Jumat, 28 Januari 2011

Catatan kecil bagi yang bergelar ‘PEMUDA’


        Seseorang menegurku dengan sebuah kalimat menggetarkan disebuah majelis sore kemarin. Istirahat bagi seorang Pemuda itu,”kata Imam Ahmad, “adalah Kelalaian”. Tak sadar aku menegakkan kepala lantas menatap lekat matanya, mungkin tersentil. “Di dalam diri pemuda itu berkumpul serangkaian potensi, fisik yang kuat, fikiran yang masih segar, & ide-ide cemerlang,” sorot matanya tajam, “Sayangnya, pemuda-pemudi hari ini gampang sekali meluncurkan keluh,” air mukanya berubah sendu. “Saudaraku, kita tidak sepatutnya mengeluh ketika merasa lelah dengan tugas-tugas dakwah sementara kita masih bisa merasakan nikmatnya tidur 8 jam sehari. Sedangkan banyak pemikir umat diluar sana yang tidurnya mungkin hanya 2-3 jam per harinya untuk merancang masa depan dakwah ini!,” lanjutnya tegas.

Yah... Demikianlah realitas dalam diri kita sekarang. Sibuk menyuarakan perubahan sementara enggan bergerak, enggan memberi kontribusi berarti. Ketika dimintai tenaga, berkelit dengan alasan banyak kerjaan. Ketika diamanahi tugas, angkat tangan dengan paras memelas, “Aduh..afwan, jangan saya deh. Saya ngak bisa.”  Ketika ada rapat menjadi yang paling menggebu-gebu, merencanakan ini-itu, namun tiba hari H kegiatan, malah menghilang. Enggan mencoba karena takut dicemooh. “Bermimpi untuk menjadi sesuatu, baru berupaya sedikit kemudian dinilai kurang baik sudah menyerah dan membuat justifikasi, “Ahh, kayaknya saya emang gak bakat nih!” nasehat mas Furqon pada suatu waktu.
        
Perkara terlalu mudah menyerah, terlalu gampang mengeluh, semuanya seperti menjadi penyakit sejuta ummat nih. Sangat berbahaya. Padahal, “selemah-lemah kesabaran,”kata Rasulullah, “adalah meninggalkan keluh kesah”. Wah...gawat sahabat, bayangkan! Meninggalkan keluh kesah saja sudah merupakan selemah-lemah kesabaran loh, sementara kita, baru disentil atau kesandung batu saja, seluruh nama binatang sudah diabsen. Ckckck...Naudzubillah..

Hmm... Mari membuat bayangan ,menurut kalian bagaimana yah nasib bangsa kedepannya dengan keadaan seperti ini?. Kita mungkin tidak mengelak sih kalau sering berada pada kondisi diatas. Tapi itulah kealpaan sahabat. Dia ada sebagai pelajaran, bukan untuk dipelihara dan kembali diulang.

Bukankah kita sama menyepakati, bahwa masa depan suatu kaum, amat ditentukan dari kondisi pemudanya saat ini. Lagipula bukankah kelak kita akan dimintai tanya tentang hal yang kita habiskan di masa muda. Terus sahabat mau jawab apa nantinya? :-)



Saya ingin mengutip sedikit kalimat cantik Salim A. Fillah dalam bukunya, “Jadilah orang yang mau berubah,” katanya, “hindarkan diri dari kepengecutan dan mengeluhlah hanya pada yang mampu memberikan penyelesaian. Katakan saja, “Ya Allah, aku punya masalah besar,” Dan sebagai variasi yang manis, terkadang ucapkan juga, “Hai maslah, aku punya Allah Yang Mahabesar!” ^_^ Manis sekali kan???

Sahabat2ku tercinta.. Didasar hati kita masing-masing boleh saja bertengger harapan tentang suatu yang selalu kita sebut ‘Peradaban besar’ yang cerah. Tapi impian itu akan menjadi jauh, tanpa mengambil peran-peran berarti, tanpa kesusah-payahan yang terus menerus, tanpa karya-karya cemerlang, tanpa orang-orang yang memiliki pengaruh besar. 

“Ketikapun dunia dipenuhi maksud baik dan hati yang berbudi,” papar Salim di waktu lain, “Maka yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah aksi dan amal mereka. Dan bumi menanti makhluk yang diamanahi pemakmurannya ini mengerjakan amal shalih, kerja-kerja ketaatan, dan laku-laku kebajikan.”

