Minggu, 22 April 2012

Menulis tentang Menulis




            Kali ini, tak ada yang ingin kubahas selain kekalutan. Sejujurnya aku mengetik ini disaat seluruh persendianku demam, tepat disaat yang sama, kepalaku lagi capai, dan ulu hatiku marah-marah derita. Sejak pagi, enggan melakukan aktivitas duduk dan berdiri, lebih-lebih berjalan atau sekedar bergeser dari posisi pembaringan. Bukan enggan sepertinya. Mungkin lebih tepatnya tak kuasa. Dan ini terkecualikan pada hukum wajib shalat, selain karena aktivitas ini juga memiliki sejuta keajaiban yang selalu membaikkan.
Lalu kenapa juga aku sedang bangun dalam tulisan ini?. Tidak. Hanya sedang merindukan laptop biru yang sejak semalam belum disapa jari-jariku.
            Lalu kalut?. Ah iya, begini, biar kuceritakan sedikit. Ada yang mau menyangsikan betapa rajin aku mengupdate status di facebook?. Atau sekali-kali berkicau di twitter?. Ya, agaknya tidak. Mungkin ini salah satu hal yang sedikit banyak membuat orang lebih akrab dengan nama Azure Azalea-ku.
Meski aku selalu melakukan semua itu hampir di banyak kondisi yang berbeda. Lagi senang, galau, sedih, bosan, sibuk. Sedang makan, nonton, belajar, duduk, berdiri, atau berbaring. Lagi di rumah, kampus, pernah juga dibawah laci saat dosen sedang asyik, bahkan andai bisa, dilakukan di alam mimpi. Sedang sehat, setengah sakit, sakit, atau menyakitkan diri. Apapun itu. Tapi akhirnya?. Ya begitulah. Beberapa orang kadang sering mengiraku bercanda, mencari alasan, atau sengaja mengaibaikan.
            Kadang disaat sakit seperti ini, dikiranya aku berbohong. Kadang disaat sedang betul-betul sibuk, disangkanya aku hanya cari alasan. Itu kok masih sempat nulis status. Yah... Begitulah persepsi. Dunia maya membuatku semakin banyak dihinggapi problem yang unik. Mengizinkanku disapa oleh tantangan yang tak biasa. Sepenuhnya bukan salah orang lain. Bukan juga aku tak bersalah yang pasti. Tapi kenapa harus di dunia maya?. Ya karena tulisan ada untuk dibaca. Jika sedang tak bersapa kondisi baik untuk menyodorkan di dunia nyata misalnya. Mau kukemanakan ia selain pada maya yang menghadirkanku sahabat baik seperti kalian?.
Aku hanya suka menulis. Karena aku tak suka berbicara. Apalagi jika tak terkondisikan untuk bicara. Memangnya apa yang bisa dilakukan?. Tinggal membatin?. Alangkah kasihannya diriku jika cuma bergumal dengan kegiatan seperti ini. Aku suka menulis apa saja. Selain melatih pembiasaan, juga untuk mengakrabkan hati dan otakku dengan kata-kata. Memang tidak sedikit yang sering berkata, “Sempat-sempatnya kau menulis disaat seperti ini.”. Tak ada yang bisa kujawab kadang-kadang selain bahwa hanya itu yang selalu bisa kulakukan disaat sudah lama menangis, disaat sudah banyak berdoa, disaat telah lelah merasa bosan, disaat semua pekerjaan menyerupa hambar yang tak selera kutelan, selain mungkin air mineral atau kusebut itu menulis apa saja. Atau, jika tak bertemu keadaan baik untuk berkata, aku diam saja dan menjawab dengan satu senyum.
            Meski tentu saja. Tak bisa juga dikatakan hidupku begitu dicerahkan dengan kegiatan menulis. Atau tak juga cocok agaknya jika ada yang mau-maunya mengatakan aku si pecinta kata. Dalam keadaan-keadaan sadar sering juga jari-jariku lumpuh bergerak. Sering sekali ide ngembek pada otakku dan meninggalkan rumah beberapa waktu. Jika sudah demikian, aku harus begitu kerepotan mencari kata-kata sederhana yang masih jadi anak baik untuk disusun-susun sebagusnya. Sebisanya. Itupun jarang-jarang. Karena kegiatan puyeng itu harus meminggirkan hatiku hingga ia stress dan stroke sejenak dalam merasa secara normal. Jadilah tulisan-tulisan itu berakhir dengan tanggapan, ”Cuma ini?”, “Biasa saja.” Atau sekalian menjadi tak bermagnet untuk merayu mata-mata. Kondisi-kondisi  itu semisal aku diharuskan menulis saat itu juga, dll.
            Menulis tentang menulis. Judul ini memuat separuhnya saja dari tulisan ini. Aku hanya sedang ingin menulis kata menulis saja. Jadi kujadikan dia judul. Aku sedang tidak memberikan muatan nilai tertentu dengan sengaja. Catatan ini hanya berisi kekalutanku di atas tempat tidur ber-seprai ungu-ku. Hanya sedang menginginkan secangkir air mineral, lagi-lagi, kusebut itu menulis apa saja.

