Jumat, 29 April 2011

Mengalirkan Kekaguman


Anda bisa mendapatkan teman lebih banyak dalam dua bulan
Dengan menjadi tertarik pada orang lain,
Daripada dalam dua tahun
Dengan mencoba membuat orang lain tertarik pada Anda.
_John C. Maxwell, Winning with People_


 
Ada seorang mahasiswi yang biasa-biasa saja, jarang aktif dalam diskusi kelas bahasa Indonesianya, Tapi dia sangat senang duduk di depan, tepat didepan dosennya tersebut. Dia akan selalu berfokus terhadap apa yang dikatakan dosen itu. Hanya seperti itu. Tapi beruntung, dengan begitu ia selalu bisa mencuri mata sang dosen. Hmm,, entahlah.
Satu lagi, Lalu setelah kuliah selesai, mahasiswi ini punya kebiasaan pulang belakangan.Sampai dosen itu juga keluar.Ia selalu menyempatkan menyapa dosennya, Dan ia menyadari satu hal, dosen tersebut sangat senang bercerita.Ketika ia membuka sedikit saja celah perbincangan, dosen itu akan siap berbicara panjang lebar.
Itu adalah kali pertama, saat mahasiswi tersebut bersama teman-teman lainnya harus mendengarkan dosennya itu berceloteh berjam-jam.Ia ingat betul, kuliah selesai tepat pukul 03.00 pm dan perbincangan itu berakhir baru pada pukul setengah 6 lebih. Yang bersisa hanya mahasiswi itu, selebihnya sudah berguguran satu per satu.
Berjalan beberapa minggu selalu seperti itu, meskipun tidak rutin perminggu, teman-teman yang lain yang kebetulan mendapati mereka, hanya bisa geleng-geleng kepala. Entahlah, mungkin mereka berpikir, “tahan juga yah kamu!”. Ah, biarlah. Ini tidak sepenuhnya tentang apa yang dosen itu bicarakan, mahasiswi itu juga tidak pernah sampai hati memotong perkataan sang dosen yang nampak sangat bersemangat, yang seolah lupa dengan segalanya jika sudah berceritra panjang-lebar. Kita menemukan satu hal. penghargaan.
Ia akan selalu menyediakan waktu untuk perbincangan yang seolah satu arah itu. Ia hanya sesekali mengangguk, dan menghayati secara serius apa yang keluar dari mulut sang dosen, terkadang tersenyum, sesekali haru. Dan uniknya, si dosen bahkan tidak mengetahui nama sang mahasiswi, juga tidak pernah bertanya. Ia hanya selalu berkata, “Kalau saya sudah cerita seperti ini, janji saya saja kelupaan, saya sangat senang bisa berbagi dengan orang-orang yang mau belajar.” Kemudian tersenyum, dan kembali melanjutkan ceritanya.
Sekali bicara, saya yakin jika dituliskan bisa jadi satu buku, hmm.. ^^
Sampai satu waktu, mahasiswi ini tidak masuk kuliah karena sakit. Minggu berikutnya, mahasiswi itu kembali masuk, tapi karena ada keperluan, ia berniat untuk langsung pulang. Tepat saat itu, si dosen memanggil, “Sebentar, minggu lalu kamu kemana? Tidak masuk kuliah kan?”. “Iya, bu. Saya sakit.”, “Oh kamu sakit.” tatapnya dengan wajah prihatin, “Saya kira ada apa-apa, habisnya kebetulan saya tidak melihat kamu dikelas. Saya cari-cari, takutnya kamu malah ada yang ajak macam-macam.” matanya teduh.
Seketika terbitlah dipikiran sang mahasiswi, “wah, sampai segitunya?. Saya bahkan mengira dosen ini tidak pernah memperhatikan saya.”
 * * *
Ya, pelajaran mendasar,menjadi berharga dengan mendengarkan. Kita mungkin bukanlah siapa-siapa, tetapi ketika seseorang mendapat penghargaan, kau akan memiliki tempat diperhatiannya. Saya baru mendapati fakta ini, kecerdasan bukan satu-satunya hal yang membuat dunia melihat dan menyeganimu. Engkau mungkin bisa mencuri mata dengan pesona, tapi tak mampu menakhlukkan hati tanpa kharisma.
“Inilah salah satu fakta paling mendasar,” ujar Dale Carnegie dalam  How to Influence People and Win Friends, “Dalam kejiwaan manusia. Kita tersanjung oleh perhatian yang diberikan oleh orang lain. Kita merasa istimewa. Kita ingin berada ditengah-tengah orang yang tertarik pada kita. Kita tiDak ingin berpisah dari mereka. Kita juga dengan bahagia akan membalas ketertarikan mereka dengan menunjukkan rasa tertarik pada mereka.”
Oh ya, saya sampai lupa memperkenalkan, si mahasiswi itu kebetulan sedang menulis catatan ini.. :-)

