Rabu, 18 Mei 2011

Membaca lagi ‘Keistiqomahan’ diri


Sore ini aku menangis, akhirnya terhayat lagi salah satu nasyid ini :

Sekeping hati dibawa diberlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Didepan matamu para pejuang.

Tapi, jalan kebenaran tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda,
Ada  perangkap menunggu mangsa.

Akan kuatkah kaki yang melangkah,
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang menatap
Pada debu yang pasti kan hinggap.

Berharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan ditengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba.
_Suci Sekeping Hati_



            Allahu Rabbi, benarlah. Jalan-jalan kebenaran ini bukanlah seperti hamparan permadani surga, tapi hamparan duri yang menyembilu sampai ke tulang-tulang. Semakin kami berusaha berlari menuju-Mu ya Allah, semakin tak rela dunia melepaskan pegangannya.
Allahu ya Karim..Maka benarlah, jalan kebaikan ini memang bukanlah jalan-jalan yang ramai, yang dipenuhi sesak. Melainkan hanya sedikit, sepi sekali. Karena memilih jalan ini berarti siap memasuki pusaran hutan yang ganas. Tak semua bisa keluar dengan selamat.
Allahu ya Rahman, maka hari ini aku menangis lagi, saat seseorang mengajakku merasai, memaknai ‘istiqomah’ itu kembali. Ahh,, sungguh betapa beratnya satu kata ini. Berat sekali. Seperti membayangkan membawa gunung dipundak sementara harus berjalan diatas duri yang tajam. Ahh,,, sakit sekali,  ya Allah. Berat...sekali.
Maka biarlah kali ini aku menangis Rabb. Menangis saja. Bukan untuk meratapi diri. Tapi agar aku bisa menyiram kembali hati. Memurnikannya lagi.
            Aku bahkan tak tahu, sampai kapan akan berdiri. Aku bahkan tak pernah tahu, lubang apalagi yang siap menyergap diri. Aku bahkan tak tahu sama sekali, masihkah saat ini aku berjalan dijalan yang benar. Ataukah memang tak pernah benar, karena hanya aku ‘benar-benarkan’.
            Duhai Rabbi, maka dimanakah lagi hamba mengadukan kefakiran, kebodohan, dan kelemahan ini melainkan hanya padaMu saja ya Allah. Sang penggenggam keadaan.
            Duhai Rabbi, sungguh aku tak bermaksud bagiMu untuk mengurangi bebanku. Tapi hanya agar aku diberikan hati yang lapang untuk menerima segala cerca, untuk menampung segala ketaksukaan, untuk menempatkan semua rasa kecewa. Karena aku takut ya Allah, jika aku bahkan tak memiliki ruang-ruang untuk kekecewaan tersebut. Karena aku takut ya Allah, justru itulah yang membuatku jatuh dan makin terpuruk.
            Duhai Rabbi, Aku melihat segalanya berubah begitu saja, kian cepat, dimana saja, dan bisa dengan segala cara. Aku mungkin baru saja melangkahkan satu kaki. Dan orang-orang seperti sudah hendak melemparkan batu ke wajah ini. Ah tidak. Bagaimana mungkin aku mengeluhkan itu. Ah tidak. Bagaimana mungkin aku menjadikan ini alasan untuk berhenti sampai disini. Ah tidak. Bahkan Rasul yang paling Kau cintai sekalipun itu punya cerita yang lebih pedih sebelum ini. Ah tidak. Bahkan RasulMu yang paling lembut hati itu saja, harus berpeluh ujian hidup sedemikian keras. Bagaimana mungkin aku mengeluh?!.
            Maka ku baca lagi keistqomahan ini, aku memang tak mungkin berharap seluruh manusia dimuka bumi ini berjalan di jalur yang benar, Aku memang tak bisa memaksakan semua orang untuk mau melihat bahkan peta pegangan yang Kau berikan, Aku memang tak mungkin, tak mungkin. Karena isi kepala setiap orang itu sengaja Kau ciptakan berbeda. Karena yang dirasakannya pun tak sama. Karena bahkan jikapun kami saling mencintai, ekspresinyapun berbeda. Ah ya, mungkin itulah kenapa yang selalu diperbuat terhadap kebenaran adalah, disalahfahami.
            Maka kubaca lagi keistoqomahan ini. Ini tentang terwarna dan mewarnai. Ini tentang siapa yang kuat dan tidak. Ini tentang kekokohan jiwa. Tentang prinsip. Tentang ego diri. Maka siapakah yang bisa memenangkannya?. Aku tak pernah tahu. Itu tergantung bagaimanakah Engkau hendak menampakkan keteranganMu ya Allah.
            Aku hanya bisa memaksakan kaki ini untuk tetap tegak. Tegak diderasnya perbedaan, di klimaksnya kedzaliman, dikerdilnya ilmu,  gelapnya mata, dan sepinya sekitar. Kadang aku bahkan hanya mampu mengajak bicara nurani. Meraba-rabanya kembali, yang telah buram oleh kotornya perbuatan. Ya. Paling tidak, aku menemui sedikit cahayaMu disana. Cukuplah itu untukku ya Allah.
            Maka kubaca lagi keistiqomahan ini. Karena aku pun tak ingin seperti orang yang Kau maksudkan ‘sombong’ itu ya Allah. Ya. Yang meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.
            Dan kubaca lagi keistiqomahan ini. Hingga aku mengerti. Hingga akhirnya kebenaran sejati itu menampakkan wajahnya pada dunia. Ya. Dan sungguh aku berharap bukan bagian dari mereka, yang keringatnya kelak sampai ke mata kaki, atau pinggang, atau bahkan mereka yang ditenggelamkan olehnya...
            Ya. Membaca lagi keistiqomahan ini. Akhirnya, aku kembali harus memilih, mana yang terbaik... apakah pergi atau tetap disini. Karena terkadang meninggalkan tak selalu berarti mengabaikan. (-_-)

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Kamis, 12 Mei 2011

Izinkanlah..




Dicermin buram itu kami mengukir
Gambar yang sengaja nampak menawan.
Untuk kami pantulkan pada dunia.
Hingga mereka berdecak.
Kami mungkin tersenyum, sipu.
Namun,
Ini bukan tentang apa yang mereka pandang.
Ini tentang sosok sebenarnya.
Kesejatian yang dengan kemurahan Kau hijab.
Ah ya.
Tapi kami abai.
Tapi kami tak mau peduli.
Ataukah lupa?
Justru penanda kami lalai dari penghayatan.
Ya.
Itulah masalahnya.

