Minggu, 30 Desember 2012

Mau Dikemanakan Rindu Kita

(Judul diangkat dari kalimat pengantar pulang sore tadi, by : Arini)




Tak ada yang pernah tahu, akan seberapa panjang sebuah keakraban berlangsung. Tak ada yang pernah tahu akan seberapa lama sebuah deklarasi berjalan. Yang kita tahu--dulu--ada benang yang mengantar tawa kita, menghimpunnya menjadi sebuah ikatan, yang sebenarnya tak bisa diterangkan oleh nama apapun juga. Hanya agar lebih mudah bagi kita mengenalnya, hanya agar lebih mudah lidah kita mengucapkan. Keluarga Pucak Sepoi-Sepoi. Keluarga. Lidah kita terhantar begitu saja untuk menamai "kita" dengan istilah keluarga.

Setahun sudah. Setahun!
Kau ingat, hari itu, Desember terlampau mendung untuk bisa menjadikannya latar yang senada. Kita tak memungkiri gelisah, tapi tetap saja tersenyum. Mungkin sedih, namun sangat sungkan menangis. Barangkali panggilan pulang telah sedemikian mendesaki rongga-rongga perasaan. Namun--sekali lagi--kita masih tertawa. masih secara gagah menorehkan kenangan yang harus indah tatkala mengingatnya. Kalian membuat canda, menyengaja berbagi cerita apa saja. Kita tertawa tanpa memedulikan apa kata orang, tak sempat menerka-nerka apa yang orang lain pikirkan tentang betapa berisiknya kita. Kita hanya sempat mengingat satu hal; kita terlampau bahagia, barangkali. Lantas tak tahu bagaimana meluahkan rasa yang "terlalu" dalam keanggunan yang santun. Ah! Kau lihat kan? hanya oleh 48 jam yang itu pun belum menghitung rentang panjang perkenalan, hanya oleh sebuah celetukan, maka lahirlah. sesederhana itu.

Mungkin. Sekali lagi kufikir mungkin. 
Mungkin kali ini, benar kata Arini. Ada kenangan yang tertinggal.
Terlampau berharga hingga kita mau tak mau selalu terpanggil pulang, pulang pada tawa yang sama, pulang pada kehangatan yang pernah memeluk erat, pulang pada keributan itu, pada sapaan bunda, adik, kakak, dan, ah yah, juga ayah kalian yang tak pernah nyata itu.
Kenangan itu barangkali terlampau berharga. Tapi--mungkin--kita sungkan, seringkali sungkan menyatakan. Bingung memilah kalimat yang tepat untuk mengalamatkan rindu kita, sehingga entah akan dikemanakan. Kita barangkali beberapa bulan kemarin akhirnya terbiasa melakoni kekata sederhana Suthe', "Aku tahu, tapi aku diam."
Kita sama saling tahu, namun banyak diam. Namun terlalu menikmati jeda.

Lantas sekian hari belakangan ini, kurasa sedikit-cukup membayar. Cukup untuk menggenapkan bahu bagi pelukan, untuk secara nyata menikmati setiap detik cerita yang terbongkar, mengungkap fakta-fakta yang tidak sedikit mengejutkan. Merelakan aktivitas lain, menanggalkan rencana kegiatan, melupakan sejenak tugas-tugas. Itu menyenangkan. Ya, menyenangkan.

Dan hari ini, baru ku pahami mengapa di awal kita sebut diri kita keluarga, karena ternyata akan ada hari ini, akan ada kenangan itu. yang meski kita telah kembali pulang. meski tangan kita tak lagi bersentuhan, kita telah sempurna mengetahui 'akan dikemanakan rindu kita" setiap kali ia hadir. Meminjam judul sebuah buku, karena diamana pun kita berada, kita selalu dapat 'merentang pelukan'.


Kita bertemu lagi, nanti, dengan cerita kita masing-masing. Cerita yang--berdoalah--akan dibaca oleh lebih banyak orang, dan mengabadi hingga nanti kita tak lagi disini.

Keluargaku, izinkan saya berucap untuk terakhir kali, meski ia tak pernah menggenapi, terima kasih atas segalanya. terima kasih untuk semua warna yang kalian oleh-olehkan. :-)

Sayang Ismi, Arini, Wina, Suthe, Icha, Nea, Ima, Armi, dan Cita.

#Matinro ka dolo, hehehhe ^_^



_Rafiqah Ulfah Masbah_

Minggu, 23 Desember 2012

Perihal Aku dan Kata-kata (ku)




Aku tak pernah sempat menghitung
sudah kali ke berapa, atau sebanyak apa
aku memulai kata-kata dengan kata—entah.
dalam ucapan batin, misalnya. atau yang langsung 
terbaca di paragraf pertama.
“Entah harus menulis apa, atau entah bagaimana harus memulainya.”
Begitu kira-kira.
Bahkan tak jarang sampai ku dengar samar-samar riuh sorakan putih monitorku
menonton konflik dan pertikaian di layar mataku yang cekung secara serius,
menghayati setiap episode kisah yang tampak egois karena tak mau kubagi padanya.
Diantara sekian banyak benda—yang tak pernah kupikir—mati, aku tahu
lembaran kosong adalah rekaman yang paling memahami aku.
Mungkin. Ya, mungkin.
Akhirnya, kau tahu bukan, aku orang yang sulit.

Kau akan membaca terlalu banyak
koleksi kerusuhan dalam hampir seluruh tulisan yang pernah
kujajakkan, kadang buntu,
sering datar, kebanyakan berputar-putar, pernah dipenuhi belukar.
Aku sering tergesa, tak sempat—kadang-kadang—bernafas sejenak
untuk memasnaskan gairah kata-kata agar mencumbui substansi makna dengan cara-cara  santun.
Kau tak salah jika pernah atau sering—tiba-tiba—lelah setelah berkelana pada baris demi baris huruf yang kususun.

