Jumat, 25 November 2011

Beliau tidak sekedar Guru, (beliau adalah Nuur Tuhan Yang Agung)



Aku tidak mengetahui nama lengkapnya. Dan memang tidak pernah tahu dan menghafalkannya. Aku hanya tak pernah melupakan, meski itu hanya sebuah nama panggilan. Pak SAID. Ya. Begitu beliau dipanggil. Seorang guru agama saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Beliau tidak hanya sekedar Guru bagiku. Tapi cahaya Allah yang bersinar terang di masa-masa itu, Masa kecilku yang sangat labil terhadap segala sesuatu.
Dulu. Aku adalah anak perempuan yang pemalu, sangat tak percaya diri, minderan, dan sangat sensitif. Sensitif. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis. mudah tersinggunglah pokoknya. Itulah mengapa teman-teman senang menjadikanku objek sindiran. Meski aku cukup betah menempati peringkat yang baik dikelas, aku hanyalah seorang anak perempuan yang tidak tahu bagaimana menghadapi seorang teman, atau bagaimana seharusnya mengangkat wajah pada dunia. ^_^ Ya. Itu dulu. Sampai beliau mengajarku. Semua berubah. Berubah tanpa kurasa.
“Anak-anak, semua sudah bisa baca Qur’an belum?” tanya beliau dengan wajah yang penuh sinar hari itu. Seluruh kelas berteriak-teriak. Ada yang bersanding kata tidak, ada pula yang iya. Dan aku hanya diam. Seperti biasanya, aku terlalu malu.
  Dengan bekal sebuah mushaf di tangan, Pak Said menghampiri kami satu per satu. Menunjukkan ayat-ayat tertentu untuk kami baca. Dan tibalah beliau dihadapanku. Tepat dihadapanku, menyodorkan mushaf tersebut.
“Nah, sekarang giliranmu Nak. Siapa namanya?” tanya beliau dengan senyum khas yang tak pernah akan kulupakan.
“Fiqah pak.” jawabku singkat sambil menunduk.
“Coba baca ini.” Beliau mengisyratkan aku membaca sebuah surah di jus 30.
Sungguh aku sangat tak percaya diri. Sangat tak percaya diri. Aku mulai membaca basmalah. Aku urung mendahuluinya dengan ta’udz, karena teman-temanku yang lain tidak melakukannya. Aku tak ingin dikatai sok.begitulah fikiran bodohku.
Pak Said mengisyaratkan seluruh kelas untuk diam. Ayat-ayat itu mengalun pelan dari lidahku. Pelan sekali. Dengan suara yang terbata karena begitu gugupnya. Dan, selesai!. Pak Said menatapku dalam dan berucap mantap.
“Ini yang saya cari. Bagus Nak. Kamu pandai!.”
Kawan. Aku tak akan melupakan ekspresi wajahnya saat mengatakan itu. Kata-kata itu seperti cahaya. Cahaya yang yang buatku akhirnya sudi menatap dunia. Sebuah kalimat kecil. Tapi sejak saat itu. Semuanya berubah. Drastis!
Pak Said akhirnya selalu mempercayakanku mengikuti perlombaan-perlombaan Islami antar sekolah. Mulai dari tahfidz, Tilawatil Qur’an, dll. Aku sedikit-sedikit mulai temukan apa yang orang-orang sebut Kepercayaan diri.
Hari-hari di Sekolah Dasar berlalu sangat cepat, aku semakin bersemangat saja memperbanyak pengalaman dengan lomba-lomba yang ada. Tingkat mesjid, kelurahan, alhamdulillah. Menyenangkan. :-)
***
Kelas Enam SD. Tingkat akhir. Di sebuah ruang kepala Sekolah SD Inpres Tamalanrea V. Hari itu penerimaan Ijazah. Kulihat dari luar pak Said memanggilku dan menjongkok dihadapanku.
“Nak, kok nilai agamanya begini?” tanya Pak Said dengan raut kecewa tapi tetap lembut.
Aku tak kuasa menjawab apa-apa. Hanya kurasa hatiku tidak lebih baik. Mungkin jauh lebih hancur. Lebih hancur. Bukan. Bukan juga karena angka enam yang tertulis disana. Tapi lebih karena aku merasa telah mengecewakannya. Dan ah ya. Air mataku menetes. Seolah ingin kukatakan pada beliau.
“Saya tidak tahu Pak. Saya bahkan lebih kecewa.” Tapi lidahku terlanjur kaku.
            Kurasa pak Said bisa mengerti dukaku. Ia mengalihkan wajahnya dengan lebih cerah kali ini. Ia tersenyum.
“Tidak apa-apa Nak. Bukan nilai ijazah yang penting. Kalau kita shalat, kita puasa, kita belajar. Apa yang dicari?”
            “Pahala Pak.” jawabku polos.
“Jadi yang penting nilai dari Allah atau nilai dari sekolah?”
“Nilai dari Allah.” Aku tersenyum kali ini.
“Tidak apa-apa yah. Pokoknya kedepan hari Fiqah mau terus belajar. Agama itu bukan sekedar pelajaran biasa. Tapi bagian hidup kita.”
Aku sesungguhnya tidak begitu paham maksudnya ketika itu. Aku kembali hanya tersenyum kemudian menjabat taangan beliau.
Beliau mengusap kepalaku, sambil berdiri dan tak lupa mengucap kalimat terakhir,
“Fiqah tetap anak yang pandai dan baik.” Dan beliau berlalu masuk kembali ke ruang kantor.
Aku masih berdiri mematung. Mengingat-ingat kembali pesan pak Said. Tak sadar aku berjanji dalam hati akan terus belajar menjadi gadis yang sholihah. Sejak saat itu. Aku berjanji, berjanji pada diriku sendiri.
***
SMP. Entah bagaimana semuanya terbawa begitu saja. Aku sangat bersemangat dengan hal-hal yang berbau keagamaan. Tak perlu panjang paksa seperti orang tua lain kepada anak-anaknya yang membandel. Awalnya, mungkin Pak Said adalah motivasi. Lambat laun, aku semakin sadar makna dari kata-kata beliau. Agama itu adalah bagian dari hidup kita. Aku mengetahuinya sebagai jalan hidup yang orang-orang beriman pilih. Islam. Sebuah ketundukan sepenuhnya kepada Allah.Bukan karena siapa-siapa, bukan karena apa-apa. Hanya karena Ialah Zat yang Mahatinggi. Yang Mahakuasa. Tiada yang punyai hak tuk disembah selain Dia. Meski ibadah-ibadahku mungkin masih belepotan. Tapi setidaknya, aku telah menyadari Islam sebagai suatu jalan hidup mutlak. Dan aku tidak mengerti selainnya.
***
            Kelas II SMA. Seorang kawan mengajakku duduk-duduk di sebuah majelis.
            “Ikutan yuk. Pengajiannya bagus.”
            Hmm..yah. Pengajian. Itu yang kita kenal dengan istilah Liqo’at, Tarbiyah, halaqoh. Yang meski artinya satu sama lain berbeda. Tapi begitulah sebutan-sebutannya. :-)
            Hmm.. Ini satu hal berbeda. Tapi tak lepas  dari nuur-Nya. Karena jika tidak atas perkenanNya pekakan hati. Mungkin aku enggan. Tapi bisa bertahan hingga hari ini, sungguh itu semata berkat kasihNya yang agung.Ya. dari semua rangkaian yang terjadi di tahun-tahu sebelum ini.
            Tapi nilai seseorang, kemahfuman, tidak selalu berbanding lurus dengan lamanya ia menuntut ilmu. Tidak. Tidak sama sekali. Seseorang boleh jebolan pesantren. Boleh sudah tertarbiyah bertahun-tahun. Tapi hanya kitalah dan Allah SWT  yang tahu sudah menjadi apa kita.
Hari ini adalah hari guru. Setiap orang punya gurunya. Aku duduk di teras rumah dan  terkenang. Yang pertama kali. Wajah itu. Dengan dahi kehitaman dan kata-kata yang selalu sarat makna. Guruku. Nuur Tuhan yang Agung.
Entah mengapa tiba-tiba air mataku menetes. Ingin sekali rasanya aku menemui beliau sekadar bertukar kalimat salam dan menanyakan kabarnya. Ataukah bagaimana rupanya kini. Apakah rambutnya sudah semakin putih. Atau masihkan ia mengenalku. Ah. Tapi aku malu. Hari ini. Aku bahkan belum sama sekali bisa dikatakan baik. Apa yang harus kujawab jika beliau menanyakan kabar diriku?.
Tapi Tuhan. Aku hanya ingin berterima kasih. Berterima kasih. Aku hari ini. Juga cahayaMu dalam diri seorang pak Said. Beliau. Aku ingin berterima kasih padanya. Dan ingin sekali aku berjumpa. Tapi dimanakah beliau kini?.
Rabbi... Semoga Engkau gantikan semua baktinya tuk hantarkan kami, anak-anak didiknya, menjadi manusia yang penuh kasih. padaMu, pada sesama yang lain oleh Surga yang yang isinya tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak pernah terlintas di jiwa.
Ya. Setiap orang punya gurunya. Dan setiap guru punya kisahnya. Mereka adalah insan yang mengabadi di setiap nama-nama kami hari ini.
Kawan, Pak Said namanya. Beliau tidak sekedar Guru bagiku, beliau adalah Nuur Tuhan yang Agung. :-)
Barakallahu fykum..