Dan inilah hambamu yang senantiasa Kau kasihi.
Yang dengan setia Kau iringi.
Dimanapun, kapanpun, Bagaimanapun.
Engkaulah Allah,
 yang selau hadir dengan tangan terbuka.
Tapi kami menutup mata.
Engkaulah Allah,
Dengan nikmat tak habis-habis.
Dan betapa kikirnya kami,
Bahkan sekedar menyampai terima kasih

Duhai Rabbi,,
Ampunilah si Tak Tau Diri ini.
Untuk kesekian kali,
Kami kembali,
Karena kami rindu dicintai,
& untuk kematian yang kian menguntit.
Ya.
Ini kami Ya Allah....
Si hina perindu kesyahidan..
Izinkanlah...

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Rabu, 11 Mei 2011

Mengarahkan Takdir, Mengukir Peta Hidup


MINDSET NASIB
Tuhan memberiku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah,
Keteguhan hati untuk mengubah yang bisa kuubah.
Dan mengetahui perbedaan antara keduanya.
Reinhold Niebuhr

            Banyak orang yang hidup dalam keadaan statis yang ketika ditanyai berdalih, membuat justifikasi mengatas namakan Nasib. “Setiap orang itu sudah memiliki garis hidup,”katanya, “yah.. mungkin sudah nasib saya punya otak tumpul atau hidup melarat seperti ini.”. Oh ya?. Apa seperti itu?. Hanya sampai disitu sajakah pemahaman kita tentangnya?. Apakah demikian Allah mengajarkan kepada kita?.
            Jika demikian, mengapa firmannya sampai berbunyi. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum, sehingga ia mengubah apa-apa yang ada pada jiwa mereka...” (Ar-Ra’d : 11). Bukankah ini bisa menjadi salah satu patokan, bahwa bagaimanapun, campur tangan kita pada takdir Allah juga berperan.
            Tidak salah memang  jika kita mengatakan bahwa setiap manusia sudah tertulis takdirnya di Lauh Mahfudz. Ya memang demikianlah adanya. Semua sudah tergambar dengan baik dan rinci. Sebagaimana ketika kita berongkang-ongkang kaki tanpa jerih payah hidup, telah tertakdir mendapatkan rezeki X misalnya, namun jika kita mau sedikit berusaha lebih keras, kita akan mendapat rizki Y. Logikanya kan demikian. Iya tidak?.
Saya jadi teringat kata-kata seorang Ustadz, “Hidup miskin itu adalah takdir, tapi mati miskin itu adalah lalai”. “Bagaimanapun menisbatkan maksiat kepada takdir Allah adalah terlarang,” kata Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Jalan Cinta para Pejuang. “Adalah seorang santri suatu malam memanjat pohon rambutan di depan rumah Ustadznya,” lanjut beliau memberi contoh. “Dan ia membawa karung. Diunduhnya semua yang terjangkau oleh tangannya. Arkian santri-santri sekompleksnyapun kenyang rambutan malam itu. Keesokan harinya, tanpa penyelidikan yang muluk-muluk, para santri yang tak kebagian rambutan sudah menunjukkan tersangkanya pada Ustadz.
            Sang guru bertanya, “Mengapa kau curi rambutan?”
            “Takdir Ustadz..”
            Sang Ustadz menjewer telinga santrinya itu sampai tubuhnya seolah ikut menjerit.
            “Adao.. Sakit Ustadz. Kok saya dihukum? Padahal saya mencuri itu kan sudah takdir Allah?”.
            “Lho, jeweran ini juga takdir Allah.”
            Begitulah takdir. Kita tidak bisa menisbatkannya dalam kemaksiatan. Karena selalu ada ruang antara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka itulah gunanya misteri takdir.”papar Salim A.Fillah panjang lebar. “Agar kita memilih diantara bermacam tawaran. Untuk menyusun cita dan rencana. Lalu bertindak dengan prinsip indah, “Kita bisa lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula.”

MENGARAHKAN TAKDIR
Takdir bukanlah mengenai kesempatan,
Melainkan mengenai pilihan.
Ia bukanlah sesuatu yang kehadirannya ditunggu,
Melainkan sesuatu yang harus diraih.
_William Jennings Bryan_

Di awal  kita telah menyinggung, bahwa segalanya bermula dari apa yang kita pilih dalam hidup ini. Dalam mengarahkan takdir, pilihan-pilihan itulah yang akan menjadi batu loncatan bagi kita, apakah ianya ke depan, atau membuat kita semakin mundur ke belakang.
            Ya. Segalanya adalah pilihan. Antara tidur 8 jam sehari, atau memaksa bangun dibekunya malam untuk bermunajat dan melakukan aktivitas lain. Antara menghabiskan uang dengan perilaku konsumtif, atau justru untuk investasi. Antara menjadi beban, atau justru meringankan beban.
            Segalanya adalah pilihan, antara hidup bermanfaat, atau terhina. Tapi lihatlah prinsip hidup agung tak tergugat seorang mu’min yang hanya mematok 2 pilihan  hidup. Antara mati syahid, atau hidup mulia. Subhanallah!.

Tanpa rencana,
hidup kita hanya akan disibukkan
...dengan berpindah dari satu masalah
ke masalah yang lain,
tanpa jelas untuk apa.

Tanpa rencana,
kita akan mencari kerja,
bekerja keras, dan
melalui semua kesulitan hidup,
tanpa tahu untuk apa.

Yang hidup dengan rencana - saja,
sering dikagetkan oleh kehidupan,
apalagi yang santai menua tanpa rencana.