Tak ada prolog yang memadai. Tak ada basa-basi yang perlu. Tak ada pengantar.
Karakteristik yang cukup mencolok, mungkin.
Konflik selalu sudah berada di depan.
Ah, tidak. Bahkan, kurasa hampir dikeseluruhan cerita.
Tak ada jeda yang cukup tenang untuk mengantar satu demi satu masalah dengan sahaja.
Kau sadari atau tidak. Aku bukan orang yang sabar, dapat diterjemahkan dengan kalimat;
Seseorang dengan ketidakstabilan emosi yang kronis

Tidak sepertimu, aku hanya mengaku-aku diriku penulis.
Aku pernah puas, dengan hanya menyumbang status di beranda tiap hari.
Aku berkali-kali cukup, dengan berkicau tak tentu setiap waktu.
Apa saja, bahkan yang tak sempat bahkan mau orang-orang baca.
Aku hanya mengaku-aku diriku penulis.
Tak terhitung berapa banyak kawan-kawan dekat yang menagih, ‘tanda’ nyata dari deklarasi yang ku umbar dengan begitu percaya diri.
Saat-saat paling ranum bagi kekosongan untuk berpesta dalam kosongnya.

Aku  terlalu kaku. Iya.
Kata-kata sejauh ini belum  juga sudi menjadi sahabat yang penyayang.
Aku menemuinya tiap hari, tapi kami belum  juga pernah berjabat dengan hangat.
Aku menyedekahkan berpuluh-puluh malam larut untuk berkawan akrab,
Tapi mungkin aku sahabat yang belum layak.
banyak lembar yang berakhir menggantung—ujung-ujungnya.
Semoga—meski perlahan—aku tak lelah. Tak pernah.

Perihal aku, kau tahu aku hanya mencoba dan memaksa diri dewasa.
Perihal kata-kata, sebutlah mereka pintu-pintu yang membukakan
padaku jalan-jalan pilihan bagi upaya mencoba dan memaksakan
menuju surga atau neraka di bukit otakku yang belum banyak berserat.
Aku dan kami belumlah sebuah kesatuan yang bisa disimpulkan dengan tanggapan; sama saja.

Tetap semangat.
Kau tahu. Mereka Ayah.
Terus berlatih.
Dan, itu ibu.

Mereka yang tak pernah membuat jari-jariku terlantar
Selalunya masih setia memangku setiap salah sehingga pada kata terakhir, aku masih disini.
Masih bisa kau baca hingga sejauh ini.


Azure Azalea


Kamis, 13 Desember 2012

PKIP Unyu'-Unyu' Girls 2010



Dimana kita melingkar dan telah habis tawa, air mata, marah, gelisah dan berbagai cerita pengertian, disitu pula sebuah keluarga kulahirkan.


            Orang-orang datang, pergi, singgah, berlalu, sesuka-suka mereka, seingin-inginnya kita. Kadang ada yang datang hanya demi sebuah sapu tangan untuk mengeringkan air mata, lantas pergi setelah basah tangisnya mengalir ke ruas-ruas jari kita, seperti tanpa dosa, berharap kita sudi menampung atau mengeringkannya. Ada yang sering singgah merapal senyum di garis-garis bibir, tapi juga tak jarang menghadiahi kita topeng berupa-rupa, hingga kita lupa bahwa tak seharusnya kita mau-maunya tersenyum.
            Orang-orang melakukan apa saja sesuka-sukanya, kita melakukan apa-apa juga sering seingin-inginnya kita. Ya, saat kita hanya bernama; saya. Saat kita cuma berupa seseorang. Keluarga itu adalah kita. Terdiri dari aku, kau, entah tunggal ataupun jamak. Meski kata kita tak selalu mengandung keluarga.
            Lantas pada kita keberapa?
            Kalian tahu, pada mulanya kita hanya berupa per seorangan yang tak saling berkepentingan. Mungkin pada suatu waktu dalam hidup kita pernah berpapasan di jalan raya, atau bersenggolan di sebuah pasar, mungkin ayah dan ibu kita pernah berada dalam suatu kereta saat kita bahkan belum dapat berbicara, dan mata kita saling tatap, tapi kita tak tahu dan tak perlu dan  mau tahu. Mungkin pada suatu waktu dalam hidup kita, kita pernah berpikir hanya akan ditemukan oleh orang-orang yang baik, mungkin bukan pada orang sepertiku, atau bukan orang semacam dia.
            Tapi ada saat entah bagaimana benang-benang takdir menghimpun dirimu, saya, begitu saja hanya oleh sebuah keputusan. Saat keputusan membuatmu berada disini, pada jurusan yang sama kupilih. Pada mulanya, mungkin kita tak saling mengenal, paling pun hanya sekedar saling mengetahui nama. Tapi ada-ada saja hal lucu yang mendadak membuat kita sama-sama tertawa dan akhirnya membuka topik perbincangan. Ada-ada saja tugas kuliah yang mengharuskan kita lembur bersama sehingga ada waktu  untuk saling berakraban. Ada forum  maupun kegiatan yang tahu-tahu memaksa kita memeras keringat dan saling tahu  pentingnya keberadaan, ide, tenaga, dan kerjasama kita satu sama lain.
            Disaat kita akhirnya melingkar dan telah habis tawa, air mata, marah, gelisah dan berbagai cerita pengertian, disitu pula sebuah keluarga kulahiran. Keluarga dimana aku tahu menganggapku sebuah bagian yang kapan saja boleh datang. Sesuatu, dimana aku bisa pulang. Tak ada lagi sekat. Dan luruh sudah topeng-topeng keseganan.
            Girls, semoga belum terlambat untuk mengatakan..
            Adalah bukan tanpa tujuan takdir membawaku pada kalian. Kalian semua saudari-saudari yang baik, dan aku menyayangi kalian dari lubuk hati terdalam. Kita adalah keluarga. Untuk seterusnya semoga terus tercatat dalam kisah-kisah bahagia..
          Sayang Ara, Ana, Eta, Lala, Rina, Sari, Widya, Winda, dan Umma ^_^

          Mari menghabiskan jatah kebersamaan ini dengan senyuman.
          Mari kita memulai kisah terbaik untuk terus dikenang. Karena sekali lagi, bukan tanpa rencana kita dipertemukan.


