Senin, 24 Oktober 2011

13 Hal Yang Membedakan Masyarakat Jepang Dan Indonesia



1. Ketika di kendaraan umum:
Jepang: Orang2 pada baca buku atau tidur.
Indonesia: Orang2 pada ngobrol, ngegosip, ketawa-ketiwi cekikikan, ngelamun, dan tidur.

2. Ketika makan dikendaraan umum:
Jepang: Sampah sisa makanan disimpan ke dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah nemu tong sampah.
Indonesia: Dengan wajah tanpa dosa, sampah sisa makanan dibuang gitu aja di kolong bangku/dilempar ke luar jendela.

3. Ketika dikelas:
Jepang: Yang kosong adalah bangku kuliah paling belakang.
Indonesia: Yang kosong adalah bangku kuliah paling depan.

4. Ketika dosen memberikan kuliah:
Jepang: Semua mahasiswa sunyi senyap mendengarkan dengan serius.
Indonesia: Tengok ke kiri, ada yg ngobrol. Tengok ke kanan, ada yg baca komik. Tengok ke belakang, pada tidur. Cuman barisan depan aja yg anteng dengerin, itu pun karena duduk pas di depan hidung dosen!

5. Ketika diberi tugas oleh dosen:
Jepang: Hari itu juga, siang/malemnya langsung nyerbu perpustakaan atau browsing internet buat cari data.
Indonesia: Kalau masih ada hari esok, ngapain dikerjain hari ini!

6. Ketika shalat jum'at dimesjid:
Jepang: Jamaah berebut duduk di shaf terdepan.
Indonesia: Jamaah berebut nyari tempat pw (posisi wuenak) di deket tembok paling belakang biar bisa nyender/di bawah kipas angin biar gak kepanasan & tidurnya nyenyak.

7. Ketika terlambat masuk kelas:
Jepang: Memohon maaf sambil membungkukkan badan 90 derajat, dan menunjukkan ekspresi malu + menyesal gak akan mengulangi lagi.
Indonesia: Slonong boy & slonong girl masuk gitu aja tanpa bilang permisi ke dosen sama sekali.

8. Ketika dijalan raya:
Jepang: Mobil sangat jarang (kecuali di kota besar). Padahal jepang kan negara produsen mobil terbesar di dunia, mobilnya pada ke mana ya?
Indonesia: Jalanan macet, sampe2 saya susah nyebrang & sering keserempet motor yg jalannya ugal-ugalan.

9. Ketika jam kantor:
Jepang: Jalanan sepiiiii banget, kayak kota mati.
Indonesia: Ada Oknum pake seragam coklat2 pada keluyuran di mall-mall.

10. Ketika buang sampah:
Jepang: Sampah dibuang sesuai jenisnya. Sampah organik dibuang di tempat sampah khusus organik, sampah anorganik dibuang di tempat sampah anorganik.
Indonesia: Mau organik kek, anorganik kek, bangke binatang kek, semuanya tumplek jadi 1 dalam kantong kresek.

11. Ketika berangkat kantor:
Jepang: Berangkat naik kereta/bus kota. Mobil cuma dipake saat acara keluarga atau yg bersifat mendesak aja.
Indonesia: Gengsi dooonk... Masa' naik angkot?!

12. Ketika janjian ketemu:
Jepang: Ting...tong...semuanya datang tepat pada jam yg disepakati.
Indonesia: Salah 1 pihak pasti ada dibiarkan sampai berjamur & berkerak gara2 kelamaan nunggu!

13. Ketika berjalan dipagi hari:
Jepang: Orang2 pada jalan super cepat kayak dikejar doggy, karena khawatir telat ke kantor/sekolah.
Indonesia: Nyantai aja cing...! Si boss juga paling datengnya telat!


Sumber : http://besttaufiqblog.blogspot.com/

Jumat, 21 Oktober 2011

Alangkah Lucunya Dakwah Ini



Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika para Ustadz menjadikan dakwah sebagai profesi. Maka tak heran para Asatizah itu pun berlomba memperkaya diri. Dari mulai BlackBerry, sampai mobil Mercy semuanya pun dibeli. Apakah tak mereka baca siroh Muhammad SAW sang Nabi. Rasulullah SAW tidak meninggalkan dinar, dirham, hamba sahaya perempuan ataupun laki-laki. Beliau SAW hanya meninggalkan himar putih, pedang, dan sebidang tanah yang sudah disedekahkan kepada para Ibnu Sabil sebagaimana yang telah diriwayatkan Imam Bukhori (Fiqh Siroh: Al-Buthy).