Mario Teguh
            Dalam mengarahkan takdir, mulailah dengan menemukan satu tujuan, dan keinginan besar kita akan mengikutinya. Nah, disinilah poin penting selanjutnya, mengukir peta hidup. Tetapi sebelum itu saya ingin mengajak anda merenung terlebih dahulu.
Sahabat, ketika kita ditanya, Apakah kehidupan ini panjang?. Mungkin ada yang menjawab ‘ya’ dan ada pula yang berkata ‘tidak’. Rentan waktu hidup manusia saat ini, taruhlah semacam Rasulullah, berkisar sampai 63 tahunan. Jika kita berhitung-hitung. 1 tahun = 365 hari, Dalam sehari, kita menggunakan waktu sekitar 1-2 jam atau 25 hari/tahun untuk beribadah. Kemudian menggunakan waktu untuk makan sekitar 2 jam atau 30 hari/tahun. Untuk sekedar ngobrol = 1 jam atau setara 15 hari/tahun, rata-rata kita mengalami sakit = 5 hari/ tahunnya. Untuk nonton dan jalan-jalan = 5 hari/tahun. Untuk waktu-waktu libur baik hari minggu, libur sekolah, libur nasional, yang biasa kita gunakan untuk bersantai tanpa rutinitas berarti menghabiskan sekitar 125 hari/tahunnya. Sisanya = 160 hari. Dan jangan sampai lupa, waktu tidur kita yang normalnya 8 jam/ hari setara dengan 120 hari/tahun. Wow! Fantastis kan. Betapa banyak kita menyia-nyiakan hidup untuk tidur. Saya jadi teringat gurau salah seorang dosen saya di FKM, Prof.Indar, “Ciri orang yang tidak menikmati hidup itu,” kata beliau, “Adalah terlau banyak tidur. Gimana tidak, banyak tidur sama artinya senang berlama-lama dengan kematian. Iya tidak?”. Saya sepakat dengan kata-kata beliau, persiapan untuk kematian sesungguhnya saja belum apa-apa, ini malah sudah asyik berlama-lamaan dengan kematian kecil. Hmm...
Kita lanjut, jadi sisa dari pengurangan-pengurangan tadi secara kasat adalah 5 hari. Hanya untuk 5 hari ini paling tidak kita bisa menghasilkan sesuatu yang produktif. Cukupkah?. Jika masih berfikir cukup. Selanjutnya sahabat harus tahu, bagaimana 1 hari di padang Mahsyar dibanding relativitas waktu bumi = 50.000 tahun lamanya. 63 tahun waktu hidup yang sahabat katakan lama jika dihitung-hitung, hanya setara dengan 2 menit, 2 detik saja. Masih mau berkata lama?.
Pantas jika dalam hadits Riwayat Bukhari, Rasulullah SAW mengingatkan, “Jadilah engkau di dunia ini seperti asing atau seperti orang yang sekedar lewat.” Sebagaimana ciri orang yang sekedar lewat itu,
1.      Mereka memahami bahwa mereka pergi hanya sementara.
2.      Mereka menyadari bahwa semua akan mereka tinggalkan
3.      Mereka merasa akan/ harus kembali, dan
4.      Mereka yang sadar akan kembali tidak akan punya cukup waktu untuk bersenang-senang, dan tidak mempersiapkan bekal apa-apa.
Agar hidup yang singkat dan Cuma sekali-kalinya ini tidak sia-sia, disinilah pentingnya kita membuat peta hidup. Yuukkk....

MENGUKIR PETA HIDUP
Sebuah cita-cita yang tidak dituliskan,
Hanyalah harapan belaka.
            Dalam sebuah penelitian Mc Corrmack di Harvard Business School, setiap mahasiswa baru akan diwawancarai tentang target-target hidupnya, 10 tahun kemudian, setelah lulus dari sana, mereka kembali di interview satu per satu. Hasilnya menakjubkan. 13 % dari mahasiswa yang sebelumnya memiliki target hidup namun tidak menuliskannya, memiliki pencapaian hidup 2x  lipat lebih besar daripada 89% mahasiswa yang bahkan tidak memiliki target hidup sama sekali sebelumnya. Yang lebih menakjubkan lagi, mahasiswa yang hanya 0,3%,  yang memiliki target hidup kemudian menuliskannya, memiliki pencapaian hidup 10x lipat lebih besar dibanding yang tidak menuliskannya.
            “Peta hidup merupakan jalur-jalur menggapai tujuan hidup paling akhir.” kata Pak Dwi Henry Cahyono (Gus Uwik) dalam salah satu trainingnya. Karena kita akan menuju sebatas apa yang kita gambarkan dikepala. Tetapi jangan pula melupakan bahwa, ketika sebersit mimpi tidak tergambar secara jelas, mudah bagi manusia melupakannya, dia tidak akan memiliki sesuatu yang kita sebut power.
Kita kemudian bisa membuktikan bagaimana beda antara pemilik peta dibanding si pengembara dengan tangan kosong. Ibarat si buta berjalan tanpa tongkat. Sulit!. Tak berarah!. Jatuh bangun!. Bingung!. Ya. Begitulah kira-kira gambarannya.
            Sahabat, jika bisa diumpamakan, “Manusia itu,” kata Mac Anderson dalam bukunya The Power of Attitude, “seperti batang dinamit. Kekuatannya ada di dalam.”, “Tapi tidak ada yang terjadi hingga sumbunya terbakar.” Peta hidup kita inilah yang akan menjadi apinya. Api yang meledakkan potensi, meladakkan kreatifitas, meledakkan semangat kerja, meledakkan keyakinan untuk kita menyala menyentuh mimpi-mimpi kita.
            Jika anda masih ragu dan bertanya mengapa harus dituliskan secara nyata, saya ingin membagi sebuah kisah tentang seorang bernama Mac Anderson tadi, pendiri Successories, Inc., tokoh dalam merancang dan memasarkan produk-produk untuk motivasi dan penghargaan. Ia juga adalah CEO dari McCord Travel, perusahaan perjalanan terbesar di Midwest, sekaligus pemilik sebagian saham/VP dari penjualan & pemasaran Orval Kent Food Company, pabrik terbesar yang memproduksi salad siap saji di Amerika. Dan pelajaran ini ia dapatkan ketika ia masih muda. “Ketika itu saya adalah seorang mahasiswa baru di Murray State University di Murray, Kentucky,”ia mulai bercerita. “dan direkrut oleh seorang teman bernama Eddie Grogan untuk menjual buku-buku keluaran Southwestern Company. Perusahaan tersebut sudah menjalani bisnis ini selama lebih dari 100 tahun dan setiap musim panas mempekerjakan beberapa ribu mahasiswa. Eddie sudah melakukan tugasnya cukup bagus musim panas lalu dan memperoleh pendapatan empatkali lebih besar daripada gaji saya ketika bekerja di sebuah toko pakaian pria. Saya begitu bergairah dan ingin mencoba pekerjaan itu untuk mendapatkan pengalaman baru dan memperoleh uang tambahan. Akan tetapi ada satu masalah kecil. Ayah tidak ingin saya mengambil pekerjaan itu. Bukan hanya karena ayah tidak ingin saya melakukan pekerjaan tersebut. Namun beliau juga berpikir saya tidak akan mampu.
            Dan begitulah. Sekarang saya memiliki sebuah misi. Seorang anak yang akan membuktikan bahwa pikiran ayahnya salah.
            Bagaimanapun juga musim panas datang, dan perasaan ragu menyelinap di dada. Lebih jauh lagi, saya sadar bahwa ini akan menjadi pekerjaan yang sulit—lebih dari enam puluh jam per minggu selama tiga bulan. Mungkin saya tidak memiliki kedisiplinan untuk itu atau mungkin saya tidak bisa menghadapi penolakan dari penjualan langsung yang dilakukan dari pintu ke pintu.
            Namun demikian, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba. Sebuah kesempatan untuk membuktikan bahwa ayah salah menyikapi keraguan dan ketakutanku. Saya menulis sepucuk surat untuk diri sendiri dan berjanji akan membacanya setiap hari. Saya masih menyimpan surat  tersebut, dan inilah isinya: 

