Senin, 28 Februari 2011

Berfikir Beda, Bekerja Mudah


Belajar ketika orang lain tidur, bekerja ketika orang lain bermalasan, dan bermimpi ketika orang lain berharap.
 ~ William A. Ward~

Seringkali kita mendapati orang lain bahkan mungkin diri kita sendiri begitu sulit mencapai keberhasilan. Itupun sudah dengan segenap daya. Sementara yang lain, melanlang buana di puncak-puncak suksesnya tanpa mungkin pernah kita lihat kesusahan disepanjang alur usahanya. Kira-kira apakah yang membuat kita berbeda?. Dari judul diatas, sedikit mungkin sudah dapat disimpulkan.
                Dalam hal ini, saya tak hendak mengesampingkan makna penting kerja keras. Hanya, jika kita fikir itu saja cukup, rasa-rasanya terjadi sedikit salah kaprah. Ada poin lain yang juga mesti bergandeng disana.
Ingat kisah tentang Abdurrahman ibn ‘Auf?. Lelaki yang ikut hijrah ke Madinah tanpa membawa sesuatupun dari kekayaan melimpahnya, lalu oleh Rasulullah SAW dipersaudarakan dengan seorang Anshar kaya raya, Sa’ad ibn Ar-Rabi’.
                Kita hafal kemudian Sa’ad menawarkan membagi dua seluruh miliknya. Abdurrahman ibn ‘Auf dengan kesahajaanya hanya berkata, “Tidak Saudaraku.. Tunjukkan saja jalan kepasar!”.
                Disanalah keajaiban itu menyentilnya. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang dengan tangan kosong, tapi jiwanya telah dibingkai iman, dan akalnya telah disusun penuh manhaj ekonomi Qur’ani. Dinar dan dirham yang mengalir dihadapannya di pikat dengan kejujuran, amanah, kebersihan dari riba’, timbangan yang pas, keadilan transaksi, dan akad-akad yang rapi.
                Sebulan kemudian beliau sudah menghadap Rasulullah dengan gagah lagi wangi dan penuh binar senyum. Disanalah mungkin titik awalnya, keberanian menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan.
“Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah,” tanggap Salim A. Fillah mengenai kisah diatas. “Tapi apakah kemudahan itu?”.
Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.
                Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan,” suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”
                “Christopher,” kata seorang tua disana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”
                Semua mengangguk mengiyakan.
                “Saya bisa,” kata Columbus. Dia menyeringai sejenak kemudian memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.
                “Oh.. kalau begitu caranya kami juga bisa!” kata seseorang. “Ya..ya..ya....”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”.

Yup!! Berpikir beda, bekerja mudah!. Menjadi pekerja, pengusaha, atau mau terdengar kerennya sebutlah Entrepreneur, itu tidak cukup hanya bermodal ketangguhan fisik, atau disisi lain hanya mampu menjadi pemikir, perancang tanpa gerak. Lebih dari itu, poin penting yang bermain disana adalah Kreatifitas yang lalu berkolaborasi dengan aksi.
                Tapi sebelum semua itu, ada satu biaya yang perlu kita keluarkan dahulu, yah.. jelas, keberanian untuk memulai. Karena sekedar tau tanpa mau mencoba, sebenarnya telah melabelkan diri anda, bahwa anda sudah gagal bahkan sebelum dikalahkan oleh siapa-siapa.
                Untuk selalu diingat berikutnya, kita bisa saja menuju tempat yang sama. Yang berbeda kemudian, ada yang akan sampai lebih dulu, dan ada juga yang belakangan. Sangat penting diperhatikan dalam hal ini mengaplikasikan percepatan. Lalu jangan bertanya lagi bagaimana caranya. Berpikir Beda, Bekerja Mudah!. Bersemangatlah sahabat! :-)

