Kamis, 29 September 2011

Pada Senja yang Mendesak



Bila warna matahari tak lagi dapat menguning

Ketika angin tak lagi halus berdesir..
Terbangkan saja aku pada musim yang tak hidup & tak mati..

Biarlah aku menyusur saja.
Meraba waktu dimana pagiku pernah berwarna merah jambu.
Pernah. & selebihnya hitam.

Duhai Senja yang semakin buram.
Setiap gema putih yang sedikit-sedikit menegur kelopak mataku semakin abu-abu.
Tahukah bahwa perabot didalam rumah semakin berdebu?

Gubuk kayu tempatmu dulu sering kupersilahkan duduk semakin lusuh?
Bahkan malam tak lagi mampu mengeja bait daun yang jatuh dimeja tamu.

Ya. Banyak serakan bunga berhambur lalu layu...
Dimana jejak kemerahan terus terbaca sepanjang taman yang pernah menjadi saksi remah-remah salju...
Dan musim ini makin beku.
Tahukan engkau wahai senja...
Bahwa sapaanmu hanya memapahku pada malam yang gelapnya tak menakar.

Aku masih harus terbang melintas derai hujan..
Hingga mengenal apa itu dingin & panas.
Bukan sekedar aduan tanya..
“Kemanakah sapuan angin itu lalu tenang..
Dimanakah laju ombak itu menepi kemudian....”

Aku masih harus terbang, hai senja
mencari makan dalam ganas semesta
merengsek turun ke kolong-kolong rumah desa
menyusup diantara ranting-ranting kecil
merebah diatap-atap gedung kota..

Aku iri pada elang.
Kau tahu Elang?
Pada sayap yang tegas mengepak..
Pada  tatapan tajam yang mengokohkan tubuhnya.
Dan hidupnya kau tahu tak selunak bayangan nalar.

Aku ingin mengunjungi kediamannya lalu berguru...
Hingga saat pulang nanti tamanku tak lagi menjadi habitat kucing-kucing liar yang mengeong “I hate Slow”.
Hingga aku mampu menjaga setiap inchi tanah ini..
dimana pelangi tak lagi malu-malu menegaskan warnanya pada melatiku yang putih.
Ya. Aku rasa teriakan kucing itu seperti juga dirimu wahai senja.
Tak memberiku banyak jeda tuk nikmati langit jingga & matahari kemerahan.

Hmm..
Begini saja.
Temui aku nanti.
Nanti. disaat pagi sudah cukup bagi ledakan-ledakan mimpi.
Ketika siang telah lelah membakar tangan-tangan pekerja, menyoraki telinga-telinga pengejar cita.
Dan Jika sore sudah cukup menyuapi kantong-kantong yang kering...
Sapalah aku...
Pada taman yang sama.
Tempat kita biasa menghabiskan paruh hari dengan lukisan bunga.
Biar dalam lintas singkat itu bisa kuwariskan kisah-kisah yang menyubur di kilas-kilas zaman yang masih banyak sama.
Ya. Mungkin akan berbeda..
Momen itu tak lagi mesti sekesat hari ini..
Mungkin akan berubah. Mungkin juga tidak.
Setidaknya nanti...
Mungkin musim tak lagi akan membasahi kursi bambu dimana aku bisa menyulam rindu, merebah kalbu..
Menikmati lukisan warnamu yang anggun.. :-)

**Hmm...
Mendung pun cukup menjadi tanda sekiranya engkau setuju..


#Pada Senja yang Mendesak....
Biarlah mentari menguning setelah badai ini.

__~Rafiqah Ulfah Masbah

Jumat, 16 September 2011

Sebuah Puisi di bulan September

Memoar Seorang Perantau

oleh : Topi Jerami

 

 Kepada sahabatku;

                                   Penyair Maha Hati

                 Penulis Azure Azalea

        Penyair  Syahrir Amrirum

   Pengelana   Jarum Jam Bandul


1/

 

Aku tiba di sebuah paruh malam

malam kaum perantau sepertimu

 

kaki-kaki terpaku dengan dada yang mulai

terbelah, ada risau yang berhamburan darinya.

sebuah entah yang mulai memamah isi kepala.

elegi penantian di sudut mata atau sudut

bibir yang mendamba musim senyum

kembali memekar.

 

2/

 

Malam itu di tepi sungai beberapa tahun

yang lampau, aku bersila menyulam benang

bersuluh rembulan

 

cahaya matamu abah.

 

dari bibirmu mengalun irama petitih

para penombak bintang

kisah-kisah tua yang terlupakan.

 

Malam itu

berkodi - kodi benang memenuhi

isi kepala dan kedua lubang hidungku.

 

3/

 

Suatu siang pada musim panen

aku tiba di sebuah hujan yang lembab

gendang telinga terus merenggang

memintaku sebuah kecupan

kecipak cinta yang meruah di bibir--

bibir masa lalu.

 

guruh tak lelah menghantak kaki

sementara buah rinduku tak letih

terus menghanyutkan diri.

 

4/

 

Hallo paul si gurita sang peramal malam

ini tak seperti semua malam yang pernah ada

aku tak sendiri, burung-burung mulai mematuk

selaput otakku, kutemukan pula satu tantekelmu

turun dari hidungku yang bau hujan.

 

maukah kau meramalku

mati  tersenyum di suatu sore yang payau ?



5/