Dear Mac,
            Ini adalah sebuah kesempatan seumur hidup. Kau akan mengetahui terbuat dari apa dirimu. Ayahmu berfikir kau tidak bisa melakukannya. Kau bisa membuktikan bahwa dia salah. Ini tidak akan mudah dan saya yakin nantinya kau akan seringkali ingin berhenti. Bertahanlah di sana dengan setiap ketekunan yang bisa kau kerahkan.
            Dan pada akhir musim panas ini, ketika kau memandang ke cermin. . .  ucapkan dengan bangga. . .  saya berhasil.
            Buat ia bangga untuk mengatakan, ini putra saya.

            Nah, apakah saya memang membuat ayah bangga? Anda pasti yakin bahwa saya berhasil. Dari sekian ribu mahasiswa dari sejumlah universitas di seluruh penjuru negeri, saya berhasil meraih posisi ketujuh dalam penjualan untuk musim panas itu. Tetapi yang jauh lebih penting, saya merasa bangga pada diri saya sendiri. Saya telah membuktikan bahwa saya memiliki keberanian dan ketekunan serta disiplin untuk melalui masalah tersebut. Hal ini juga menjadi dorongan besar bagi rasa percaya diri saya.
            Pertanyaan yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri adalah. . .  apakah saya akan berhasil tanpa surat yang saya tulis itu? Dan jawaban yang kembali muncul dalam pikiran saya adalah. . . Tidak! Tidak diragukan lagi, ini merupakan sebuah pekerjaan paling sulit yang pernah saya lalui seumur hidup. Jam kerja yang panjang, penolakan yang sulit diterima, dan setidaknya pada bulan pertama, belasan kali saya ingin berhenti bekerja.
            Saya merasa yakin seratus persen bahwa perbedaan dalam kesuksesan atau kegagalan pada musim panas itu adalah karena 84 kata yang saya tulis pada selembar kertas buku catatan itu. Pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan sungguh kuat: disiplin, kerja keras, cita-cita. Namun hal paling penting yang saya pelajari adalah kekuatan dari kata-kata. . .  ketika dirangkaikan menjadi satu tujuan.”
            Sekarang, jika anda sudah memahami betapa pentingnya menuliskan bahkan sekedar sebentuk kecil mimpi anda, mulailah disini, dengan menemukan  tujuan hidup anda.
Awal-awal anda mungkin masih samar mengenalinya. Ada beberapa langkah yang memungkinkan untuk anda lakukan, salah satunya seperti dr. Andhyka Sedyawan katakan dalam salah satu trainingnya, Amazing You, adalah membuat Nisan diri. Tuliskan segala hal yang anda ingin dunia kenal dan kenang tentang diri anda sekiranya anda telah tiada. Disitulah mungkin akhirnya anda mampu meraba-raba hal yang sungguh-sungguh anda punya untuk diwujudkan. Berikut juga ada dua tips praktis untuk memudahkan anda menemukan jawabannya :
1.      Sadarilah bahwa Anda adalah spesial, Temukan bakat Anda. Kita semua adalah unik dan memiliki bakat khusus. List hal-hal yang menjadi kekuatan & kelemahan Anda. Ingat ini. Dapatkan pula umpan balik dari orang terpercaya disekitar anda. Sehingga anda akan mendapatkan gambaran realistis mengenai bakat-bakat Anda.
2.      Temukan apa yang membuat Anda bersemangat—Temukan keinginan besar Anda & berusahalah dengan keras untuk menyemangati hidup. Namun demikian, jangan abaikan peringatan ini... bersabarlah. Tujuan dalam hidup mungkin tidak muncul ke permukaan dalam semalam, namun seperti halnya cinta, ia akan menemukan kita saat kita benar-benar mengharapkannya.
Sahabat-sahabat saya yang baik, ketika segalanya kian terang untuk anda. Maka, mulailah sekarang. Saat ini juga. Gambarkan peta hidup itu secara nyata.gambarkan dengan rinci, akan kemana anda, akan berbuat apa, atau akan seperti apa anda kedepannya. Jika perlu tempelkan peta hidup itu dengan gamblang dan besar di dinding kamar anda, atau disampul diary harian anda. Setelah itu, serahkan pena dan penghapusnya kepada Allah. Biarkan ia yang menghapus apa yang tak layak, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan ingatlah ini. Optimis. Karena kesuksesan itu adalah hak semua orang, kemuliaan itu adalah hak kita semua. Asal, kita mau BERUSAHA.
Nah, dengan demikian. Berarti kesiapan itu sudah ditangan. Untuk konsekuensi baik maupun buruknya, untuk perjalanan yang akan menyenangkan dan menyembilunya. Untuk air mata yang harus tertumpah, keringat yang mesti tercurah, lelah yang harus dibayar, Anda siap. Sudah siap. Segera kita akan berkompetisi bersama. Dan Rasulullah beserta para sahabat dan mujahid lainnya sudah menunggu kita membersamai mereka di mimbar kemenangan. Maka bersegeralah, bergegaslah, kita sudah akan berlomba sahabat, bagaimana mungkin anda belum memiliki peta ditangan. Come on friends!.Lihatlah kesana, Di ujung jalan itu kita akan bertemu, untuk bersama melepas senyum, menyampai selamat atas keberhasilan kita menempuh jalan-jalan yang telah kita buat dengan indah...
Saya. Tentu berharap, kelak anda ada disana, menjadi bagian dari kelegaan terbesar. :-)
So, Let’s make it! Then do it!. Now!.
Salam berkah!. ^_^
_Rafiqah Ulfah Masbah_