*Rafiqah Ulfah Masbah*

Emangnya Mimpi mesti Mikir?


(Seri Akhwat-akhwat unik sekitarku)



          Aku tidak begitu mengenal akhwat yang satu ini. Aku hanya tahu, dia ADS asal Masamba Sulawesi Selatan. Dia salah satu akhwat yang cukup jarang kulihat raut kebosanan terhadap kehidupan. Segar kala menatapnya. Semangat selalu merembesi diri saat bertemu dirinya. Ya. Itu untukku. Tentu itu juga penilaian subjektifku.
          Sebutlah namanya Ina. Ina saat kutemui beberapa hari yang lalu sehabis membantu penyelenggaraan kegiatan MITI baru saja pulang dari Bali. Ina adalah salah satu dari delapan finalis di ajang "GEMA LOMBA KARYA ESAI NASIONAL 2011" yang di adakan oleh UNIVERSITAS GENESHA Bali.
          Kami berbincang sejenak disalah satu kamar Ramsis UNHAS yang ia tempati, hanya sebentar. Dan aku langsung memaksa kakiku keluar dan memijak satu demi satu anak tangga untuk sampai ke lantai tiga. Ya. Kamar salah satu teman yang juga merupakan sahabat terdekat Ina yang rencana akan kusingggahi tuk menginap.
          Singkat cerita. Sebelum terjun bebas ke alam mimpi. Aku mengucap sebuah kalimat singkat padanya sambil tersenyum, “Ina hebat yah..”
Ria nama gadis  itu kemudian balik menatapku dan tanpa kuminta menceritakan kisah unik di balik berangkatnya Ina ke Bali sebelum itu.
          “Ina itu memang hebat ukh.” Matanya menerawang, “Ia memilih keajaibannya.”
          “Maksudnya?” tanyaku penasaran.
          “Malam itu Ina coba-coba menulis.” ujar Ria, “Awalnya Cuma coba-coba. Dan malam itu juga tulisan itu selesai. Ina baca ulang dan shock sendiri membacanya, Seperti ada sebuah kegaiban menghinggapi jari-jemari Ina. Dan ia nyaris tak percaya kalau itu benar-benar tulisan yang ia buat sendiri, dengan fikirannya, dengan tangannya.”
          Ah ya, itu seperti ungkapan ‘Aku takjub pada tulisanku sendiri’, aku membatin.
          “Akhirnya, Ina juga lagi-lagi coba-coba mengirimkan karya tulis tersebut,” lanjutnya, “Dan, MasyaAllah, Mahabesar Allah, Ina lolos. Ina ke Bali. Salah satu impian besar Ina yang selalu ia utarakan kepada kami, Saya ingin suatu hari nanti menginjakkan kaki di Bali! Saya ingin suatu hari nanti menginjakkan kaki di Bali!, itu yang selalu ia ulang-ulang dengan antusias.” Mata Ria mulai mengembun.
          “Dan kau tahu ukhty, Dari diri sahabat baikku itulah aku akhirnya benar-benar percaya apa yang orang sebut Kekuatan Mimpi. Disitulah aku kemudian benar-benar membuktikan perkataannya, ‘JANGAN PERNAH TAKUT BERMIMPI ukh! JANGAN PERNAH TAKUT BERMIMPI!’. Ina selalu mengulang-ulang kalimat tersebut tuk ingatkan kami, sahabatnya yang seolah begitu enggan hidup dengan harapan besar. Ya. Ina mungkin tak sehebat apa yang ia impikan. Tapi mimpi-mimpi itulah yang menghebatkan dirinya.” Ria menatap mataku dan tersenyum. Aku balas tersenyum padanya.
          “Sudah larut ukh. Istirahat dulu. Seharian ini pasti sangat melelahkan. Pagi-pagi besok kita masih harus tancap gas ke LAN. Lagian bukannya anti habis itu juga mesti jadi pendamping di kegiatannya ForStar?”
          Aku cuma mengiyakan. Tak berapa lama Ria sudah berkelana ke alam mimpi. Aku berbaring dengan mata yang sangat sadar kembali mengilas cerita Ria barusan.



