya onggokan kata yang isyaratkan angkuhku?
Topeng yang menipu?
Indah namun tak menggerakkan.

Ah.. aku diam kali ini.
Aku merapat ke sebuah sajadah
meraih kitab yang terabadikan

"Allah..
Aku sungguh hanya ingin menulis firman ini..
Cukupkan aku sebatas menjadi bingkai
Agar mereka mentakjubi.
Bukan aku.
Tapi namaMu.
dan betah mendekat. selalu merapat.

Ya
Cukupkan aku
hanya dengan namaMu
bukan aku
bukan dengan pena kesombonganku.



_Rafiqah Ulfah Masbah_

Jumat, 25 November 2011

Beliau tidak sekedar Guru, (beliau adalah Nuur Tuhan Yang Agung)



Aku tidak mengetahui nama lengkapnya. Dan memang tidak pernah tahu dan menghafalkannya. Aku hanya tak pernah melupakan, meski itu hanya sebuah nama panggilan. Pak SAID. Ya. Begitu beliau dipanggil. Seorang guru agama saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Beliau tidak hanya sekedar Guru bagiku. Tapi cahaya Allah yang bersinar terang di masa-masa itu, Masa kecilku yang sangat labil terhadap segala sesuatu.
Dulu. Aku adalah anak perempuan yang pemalu, sangat tak percaya diri, minderan, dan sangat sensitif. Sensitif. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis. mudah tersinggunglah pokoknya. Itulah mengapa teman-teman senang menjadikanku objek sindiran. Meski aku cukup betah menempati peringkat yang baik dikelas, aku hanyalah seorang anak perempuan yang tidak tahu bagaimana menghadapi seorang teman, atau bagaimana seharusnya mengangkat wajah pada dunia. ^_^ Ya. Itu dulu. Sampai beliau mengajarku. Semua berubah. Berubah tanpa kurasa.
“Anak-anak, semua sudah bisa baca Qur’an belum?” tanya beliau dengan wajah yang penuh sinar hari itu. Seluruh kelas berteriak-teriak. Ada yang bersanding kata tidak, ada pula yang iya. Dan aku hanya diam. Seperti biasanya, aku terlalu malu.
  Dengan bekal sebuah mushaf di tangan, Pak Said menghampiri kami satu per satu. Menunjukkan ayat-ayat tertentu untuk kami baca. Dan tibalah beliau dihadapanku. Tepat dihadapanku, menyodorkan mushaf tersebut.
“Nah, sekarang giliranmu Nak. Siapa namanya?” tanya beliau dengan senyum khas yang tak pernah akan kulupakan.
“Fiqah pak.” jawabku singkat sambil menunduk.
“Coba baca ini.” Beliau mengisyratkan aku membaca sebuah surah di jus 30.
Sungguh aku sangat tak percaya diri. Sangat tak percaya diri. Aku mulai membaca basmalah. Aku urung mendahuluinya dengan ta’udz, karena teman-temanku yang lain tidak melakukannya. Aku tak ingin dikatai sok.begitulah fikiran bodohku.
Pak Said mengisyaratkan seluruh kelas untuk diam. Ayat-ayat itu mengalun pelan dari lidahku. Pelan sekali. Dengan suara yang terbata karena begitu gugupnya. Dan, selesai!. Pak Said menatapku dalam dan berucap mantap.
“Ini yang saya cari. Bagus Nak. Kamu pandai!.”
Kawan. Aku tak akan melupakan ekspresi wajahnya saat mengatakan itu. Kata-kata itu seperti cahaya. Cahaya yang yang buatku akhirnya sudi menatap dunia. Sebuah kalimat kecil. Tapi sejak saat itu. Semuanya berubah. Drastis!
Pak Said akhirnya selalu mempercayakanku mengikuti perlombaan-perlombaan Islami antar sekolah. Mulai dari tahfidz, Tilawatil Qur’an, dll. Aku sedikit-sedikit mulai temukan apa yang orang-orang sebut Kepercayaan diri.
Hari-hari di Sekolah Dasar berlalu sangat cepat, aku semakin bersemangat saja memperbanyak pengalaman dengan lomba-lomba yang ada. Tingkat mesjid, kelurahan, alhamdulillah. Menyenangkan. :-)
***
Kelas Enam SD. Tingkat akhir. Di sebuah ruang kepala Sekolah SD Inpres Tamalanrea V. Hari itu penerimaan Ijazah. Kulihat dari luar pak Said memanggilku dan menjongkok dihadapanku.
“Nak, kok nilai agamanya begini?” tanya Pak Said dengan raut kecewa tapi tetap lembut.
Aku tak kuasa menjawab apa-apa. Hanya kurasa hatiku tidak lebih baik. Mungkin jauh lebih hancur. Lebih hancur. Bukan. Bukan juga karena angka enam yang tertulis disana. Tapi lebih karena aku merasa telah mengecewakannya. Dan ah ya. Air mataku menetes. Seolah ingin kukatakan pada beliau.
“Saya tidak tahu Pak. Saya bahkan lebih kecewa.” Tapi lidahku terlanjur kaku.