*__AzureAzalea__*




Senin, 03 Desember 2012

Baiklah. Saya Koki!


Rabu, 28 November (H-2)

          Ini kemunculan saya yang kedua (catat! yang kedua!) dalam rapat persiapan TOWR FLP ranting UNHAS. Dan, pekan ini sudah pemberangkatan ke Malino. Maaf! Harus saya katakan memang kurang partisipasi dalam membantu persiapan teman-teman sekalian mulai dari pekan-pekan sekolah menulis sampai persiapan TOWR puncak. Yah, dengan alasan yang sebenarnya sangat mudah dijawab dengan kalimat seperti, “Semua orang juga sibuk kalle, Fiqah”. Namun begitulah diriku dengan aktivitas so’ sibuk yang luar biasa ini.
          “Fiqah kepala koki!”
           Hah? Saya!? Kepala koki!? Ya Tuhan, adalah bukan suatu kebohongan besar jika saya katakan saya sungguh tak tahu masak, Kawan-kawan! (meskipun tidak saya katakan saat rapat karena gengsiku yang selangit sebagai  perempuan peralihan dari remaja ke dewasa muda. Ah! Perempuan gak bisa masak!? Aduh! Akhirnya jujur.) Jadii saya menolaknya bukan sekedar basa-basi karena ingin dipaksa-paksa (igh!? Hahay) tapi karena memang khawatir akan membuat berantakan, atau malah menciptakan sejenis makanan racun yang bisa mencemari perut peserta  dan panitia. Masalahnya, kalau terjadi apa-apa dengan pencernaan, saya tak bisa membayangkan kita harus mengeluarkan dana lagi sekedar membeli Fresh Care (jadi ingat Ranti), minyak angin, obat diare, atau sejenis itu. Yah, kita semua ngertilah kondisi keuangan kita yang sangat tebal.
          Ah! Tapi tak ada pilihan kalau sudah berhadapan dengan kalimat bernada sedikit maksa’ ini,
          “Cuma mengkoordinir ji, Fiq. Masaknya kan bareng ji toh.” 
           Oh ya, okay. baiklah! Saya Koki! Itung-itung pengalaman, pikir saya. Toh, selama ini, disetiap kepanitian saya cuma berkutat dibagian acara, humas atau dokumentasi. Konsumsi jarang. Sangat jarang! Paling pun kalau dapat bagian konsumsi tidak pernah yang berbau masak-memasak.
          Daaaan.. Dalam waktu dua hari dimulailah aktivitas persiapan besar-besaran. Pinjam rice cooker, pinjam panci, pinjam pisau, pinjam blender. Ah! Pokoke apa saja yang bisa dipinjam, dibawah dari rumah, diselundupkan, disedekahkan, ataupun yang diambil paksa (apakah!? wkwkwk), belanja ini, belanja itu, dan semuanya. Mohon dimaklumi, barangkali saat itu yang ada difikiran kami lokasi yang akan kami tempati terlalu terpencil untuk sekedar mendapatkan bumbu dapur atau bahan-bahan makanan yang kurang, sampai-sampai dengan polosnya pak ketua berkata, 
          “Nda adakah biar alfamart disana?”. Malino... Malino...


Hari H. Sabtu, 1 Desember

         Pkl. 08.00 am. Terpelanting dari kasur. Shock! Terkejut! Kaget! Panik! Berteriak, refleks! Ambil handphone, seribu panggilan tidak terjawab, ratusan sms! (sedikit hiperbola). Yup! Telat bangun (faktor begadang). Ugh! Saya masih di ramsis, belum mempersiapkan barang-barang bawaan, belum shalat subuh, belum mandi. Pkl. 10 teng sudah harus berangkat. Daaannn,,,,, semestinya pkl.06.00 tadi saya sudah harus menemani Wina belanja bumbu masakan karena ayam yang sudah direbus harus segera dibumbui dan dibawa dalam keadaan siap saat pemberangkatan. Ya, tebaklah! 70% dari sms yang kusebut ratusan tadi itu adalah dari Wina. Saya tahu kekesalan Wina pasti sudah menjadi berlipat-lipat untuk bisa disebut sangat. Hanya saja tak ia luahkan saat berjumpa. Saya tahu dia gadis yang sabar (modus. Hehe). Saya bangkit segera dari tempat tidur. Melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan seseorang yang telat bangun. Hanya saja karena saya tidak sedang dirumah, saya tak bisa mandi.
         Melesatlah saya ke Aqsho dengan kecepatan tak penuh—berharap semua akan baik-baik saja—dengan  membawa oleh-oleh muka bantal yang meski begitu masih tetap sedap dipandang, terbukti masih ada juga yang mau-maunya bilang,
          “Biar nda mandi cantik ji” Hahaha, sungguh itu sangat membantu saya menenangkan diri.
           Saya mencari-cari sosok Wina, tapi dia tak ada. Saya harus menunggu lagi!? Fine. Tak apa. Ini kesalahan saya sendiri. Akhirnya saya menemui Wina setelah menemani Ina menjemput printer. Tanpa babibu saya langsung mendesak Wina untuk pergi. Tujuannya adalah pasar pinggir BTP, terus ke rumah untuk mandi mengambil pakaian dan tugas lainnya. Masih mencoba optimis bahwa tak mungkin juga saya akan ditinggalkan, maklum saya kalau mau kemana-mana siap-siapnya saja mesti satu jam. Biasalah, wanita.
          Oke semua siap. Masaknya dibatalkan. Akhirnya bumbu-bumbu itu baru akan bergumul dengan ayam-ayamnya di Malino. Kami pun berangkat dengan mobil biru, sahabat sejati kemana pun, dimana pun, dan kapan pun.