 _Rafiqah Ulfah Masbah_

Jumat, 25 Februari 2011

Tamparan Jiwa



Disudut ruang kecil sebuah tempat pengetikan UNHAS. Saya tercekat mendengar bincang beberapa orang yang kurang saya kenal secara tidak sengaja.
“Rajinmu komen foto2ku deh!” tutur salah seorang wanita cantik disana. “Tidak ji. Kenapakah ?” jawab teman laki-lakinya. “Tidak, habisnya kau ji kayaknya yang paling rajin kasih komentar, capek mk liatki,”. “Masalahnya kenapakah foto-fotomu seksi sekali semua?” Terang si laki-laki berkacamata itu. “Deh.. apanya seksi? Baru ji lagi begitu kau bilangmi seksi, Hallo... Ini sudah 2011 cowok. Memangx kau dari zaman purbakala?!.” sanggahnya tanpa dosa.Sepintas aku menengok wajah pemilik tempat pengetikan itu didepan layar komputer tersenyum kecut lantas geleng-geleng kepala. “Astagfirullah...” lanjut laki-laki itu,” Nda ikut ko kah organisasi-organisasi keagamaan?”. “Eh, Sorry nah, saya anak ‘***’ gitu loh !”sang wanita menyeringah.
                Ya Allah.. Saya hanya bisa mengurut dada.Malu rasanya saya sebagai seorang wanita. Seolah harga diriku juga ikut terinjak-injak. Astagfirullah...
Sungguh, kalau bisa dikatakan ‘PARAH’ betul kondisi moral masyarakat saat ini. Cermatilah sample beberapa orang yang kita temui setiap hari. Kurang lebih seperti itulah cerminan sekian persen masyarakat Islam di Indonesia sekarang.
Sahabat sekalian, kita tahu bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan mayoritas penduduk Islam terbesar. Bahkan sering kita dengar mungkin bahwa harapan dunia Islam  sedang menengok kesini sekarang.
Tapi, coba bayangkan, dengan realitas seperti ini, kira-kira dimanakah harapan itu hendak berlabuh ?. Saya kok rasa-rasanya cemas dengan kondisi ini. Bermunculan dimana-mana gelar ‘Islam KTP’, jika ada segolongan laki-laki berjanggut dengan celana sedikit menggantung, atau wanita berjubah dengan hijab besarnya sudah dituding terorislah, aneh-lah. Sementara tak urung yang lain heboh mempertontonkan keindahannya, kekayaannya, ketenarannya, semua dianggap biasa saja. Naudzubillah...
Masihkah kita merasa baik-baik saja?. Adakah kita hanya tenang-tenang belaka?, Tidakkah ada kecemasan disana?.
Saya takut sahabat. Saya benar-benar takut. Jika oknum-oknum tertentu sedang gencar bersuara ‘Khilafah! Khilafah!”, wah.. saya katakan “BELUM!”. Masih tinggi saya fikir, ada Satu tangga lagi yang mesti dibangun lebih dulu, yah.. Perbaikan Akidah. membangun kesadaran dari dalam. Itu point penting yang menjadi PR bagi kita yang merasa bertanggung-jawab sekarang.
Bukan lagi waktunya tinggal duduk manis menikmati kesholehan-kesholehan individual. Tidak!. Pohon iman itu haruslah memiliki buah manis yang bisa dikunyah oleh orang lain.
 "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik? Akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan rasa buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat" (QS. Ibrahim : 24-25)
Sadarlah sahabat!, Sebenarnya terlalu banyak manusia diluar sana yang tengah kehauasan, kelaparan akan kebaikan, Tapi tidak ada yang bersedia atau mungkin terlalu sedikit yang mau menyuapkan buah-buah manis itu kekerongkongan mereka.
Bukalah mata kita, Dunia sedang tidak baik-baik saja sahabat!. Tidak sedang baik-baik saja!. Harapan tengah diusung dipundak-pundak kita. Jika bukan kita, siapakah lagi yang akan merasa punya tanggung jawab dalam hal ini?.
Saya takut sahabat. Saya benar-benar cemas. Malah jangan-jangan realitas seperti diatas justru tumbuh menjadi benalu di pohon-pohon keimanan kita tanpa kita sadari. Wah.. jangan sampai! Jangan sampai!. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dalam kataatan kepadaNya dan terus bersemangat untuk menebar benih manfaat pada sesama.
* * *
Saya tidak hendak menjatuhkan pihak-pihak tertentu disini, atau dengan sengaja mencela, menyinggung dan hal-hal sejenisnya. Hanya hendak membagi sedikit bahan renungan untuk kita semua. Sebutlah saja, “sentilan kesadaran”.
Semoga kita menjadi manusia-manusia yang peka menengok carut-marut negeri dan dunia tercinta ini...
Teruntai doa teruntuk seluruh saudara-saudariku
Moga selalu setia menjadi tangan-tangan Ilahi
yang menyentuh lebih banyak hati,
Dan menjadi suara-suara kebaikan
yang terus bernyanyi untuk semesta sekalian. . . ^_^

