Minggu, 27 Maret 2011

Seberarti Sengatan Nafas


         
Yang seringkali tidak disadari adalah
bahwa sikap Anda tidak hanya memberikan pengaruh pada kebahagiaan dan kesuksesan Anda sendiri,
tapi juga bisa mempengaruhi kesuksesan semua orang disekeliling Anda.
Sebenarnya sikap  itu menular, dan dari waktu ke waktu kita perlu bertanya pada diri kita sendiri,
“Apakah sikap ini pantas ditiru?”
_Mac Anderson_
  
        
          
         Salah satu hal yang paling menakjubkan tentang memiliki sebuah sikap positif adalah jumlah orang yang mendapat pengaruhnya. Sikap. Berbicara tentang ini, saya teringat ketika Benyamin Franklin berutara, “Kebahagiaan tidak tergantung pada hal-hal disekitarku, tetapi pada sikapku. Segala sesuatu dalam kehidupanku akan tergantung pada sikapku.”
Dalam salah satu catatan Setia Furqon Kholid, beliau bercerita tentang pengalamannya di sebuah restoran. “Setelah sholat saya berinisatif mengajak ayah, umi, dan adik-adik untuk makan di sebuah rumah makan yang cukup berkelas untuk keluarga kami.” beliau membuka ceritanya.”Ada kejadian menarik saat kami telah memesan beberapa menu makanan. Dari mulai waktu tunggu yang cukup lama, hampir 15 menit. Eh, ditambah lagi pesanan ayah belum masuk order, terpaksa lebih dari 45 menit harus kami ikhlaskan hanya untuk menyantap satu menu makanan. Bagaimana rasa masakannya? Memang enak sih, tapi kok, kenapa ya produk yang enak jadi kurang enak saat pelayanan banyak kesalahan dan mulai tidak ramah.
Setelah makan, saya ingin ke toilet. Namun ada sesuatu yang mengesankan. Saat akan masuk, sudah ada seorang lelaki separuh baya yang dengan ramahnya tersenyum, menyapa dan menunjukkan toilet pria pada saya. Lebih mengesankan dan unik lagi saat masuk toilet yang bersih itu saya mendengar ia sedang memutarkan murottal quran yang dilantunkan Syaikh Al-Mathrud dari speaker Handphonenya. Di dalam toilet, serasa di masjid deh... Ya, gimana nggak, walaupun murottalnya diperdengarkan di luar tapi terdengar nyaman di dalam. Lebih terpana lagi saat saya mendengar, sang penunggu toilet itupun sedikit demi sedikit mengikuti lantunan ayat yang dibawakan dalam murottal yang ia putar itu. Nampak seperti sedang mengulang atau menguatkan hafalannya, jangan bayangkan surat pilihan dalam juz 30 ya, saya yakin itu surat panjang, seperti Al-Baqoroh, Al-Imron atau sebagainya. Subhanallah...
Keajaiban tidak sampai disini Saudara-saudara,”lanjutnya.
“Awalnya saya siapkan dua logam bertuliskan Rp.500, saya berniat untuk menggantinya dengan satu lembar uang Rp. 5000. Saat mau melangkah keluar toilet, terdengar sang penunggu toilet sedang mengejar salah satu pengguna toilet yang memberi uang terlalu banyak, sepertinya sih Rp.50.000. Ia pun berusaha mencari kembalian dan mengejar sang Bapak, namun dari kejauhan sang Bapak berkata, "Udah, sisanya buat kamu saja.. terimakasih ya!". Dengan penuh kebingungan bercampur kebahagiaan ia pun menjawab, "Pak.. ini bagaimana... Terimakasih banyak Pak.. terimakasih".
Lihatlah!, Seberarti sengatan nafas, dengan keputusan yang kita buat, sikap yang kita tunjukkan, dalam cara-cara positif maupun negatif, setiap hari kita mempengaruhi kehidupan keluarga, rekan kerja teman-teman dan bahkan orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya.
Anda mungkin tidak menyadari bagaimana satu senyuman yang anda berikan kepada orang-orang setiap pagi, mengangkat semangat hati-hati yang sedih. Anda mungkin tidak pernah menyangka, bagaimana besarnya pengaruh sebuah selamat tulus yang anda berikan kepada rekan-rekan anda dalam pencapaian-pencapaian kecilnya bisa membangkitkan gairah mereka untuk berbuat lebih besar dan berkarya lebih baik. Anda mungkin tidak mengerti bahkan sebuah jempol di status teman-teman Anda misalnya, memberikan arti tersendiri bagi mereka. Anda mungkin tidak sempat memikirkan, bagaimana sebuah komentar singkat anda dicatatan-catatan saya, bahkan sekedar berkata “nice”. Amat sangat besar pengaruhnya untuk saya lebih bersemangat menggeluti hobi ini. Sebagaimana  William James berkata lebih dari satu abad yang lalu, “Penemuan terbesar dari generasi ini adalah seorang manusia dapat merubah kehidupan dengan merubah sikapnya.”. Ya. Kita sepakat dan saya rasa sudah banyak mendapati pembuktiannya. Dalam redaksi lain, John C. Maxwell juga mengambil sepakat dengan ujarannya “Sikap kita terhadap kehidupan, menentukan sikap kehidupan kepada kita.”