Di lokasi... 

          Mengambil napas. Kesejukan Malino—seperti yang sudah sama-sama kita tahu dan pikirkan—memang sangat kental. Jauh dari kondisi Makassar yang selalu memaksa kita mengeluhkan peluh. Tiba di penginapan ikhwan. Yah, keren, pikirku. Yang pertama kali menarik perhatianku adalah sebuah kompor di atas meja dan rak piring. Baik. Apakah kita akan memasak disini? Entahlah! Untuk sementara belum waktunya menanyakan itu. Rasanya hanya ingin berbaring dan meluruskan badan.
          Setelah bus peserta tiba, panitia akhirnya mengarahkan untuk shalat. Setelah itu, makan siang. Makan siangnya, nasi bungkus yang sudah kami bawa dari Makassar. Suka sekali saya bungkusan-bungkusan itu saat dibagikan Asih. Lapar! Saya sangat lapar!
Setelah bersantap, waktunya mengecek lokasi penginapan akhwat. Dan, owh! Lumayan jauh. Cukup untuk melengkapi jatah 1000 langkah per hari yang dicanangkan pemerintah (eh, emang iya?). Tapi sesampainya... Tadaaa... Rumah yang bagus! Yey, ada sofa, kamar tidur yang cukup, dapur yang lumayan luas, daan—ini  yang paling penting—taman yang cantik untuk mengambil banyak jepretan.
          Setelah puas melihat-lihat, kami kembali ke penginapan ikhwan untuk pembukaan acara, setelahnya mengambil perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan untuk dibawa ke penginapan akhwat. Kami fixFix masak-memasak di penginapan akhwat.


          Tak ada istirahat. Bakda shalat Ashar beberapa orang panitia akhwat sudah stand by di dapur untuk persiapan makan malam perserta dan panitia. Estimasinya 50 porsi.  Saya—yah dengan percaya dirinya—bergelut  dengan bahan-bahan sederhana itu. Ayam (aduh, saya phobia dengan hampir semua hewan. Dan juga phobia darah, jadi sebenarnya untuk urusan kerja-mengerjakan ayam saya sudah pasti akan mundur duluan. Tapi berhubung tinggal membumbui, jadi tak ada masalah). Potong sini, potong sana. Campur ini, campur itu. Semua pakai insting dan ilmu kesottaan. Ternyata masak itu simpel saja. Kalau hambar, tambah garam, kalau keasinan, tambah air, kalau kepedisan tambah gula. Yah, itu saja. Gampang, hehe.
          Ada Ranti dan Wulan dibagian sayur-sayuran, ada Ummi di hadapan kompor dan wajan, bergelut dengan tumisan ayamnya. Ada Ina, Wina, Asih, dan Lita membantu meng-handle apa saja yang bisa diiris, dipotong, dsb. Ada saya dengan blenderku bereksperimen dengan bumbu-bumbu, bawang, merica, ketumbar, cabai, lengkuas. Ah, kupas semua! Potong semua! Campur! Blender!. Yang lain juga tak akan pusing soal apa yang kucampur kalau sudah jadi halus. Hihi. Dan lagi pula saya masih dengan topeng, tetep yang so’2an mengarahkan perihal bagaimana dan apa yang kami masak. Istilahnya kak Qia, jaga wibawa (colek Memet, hehe). Ahay. Finish! Masakan pertama berhasil. Ayam bumbu. Sayur tumis, dan sambal. Meski kata kak Atun, sayurnya agak pucat sehingga estetikanya kurang. Over all (eh, maklum kalau salah-salah english ku kasian, kelamaan tinggal di BTP soalnya. Hubungannya!?) komentar yang masuk positif. Yah, lumayan. Puas! Kecemasan kami akan kurangnya makanan juga alhamdulillah tidak terjadi. Seperti yang saya katakan diawal, sepenuhnya hanya tentang mengira-ngira.
          Setelah semua peserta berlalu, kembali menerima materi yang berpusat di penginapan ikhwan. Kami, Tim Koki, yang—baru saya sadari—kalau semuanya manis-manis—pun terduduk menyaksikan kenyataan bahwa kami harus mencuci sekian peralatan makan. Dan saya juga baru sadar. Betul-betul baru sadar saat menuliskan ini bahwa selama disana saya tidak pernah mengambil posisi mencuci piring. Lantas apakah yang saya lakukan??. Ah! Saya memanggang roti untuk snack peserta bersama Ina dan Touchy. Alat pemanggang ditangan kiri, Handphone Crossku—yang kebetulan terlalu canggih sampai ada TV nya—di tangan kanan, sibuk mencari signal demi menyaksikan pertandingan timnas menyerbu habis Malaysia yang berakhir mengecewakan. Heboh sendiri! Geram sendiri! Tim-ku yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui bahwa wanita anggung macam diriku ini ternyata menjadi kehilangan estetika saat menyaksikan pertandingan sepak bola. (Hahahaha)
          Baik, roti bakar selesai, teh sudah dibuat. Pinjam gelas juga sudah. Kami dengan pengawal yang berupa Aris, Memet, Ahmad dan kak Jumrang akhirnya berjalan melintasi jalan yang gelap bak putri-putri raja. Kami datang dengan wajah yang sangat berseri. Menampakkan muka kepada peserta. Karena kami khawatir saking sibuknya bekerja di belakang layar kami jadi kurang eksis dalam hal kena jepretan kamera, dan jadi kurang terkenal di kalangan peserta. Kami sangat tidak menginginkan dan mengharapkan hal itu, Sungguh! Haha.
          Pukul 21.30. Mengantuk!. Cuma itu yang rasanya saya tahu. Beruntung Lita dan Asih berinisiatif mengajak kami pulang. Hari ini sudah sangat melelahkan, beristirahat adalah ide yang bagus. Pukul 04.00 besok kami bahkan sudah harus curi start untuk mempersiapkan sarapan pagi. Dan sialnya, saya tidak bisa tidur sama sekali. Terlalu dingin. Entah kenapa saya merasa terlalu dingin. Agak kesulitan bernafas karena hidung saya yang tidak mancung ini rasanya membeku dan sakit. Ditutupi malah semakin tidak bisa bernapas. Saya sibuk mondar-mandir dari ruang tamu ke kamar, kamar ke ruang tamu, hanya untuk mencari posisi atau kondisi yang sesuai. Tapi nihil. Saya kembali ke sofa, menelungkupkan wajah diantara kedua paha. Dalam keadaan duduk dan tertunduk itulah saya nyaris tertidur. Rasanya mulai nyaman, namun sayang sepersekian detik sebelum nyawa saya mengelana ke alam mimpi, alarm berbunyi. Waktunya bangun, shalat lail. Ah! Pahit! Tapi sudahlah. Mau bagaimana. Saya bangun. Langsung menuju dapur memasak sepiring indomie. Setidak-tidaknya untuk menetralisir rasa lapar akibat begadang, dan rasa dingin yang terlalu. Kultum dimulai sambil menunggu subuh. Saya lebih memilih mandi, dingin!? Ah! Kebetulan otak saya saat itu agak encer. Jadi sambil mengantri ke kamar mandi, saya panaskan saja air. Berhasil mandi air hangat. Mantap!