Setidaknya nih, kalau kata Imam Munadi, “Sebagaimana iman dan semangat yang berfruktuasi,”, ”Maka ketika kalian berada dipuncak, perbanyaklah melaksanakan yang sunnah,”kata beliau, “dan sekiranya jika kalian berada pada kondisi titik terendah, paling tidak jangan sampai meninggalkan yang wajib.”

Ayo dong sahabat, Jadilah orang-orang  yang memilih menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya, jadilah pemuda-pemuda dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Jangan mau ketinggalan, jangan hanya memanjangkan angan-angan, jangan puas sekedar menjadi penonton, lesatkan potensi diri kalian yang masih terpenjara disana. Dia sebenarnya besar, hanya belum dibebaskan saja, masih dibelenggu “rantai gajah” tuh. Ayo sahabat buka mata, tangguhkan mental. Proklamirkan diri menjadi manusia baru mulai saat ini. Sehingga ‘bangunan impian besar’ kita bersama itu menjadi lebih dekat, karena tangan-tangan pekerja bertambah banyak.

Mari sahabat sekalian, bangun dari tempat tidur kebodohan, seka keringat, lalu bergeraklah. Kalau kata Murobbi saya dgn redaksi lebih lembut dari kekata Imam Ahmad diatas , “Istirahat kita itu adalah wadah mengumpulkan energi, untuk bekerja kembali”.

Saya jadi teringat kalimat indah yang diinspirasi dari seorang trainer, “Ada orang yang terus bekerja namun tidak ada sedikitpun yang ia dapatkan, ia berkata ‘LELAH’. Disaat yang sama, ada orang yang terus berkarya, banyak memberi untuk Allah. Ia berkata ‘LILLAH’. Subhanallah.... ~_~

Luruskan niat, kuatkan tekad, persembahkan buah terbaik dari pohon iman kita, terus berbagi untuk semesta, terus menginspirasi dengan karya, dan teruslah bekerja untuk perubahan besar...

Bersemangatlah PEMUDA!!! ^_^



_F.I.Q.A.H_



Oleh-oleh dari tulisan Salim A.Fillah:

satu waktu, sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
“alangkah beratnya.. alangkah banyak rintangan..
alangkah berbilang sandungan.. alangkah rumitnya.”
***
aku bertanya, “lalu?”
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
“apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”
“hanya karena itu kau menyerah kawan?”
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup
menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
“yah.. bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa
Allah tak meridhainya?”
***
aku membersamainya menghela nafas panjang
lalu bertanya, “andai Muhammad, shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berfikir
sebagaimana engkau menalar, akan adakah islam di muka bumi?”
“maksudmu akhi?”, ia terbelalak
***
“ya. andai muhammad berfikir bahwa banyak kesulitan
berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”
***
ada banyak titik sepertimu saat ini, saat muhammad
bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam ruku’nya ia dijerat di bagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan isteri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta, wanita..”
***
“jika muhammad berfikir sebagaimana engkau menalar
tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?
tapi muhammad tahu kawan
ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya
senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”
***
“ridha Allah terletak pada
apakah kita mentaatiNya
dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya
dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan..
Maka selama disitu engkau berjalan
bersemangatlah kawan...."
 ^_^

Kamis, 27 Januari 2011

Untuk Wanita yang baik Hati :-)

Ada masa-masa dimana kita mampu menjadi yang paling tegar
namun terkadang ada waktu dimana hati itu merapuh,

Beberapa luka yang nyaris mengering,
akan tetap perih kala tersiram garam kenangan.

Kak,  Sakit itu sama menggores hati nurani,
Namun selalu memberi ruang untuk melebarkannya,
adakalanya pun menyayat yang lainnya.



Siapakah yang mengetahui dalamnya samudera perih masing-masing?
Hanya kelembutan Nurani yang mampu membuat saling memahami satu sama lain,
tuk sedikitnya menghargai jiwa-jiwa sama sedih.

karena kita berada disatu dunia,
saling mengetahui, dan menyebar rasa ke seluruh penjuru..
yang meski enggan, akan sampai juga mata pada gambaran hati yang ianya semakin menyembilu...