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Senin, 25 April 2011

START For STAR


Kita tidak perlu menjadi HEBAT untuk
bisa MEMULAI sesuatu,
tapi kita harus MEMULAI sesuatu untuk menjadi HEBAT.
Mira Lesmana



            Sudah fitrah manusia penuh kekurangan disana-sini. Tak selalu benar dalam memilih. Dan tak harus selalu berhasil ketika bertanding. Kita diikat oleh takdir. Tapi Allah Mahabaik. Pilihan-pilihan selalu hadir untuk kita jalani. Dan sekali lagi, bagaimana nasib kita dalam hidup dan setelah mati kembali kepada diri kita pribadi.

            Namun disinilah masalahnya, banyak manusia seolah hidup untuk diri sendiri. Dan lupa, bahwa setiap keputusan yang ia ambil detik ini selalu memberi pengaruh bagi orang lain.

            Maka diawal, saya mengajak sahabat sekalian untuk berhenti menunggu kesempurnan. Hanya memulai. Sebagaimanapun kapasitas diri. Bukankah kita adalah jama’ah yang selalu saling melengkapkan yang lain ?.

Kita mungkin bukan siapa-siapa yang tiba-tiba hadir disini. Tidak dengan kapasitas keilmuan yang tinggi, tidak dengan kompetensi organisasi yang memadai, juga tidak dengan ketangguhan fisik yang baik. Lebih-lebih mempertanyakan eksistensi. Ketiadaan kita mungkin awalnya tidak berarti, kehadiranpun tidak menjadi solusi.  Ya. Apapunlah. Tak perlu membahasnya terlalu jauh. Karena saya sendiri sudah terlalu tersinggung. (Kelihatannya saya memang sedang membicarakan diri sendiri sih ^_^).

Biarlah dunia memandang sebelahmata, tapi Allah Maha Melihat manusia-manusia yang mau belajar. Manusia-manusia yang mau berusaha. Seberapa jauh pun mereka tertinggal, jangan lupa. Setiap orang butuh berhenti sekali-sekali. Dan selalu ada kemungkinan untuk menyusulnya kembali.

Berhenti menunggu kesempurnaan. Hanya memulai. Karena setiap orang punya kompetensi berbeda-beda. Dan kita bertindak sesuai dengan keahlian yang kita punya. Bermanfaatlah dengan segala yang kita bisa. Memberi dari kelebihan mungkin hal biasa yang sudah seharusnya dilakukan. Namun, ketika memberi dari kekurangan kita, disinilah pemaknaan hidup yang lebih tinggi lagi. Sekedar mengutip sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Memulai adalah suatu pekerjaan terhormat. karena terlalu sedikit bahkan yang terbilang cukup yang bersedia segera melakukannya.”

 Sahabat, Dalam barisan dakwah ini, mungkin saja ujian terbesar yang selalu kita pahami adalah konsistensi. Ah, ya. Tapi kita mungkin lupa. Bertahan itu dilakukan setelah memulai sesuatu. Dan, mirisnya, wabah yang belum berkesudahan di negeri tercinta ini adalah masih, “Ogah” dan “Nanti”. Kepengecutan untuk menyudahi pertimbangan-pertimbangan yang terlalu banyak dan alasan-alasan yang dibuat-buat.

