Kamis, 30 Juni 2011

Mencari titik-titik Rasional dalam Kejatuhan ini....



      Aku pernah mendengar seseorang berkata :
“Kematian bukanlah akhir dari perjalanan hidup yang tengah engkau lalui. Namun kematian adalah ketika orang-orang mengabaikanmu, padahal engkau berada ditengah-tengah mereka.”


Agaknya itulah gambaran yang paling mewakilkan perasaanku dibangku kuliah saat ini. Ketika kehadiranku sama sekali terasa tanpa sebuah arti dan makna. Ketika aku tak mampu mengambil tempat dijajaran terdepan disaat orang-orang mampu melihat bahwa aku ada. Merasa bahwa namaku ada didaftar hadir kelas. Ketika bahkan tak ada yang menyadari bakatmu sama sekali. Ketika engkau bahkan tak mampu berkontribusi lebih bagi orang lain. Yang seolah tak ada daya guna sedikitpun dari diri. Itulah. Itulah yang terasa dihati ini.


Ketaksanggupanku menerima pengabaian. Dalam persaingan yang terasa membekukan urat-urat saraf. Disaat aku akhirnya memilih untuk abai dan pergi dengan dunia dimana orang-orang menghargaiku, sibuk dikursi-kursi dimana aku lebih luwes untuk bergerak. Dan yang terpenting, mereka menganggapku ada. Mereka sadar bahwa aku mungkin bagian kecil yang cukup penting. Itu cukup. Sangat cukup. 


Tapi sungguh tak ada satu pun yang berhak ditangisi. Aku ahirnya mengerti dengan kalimat agung ini : Tidaklah sulit, engkau memikul kehidupan ini, dalam jarak yang dekat, dengan kedua kaki yang lemah. Akan tetapi, engkau akan kesulitan melanjutkan perjalanan, ketika engkau mendapatkan dirimu tanpa kedua kaki itu di malam yang mencekam.”


Aku paham. Bahwa terkadang yang perlu aku kokohkan adalah diriku sendiri. Hatiku sendiri. Semua keburukan berawal dari perasaan yang tak stabil. Dari hati dimana semua prasangka bermula. Berdiri atas rasa yang kupilih sendiri dan melangkah dengannya. Orang lain berhak memperlakukan diriku sesuai dengan perilakuku. Aku tak boleh mengharap orang lain memuliakanku sedang aku tenggelam dalam ‘lumpur’. “Jangan mengharap orang lain menghargaimu,” kata seorang penulis dalam salah satu buku yang pernah kubaca, “Jika kau tak mampu mengendalikan diri. Dan, jangan mengharap orang lain menghargaimu, jika kau tak memperdulikan harga diri sendiri!”.


Ah ya, aku mengerti. Orang-orang menghormati kita karena mereka tahu bahwa kita memang berhak mendapatkannya. Akan tetapi, mereka tidak mungkin akan menghormati kita hanya karena kita berupaya mempengaruhi mereka dengan kedudukan palsu kita.”


Aku tak mungkin selamanya hidup dengan menyalahkan diri sendiri. Aku tak mungkin selalunya hanya bisa mencecar diri lantas menyerah dengan tangan tergelepar terhadap keadaan. Ini hanya bagian kecil tantangan yang harus aku menangkan.hanya kecil. Tapi jika aku kalah, selamanya dan seterusnya aku tak akan pernah menjadi apa-apa. Tak pernah bisa menjadi apa-apa.


Aku tahu saat ini bukanlah tentang bagaimana orang-orang memandangku yang harus membuat fikiranku tersita dengan sangat. Karena sungguh Orang-orang yang hanya memikirkan bagaimana  diri mereka dihadapan orang lain, kata seorang sastrawan suatu waktu, benar-benar telah mati seribu kali, karena mereka telah berlebih-lebihan dalam perasaannya sendiri.