Ina. Malam ini aku lagi-lagi belajar. Belajar dari gadis 18 tahun yang kusebut hebat ini.
Ya. Tentang mimpi. Aku merenung. Mungkin, Aku telah berani menuliskan mimpiku. Tapi tak pernah membuka catatan itu karena begitu ragunya pada diri sendiri. Karena selalunya melihat itu terlalu besar. Aku belajar dari Ina. Untuk selalu percaya. Bahwa selalu ada Sang Maha Hebat di balik sesuatu yang paling tidak hebat sekalipun.
Aku teringat adikku pernah menegur. Teguran sambil lalu. “Emang Mimpi mesti mikir kak?”. haha, yah.. iya sih. Mungkin kita terlalu banyak mikir. Mengambing hitamkan kata realistis. Akhirnya kita menjadi apa yang Mario Teguh sebut TIDAK SPONTAN.
“Tahu anak kecil?” kata Pak Mario di salah satu edisi MTGW. “Waktu kita kecil, dengan entengnya kita menyebutkan mimpi-mimpi jadi pilot, jadi Dokter, pengen terbang, pengen jadi Presiden, pengen punya mobil dll.”
“Semakin kita tumbuh, semakin kita menyebut diri kita realistis. Semakin juga kita menjadi  tidak spontan. Ah, jadi dokter? Otak saya pas-pasan. Apa, ke bulan?. Ngapain juga, kurang kerjaan. Punya mobil? Ngumpulin duit tujuh turunan juga gak bakal bisa. Daaan pembenaran-pembenaran lain yang mematikan kehebatan-kehebatan kita.”
Hmm.. Lamunanku makin larut. Dan ngomong-ngomong malam juga sudah sangat larut. Aku berkewajiban memenuhi hak tubuhku. Dan qabla doa dan lelap, kupesankan pada diriku sendiri, kuucapkan dengan penuh kesungguhan, “Fiqah! Bermimpi sajalah. Toh, mana mungkin Allah menganugerahimu keinginan yang besar jika tak menyiapkan untukmu rencana yang besar pula.”
Sahabatku, Aku terbangun paginya dengan gairah yang terasa makin meluap. Menyambut amanah, Menyongsong harapan, impian.
Sahabatku.
Ya. Hari ini indah.
Esok juga indah.
Dan akan lebih Indah, menyaksikanmu, Engkau yang membaca tulisan ini berhasil dengan mimpi-mimpi yang kau punya.
Kuselipkan doa pengharapan untuk kalian. Semoga nanti kita bisa sama tersenyum. Sama bahagianya, menghias dunia dengan kuntum-kuntum kesuksesan yang selalu kita pupuki semangat.
Sahabat,
Hari ini indah!
Esok juga indah! ^_^



Salam cinta, salam berkah.. :-)
Semoga bermanfaat.


(Syukron to Ina, Ria, adikku tersayang, dan kalian, sahabatku yang hebat!) :-)

*Rafiqah Ulfah Masbah*

Kamis, 24 November 2011

**Pelangi**

(Serial Akhwat-akhwat unik sekitarku)



Laksmi namanya.
Lengkapnya Laksmi Veramadhany Camilia,,,
Dalam ukhuwah kami yang sangat lama, aku bahkan masih sering salah menuliskan namanya, huruf ‘i’ dan ‘y’ dikepalaku kadang tak mau diajak kompromi. Ya. Makanya itu, Mimi selalu menyebutku ‘pikun’. xixi..
Maklumlah, kebiasaan pelupa-ku sangat akut. +D
Bahkan untuk balas sms saja, harus dijadwalkan. Kalau tidak bisa jadi sms kalian terabaikan. Ckckck.
Hmm. Diriku..

Mimi.
Itu panggilanku padanya sejak SMA dulu.
Dan dia memanggilku ‘Pikong’, dan makin hari, makin nyata lagi banyaknya orang-orang yang ikut memanggilku demikian. Hehe. Biarlah. Kalau aku dipanggil “Fiqah” olehnya malah terasa janggal. Ya. Memang sih nama adalah doa. Olehnya itu kuharap Mimi memberi arti lain dari nama itu. Siapa tahu saja, ternyata ‘Pikong’ itu ada di daftar kata-kata Prancis, Jepang, Korea, India,Sansekerta atau bahasa lainnya yang berarti ‘Cantik’. Hoho...

Laksmi.
Menurut ceritanya. Dahulu kala sebenarnya, nyaris saja namanya bukan Laksmi, tapi “Moena” (Mi, afwan yah saya tdk ingat tulisan aslinya). Dan mimi sebenarnya lebih suka nama itu. Tapi karena waktu itu Mimi belum punya hak bicara, dan memang belum bisa bicara. Makanya hasil diskusi keluarga memutuskan, dia akan berjalan dimuka bumi ini, dengan nama itu. LAKSMI VERAMADHANY CAMILIA.
Eh, nah loh. Kok jadi bahas soal nama yah.
Sudah. Kita tinggalkan filosofi nama, soalnya nanti kalian malah jatuh cinta sama namanya, bukan orangnya. Kan gawat. ^_^

Mimi...
Dia adalah salah satu sahabat terbaik yang dipersaudarakan Allah padaku.
Mungkin memang sejak awal Mimi sudah ditakdirkan untukku dan aku ditakdirkan untuknya (Jailah..apa sih, haha).

