Sabtu, 16 Juli 2011

Itukah yang ingin Kau Dengar??

_Ketika bunda akhirnya berkata_



***
Mencoba menyusun semampunya yang bisa tertangkap & tinggal....
***

“Engkau gadis yang rupawan anakku.” Ia tersenyum..
“Apakah itu yang ingin kau dengar dari lisan setiap pria yang menatapmu??” Ia masih tersenyum..
“matamu menawan...”
“Benarkah itu yang membuatmu begitu susah menunduk?”
“Takutkah engkau bahwa dunia akan luput dari kilaunya?” Ia menatapku semakin dalam.
 “Aku takut kehilangan jelitanya di satu masa....”
Matanya menerawang.

“Anakku, engkau benar-benar gadis yang saangat manis. Hatiku tentram setiap melihat garis bibirmu yang terkembang...”
“Itukah yang benar ingin engkau dengar dari tanggapan suamimu dihari pertama pernikahanmu?”
Aku tersenyum. Tanggung.

“Suaramu merdu Nak. Aku tau engkau senang bernyanyi tapi sering kuminta engkau berhenti dan berdalih bahwa aku tak menyukai lagunya.”
“Tapi engkau menurut sesaat & melanjutkannya lagi dengan riang.”
“Engkau bilang bahwa hanya rumah ini tempatmu bernyanyi sebebasnya. Aku bahkan baru tau darimu bahwa suara itu adalah aurat.”
Ia tertawa kecil.

“Tapi nak. Justru karena dipinggir halaman kita ada yang curi memutar musik untuk mengiringi lagumu itulah yang menggelisahkanku.”
Aku tertunduk. Ia masih mempertahankan senyum itu.

“Anakku,,,Sepanjang beberapa tahun ini aku menyaksikanmu banyak menuntut ilmu..”
“Engkau gadis manisku yang pasti lebih banyak tau dari aku.”
“Tapi sudahkan engkau benar-benar belajar Nak??”
“Sehingga tiap butir syair yang terangkai dari suaramu adalah kebajikan yang indah terdengar.
Sehingga tiap bentuk lukisan yang tampak dari lakumu adalah ketentraman di jiwa....”

“Anakku.... Engkau adalah gadis menawan.....”
“Itukan??? Itu yang selalu ingin engkau dengar dari lisanku yang selama ini seolah hanya bisa meluncurkan kata negatif?”..
Ia benar-benar sempurna menatapku dengan senyum yang sangat teduh.

“Kita adalah orang tua dan anak.” Matanya mulai berembun.
” Berada di satu garis darah...
Tapi sejak kecil, engkau lebih senang duduk sendiri menatap langit. Engkau tak pernah mengajakku untuk sekedar bertanya, ‘Bunda, kenapa langit warnanya biru?’
Aku tak berani duduk disampingmu Nak. Takut mengganggu khusyu’mu...
Hanya terus berusaha membaca matamu yang seolah penuh tanya dan mencipta jawab seorang diri. Menyeksamai kilat-kilat matamu yang entah menangkap apa dari pemandangan yang engkau saksikan.”

“Sejak kecil Engkau memang gadis ku yang ceria. Tapi aku tahu Nak, disudut-sudut ranjangmu Engkau biasa menangis sendiri, sesengukan, meski coba kau tahan untuk tak bersuara.
Aku mendengarkanmu Nak. Dari ruang-ruang hatiku. Dan aku menangis. Bersamamu. Meski tak bisa saling mendekap.”