Dan aku tak ingin mengambil rasa semacam itu. Aku hanya perlu sedikit mendongakkan wajah lalu tersenyum hangat pada kenyataan dan merangkaki setapak demi setapak ketertinggalanku atas cuti panjang terhadap kompetisi-kompetisi hati dimana aku tanggal, pergi bersama kepengecutan. Aku hanya perlu sedikitnya memperbaiki saklar diri dan menyala sedikit demi sedikit, sebagaimana pun redupnya aku. Aku hanya perlu menyala setidaknya untuk mengenali sendiri diri ini. Mengenal. Mengenal diriku sendiri. Karena bagaimana tidak, Allah pun menerangkan bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah. Maka sampai kapan aku mampu mengenalNya sementara atas sesuatu yang paling dekatpun aku samar. Apatah lagi terinsyaf dengan hal-hal agung lainnya yang terserak untuk menagih hamdalah-hamadalah lisan dan jiwa.


Aku hanya perlu bangkit dari rasaku sendiri. Itulah yang menjadi tugas utama yang tengah memeras keringatku sekarang. Mungkin tiadalah pentingnya barang secuil saja bagi orang-orang untuk paham betapa beratnya menanggug rasa ini. Bertahan dalam pergulatan jiwa dan seluruh pertempuran rasa. Bagiku aku tak pernah berhasil sebagai manusia. Tak akan pernah sukses dengan satu saja kata cinta sebelum aku menang atasnya.


Seorang kawan pernah bertanya padaku. Karena mungkin dilihatnya beban bertumpuk-tumpuk dari raut wajah yang terlipat-lipat, karena mungkin dirasanya tak sedikit masalah yang kutanggung dari mata sayu yang bahkan kelopaknya pun sulit terangkat sekadar menyambutnya dengan hangat.


Lantas ketika aku menceritakan semuanya. Ia berkata “hanya itu??”. Catat ini. Kata HANYA. Aku tersenyum saja mendengarkan tanggapannya. Disana aku kemudian mengerti. Tak ada satupun manusia yang mampu memahami perasaanmu lebih dari diri mu sendiri. Meski bagaimana pun segala gambaran di fisik telah nyata menyiratkan betapa beratnya hal kecil yang mungkin dianggapnya sesederhana itu. Tapi memang seperti itulah kita dalam jalinan ini. Hanya mampu merasakan kadang-kadang, meski tak bisa paham. Tapi bukankah indah. Disaat kata pun belum sempat terucap, air mata kita sudah menetes-netes membersamai tangis saudara kita. Maka memang seperti itulah. Perasaan adalah suatu topik yang tak akan bisa dimengerti bahkan dengan menuliskannya dalam buku tebal yang berjilid-jilid. Dan tentu memahami perasaan seorang wanita kata teman saya tadi, jauh lebih sulit. Saya tiba-tiba teringat dengan sebuah syair ini:


Dengan satu mata, terkadang dirimu melihat dunia seperti sesungguhnya.
Akan tetapi, engkau tidak akan melihat
apa yang ada dibelakang perasaan seorang wanita
meski dengan seribu mata.....”

Maka disaat ini, aku kuatkan semuanya. Menguatkan azzam. Mengokohkan niat. Memperbaharui prasangka. Mendalami makna. Mengartikan manfaat. Membuang semua keraguan. Mengentaskan jerat-jerat kebodohan. Untuk selanjutnya tak lagi mengulang kesalahan yang sama. Untuk berikutnya berhenti merasa tak pantas dan pasrah dengan kebengalan keadaan. Untuk sigap terhadap kesempatan-kesempatan yang tadinya selalu kubuang-buang.
Ya. Aku mungkin bahagia dengan diterimanya aku disemua tempat yang aku mau dahulu. Tapi hidup ini bukan hanya duniaku saja. Tapi tak sesempit itu. Banyak orang besar yang belum pernah aku temui sampai aku terinsyaf betapa kecil dan tak ada apa-apanya aku selama ini. Kekagetan yang tak tersiapkan. Maka bagaimana membahasakannya. Itu jauh lebih rumit bagiku secara pribadi. Tapi sungguh ini awal yang baik. Disaat aku bisa sedikit demi sedikit mampu mencoba memberi harga atas diri ini, dengan nilai yang lebih tinggi. Bukan. Bukan untuk menempati kesombongan. Tapi memberi ruang bagi cita dan semangat.