Katanya, orang-orang yang berjodoh biasanya mukanya agak mirip.
Nah aku sama Amhy itu katanya kembar, bukan lagi mirip.
Bahkan tanpa janji, kami selalu memakai pakaian yang kembar warnanya. Ajaib kan.
Coba deh tatap-tatap aku dan Mimi, mungkin kadar gula kami sama-sama tinggi, makanya mirip. Itu adalah hasil analisa Mimi sih waktu kelas 3 SMA dulu. Dan setelah kutimbang-timbang, ternyata sangat Masuk akal. Haha...

Bahkan dengan begitu durhakanya, kami pernah menipu tentor (ah, salah bukan kami tapi  Mimi ji), karena begitu tidak bisanya kami dibedakan. Pernah juga nih, ada tentor yang kebingungan, disangkanya juga kami kembar, pas ngabsen, si tentor itu bingung sendiri, loh kok orang kembar namanya gak ada sama-samanya. Dan sampai detik ini, kami tidak pernah melupakan ekspresi kebingungan itu. Sangat lucu. Sangat lucu. Ckckck.

Mimi.
Tanpa ada maksud terselubung. ^_^.
Sepenuh hati aku mengakui sahabatku ini. Dia akhwat yang hebat kawan.
Aku selalu takjub melihat diri Mimi hari ini. Bagaimana masa lalunya. Bagaimana ketangguhannya memikul kehidupan yang keras sedari kecilnya. Banyak kejadian-kejadian yang dihadapi Mimi, yang mungkin tak banyak orang lain alami, banyak hal-hal yang kadang bagi orang lain lebih-lebih aku begitu beratnya, tapi sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi diri seorang Ami. Ya. Mimi bungsu dari enam bersaudara. Tapi ia sangat dewasa.

Kehidupan, tempaan hidup yang harus memaksanya mandiri, memikul tanggung jawab, pada keluarga, pada dirinya, tentang harapan yang kakak-kakaknya selalu gantungkan pada adik perempuannya ini tuk bisa berhasil, dan semua hal lain.

Hingga dua tahun lamanya mengenal sosok Ami. Aku masih belum pernah bisa mengukur kedalaman hatinya. Dengan semua kisah-kisah hidupnya, aku tak pernah terbayang hati macam apa yang ia punya. Aku hanya tahu. Setiap kali ia menangis, aku juga tak kuasa menahan air mataku mengalir.

Aku sangat terkesan dengan ungkapan ini dan selalu mengutipnya,

Sesungguhnya orang yang ikhlas padamu
adalah dia yang mencegah dirimu dari keterpurukan atau tenggelam
dalam kegelapan hidup.
Dialah orang yang membuat dirimu tidak dapat bersenang-senang hari ini,
demi sesuatu yang membuatmu mulia esok hari.

Itu yang aku temukan dalam sosok seorang Mimi terhadap diriku. Mimi tahu kapan harus menjadi pendengarku, Mimi tahu kapan saatnya mendorongku pelan-pelan, dan kapan saatnya harus menepuk pundakku  keras-keras.

Mimi tak segan mengambil posisi sebagai kakak yang paling penyayang juga hakim yang paling tegas. Aku tahu, meski sering sekali aku membuatnya kecewa, Mimi selalu berusaha membantuku keluar dari permasalahan-permasalahn klasik yang sering membuatku buntu, Mimi selalu mendorongku tuk jadi akhwat yang baik.      

Allah itu sungguh Mahakasih. Mungkin akan berat hari-hari sebelumnya tanpa dia. Hmm..

Mimi...
Jika kemarin aku mengenal indahnya matahari terbit, dalam dirinya aku terpesona pada keanggunan sang Pelangi.

Ya. Ia mengukir indahnya diantara badai dan cerah. Bagiku, Mimi bak Pelangi, diantara sedih dan bahagiaku tetap mengelokkan. Tak memberiku cukup waktu tuk lama merasakan basah hujan karena ia sudah ajakku selami keindahan lain, menyambut terangnya matahari yang kan hapus semua jejak awan-awan hitam.

Bersamanya, aku banyak belajar makna. Kawan, bukan hanya aku, baik itu engkau, akan selalu ingin tertawa saat duduk bersamanya. Gadis ini penuh canda dan ceria. Ia cerdas. Itu selalu tergambar dari tutur-tutur katanya. Dan baik itu bercandaan sambil lalu, sarat dengan isi yang selalu bisa digaris bawahi. Ungkapan-ungkapan refleks yang keluar dari mulut Mimi selalu mengesankan. Ketika berdiskusi tentang suatu hal, sebagian dari kami kadang hanya berkutat dengan opsi A dan B. Dan Mimi kadang mengambil opsi C yang cukup membuat kami tak perlu lagi berdebat panjang. Sahabatku yang satu ini memang keren, begitu aku selalu menyebutnya.

Goresan pelangi. Terlalu banyak warna yang disisakan sentuhan-sentuhan seorang Mimi dalam kehidupanku. Aku hanya berharap, moga ukhuwah kami mengabadi  hingga ke Firdaus nanti.. aamiin..
            Aku sayang padanya, meski tak pernah mungkin kuucapkan.
            Aku menyayanginya, meski hanya jariku yang lincah menuliskan dan lidahku kaku tak terbiasa.