Hari ke dua

          Sarapan pagi. Menunya nasi goreng dan telur dadar. Kali ini cukup simpel. Yang ribet paling cuma campur-mencampur nasi. Karena porsinya agak besar dan wajan yang tersedia tidak terlalu besar, juga dengan tangan saya dan Ina yang “agak” sedikit mungil. Rasanya ingin patah. Yang ini tidak terlalu berkendala. Done!.
         Pukul 06.00, sementara peserta diarahkan untuk berolaharaga, saya dan beberapa orang lainnya berbincang perihal tour menulis ke air terjun. “Tim Koki juga harus ikut, tapi paling sejam balik lagi untuk persiapan makan siang.” Saya berpikir agak keras untuk ikut. Rasanya hanya akan buang-buang tenaga dan waktu. Meskipun yah tentu akan ada banyak hal yang dilewatkan. Tapi saya dan Ina sudah memutuskan untuk tidak ikut. Aris, Memet, dan yang lain ngotot membujuk. Dan, dasar emangnya saya gampang saja dipengaruhi, akhirnya ikut juga. Lagi-lagi, kata nda tahu siapa, “Itung-itung adami foto ta disana baru pulang meki.”
          Air Terjun Bulan. Air terjun yang baru bisa disaksikan keindahannya setelah—Subhanallah—melewati seribu anak tangga (bede’) terlebih dahulu. Tim Koki kembali berpikir keras. 1000 anak tangga? Trus kami hanya buang kentut disana and naik lagi!?. Realistis? Jawabannya tidak. Kami bisa tewas!! Dan kalau kami tewas di anak tangga itu dengan jumlah kami yang hanya lima orang, agak terlalu tidak keren (pemborosan kata), terlalu tragis, dan siapa yang akan memasak!??. Akhirnya pada anak tangga yang belum sampai lima puluh (sepertinya, karena nda sekurang kerjaan itu ka menghitung), kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan kami. Kami berpisah dengan perasaan yang berat, melepaskan teman-teman yang lain menuju mimpi dan harapannya; Air Terjun. Tapi sebelum berpisah tak lupa kami meminta salah seorang memotret kami (harus tetap eksis dalam setiap kondisi : slogan tim koki).  





Kami pun manaiki kembali anak tangga. Memulai cerita kami sendiri!. Kami tak ingin sia-sia tanpa sesuatu yang bisa dilihat oleh dunia. Maka, kami terus saja singgah dan mengambil pose di setiap tempat yang kami nilai menarik. Bermodalkan HP Sams*ng ku dengan baterai yang tinggal 50%. Kami berusaha tetap tersenyum di depan kamera. Berusaha tetap manis meskipun kami memang sudah manis meski sedang tidak tersenyum (gila!). Kami memulai ekspedisi jalan kaki daari air terjun menuju Pasar. Kali itu, feeling kami cukup bagus; Jika tidak ke pasar saat itu juga, kami tak akan punya oleh-oleh untuk dibawa pulang, mengingat waktu yang agak-agak mepet. Kami dengan percaya diri menyusur jalan, singgah di depan vila-vila mewah sekedar mengabadikan foto di depan gerbangnya (kodong), singgah di pinggir jalan yang kebetulan banyak bunganya, mengacuhkan mata-mata yang memperhatikan kami sambil berbisik, kami sungguh tak peduli. Sembari bertanya kiri-kanan arah pasar dan ATM, kami terus saja berjalan. Ternyata perjalanan kami jauh. Cukup jauh!. Kami merasakan pegal diseluruh kaki. Meski saya yakin teman-teman yang turun jauh lebih pegal lagi.