Untuk wanita baik hati
Dengan segenap kerendahan hati
Semoga mampu saling mengerti.
Ku mohon.... :-)

Rabu, 26 Januari 2011

Bait Cinta Untuk Sahabat ^_^




Sahabat…
Disinilah kita bermula…
Ketika perbedaan terhimpun dalam ikatan.
Hari itu…
Jiwa-jiwa berpeluk sapa dan saling mengenal
Kemudian hati kita bersepakat
tuk terus menabur benih manfaat
menuai bunga-bunga kebaikan…
meski dalam keterbatasan kemampuan,
kita belajar bersama
untuk cita yang terlanjur kita ulur kedepan
menjajak langkah, meski berat, meski payah
Karena selalu ku tahu sahabat,
Aku punya kalian…
yang paling LUAR BIASA . . .



Salam cinta untuk semua sahabat IMI Makassar
Moga selalu setia menjadi tangan-tangan Ilahi
yang menyentuh lebih banyak hati,
Dan menjadi suara-suara kebaikan
yang terus bernyanyi untuk semesta sekalian. . . ^_^


_F.I.Q.A.H_

Goresan tangan untuk pelakon-pelakon kehidupan


Bagaimana pendapatmu ketika kau memiliki suatu keramik mahal dan berharga, yang sempat hancur lalu ada yang berbaik hati menggantikannya untukmu?. Akankah kau sia-siakan, tidak menjaganya dengan baik, kemudian membiarkannya pecah kembali?

Mungkin mayoritas menjawab ‘tidak’.
Dan yah… demikianlah sebuah ‘kesempatan’. Dibeberapa episode kehidupan kita, mungkin seringkali kegagalan, kesalahan, terukir disana. Namun, ketika nafas itu masih betah mondar-mandir dihidung, itu artinya, sebentuk ‘KESEMPATAN’ masih melebar untukmu sahabat. Peluang untuk bangkit masih ada,pintu untuk berhasil masih terbuka, dan jalan menuju pribadi lebih baik masih melontar.

Lantas ketika dirimu termasuk dalam kategori yang beruntung itu, apa yang dirimu akan lakukan setelah ini?. Apakah setia dalam kondisi monoton?, atau menata kembali diri. Apakah akan kembali menjatuhkan diri ke jurang yang sama, membiarkan iblis tertawa riang lagi seperti sebelumnya?, ataukah membentengi jiwa dengan azzam yang kuat dan keimanan yang makin menancap?.

Sahabat…
Tidak akan terlalu berbeda, penghasut sepanjang abad  itu tak jauh-jauh dari titik terlemah dirimu.
Jika ianya harta, takkan jauh-jauh darisana. Jika ianya lawan jenis, itupun tak jauh beda.

Ya. penggoda sepanjang usia itu tak jengah menawarkan dunia berikut keindahannya didepan mata, hidung dan telingamu dengan semanis-manisnya yang mampu dijamah fikiran dan perasaan manusiawi kita sahabat.

Dan jika tidak demikian, taktik lainnya adalah justru menggelapkan pandanganmu, menjatuhkan jiwamu, mematahkan genggamanmu, hingga dirimu hancur, tenggelam dineraka ‘putus asa’.

Sahabat… fikirkan ini. karena aku yakin, tiap kita mengharap akhir mulia, bukan?.
Sudahlah, jika kau pernah menemukan seorang yang miskin lagi pantang mengemis, tak perlu kau cerca, sesungguhnya ia tengah mengangkat harga dirinya.

Jika kau pernah menawari seorang non-mahram boncengan, lalu ditolak dengan jutaan alasan, bahkan secara mentah-mentah, tak usah kau paksa, tak perlu tersinggung, karena mungkin ia sedang memelihara nilai kehormatan dirimu dan dirinya.

Jika kau menyaksikan seorang pendosa besar, kembali menemui takdir ketaatannya. Jangan lagi ungkit masa lalunya, karena Allah malarang, Ia hormat lagi cinta pada pembaharu-pembaharu taubat. Terlebih, dirimu mungkin tak lebih baik darinya.

yah…Sudahlah sahabat…
jika harta dihadapkan padamu dengan barter kesucian diri. Alangkah tak sepadan nilainya. Atau kau gadai dengan martabat agama ini. Benar-benar tiada yang dirimu dapatkan selain kehinaan di mataNya.

Sungguh… bukankah harta yang paling indah dan berkilau itu, letaknya disana. ada di CINTA Ilahi untuk hambanya yang berpeluh ujian hidup, yang tergelincir dosa namun mau memperbaharui taubat, yang terluka namun bangkit dengan kebaikan prasangka, dan yang tak pernah surut mendaki tangga2 kepuncak kemuliaan tertinggi, meski air mata menitik-nitik.

