Selasa, 24 Januari 2012

Cinta, Bukannya begitu...



Bukannya karena mata kita karatan
hanya terlalu silau menangkap bias.
Jika itu sebaris kerling-kerling bebintang
disana.
diantara pipimu.

Bukannya cinta tak berharga
hingga mataku harus kubuang
setiap kali.
Tapi alih-alih indah.
Rupamu makin hitam.

Bukannya kita tiada kecocokan.
Tapi hari ini setan masih memangku buai.
Dan tangan kita dijabat sama.

Tunggu ya.
Esok kusambangi kenyataan.
Esok.
Jika waktu masih bersamaku
Saat Tuhan menjemputkanku
sendiri jemarimu.

***

_Azuza S. Moarum_

Senin, 23 Januari 2012

Kata, Sajak, Kita



* * *
Jika kau tertulis ragu
maka kau kan selalu begitu
memagari barisan kalimatku
dan pada titik kau membisu
Jemariku menari di antara sembilu
ia kaku tak bersiku
Namun jika kau terukir laju
kau adalah koma yang bertalu-talu
menghidupkan kata-kataku
berbaris rapi menari seribu.
Jemariku tersipu-sipu
bercerita tentangmu.
siapa dirimu
aku tak tahu
biarlah sajakku bicara
dan kau, tetaplah guru kehidupanku
yang tak aku tahu
siapa dirimu.

***

(untuk seorang yang telah bersedia menjadi guru kehidupanku)


_Elang Petualang_

Minggu, 22 Januari 2012

Mengapa



Ma...
Mengapa kau tak bilang
kalau cinta tak perlu banyak
bicara?
Mengapa tak kau jelaskan
kalau kasihmu berupa
diam?
Mengapa tak kau beberkan semuanya
bahwa makin menyelami hatimu membuatku
makin bodoh dalam bertanya.
***


_Azuza S. Moarum_

Selasa, 17 Januari 2012

“1”_Arloji_“9”



/1/
Dikau menamaiku “pendamping”,
Yang meski tanya tak sempat
mampir didaun telingamu
memekar serupa bunga makna
dilintasan suara.
Aku menebak.
Kurasa gadis ini ingin kau
sembahkan sebagai bukti kesetiaan.

/2/
Dikau menamaiku “sahabat”.
Yang meski tak sempat kita berjumpa dikelas kedewasaan
Kukira..
Mungkin itu yang engkau simpan.
Ingin kau tumbuhkan aku sebagai bukti kesetiaan.

/3/
Dihitungan ini
Para petanding biasanya sudah mulai pacu.
Engkau tegakkan namamu tepat di potongan ketiga.
Mendermagai titik terakhir sebut dan baca.

Aku sedang menyusuri warisan hari yang selalu kupakai.
Nama.
Ingin aku menjadi sahabat yang selalu mendampingimu, hai Priaku sayang.
Tapi angka-angka, seperti sahabatmu hari-hari
Tengahi rumus kali-kali.
1 dan 2
Kemudian 3.
“9”

Arloji /9/.
Sebuah pagi merah muda.
Tanpa kata sayang, tanpa ungkapan panjang.
Dan Arloji perak itu kau lingkarkan ditangan gadis kecil ini
yang kata orang masih mewarisi gula-gula wajahmu.

Arloji di kebeliaan usia.
Dan kini 9 menggandengkan satu angka didepannya, Pak.
Aku mahfum dihari-hari belakangan.
Nyatanya mungkin itu yang ingin kau sampaikan
Bahwa waktu akan sangat banyak mengejutkan.

Jarum-jarum arloji ini sudah berhenti berputar.
Mungkin lelah sekian kali mengitar bundarannya hari-hari.
Tapi kini aku belum berhenti.
angka masih berjalan, dan aku makin menua.
seperti purnama malu-malu yang mulai mau menyerupa purnama.

/19/
tahun usiaku kini.

tak menyimpan harapan  lebih besar selain bisa menjaga seterusnya warisan-warisan Bapak.
Terus menjadi sebaik-baik sahabat..
Pendamping  yang indah.
Dan terus terbit seperti hitam yang setia pada malam.
SETIA.
Sahabat pendampingmu di surgaNya Ayah....