Salam malam,
_Rafiqah Ulfah Masbah_

Sabtu, 21 April 2012

Antara Cinta dan Kepentingan



            Dalam Bedah Buku Mutiara yang Telah Tiada di Training Center UIN Alauddin kemarin, Ibu Dra. St Saymsudduha, M.Pd sebagai salah satu Pembicara mengangkat sebuah kisah yang saya kira cukup menarik. Dan judul kisahnya pun saya culik langsung sebagai judul dalam tulisan saya kali ini. Dalam redaksi saya sendiri kira-kira begini kisahnya,
            Katakanlah seorang pria ini bernama Fulan. Fulan adalah saudagar yang kaya. Suatu ketika ia sedang berada pada pelayaran menuju suatu daerah untuk berdagang. Tanpa diduga cuaca yang cerah mendadak berbalik 270° (penggunaan 360° agaknya terlalu hiperbolik, hihi ^). Badai mengguncang perahunya dengan keras, Fulan terhempas kelautan dan nyaris tenggelam, disaat itulah kemudian ia berdoa kepada Allah,
            “Ya Allah, tolonglah aku dari badai ini dan bantu aku agar tak mati tenggelam di tengah lautan seperti ini. Aku berjanji akan menyedekahkan seluruh ternakku kepada fakir miskin jika Engaku menolongku, Rabb.”
            Allah mengabulkan permohonannya. Badai reda dan ia selamat dari maut karena menemukan pecahan kapalnya untuk bersanggah. Meski demikian, ia masih terlontang-lantung di tengah lautan tanpa seorang pun yang bisa  dimintai tolong, Maka berdoalah si Fulan kepada Allah lagi,
            “Ya Allah, bagaimana aku bisa menuntaskan hajatku jika masih berada dalam ketidaktentuan nasib seperti ini. Tolonglah aku agar bisa kembali kedaratan, Ya Allah. Kumohon padaMu. Aku berjanji setelah ini aku bahkan akan menyedekahkan setengah dari harta kekayaanku kepada fakir-miskin. Tolonglah hambamu yang tak berdaya ini, Rabb.”
            Maka Allah SWT pun lagi-lagi mengabulkan doa si Fulan. Sebuah kapal lain mendapati keberadaannya dan ia diselamatkan dari sana.
            Akhirnya sampailah Fulan didaratan dengan selamat meski seluruh perbendaharaan yang dimilikinya lenyap karena badai sebelumnya. Fulan mengerjap lega dan membatin, Ia sudah berjanji akan menyedekahkan separuh hartanya namun barang-barang bawaannya lenyap semua, itu bahkan sudah hampir separuh dari apa yang ia miliki. Maka muncullah keurungan untuk menjalankan nazar tersebut.
            Tak lama kemudian sebuah angin kencang tiba-tiba menyapu dirinya. Si Fulan lalu berteriak keras sembari memelas.
            “Ya Allah... TOLONG URUSAN DI LAUT JANGAN KAU BAWA-BAWA DI DARAT!!”
***
            Mungkin anda tertawa atau setidaknya  tersenyum kecil membaca cerita di atas. Tak lain mungkin karena sedikit mengena sebagian kebaiasaan atau bahwa sering kali kita menjelma sebagai seorang pedagang kotor dihadapan Allah SWT. Kita menjadikan hidup ini sebagai panggung transaksi tawar menawar sesuai kepentingan kita.
            Kita berdoa dan beribadah saat kita perlu. Kita pandai sekali membuat janji setelah ini, setelah itu, jika begini dan jika begitu. Sementara setelah semua kita dapatkan, mendadak kita seolah kehilangan sebagian ingatan bahwa kita pernah berjanji atau kadang tertahan karena selalu merasa tak cukup. Terang saja tak pernah cukup, karena peningkatan pendapatan kita diperbandingluruskan dengan penambahan daftar kebutuhan sekunder yang dialihkan menjadi kebutuhan primer.
            Kalau kata teman saya, “Bukan tak ada kesempatan. Tapi kita yang tidak menyempatkan.”. Dalam redaksi saya, “Bukannya tak ada kemampuan. Kita yang tidak memampukan diri kita sendiri untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya. Bersedekah sebanyak-banyaknya, beribadah sebanyak-banyaknya.”
            Kita terlalu termakan dengan stigma politik yang akut dalam otak kita. Kepada Tuhan menjadi penuh perhitungan. Lalu dengan begitu anggunnya kita selalu mengaku-aku diri kita cinta kepada-Nya. Sejak kapan definisi cinta tanpa pamrih yang diagung-agungkan dihadapan manusia itu lengser saat kita berhadapan dengan Allah SWT ?. Rabb dimana semua cinta bermuara. Zat yang harusnya menjadi hakikat teragung dan tertinggi dari cinta. Ya, Antara cinta dan kepentingan. Mari merenung, Sahabat.