***

Selanjutnya, jika anda bertanya, bagaimanakah menyikapi orang-orang yang tidak kita sukai?. Simaklah perbincangan ini!.
“Bukankah tidak tulus,” tanya seorang mahasiswa, “Jika kita memaksakan diri memuji orang yang kita  benci, atau orang yang kita musuhi ?”
Orang yang ditanya itu tersenyum. Namanya George W. Crane, seorang dokter, konsultan, dan psikolog. Saat mengajar di Northwestern University di Chicago pada tahun 1920-an, dia mendirikan apa yang disebutnya ‘Klub Pujian’.
            “Bukan,” kata Crane masih tetap tersenyum. “Anda bukannya tidak tulus ketika Anda memuji musuh Anda. Karena pujian itu adalah pernyataan yang jujur atas sifat atau keunggulan objektif yang memang pantas dipuji. Anda akan menemukan bahwa setiap orang memiliki sifat baik atau keunggulan,”
            “Mungkin saja,” lanjut Crane dengan serius, “Pujian anda mengangkat semangat dalam jiwa orang-orang kesepian yang hampir putus asa untuk  berbuat baik. Anda tidak pernah tahu bahwa bisa saja pujian Anda yang sambil lalu itu, barangkali mengenai seorang anak laki-laki, anak perempuan, wanita, atau pria, pada titik penting ketika mereka-seandainya tidak mendapat sapaan itu-sudah akan menyerah.”
Ya. Seberarti sengatan nafas, Kemampuan kita untuk mengaca, melihat hal-hal baik dan keunggulan pada siapapun yang ada disekeliling, baik dia adalah sahabat ataupun musuh, akan memberi nilai kabajikan pada tiap hubungan yang kita jalin dengan mereka.

***

Berikutnya, kita juga belajar pada sejarah, bagaimana kehidupan Rasulullah dan manusia-manusia mulia disekitarnya. Belajar dari sikap bunda Khadijah misalnya, ketika Muhammad datang dengan wajah pucat dan gigil disekujur tubuh berkata, “Selimuti Aku...!”, sebagaimana kekhawatiran seorang istri, beliaupun memilikinya, tetapi mengambil sikap sehangat nurani untuk tidak memaksa bertanya, dan memilih membiarkan Rasulullah menenangkan diri. Kecil memang, biasa mungkin. Tetapi jika boleh berandai, Sangat memungkinkan kondisi Rasulullah semakin buruk seandainya dicecar pertanyaan-pertanyaan saat itu. Lalu bagaimanakah kabar wahyu yang baru diturunkan padanya?, ada kemungkinan tak tersampai pada kita.
Seberarti sengatan nafas, kita juga belajar dari keagungan seorang Abu Bakar Ash-Siddiq, dengan empat kata pamungkasnya yang membesarkan jiwa seorang utusan Allah yang didustakan oleh umatnya, “Ya Rasulullah, Saya percaya..!”. Singkat, namun disaat yang tepat, menjelma kekuatan pembesar jiwa, membidik tepat didasar hati Rasulullah yang gelisah.
Demikianlah, Sebagaimana sengatan-sengatan nafas, kita menjadi banyak belajar memenuhi kehidupan dengan arti lebih.
Sahabat, Seandainya anda mengerti, tidak ada waktu lagi dalam detik kehidupan ini untuk tidak tersenyum, untuk tidak bersyukur, untuk tidak berbagi. Karena ribuan terima kasih yang tak bersuara sebenarnya tengah mengiang dihati-hati orang yang anda sentuh tiap harinya. Seandainya anda mengerti, “Bukanlah benda-benda yang anda dapatkan,” kata Mac Anderson dalam bukunya The power of Attitude, “Melainkan hati orang-orang yang anda sentuh, yang akan menentukan kesuksesan anda dalam hidup.”
Jadilah kita seperti yang yang dikatakan William Arthur Ward berikut,
“Dia tahu kelemahan kita, tetapi menunjukkan kekuatan kita;
Dia merasakan ketakutan kita, tetapi membangkitkan keyakinan kita;
Dia melihat kekhawatiran kita, tetapi membebaskan jiwa kita;
Dia mengenal ketidakmampuan kita, tetapi memberi kita kesempatan.”
Begitulah mereka yang memilih sikap selembut Nurani.
Sekali lagi, sikap positif anda pada kehidupan, seberarti sengatan nafas didiri manusia yang tengah sekarat. Sikap adalah hal kecil yang membuat sebuah perubahan besar.
Salam semangatt!!