         Dan ternyata perjalanan jauh itu belum menuju ke pasar. Itu baru menuju ATM. Setelah kami sampai ke ATM, kami harus memutar arah kembali ke pasar. Oh, Tuhan. Aku menyerah. Beruntung ada pete-pete. Kami memilih naik pete-pete menuju pasar. Di pasar kami sibuk memilih oleh-oleh untuk dibawa pulang, sampai-sampai melupakan bahwa harusnya kami membeli bahan-bahan bumbu seperti bawang, cabai, dsb untuk masakan siang ini. Kami baru menyadarinya setelah ojek yang mengantar kami pulang berlalu. Celaka! Kak Nendenk sudah pulang.Tak ada motor yang dapat dipakai.  Teman-teman belum kembali. Kami panik, sementara jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00, kentang maupun wortel untuk sup belum dikupas sama sekali, tempe belum dipotong, daaann gawatnya bumbu tak ada. Kami belum menyiapkan apapun. Kami berpikir keras. Sembari yang lain berinisiatif untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, saya dan Ranti sibuk menghubungi Memet dan kak Jumrang, berharap ada salah seorang dari mereka yang sudi kembali dan membantu kami membeli bahan, tanpa itu semua kami tak bisa berbuat apa-apa. Dan masakan tak akan selesai. Memang salah kami, terlalu lama membuang-buang waktu untuk berfoto, jalan-jalan, dan memilih-milih di pasar.


          Beberapa menit berlalu akhirnya ada berita dari kak Jumrang. Ada masalah dan panitia belum bisa naik. Kami tak tahu masalah apa. Kami terlalu sibuk dengan masalah kami sendiri di dapur tersebut. Tak lama berselang, kak Jumrang datang, tapi untuk mengabarkan bahwa ada peserta yang asma, dan beliau harus mengambil uang untuk membeli obat-obatan segera. So, kami tak mungkin meminta kak Jumrang ke pasar dalam kondisi segenting itu. Kami mencoba menenangkan diri, kabar ini cukupmenambah beban pikiran kami. Khawatir. Pasti!.
          Kami terus berusaha menyelesaikan masakan. Langkah yang paling simpel, menggoreng tempe lebih dahulu, karena bahan-bahan untuk sup belum ada. Saya dan yang lain berusaha dengan cepat menyelesaikan kupasan wortel dan kentang yang sangat banyak itu.
          Pukul. 12.00 Asih sudah tiba, kami meminta bantuan Asih untuk membeli bumbu. Asih menyanggupi dan meminta tolong Memet yang kebetulan telah selesai mengantarkan peserta yang sakit tersebut ke sofa ruang tamu. Saat itu saya sungguh tak sempat lagi menengok kondisi peserta yang sudah ramai dilingakri banyak orang tersebut. Saya terlanjur gelisah. Peserta sudah kemabli sementara masakan belum selesai bahkan 30% nya. Mereka sudah pasti lapar. Bahkan ada yang sudah meminta makan karena mag.
          Ah! Saya semakin panik. Lita memberi ide untuk mebuat sajian tempe yang lain sembari memanfaatkan bahan-bahan yang ada, dan agaknya lebih simpel. Saya menyetujui ide Lita. Lita dengan gesit langsung mengerjakan. Beberapa menit kemudian bumbu-bumbu sudah datang. Saya meraih bungkusan tersebut dan langsung mengerjakan semuanya dengan cepat, yang utama bawang merah dan putih. Saat ingin memasak sup. Kami kembali terhambat karena memikirkan cara untuk memasak semua bahan-bahan sementara periuk yang tersedia berukuran terlalu kecil, kami coba meminjam kepada ibu pemilik rumah, tapi ibu juga hanya memiliki periuk ukuran sedang. Timbullah ide untuk memasak bahan tersebut satu per satu. Pertama-tama kami memaak wortel, setelah itu ditiriskan dan dilanjutkan dengan kentang, kemudian sayur. Setelah semua masak, barulah kami memberi bumbu pada kuah dan menyatukan semuanya dalam satu wadah. Dalam proses memasak itulah saya membuat sambal Unforgetable and unbelievable (istilah kak Jumrang) ku. Saking paniknya saya tak sempat lagi menakar jumlah tomat dan cabai rawit. Saya sama sekali tidak memikirkan apa-apa lagi. Yang saya ingat saat itu, saya langsung memasukkan sekantong cabai rawit ke blender, setelah hancur saya menumis langsung dengan tomat. Tak sempat memedulikan tingkat kepedasan yang mungkin terjadi. Setelah dicicip sedikit, subhanallah rasanya sensasional. Saya menambanhkan gula yang agaknya sudah cukup banyak, tapi tetap saja rasa pedasnya masih kental. Tapi saya tak sempat lagi memedulikan sambal. Bukan itu fokus utamanya.
          Akhirnya masakan selesai. Kami menyajikannya disaat bus jemputan sudah datang. Pukul 03.00. Peserta diarahkan untuk makan dengan tetap tenang. Tak lupa sebelum makan saya memperingatkan peserta bahwa sambalnya cukup pedas, agar mereka tidak mengambil terlalu banyak sehingga menyesal.
          “Sssstt...Ussstt...” 
          Muncullah suara-suara khas yang saya kenali. Suara lidah terbakar. Kuperhatikan satu per satu wajah peserta dan panitia. Banyak ekspresi lucu yang sibuk saya tertawakan sampai tak sempat makan. Ada Memet yang tertunduk bak orang galau karena baru putus cinta dengan air mata yang sepertinya sudah menetes, ada kak Tajrim dengan kalimat simpelnya, “Nda sanggup meka, pedis sekali.”, Ada kak Aiys yang memang benar-benar sudahh berjatuhan air mata, untung kak Nendenk sudah pulang, kalau tidak, saya bisa disemprot karena bikin kakak Aiys nangis. Ada kak Dewi yang meskipun wajahnya sudah merah menahan pedas, tetap saja menikmati makanannya bahkan melengkapinya dengan roti isi sambalku. Kata Isma, “Enak Fiqah, tapi pedis, tapi enak, tapi pedis.” (aduh apa sih. Isma.. Isma....) Dan saya tertawa lagi. Tak saya sangka bahwa sambal ekstra pedas itu masih jadi topik hingga kini. Sudah  saya katakan, saya tak bisa masak. Sudah saya katakan. Tapi dasar si Mr.Aris tak percaya,
         “Tidak ada orang yang tidak pernah belajar langsung pintar masak, Fiqah” Saya hanya mengendus. Pintar apanya, bikin sambal saja gagal. Ckckck.
          Kalau bukan berkat tim koki, saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Akhirnya saya tidak heran saat Aris mengatakan, “Saya menaruh respek yang cukup tinggi pada tim koki”. Ya, wajar. Karena meski berada dibelakang layar, pekerjaan kami cukup kompleks, menguras tenaga, dan mangambil banyak jatah istirahat. Akhirnya, di akhir tulisan saya yang luar biasa panjang ini.. Saya mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya untuk teman-teman sekalian yang sudah berkerja keras.