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Rabu, 23 Februari 2011

Memoar Luka Kalbu



100 hari yang lalu,
Yang tertinggal dari tragedi maut..
100 Hari yang lalu..
Saat kata perpisahanpun tak sampai menjadi lagu,
100 hari yang lalu,
Matahari mendadak kelabu di mata keruh bendungan ait mata pilu.
100 hari yang lalu,
Dalam buaian ketakpercayaan aku menyusun bait-bait kenangan tempo dulu,
saat senyummu masih terukir di lembar-lembar umurku.
100 hari yang lalu,
Ketika aku ditampar penginsyafan tentang fana yang memburam dalam buta kalbu pada Mata Yang Tak Pernah Terantuk.
100 hari yang lalu,
Saat kisah itu menutup buku.
Aku membujur, mengukur daya yang tiada mampu menegakkan bahu...
Kali ini, pusara bernisan batu itu kembali tergenang,
saat senandung doa tumpah ruah disana,
Meski tanganku tak sampai berkunjung, di hulunya aku menitip setetes doa & rindu,
Hingga ketika waktu menutup sejarah hidup,
Surga menjadi dimensi asa bersua madu.
Bagaimanapun,, 100 hari yang lalu...
Ketika memikirkannya pun selalu menyembilu..
* * *

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Rabu, 16 Februari 2011

Berhenti Menyenangkan semua orang




“Saya tak tahu kunci keberhasilan, tapi kunci kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang.”
_Bill Cosby (1937)_

Menarik pembahasan di kelas hari ini, materinya tentang Pengantar Sumber Daya Manusia.Manusia adalah mahluk yang sangat komplek,” tulis dosen saya dalam salah 1 slidenya, “Kompleksitas manusia sebagai mahluk yang sulit dipuaskan.”
Rasanya kita semua sepakat dalam hal ini. Manusia memiliki fitrah yang tak pernah bisa dipuaskan kebutuhan dan keinginannya. Jangankan untuk memuaskan orang lain, memuaskan dirinya sendiri saja sulit!.
“Faktanya adalah Anda tak bisa menyenangkan semua orang karena anda hanya satu individu.” tulis Yopi Jalu Paksi dalam bukunya 101 Tips Kilat Berpikir Positif & Berjiwa Besar. Setiap individu memiliki kepentingan  yang berbeda-beda yang tak mungkin dapat kita penuhi seluruhnya.
Sahabat... Jika hari-hari ini engkau merasa lelah meraih keberhasilan. Muhasabah sejenak. Mungkin saja engkau terlalu memforsir  tenaga & waktu untuk menyenangkan semua orang yang engkau temui tiap hari. Sementara syarat untuk menjadi orang besar itu, mesti ada segelintir orang yang tidak menyukai dirimu. Itu pasti!. Saya selalu mengingat kekata salah seorang trainer favorit saya.   


“Jika semua orang menyukai Anda,
berarti anda adalah anak kecil,
Jika semua orang tidak menyukai Anda
berarti anda adalah orang gila,
Tetapi jika sebagiannya suka dan beberapa lainnya tak suka,
Berarti mungkin Andalah calon Orang Besar selanjutnya.... “
_Setia Furqon Kholid_


_Rafiqah Ulfah Masbah_

Sabtu, 12 Februari 2011

Selipan Hikmah


 
Subhanallah... menarik mendengarkan celoteh teman-teman dikamar asrama salah seorang rekan sekelas saya di FKM siang ini.

Mereka asyik berbincang bebas tentang ayat-ayat Allah,  tentang jodoh, tentang doa, tentang Allah yang senantiasa memberi yang terbaik. Juga cerita singkat mengenai seorang hafidzh Qur’an yang ternyata punya pacar selama bertahun-tahun, (wah.. apa makna kalimat-kalimat Allah yang dihafalkannya tidak diresapinya yah?). Wallahu a’lam, yang jelas katanya sih barusan sudah putus. Astagfirullah... tinggalkan itu!.

Aduh... menariknya mendengar bincang polos dan tanya jawab unik dari gadis-gadis manis ini. Aku mengamati sambil tersenyum-senyum sendiri...
Ahh... bahagianya dalam kekata usil mereka masih terselip hikmah-hikmah Ilahiyah....

Menjadi makin terinsyaf tuk tidak selalu memandang semua orang dengan sebelah mata. Menjadi lebih semangat untuk terus berbuat, memberi dan memaknai setiap kebaikan...
Alhamdulillah... AllahuAkbar.... ^_^


_Rafiqah Ulfah Masbah_

Kamis, 10 Februari 2011

Celupan Kebaikan


 
Allah menganugerahi satu lagi hari yang indah. Teman-teman baru yang menyambut senyum pagi, berikut pujian-pujian indah.