Satu lagi tentang : Apalah Arti Sebuah Nama




            Agenda hari ini adalah Bedah Buku di Gedung Training Center UIN Alauddin Makassar. Kali ini tiket sudah ditangan. Seperti biasa, mengantri adalah prosesi yang harus dijalani sebelum duduk manis di ruangan. Tak terkecualikan untukku dan saudari kecintaanku, Ami.
            Saat baru memasuki pintu ruangan, seorang akhwat dengan wajah sangat kuhafal lebih dulu menyambutku dengan antusias yang tergurat jelas. Ah, ini masalahnya. Aku lupa. Benar-benar lupa dimana pernah mengenal gadis ini, lebih-lebih mengingat namanya. Dengan cepat kupaksa otakku berputar. Kesalnya, upayaku nihil.
            Aku menyambut tangannya yang sepaket dengan cipika-cipiki  ala ikhwah saat bertemu. Tak lupa dengan sesemat senyum termanis yang kupunya. Tanpa dosa bertanya, “Apa kabar?”. Tanpa nama, tanpa ‘ukhty’, tanpa ‘dik’, tanpa ‘kak’. Karena aku juga tak ingat sebayakah, diatas atau dibawaku kah usianya. Ah, berdosa rasanya.
            Kulihat ia tetap tersenyum hangat menjawab pertanyaanku dan langsung menggiringku memilih kursi paling depan. Rasanya bahagia tak terkira. Aku paling hobi duduk di baris terdepan. Tertebak. Ya. Aku visual. Paling mumet jika ada yang menghalangi pandanganku dari pembicara.
            Belum semenit, seorang akhwat berjilbab putih menghampiri. Dengan sangat anggun langsung meraih tanganku, “Assalamu alaikum, Dik..”. Aduh!. Lagi-lagi. Kenapa aku bisa menjadi begitu pelupa. Siapa ini?. Dimana aku pernah mengenalnya?. Beruntungnya aku masih terselamatkan dengan kata “dik”-nya. Yang berarti cukup aku membalas dengan sapaan ‘kak’. Lagi kemudian lagi, jurus senyum antusiasku satu-satunya pilihan untuk menutupi kecanggungan. Aku menepuk jidat.
            Dan ini tidak berlangsung dua-tiga kali. Setelah ini masih ada beberapa orang lagi yang tak ketinggalan menyapa. Tebak? Cuma satu orang yang separuh daya bisa kuingat namanya. Aku hanya tak menyangka. Kukira disini tak ada yang akan mengenalku. Karena ini bukan daerah yang sering kujangkau.
            Bukannya sok terkenal yah. Hanya saja, mungkin benar kata Ami, aku cukup rajin mengikuti pelatihan-pelatihan, dan juga sering ke-PeDe-an kenalan. Tapi, pelupa-ku sungguh akut.
            Aku teringat kata seorang kawan di FKM kemarin saat lagi-lagi lupa membawa novel yang dipinjamnya dariku sejak setengah tahun yang lalu.
            “Maaf Fiqah,” katanya melas. Aku yang seperti biasa always stay cool dengan kalimat ‘tak apa’ku harus malah ikut tertegur,
            “Aduh. Kata orang, Lupa itu artinya tak peduli, Fiqah.” Dan dia meminta maaf sekali lagi.
            Aku menunduk lama di dudukanku. Terus mengutuk. Bagiku, disaat-saat seperti ini slogan ‘Apalah Arti Sebuah Nama’ itu tak berlaku. Mengingat nama saudara kita, kata seorang Ustadz suatu ketika, juga merupakan akhlak. Rasulullah SAW selalu mengingat nama sahabat-sahabatnya dengan baik. Bahkan orang-orang yang baru sekali-dua kali beliau temui. Hingga sering sahabat-sahabat beliau terheran-heran, bagaimana bisa Rasulullah menghafalkan nama orang-orang disekitarnya yang tak terhitung jumlahnya dengan  sangat lengkap. Dan itulah salah satu hal yang membuat beliau spesial di hati orang-orang.
            Ah, aku sering ingin menangis tiap kali bertemu sahabat yang bagiku ajaib masih mengingat namaku hanya dalam satu kali tatap muka di seminar atau event lainnnya. Karena terkadang nama adalah penghargaan tertinggi diatas semua kata termanis sekalipun bagi seseorang. Begitu yang selalu kurasakan. Dan aku hingga kini tak bisa melakukan hal serupa. Bukan disengaja tak peduli. Memang aku harus mengakui kalau aku perlu terapi lebih dalam hal mengingat.
            Bagaimanapun tak mungkin memaklumkan semua orang yang ditemui hanya dengan kalimat, “Mengertilah, Aku pelupa.” karena itu sungguh tak menyenangkan. Berbincang lama dan hangat, lalu ujung-ujungnya rusak dengan tanya kecil, “Afwan. Siapa lagi nama anti?”.
            Kawan, nama itu penting. Nama dan salam sudah selalu cukup menjadi hadiah termanis dalam setiap jumpa singkat kita. Don’t be like me.