Alangkah lucunya dakwah ini. Tatkala Qiyadah menuntut Jundinya untut selalu taat dalam mengabdi. "Sudah, tsiqoh sajalah akhiy/ukhty" adalah dalil mereka selama ini. Aneh, padahal mereka hanyalah manusia bukanlah para Nabi. Maka, kasihanlah para si Jundi. Mereka selalu diancam tentang ancaman keluar dari jama’ah bakalan melanggar aturan syar’i. Mereka diancam dengan hadits Nabi SAW bahwa menginggalkan jama’ah akan mati dalam keadaan jahili. Tapi mereka lupa akan kalam Illahi, “mereka menjadikan orang alim (Yahudi) dan rahibnya (nasrani) sebagai Tuhan Selain Allah...” At-Taubah (9) : 31; coba baca apa nggak ngeri?


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika Qiyadah menyuruh kita untuk memperkaya diri. Dia bilang bahwa seorang Muslim itu harus Kaya dan banyak materi. Dia juga bilang bahwa dulu Nabi SAW ketika menikah maharnya adalah puluhan unta yang zaman sekarangnya diqiyaskan dengan mobil Mercy. Dia juga bilang bahwa Abu Bakr, Umar, Utsman, Abd Rohman ibn Auf adalah para bangsawan yang hartanya tak bisa dihitung dengan jari. Akan tetapi, Qiyadah itu juga lupa untuk bilang bahwa infaq mereka juga sangat-sangat tinggi. Mereka serahkan seluruh hartanya untuk Allah dan Muhammad SAW sang Nabi. Bahkan Abu Bakr seluruh hartanya ia infakkan di jalan jihad yang sangat ia cintai. Sebuah pertanyaan, apakah Qiyadah mengambil contoh dari Nabi SAW atau malah Qorun sang kaya raya yang dimurkai. Surat At-Takatsur yang lebih tepat untuk menjawab hal ini.


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika manuver Qiyadah sering membingungkan para Jundi. Dari mulai melegalkan miras, judi, sampai ingin membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Atau mementaskan dangdut dengan dalih supaya lebih dekat dengan rakyat negeri. Berubahlah Qiyadah menjadi makelar umat yang umatnya bisa dijual dan dibeli. Maka dibuat-lah acara untuk mengejar kuantitas ketimbang kualitas yang mumpuni. “Dan janganlah engkau mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan...” Al-Baqarah [2] : 42; coba dah dibaca lagi.


Alangkah lucunya dakwah ini. Terutama bagi mereka yang mengaku da’i. Nyatanya sudah tidak ada lagi hijab antara da’i perempuan dan da’i laki-laki. Terlebih lagi ketika zaman sudah beralih ke teknologi yang super tinggi. Mungkin jika Karl Max masih hidup ia akan berkata Facebook sudah menjadi candu, kini. Padahal situs itu adalah situs jejaring sosial bukan situs jejaring pribadi. Maka, sudah selayaknya yang dikeluhkan adalah masalah sosial bukan masalah diri sendiri. Bukankah Allah memerintahkan kepada manusia untuk tidak bersedih hati? Tak percaya? tolong dibaca at taubah 40 sekali lagi.


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika HP sudah menjadi kacang goreng, dimana saja bisa ditemui. Maka berbondong-bondonglah para da’i membeli barang mungil ini. Ditambah dengan berbagai macam bonus yang ditawarkan provider membuat mereka menjadi lupa diri. Diskusi agama lawan jenis via SMS selalu menghiasi hari-hari mereka yang sunyi. Maka setan pun masuk melalui celah yang mungkin tak disadari. Bukankah kesungguhan setan dalam menyesatkan manusia sudah tidak diragukan lagi? Al-A’arof [7] ayat 7, kali ini yang menjadi saksi.


Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika mereka da’i lebih memilih menonton Indonesia vs Arab Saudi. Ketimbang untuk sholat ‘Isya di masjid yang mungkin jaraknya hanyalah beberapa kaki. Atau ketika adzan Shubuh menjelang mereka masih saja sujud di atas ranjang empuk yang membuat nyaman diri dan memberatkan kaki. Atau meninggalkan puasa sunnah dengan alasan lelah karena rutinitas sehari-hari.

Alangkah lucunya dakwah ini. Ketika mereka da’iyah membiarkan dirinya dilihat orang lain dengan sesuka hati. Mereka upload foto cantiknya di dunia maya yang tanpa mereka sadari menjadi konsumsi para laki-laki. Secara tak sadar mereka juga terkena virus feminim yang makin menjadi-jadi. Mereka secara tak sadar terkadang menuntut persamaan dengan kaum laki-laki. Maka tak sedikit dengan alasan dakwah banyak diantara mereka yang pulang syuro sudah larut malam hari.