Selasa, 10 Mei 2011

Yang Hina.. (-_-)




Aku hanyalah hamba,
Yang dengan kemurahanMu
Masih bisa tampak mulia.
Tapi Engkau sungguh lebih tau,
Semua hanya topeng palsu,
Yang kuukir menawan dalam semu.
Tapi sungguh Engkau lebih tau.
Beruntungnya aku mendapati keburukan itu tak berbau.
Sungguh jika demikian,
Betapa busuknya aku Rabb..

_Rafiqah Ulfah Masbah

Setidaknya Lihatlah Sekarang

Aku mengenalnya kini sebagai seorang muslimah yang mengabdikan dirinya dijalan da'wah.
Aku mendapati wanita itu kini banyak menghabiskan waktu dlm berbagai kegiatan bermanfaat.
Aku mengenalnya kini tidak lagi seperti dulu.
Ya. Dulu.
Di masa
-masa jahiliyah itu.

***




Gadis itu, sibuk bercengkrama dengan laptop biru yang selalu dibawanya kemana-mana. Biasalah, entah darimana semangat itu begitu saja muncul. Belakangan ini dia doyan banget nulis. Tema yang sama. Pengembangan diri. Dia begitu bergairah dengan hal-hal yang berbau motivasi. Buku-buku, pelatihan-pelatihan. Kapan yah mulainya?. Seingatku pasca IMI, ya Indonesian Motivator Institute yang diadakan oleh trainer asal Bandung yang dinobatkan sebagai trainer termuda se-Asia Tenggara. Setia Furqon Kholid. Entahlah, mungkin dia segitu terinspirasinya. Tapi aneh sih, itukan pelatihan untuk menjadi seorang trainer, lah ini kok malah nulisnya yang lancar, trainingnya malah yang agak macet.
"Lagi ngapain, Ra?" seorang wanita bertubuh mungil menghampirinya.
"Hei. Biasalah, hobi baru." jawabnya dengan senyum terkembang.
"Wah, wah, bagus, Ra. Kembangkan terus yah. Saya sudah beberapa kali baca note-note yang kamu posting, keren-keren kok!"
"Ah, biasa aja. Wong saya kebanyakan terinspirasi dari kata-kata & keadaan sekitar yang saya pungut-pungutin, disambung-sambung, terus dikembangkan dikit. Jadi deh!"
"Lha, itu lebih hebat lagi namanya. Gak semua orang bisa loh. Itu namanya bakat, Ra.",
"Ah, kamu ini.", "Pokoknya ditunggu yah bukunya."
"Amin.... Itu salah satu dari daftar mimpi yang begitu saya inginkan. Hmm... Doa'in aja yah....!"
"Oke deh, siiipp cantik!!" godanya dengan senyum yang menggelitik.
              Anak ini kalau sudah ngegombalnya jago begini pasti nih ada maunya. Riana mulai memperbaiki posisi duduknya.
              "Ra, laper gak?. Makan yuukk!!"ajak Riana dengan wajah memelas, tapi lebih nampak sedang mempraktikkan pelajaran actingnya di kelas drama kemarin siang sih,
              "hmm.. Mulai deh. Sudah ketebak." Tiara tersenyum kecut. Riana cuman cengengesan.
              "Tuh, di tas ada roti. Buat kamu deh!"
              "Yah.. Tiara. Itu sih mana cukup."
              "Riana..Riana... Badan kamu aja yang kecil yah. Tapi perut gak pernah deh perasaan penuh-penuh. Ya udah, kita ke kantin deh. Tapi kamu yang traktir yah!" kali ini gantian Tiara yang cengengesan,
              "Eh, enak aja. Wong saya kok yang minta traktir, habisnya uang bulananku udah tipis banget nih, Ra. Serius deh. Tipisnya udah kayak selembar rambut dibelah tujuh. Hehe.."
              "Bisa aja kamu tuh. Ya udah deh, sekali ini saya yang bayar."
               "Yeess asikk.. Kamu emang temen paling baik & manis sedunia." Riana menikmati euforianya. Tiara hanya geleng-geleng sambil senyam-senyum.