#Rafiqah Ulfah Masbah#

Hey. Tapi tunggu.
Bukankah ada lain yang sedang kucari dengan arloji ini.
Separuh, Pak.
Separuhnya yang belum kumengerti.
/1/
tahun lagi..

^_^



_Azuza S. Moarum_

Senin, 16 Januari 2012

Aku tahu bahwa aku tak perlu tahu




Dulu.
Sudah lama.
Aku pernah habiskan pekan untuk bujuk-bujuk merdu.
Membingkai kaku pada setumpuk batu-batu permata.
Kita saling menukar hadiah.
Dengan sekeping harap yang masih juga terkatung-katung diantara jemari ke hati.
Katamu selalu ada ruang cukup besar disana.
Untuk setiap jejak-jejak putih hingga hitam.
Atau tampungan sampah dan gula-gula.
Tapi aku tahu.
Dan kau juga tahu.
Kadang kita tak perlu saling tahu.
Entahkah hujan atau kemarau...
Aku tahu, bahwa aku tak harus tahu.
Karena jiwa ini tak saling tahu.
Mereka hanya mencinta.
Dan cinta tak perlu menerangkan.

_Azuza S. Moarum_

Minggu, 15 Januari 2012

1.2.3




1
    2
        3
Serupa menghitung  sebuah permulaan.
Kita mengeja anak-anak tangga dengan seribu helaan napas.
“Dan ini hanya harus kaulewati.” katamu.
Aku mengangguk.
Dan ikut berlarian bersama kilat.
Lalu meraung-raung sepersekian detik kemudian.
Meluruh bersama hujan.
Kering bersama waktu.
Itu.
Jika hanya sampai disitu.
Namun, setiap badai
hanyalah tenggang waktu yang pasti terputus.
“Ini hanya harus kau lewati, kawan...”
Itu Benar!
***

_Azuza S. Moarum_

Selasa, 10 Januari 2012

Sehimpun Puisi Elang Petualang




Tak ada tegur sapa.
Entah kenapa, seakan ada yang terlupa.
Ku tak tahu pada jeritan hati ke berapa, ada nestapa.

Hatiku tiarap,
mataku tak mau menatap,
mulutku bungkam lebih buruk dari si gagap.

Hatiku dipenuhi rasa bersalah,
beberapa jarak dariku, duduk sosok yang dibalut amarah.
Mudah- mudahan, ini hanya kisah yang berujung senyuman di pagi yang cerah,
tuk hapus semua gelisah.
Benar- benar senja yang bersejarah.

Ingin rasanya beranjak, melangkah menjauhinya.
Detik- detik ini terasa berbeda dari sebelumnya.

Kucoba usir resah dengan senandung harakah.
Aku makin salah tingkah. Ah… santai sajalah..!

Kurapikan charger laptop, lembaran dan buku,
di saat mataku tertuju padanya, suasana makin beku. 
Tak butuh waktu lama, segera kutinggalkan tempat itu, tanpa menoleh. 
Dia pun menunjukkan sikap tak peduli. 
Pertikaian menguasai nuraniku, menghiasi dinding qalbu, 
Ku tetap menunggu senyuman 
padaku 
di suatu waktu.
(Makassar, 3 Juni 2010 pkl. 18. 27)


+++


Sesak itu kini bukan di dada tetapi di lubuk pikirku.
Ada ruang gelisah,
tempat bertamunya harapan dan realita.
Ada bilik ego,
tempat mengolah ‘masakan’ suka cita dan duka.
Di kamar logika,
kurapikan makna senyum dan tangis,
membuatku meringis dalam luka ketidakmengertian cinta.

Di gudang imajinasi,
bertumpuk ide dan inspirasi,
di sudut penasaran, perabotan duga berantakan, tidak beraturan.
Aku mencari ketenangan
di beranda muhasabah,
mencoba mengurai makna di balik rentetan
sesal dan kesal 2 hari terakhir.
Di garasi kebingungan, kutitip tanya,
akankah ruang sesak ini makin menyesakkan?