Siangnya berkesempatan menyua jiwa-jiwa muda yang segar dengan berbagi sejumput ilmu.

Lalu menyengaja singgah menyapa ‘pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa’ yang membesarkanku.

Kemudian mendapati celah rezeki, justru ketika kantong mengering sementara qalbu berkeras sendiri untuk tidak meminta lagi.

Kala petang mememanggil memenuhi kewajiban diri dengan syair pujianNya, Ia menguatkan langkah kaki yang pegal tuk menemui hak kebaikannya juga.

Pintu rumahNya pun terbuka dengan megah sorak riuh gadis-gadis kecil menyambut tanganku berebutan. Seketika segala lelah rutinitas lantas terhapuskan. Sejenak lalu membersamai mereka, membagi tawa dan cerita, menyeksamai tingkah lucu. Nakal, dan serangkaian pola kecil yang unik. Lantas tersenyum...

Sepulangnya, salah satu gadis mungil disana menarik paksa tanganku lalu mengecup pipiku dengan riang. Semua tertawa berselingan. Aku juga. ^_^

Disepanjang malam ini, air mataku menetes lagi. Indahnya karunia Ilahi...
Seketika tersadar, betapa aku kaya, cukup dengan memiliki kalian, saudara-saudara yang bersetia menghias bingkai hidupku ini.
Terima kasih... Jazakumullah khairan katsiraa.... [~_~]

_F.I.Q.A.H_

Selasa, 08 Februari 2011

Racun Menghidupkan



Kuliah sore tadi...
Dosen saya menyempatkan diri menjajak cerita kecil dari sejarah silam.
“Dahulu,” tuturnya, “terdapat seorang Kaisar yang memulai suatu kebiasaan unik.” “Ketika itu ia mencoba menyicipi setetes racun. Berlangsung hari, seperti itu terus, dosisnya pun mulai ditambah sedikit demi sedikit,” “Sampai suatu hari, beberapa musuh hendak mencelakai beliau dalam suatu jamuan pesta. Diracuninya sang Kaisar dengan segelas minuman campuran racun keras. Tapi ajaib, waktu beranjak dan sang Kaisar tampil ‘baik-baik saja’. Mereka tercengang.”
“Satu pelajaran,”lanjut beliau dengan ukiran senyum, “ADAPTASI”.

Pikiranku lalu menerawang, betapa tubuh kita ini dirancang sedemikian apik olehNya. Sistematis jaringan, koneksi, dan mesin-mesin yang tiada pernah berhenti . si jasad kecil ini berorganisasi  saling membaca sandi, membentuk prajurit, membangun benteng, meng-update informasi. Semuanya, hingga tak membiarkan si empu-nya terserang pemberontak yang sejenis kembali. Malah unik, perbendaharaan alat-alat disana, semakin difungsikan semakin keras lajunya. Tak seperti mesin-mesin buah tangan kita yang lalu reot.

Kawan... Aku tak hendak meminta kalian mencoba meniru kebiasaan sang Kaisar, hanya hendak mengajak sahabat mengintip kecil dijendela hikmah yang semakin buram. Menatap penjuru ruang disana dari sisi-sisi lainnya.

Kawan...
Gantilah sesekali kacamata persepsi dengan bening yang lebih tajam.
Jadilah insan yang mau menatap jauh dari dudukan kita sekarang.
Kemudian mengerti, bergegas, berbeda!.

Jadilah kalian sahabat, ‘si penikmat-penikmat kepahitan’, ‘si penghayat-penghayat kelelahan’. Terus demikian,, rasakan seluruh penolakan-penolakan tubuh & jiwa. Lanjutkan saja, tak perlu hirau suara jerit mulanya. Lalu ‘paksakan senyum’. Kemudian rasakan.. semua semakin teduh, semakin tenang, semakin nyaman.  Dan hengkang masa, semua justru baik-baik saja. Lebih baik malah. Wah,, kenapa yah, jerit tadi berganti gelora hangat. Kembali mengambil jawab dosenku, “ADAPTASI!”.

Nah,, kalau sudah begini sahabat. Gak ada alasan untuk tidak memilih ‘Berlelah-lelah’ dong..??. Kan tubuh luar biasa kalian itu dimampukan berevolusi. Jangan disia-siakan hingga karatan begitu saja. Yuk..!! kita cicipi pahitnya perjuangan, tambahkan dosisnya. Dan HIDUPLAH!. BAHAGIA!!!. ^_^


Salam cinta...
RAFIQAH ULFAH MASBAH

Rabu, 02 Februari 2011

Hanya butuh satu kata : Selamat!