            Kurasa pak Said bisa mengerti dukaku. Ia mengalihkan wajahnya dengan lebih cerah kali ini. Ia tersenyum.
“Tidak apa-apa Nak. Bukan nilai ijazah yang penting. Kalau kita shalat, kita puasa, kita belajar. Apa yang dicari?”
            “Pahala Pak.” jawabku polos.
“Jadi yang penting nilai dari Allah atau nilai dari sekolah?”
“Nilai dari Allah.” Aku tersenyum kali ini.
“Tidak apa-apa yah. Pokoknya kedepan hari Fiqah mau terus belajar. Agama itu bukan sekedar pelajaran biasa. Tapi bagian hidup kita.”
Aku sesungguhnya tidak begitu paham maksudnya ketika itu. Aku kembali hanya tersenyum kemudian menjabat taangan beliau.
Beliau mengusap kepalaku, sambil berdiri dan tak lupa mengucap kalimat terakhir,
“Fiqah tetap anak yang pandai dan baik.” Dan beliau berlalu masuk kembali ke ruang kantor.
Aku masih berdiri mematung. Mengingat-ingat kembali pesan pak Said. Tak sadar aku berjanji dalam hati akan terus belajar menjadi gadis yang sholihah. Sejak saat itu. Aku berjanji, berjanji pada diriku sendiri.
***
SMP. Entah bagaimana semuanya terbawa begitu saja. Aku sangat bersemangat dengan hal-hal yang berbau keagamaan. Tak perlu panjang paksa seperti orang tua lain kepada anak-anaknya yang membandel. Awalnya, mungkin Pak Said adalah motivasi. Lambat laun, aku semakin sadar makna dari kata-kata beliau. Agama itu adalah bagian dari hidup kita. Aku mengetahuinya sebagai jalan hidup yang orang-orang beriman pilih. Islam. Sebuah ketundukan sepenuhnya kepada Allah.Bukan karena siapa-siapa, bukan karena apa-apa. Hanya karena Ialah Zat yang Mahatinggi. Yang Mahakuasa. Tiada yang punyai hak tuk disembah selain Dia. Meski ibadah-ibadahku mungkin masih belepotan. Tapi setidaknya, aku telah menyadari Islam sebagai suatu jalan hidup mutlak. Dan aku tidak mengerti selainnya.
***
            Kelas II SMA. Seorang kawan mengajakku duduk-duduk di sebuah majelis.
            “Ikutan yuk. Pengajiannya bagus.”
            Hmm..yah. Pengajian. Itu yang kita kenal dengan istilah Liqo’at, Tarbiyah, halaqoh. Yang meski artinya satu sama lain berbeda. Tapi begitulah sebutan-sebutannya. :-)
            Hmm.. Ini satu hal berbeda. Tapi tak lepas  dari nuur-Nya. Karena jika tidak atas perkenanNya pekakan hati. Mungkin aku enggan. Tapi bisa bertahan hingga hari ini, sungguh itu semata berkat kasihNya yang agung.Ya. dari semua rangkaian yang terjadi di tahun-tahu sebelum ini.
            Tapi nilai seseorang, kemahfuman, tidak selalu berbanding lurus dengan lamanya ia menuntut ilmu. Tidak. Tidak sama sekali. Seseorang boleh jebolan pesantren. Boleh sudah tertarbiyah bertahun-tahun. Tapi hanya kitalah dan Allah SWT  yang tahu sudah menjadi apa kita.
Hari ini adalah hari guru. Setiap orang punya gurunya. Aku duduk di teras rumah dan  terkenang. Yang pertama kali. Wajah itu. Dengan dahi kehitaman dan kata-kata yang selalu sarat makna. Guruku. Nuur Tuhan yang Agung.
Entah mengapa tiba-tiba air mataku menetes. Ingin sekali rasanya aku menemui beliau sekadar bertukar kalimat salam dan menanyakan kabarnya. Ataukah bagaimana rupanya kini. Apakah rambutnya sudah semakin putih. Atau masihkan ia mengenalku. Ah. Tapi aku malu. Hari ini. Aku bahkan belum sama sekali bisa dikatakan baik. Apa yang harus kujawab jika beliau menanyakan kabar diriku?.
Tapi Tuhan. Aku hanya ingin berterima kasih. Berterima kasih. Aku hari ini. Juga cahayaMu dalam diri seorang pak Said. Beliau. Aku ingin berterima kasih padanya. Dan ingin sekali aku berjumpa. Tapi dimanakah beliau kini?.
Rabbi... Semoga Engkau gantikan semua baktinya tuk hantarkan kami, anak-anak didiknya, menjadi manusia yang penuh kasih. padaMu, pada sesama yang lain oleh Surga yang yang isinya tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak pernah terlintas di jiwa.
Ya. Setiap orang punya gurunya. Dan setiap guru punya kisahnya. Mereka adalah insan yang mengabadi di setiap nama-nama kami hari ini.
Kawan, Pak Said namanya. Beliau tidak sekedar Guru bagiku, beliau adalah Nuur Tuhan yang Agung. :-)
Barakallahu fykum..