Makassar, 16 Juni pkl. 06. 17


+++

Hening, tanpa gaduh bergemuruh.
Sunyi, tiada berisik mengusik.
Sepi, meredam bising terasing.
Kusuka di sini.
Ada damai mengintai nurani.
Mencoba memahami makna sejumput gelisah.
Belum kutemukan arti isyarat bayang yang bercanda di kegalauan
Rindu itu tetap bertalu.
Kepingan waktu menjuntai harap di ujung asa.
Mengacak selaksa tanya tak berjawab.
Terpilin sepi yang mengendap.
Kegamangan menyapa hari,
kegalauan menyulam waktu.
Ada banyak ide yang menyapa di rentang waktu tersisa.
Berbincang tentang hidup,
   tentang diam,
       tentang lara,
            tentang cinta,
                  tentang luka,
                           tentang segala.


+++



ini sebuah tulisan utk seorg saudara

Ketika mereka mulai mengayunkan langkah kaki mereka tuk gapai mimpi itu... mengapa aku justru terpuruk dalam bisuku???

kenapa harus ada rasa putus asa dalam qalbuku??

kenapa mimpi itu seakan hanya terbayang dalam gelap malamku..?

rasanya ingin ku teriakkan sejuta kata !!!

ingin kutanyakan sejuta tanda tanya dalam jiwa...!!

aku benar-benar tak mengerti...

kenapa saat mereka mulai membuka cakrawala dalam angan mereka..

aku mulai terhempas dalam jurang angan..?!?!

KENAPA..?!?!?!?!



apakah semua ini hanya cobaan..

atau memang ini yang ditakdirkan...???

aku hanya ingin berubah...

aku hanya ingin menjadi diriku....

apa yang harus aku lakukan sekarang

ketika satu persatu mimpi itu melayang....????

jangan kemudian kau salahkan aku !

aku begitu lelah akan semua.....

aku serasa tak sanggup hadapinya...

sulit,tetapi bisa..

ataukah bisa,tetapi sulit..????

ketika mimpi ku seakan menjadi fatamorgana..

karna aku tak punya apa-apa....

aku mau apa..?!?!?!?!

ketika ku pancangkan mimpi itu dalam sanubari...

aku begitu yakin pasti kan terjadi

tetapi..untuk apa aku bermimpi jika aku sudah lelah akan semua..??


ALLAH...ampuni hambaMu ini

yang mungkin telah mendustakan nikmatMu...

ALLAH...aku hanya ingin Engkau kuatkan jiwa ku..

yang mungkin sering lalai akan hadirMu

aku hanya ingin orang tuaku bahagia,
Allah,,,

betapa aku sering menyusahkan mereka..

dengan rengekanku..dengan permintaanku...

Rabbi... kuatkan kembali iman hamba..

jangan Kau biarkan setan mengusik mimpi besar hamba...


sahabatku...

maaf jika aku terlihat lemah dimatamu...

aku memang lemah..dibanding kekuatan Nya yang begitu Besar..

maaf jika aku sedang futur iman...

jangan membenciku,,,

aku ingin kau menguatkan jasadku..

memercikkan semangat pada dahagaku...

bantu aku dengan do'a...

karna do'amu yang akan membuatku kuat...

do'amu yang membuatku bangkit...

jangan biarkan aku terpuruk dalam kegelapanku

sahabat..aku membutuhkanmu

dalam hidupku...

selalu....

(teruntuk saudaraku yang bikin status FB tadi pagi, engkau telah menampar kami dengan keadaanmu. Akhi, jarak bukan penghalang, ukhuwah itu tetap ada, di dalam hati dan jiwa kita)



+++


wahai diriku.....

apa yang kau ingat, dari 23 jam 55 menit yang lalu

kaukah manusia yang merugi?

kemarin dan hari ini telah terjalani,

pada neraca akan terlihat

dan esok? masihkah kita melihat matahari

terbit dari timur

tak kutahu. sungguh tak kutahu

(sebuah muhasabah jam 23.55 Rabu, 4 Januari 2012)



+++



apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap

kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut

melambailah engkau dari lampau yang biru

dari gerai rambut, mata bercahaya, ......

tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam

perca bertaut,

hai, apa kabar?

hujan begitu gaduh katamu,

tapi ia adalah suaramu, begitu merdu

suaramu, dalam senyap

hatiku.



+++



*SENJA YANG RUNTUH*

menuliskan senja yang runtuh,
memecahkan kebisingan,
menyelinapkan kesunyian,

kemudian menarilah engkau,
pada pertanyaan-pertanyaan purba,
kenangan-kenangan
yang dinyanyikan pada telinga-telinga terbuka,

jangan menangis, katamu.
karena airmata melarutkan
kenangan ke dalam
lautan hampa.



