Senin, 27 Februari 2012

Karena saya tidak menyukai CERPEN



Warning : Jangan dibaca! Tulisan ini sengaja dibuat untuk tidak dibaca.

::Langit baru saja beranjak hitam saat saya mulai menuliskan ini. Tak banyak yang bisa  saya ungkapkan. Hanya saja ingin saya menceritakannya.:: ^_^

            Saya sedang berbaring santai di sofa ruang tengah, memandangi sebuah gambar dengan nama saya yang sangat tegas terpampang disana. Tentu, juga dengan nama beberapa orang lainnya. Ya, Itu adalah contoh sampul antologi cerpen. Sejak kemarin saya sudah tersenyum. Hmm... Cerpen.
            Saya sama sekali tak pernah mendesain  dalam kepala saya bahwa karya pertama yang berarti sebutlah buku pertama berlabel nama saya adalah cerpen.
           “Saya benar-benar tak pernah suka menulis cerpen. Saya tak suka cerpen!!”
           Itu adalah salah satu pola kalimat yang saya ingat sejak SMP selalu saya ulang-ulang kepada orang-orang. Atau katakanlah sejak saya mengenal dunia kepenulisan. Saya memang tak suka menulis cerpen. Entahlah. Seolah telah terprogram dalam kepala saya bahwa cerpen adalah jenis tulisan yang rumit. Saya sangat senang mengikuti workshop kepenulisan sejak saya SMP dulu. Saya suka menulis. Tapi waktu itu saya lebih suka menulis puisi. Saya sangat benci dan jengkel jika ada pemateri yang menugaskan menulis cerpen. Dalam ingatan saya yang tak bagus ini, selama saya mengikuti pelatihan kepenulisan, tak pernah ada satu pun karya saya berjenis cerpen yang berhasil terkumpul sampai TOWR kemarin. Ya. TOWR FLP SulSel kemerin sukses mencabut sebuh cerpen singkat dari tangan saya.

           Itu dulu. Dulu.
           Sudah sempat saya ceritakan sebelumnya dalam salah satu tulisan saya bahwa saya memang sempat vacum menulis  sekitar setahun lebih. Meskipun terakhir kali, saat SMA saya masih sering dipercaya menjadi perwakilan sekolah dalam cipta karya dan baca puisi.
          Belakangan ini, seingat saya semenjak mulai menjajaki dunia training, saya mulai kembali jatuh cinta dan gila menulis. Jenisnya beda memang, kalau dulunya saya hampir tak pernah menulis selain puisi yang bisa mengisi full beberapa buku tulis saya (maklum, dulu kan belum punya laptop ^_^), belakangan saya lebih jatuh hati dengan jenis non-fiksi meskipun dengan EYD yang ambur-adul, mungkin lagi panas-panasnya bau motivasi di hidung saya. Seperti panas-panasnya saya jatuh hati pada buah karya seorang Salim A. Fillah. Entah sejak kapan. Hehehe... ^_^
           Tapi yah, begitulah saya. Terbawa dan terbawa. Akhir-akhir ini malah kembali memenuhkan laptop dengan syair-syair. Huufft, jiwa puitisku terpanggil lagi.
           Saya sadar kemudian, saat berhasil bergabung di FLP (sudah tiga kali saya batal ikut recruitment dengan sejuta alasan yang menyesakkan dada. Saya ingin menyebutnya seperti rasa kebelet nikah. Tapi saya belum pernah merasakannya, jadi saya urung. Hihi..) bahwa harusnya saya banyak belajar. Saya mulai tergugah untuk mencoba justru yang tak saya sukai. Saya teringat, selalu saya mengulang kalimat ini kepada diri saya sendiri dan orang lain,
           “Semakin kita tahu bahwa kita tak bisa, semakin harus kita mencobanya. Karena kita tak akan pernah bisa, lebih-lebih tahu bahwa kita menyukai sesuatu jika kita enggan untuk mencoba.”
           Qabla Recruitement FLP tahun lalu, penugasan pertama kami adalah Esai. Jujur saja. Panas kepala saya mendapatkan tugas itu. Apa itu Esai!? Saya pernah membaca setidaknya hanya pengertian umumnya di buku bahasa Indonesia, tapi saya tak tahu bagaimana cara menulis esai.
            “Just try, Fiqah.” ucapku menguatkan hati. Ya. Selasai juga akhirnya. Meski tak tahu sudah benarkah apa yang kutuliskan karena tak pernah ada koreksi.
            Tugas berikutnya adalah cerpen. Cerpen oh cerpen. Saya menghela nafas berulang kali. Kali ini bukan panas, tapi mendidih otak saya (lagi pengen hiperbola, hoho). Maka saya lapang-lapangkanlah hati ini. Saya luas-luaskanlah fikiran saya mengerjakannya dengan seperangkat ilmu yang saya ketahui beberapa tahun terakhir.
            “Oh Tuhan, saya tak pernah punya satu pun cerpen utuh sepanjang hidup saya.”
            Jadi lagi. Tapi kata teman-teman kok malah jadi melenceng dari tema. Yo wes lah, mau gimana lagi. Maklum cerpenis pemula. Berhasil menyelesaikan satu cerpen saja sudah jadi prestasi (menaklukkan ketaksukaan). Setelah itu, saya belajar lagi, mulai mengisi perpustakaan pribadi saya dengan beberapa buku kumpulan cerpen. Sembari tetap menulis dan menertawankan tulisan saya. Begitu seterusnya, sampai berita proyek pembuatan antologi cerpen diatas mendarat ditakdir saya dan dengan percaya diri saya ikuti. Pas-pas-an?. Tak apa. (mengamalkan rumus muka temboknya Bunda Pipiet Senja).
            Dan kira-kira apa akhir tulisan ini?. Wah, saya juga bingung. Sepertinya sudah cukup panjang sesi curhat saya tapi tak tahu bagaimana mengakhirinya. Jadi akhirnya kembali ke awal saja yah.
            “Loh? Kok gak jelas, Fiq?
            “Lah! Saya kan sudah bilang jangan dibaca. Saya cuma pengen cari perhatian tahu. (sambil tertawa puas)”
            Saya pamit dulu yah Sist, Bro, Kak, Dek, Mba, Mas, Neng, Kang, Daeng, Ukh, Akh, soalnya mau nonton Mario Teguh lanjut pertandingan bola..
            Salam kasih, teruslah menulis dengan hati. ^_^
            Hari ini indah, esok juga indah.