“Sejak kecil engkau mungkin tak pernah menganggapku sahabat Nak, kecuali seseorang yang tak pernah memahami perasaanmu sama sekali.
Engkau tumbuh. Engkau tersenyum padaku setiap pagi. Dan hingga hari ini. Engkau sudah menjadi bunga mawarku yang merekah. Merah. Indah.
Dan engkau masih juga dengan perasaanmu sendiri Nak.
Aku bukanlah tempatmu pulang.
Kecuali kamarmu yang selalu menjadi saksi bisu masalah demi masalah, pergulatan demi pergulatan jiwa yang engkau rasa di usiamu sekarang.
Tak pernah ada celah dari pintu itu untuk ibu masuki sekedar membantumu Nak.
Maka sengaja aku pasangkan cermin besar disana agar tiap kali engkau pulang, engkau bisa mengaca dan tersenyum menatap dirimu tumbuh dewasa. Agar engkau bisa melihat wajah seseorang, mengajaknya bercakap, dan bahwa engkau tak sendiri. Dari cermin itu aku mampu memandangimu sebebasnya.
Aku belikan untukmu kasur yang sangat empuk. Agar engkau bisa istirahat setenang-tenangnya dari kelelahanmu pada dunia ini Nak. Agar setidaknya ia mengganti pelukanku yang tak pernah engkau datangi....”

“Tapi.... aku justru membuatmu semakin mencintai kesendirian itu ternyata.
Engkau benar-benar mengunci pintunya. Dan tak ada lagi tempat bagiku mengintipmu kecil-kecil.
Dan aku menangis......

Bukan. Bukan karena aku marah Nak.
Hanya semakin cemas.
Engkau mulai mengenal banyak nama.
Engkau menuliskan mereka disisi-sisi atas buku harianmu......
Setiap hari....
Aku cemas Nak.
Bukan karena ternyata hanya satu dua namaku tertulis disana...
Tapi,,, aku takut nama-nama itu menjelmamu bukan lagi seperti gadis manis ku yang lugu...
Aku takut suara mereka yang sering kau dengar membuatmu lebih riang dan tak lagi bisa sejenak mendengarkanku bicara. Ya. Menyeksamai percakapan kita yang biasa terjalin dari jiwa. Hanya itu. Dan bukan suara.
Aku takut Nak...
Engkau bunga mawarku yang mewangi. Banyak yang akan singgah mencium wangimu.
Engkau senang dijumpai. Tapi duri-duri kadang melukai mereka. Dan mereka meringis. Pergi.
Engkaupun menangis lagi......
Dan tiap kali, hatiku pun ikut teriris-iris.

Engkau bunga mawarku yang cantik memang Nak.
Itulah yang membuatku cemas....”

“Aku bukan mawar bunda. Bukan.” Batinku.

“Benarkah Engkau berpikir kata-kataku salah, Nak??” Ia tersenyum lagi....
Ah ya, hatiku terbaca.

“Tapi bukan.
Bukan itu yang paling mencemaskanku sayang.
bahwa semua padamu adalah anugerahnya...
Anugerah untukku...
Kecuali...
Bahwa benarkah semua bening yang mengalir dari mata jelita itu bermuara pada  Satu Nama...?
Benarkah sudah syair lagumu yang indah kau nyanyikan dengan namaNya ditiap akhir baitnya?
Benarkah dalam galaumu yang sering membuatmu menangis setiap malam adalah sebuah percakapan yang haru denganNya??
Ataukah justru bentuk kekesalan demi kekesalan.
Adalah bahwa aku gagal membimbingmu memilih rasa yang benar??
Untuk 1 ini...
Aku tak pernah sampai bisa membacanya dengan jelas Nak....

Terlebih sekarang.....
Ketika aku melihatmu berangsur lesu....
Setelah coba mengubur perasaanmu dengan segala kesibukan diluar.
Aku tau tak berhak marah. Karena itu mungkin akan semakin membuatmu terpuruk.

Dan kini..
Ketika sekali lagi aku melihatmu berangsur lesu.
Tiba-tiba matamu buram akan dunia bahkan Tuhan.
Ketika semangatmu yang kemarin sore menyala-nyala pun padam.
Ketika engkau cemas...
Cemas.
Ternyata mencemaskan masa depan..........................