+++


*SEPI*
Tiap hari, aku harus bersentuhan dengan
nuraniku sendiri,
laku batin tiada henti
mengasah rasa yang terkikis kecemasan

Tiap hari, aku harus merangkaki
dinding kesunyian hati, bagai cicak yang papa
melata derita yang terbata-bata

Tiap hari, aku harus berjalan di atas bara
semangat jiwa yang terus menyala-nyala
menemani batin yang terhimpit kenyataan pahit

Tiap hari, ya, tiap hari
aku memandang dalam perasaan transparan
mencari dirimu, wahai jiwa yang damai.



+++



*JERITAN DINI HARI*

aku benci perih ini
aku muak ruang ini
bebaskan aku dari gejala ini
tolong....!!!
keluarkan aku dari derita ini
aku bosan di sini
biarkan aku...
perih....
perih....
perih...
beri aku seribu tahun lagi
agar kubisa beri arti.


+++


*NYANYIAN PEJUANG*

Bukan kekalahan
yang kami cemaskan
Bukan pula banjir darah biru
yang membuat jerih luka ini
Pun bukan kematian atau nestapa
Tetapi bila hari ini luka atau gagal
Apakah esok hari
lebih nestapa dari ini?
Inilah nestapa pejuang kami
Kita hanya memohon pada-Nya
Getir liku dunia
Mungkin hanya sebentar, kawan!


+++


*DARI KANDANG KE LADANG*

Sekitar kandang itu mekarlah kesegaran
Harapan di ujung jangkauan
Menyiduk-nyiduk gelegak danau
(anak-anak lapar menjilat langit biru
Membatalkan sujudku semalam penuh
Siang itu cuaca tersiram susu
Mesjidku jadi megah
Tegak di delta sungai jiwaku
Di sini ‘kan kuucapkan sejuta bisik
Buat mengetuk semesta pintu)

Dari kandang itu ke ladang
Berguna sebuah titian
Di bawahnya jurang maha dalam
Tempat mencuci perasaan.


+++


*SAYAP-SAYAP CAHAYA*

Suara yang memanggilku
Di sayap-sayap cahaya terdengar bisu
Pandangan itu, melalakkan angin
Untuk mengeja lirik-lirik sua
Saat kita di taman rindu
Kutadahkan setangkai kata sebait bunga
Sekarang diri merisaukan dedaunan
Terus berembunkan air mata
Rentannya luka dari duri
Juga lapuknya tangkai menopang bunga.



+++



Elang petualang...
Berlarilah dan jangan pernah berhenti
Tinggalkan beban di pundakmu
Datang kepadaku dengan senyummu
Aku menunggumu

Jangan cepat engkau menyerah
Hadapi rintangan yang menghalangimu
Aku ada di depanmu
Menunggumu di akhir perjalanan ini

Tak perlu sesali yang telah berlalu
Dan yakinkanlah tentang mimpi indah ini

Kibaskanlah sayapmu
Meskipun itu hanya dengan sebelah sayapmu
Dan yakinkanlah kau tetap bisa terbang
Karena aku menunggumu
Di akhir kepak sayapmu

Jangan cepat engkau menyerah
Dari semua pilu yang menghambat langkahmu
Karena aku menunggumu
Di akhir perjalanan ini
Di akhir kepak sayapmu
***


_Elang Petualang_

Kamis, 05 Januari 2012

Bukan Salah Tuhan




Akhirnya sampai lagi pada simpul percaya.
tak pernah Tuhan sisipkan kebetulan pada skenario hidup kita.
Waktu yang kdg msh malu ceriterakan
bahwa
pada akhirnya
manusia akan slalu takjub.
ditakjubi dan mentakjubi.

pita suaraku nyaris sejenak kusut.
tertelan tanya
"kok bisa?"
tapi lebih dulu senyum cairkan bisu.

bahwa bukan tanpa arti sapa pertama.
dan lagi.
bukan salah Tuhan pertemukan kita.



Untuk seseorang yang telah sudi mempercayai potensiku.
(bolehkan menyampai setelus hati. Terimakasih telah menjadi tangan Tuhan yang menggandengku sampai disini :)


_Azuza S. Moarum_