Alangkah lucunya dakwah ini. Jika tulisan ini dianggap sebagai cerminan orang yang iri apalagi sakit hati. Ini merupakan pendapat salah satu jundi yang bisa juga dianggap sebuah koreksi. Lagi-lagi ini bukan untuk cari sensasi. Dan Insya Allah ini hanya dibuat dengan niat yang bersih dan dilandasi cinta yang suci.



Oleh Dinar Zul Akbar
mukminsehat.multiply.com

Selasa, 18 Oktober 2011

Izinkan ku hapus Nama mu dihatiku

Copast Catatan Facebook Ust Ismeidas Makfiansyah



catatan kecil tuk adik-adikku yg msh dalam kebimbangan...

izinkan ku hapus nama mu dihatiku

"wahai jiwa-jiwa yg tenang kembalilah kepada Robb-mu yg meridhoimu
masuklah kedalam hamba-hambaKu..
dan masuklah ke dalam syurgaKu" (al fajr)

sayangku...tahukah kamu...
ada perahu rindu yang lelah tertatih mencari dermaga hatimu..
hanya bayang manismu yg jadi pelangi dalam kosongnya hari
hingga malam lenyap membawa lari asa dan harap yg tak berbalas
menyisakan elegi rindu yg tertahan

sayangku...
bila semilir mengisahkan cerita duka tentang kita yg tak mungkin bersua
biarkan jiwaku mengembara menuju batas fana, tanpa sesal dan tak ada kecewa
karena ku yakin senyum resahmu tau ada cinta untukmu dariku...
dari jiwa yg tak pernah kau tau...

sayangku...
izinkan dambaku mengalah pergi menjemput nyata yg getir terasa
agar jiwa ini bisa lagi bercahaya, tak keruh karena nelangsa duka
ada cinta lain yg kan memelukmu sampai akhir bahagiamu
hingga suatu waktu tak ada lagi kisahku dihatimu...

jadi biarkan saat ini kubisikkan senyumku padamu
Allah tau aku mencintaimu... dari lirih doaku
disepertiga malam sujudku...

dalam hening kupinta padaNya menghapus namamu dari hatiku
hilang bersama bulir air mata yg mengalir sejenak
karena rapuh hatiku tak mampu menampung dua rindu...

"wahai jiwa-jiwa yg tenang kembalilah kepada Robb-mu yg meridhoimu
masuklah kedalam hamba-hambaku..
dan masuklah ke dalam syurgaku" (al fajr)

Jumat, 07 Oktober 2011

Bukan Pengingkar




Pernah ada sepersekian usia yang habis dengan tinta bercak-bercak. 
Melukis matahari meski esok mungkin tak temui lagi pagi. 
Mengukir panorama yang sejatinya tak nyata. 

Aku menelan kmbali kengerihan saat mereka coba menyerak halaman yang katanya mesti kusingkir. 
Bukan lagi dengan gelas duri, melainkan cangkir emas putih. 

Pada sabit yang merona.. 
Bagiku tiap detail yang menjelma 'aku' detik ini, adalah hanya cara. 
Suatu Bab permulaan yang tetap diakhiri dengan penutup. 
& sebuah buku tak mungkin hanya punya akhir tanpa prolog; isi. 

Di bingkai terakhir kali yang masih mencetak tebal namamu. 
Engkau masih mewarisiku janji yang tak mati. 
Yang tak pernah bisa dimengerti. 
Hanya sebuah gumpalan penegas di hati. 
Kesejatian yang tak terbantah. 

Sungguh takkan kulampaui ruang keterbatasan tuk hanya sekadar bertanya. 
Cukuplah aku bersulamkan keyakinan merasai sentuhan-sentuhan maya. 

Meski tak mahir menjelajah dimensi. 
Aku masih bisa temui tegur dari beberapa mimpi saat rohku berjalan, mungkin menziarahi pusara khayal. 
Khayal yang menjelma satu wajah. 
Tatapan seribu makna yang entahkah sebuah teguran atau nasehat. 
Tak lazim diterima logika. 
Tapi aku. 
Tahu. 
Itu. 

& aku tak pernah ditinggalkan mimpi. 
Memang mungkin jelmaan yang kurindu. 
Ya. Bukan Pengingkar. 
Aku tahu tanganmu tak pernah melepaskan diri dari tepian waktu yang berjurang terjal. 
& engkau menengokku ditiap pagi yang abu-abu.. 
& menemani senyumku ditiap istirahat malam. 
Aku
Masih
tentu

Bisa 
Memeluk bayangan. 



*Rafiqah Ulfah Masbah* 
>>Pada dini hari yang membentuk sabit, 
masih dengan mutiara yang terwaris di nisan pagi. ~_~