Sahabat…
Diriku, dirimu, dan mereka, kita semua berhak memilih bagaimana memulai, menjalani, bertahan, dan mengakhiri KEHIDUPAN kita. 

Sebagaimana kita berbeda, maka keberadaan kita adalah untuk saling melengkapkan, mengingatkan, menguatkan, serta membagi manfaat. Karena kita ‘Muslim’, Maka kita adalah saudara, saudara dari rahim ‘Iman & ketakwaan’. Dan karena bersaudara, maka ku tulis note ini untuk kalian sahabat. Karena aku peduli, dan karena aku ‘menCintai’ ukhuwah ini. Berikut harap tuk kita senantiasa bergandengan di jalur-jalur kebaikan. Tak tersalah dalam faham, tak tercerai karena mazhab, dan terus saling mengerti dengan kelembutan nurani…

Teriring Robithoh untuk Seluruh saudaraku di seluruh penghujung negeri, bahkan yang belum ku kenali.

Ana Uhibbukum Fillah….. :-)

_F.I.Q.A.H_

Jumat, 21 Januari 2011

Murobbiyahku itu . . .



Murobbiyahku itu wanita yang menawan dalam pandangan
hanif dalam lisan
dan mulia dalam akhlaknya.

Murobbiyahku itu wanita yang mengesankan
dengan kesabaran ia memahami kami, meski sering tersakiti.
dengan kezuhudan ia menyentuh hati-hati hingga ia tertarik.
dengan ketangguhannya ia mampu tetap berdiri menerjang ganas dunia demi mengusap lembut hati kami dalam majelis-majelis.
dengan semangatnya ia mampu membuat mata terantuk menjadi terbe­lalak dan tak rela kehilangan sepatah pun kekata lisannya.
dengan kecerdasannya, ia mampu mengajak kami berpikir keras, sesekali terlibat dalam gagasan. seolah kita tengah menjelajah dunia-du­nia islam dan berlintas sejarah,
dengan kelembutan nurani, ia selalu mampu menyergap hanyut jiwa, se­sekali tersenyum, terkadang haru.

meski begitu, tak pernah ada yang tahu isi hatinya,
suatu kali mungkin ia pernah menangis karena lelahnya dalam dakwah, namun ia bertahan.
suatu kali ia mungkin pernah disergap marah, namun ia rela bersabar.
suatu kali ia mungkin pernah kecewa pada keadaan kami, namun ia tawakkal.
suatu kali mungkin ia pernah berada diujung kesabarannya, namun ia se­tia. Ia setia membangun agama ini, ia setia memperjuangkan kebenaran, ia setia menyuarakan risalah Allah, hingga detik ini.
Kami berbeda, namun Murobbiyahku itu sekerasnya mencoba membaurkan diri.
kami berbeda, namun kita selalu saling mengerti.
kami sungguh berbeda, ketika ia kemudian berkata, “saya jadi agak cerewet semenjak bersama kalian”, kami hanya saling tatap dan tertawa.

Murobbiyahku itu
Sangat mempesona, diluar yang ditutupi Allah dari kesejatiannya.
Sungguh,
dan jikapun tersingkap sedikit aib dirinya, kami harap justru menjadi penyubur cinta.
banyak teladan yang tlah terambil.
seakan ia menjadi tangan Allah, menuntun ketika dunia gelap dari cahayaNya.
seakan menjadi suara kebaikan, yang selalu menyegarkan kalbu, menjadikan rindu menyengat di tiap majelis-majelisnya.
seakan jika ada kebaikan yang mampu ku persembahakan untuknya, kan ku berikan setulusnya.
Murobbiyahku yang bernama keindahan itu.
Sungguh, Allah menjadi saksi,
kami mencintaimu k’.. Illah, Fillah….

_F.I.Q.A.H_

Selasa, 18 Januari 2011

Persembahan 'KECIL' untuk yang 'BESAR'




Mereka yang berpikir untuk dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Mereka yang hidup bagi kemanfaatan banyak orang akan hidup sebagai orang besar dan mati dikenang sebagai orang besar”

Tak pernah ada kata sia-sia dalam USAHA (sekecil apapun bentuknya). Jangan pernah menganggap rendah suatu tugas seperti menyebar brosur atau sekedar menempel selembar catatan kebaikan di mading misalnya.