Engkau agung, karena manusia menghormatimu.
Engkau mengagumkan, karena orang-orang terpesona padamu.
Engkau ramah, karena orang-orang bisa bergaul denganmu.
Engkau lembut hati, karena orang-orang menemukan dalam dirimu sisi-sisi kemanusiaan yang tidak mereka temukan dalam diri orang lain.
Dan engkau mulia, karena manusia mengetahui dimensi kepribadianmu yang sesungguhnya.
Kendati semua orang telah menyematkan sifat-sifat diatas kepadamu, namun bisa saja penilaian-penilaian ini berubah dengan tiba-tiba, apabila engkau berperilaku semaumu, dengan model yang tidak mereka senangi, dan mengganggu.....
_DR Hasyim Abduh Hasyim_

            Dan terakhir, Maka ijinkalah saya tuliskan nasehat kecil Jim Rohn ini untuk diri sendiri dan semoga pun manfaat untuk yang lain :

Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tapi kamu jangan.
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan.
Biarlah orang lain menangisi kepedihan-kepedihan kecil, tapi kamu jangan.
Biarlah orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan.

+++
Untuk semester 3 yang lebih baik. Ayo Fiqah. Hamasah!!!! Keeping smile!! Be the best!! You Can!!
+++


-Rafiqah Ulfah Masbah-
~Dalam renungan subuh buta,
memaknai nilai-nilai yang berantakan,
menyelami segala rasa kecewa & tak suka
membaca rasionalitas~

Minggu, 26 Juni 2011

Surat kecil untuk sosok dibilik benci

Aku mengerti, kali pertama kita berjumpa, itu sudah menjadi takdir Allah..
Sebelum dan sesudah kita mengenal, Kita adalah saudara seakidah.
Maka, dalam jalinan kita, tentu, aku, kamu maupun dia telah bersepakat untuk selanjutnya banyak-banyak bersabar terhadap cela yang ada,  menjadi yang paling paham, menjadi yang paling menanggung luka.

Kita telah menyadarinya disaat pertama kali menyebut nama.

Namun saudaraku, terkadang justru untuk sedikit perbuatan kecil yang ternyata terlalui melukai, aku salut jika hatimu tak tercerai. Dan tentu itulah yang paling diharap diri ini.
Tapi mungkin tidak.

Dengan caramu merendahkanku seperti itu, kau sudah tak bisa bohong bahkan pada dunia bahwa kekecewaan telah berada diluar hatimu.
Dan ya. Kecewa. Marah. Mungkin hanyalah pilihan-pilihan yang bisa kuambil salah satunya untuk menjadi balasan perasaan.

Tapi apakah demikian saat kita belajar tentang ukhuwah bersama?. Tapi apakah senyum-senyum yang dulu terhias di sudut-sudut diari hari akan kuhapus karena 1 halaman hitam yang kau tumpahkan tinta?. Aku tidak. Aku tidak akan pergi dari hati kalian meskipun jarak kubentangkan. Aku tidak. Meski kau menolak. Karena, tahukah. Terlalu mudah untuk manusia saling mengenal. Tapi yang paling sulit dari perkenalan itu, adalah menjaga keberlangsungannya..

Maka aku tidak. Caramu merendahkanku itu. Hanyalah satu alasan bagiku untuk teruji seberapa dalam telah termaknai ukhuwah kita selama ini. Dan aku tidak. Semua hal yang ada, hanyalah konsekuensi dari ketidakmengertianku terhadapmu. Hanya teguran bahwa ternyata aku tak bisa menjadi saudara yang baik. Yang mampu selalu memahami hatimu, yang peka terhadap teguan kecil disudut matamu. Yang tak selalu sesuai dengan harapmu.