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Kamis, 24 Maret 2011

Organisasi. Epen kah?

                

               Berbicara tentang Organisasi kali ini. Penting gak sih?. Sebelum menjawab, kita bakalan berkenalan dulu dengan keanekaragaman Mindset pelajar tentang organisasi nih, Dikubu manakah kita? Yuk kita tengok satu persatu. Pertama, Jenis pelajar yang Terdepan dalam Organisasi, terbelakang dalam Ranking. Hmm.. Ini nih tipe Pelajar pencurah waktu dan tenaga sepenuhnya untuk Organisasi. Gak ada istilah capek deh selama itu dalam rangka kegiatan pengorganisasian. Tapi giliran dihadapkan dengan kewajiban utama dalam serangkaian proses pembelajaran kelas, loyonya minta ampun. Untuk pelajar ini, rasanya tidak sulit kita jumpai. Kita bakal sering-sering mendapati mereka gak masuk kelas dan malah nangkring diruang-ruang kesenian, gedung-gedung olahraga Sekolah, ada maupun tidak ada kegiatan. (Hayo merasa gak?). Saking cintanya kali yah sampai gedungnya pun mesti dijagain supaya gak kabur? Hmm.. Wallahu a’lam!.
                Kita lanjut ke tipe kedua. Nah, penganut tipe ini merupakan tolak belakang dari tipe pertama. Sahabat yang baik hati, banyak banget nih diantara pelajar saat ini yang berprinsip ngapain sibuk dengan hal-hal tidak penting semacam Organisasi. Istilahnya Study Oriented. Sekolah bagi mereka adalah untuk belajar dan mendapatkan hasil yang memuaskan, bukan untuk organisasi. Pokoknya papan besar sudah dipasang di dada, “ Organisasi NO!”. Jadi kerjaanya tuh belajar aja, sampai jadi kutu buku, dan berkutu, (hehe..ini sih jangan). Mindset ini tidak 100% salah sih, karena memang tanggung jawab kita sebagai pelajar yah mencari ilmu dan belajar sungguh-sungguh. Tapi rasanya sayang banget nih sahabat hidup di dunia sekolah jika kesibukan kita cuman sekolah, kantin,  rumah. Temen-temen saya biasa istilahin dengan PSK (eits! Jangan salah paham dulu!), maksudnya habis pulang, sekolah lagi, en kekantin gitu (maksa banget yah? hehe). Lanjut gan!. Padahal kalau kita pikir ada begitu banyak peluang yang terhampar, serta berjuta tantangan yang dapat melecutkan potensi terbaik dalam diri.

Apa sih keuntungan berorganisasi?

Ya, penting sekali manfaat ini diketahui untuk melandasi keyakinan kita  memasuki sebuah organisasi. Banyak sekali keuntungan yang sahabat akan dapatkan saat mengikuti organisasi intra maupun ekstra sekolah, diantarnya nih :

1.       Mendapat komunitas baru. Di organisasi yang biasanya berkumpul orang yang berbeda karakter dan lain sebagainya membuat kita lebih bijaksana melihat perbedaan, mengasah kecerdasan interpersonal serta memberikan peluang yang luas untuk mendapatkan ilmu, wawasan, bahkan mungkin saja teman-teman disana merupakan jalan rizki Allah untuk kita. Betapa tidak? Mereka yang berasal dari latar belakang berbeda-beda siapa tahu saja kedepannya mau diajak kerjasama untuk membangun dan memperluas usaha kita.Iya gak?

2.       Belajar menjadi pemimpin bijaksana atau pengikut yang setia. Nah, awal masuk menjadi anggota biasa di sebuah organisasi, kita harus mulai beradaptasi dengan kultur organisasi tersebut. Namun ingatlah bahwa organisasi dapat diibaratkan miniatur kehidupan yang akan mengasah kemampuan kita untuk bersosialisasi di masyarakat kelak. Di dunia profesi nanti pun ilmu-ilmu keorganisasian ini akan sangat bermanfaat buat sahabat sekalian. Sedikit bocoran, dalam dunia kerja, rating penilaian prestasi akademik itu hanya menempati urutan ke-16, yang paling pertama adalah keterampilan komunikasi,..., dsb. Sebagian besar adalah soft Skill dan semua itu bisa kita latih salah satunya dengan berorganisasi. Tapi jangan karena alasan itu kita menganak tirikan prestasi akademik yah, ilmu pengetahuan tetap yang utama. Oke?. Kembali kelaptop. (kepembahasan awal maksudnya. Hihi). Mungkin juga suatu saat sahabat diamanahkan menjadi leader dalam organisasi tersebut. Nah, Itu tandanya sahabat telah menjadi anggota yang berdedikasi tinggi. Hebat kan?. Tapi jadilah pemimpin yang bijak yah!. Kuncinya adalah kerjasama dan keteladanan memimpin.