         

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Senin, 20 Februari 2012

Mengudarakan Rindu




Malam masih sama.
Warnanya gelap, dan bukan merah muda.
Dan hujan juga masih sama.
Serupa jarum-jarum air dan bukan darah.
Disini. Ditempat kita menghabiskan waktu beristirahat.

Dik, Tapi waktu mengajarkanku banyak hal.
Meski ia juga sama. Berputar tak kurang dan tak lebih dari 24 jam sehari
Tapi rasa kadang membuatku takjub berlompat-lompat tak tentu.
Sering ia melambat, sejenak mengajak mataku bernostalgia pada masa kanak kita.
Biasa aku tersenyum sendiri, kadang menangis.
Tapi kali ini aku dibangunkan oleh kenyataan
Belasan tahun sangat cepat berjalan...

Lihat dirimu sekarang.
Adikku sudah menjadi laki-laki yang gagah.
Dulu tinggimu masih sebahuku,dan sekarang gantian.
Dik, meski jarak menjadikan kita sahabat yang tak akrab,
Namun aku, kakakmu yang tiadalah siapa
ini berharap kita masih selalu berpeluk dalam doa-doa
yang mengudara ke istana Tuhan...

Pada malam yang mengistirahatkan anganku di pangkuanmu...
Adikku.. Sayyid Dzaky Zuhair Masbah...
Jadilah seperti sejatinya laki-laki...
Melindungi dan penuh kasih.
Kokoh dan tegar pada tempaan sengit.
Mengayomi dengan segenap kekar yang dilungkapkan Ilahi.
Mengusap lembut pada tiap jiwa yang mampir pada takdir hari-hari.
Jadilah engkau pria kecintaan keluarga, kebanggan umat dan kekasih Tuhan.
...

#Dari bilik jendela yang kini sudah berkaca. Merindukanmu sayang.... T_T


_Azuza S. Moarum_

Jumat, 03 Februari 2012

Mungkin Doa yang bukan Hak



Tiap hari mengharap Tuhan menyampaikan pada momen itu,
Kita duduk bersila menatap langit bersama
Saling bercerita tentang impian dan masa depan
HAnya ada senyuman dan kebahagiaan
Dan engkau berkata tulus,
"Jadilah yang engkau mau. 
Kejar semua mimpi dengan teguh
Selama dalam kebaikan, aku mendukungmu.
Dan jika kau rasa lelah,
datanglah kemari
dalam pelukanku dan ungkapkan semuanya.
Tidak apa-apa"

Apa mungkin boleh ?
Atau entah kapan.
Karena kau tak pernah disini,
disampingku,
bahkan meski sejenak menghapus air mataku.

Kau tak pernah disana
kemarin-kemarin
saat aku bersipayah 
terlempar-lempar mencari jalan hidup.

Apa kau tahu rasanya sendiri ?
Tentu.
Karena kita sama merasainya
diantara jurang keterasingan
belasan tahun yang terlanjur melebar.

Lalu sekarang semua telunjuk teracung di depan mataku.
Kau menangis, dan aku juga menangis.
Bedanya, tak ada yang menanyai hatiku.
Apakah harus lagi aku yang mengajari mereka  maupun itu kau
cara bertabayyun?
Tapi lagi-lagi aku dilirik anak kemarin sore yang tak tahu diri
mengambing hitamkan kajianku yang faktanya hanya sekali seminggu.

Coba sekarang katakan apa yang harus kulakukan diantara luka-luka kita ?
Dan tolonglah mengerti
karena sejak kecil aku tak pernah kau ajari
bagaimana harusnya menunjukkan kasih satu sama lain.

Aku tak berhak atas doaku,
tak jugakah berhak meminta kalian berpikir?

Aku terluka!
Apa kau, mereka, paham !?
sebelum kalian semua menjadikanku satu-satunya tersangka 
bersalah dalam drama kita?

Aku juga merindukan surga di rumah kita.
Menjadikannya sebenar-benar tempat pulang yang hangat.
Tapi aku mungkin tak berhak.
Lagi-lagi tak berhak.

_Rafiqah Ulfah MAsbah_