Tidak sedikit dari kita yang ogah-ogahan dalam amanah-amanah dakwah yang terasa kecil dalam fikiran, tanpa pernah menginsyafi arti dari ketulusan, makna bersungguh-sungguh, dan nilai yang mungkin Allah beri dari jalan tersebut.

Fikirkanlah...
Mungkin saja dari sebentuk kerja kecil tersebut, beberapa hati tersentuh, beberapa jiwa sampai pada takdir kebaikannya, beberapa orang tergetar dan menjadi perantara keberluasan risalah Allah. Bukankah ianya menjadi amal Jariyah bagi kita?

Sahabat...
Berhenti berpikir biasa, Luarbiasakanlah!.
Bukankah sejarah mencatat, peradaban besar dimulai dan dibangun oleh sesuatu yang kecil?
Dipelopori oleh Rasulullah & sebagian kecil Sahabat, namun kesungguhan membuat Islam kini mampu kita rasai nikmatnya.

Sahabat...
Yang terpenting bukanlah besar atau kecilnya tanggung jawab dan jenis pekerjaan kita, tapi seperti apa pemaknaan kita atasnya, bagaimana kita memungkasinya, karena tiap kita yakin. Allah tak luput dalam menilai setetespun peluh dan keringat, secuilpun usaha-usaha kebajikan, bahkan setitikpun lintasan fikiran dan niat kita.

Think big!. Dunia membutuhkanmu sahabat. Islam membutuhkan manusia-manusia yang mau membangun bata-bata kecil pondasi Peradaban besar Ummat.
Dimanapun posisi dirimu sekarang, MAKSIMALKANLAH!.
Lakukan yang terbaik semampumu!. Luruskan niat untuk Allah semata. Kuatkan tekad untuk menara perubahan.

Allah telah menjanjikannya. Sebelum kiamat menghentak, akan ada masa dimana Islam kembali menemui kejayaannya.

Sekarang tergantung pilihan dirimu sendiri,
Akankah kau cantumkan nama di lembar sejarah pejuang,
atau sekedar menjadi penikmat sejarah!

Sekali lagi, tak pernah ada yang kecil di mata Allah !!! :-)


_F.I.Q.A.H_

Senin, 17 Januari 2011

Do'a dari Sahabat di 18 tahun Usiaku



Wahai saudariku
Tetapkanlah Allah sebagai Tuhanmu, dan tiada yg lain selain Dia.
Tetapkanlah Islam sebagai agamamu.
Tetapkanlah Muhammad sebagai Nabi dan Rasulullah.
Tetapkanlah Al Qur`an sebagai kitab dan penuntunmu.

Ucap dua kalimah syahadat disetiap desah nafasmu.
Sembahyanglah lima waktu dalam hari harimu.
Berpuasalah sebulan dalam bulan Ramadhan.
Tunaikanlah haji ke Baitullah Rumah Allah jikalau kau mampu.
Tunaikanlah zakat selagi kau mampu.
Jangan lupakan Infaq Shadakah dan menyantuni mereka yg tidak mampu.

Beriman selalu hanya kepada ALLAH SWT
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Malaikat-malaikat
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Kitab-kitab Al Qur`an dan kitab kitab sebelumnya
Berimanlah kepada nabi dan Rasul rasul
Yakinlah dan Berimanlah akan adanya Hari Kiamat
Yakinlah dan Berimanlah kepada Qada dan Qadar.

Ingatlah dan camkanlah beberapa hal
Bahwa yang singkat itu WAKTU,
Yang dekat itu MATI,
Yang besar itu NAFSU,
Yang berat itu AMANAH,
Yang sulit itu IKHLAS,
Yang mudah itu BERBUAT DOSA
Yang abadi itu AMAL KEBAJIKAN,
Yang akan di investigasi itu AMAL PERBUATAN,
Yang jauh itu MASA LALU.
Persiapkanlah dirimu untuk semua hal itu.

hiduplah demi akhiratmu
karena itu yang akan abadi kekal selamanya
janganlah kau hidup demi duniamu
karena itu hanya semu dan bakal termakan waktu

Doaku selalu menyertaimu.
Semoga Allah selalu membimbingmu.
Semoga Allah selalu meridhoimu.
Semoga Allah selalu mendampingimu.
Dalam setiap langkahmu, doamu dan dalam semua kehidupanmu.