*Rafiqah Ulfah Masbah*

Emangnya Mimpi mesti Mikir?


(Seri Akhwat-akhwat unik sekitarku)



          Aku tidak begitu mengenal akhwat yang satu ini. Aku hanya tahu, dia ADS asal Masamba Sulawesi Selatan. Dia salah satu akhwat yang cukup jarang kulihat raut kebosanan terhadap kehidupan. Segar kala menatapnya. Semangat selalu merembesi diri saat bertemu dirinya. Ya. Itu untukku. Tentu itu juga penilaian subjektifku.
          Sebutlah namanya Ina. Ina saat kutemui beberapa hari yang lalu sehabis membantu penyelenggaraan kegiatan MITI baru saja pulang dari Bali. Ina adalah salah satu dari delapan finalis di ajang "GEMA LOMBA KARYA ESAI NASIONAL 2011" yang di adakan oleh UNIVERSITAS GENESHA Bali.
          Kami berbincang sejenak disalah satu kamar Ramsis UNHAS yang ia tempati, hanya sebentar. Dan aku langsung memaksa kakiku keluar dan memijak satu demi satu anak tangga untuk sampai ke lantai tiga. Ya. Kamar salah satu teman yang juga merupakan sahabat terdekat Ina yang rencana akan kusingggahi tuk menginap.
          Singkat cerita. Sebelum terjun bebas ke alam mimpi. Aku mengucap sebuah kalimat singkat padanya sambil tersenyum, “Ina hebat yah..”
Ria nama gadis  itu kemudian balik menatapku dan tanpa kuminta menceritakan kisah unik di balik berangkatnya Ina ke Bali sebelum itu.
          “Ina itu memang hebat ukh.” Matanya menerawang, “Ia memilih keajaibannya.”
          “Maksudnya?” tanyaku penasaran.
          “Malam itu Ina coba-coba menulis.” ujar Ria, “Awalnya Cuma coba-coba. Dan malam itu juga tulisan itu selesai. Ina baca ulang dan shock sendiri membacanya, Seperti ada sebuah kegaiban menghinggapi jari-jemari Ina. Dan ia nyaris tak percaya kalau itu benar-benar tulisan yang ia buat sendiri, dengan fikirannya, dengan tangannya.”
          Ah ya, itu seperti ungkapan ‘Aku takjub pada tulisanku sendiri’, aku membatin.
          “Akhirnya, Ina juga lagi-lagi coba-coba mengirimkan karya tulis tersebut,” lanjutnya, “Dan, MasyaAllah, Mahabesar Allah, Ina lolos. Ina ke Bali. Salah satu impian besar Ina yang selalu ia utarakan kepada kami, Saya ingin suatu hari nanti menginjakkan kaki di Bali! Saya ingin suatu hari nanti menginjakkan kaki di Bali!, itu yang selalu ia ulang-ulang dengan antusias.” Mata Ria mulai mengembun.
          “Dan kau tahu ukhty, Dari diri sahabat baikku itulah aku akhirnya benar-benar percaya apa yang orang sebut Kekuatan Mimpi. Disitulah aku kemudian benar-benar membuktikan perkataannya, ‘JANGAN PERNAH TAKUT BERMIMPI ukh! JANGAN PERNAH TAKUT BERMIMPI!’. Ina selalu mengulang-ulang kalimat tersebut tuk ingatkan kami, sahabatnya yang seolah begitu enggan hidup dengan harapan besar. Ya. Ina mungkin tak sehebat apa yang ia impikan. Tapi mimpi-mimpi itulah yang menghebatkan dirinya.” Ria menatap mataku dan tersenyum. Aku balas tersenyum padanya.
          “Sudah larut ukh. Istirahat dulu. Seharian ini pasti sangat melelahkan. Pagi-pagi besok kita masih harus tancap gas ke LAN. Lagian bukannya anti habis itu juga mesti jadi pendamping di kegiatannya ForStar?”
          Aku cuma mengiyakan. Tak berapa lama Ria sudah berkelana ke alam mimpi. Aku berbaring dengan mata yang sangat sadar kembali mengilas cerita Ria barusan.