***

              Kantin kampus agak panas kali ini, semua tempat duduk nyaris penuh. Tiara & Riana beruntung mendapatkan meja untuk dua orang di pojok dekat jendela, dari sini angin lebih mudah membelai kulit mereka yang sedari tadi basah karena cuaca siang yang panas. Maklumlah, beberapa hari ini hujan tidak ada tanda-tanda berniat untuk menyapa penduduk Makassar. Allah mungkin hendak menguji militansi kita, yah.. Secara dalam kondisi cuaca seperti ini, rasanya tenaga terkuras sepuluh kali lipat lebih cepat. Dan ujian kali ini lebih besar lagi buat Tiara & Riana, selain tenggorokan kering, kantong mereka juga ikut-ikutan kering (kemarau kali yah, hehe), beasiswa mereka belum cair, terpaksa deh mesti ekstra ngirit. Jadi kali ini mereka cuman pesan masing-masing semangkok mi kuah dan dua aqua gelas dingin. Tidak tanggung-tanggung Riana langsung menyeruput air mineral dihadapannya bak musafir baru ketemu air. Dalam beberapa detik, satu gelas bocor kedalam perutnya.
              "Huuff,,, bener-bener deh. Haus minta ampun. Panas banget sih cuaca." protes Riana sambil menunggu pelayan membawa mi pesanan mereka.
              "Pekan lalu waktu hujan kamu juga marah-marah gara-gara cucian gak kering-kering, sekarang giliran panas ngamuk juga?" sanggah Tiara dengan tenang dan tetap tersenyum, wajahnya nampak lebih teduh disapu angin, gadis 18 tahun yang tercatat sebagai MABA Universitas Hasanuddin tahun 2010 itu nampak manis dengan gamis biru tua yang dipadukan dengan jilbab biru muda yang menjulur sampai pinggangnya, terlihat sekali seperti gelombang laut ketika diterpa angin. Tengah hari seperti ini, setidaknya ia tampil lebih segar.
              "Iya sih Ra. Habisnya...."
              "Udah deh, Ri. Cuaca yang tidak menentu ini juga ujian buat kita. Nikmatin aja. Kalau kebanyakan ngeluh, malah makin nambahin kepahitan. Masih ingatkan kata ustadz di Ta'lim kemarin..?"
              "Iya, iya bu Ustadzah. Selemah-lemah kesabaran adalah meninggalkan keluh kesah, iya kan?" tampik Riana dengan muka rada kusut, sebuah buku tulis tipis yang sedari tadi dialih fungsikan sebagai kipas angin terus mengayun ditangan kanannya.
              "Nah, itu tahu. Memang gak salah deh sahabatku yang satu ini ngalahin angka tes IQ ku, daya ingatnya tajam banget. Setajam silet."canda Tiara. Riana tertawa, rada tersanjung juga.
              "Kamu tuh bisa aja."
              "Eh iya, bentar sore temenin ke toko Abdi Agung bisa gak, Ra?",
              "Wah, jam tiga nanti saya mesti ngisi halaqoh, Ri."
              "Weleh-weleh... Murobbi kita satu ini sibuk banget sih." ejek Riana, "bentar malam juga pasti sibuk tuh di mesjid.", "sabtu-minggu aja gak ada libur-liburnya, Hmm..hmm...hmm...".
              "Yah...inikan demi dakwah yang kita cintai. Hehe" jawab Tiara sekenanya.
              "Huhh... Mulai deh, lebay mode on.". Mereka tertawa bersama. Seketika itu, Pesanan mereka juga datang.
              "Makasih yah, mba!"ucap Tiara pada si pelayan sambil mulai menghirup aromanya. Perut yang sejak tadi berdendang rock, sepertinya tidak lagi bisa kompromi untuk langsung diberi jatah.

              Tiara dan Riana nampak serius menikmati hidangan mereka.
              "Riana.." suara Tiara agak sendu,
              "Hmm..??"jawab Riana tanpa menoleh sedikitpun dari santapannya.
              "Gak berasa loh Ri, tanggal 13 Mei, Jum'at depan sudah setengah tahun semenjak tragedi itu."
              Riana tiba-tiba menoleh, ia menatap lekat wajah sahabat dekatnya itu, matanya menerawang, ekspresinya datar. Riana teringat.
              "Astagfirullah... Hampir aja saya lupa, Ra. Bener-bener gak berasa yah sudah setengah tahun kepergian almarhum k'Hilal. Yang sabar yah, Ra. Semoga kak Hilal saat ini diberi tempat yang baik disisinya. Meskipun dulu kadang bikin saya agak kesal juga sih. Tapi terlepas dari itu semua, insyaAllah almarhum adalah orang yang baik semasa hidupnya. Saya tahu Ra. Pasti masih berat buat kamu menerima semua ini. Kehilangan orang seperti dia tidak akan mudah. Saya paham... Kamu gak pa2kan?" Riana coba memberikan kalimat sebijaknya untuk paling tidak memberi sedikit ketenangan dihati Tiara. Riana tahu pasti, Tiara punya cerita kelam sebelum ini, Tiara pernah berada pada masa-masa yang sulit. Ya. Ketika ia terjebak dijalan yang salah. Tiara sempat menjalin kasih selama sekitar dua tahun lebih dengan lelaki yang bernama Hilal itu. Lelaki yang Tiara kenal saat bergelut di Remaja Mesjid Jannatul Firdaus sekitar rumahnya saat masih duduk di kelas 2 SMA itu meninggal dunia dalam suatu kecelakaan bus saat membawa rombongan tour di Malaysia tanggal 13 November 2010 lalu. Tiara cukup terpukul waktu itu. Tapi, Tiara ternyata jauh lebih tegar dari kelihatannya. Kehilangannya yang teramat sangat, tidak sama sekali membuatnya tenggelam. Hanya butuh sedikit waktu baginya untuk menenangkan diri. Kemudian kembali bangkit. Ia selalu cobakan senyum dan bersikap tenang menghadapi orang-orang disekitarnya yang semua mengenal betul hubungan antara Tiara dan almarhum Hilal. Tiara menjadi lebih banyak berbenah pasca kejadian itu. Tiara kini memang tampak lebih baik. Tapi siapa yang tahu isi hatinya. Almarhum Hilal bukan orang sembarangan untuk Tiara. Dari laki-laki itulah perubahan-perubahan besar dalam hidup Tiara banyak bermula. Begitulah yang setidaknya Riana pahami.
              "Nggak kok Ri. Saya baik-baik saja. Saya cuman terbayang, betapa cepat semua berubah." Tiara menghela napas panjang sebelum meneruskan ucapannya,
              "Tiara kecil yang usil, Tiara di awal-awal SMP saat belajar bagaimana menjadi anak gaul, berada dilingkungan yang sangat hedon, ikut-ikutan pacaran, pakaian yang sembrono, sikap yang bebas. Yah.. Sampai mengenal k'Hilal. Lelaki luar biasa yang dulunya bahkan bermimpi dicintai olehnyapun tak pernah." Tiara tersenyum. matanya masih menerawang, meraba-raba kembali lembar-lembar ceritanya yang mungkin sudah terserak.