3.       Memahami istilah-istilah keorganisasian, diantaranya blue print, visi dan misi, program kerja, AD-ART, organigram, rapat mingguan, evaluasi bulanan, sekaligus beberapa aturan organisasi (yang jarang denger pasti puyeng, kan?). Hal ini memberikan pelajaran berharga buat kita untuk menerapkannya juga dalam kehidupan pribadi bahkan perusahaan yang suatu saat nanti sahabat sekalian bentuk. Sebuah organisasi yang baik harus mempunyai goal setting yang  jelas mengenai arahan akan dibawa kemana organisasi tersebut. Jika organisasi yang hakikatnya benda mati mempunyai cetak biru, visi, misi dan program kerja, mana mungkin hidup kita yang sekali-kalinya dan tidak kenal istilah siaran tunda ini tidak mempunyai perencanaan dan arahan yang jelas. Bener gak, sahabat?

4.       Belajar dari organisasi lain. Biasanya ada program studi banding ke organisasi lain. Nah, ini amat bermanfaat untuk memperluas wawasan dan memperkaya ilmu kita tentang kelebihan organisasi lainnya. Ambillah yang terbaik dari organisasi tersebut dan usahakan untuk menerapkannya juga diorganisasi yang kita tempati sekarang. Biar organisasi kita makin maju dan berkembang. Eitt, tapi jangan lupa dengan modifikasi dan adaptasi yang dikomunikasikan dengan baik pastinya.

Agar berorganisasi tidak sia-sia

                Sebenarnya ini poin utama yang harus sahabat sekalian pahami sebelum berkecimpung lebih jauh di dunia pengorganisasian. Sahabat mesti tau Apa tujuan memasuki suatu organisasi, jangan sekedar ikut-ikutan, atau terkesan keren, apalagi kalau niatnya untuk menyisihkan pelajaran pokok. Wah, gak bener banget tuh kawan. Tancapkan tujuan mulia. Contoh “Saya ingin belajar dan berkarya di organisasi ini” atau “Saya ingin mengasah potensi untuk kesuksesan di masa depan”. Ingat, kita mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang kita niatkan. Jadi, kalau kita tidak mengetahui tujuan pasti dalam berorganisasi, sudah dipastikan sahabat gak bakalan menjadi apa-apa dan mendapatkan apa-apa, percaya deh!. Tambahan, sebaiknya sesuaikan dengan target hidup kita, supaya semuanya berjalan bersinergi dan saling menyokong satu sama lain. Ibarat bertujuan ke kutub utara, tapi melangkahnya ke kutub selatan. Dimana ketemunya coba?. Oke!.

Selanjutnya mulai list untung-ruginya, gak ada salahnya sebelum memilih memasuki suatu organisasi, sahabat cek n ricek dulu, tanya sana-sini, apa arah dari organisasi tersebut. Jangan sampai belakangan memproklamirkan diri dalam front terdepan pembela organisasi sampai titik darah penghabisan (lebay!) lantas tidak memahami betul seluk-beluk organisasi yang kita geluti. Semakin kita tahu, semakin banyak manfaat kan yang akan kita dapatkan. Semangatpun akan makin berkobar. Jangan lupa, ukur tingkat kerugiannya juga yah!.

Berikutnya pahami sistem pengaruh-terpengaruh. Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi. Akan ada saja kita dapati orang-orang yang berenergi negatif atau bahkan mempengaruhi kita bertindak negatif. Salah satu taktik menghindarinya, Buatlah warna tersendiri dengan keberadaan sahabat. Jadilah medan magnet positif  yang memotivasi tim yang lemah, hingga arus negatif itu bisa dibabat dengan baik.
Pesan terakhir, Jadilah yang Terbaik. Jangan sampai ada ataupun tidak ada kita sama saja artinya. Maksudnya, Jika sahabat ingin menjadi orang penting dalam organisasi, maksimalkanlah diri dalam tiap posisi yang sahabat duduki. Orang-orang besar itu adalah mereka yang memberi lebih dari yang dibebankan.

Biar mantap nih, yuk mulai hijrah menjadi bintang Organisasi, bintang kelas, dan bintang muslim yang cemerlang. Jadi, Organisasi, Epen kah?. Ya iyalah!. Sukses untuk kita, InsyaAllah.