          Saya rindu, sangat rindu momen kebersamaan kita di Malino. Berharap bisa mengulang cerita ini lagi, dalam bentuk yang lebih menarik dan menantang.

          Benar yah kata teman-teman, FLP selalu punya cerita..



"___AzureAzalea___"



Baca juga kisah TOWR IV FLP UNHAS yang lain (disini): 
>Nunu

Jumat, 23 November 2012

Sudah Secantik/Setampan Apa Dirimu Hari Ini?




Kalau hanya sekedar cantik (rupawan dalam persepsimu), ah! Sudah terlalu banyak perempuan cantik di muka bumi ini. Kalau hanya sekedar tampan (dalam persepsi dangkalmu)—sekali lagi—juga—sudah cukup banyak laki-laki tampan  di muka bumi ini. Tapi toh, mngapa juga orang tak pernah ada habisnya mencari kecantikan dan ketampanan?? Sebenarnya bukan karena kuantitasnya sedikit, tapi menemui makna atau katakanlah kualitas dari sebuah kerupawananlah yang sulit.
Kenapa saya akhirnya kembali dan lagi-lagi membahas topik—setidak penting—ini, karena toh nyatanya tidak juga ada lelahnya panca indra ini memotret fenomena yang—harusnya—mengiris hati bahkan pada diri saya sendiri.
Agus Noor, dalam salah buku puisi ciuman-nya menulis, “Di antara semua yg dimiliki perempuan, kecantikan ialah yg paling rapuh oleh waktu.” Saya sepakat sekali. Tapi tidak hanya perempuan, pria pun demikian, saya kira. Entah seunyu, seimut, semanis, secool, se-apapun itu dirimu. Mau asli kek, mau oplas kek. Mau udah capek2 fitness ampe six(six....six...six...apa lagi sih tuh namanya? Nah itulah pokonya ye), mau seminggu tujuh kali nyalon, mau perawatan juta-jutaann cuma buat kelihatan putih, tinggi, langsing, berotot, or apapun lah itu, Mau dah invest waktu, uang, dan sepenuh tenaga buat cuman “kelihatan” oke, cuman biar orang-orang bisa bilang Wooww.  Pulang-pulang (misalkan nih ya. Ini misal loh. Doa yg baik-baik aja) kita ditakdirin Tuhan nabrak sesuatu, keplingsat, jatoh, nabrak jemuran, muka mu yang jerawat pun kayaknya gak mungkin tumbuh disana lecet permanen, anggaplah bahkan bibir dan hidungmu dah gak jelas bentuknya apa. tanganmu yang bulu pun malu nyokol patah dan mesti di gips. Kakimu yang mesti pake lotion sekian senti saking takutnya item itu jadi malah item beneran karena ngepel aspal. Trus pacarmu yang cantiknya dah kayak putri indonesia, cowokmu yang kecenya minta ampun kayak boy band korea. Saya nanya yah. Simple aja. Masih “mungkin” gak sih bilang kamu cantik? Bilang kamu cakep?. Atau sederhananya, MASIH SUDI GAK DIA MENGANGGAPMU ADA? Sama seperti “dulu” saat dia memujamu sampai langit dan bulan sok2an dijanjiin. Sampai agaknya surga tidak lagi jauh lebih indah dibanding semua tentang kalian. Seketika itu, Sesimpel terjadinya insiden itu. Semua mendadak berubah begitu saja.
Hanya dalam sekejap kau tertunduk merenungi dirimu di ranjang rumah sakit yang dikelilingin perwawat dan pasien lain. Hanya bisa tertunduk lesu. Mungkin ada diantaranya yang tak sempat lagi berpikir persoalan mengenai rupa, kecuali sebuah kesyukuran, “Setidaknya bukan nyawa saya yang lansung dicabutNya, hanya nikmat kecil, yang pasti juga ada hikmahnya nanti”, mungkin ada yang justru mengutuk Tuhan atas kesialan yang menimpanya, bahkan menganggap mati lebih baik seketika itu dibanding hidup menanggung luka yang memalukan. Dan kalau itu dirimu, menurutmu, apa hal apa yang pertama kali terpikir? Sesal macam apa?
            AH! Kecantikan dan ketampanan itu abstrak sekali, kan Kawan?. Menyerap banyak sekali energi tapi bersamaan dengannya jatuh satu per satu. Karena usia bukankah tak bisa melawan waktu?. Andai kata kesehatan, andai kata usia, atau andaikata surga bisa dibeli dengan uang, maka keberuntungan bagi mereka-mereka yang berada. Tapi toh, semua kan lenyap juga. Tapi toh, kita akan sama-sama kembali pada satu kesimpulan, bahwa bukan. Kerupawanan hakikatnya ‘bukanlah’ hanya tentang fisik. Bukan hanya tentang yang tampak dari mata kasar kita. Keindahan sesungguhnya bermekaran jauh di dalam diri seseorang yang memancar dalam raut-raut wajahnya yang mungkin bagi kita biasa tapi selalu mendamaikan, tersirat dari setiap ukiran senyumnya yang entah mengapa selalu membawa keteduhan. Kala bersama dia, kita tak dibuatnya terpesona dan sibuk memuja dirinya, tapi justru tenggelam dalam keindahan-keindahan Rabb kita, membawa kita merasa selalu cukup dengan seperti apapun keadaan, bahwa tak ada yang berbeda antara kita maupun dia. Padanya kita dituntun menyelami kelebihan-kelebihan diri kita sendiri. Berjalan bergandengan dengannya menjadikan kita lebih kuat dan kokoh sebagai “pribadi” yang terus menerus tumbuh menjadi lebih baik.
            Kerupawanan itu intisarinya adalah akhlak. Dan akhlak seseorang sebagamanapun berusahanya dipoles dari luar, tak akan bisa ditekan pancarannya. Jika buruk, buruk jugalah yang keluar, jika baik, baik jugalah yang tampak.
            Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi awal kita) hanyalah se jauh mata memandang. Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi yang benar) adalah sejauh hati merasa.