            Bagiku Mimi seperti Pelangi, dan hari ini pun begitu.
Sedang tersenyum dengan senyum kembang gulanya warnai langit-langit sunyi,
ceriakan hati.. ^_^



*Rafiqah Ulfah Masbah*

Selasa, 22 November 2011

**AKHWAT PENGGODA**

**Serial akhwat-akhwat Unik sekitarku**

“Sesungguhnya dunia ini Indah & Mempesonakan.
Sesungguhnya Allah menyerahkan dunia ini kepada kamu sekalian dan Allah akan melihat bagaimana kamu sekalian berbuat atas dunia ini.
Maka berhati-hatilah kamu sekalian dalam masalah dunia
dan berhati-hati pulalah terhadap WANITA.”
(HR. Muslim)



            Akhwat, panggilan yang entah sejak kapan seolah terkhusus bagi wanita-wanita yang merupakan aktivis, atau mereka dengan jubah dan kerudung panjang, atau mereka yang kata orang awam selalu bergandeng dengan istilah dakwah. Entah sejak kapan. Akhwat dalam konteks ini juga bermacam-macam modelnya. Hingga lahirlah istilah ikhwan/akhwat diam-diam merayap, ada juga akhwat/ikhwan jadi-jadian. Sekali lagi. Itu hanya istilah. Istilah-istilah yang muncul seiring berkembangnya topeng-topeng palsu dikalangan para aktivis dakwah.
            Dikesempatan kali ini, saya hanya akan mengangkat sebuah kisah nyata tentang model akhwat yang seorang kawan justru mengistilahkannya “racun (akhwat penggoda)”.
            Ya. Katakanlah namanya Qilan. Saat ini Qilan merupakan mahasiswi semester tujuh disebuah Universitas ternama di Indonesia. Qilan adalah salah seorang aktivis dakwah yang cukup diandalkan. Dia memang sudah disentuh oleh pembinaan yang orang-orang sebut Tarbiyah sejak duduk di bangku sekolah. Namun, Tampilan yang segar, wajah  yang manis, suara yang indah, yah.. good looking, plus low profil, juga talenta-talenta yang seolah komplit menyatu dalam dirinya menjadi poin plus-plus itulah sumber masalahnya. Dimanapun Qilan menetap, atau organisasi apapun dimana Qilan bergelut. Ia selalu saja terlibat suatu permasalahan klasik. Ya. Virus Merah Jambu.
            Pada dasarnya, Qilan tidak pernah bermaksud dengan sengaja untuk menjadi sumber fitnah yang besar. Qilan justru akan sangat deperesi jika dihadapkan dengan masalah-masalah seputar manusia yang berjenis laki-laki. Qilan adalah akhwat yang sebenarnya baik. Ia merupakan tipe wanita yang lembut dan cukup santun. Tapi itulah masalahnya. Paradigma kelembutan. Terkadang sebagian dari kita, kaum perempuan, mendefinisikan kelembutan sebagai sesuatu yang lembek. Kelembutan tidak selalu lembut, kata teman saya. Ketegasan seorang wanita terhadap laki-laki juga merupakan penanda kelembutan hatinya, indikasi bahwa hati tersebut masih bersih sehingga dipenuhi kepekaan terhadap hal-hal yang dapat memanggil keburukan mendekat.
             Qilan tidak memahami hal tersebut dengan baik. Dia tampil menjadi sosok yang sangat –sangat ramah, ramah kepada semua orang tanpa terkecualikan. Dia tidak menerima dirinya sebagai sosok yang sebenarnya cukup menjadi magnet bagi mata-mata yang senang jelajatan, atau telinga-telinga serigala yang tajam, juga terhadap kecendurungan fitrawi manusia yang berjenis laki-laki terhadap keindahan jauh lebih tinggi melampaui dirinya sendiri. Qilan menolak menerima itu. Bagi Qilan, dia adalah akhwat yang bahkan sangat biasa-biasa saja, tidak ada apa-apanya. Sementara kenyataan, orang-orang disekitar Qilan selalu menganggapnya lebih. Buktinya, Qilan selalu dipercaya memegan jabatan-jabatan strategis di kampus dan organisasi, Qilan selalu dipercaya memegang amanah-amanah penting, Qilan juga sangat banyak ditawari kesempata-kesempatan untuk mengembangkan bakat-bakatnya, tapi terkadang ia masih terlalu banyak pertimbangan.
            Selain itu,  maaf harus saya katakan, berkali-kali teman-teman Qilan baik itu laki-laki bahkan perempuan disaat Qilan datang di suatu tempat terbengong dan refleks berucap, “wah.. cantik!”.  Ya. Sahabat-sahabat Qilan yang juga merupakan rekanan seperjuangannya di jamaah suatu kali saat Qilan berniat membeli produk perawatan wajah (ini adalah salah satu krim pencerah, Qilan memang memiliki kulit yang agak gelap) padanya bahkan dengan santainya berkata, “Serius nih kamu maubeli?. Wah, kayak gini aja udah cantik, gimana nanti. Hmm.. Qilan..Qilan..”. Qilan Cuma tersenyum kecil, “yah.. investasi buat suami.” tampiknya. Bahkan ibu-ibu, teman Bunda Qilan sering memujinya setiap kali datang bertamu atau tak sengaja bertemu gadis itu.
           Ya. Faktanya Qilan sering dan bahkan sangat sering mendengarkan hal-hal tersebut. Dia dengan sesadar-sadarnya mengetahui bahwa dia punya daya pesona lebih. Tapi Qilan menolaknya. Dia sangat santai berakrab-akrab ria dengan laki-laki, meski tidak dalam artian fisik. Tidak sulit bagi laki-laki untuk dekat dengan Qilan. Selalu ada saja hal menarik dari dirinya. Penampilannya yang modis namun syar’i, sikapnya yang penuh keceriaan, retorikanya yang memukau, tulisan-tulisannya yang mengesankan, kecerdasannya.  Intinya, siapapun yang coba-coba mendekati gadis ini, sulit untuk berbalik pergi.
          Qilan terlalu merendah terhadap dirinya sendiri, sehingga ia mau berbuat lebih. Kerendah diri-an yang juga disalah artikan. Sikap Wara’ (hati-hati) pun ditanggalkannya. Pada akhirnya, Qilan sendiri yang akan menangis tersungkur, kebingungan, hanya dengan sekali percakapan singkat, ikhwan. Ikhwan bahkan dengan santai memanggilnya manis. Ia terheran-heran, bertanya-tanya apakah dosanya sehingga dihukum dengan ujian kaum laki-laki secara terus menerus. Mulai dari sebelum hijrah sampai sudah menjadi Murobbiyah, mulai dari laki-laki yang paling slengean sampai ikhwan yang belakangan ini diketahui merupakan ikhwan yang sangat-sangat terjaga. Mulai dari preman sekolahan, sampai ketua osis dan cowok paling populer. Mulai dari laki-laki dibawah usianya sampai yang sangat senior. Mulai dari anak kuliahan sebayanya sampai dokter lulusan luar negeri juga ikhwan lulusan Kairo, mulai yang paling bau kencur, sampai orang kantoran. Ya. Mulai dari pacaran (dimasa sebelum hijrah), selingkuh-selingkuhan, ditinggal mati, sampai dilamar langsung yang sejauh ini sudah keempat kalinya. Semua sudah berurusan dan dihadapi oleh Qilan. Gila!. Mungkin itu yang terbayang dikepala kita semua. Akhwat macam apa ini?.
           Ya. Qilan secara tidak sadar telah memposisikan sendiri dirinya dalam suatu istilah yang disebut teman saya tadi. Akhwat Penggoda.
           “Qilan itu terlalu lemah hatinya, dan disaat seperti itu dia seringkali justru menghindari ilmu.” Itulah komentar Murobbiyah Qilan terhadap dirinya. Qilan adalah akhwat luar biasa dengan sejuta talenta. Ya.Tapi banyak yang sudah dibutakan. Ada sebuah penyakit kronis yang bersemayam dalam diri seorang Qilan yang tak banyak diketahui orang. Qilan memelihara racun. Racun yang suatu saat nanti akan membunuhnya. Dan juga terus memangsa orang-orang sekitarnya. Racun. Racun KETIDAKTEGASAN.
            Dan sampai kisah ini kutulis. Qilan sedang pada tahapan berbenah diri kembali. Saya  berharap dia benar-benar belajar kali ini untuk tidak mengulang kesalahn yang sama, membabat sifatnya yang seperti bumerang tersebut.  Ya. Mari kita sama-sama berdoa agar Qilan benar-benar menjadi lebih baik.
***
            Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah ini. Semua hal yang terjadi pada sosok seorang Qilan selalunya bermula dari pesona-pesona yang sebagian kita sering sepelekan. Semua bermula dari apa yang Qilan yakini sebagai kebaikan hati, tetapi justru lahan subur bagi setan memupuki naluriah-naluriah iblis. Qilan menyadari betapa hatinya rapuh jika diuji terhadap lawan jenis,  tapi ia tak pernah berhati-hati. Qilan tahu bahwa setiap keakraban yang ia ciptakan akan selalu berujung pada kotornya hati kedua belah pihak, tapi Qilan tak pernah belajar, dan masih saja terus mempertahankan sikapnya. Qilan seharusnya menyadari betul, setiap kali ada yang terpancing membuka pembicaraan untuk sekedar mengenalnya, akan seterusnya terpancing untuk lebih dan lebih lagi mengenal sosok Qilan, Sementara Qilan tak membatasinya sama sekali. Qilan bersedia menanggapi, meski bagi Qilan kata-katanya cukup pada koridor yang benar. Tetap saja. Justru itu menjadi tambahan pesona lain.
           Ya. Qilan tak pernah menjadi begitu tegas jika ada percakapan-percakapan yang mulai melenceng. Karena Qilan pernah mencoba, tapi yang terjadi ia malah menjadi kasar. Sementara tegas dan kasar itu berbeda. Sejak saat itulah, mungkin Qilan ogah mencoba hal yang sama dan justru malah terus berusaha menyejukkan orang-orang sekitarnya. Bahkan itu ikhwan. Kebaikan yang disalah tempatkan, bukan lagi merupakan kebaikan. “Laa Taqrobuzzinaa!”. Kita diminta bahkan untuk tidak mendekatinya.
           Ukhty sayang, Allah SWT sudah menciptakan kita dengan dasar keindahan. Seberapapun kita bersikekeh bahwa diri kita buruk. Tetap saja, setiap wanita  memiliki sisi keindahannya masing-masing. Itu  merupakan hal yang relatif.