              "Kak Hilal laki-laki yang sangat baik, Riana. Sosok yang sempurna dimata saya waktu itu. Laki-laki baik-baik, jebolan pesantren, prestasi seabrek, tampilan yang segar, sikap yang ramah, disegani dimana-mana, keterampilan yang saya rasa tidak banyak orang yang dikaruniai talenta selengkap dirinya. Bahkan saya sendiri juga sempat minder karena gak tahu masak, kalah jago sama dia. Hufff... Pokoknya, waktu itu.....bermimpipun untuk gadis seburuk diriku tak pernah. Entah apa yang dilihat laki-laki itu dari seorang gadis biasa dengan masa lalu yang rumit, pas-pasan, dan tak ada sama sekali yang bisa dibanggakan untuk menjadi wanita pertama yang mengganti statusnya. Ya.. Dari yang sebelumnya gak pernah pacaran sama sekali. Ahhh... Saya jadi merasa sangat bersalah menjadi bagian dari lembar buram dicatatan sejarahnya.
          Hmmm.... Dari laki-laki itulah mulanya saya sangat bersemangat untuk berislam dengan baik, disanalah seorang Tiara mulai mengenal apa yang kita kenal sebagai tarbiyah, disitulah mulanya Tiara umur 15 tahun belajar mengenakan jilbab yang istiqomah, yang ditertawai disana-sini, tapi begitu menikmatinya karena dorongan seorang laki-laki yang belakangan ia pahami tak selayaknya menjalin hubungan dengannya karena alasan haramnya pacaran dalam Islam, Ya. Disanalah Tiara yang tadinya sangat hedon, kembali berkutat dengan mushaf yang hampir-hampir tinggal berdebu di lemari. Tiara yang dulunya sering mengikuti lomba-lomba tilawatil Qur'an, waktu itu nyaris sudah kehilangan keterampilan membaca Qur'an-nya." suara Tiara mulai serak.
              "Sampai berjalannya waktu, disaat saya tahu semuanya salah, ternyata tak semudah itu keadaan membenarkan. Perjuangan untuk berpisah dengan laki-laki yang kian berjasa itu, tidaklah terasa mudah. Keluarga yang sudah mengenal, meskipun tetap ada ketegangan dipihak keluarganya, tapi ia sangat setia pada saya. Banyak sekali pengorbanan dari segi waktu, materi, tenaga yang diberi, dan disisi lain, lingkungan semakin menuntut untuk bersegera meninggalkan kemaksiatan itu. Sudah terlalu buruk pencitraan yang saya tampakkan. Dan itu bukan hanya tentang diri saya, tapi juga pandangan dunia terhadap akhwat lain secara luas. Segalanya kian sulit untuk saya waktu itu. Riana tahu kan pergolakan batin yang harus saya alami ketika itu?." Riana hanya mengangguk dan terus mendengarkan Tiara dengan serius.
              "Sampai diujung ketaksanggupan saya menghadapi segalanya, Allah mengambilnya begitu saja dari sisi saya. Sesuatu yang tak pernah terbayang sama sekali. Ditinggal mati oleh seorang yang begitu diharapkan menjadi pendamping hidup setidaknya beberapa tahun lagi. Dan.... Segala harap, sekaligus dilema hancur berantakan seketika. Rasanya pahit sekali. Tapi sungguh apa yang telah berlalu tak bisa sama sekali disesali. Saya mencoba memahami itu. Saya hanya iri dengan almarhum, Ri. Saya sama sekali tak pernah mendapati kematian yang segitu banyak orang yang merasa kehilangan. Rumahnya yang bertingkat dan luas itupun nyaris tidak cukup menampung orang-orang yang berdatangan sillih berganti. Bahkan, teman-teman LAUNUN yang waktu itu dikarantina di Jakarta saat ajang Suara Indonesia membela-belakan pulang melihat saudaranya yang sebelum itu sempat menjadi salah satu personil mereka, yang karena alasan kuliah memilih tak ikut bersama Launun di ajang SI untuk terakhir kalinya. Saya hanya terbayang seperti ini, betapa orang yang bersama saya selama ini memang bukan orang sembarangan. Sosok yang pynya arti lebih untuk banyak orang. Dan saya haru, Ri. Sampai akhir hidupnya ia tetap setia dengan saya." Tiara terdiam air matanya sudah berlinangan sejak tadi.
              "Entahlah. Saya hanya merasa Allah benar-benar Mahabaik, kematian yang mulia untuknya, meninggal dalam keadaan telah memimpin dzikir dibus, dan juga nikmat kesempatan untuk saya memperbaharui diri. Sesuatu yang entah bagimana mengungkapkannya." Riana membersamai tangis sahabatnya itu, kali ini Riana pun angkat bicara. "Saya paham, Ra. Saya paham. Kamu sudah bertahan sampai sejauh ini. Bangkit dari keterpurukan ketika berada dalam kondisi kamu pun saya tidak yakin bisa. Tapi sejak awal, ketika saya mendesak kamu memutuskannya, saya yakin kamu kuat, Tiara. Hanya terlalu takut. Kamu kalah oleh rasa takut kehilangan itu. Tapi sudahlah... Allah sudah menunjukkan jalanNya, Allah telah menghamparkan pembelajaran mendalam bagi kalian. Ambil ibroh dari semua ini, Ra. Apa yang telah terjadi pada Tiara diwaktu sebelumnya adalah sejarah. Tiara sekarang adalah Tiara yang dalam pandangan saya jauh lebih baik dari sebelumnya."
              "Tapi, Ri. Saya merasa malu, malu dengan masa lalu yang begitu berantakan, saya malu tampil bak wanita suci. Dan apakah yang kelak harus saya ceritakan pada calon pendamping hidup saya dengan diri yang begitu penuh dengan noda?. Saya hanya malu apa saya masih pantas mengharapkan ikhwan yang baik kedepannya?. Saya cuma malu, Ri.. Hiks..hiks.." Tiara menelungkupkan kedua tangannya diwajahnya, tangisnya kian deras, beruntung tidak banyak yang bisa memperhatikan mereka, karena posisi mereka memang tertutup oleh tiang besar kantin. Jika tidak, mungkin saja mereka sudah menjadi objek sensasional.
              "Tiara, lihat saya!. Kamu tentu jauh lebih tahu, kesalahan kedua setelah dosa yang dilakukan itu adalah berputus asa dari rahmat Allah. Setiap orang punya kisah kelam dalam hidupnya. Seberapa buruknya hal itu tidak menjadi tolak ukur kemuliaan seseorang dihadapan Allah SWT. Allah sudah demikian baik memberi kamu kesempatan umur sampai saat ini. Itu artinya Allah masih ingin melihat Tiara menjadi lebih baik. Setidaknya lihatlah sekarang. Tiara yang ada dihadapan saya bukan lagi Tiara yang cengeng membicarakan panjang lebar masalah cinta-cinta-an, bukan lagi Tiara yang dulunya cuma bisa bilang 'iya' kalau kak Hilal sudah melarang, bukan lagi Tiara yang lemah, bukan lagi Tiara yang banyak menghabiskan banyak waktunya untuk kesia-siaan. Tiara... Allah itu Maha Penerima Taubat, teruslah memperbaharui taubat, Ra. Kokohkan diri dijalan ini. Jagalah nikmat keislaman yang masih bisa kamu hirup dengan bebas sekarang. Sudah yah..." Riana menyeka air matanya, kemudian menyodorkan tissu kepada Tiara.
              "Yang kuat, Ra. Kamu berhak untuk hidup yang lebih baik. Istiqomahlah. Ingat. Setidaknya lihatlah sekarang. Berpandanglah kedepan. Banyak permasalahan ummat yang masih harus kita fikirkan, Ra. Yah...." Riana mencobakan senyum paling tulus untuk ditampilkan.
              "Iya. Makasih, Ri. Jazakillah khair."
              "Wa iyyaki". Riana memeluk Tiara yang masih sesengukan itu dengan penuh kasih.
              "Sudah. Tuh mi nya udah bengkak, Ra. Saya gak mau tahu loh, harus dihabisin!" perintah Riana, coba menghibur sahabat yang dicintainya itu.
              "Ah,, udah gak nafsu, Ri.",
              "Eittzzz... Katanya gak boleh mubazzir?. Yang ngajarin saya siapa coba...??" goda Riana.
              "Iya, iya." santap Tiara dengan sedikit terpaksa, kali ini ia harus mengalah, yang dikatakan Riana memang benar. Riana hanya menertawakan.
              "Eh. Tapi kamu masih sering gak Ra silaturahhim ke rumah kak Hilal?"
              "Oh iya Ri, itulah masalahnya, saya udah jarang banget contact-contactkan dengan keluarganya kak Hilal."jawab Tiara sambil tetap mengunya mi-nya,
              "Nah, tu kan!!. Sekali-sekali sempatin jalan-jalan kesanalah. Kalau butuh teman, saya siap selalu. Apa sih yang nggak buat dirimu.. Hehe.."
  "huuhh... Gaya mu itu loh!!" Tiara mencubit tangan Riana. Riana tetap cengengesan.