Terakhir, izinkan saya bertanya, Sudah secantik/setampan apa anda hari ini? ^_^





[Maafkan jika terdapat kata-kata sedikit kasar, kurang sopan, lebih-lebih jika menyinggung. Sepenuh hati saya mohon maaf. Saya memang sengaja, dengan maksud baik. Semoga kita semakin dekat dengan pemahaman yang benar tentang keindahan dan penampilan] ~SEKIAN~

Rafiqah Ulfah Masbah

Rabu, 21 November 2012

tiga bait saja




bahkan cinta butuh rindu untuk mendengar bisu
karena waktu kadang ragu memberitahu

bahkan kita butuh jeda untuk banyak pembuktian
karena ketepatan sangat karib dengan setia

seperti kesimpulan,
butuh anda dan saya untuk sebuah kata salah.







Rafiqah Ulfah Masbah

Selasa, 20 November 2012

Aku Rindu Aku




Aku rindu aku, 
Aku yang masih tak bisa mengucap kata lain kecuali Mama: Dulu
Aku rindu aku,
Aku yang enggan diraih gendongan sembarang orang kecuali Mama: Dulu
Aku rindu aku,
Aku yang hanya mengingat Mama saat tersesat sepulang sekolah : Dulu
Aku rindu aku, Mama...
Aku rindu aku sebelum aku tahu terlalu banyak 
hal hingga sering-sering membuatmu merasa terlupakan

Padahal—kata orang—surga bahkan berada dikesuluruhan tubuhmu






Rafiqah Ulfah Masbah


__dihadapan wajah lelap mama, 22.00 WITA__

Kamis, 15 November 2012

Laki-laki baik dalam pandangan saya



Laki-laki baik dalam pandangan saya [sederhana] :
padanya saya merasa dimuliakan dan terhormat, bukan yang membuat saya justru merasa rendah!

Rabu, 14 November 2012

Saat Jatuh




Satu-satunya hal yang kufikirkan saat terjatuh, bukan tentang sakitnya, bukan juga tentang bagaimana bangkit seharusnya, tapi apakah kau ada disana untuk sekedar berkata, “Tidak apa-apa, Fiqah. Tetap Semangat.” Lalu tersenyum. Itu saja. Tak kurang, tak lebih.


Jumat, 09 November 2012

S*A*Y*A



Saya : | Tidak monoton dengan satu warna | Tidak memakan daging-dagingan namun tak bisa disebut vegetarian | Sangat menyukai tempe dalam sajian apa saja | Mencintai cangkir demi cangkir kopi dan tiap inci kesejukan es krim stroberi namun tak begitu menyukai cokelat | Fobia dengan hampir semua jenis hewan | Tak suka suhu dingin dan tak bisa tidur tanpa cahaya | Lebih suka aroma melati daripada lavender | Menyukai buku dan orang-orang yang menyukainya | Suka galau dan menjadi aneh | Sering dibuat tidak enak dengan orang yang tak baik, tapi lebih tidak enak dengan orang yang terlalu baik | Kata orang saya manis, tapi bagi saya itu tidak berlebihan, hehe | Menyenangi malam dan aktivitas bernama begadang | Dan sangat beruntung dianugerahi Tuhan kehidupan yang tak pernah kekurangan kasih sayang |

Kesibukan :
Tak sibuk mengurusi pembenci saking sibuknya mencintai

Status :
Sedang menggauli (kerja keras, sabar, syukur, dan ikhlas)

Cita-cita "sederhana" :
Menjadi Sebaik-baik manusia dan sebaik-baik wanita
"Khoirunnaas wa khoirunnisa'"


o^_^o Itu saja. Sederhana!  o^_^o