           Kita tahu, betapa banyak Allah SWT membahas tentang wanita di Al-Qur’an, sangat banyak hadits, juga atsar yang menegaskan betapa spesialnya seorang wanita, sekaligus berbahayanya mereka. Terdapat kitab fiqh khusus wanita. Sangat-sangat banyak buku-buku umum, buku-buku psikologi, yang tak pernah tuntas mengupas topik yang bernama wanita. Dengan semua itu, kita harusnya merenung dalam-dalam. Wanita adalah emas yang sudah demikian detailnya di atur dalam agama ini, permata yang demikian berharga sehingga harus dijaga sedemikian rupa. Jika kita tidak bijak menempatkan diri, memposisikan sikap kita secara baik, kita bisa saja menjadi sumber runtuhnya agama ini.
Saudariku yang kucintai karena Allah, Jadilah wanita yang penuh kelembutan yang tidak selalu berarti lembut. Ingatlah. Bahwa kita tidak hanya bertanggung jawab terhadap apa yang kita rasakan, tapi kita juga turut bertanggungjawab terhadap hati saudara-saudara kita.

Kemampuan seorang wanita menjadi tombak peradaban tampak dari bagaimana ia memelihara kehormatannya.

         Dipunggung seorang wanita terdapat hak seorang suami terhadap dirinya untuk menjaga kehormatan, bertengger tanggung jawab pada anak-anaknya  terhadap teladan dalam akhlak, menggantung harapan besar agama tuk lahirkan generasi berimtaq.
          Ketika kita sadar betapa tingginya peran seorang wanita bagi dunia ini. Dan untuk memelihara diri sendiri kita masih tidak berhati-hati. Maka patutlah sekali-sekali kita bertanya. Manusia macam apakah yang akan kita lahirkan untuk berjalan diatas dunia. Pemeliharakah? Atau perusak?, Pejuang kebenarankah? Atau pelaku maksiat? Pemuda-pemudi kebanggaan umat kah? Atau justru sampah masyarakat?

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka...” (QS. An-Nisa’,4 : 9)

        Dari diri kitalah mimpi tentang peradaban yang cemerlang di ukir. Ya. Ingatlah untuk sering-sering bertanya, “AKAN JADI APA AGAMAKU JIKA AKU MENJADI BURUK?”