Maka caramu merendahkanku seperti itu, anggaplah saja bentuk cintamu yang tak lagi bisa digambar keindahan....

Maka tak ada alasan untukku kecewa, apalagi marah.

Aku paham saudaraku...

Meski aku mungkin menangis menahan sakit dengan kekata yang kau teriakkan pada seluruh manusia menampakkan keburukan diri yang sungguh pedih.
Namun, dalam tiap takdir luka yang kau beri, Aku senantiasa berharap tertakdir pula kemaafanku mengiringi.

Maka ku harap suatu waktu yang keluar dari mulut-mulut kita hanyalah terima kasih.
Yang tumpah dari hati-hati kita hanya kasih..
Hingga dalam takdir ukhuwah kita, malaikat pun cemburu... :-)




Dari saudara di pinggiran yang mungkin tak menarik lagi untuk dikenal..

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Jumat, 17 Juni 2011

1 lagi tentang CINTA

Bismillahirrohmanirahim...



Seseorang bertanya padaku kali ini :

“Mana yang Ukhti pilih,” tanyanya, “MENCINTAI ATAU DICINTAI??? ALASANYA???



Ya. Antara Mencintai atau Dicintai.

Sesuatu yang sebenarnya bukanlah menjadi pilihan sebagai seorang manusia dengan fitrahnya untuk saling cinta-mencintai.



Dicintai  adalah indikasi keistimewaan diri kita, entah itu dihadapan manusia maupun dimata SangPencipta. Maka mereka yang kadar kecintaan orang lain padanya tinggi, pastilah ia adalah manusia yang punya sesuatu hal lebih dalam dirinya. Itu indikasi. Dicintai juga adalah bentuk keberartian kita. Ya, hal tak terlepas dari ciri orang-orang besar. Lebih jauh, karena itupun menjadi kebutuhan. Manusia butuh dicintai oleh orang lain, hingga kita mengenal apa itu arti sebuah kepercayaan. Maka kita paham bagaimana rasa spesial itu sebenarnya. Dicintai manusia, terlebih olehNya yang tak tertakar betapa indah ketika seorang hamba dicintai oleh Rabbnya. Namun, disela keindahan bentuk dicintai itu. Disanalah senantiasa bertengger apa yang kita sebut dengan Kesombongan, congkak, tinggi hati. Karena seseorang terkadang terlalu tak sanggup mengarahkankan buncahan emosi dimana setan mulai mencolek sedikit saja nafsunya. Itulah bahayanya.



Mencintai. Ya. Suatu kata kerja. Bagi kerja-kerja yang peruntukannya untuk Allah, maka bukankah ianya bisa menjadi ibadah?. J Sehingga mencintai bagiku adalah sebuah perbuatan mulia. Tapi dalam proses mencintai itu terkadang terselip penyakit. Ketika kecintaan kita menjadi asas bagi semua tindakan. Dimana setelah melewati batas tertentu ia akan menjadi penyembah atas cintanya.

Maka mungkin itulah kenapa, Ibnul Qayyim Al Jauziyah, imam rujukan kita, dalam Raudhatul Muhibbin-nya menorehkan kalimat, “Andaikata orang yang jatuh cinta itu boleh memilih. Ia pasti akan memilih untuk selama-lamanya tak jatuh cinta.”