***

              Riana masih memperhatikan saja Tiara menghabiskan mi bengkaknya sambil senyam-senyum.
"Untung sebelum acara nangis-nangisan tadi, mi saya sudah habis duluan, kalau gak, aduh saya juga malas banget makan mi yang udah bengkak begitu. Hehe."batinnya.

***


-Rafiqah Ulfah Masbah-

Minggu, 08 Mei 2011

Benarkah? Yakin?



Kamu tumbuh menjadi gadis manis. Usiamu yang masih muda telah membukakan kesempatan bagimu untuk mengenal nyanyian alam cinta.

Bagiku, cinta kasih adalah proses yang menyertai manusia dalam mengarungi badai semesta. Berarti, cinta kasih semacam itu menyuburkan proses pendewasaan.

Pemahamanmu tentang cinta, dibawa sejak anak-anak. Kasih Sang Ibu telah mengukir warna-warni kecerahan hidup dalam jiwa. Namun, pada masa transisi pendewasaan diri, perubahan definisi cinta bagimu bukanlah hal yang paling fundamental. Definisi boleh berbeda, namun hakekat tetap sama.

Tuhan Maha Kasih, bahkan sangat pengasih. Segala yang dihadirkanNYA di Bumi dan alam raya, adalah mozaik kebaikan. Seiring dengan perubahan hakekat cinta dari esensi fitrahnya definisi pun mengalami degradasi atau perubahan makna.

Banyak pemuda akhirnya terpikat oleh senyum dan keramahanmu. Sebab kau memiliki kelebihan tersendiri dibanding gadis lainnya. Aku sendiri terkagum-kagum melihat penampilanmu. Siapa pun pasti tertarik, namun segan berbuat kurang ajar.

Dalam lembaran hidupmu, mungkin baru ada satu kalimat cinta, "Aku sayang padamu, Ibu". Namun, aku yakin kalimat yang hampir sama juga akan melintas dalam benakmu, dan ditujukan kepadaku. Kendati pun maknanya tak selevel dengan Sang Ibu.


#MN

Senin, 02 Mei 2011

Robot Kesemena-menaan



Ketika ribuan buku sibuk mengupas tuntas masalah peradaban.
Dilain sisi keadaan semakin mengecilkan miniatur-miniatur perubahan.
Kita menyaksikan.
Bagaimana pemikiran ditumpulkan oleh perangkat-perangkat yang mengikat dalam kewajiban tak masuk akal.
Tiap sudut potensi dijebak untuk mengikuti hanya satu komando.

Lantas apa masih layak mempertanyakan ini?,
Ada apa dengan negeriku, Tuhan?
Kapankah ia berhijrah dari yang tersebut berkembang menjadi maju?
Ya. Mau melempar tanya kemana?
Kedalam?, Keluar?, Keatas?, kebawah?.

Sayang sekali.
Karena inilah sistem yang terjunjung.
Paradigma salah yang dipeluk.
Dan simaklah.
“Inilah saya anak sekolahan,
Yang bersekolah karena memang seharusnya sekolah.”

Dan dengan bangga memperkenalkan,
Inilah Indonesiaku.
Seksamai lagi,
Bagaimana institusi pendidikkan tampil
bak industri pencetak manusia
dengan program sekehendaknya,
Dengan kurikulum terberat dibanding negara lainnya.
Lebih curang menguras kantong kemelaratan.
Dan abai memaksakan masuk seluruh suplemen otak bahkan yang tak diperlukan.
Pantas banyak rintihan sesak.
Wajar saja.
Perangkat yang lupa mengarahkan seseorang sebagaimana ia  mestinya.
Inilah masalahnya.
Pendidikan kini tidak lagi tentang,
Siapa Kamu?, Tapi Kamu harus!
Bukan lagi,
“Inilah saya.” Tapi “Inilah robot kesemena-menaan atas nama pendidikan.”


_Rafiqah Ulfah Masbah_