Kamis, 18 Agustus 2011

Seseorang yang kubicarakan ini... kupanggil..... "KAKAK"!




                Aku menangis kali ini. Bukan hancur. Bukan kecewa. Hanya haru. Haru mengingat & memikirkan semua ini.
                **Kakak.
                Tentang seorang kakak. Kakak yang saat ini mungkin sangat dekat denganku. Aku mengerti satu hal, bahwa dia adalah seorang ikhwan. Aku mengerti dan sangat mengerti bahwa banyak orang yang berpandangan macam-macam pada akhirnya. Tentang kami. Tentang aku dan kakak.
Tapi aku belajar darinya juga untuk tak memusingkan apa kata orang. Toh, apa yang aku lakukan, apa yang aku niatkan, hanya aku sendirilah & Allah SWT yang tahu. Diatas semua kekata orang-orang. Meski iya. Tentu aku juga berkewajiban untuk Wara’ dalam hal ini.
                **Kakak.
                Aku tak pernah berani menuliskan namanya dilembar catatanku hingga detik ini. Bahwa sejak pertama kali aku mengenal kakak. Aku menyeganinya. Aku sangat menghormati kakak. Dan satu hal. Aku sangat percaya padanya. Lebih dari sekedar aku menjelma kepercayaan terhadap diriku sendiri. Aku mempercayai kakak bahkan untuk membagi hal-hal terburuk, bagian-bagian paling penting dari hidupku padanya. Ya, Entahlah. Bahkan sejak awal. Tak pernah terbersit dihatiku untuk menutupi hal apapun padanya. Sejak awal.
                **Kakak.
                Aku sungguh tak bisa memilah kata yang tepat tentang dirinya. Pernah SUAtu ketika ia memintaku menulis semua hal tentang dia dalam anggapanku. Dan tidak satu katapun yang rasanya cocok bahkan untuk memulai  tulisan itu, hingga sekarang. ^__^
Kakak. Seberapapun buruknya  aku sejauh ia tahu. Tak pernah sedikitpun. Memang tak pernah sekalipun kakak menghinakanku. Sekelam apapun diriku dahulu. Bahkan meski orang-orang menatapku dengan tatapan terburuk, ia selalu menyediakan untukku senyum-senyum yang lebih banyak. Bahwa terkadang tidaklah penting apa yang orang lain katakan. “Nilai seseorang itu bukan tergantung dari ucapan mereka.” katanya.
Kakak adalah orang yang selalu coba semampunya memuliakanku. Ia adalah orang yang paling menghargai. Menghargai diriku saat ini. Bahwa setiap orang punya masa lalu tergelapnya masing-masing. Dan yang terpenting bagi dunia terutama kakak, adalah seseorang itu saat ini. Seseorang itu yang mau menjadi lebih baik, sudah, & akan menjadi lebih baik lagi.
Ya, Kakak. Dialah orang yang saat ini mungkin menjadi yang paling percaya bahwa aku mampu. Bahwa Fiqah bisa. Bisa menjadi akhwat yang baik. Bahwa Fiqah berhak untuk mimpi-mimpi yang tinggi. Bahwa Fiqah bisa memiliki nama. Nama baik yang ditulis oleh sejarah.
                **Kakak.
                Dia yang akhirnya selalu membuatku bisa menhargai diri sendiri. Dia yang membuatku selalu berani menatap keatas. Yang terus berusaha membebaskanku dari kungkungan perasaan, yang porak-poranda oleh keadaan.
                Kakak selalu ada untuk menasehatkanku. Dan selalu berhasil membuatku melakukan hal-hal yang  tak pernah dipikirkan orang lain. Bahkan mungkin diriku sendiri. Sekali kakak mengatakan sesuatu. Meski itu hal yang selalu sukar kuanggap, mampu kulakukan juga. Karena mungkin sejak awal, aku mengenalnya sebagai orang yang tak pernah bermain-main dengan ucapan. Hingga tak ada waktu dan celah bagiku untuk menganggapnya sebagai kekata sambl lalu sekali aku sudah mengatakan ‘iya’.
Dan anehnya. Aku justru selalu menjelma yes woman bersamanya, eventhough it could be difficult. Bukan karena aku menyukai tantangan. Tapi karena kakak selalu berhasil membuatku yakin pada diri sendiri. Kakak sekali lagi, selalu percaya padaku. Lebih dari orang lain mempercayaiku. Sekecil apapun, sedetil apapun, tidak ada yang pernah luput. Luput dari penghargaannya.
                Disisi bakat-bakatku, kakak ada untuk mendampingi, memberi dorongan. Membuatku bertahan ditingkat-tingkat kebiasaan baik. Kakak selalu ada menjadi pemberi solusi yang bijak diantara masalah-masalah yang berdatangan. Kakak selalu berdiri tegas menutup semua aib-aib diriku yang seringkali senang kubongkar sendiri.
                “Allah sudah bermurah menutup aib-aib adik, kenapa masih saja harus diumbar seolah seluruh dunia harus tahu.” kata kakak selalu, “Cukuplah diri adik yang dahulu menjadi bagian dari sejarah beserta orang-orang yang bersamanya. Hargailah hidayah Allah yang diberi padamu saat ini dengan menjadi lebih baik.”
                Ya. Kakak. Dia tak memintaku menganggapnya lebih dari sebatas itu sekarang. “Hanya kakak.” katanya. Hanya menganggapnya kakak. Aku mahfum. Dan Ya. Sebatas kakak. Kakakku. Tapi dia selalu menjadi penting. Kakak adalah orang yang LUAR BIASA...
                Tapi dikesempatan ini, masih juga belum bisa kutuliskan namanya...
                Meski begitu inginnya kusuarakan..... *__*
                “Kakak.”  :-)

_Rafiqah Ulfah Masbah_