Tapi sungguh tidak semua kata didunia harus kita terima. Karena hanya dari lisan yang tak terdusta (Rasulullah SAW) itulah mungkin kita bisa sepenuhnya percaya. Bagi saya. agaknya mungkin kurang pas kalimat yang bernada menyerah pada cinta tersebut. (Tentunya ini hanya sedikit nila bagi lautan madu karya-karya agung Ibnul Qayyim). Ya. Bagi yang tetap meyakini cinta itu sebagai kebenaran, silahkan saja menurut saya.. Tapi mungkin Dengan sedikit mengubah konteks ‘Jatuh cinta’ menjadi ‘Bangun Cinta’. ^_^

+ + +



Kembali. Tapi pertanyaannya mungkin, ketika dihadapkan pada keadaan dimana harus memilih diantaranya. Maka yang manakah yang harus saya pilih?.



Untuk konteks antara diri saya dan Allah SWT. Maka saya sebut diri saya egois. Saya tak mau cukup dengan mencintaiNya sementara tak mendapatkan cintaNya. Sungguh bukankah jika kita tidak termasuk orang beriman, maka pastilah orang yang celaka. Sementara Kecintaan Allah tentulah hanya hak mereka yang beriman?.



“Tiadalah hambaKu,” begitu Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi,”Mendekatkan dirinya kepadaKu dengan sesuatu yang lebih aku sukai, daripada saat dia jalani apa-apa yang Aku wajibkan untuknya. Dan hambaKu itu tidak puas hanya dengan menjalankan yang wajib saja. Maka dia terus mendekat kepadaKu dengan hal-hal yang Aku sunnahkan, sampai Aku mencintainya.”

“Maka jika Aku telah mencintainya,” lanjutNya, “Aku akan menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk menyimak. Aku akan menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk menyaksikan. Aku akan menjadi tangan serta kakinya yang dia gunakan untuk bertindak dan bergerak. Jika dia memohon padaKu, Aku akan menjawab pintanya. Jika dia meminta perlindungan maka Aku pasti melindinginya.”



Indah sekali bukan?. Tapi mari kita cermati dengan baik firman ini. Syarat yang menjadi jalan bagi kita untuk DicintaiNya. Semua adalah perbuatan yang diakibatkan oleh karena kita MencintaiNya. Sehingga dengan itu kita memilih untuk berbuat dan berbuat. Hingga Ia pun mencintai kita. Semua bermula dari mencintai. Ya. Untuk juga dicintai.



Maka begitupun, jika pertanyaan itu diberlakukan dalam hubungan dengan manusia. Maka saya memilih untuk MENCINTAI.



Seperti yang saya katakan tadi, Mencintai adalah kata kerja. Maka suatu pekerjaan yang kita lakukan pastilah memiliki nilai. Dalam suatu keadaan timbal balik. Yang utama tentu menjadi subjek. Dan coba saya tanya, tidakkah agar kurang mengenakkan ketika kata ‘objek’ disetarakan dengan istilah ‘korban’??.

Korban adalah yang dikenai, terdengar pasif. Tak punya kekuatan. Iya kan?.

Ketika kita berbicara soal “subjek”= pelaku, Ada unsur kuasa disana. Sesuatu dimana kita punya hak untuk mengenai sesuatu. Dalam kata cinta. Maka saya memilih subjek yang melakukan pekerjaan tersebut. :-)



Ada yang unik dari jalinan indah antara manusia. Ketika seseorang dikenai keburukan oleh sebab kita. Maka kita turut andil dalam menanggung dosa. Begitupun sebaliknya. “Tak terkecuali dalam cinta,” kata Salim A. Fillah, “Selalu ada ruang diantara rangsangan dan  tanggapan. Dan disanalah terletak pilihan-pilihan.” Coba bayangkan ini. Ketika kita dicintai. Dan kita menangkap tepat dengan “salah pilih ekspresi”. Maka tanggung jawab atas hati saudara kita yang tersalah pantulkan itu pun menjadi hak kita. Jika tersebab diri kita, hati saudara kita terkotori atasnya. Maka itu semua tanggungan kita.



Maka sebanyak orang-orang itu. Jaring tanggung jawab pun tak terpisah antara kita dan hati mereka.