Ina. Malam ini aku lagi-lagi belajar. Belajar dari gadis 18 tahun yang kusebut hebat ini.
Ya. Tentang mimpi. Aku merenung. Mungkin, Aku telah berani menuliskan mimpiku. Tapi tak pernah membuka catatan itu karena begitu ragunya pada diri sendiri. Karena selalunya melihat itu terlalu besar. Aku belajar dari Ina. Untuk selalu percaya. Bahwa selalu ada Sang Maha Hebat di balik sesuatu yang paling tidak hebat sekalipun.
Aku teringat adikku pernah menegur. Teguran sambil lalu. “Emang Mimpi mesti mikir kak?”. haha, yah.. iya sih. Mungkin kita terlalu banyak mikir. Mengambing hitamkan kata realistis. Akhirnya kita menjadi apa yang Mario Teguh sebut TIDAK SPONTAN.
“Tahu anak kecil?” kata Pak Mario di salah satu edisi MTGW. “Waktu kita kecil, dengan entengnya kita menyebutkan mimpi-mimpi jadi pilot, jadi Dokter, pengen terbang, pengen jadi Presiden, pengen punya mobil dll.”
“Semakin kita tumbuh, semakin kita menyebut diri kita realistis. Semakin juga kita menjadi  tidak spontan. Ah, jadi dokter? Otak saya pas-pasan. Apa, ke bulan?. Ngapain juga, kurang kerjaan. Punya mobil? Ngumpulin duit tujuh turunan juga gak bakal bisa. Daaan pembenaran-pembenaran lain yang mematikan kehebatan-kehebatan kita.”
Hmm.. Lamunanku makin larut. Dan ngomong-ngomong malam juga sudah sangat larut. Aku berkewajiban memenuhi hak tubuhku. Dan qabla doa dan lelap, kupesankan pada diriku sendiri, kuucapkan dengan penuh kesungguhan, “Fiqah! Bermimpi sajalah. Toh, mana mungkin Allah menganugerahimu keinginan yang besar jika tak menyiapkan untukmu rencana yang besar pula.”
Sahabatku, Aku terbangun paginya dengan gairah yang terasa makin meluap. Menyambut amanah, Menyongsong harapan, impian.
Sahabatku.
Ya. Hari ini indah.
Esok juga indah.
Dan akan lebih Indah, menyaksikanmu, Engkau yang membaca tulisan ini berhasil dengan mimpi-mimpi yang kau punya.
Kuselipkan doa pengharapan untuk kalian. Semoga nanti kita bisa sama tersenyum. Sama bahagianya, menghias dunia dengan kuntum-kuntum kesuksesan yang selalu kita pupuki semangat.
Sahabat,
Hari ini indah!
Esok juga indah! ^_^



Salam cinta, salam berkah.. :-)
Semoga bermanfaat.


(Syukron to Ina, Ria, adikku tersayang, dan kalian, sahabatku yang hebat!) :-)

*Rafiqah Ulfah Masbah*