Semoga Bermanfaat :-)

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah”
(HR. Muslim)



Salam Berkah
Rafiqah Ulfah Masbah

Senin, 07 November 2011

MEMBANGUN PERADABAN TINGGI DARI UJUNG JEMARI



Mata boleh menangis, Tubuh boleh payah, Kaki boleh patah, Mulut boleh kehabisan suara.
Tapi aku tak pernah mati dengan setiap apa yang kutuliskan dari hati, dari mata, dari semua yang ada.
Meski ia tak dapat kusentuh, kutakar, kukira...
Aku bisa hidup, hidup dengan bahagia dari dalam kata-kata yang Tuhan ajarkan...
Ya. Meski semua yang ada di dunia ini mulai tampak memuakkan,
Aku terus merasa kaya, tak pernah kehabisan kata tuk kususun, menjadi kalimat, paragraf, dan buku berjilid-jilid tebal.
Aku mencintai ini...
Aku selalu menemukan diriku yang lain dari ungkapan-ungkapan yang terlukis.
Disaat aku lupa, atau bahkan ingin merengek,
Aku bisa mengajak bicara hati dari tinta-tinta penaku yang retak.
Disaat kurasa hatiku agak mengeras, Menulis dapat mengasah kepekaan.
Disaat kurasa semangat hidup redup ditenggelamkan asa, 
menginspirasi orang lain melalui tulisan-tulisan dengan sendirinya mendongkrak gairah.
Bagiku, Menulis juga merupakan cara. Caraku berdialog kepada semua penduduk dunia bahkan yang tak kukenal rupa dan nama.
Mereka adalah saudara-saudaraku yang bisa kuajak saling sapa, dan membagi nasehat-nasehat sederhana, meski tak pernah berjumpa.

Ya. Aku bisa mengekspresikan semuanya sesukaku.
Mengungkap bahagia dengan gamblang.
Menyirat tegur dan singgung dalam syair-syair bisu.
Aku bisa menggambar satu rupa dengan berbaris-baris cerita.
Sangat menyenangkan!
Salah satu ungkapan terimakasih terbesarku padaNya,
karena Ia menganugerahiku cinta.
Dan mencintai kata adalah salah satu dari hal paling utama yang bisa membauat seluruhnya,
Duniaku, kehidupan menjadi besar.
Dan itulah mengapa aku tak ingin berhenti menulis, dan terus menulis.
Karena bahkan seisi dunia ciptaanNya takkan pernah habis dideskripsi.
Apalagi jika topik itu tentang 'Dia'.
Jari-jari mendadak lincah.
Setiap kata berebutan tuk mengambil tempat dideret pujian.
Dan aku banyak belajar soal kebijaksanaan,
dari keharusanku memilah kata yang tepat.
Dan aku masih banyak belajar seni memikat,
menjelma ungkapan amarah, menjadi lukisan senyuman.
Belajar menjadi besar dalam kesederhanaan.
Semua itu, akan banyak kau temui bahakan sebelum titik kau cipta, dan baru mengangkat pena.

Mungkin itulah mengapa banayk orang berkata,
"Ujung pena seorang kritikus lebih membunuh dari berjuta-juta peluru."

***
Untuk sahabat-sahabat, adik-adikku yang terus bertanya bagaimana harus mulai menulis, yang terus memusingkan dimana mencari inspirasi, atau teknik menulis yang memukau, ataukah menulis itu persoalan bakat.
Sudahlah. Berhenti bergulat dengan semua pemikiran itu.
Menulislah!
Menuilis saja.
Diawal-awal akan kau jumpai dirimu yang tidak sempurna,
perlahan-lahan menjadi lebih arif.
Dan mencintai. Mencintai dirimu sendiri dari corat-coret kecil tadi.
Menulislah.
Bahkan jika tak ada yang adapat kau tuliskan,
tuliskanlah ketidakmampuanmu menulis apa-apa.
Itu juga merupakan tulisan. :-)

***
Hanya ada dua orang yang tidak akan dilupakan oleh dunia,
yakni pemilik ide brilian dan penulis.
Jika kau tak dapat menjadi keduanya, maka jadilah salah satu dari kedunya.
***

Aku menemukan kalimat ini dicatatan seseorang yang paling pertama mengapresiasi positif tulisan kecilku.
Seseorang yang tak kukenal baik, tapi penuh inspirasi.

# Itu adalah tulisan pertama, setelah bertahun-tahun aku vacum tuk mau menuliskan bahkan sebaris syair. Aku berhenti menulis sebelum itu. Kufikir, apa bagusnya menuliskan ungkapan hati. "Tulisan paling egois yang pernah ada adalah tulisan tentang diri sendiri." kata seorang pembicara disebuah Workshop Kepenulisan saat aku masih duduk dibangku kelas 1 SMU. Dan perkataan itu membekas.
AKU MOGOK MENULIS. Itu yang kulakukan saat itu.

Maka lihatlah betapa bodohnya tuk selalu menerima mentah-mentah argumentasi orang lain.


Pertama kali aku membuat catatan tersebut, aku tahu sebenarnya sangat tak bagus.
Dan beliau mengirimi kalimat singkat di obrolanku, 
"Tulisannya bagus. Terus menulis!" Sangat sederhana.
Aku tidak percaya. Tapi itu ajaib.
Dan lewat tulisan ini pula, aku berterima kasih setuluh hati padanya..
Aku akhirnya bisa lebih bersemangat mengakrabi sisi-sisi diriku yang lain.
Yang sempat kutelantarkan hanya karena 'juga' permainan kata.

Itu adalah salah satu pengalaman berharga.
Agar kita tahu betapa tajam sebuah kata.
Maka mari menjadi pemegang pena yang bijak.
Yang dari jarinya mengalir kesantunan & kearifan, melantun irama kebaikan, mengisi dunia dengan warna berbeda.
Hingga tanpa kita sadar, mungkin saja kertas usang berisi tulisan yang acap kali kita anggap tak berkualitas kemudian terserak-serak dapat menjadi awal, awal bagi penggugah perubahan besar.
Dan semua itu menambah ketinggian nilai diri kita dipenghisaban akhirat. :-)

Ingatlah untuk selalu memulainya dengan hati.
Tulisan yang bersumber dari hati,a kan sampai ke hati.