Sementara atas perbuatan kita mencintainya, itu adalah tanggung jawab kita sendiri. Sebanyak kita mencintai dengan salah, sebanyak itupun balasan dibebankan. Sebanyak kita mencintai dengan benar, sebanyak kemuliaan itu pula menjadi teman kita.



Mungkin itulah yang dipelajari John C. Maxwell hingga ia menulis dalam bukunya Winning with People. “Anda bisa mendapatkan teman lebih banyak dalam dua bulan dengan menjadi tertarik pada orang lain, Daripada dalam dua tahun dengan mencoba membuat orang lain tertarik pada Anda.”



Ya. Bukankah sudah disabdakan oleh Rasulullah sebagaimana direkam oleh Ath Thabrani yang intinya, Orang yang paling besar kecintaannya pada saudaranya adalah yang paling dicintai oleh Allah.

Maka kita paham dicintai itu hanya akibat. Dan mencintailah sebabnya.



Itulah kenapa bagi saya.pekerjaan pertama yang harus dilakukan oleh kita dalam hablu minannaas ini adalah mulai mencintai.

Karena memilih mencintai mensyaratkan kita menghargai perbedaan. Dimana berarti kita bersedia untuk memula memberi bukan menerima. Cinta akan meminta semua dari kita, pengorbanan , pengertian. Ya, menjadi pengangkat, menjadi yang paling memahami, menjadi yang paling menghargai. Dan itulah pekerjaan-pekerjaannya Pecinta.

Maka para pecinta bagiku adalah ksatria. Kesediaan menanggung beban. Itulah yang kusebut KEBERANIAN.

Dan sayangnya, para pecinta terkadang justru bisa tersenyum disaat darahnya mengalir untuk menghapus derita saudaranya. Ia bisa merasakan cabikan dalam ketika seseorang menggores sedikit saja kulit saudara yang dicintainya. Ia bisa menjadi yang paling geram, ketika ada sekelompok orang mencungkil sedikit saja keburukan yang dicinta. Dan mampu menjadi yang paling pertama berteriak bahkan sebelum yang tercinta membisikkan kata. Maka sungguh agung seorang pecinta bukan?. :-)



Dalam Law of Attraction (Hukum ketertarikan), apapun yang  kita pancarkan akan direspon dengan berkali-kali  lipat dalam kehidupan kita. Maka begitupula dengan cinta. Sekali lagi, Mencintai itu hanya alasan untuk dicintai.

“Sebab memulai ungkapan cinta adalah penanada cinta yang lebih tinggi,” kata Salim A. Fillah, “Sebab cinta yang lebih tinggi mengantar pada kemulian cinta Ilahi.”

Ya. Karena Dicintai hanya akibat dari perbuatan cinta kita...

Hingga itulah kenapa saya memilihnya....^_^

Wallahu a’lam..... :-)



^_Rafiqah Ulfah Masbah_^

Kamis, 16 Juni 2011

Persaksian kali Pertama




(Sang Gerhana)

Padanya yang mengenakan jubah keemasan
Aku menyaksikan.
Saat lenggang warnanya mengarak perlahan.
Mencengang sudut-sudut kesadaran,
Yang tak bisa tidak memaksa bening jatuh disudut mata.

Keperkasaannya memancar.
Ya. Padanya yang meyeruakkan tinta keemasan.
Allah menegaskan kebesaranNya..

diberjuta pasang mata, ia sunggingkan senyum keelokan.
Maka betapakah mempesona keagungan itu terpampang dihadapan,
Diantara ketukan jiwa yang kian menghentak penginsyafan.

Diwaktu sajadah-sajadah insan terhampar,
Tertunduk kemudian dikekerdilan talu kalimah-kalimah yang membahana meriuhkan jagad malam.
Untuk Mu Rabb sekalian alam.
Maka tanda kecil itu Kau percikkan.

Ya Pada lingkaran keemasan yang membuat takjubku tertahan.
MasyaAllah.
Itu dia.
Gerhana...