Engkau mulai tak percaya diri, bahwa semakin banyak yang membuatmu terlihat buruk.
Engkau semakin acuh. Bahwa tak ada lagi yang menganggapmu..
Engkau semakin jatuh dengan mimpi-mimpi yang segunung..
Engkau tiba-tiba mulai tak percaya diri....

Hey,,, apakah engkau lupa bahwa engkau adalah mawarku Nak.
Selalu indah.......”

“Aku bukan mawar bunda.” Suaraku bergetar. “Bukan!” Lidahku pelan-pelan bisa kuangkat.

“Baiklah.........
Tak setujukah engkau ku sebut mawar Nak..?”
Aku tak memberi satu pun isyarat. Ia tersenyum kemudian.

“kalau begitu.
Jadilah kaktus...!!
Jadilah engkau kaktus!”
Aku sontak menatap matanya. Menagih.

“Ya. Jadilah kaktus sekarang. Dan berbungalah disaatnya,,, di akhir waktumu. Di akhir usiamu. bertahan.”

“Apa?”

“Akan ada seseorang yang datang padamu anakku.
Percaya ibu.
Ia mungkin hanya memandangmu sekali dari kejauhan.
Karena memang tak berani mendekat.

‘Dia’.
Yang beberapa waktu kemudian akan datang lagi...
Tak peduli bahwa harus menemui di lahan tandus yang semua orang tak ingin datangi...
‘Dia’.
Datang lagi.
Satu-satunya yang memahami bahwa engkau indah.

Dan diwaktu itu..
Mekarkan bungamu.
Hanya untuk ‘dia’..
Seterusnya..
Hingga akhir waktumu Nak...

Apakah kau mengerti??”

Aku tidak mengangguk. Juga tidak menggeleng.


“Anakku.....
Dengar ini baik-baik.
Engkau gadis yang jelita, cerdas, mempesona & ramah.
Engkau senang mendengarnya?.

Tapi tidak Nak.
Itu bukanlah kalimat istimewa.
Engkau masih kekurangan satu kalimat penting.
Satu kalimat dari ‘dia’.....

- Terima kasih-

Ya.Terima kasih.  Terimakasih telah menjadi yang paling indah. Untuknya seorang.

Dan saat itu....
Aku yakin engkau bahkan tak bisa hanya sekedar tersenyum..........”.
***

“Dan untuk itu, ibu tak lagi harus cemas.” Ia meraih tubuhku....



Sempurna terisak....... (-_-)




_Rafiqah Ulfah Masbah_
_15 Sya’ban,
Saat matahari merangkak Naik

Jumat, 01 Juli 2011

Cukuplah menjadi Embun dipucuk-pucukmu




Beningku masih melekat dipucuk hatimu...
Aku tidak pergi selamanya..
aku mungkin hanya embun
yang memberimu segar disubuh-subuh buta.
Beningku masih melekat dipucuk-pucuk tasbihmu...
Aku tidak pergi..
Hanya membiarkan kering untuk panas matahari berganti  memberimu makan..
Beningku masih melekat dipucuk-pucuk kesadaranmu...
menggantung menjadi mutiara-mutiara yang menampakkan satu lagi kuasa Tuhan..
Aku mungkin hanya embun...
yang merembesi gulita-gulita malam..
Bahkan mungkin samar kau kenal...
Aku mungkin hanya embun..
yang menggembul menampakkan pesonamu disaat pak Imam berjalan ke mesjid depan rumah lalu tak sengaja membasahi tanganNya.
Dan Ia berucap, “MasyaAllah.”
sambil menatapmu dalam-dalam.
Aku mungkin hanya embun..
yang berharap mampu menyungging tahmid dari sosok-sosok yang terbelalak disayup tanda-tanda..
Aku hanya embun..
Beningku selalu melekat dipucuk-pucuk hijaumu...
Aku disini, disaat senyap membuat semua mata lekang dari warnamu.
Meski aku hanya embun..
Itu cukup..



_Rafiqah Ulfah Masbah_