_Rafiqah Ulfah MAsbah_

Sabtu, 12 Maret 2011

Hanya bagi yang berselera Tinggi


“Orang-orang yang mendapat
kemampuan mengambil penuh pikirannya sendiri
dapat mengambil apa saja
yang pantas menjadi haknya.”
_Benyamin Franklin_



Salah satu acuan menilai kesuksesan dalam buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin. Ciri orang gagal adalah mereka dengan mindset, buat apa kaya, punya rumah besar sementara anggota keluarga kecil, selain mubazir, juga sulit membersihkannya. Sementara orang sukses akan berkata, “Saya ingin menjadi kaya, dan membeli rumah yang besar, karena jika saya kaya, saya bisa menyewa pembantu untuk membereskan rumah saya. Mindset yang amat berbeda bukan?. Itulah bedanya mereka yang punya selera tinggi, yang mampu berpikir diluar pikiran melaratnya. Tapi seperti apakah patokan selera tinggi itu?.
Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul Turki berdiri sebuah Mesjid dengan nama paling aneh di dunia, yaitu “Shanke Yadem” (Anggap Saja Sudah Makan). Sangat aneh bukan?. Lebih aneh lagi karena Seorang yang tidak kaya, bahkan tergolong miskinlah yang kemudian mendirikannya. Ialah Khairuddin Afandi.
Seperti apakah mula kisahnya?. Begini, Khairuddin Affandi merupakan seorang yang wara’ dan sangat sederhana. Salah satu hal yang gemar ia lakukan ialah saat merasa lapar ia akan pergi ke restoran termahal yang ada, duduk manis sebagaimana biasanya, menengok menu-menu yang ditawarkan pelayan, menetapkan makanan maupun minuman yang sangat ia inginkan saat itu, lantas mengembalikan lagi daftar menu kepada pelayan sembari berkata dalam hati, “Yah..Anggap saja sudah makan.” dan meninggalkan restoran tersebut. Kemudian menyengaja memasukan uang yang ia punya senilai harga makanan yang hendak ia makan tadi kedalam tabungan pribadinya.
Begitupula Ketika ingin membeli baju baru misanya, Khairuddin akan sengaja mendatangi pusat perbelanjaan terbesar yang ada, mengambil beberapa potong pakaian kemudian mencobanya dikamar pas, Ketika dinilai cocok ia akan membelinya (dalam arti lain), dan membayarkannya ke dalam kotak tabungannya. “Anggap saja sudah beli!” batinnya selalu. Sisa uang yang ada akan ia pakai membeli pakaian yang lebih sederhana atau makanan secukupnya.
Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab.
Akhirnya, cita-cita amat mulia itu berwujud menghampirinya. Dalam diri Khairuddin, meski terbatas, dalam artian tergolong miskin itu, masih tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjid kemudian membuktikan bahwa ia bisa berhasil mewujudkannya. Tidak banyak orang yang menyangka bahwa Khairuddin ternyata orang yang sangat luar biasa. Tidak banyak bahkan orang yang kaya skalipun bisa berbuat kebaikan layaknya Khairuddin Afandi.
Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada Khairuddin Afandi. Mereka mencari tahu kisah awalnya. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi nama mesjid yang saat ini berkelimpahan jamaah setiap harinya ini dengan: “Shanke yadem” (Angap Saja Saya Sudah Makan).
Ketika kemudian ia diundang dalam penganugerahan penghargaan oleh Gubernur disana, Khairuddin dilempari pertanyaan tentang upayanya membangun mesjid yang tergolong menakjubkan itu. Ia hanya memberi kalimat singkat dengan seulas senyum penuh kebahagiaan. “Yang pasti, apa yang saya lakukan ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berselera tinggi.”. “Mereka yang berselera tinggi!” ulangnya. Subhanallah...
Maka ambil pelajaranlah wahai orang-orang yang menggunakan akal sehatnya!
(Q.S. Al-A’raf / 7 : 96)

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Jumat, 11 Maret 2011

Berhenti Mengekor! Jadilah kepala Bagi keberhasilan!



“Berikan saya 10 Pemuda yang Revolusioner, maka saya akan mengguncangkan dunia.”
_Ir. Soekarno_

Sering mendengar bahwa kualitas suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas pemudanya ?. Sering mendengar bahwa tonggak-tonggak perubahan selalu berada ditangan-tangan pemuda ?. Sering mendengar bahwa salah satu hal yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhir nanti adalah Untuk apa kita menghabiskan masa muda?. Sudahkah kita benar-benar menginsyafinya?, atau sekedar berlalu lalang di telinga tanpa meninggalkan jejak-jejak perenungan?

“Ada beberapa unsur dalam diri pemuda,” kata Ustadz Setiawan, “sehingga mereka selalu dikaitkan dengan fenomena perubahan sosial.
1. Pemuda dilengkapi dengan ide atau gagasan-gagasan yang segar.
2. Mereka telah mengalami kematangan secara fisik maupun mental.
3. Mereka tidak memiliki beban sejarah.
4. Pemuda memiliki obsesi untuk melakukan perubahan.”
Setiap kita dibekali unsur-unsur tersebut yang meski kadarnya atas satu dan lainnya berbeda-beda, namun pelejitannya akan selalu berpengaruh besar. Melanjutkan kata-katanya, Ustadz Setiawan lebih senang menyebut pemuda dengan istilah Agen of Social Engineering dibanding Agen of change. “Saya lebih senang menyebutnya demikian karena terdapat unsur sistematis pergerakan yang lebih disana.”