Sekali lagi, Berhenti menunggu kesempurnaan. Hanya Memulai. Memulai untuk belajar, untuk memikirkan, kemudian paham, lalu mulai menanam paradigma besar, dan mulai bertindak dengan indah. Dari permulaan-permulaan itulah kita belajar. Mampu membedakan yang salah dan benar. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling nyata dan bijak?.

Mengutip kata-kata bertenaga seorang ulama besar, Syaikh Amjad az-Zahawy : “Dunia islam kini tengah terbakar, kewajiban kita adalah memadamkannya sesuai dengan jangkauan tangan kita, tanpa menunggu yang lain...”. Maka mulailah sekarang juga. Karena Islam tidak bisa menunggu lagi sampai kita sarjana, master, insinyur, dokter, profesor, untuk menyampaikan ilmu dan memberi pembelajaran. Dakwah ini hadir untuk siapa saja yang peduli, untuk siapa saja yang mencintai kebenaran, dan untuk siapa saja yang memilih kebaikan sebagai jalan hidupnya. Regas semua ketakutan. Sejak awal Allah telah menyemangati kita. Ingatkah, bagaimana kita diberi kekuatan untuk berteriak sekuat tenaga, menggetarkan bumi & alam semesta ketika pertama kali dilahirkan. Kita mengepalkan tangan sebagai tanda siap berjuang. Azan dilantunkan di telinga kanan dan ikamah ditelinga kiri sebagai perintah untuk mencapai kemenangan... Hayya ‘alal Falaaah... Maka jelas, indikator dalam kehidupan ini adalah perjuangan.

Maka Mulailah disini, dijalan yang mungkin sedikit dilalui, yang tak ramai, terlebih dihampari duri yang selalunya membuat hati merintih. Tapi biarkan ayat satu ini senantiasa melantun sebagai motivasi penggugah semangat.
“Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum....”
(“Jika engkau menolong agama Allah, niscaya Allah menolongmmu dan meneguhkan pijakan kakimu...”). QS. Muhammad :7

Jika engkau masih merasa bahwa segala yang ada di sekitarmu gelap & pekat, 
tidakkah dirimu curiga 
bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? 
berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, 
sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, 
maka berkilaulah!

            Saya  jadi sangat bersemangat meneriakkan slogan ini,
“with ForStar???, be a STAR!!!!!”. Allahu Akbar!!!! J
Semoga bermanfaat.... ^_^

Rafiqah Ulfah Masbah


Rabu, 20 April 2011

Memungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang



Aku menghambur disela kerasnya jiwa
Memungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.

Menyesakkan kala mengingat penghisaban pertama.
Sementara Aku tak pernah mampu sampai di tingkat kekhusyu’an teratas, Rabb.
Makin lengkap kefakiran ini.
Maka kupungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.
Meski tak pernah cukup menambal dosa.
Menutup nista.
Ah biarlah.
Setidaknya kutahu,
“Innassholata tanha ‘anil fahsyai wal mungkar”.
Dan Cukuplah ini menjadi alasan.

Maka kupungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.
Karena Aku merindu setitik saja cintaMu.
Sebagaimana firman ini melantun syahdu:
Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku sukai
 daripada amalan yang telah Aku wajibkan atasnya.
Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan  ibadah-ibadah sunnah,
 hingga Aku mencintainya.
 Bila Aku telah mencintainya,
Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar,
menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat,
 menjadi tangannya yang dengannya ia memukul,
 dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan.
 Bila ia meminta, pasti kan Ku berikan.
Bila ia memohon perlindungan, maka pasti Ku lindungi ia.
Tidak pernah Aku merasa bimbang sebagaimana ketika Aku mencabut nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian,
sementara Aku tidak ingin menyakitinya.”