-->>


Banyak hal yang tak mampu terurai
banyak pelajaran yang tak cukup hanya dengan seuntai terimakasih
banyak khilaf yang tak cukup hanya berucap maaf
ketika terikat kita dalam mangkuk persaudaraan... terkadang tak luput luka menggores hatimu....
terimakasih sahabat telah banyak berarti dalam kehidupan ini.....
terima kasih sekiranya telah banyak-banyak bersabar dalam sikap burukku...
Maafkan untuk segala dosa yang membekas....
Untuk doa yang telah berkenan kau panjatkan untukku,,,,
semoga tangan Allah mengijabah dan memberi yang terbaik.....
Di hari menuju kehidupan abadiku.......
Moga kita tetap senantiasa beriringan dalam jalan kebaikan dunia... 
dan bersua menjadi hamba-hamba dirindu Surga.....
Selalu ku mohon dukungan darimu......
to be a New Person...!!!!
thanks for being my friend....!!!!!! ^_^

Minggu, 16 Januari 2011

Gelora Akhlak yang Menyeruak

(kisah menggetarkan dari sejarah Ksatria) 



                ‘Umar ibn Al-Khaththab sedang duduk di bawah sebatang kurma. Surbannya dilepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis dibeberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imarat-nya tergeletak disamping tumpuan lengan. Dihadapannya para pemuka sahabat bertukar pikiran dan membahas berbagi persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol disitu. ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara api-api.
                Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai amirul Mukminin, “ ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuh ayah kami ini!”
                ‘Umar bangkit. “Takutlah kalian kepada allah!” hardiknya, “Perkara apakah ini?”
                Kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang merka bahwa ini adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mengaku. ‘Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?”
                “Benar, wahai Amirul Mukminin!”
                “Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar  ‘Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!”
                “Aku datang dari negeri yang jauh,”kata belia itu. “Begitu sampai dikota ini kutambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Kutinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”
                “Saat aku kembali,”lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada allah karenanya.”
                ‘Umar tercenung.
                “Wahai Amirul Mukminin,”kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum Allah. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa harus dibayar dengan jiwa.”
                ‘Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. Gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. ‘Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi. “Bersediakah kalian,” ucap ‘Umar ke arah dua pemuda penuntut qishash, “Menerima pembayaran diyat  dariku atas nama pemuda ini dan memaafkannya?”
                Kedua pemuda itu saling pandang. “Demi allah, hai Amirul Mukminin,”jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaanya ditengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskin yang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika had  ditegakkan!”
                ‘Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa.
                “Aku ridha hukum allah ditegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin,” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghhalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku.”
                ‘Umar trenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan. “Jadi bagaimana? Tanya ‘Umar.
                “Jika engkau mengizinkaku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali kedaerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khaththab.”
                “Adakah orang yang bisa menjaminmu?”
                “Aku tak memiliki seorangpun yang kukenal di kota inihingga dia bisa kuminta menjadi penjaminku kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
                “Tidak! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”
                “Aku bersumpah dengan nama allah yang amat keras ‘adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.
                “Aku percaya. Tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”
                “Aku tak punya!”
                “Wahai Amirul Mukminin!”terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya!” Inilah dia, Salman Al-Farisi yang tampil mengajukan diri.
                “Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”
                “Benar. Aku bersedia!”
                “Kalian berdua kakak berasik yang mengajukan gugatan,” panggil ‘Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al-Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman semi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat.”
                Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.
                                                                                               * * *            
                Waktu 3 hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. ‘Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir sementara Salman duduk khusyu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tidak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.
                Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.
                Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi ‘Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.
                Satu demi satu, dimulai dari Abud Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salman menolak. ‘Umar menggeleng. Matahari semakin lingsir ke barat. Kekhawatiran ‘Umar makin memuncak. Para shahabat makin kalut dan sedih.
                Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana. “Maafkan aku,”ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, “Urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggalkan ditengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”
                Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya dihari itu.
                “Pemuda yang jujur,” ujar ‘Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”
                “Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum Muslimin.”
                “Dan kau Salman,”kata ‘Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”
                “Sungguh jangan sampai orang bicaraa,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”
                “Allahu Akbar! Kata ‘Umar, “Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”
                Pemuda itu mengangguk pasrah.
                “Kami memutuskan...”kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” Mereka tersedu sedan. “Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin.”
                “Alhamdulillah! Alhamdulillah!” ujar ‘Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, yamg kemudian diikuti oleh semua hadirin.
                “Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya ‘Umar pada kedua ahli wariskorban.
                “Agar jangan sampai ada yang mengatakan,”jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang.”...
                Subhanallah.... [-_-]