Pergerakan. Sebelum jauh berbicara tentang hal ini. Tengok kembali kalimat Soekarno berikut. “Berikan saya 10 Pemuda yang Revolusioner, maka saya akan mengguncangkan dunia.” Garis bawahi kata-kata “revolusiner” dalam kalimat tersebut. Tidak sekedar pemuda, yang benar-benar diperlukan sebagai jawaban dari segala carut-marut bangsa ini adalah Revolusi. Disinilah poinnya. Dan untuk semua itu, Pergerakan menjadi kunci.

Ketika kita mulai memahami hal ini, telusuri lagi dimana posisi pergerakan terbaik untuk mencipta suatu yang Revolusioner. Yup!. Tepat sekali. Di posisi KEPEMIMPINAN.

Alasan saya mengangkat Judul “Berhenti Mengekor, Jadilah kepala bagi Keberhasilan!” ini salah satunya karena saya yakin kita sepakat bahwa sistem kepemimpinan sampai lingkup terbesar di negeri kita jauh dari harapan dan gambaran sebenarnya di benak-benak kita. Untuk itulah kita berusaha agar posisi-posisi kepemimpinan tersebut diduduki oleh orang-orang yang tepat. Tepat memahami tanggung jawabnya, tepat dalam memaknai perubahan baik dalam skala individu maupun skala sosial, tepat mengerti celah-celah potensial bagi perombakan sistem, tepat mampu mengetahui sesuatu yang disebut Ustadz Setiawan tadi sebagai Unit-unit Rekayasa sosial dengan menciptakan momentum-momentum tertentu, juga tepat memaknai perubahan yang dimaksud sebagai perubahan yang bersifat substansif, bukan simbolis.

Namun untuk merebut estafet kepemimpinan ini ditinjau paling tidak dari beberapa hal,
1. Siapa yang paling banyak jaringannya
2. Siapa yang paling populer
3. Dan Siapa yang paling luas pengaruhnya.
Betapa tidak mudahnya menjadi pemimpin dengan persyaratan yang tidak sedikit, dengan tanggung jawab yang tidak kecil, setidaknya ia mesti memiliki daya terima juga ekstabilitas yang tinggi. Tapi kita harus. Karena selama estafet kepemimpinan itu masih berada ditangan yang salah, selamanya perubahan ke arah yang lebih baik akan makin terasa sempit.

Sahabat sekalian, Indonesia bukanlah Negara Islam,‘Tapi ini bukan masalah negara Islam atau bukannya, Ini tentang Pemerintahan.” tukas Ustadz Setiawan berikutnya.

Bacalah bait gelisah yang ditulis Salim A. Fillah dalam bukunya berikut ini..
andai yang memegang kebijakan
adalah ‘Utsman ibn Affan
dan yang mengkritiknya adalah
Abu Dzarr Al-Ghiffari
Kita pun masih berhak untuk khawatir
Maka jika mereka bukanlah keduanya
Perasaan apalagi yang tersisa? . . .

Sahabat, mulailah menyadari kebutuhan ummat ini, mulailah menyadari hakikat diri, mulailah menyadari bahwa jika bukan kita yang bergerak, siapakah lagi yang akan menjadi pioner-pioner perubahan?. Tidakkah iman kita sedikit saja merasa gelisah terhadap realitas yang menumpuk-numpuk kebathilan? Tidakkah ada secuil saja paling tidak hati kita tergerak untuk berubah?.

Dunia membutuhkanmu sahabat. Membutuhkan kita. Mungkin mahfudzat ini sudah sering terdengar, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir.”
Kita tentu tidak berharap kebaikan keluar sebagai pihak yang kalah dalam pertempuaran semangat dan eksistensi. Karena jika demikian, semua hal dalam risalah yang kita emban menjadi terancam.
Sadarilah ini. Lalu Mulailah bertindak. Sekali lagi kukatakan, Berhenti mengekor, Jadilah kepala bagi keberhasilan!.
Salam Semangat....

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Rabu, 09 Maret 2011

Teguran kedalam . . .


-->
Beberapa orang, dan beberapa hal memaksaku menuliskan ini.