Ah Ya, Maka Aku semakin bersemangat memungut serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.
Dihamparan ketidakpantasan,
Aliran harap inipun tak pernah kering,
 menanti panggilan termanis.
“Yaa Ayyatuhannafsul Mutmainnah!
 irji’i ila robbiki raadhiyatammardhiyyah.
Fadkhuli fii ibadi.
Wadkhuli Jannatii.”
Sekujur tubuhku bergetar.

Ah Ya.
Maka kujemput berkahMu dengan serakan-serakan pahala yang banyak manusia buang.

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Selasa, 19 April 2011

DARI TULANG RUSUKMUKAH JELMAAN INI?




Entah dari tulang rusuk siapa gadis belia itu terjelma.
Hmm..
Perjalanan menemu jawab itulah masalahnya.
Disetiap jengkal ada saja yang membuai imannya.
Di tepi jalan sana misalnya,
Berdiri gagah si rupawan melempar senyuman
Ketika membuang wajah,
Waw, seorang berjas lengkap telah siap meniup lembar-lembar rupiah dengan angin terlembut.
Dia menunduk,
Oh, sebuah lubang menganga,
Nyaris dia terjerembab  jika beranjak selangkah saja dari jalur utamanya.
“Hufff!!! Untunglah.”
Ia melompat kecil.
Ah, dia tergelincir di teras rumah seorang asing yang nampak mulia,
ia dibantu berdiri.
Menatapnya sejenak.
Dan “plak!”,  Tangan si asing menampar.
“Argghhhh... Bodohnya mempercayai.”
Ia bergegas pergi,
lari sejauh mungkin dari tempat nestapa itu.
Tidak lagi fokus, tidak lagi mau menengok.
Ah tidak. Kesalahan fatal.
 Tangannya tertangkap si hitam manis berbadan besar dan tegap ditengah jalan.
Terlambat, secangkir racun dipaksa terteguk,
Makin lama jiwanya melemah, tak bisa lepas, nyaris... sekali nafasnya habis.
Tapi dia belum kalah,
Si sutradara mengeliminir salah satu pemainnya.
Hoho,, si gadis selamat.
Sungguh tak terduga. Ia bebas!!
Belum selesai.
Perjalanan dilanjutkan.
Samar-samar, seorang berkacamata dengan rambut cepak menghampirinya ditengah jalan.
Nampak serius, pelan namun pasti memuntahkan ber ton-ton rumus-rumus tak jelas mentah-mentah.
Terkesima, hampir-hampir mabuk.
Dengan lunglai ia menembus tumpukan ke takjuban itu dan coba tegak kembali.
Sejauh ini, sudah sangat melelahkan.
Ia berhenti sejenak, coba mengatur nafas.
khusyu'.
Ia menutup matanya.
Oh, oh, no!
Terdengar sesuatu.
Nada indah darimana lagi itu?
 Oh Tuhan, buaian syair si mulut manis.
“Cukup sudah.”
Ia mulai muak dengan semuanya.
Ia memutuskan untuk sejenak singgah ke mushallah kecil di perempatan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Berharap mendapatkan ketenang.
Ah,ah, tidaaak. Sungguh justru tempat itulah sarang godaan terbesar.
Si gamis hitam yang yang khusyu di sujudnya,
Si gamis putih yang tampak tenang dan menawan,
Si gamis biru yang selalu menunduk.
Si gamis merah merdu melantunkan harmoni kalimatullah.
Oh sungguh justru disinilah masalahnya.
Hatinya kian gerah.
Di dudukannya itu ia menangis,
Mengaduh, kalut.
Tapi sebentar,
Seorang yang samar nampak melambai padanya dari kejauhan.
Seolah bergumam,
“Bersabarlah. Menunggulah sebentar lagi, kan kujemput engkau dengan berkah.”
Senyum si gadis mengembang.
“Aku akan bertahan. Siapapun dirimu, kan ku tunggu..”
Kelegaan kian menyiram semangat.
“Tapi berlarilah cepat. Jangan terlalu lama.”
Ia menunduk dalam.
Haru.
Ooops tunggu dulu, apa aku sedang membicarakan diriku..?? ^_^