Maka sekali lagi sahabat-sahabat terkasih, adik-adikku yang baik...
Mari..
**MEMBANGUN PERADABAN TINGGI... DARI UJUNG JEMARI** ^__^




Dari Sahabat untuk Ummat

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Sabtu, 05 November 2011

*Matahari Terbit*


 

“Aku melihat diriku disetiap diri kalian.”
***
Dia wanita yang sederhana kawan...
Dengan selembar kerudung segitiga yang menjulur panjang..
Potongan biasa..
Sebuah tas samping yang melingkar di bahunya..
Tatapan teduh..
Senyum simpul yang selalu mendamaikan qalbu..

16 Maret 2009..
Dalam ingatanku yang tak bagus...
Setidaknya itulah kali pertama aku bertemu wanita itu..
Disudut kecil sebuah mesjid yang berdebu...
Beliau menyambutku dengan anggun...
“Assalamu alikum” sapanya
Ia tersenyum hangat..
Hangat sekali.
Dan Ah ya, kurasa aku sudah jatuh hati ditegur pertama.
Bahkan sebelum bertukar nama.

Hari itu ia berpakaian putih dan aku hijau,,
Aku duduk manis dengan sikap yang dibuat-buat lugu.. ^__^
Beliau mulai berbicara.
Aku menjadi pendengar yang sangat tenang..
Sejak saat itu.
Aku mungkin diam-diam amat mengagumi kepribadiannya, keluasan wawasannya, keterampilannya mengambil hati, kesederhanaan budi, tuturnya yang amat santun, hatinya yang amat lembut..

Dulunya aku selalu ingin sepertinya..
Bagiku mungkin demikianlah gambaran seorang muslimah yang sebenarnya..
Aku banyak belajar hal-hal yang selalu luput dari bingkai pemikiran yang kupegang bertahun-tahun,,
Banyak sisi-sisi diriku yang terbuka sejak saat itu...
Aku menyebutnya..’Matahari terbit’ ;-)
...

Tahukah engkau kawan..
Diantara sekian banyak nikmat & anugerahNya yang berdatangan padaku...
Beliau adalah berkah lain yang sungguh amat sangat kusyukuri...
Sang Penggeman Hidup itu memamng Mahabaik kawan...
Sungguh-sungguh Hebat...
Dan itulah mengapa sekali lagi Aku menyebutnya..’Matahari terbit’ ;-)

***

“Aku melihat diriku didalam setiap diri kalian..”
Air mataku akan menetes setiap mengulang kalimat sederhana itu..
“Benarkah, benarkah ada dirimu didalam diriku kakak?”
Aku bahkan sering merasa jauh, Hingga  detik ini aku masih selalu malu-malu....

***
Dia wanita yang sangat sederhana kawan..
Kesederhanaan yang selalu melahirkan keseganan..
Kesederhanaan yang mewariskan kami kerekatan hati yang tak bisa diwakilkan oleh kata yang pernah kubaca dan tuliskan.
Keserderhanaan yang tak membuat kami menjadi orang lain..
Hanya diri sendiri, dengan apa adanya kami...
***

Engkau, maupun itu kami..
Takkan pernah bisa menakar besar keikhlasannya selama ini..
Mengukur panjangnya jalan pengorbanan yang harus ia tempuh.
Atau baik itu dalamnya rasa sakit yang selalu ia terima dari keusilan, dari pembantahan-pembantahan, keburukan laku yang seringkali kami tak sadar...
Dan aku belajar banyak hal dari itu semua.
Membaca isyarat mata,
Menangkap siratan kata..
Karena aku jarang menjumpai sosok manusia dengan kesantunan tegur yang dalam namun tak sudi melukai jiwa.
Dia menawan...
Salah satu sosok yang jika kujumpai diluar sana, sering membungkam semua mulut jika ia sudah angkat bicara.
Mengesankan...
Nah, itulah dia.
***

“Akhwat itu kadang mesti ‘cool, kalem, n sangar’ katanya”
Nasehat itu yang paling utama memang buat diriku...
Wanita yang sulit memegang tongkat ketegasan. Itulah aku.
^__^
Setidaknya diantara lingkarang kecil kami, atau itu antara aku dan 2 orang sahabatku akulah yang benar-benar mesti sering ditepuk.
Maklum.. Untuk semua jenis manusia tanpa terbedakan, aku terlalu lembekk.
Itulah titik mula istilah beliau itu kemudian sempat menjadi ‘trend’.
Sudah kukatakan. Beliau itu ‘keren’ ^__^
***

3 tahun berjalan...
Kata seorang sahabat, “Tarbiyah tuh belum tarbiyah kalau belum pernah mampir di lingkaran tetangga, loncat ke kerumunan berbeda,”
Ya. Akan jadi sedikit menyedihkan memang, jika itu untukku,
Yang tak pernah kena mutasi, hingga sebesar ini...
***

Jum’at, 04 November 2011
Sore ini akan berlangsung warna merah muda...
Disaat jabat itu lepas..
Entah musim apa yang tiba...
Mungkin ini moment yang akan paling kurindu...
Untuk wajah-wajah yang biasa mengitariku..
Terkhusus seseorang, ya. Dia.
Yang mendidikku saat semua masih berangka merah.
          Tahun-tahun belakangan ini sangat berat dan indah..
                   Tapi kita tetaplah saudara.
                             Kau benar kak.
***
          Seperti yang sering kau ucap...
“Lingkaran kita hanya melebar..
Tak terbongkar.”

***

 Sebait doa penutup..
“Jazakillahu khairan katsiraa.......”
****Murobbiyahku Tercinta...****   (T_T)
Hinggapun matahari tak lagi terbit di hari-hari depan..
Engkau telah terbitkan kami menjadi matahari sunyi di langit peradaban..
Dan sinar yang kau wariskan sebelumnya, akan kami teruskan kepada segenap penduduk dunia.
Engkau takpernah habis, meski jasadmu mungkin tak lagi disini.
Engkau indah dalam taqwa, engkau segar dalam dakwah,
Engkau abadi..
dihati...
kami...T_T
>>Ana Uhibbukifillah..*_*



*Rafiqah Ulfah Masbah*