Saya hidup untuk mencintai sesuatu
Saya dicintai untuk sesuatu yang hidup
         

Terkadang manusia terlalu menggampangkan mengatakan ‘CINTA’, hingga makin hari, maknanya makin memburam dan menyempit.
Aku hanya tahu satu jenis cinta. MencintaiNya, Mencintai untukNya, Mencintai yang dicintaiNya, dan Mencintai karenaNya. Tidak selainnya.
Jika hatiku tertarik, itu adalah fitrah. Tapi meneruskannya adalah nafsu menyesatkan.
Jika mencintai, ku artikan dalam sebentuk kedekatan tanpa ikatan halal, percayalah!, Aku bukan wanita yang baik!.
Jika jiwaku menuntut diri mencari sekepingnya yang lain, sementara ku pilih jalan untuk membangun interaksi lebih dengan laki-laki yang belum pasti untukku, bukankah aku zalim terhadap ketetapan terbaikNya?.
Ku katakan. Jika sampai aku melakukan itu semua. Percayalah, aku benar-benar bukan wanita yang baik.
Akan selalu ada jalan yang lebih lurus jika seseorang mengharapkan sosok yang baik dalam hidupnya.
Tugas kita cuma satu, bagaimana memantaskan diri untuk yang terbaik tersebut.
Bukankah firman itu sudah menjanjikan, “Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik..”, begitupun sebaliknya.
Jangan sampai kita menyalahkan takdir, sementara mungkin masalahnya ada pada diri kita sendiri. Dengan berleha-leha dalam perbaikan diri, waktu kesana pun menjadi makin terulur panjang. Mengapa?. Karena kita tampil sebagai seseorang yang tak pantas atas apa yang kita harapakan.
Tentunya dalam hal ini, sekali lagi, memenuhkan hati dengan hasrat-hasrat menyimpang bukanlah pilihan yang benar.

Ini adalah bentuk teguran pribadi.
Ku bagi...

 _Rafiqah Ulfah Masbah_

Selasa, 08 Maret 2011

Ketika Merindu yang Halal itu Semakin pahit

 
Seseorang membuka suatu perbincangan denganku hari ini. Pembahasan yang saya rasa selalu menjadi problematika bersama. Apalagi kalau bukan masalah, ‘CINTA’. Hhe..
“Dipernikahan kakak saya beberapa hari yang lalu,”ia membuka cerita,” ibu saya sempat menyinggung, supaya saya jangan menikah dulu sebelum lulus kuliah, lalu punya pekerjaan, dan dalam jangka yang waktu cukup lama gajinya bisa dinikmati dulu oleh keluarga,” tuturnya serius. Aku menyeksamainya menghela nafas, dengan maksud yang kurasa berbeda.  Lalu dengan tanpa dosa tertawa, tertunduk, tersenyum, hening.
           