#diteras rumah yang sunyi, jingga itu menepi#

***



_Rafiqah Ulfah Masbah_

(Kamis, 16 Juni 2011, 03.28 WITA)

Selasa, 14 Juni 2011

Memahamkan Akal, Menangkap Batas




Ada hal yang tak terjelaskan oleh teori.
Seperti kau tak mengenal apa itu dingin dan panas hanya sebatas membacanya dengan sekian celcius tanpa pernah merasakannya dan paham.
Ada banyak hal yang tak bisa diuraikan oleh angka-angka yang pasti.
Ada sesuatu yang tak bisa dimengerti dengan hitungan kualitatif.
Seperti ketika seorang matematikawan John Nash melamar kekasihnya dan bertanya, “Hey, Apakah hubungan kita memerlukan komitmen jangka panjang?. Karena aku membutuhkan semacam data empiris.”
Oh ya. Mungkin kau tertawa betapa scientificnya dia. Dan apa kata cerdas kekasihnya ketika itu;
“Ehmm, bukti. Semacam data yang diverifikas ya. Umm.. oke. Seberapa besar alam semesta?”, tanyanya.
“Tak terhingga.” Kata John.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku tahu karena semua data menunjukkan hal tersebut.”
‘Tapi belum terbukti. Ya?”
“Ya.”
“Bagaimana kau tahu pasti sementara kau belum melihatnya?’’
“Aku tidak. Aku hanya percaya.”
“Mm.Ya. Ini sama dengan cinta, kurasa”.
Maka memang begitulah.
Jika semua hal harus bisa dicerna dengan logika.
Maka mungkin butuh waktu seumur hidup untuk kemudian membuatmu gila.
Atau memilih percaya.
Karena kau pasti tak menyangkal.
Betapa banyak hal yang tak memiliki nilai mutlak.

Lantas apa nilai dari suatu kejeniusan?.
Keberhasilan??. Pembuktian??. Uang ???
Tidak kawan. Tapi PENGAKUAN!.
Ataukah apa ujung dari sebuah pencarian??
Kongkrit. Nyata. ??. Tidak.

“Aku selalu percaya dengan angka. Didalam persamaan dan logika yang mengarah kepada alasan. Tapi setelah pencarian seumur hidup seperti itu. Aku bertanya. Apa sesungguhnya logika itu?. Siapa yang memutuskan alasan?. Pencarianku telah membawaku melalui fisik, metafisik, khayalan, dan kembali. Dan aku telah membuat penemuan terpenting dalam karirku. Penemuan paling penting dalam hidupku. Hanya ada dalam kemisteriusan persamaan cinta. Sehingga setiap alasan logis dapat ditemukan.”
(John Nash, Nobel Prize Ceremony. Stockholm, Sweden. December, 1994)

Tahu apa penjelasan dari kesimpulannya hari itu?.
Serangkaian PENGALAMAN yang memberinya tempat untuk memahami perasaan.
Pengalaman.
Proses.
Itu yang tak bisa kau temukan dari diktat kuliah yang demikian tebal.
Yang isinya telah kau telan mentah-mentah.
Dan justru disitulah.
Ada hal diluar nalar ini yang perlu terjelaskan oleh TINDAKAN.
Perjalanan panjang yang bermuara pada satu hal. KEPAHAMAN.
Dan sekali lagi apa yang benar-benar dibutuhkan dari suatu teori yang selalunya berawal dari ketidak masukakalan?.
Ya. Pengakuan.
Pengakuan yang bermula dari PEMAKNAAN akannya.
Baik diri maupun orang lain. Bahkan Tuhan.

Maka itu pulalah mungkin yang menjelaskan, mengapa para Ustadz sering menasehatkan.
Bukanlah yang terpenting banyaknya ibadah. Tapi makna dari tiap-tiapnya.
Seperti juga ketika Soekarno berteriak lantang.” Berikan saya 10 Pemuda yang Revolusioner, maka saya akan mengguncangkan dunia.!”

