Jumat, 28 Januari 2011

Catatan kecil bagi yang bergelar ‘PEMUDA’


        Seseorang menegurku dengan sebuah kalimat menggetarkan disebuah majelis sore kemarin. Istirahat bagi seorang Pemuda itu,”kata Imam Ahmad, “adalah Kelalaian”. Tak sadar aku menegakkan kepala lantas menatap lekat matanya, mungkin tersentil. “Di dalam diri pemuda itu berkumpul serangkaian potensi, fisik yang kuat, fikiran yang masih segar, & ide-ide cemerlang,” sorot matanya tajam, “Sayangnya, pemuda-pemudi hari ini gampang sekali meluncurkan keluh,” air mukanya berubah sendu. “Saudaraku, kita tidak sepatutnya mengeluh ketika merasa lelah dengan tugas-tugas dakwah sementara kita masih bisa merasakan nikmatnya tidur 8 jam sehari. Sedangkan banyak pemikir umat diluar sana yang tidurnya mungkin hanya 2-3 jam per harinya untuk merancang masa depan dakwah ini!,” lanjutnya tegas.

Yah... Demikianlah realitas dalam diri kita sekarang. Sibuk menyuarakan perubahan sementara enggan bergerak, enggan memberi kontribusi berarti. Ketika dimintai tenaga, berkelit dengan alasan banyak kerjaan. Ketika diamanahi tugas, angkat tangan dengan paras memelas, “Aduh..afwan, jangan saya deh. Saya ngak bisa.”  Ketika ada rapat menjadi yang paling menggebu-gebu, merencanakan ini-itu, namun tiba hari H kegiatan, malah menghilang. Enggan mencoba karena takut dicemooh. “Bermimpi untuk menjadi sesuatu, baru berupaya sedikit kemudian dinilai kurang baik sudah menyerah dan membuat justifikasi, “Ahh, kayaknya saya emang gak bakat nih!” nasehat mas Furqon pada suatu waktu.
        
Perkara terlalu mudah menyerah, terlalu gampang mengeluh, semuanya seperti menjadi penyakit sejuta ummat nih. Sangat berbahaya. Padahal, “selemah-lemah kesabaran,”kata Rasulullah, “adalah meninggalkan keluh kesah”. Wah...gawat sahabat, bayangkan! Meninggalkan keluh kesah saja sudah merupakan selemah-lemah kesabaran loh, sementara kita, baru disentil atau kesandung batu saja, seluruh nama binatang sudah diabsen. Ckckck...Naudzubillah..

Hmm... Mari membuat bayangan ,menurut kalian bagaimana yah nasib bangsa kedepannya dengan keadaan seperti ini?. Kita mungkin tidak mengelak sih kalau sering berada pada kondisi diatas. Tapi itulah kealpaan sahabat. Dia ada sebagai pelajaran, bukan untuk dipelihara dan kembali diulang.

Bukankah kita sama menyepakati, bahwa masa depan suatu kaum, amat ditentukan dari kondisi pemudanya saat ini. Lagipula bukankah kelak kita akan dimintai tanya tentang hal yang kita habiskan di masa muda. Terus sahabat mau jawab apa nantinya? :-)



Saya ingin mengutip sedikit kalimat cantik Salim A. Fillah dalam bukunya, “Jadilah orang yang mau berubah,” katanya, “hindarkan diri dari kepengecutan dan mengeluhlah hanya pada yang mampu memberikan penyelesaian. Katakan saja, “Ya Allah, aku punya masalah besar,” Dan sebagai variasi yang manis, terkadang ucapkan juga, “Hai maslah, aku punya Allah Yang Mahabesar!” ^_^ Manis sekali kan???

Sahabat2ku tercinta.. Didasar hati kita masing-masing boleh saja bertengger harapan tentang suatu yang selalu kita sebut ‘Peradaban besar’ yang cerah. Tapi impian itu akan menjadi jauh, tanpa mengambil peran-peran berarti, tanpa kesusah-payahan yang terus menerus, tanpa karya-karya cemerlang, tanpa orang-orang yang memiliki pengaruh besar. 

“Ketikapun dunia dipenuhi maksud baik dan hati yang berbudi,” papar Salim di waktu lain, “Maka yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah aksi dan amal mereka. Dan bumi menanti makhluk yang diamanahi pemakmurannya ini mengerjakan amal shalih, kerja-kerja ketaatan, dan laku-laku kebajikan.”

Setidaknya nih, kalau kata Imam Munadi, “Sebagaimana iman dan semangat yang berfruktuasi,”, ”Maka ketika kalian berada dipuncak, perbanyaklah melaksanakan yang sunnah,”kata beliau, “dan sekiranya jika kalian berada pada kondisi titik terendah, paling tidak jangan sampai meninggalkan yang wajib.”

Ayo dong sahabat, Jadilah orang-orang  yang memilih menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya, jadilah pemuda-pemuda dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Jangan mau ketinggalan, jangan hanya memanjangkan angan-angan, jangan puas sekedar menjadi penonton, lesatkan potensi diri kalian yang masih terpenjara disana. Dia sebenarnya besar, hanya belum dibebaskan saja, masih dibelenggu “rantai gajah” tuh. Ayo sahabat buka mata, tangguhkan mental. Proklamirkan diri menjadi manusia baru mulai saat ini. Sehingga ‘bangunan impian besar’ kita bersama itu menjadi lebih dekat, karena tangan-tangan pekerja bertambah banyak.

Mari sahabat sekalian, bangun dari tempat tidur kebodohan, seka keringat, lalu bergeraklah. Kalau kata Murobbi saya dgn redaksi lebih lembut dari kekata Imam Ahmad diatas , “Istirahat kita itu adalah wadah mengumpulkan energi, untuk bekerja kembali”.

Saya jadi teringat kalimat indah yang diinspirasi dari seorang trainer, “Ada orang yang terus bekerja namun tidak ada sedikitpun yang ia dapatkan, ia berkata ‘LELAH’. Disaat yang sama, ada orang yang terus berkarya, banyak memberi untuk Allah. Ia berkata ‘LILLAH’. Subhanallah.... ~_~

Luruskan niat, kuatkan tekad, persembahkan buah terbaik dari pohon iman kita, terus berbagi untuk semesta, terus menginspirasi dengan karya, dan teruslah bekerja untuk perubahan besar...

Bersemangatlah PEMUDA!!! ^_^



_F.I.Q.A.H_



Oleh-oleh dari tulisan Salim A.Fillah:

satu waktu, sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
“alangkah beratnya.. alangkah banyak rintangan..
alangkah berbilang sandungan.. alangkah rumitnya.”
***
aku bertanya, “lalu?”
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
“apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”
“hanya karena itu kau menyerah kawan?”
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup
menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
“yah.. bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa
Allah tak meridhainya?”
***
aku membersamainya menghela nafas panjang
lalu bertanya, “andai Muhammad, shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berfikir
sebagaimana engkau menalar, akan adakah islam di muka bumi?”
“maksudmu akhi?”, ia terbelalak
***
“ya. andai muhammad berfikir bahwa banyak kesulitan
berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”
***
ada banyak titik sepertimu saat ini, saat muhammad
bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam ruku’nya ia dijerat di bagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan isteri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta, wanita..”
***
“jika muhammad berfikir sebagaimana engkau menalar
tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?
tapi muhammad tahu kawan
ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya
senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”
***
“ridha Allah terletak pada
apakah kita mentaatiNya
dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya
dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan..
Maka selama disitu engkau berjalan
bersemangatlah kawan...."
 ^_^

1 komentar:

Say something!