            Anda tau mengapa?, karena mendengar penuturannya itu,spontan  saya langsung teringat sebuah cerita unik. Alkisah (hehe, kayak dongeng),  seorang pemuda dihinggapi gelisah disaat kuliah. Godaan yang mengancam agama dan kehormatannya terasa kian keras mendera. Puasa dan beraktivitas positif telah dilakukannya. Tetapi kadang justru itu! Aktivitas dakwah justru mempertemukannya dengan si jilbab biru yang selalu menunduk malu, si jilbab hitam yang elegan dan anggun, juga si jilbab coklat yang manis, lugu, dan lucu. Hatinya kian gerah. Maka kepada ayahanda dan ibunda dikuatkannya hati untuk berkata, “Pak.. Bu.. Boleh nggak saya nikah sekarang..?”, (bisa ditebak),  empat mata terbelalak di ruang keluarga hari itu. “Heh.. Ngomong apa kamu? Nikah! Nikah! Gundhulmu itu!”.
“Mbok ya sadar, Nak..”suara sang ibu terdengar lembut. “Kamu itu masih semester berapa?! Bapak dan ibu nggak pernah melarang kamu ikut-ikutan aktivitas.. Apa itu namanya.. ee?”
“Da’wah..”
“Iya Da’wah!! Tapi jangan aneh-aneh, belajar saja dulu sana yang bener. Tunggu kamu lulus kuliah dulu baru bicarain ini lagi!”.
“Tapi banyak godaan Bu.. Nggak kuat!”
“Puasa, puasa!! Katanya belajar agama, gitu aja nggak ngerti.”
            Ia ditinggal sendiri. Wajahnya panas. Matanya berkaca-kaca, maka dikibas semua keinginan itu sampai ia benar-benar meraih sarjananya.
Setelah gelar disandang, ia kembali datang menagih ke orang tuanya, “kapan pak, bu, saya dinikahkan?”. “Eh, lulus itu artinya kamu pengangguran baru!, kamu cari pekerjaan dululah Nak, memang anak gadis orang mau kamu kasih makan apa?”. Yah.. dayung tak sambut, maka kecewa kembali menepi. Tapi si pemuda tetap membangun semangat itu dilubuk hatinya.
Beberapa tahun kemudian, si pemuda sudah menghadap ke orang tuanya dengan uang di dompet (eh, itu sih sudah pasti , hhe ). Dengan penghasilan yang bisa dikatakan cukup maksudnya. Nah.. lagi-lagi si pemuda menagih janji, “Kapan nih saya dinikahkan? Kan sudah dapat kerjaan pak, bu?”.  Tapi begitulah fitrah manusia, tak pernah puas. “Aduh nak, kamu itu masih muda, kerjaan kamu aja masih serabetan gitu. bekerjalah lebih giat!”, “Lha, kamu itu berangkat kerja saja masih pakai motor yang Bapak belikan. Nanti ngomongin nikah kalau kamu sudah punya mobil, rumah..”. hmmm.... dan yah.. kekecewaan kembali menyapa (haha.. lebay! ).
Waktu berjalan, selang beberapa tahun setelah itu. Si pemuda tadi datang kembali menemui orang tua, namun kini dengan kunci mobil ditangan, dan kunci rumah yang besar (maksudnya rumahnya yang besar  ^_^). Si pemuda yang sudah gregetan  itu dengan nada memelas, tapi lebih tepat dikatakan memaksa sih, kembali menagih janji. “Bu, pak. Sekarang apa lagi? Kapan saya dinikahkan???!!!!!!”. Bapak dan ibunya menunduk, dengan paras menyesal, mereka berkata, “Aduh nak, sekarang umurmu sudah 50 tahun, siapa yang mau??”.
Astagfirullah.... (haha...) Tolong izinkan saya tertawa sejenak. Maafkan  jika dinilai lancang. Tapi kisah diatas, memang menggelitik. Tolong masukkan kisah ini ke dalam daftar hal-hal yang tak boleh terjadi dalam kehidupan anda.       
Benturan-benturan dalam hal ini memang amat rawan terjadi. Kita selalu dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang sulit. Ini bukan soal patuh atau tak patuh, taat atau membangkang orang tua. Masalahnya ada pada kemandirian kita. Bangunlah ia sejak kini, agar kita memiliki kuasa atas pilihan-pilihan kita sendiri. Mulai dari visi yang jelas, masa depan yang terencana, kedewasaan, dan keberanian bersikap.
Sebelumnya kita kembali ke teman saya tadi. Saya kembali menengok wajahanya sejenak. Saya paham, yang paling dibutuhkannya bukanlah kalimat pembenaran atau sanggahan ataupun tanggapan. Saya merasa dia hanya butuh sesuatu yang menenangkan hatinya. Karena saya tahu betul dia jauh lebih memahami hal ini dari saya sendiri.
“ Lantas menurut kakak bagaimana?” tanyaku singkat. “Saya sih tidak mengambil pusing hal itu. Semua tergantung bagaimana keadaan kedepannya.”. “Jadi dimana letak masalahnya?” selidik saya. “Begini, sebenarnya saya itu sudah punya calon, tapi tidak tau mau atau tidak sekiranya saya minta menunggu saya beberapa tahun lagi.” . Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya,   Saya menyeringah tiba-tiba. “Kak, meminta seseorang menunggu semacam itu, apa bedanya dengan menetapkan sendiri siapa jodoh kita. Sementara semua itu belum pasti sama sekali.” cecarku,(entah mengapa hatiku panas mendengar kata-katanya). “Jangan mendahului takdir Allah kak.”. “Iya, saya mengerti, itulah masalahnya, saya tidak mungkin menikah sekarang, sementara kuliahku belum selesai, pekerjaan juga belum ada.”sanggahnya.
Saya menunduk dan kembali menghela nafas, hanya tidak menyangka dia berkata seperti itu didepan saya, kepada saya. Tapi Saya tidak mau menebak apa-apa. “Kak.. apa kakak yakin orang yang kakak bilang calon itu sudah pasti jodoh yang terbaik nantinya?.” Saya  bertanya tanpa menunggu jawaban apa-apa. Saya mulai mengerti,  dia sedang mengkhawatirkan masa depannya. Karena merasa mulai kurang sehat, saya kembali mengangkat bicara & menutup perbincangan itu. “Tidak perlu risau dengan hal-hal yang akan terjadi kedepannya, masalah jodoh itu adalah sesuatu yang bagi setiap orang sudah tergariskan. Tugas kita adalah berikhtiar, terus memperbaiki diri. Biar Allah yang menggambarkan jalur-jalur indah untuk kita sampai pada saat yang tepat. InsyaAllah sudah ada gadis mulia yang disiapkan disana. Dan sebelum waktunya itu tiba, bersabarlah kak!”. Dia menunduk lebih dalam.
            Kita tinggalkan cerita saya diatas.  Ada sebuah kalimat indah  yang selalu mendamaikan hati saya lalu mengetuk pintu-pintu penginsyafan disana ketika mengingatnya.
Setiap kita berhak mendapatkan pendamping yang sholeh,” tutur seorang wanita bijak suatu ketika, “namun terlebih dahulu, Jadikanlah diri kita pantas untuk untuk dipersandingkan dengannya kelak.
Yah.. yang perlu kita risaukan bukanlah keterhijaban didepan, tapi keadaan sosok yang kita lihat dicermin setiap harinya.Adakah ia pantas bersanding seorang mulia disana?. Silahkan sahabat pilih jawabannya... {-_-}

_Rafiqah Ulfah Masbah_