Ya. Maka mungkin itulah kenapa kita mengenal kata KUALITAS. yang menerangkan nilai dari suatu yang tak bisa terwakilkan oleh angka.
Maka aku setuju pada mereka yang berprinsip, “mendahulukan kualitas dibanding kuantitas.”

Dan sekali lagi. Karena yang benar-benar dibutuhkan adalah bukan hanya tentang betapa realnya sesuatu, tapi Pengakuan untuk itu.
+ + +


_Rafiqah Ulfah Masbah_

Kamis, 09 Juni 2011

Karena yang Terbaik tidak selalu menjadi yang Terindah





Hari ini aku sadar.
Bahwa kenyataan itu tak harus selalu sesuai dengan harap.
Hari ini aku belajar.
Bahwa sekeras usaha, ujungnya tetap berada di titik kuasaNya.
Ditangan kita masih ada garis yang tak ikut tergenggam.
Sisa garis yang berada diluar kendali kemanusiaan.
Yang disanalah letak Kuasa Allah yang tak mampu kita ubah.

Kadang baginya, Sang Penggenggam Keadaan,
mewarnai kita dengan sedikit kesusahan,
segenggam kecewa,
Sebagai batu ujian.
Kadang Ia menyengaja melukai rasa,
agar HikmatNya kian tertanam didalam jiwa.

Hari ini baru kembali ku terinsyaf;
Boleh jadi aku mencintai sesuatu, tapi belum tentu itu baik untukku.
Dan bisa saja aku membenci sesuatu, padahal itu lebih baik bagiku.
Sungguh selalu ada alasan yang tak harus bisa dimengerti.
Namun kita tetap harus percaya.
Bahwa disaat sesuatu Ia ambil,
Ia telah siap memberi yang lebih baik.
Meski memang,
Yang terbaik itu, tak selalu menjadi yang terindah....
* * *


Rafiqah Ulfah Masbah

Kamis, 02 Juni 2011

Robot kesemena-menaan



Ketika ribuan buku sibuk mengupas tuntas masalah peradaban.

Dilain sisi keadaan semakin mengecilkan miniatur-miniatur perubahan.

Kita menyaksikan.

Bagaimana pemikiran ditumpulkan oleh perangkat-perangkat yang mengikat dalam kewajiban tak masuk akal.

Tiap sudut potensi dijebak untuk mengikuti hanya satu komando.



Lantas apa masih layak mempertanyakan ini?,

Ada apa dengan negeriku, Tuhan?

Kapankah ia berhijrah dari yang tersebut berkembang menjadi maju?

Ya. Mau melempar tanya kemana?

Kedalam?, Keluar?, Keatas?, kebawah?.



Sayang sekali.

Karena inilah sistem yang terjunjung.

Paradigma salah yang dipeluk.

Dan simaklah.

“Inilah saya anak sekolahan,

Yang bersekolah karena memang seharusnya sekolah.”



Dan dengan bangga memperkenalkan,

Inilah Indonesiaku.

Seksamai lagi,

Bagaimana institusi pendidikkan tampil

bak industri pencetak manusia

dengan program sekehendaknya,

Dengan kurikulum terberat dibanding negara lainnya.

Lebih curang menguras kantong kemelaratan.

Dan abai memaksakan masuk seluruh suplemen otak bahkan yang tak diperlukan.

Pantas banyak rintihan sesak.

Wajar saja.

Perangkat yang lupa mengarahkan seseorang sebagaimana ia  mestinya.

Inilah masalahnya.

Pendidikan kini tidak lagi tentang,

Siapa Kamu?, Tapi Kamu harus!

Bukan lagi,

“Inilah saya.” Tapi “Inilah robot kesemena-menaan atas nama pendidikan.”


_Rafiqah Ulfah Masbah_