          Kita sangkakah bahwa penjajahan telah terganti merdeka, padahal budak-budak kebejatan nafsu masih meraja lela. Mungkin Perang Dunia yang besar itu tlah berakhir. Namun sejatinya ada pertarungan sepanjang masa yang tiada mengenal kata usai, disana sahabat, jauh dalam jiwa, sementara berkecamuk pertempuran rasa.
          Bagaimanakah mampu berkata, “Dunia ada digenggaman”, sedang bendera kemenangan diri belum terkembang. Sungguh tiada pernah yang benar-benar ingin kalah dalam hidupnya. Sungguh normalnya setiap kita memiliki pandangan indah di masa depan. Dan benar-benar hampir mustahil menjangkaunya tanpa kerahan juang yang memeras keringat, hingga mematah-matahkan tulang.
          Yah.. Entah bagaimana dengan kalian sahabat. Aku tidak ingin membahas kebengalan kita sekarang. Hanya ingin sejenak menghampiri bayangan di waktu depan. Taukah kalian sahabat, apapun hasil finish yang ada dibenak-benak kita, aku sungguh hanya tersenyum membayangkan 1 kata. Selamat!. Iya, Selamat!.
          Membayangkan kalian datang menghampiri dengan senyum terkembang, “wah.. selamat kawan. Hebat!”. Berbilang setelahnya, bocah-bocah kecil dirumah berlari-lari menyambut tanganku, “kakak....”katanya, “selamat yh k’, bangga aku jadi adikmu”, kemudian beberapa lagi datang menjitak kepalaku, “hei! Ingat tidak, dulu kamu cuma anak ingusan, kerjaan kita bertengkar sepanjang hari, sekarang kau sudah jadi luar biasa, dik. Hmm selamat sayang..aku dikalahin nih.” ^_^ Aku Cuma cengengesan. Ketika melempar pandangan sekeliling, aku kemudian mendapati 2 orang saling berpeluk, asyik menatapku dengan mata berbinar sambil tersenyum-senyum. Aku lalu berlari riang menghampiri dan mendekap mereka erat. Mereka terisak, seakan tak mampu berucap. Ku seksamai wajah mereka 1 per satu, bulir-bulir bening dimata mulai terjatuh, ya. Itu mereka, sahabat. Yang bertaruh jiwa raga demi kita. Itu mereka sahabat, yang air matanya tiada henti menjejaki pentas pertarungan kita. Dan kini mereka berdiri dihadapanku. Dan ini yang mereka katakan, kekata yang sungguh selalu kuimpikan. Dengarkanlah, sangat sederhana, “Selamat, nak. Selamat!. Terimakasih banyak yah!” Dengarkan sahabat, ‘Terimakasih’ kata  mereka. Siapakah yang sepantasnya berterima kasih disini, siapakah sahabat?. Tapi mereka mengatakannya. Sungguh aku mengerti, semua peluh terbayar dengan melihat keberhasilan kita, semua keringat mereka seolah tersapu, berganti air mata haru. Subhanallah. Luar biasa.
          Tapi ada 1 selamat yang paling kutunggu. Sungguh, dari semua orang, dari semua kata, dari semua hal didunia, aku sangat merindu panggilan 1 ini. Panggilan keselamatan yang teramat sangat indah. Indah...skali sahabat. Coba bayangkan Ia menyeru dengan suara lantang.
        ‘‘Yaaa ayyatuhannafsul mutmainnah,’’, “hai, jiwa-jiwa yang tenang” sapaNya, “Irji’ii ilaa robbiki roodhiyatammardhiyyah”, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”hatiku bergemuruh :-) ,”Fadhuli fii ‘ibaadi”, “Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,” lanjutnya. “Wadhulii  Jannati”, “Dan masuklah kedalam surgaKu”.....
        YaAllah..... air mataku tumpah. Subhanallah.... menghampiri angan tentangnya saja sudah sedemikian indah, membayangkannya saja, jantung sudah berdetak tak karuan, sahabat. Apatah lagi jika kelak benar-benar diserukan kepada kita. Sungguh segala gemerlap dunia tumbang menggantikannya.
          Yah.. Demikianlah finish yang kuimpikan dibenak sahabat. Ku bagi kepada kalian, sekaligus mengharap doa. Sedemikianlah bentuk harap di ujung usia dariku secara pribadi. Lalu, bagaimanakah bentuk angan kalian sendiri ?. :-)
          Moga bisa saling menyampai, hingga kelak berbagi satu kata, Selamat !! ^_^

_Rafiqah Ulfah Masbah_