Rafiqah Ulfah Masbah

Sabtu, 02 April 2011

Disaat tangan Seringan Angin

Hidup adalah seni
tentang memberi dan menerima.
Kita bisa HIDUP dengan apa yang kita DAPATKAN,
Tapi bisa MEMBUAT KEHIDUPAN dengan apa yang kita BERIKAN.
_Waldjinah, Maestro Keroncong_



            Pernahkah kita mendengar seorang dermawan jatuh miskin?. Pernahkah kita mendapati ahli sedekah makin melarat hidupnya?. Sayangnya saya belum. Anda sendiri bagaimana?.
Sekarang, kita semua, mau tidak mau, akhirnya terpaku pada uang. Kita sering mendengar bahwa bukan uang yang menjadi akar semua kejahatan, melainkan kecintaan pada uang. Yah, kita semua memang senang pada uang. Dan sebagai akibatnya, kitapun selalu merasa kekurangan uang.
            Sahabat, saya merekomendasikan anda untuk membaca buku Anda Sebenarnya sangat Kaya, karya Steve Henry. Dalam buku tersebut, penulis mencoba mengungkap sistem nilai baru. Sebuah alternatif selain sistem keuangan murni. Analisis harga secara kualitatif terhadap detil-detil pada diri dan kehidupan. Kita akan menemukan bahwa betapa kita terlalu kaya untuk tidak berada pada posisi memberi.
Lalu atas alasan apa kita memberi beban pada tangan-tangan ini untuk sampai pada takdir kebaikannya?. Tidakkah kita bersedia menyiapkan rangkaian kata indah yang akan dilantungkan tangan-tangan ini ketika tiba masa persaksian baginya kelak?.
Dengan penuh kerendahan hati, tolonglah saya, tolong bantu saya membuktikan pada malaikat-malaikat Allah bahwa kita layak sebagai manusia. Bantu saya membuktikan bahwa kita diciptakan tidaklah sia-sia seperti ketika mereka mengatakan, “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?"  Allah hanya berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Tidakkah indah ketika kita mendengar sejarah saat kaum muslimin bahkan tidak tau harus bersedekah kemana lagi karena seluruh rakyat hidup sejahterah. Dan betapa tidak menyakitkan menemui negeri tercinta ini menjadi satu dari pemegang gelar negeri termiskin di dunia.
“Khoirunnaas Anfa’uhum Linnas”, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Memberi tidak harus selalu dalam bentuk harta, terlalu banyak detil dari diri & sekitar untuk disedekahkan. Tabassumuka fii wajhi ahika shadaqah. Senyumpun adalah sedekah. Tutur kata yang baik, menyenangkan orang lain, mendoakan sesama, semua adalah sedekah.
Islam  sangat indah mengajarkan kita tentang mulianya berbagi. Ingat kisah orang-orang Anshar yang oleh Rasulullah dipersaudarakan dengan kaum Muhajirin. Sa’ad ibn Ar Rabi’ tampil dengan tidak tanggung-tanggung membagi 2 seluruh miliknya pada Abdurrahman ibn ‘Auf yang baru saja dipersaudarakan dengannya. Bukankah indah sejarah dihamparkan oleh Allah untuk kita ambil pelajaran?.
Memberi dari kelebihan mungkin hal biasa yang sudah seharusnya dilakukan. Namun, ketika memberi dari kekurangan kita, disinilah pemaknaan hidup yang lebih tinggi lagi.
Jangan terlalu lama merenung. Kini, apa yang kita miliki sudah saatnya kita bagi. Bagaimanapun dari semua milik kita saat ini bertengger sebagian hak orang lain, kan?. Yuk berfastabikul khoirat. Karena sungguh perbedaan antara pengertian hemat dan pelit hanya dibatasi selaput yang sangat tipis.
Hmm... disaat tangan seringan angin, sejahterahnya negeri ini... ^_^
Selamat memberi... :-)

_Rafiqah Ulfah Masbah_