_Rafiqah Ulfah Masbah_

Sabtu, 14 April 2012

Untuk Sahabatku, Topi Jerami : Biar kita nikmati secangkir ajal ini



Serangkaian kata tersusun menjadi banyak kalimat untuk menggambar puisi-puisi yang tak pernah menjadi sepadan puisimu.
Tapi tak pernah tercipta satu pun kata sekedar untuk berani-beraninya menuliskan sesuatu untuk mengapresiasi apapun itu tentang dirimu, Sahabat. Sebelum tiba disini.
*
Maghrib yang masih sangat biru. Tepat sesaat Pak Imam menyuarakan salam kedua.
“Meninggal Topi Jerami.” begitu kata seorang sahabat setengah berbisik pelan di telinga. Sesuatu yang entah bagaimana harus membahasakannya.
Seperti pertama kali mendapat berita tanggalnya bulan sabit. Membayang digantungnya Topi jerami sebagai penghormatan terakhir tidak bisa diterima logikaku sebelumnya. Tidak ada tangis, tidak ada gidik. Aku menyelesaikan aktivitas Liqoat sebagaimana biasa, berkendara dengan tenang, lalu menyengaja langsung mengambil posisi terbaik untuk merebah diranjang empukku sesampainya. Aku tak tahu harus seperti apa menanggapi ini. Aku tahu, saat itu hanya ingin terpejam dan berharap esoknya terbangun dan sadar sekiranya ini hanya mimpi lalu tersenyum lagi.
Tapi. Satu jam lebih aku memaksa mataku memasuki titik paling rileks. Sudah pula kubantu imajiku beristirahat dengan musik relaksasi. Tapi apa daya, fikiranku panas dan akhirnya mendidihkan selaput air mata.
            Aku hendak memastikan gelisah. Menghambur keluar dan memarkirkan kaki disebuah warnet dekat rumah. Benar. Tak lagi ada TJ. Tuhan telah sempurna merengkuhnya dari rangkulan hidup yang keras, juga derita yang tidak kutahu takarannya. Ia sempurna menemui harapannya. Tidak lagi ada kalimat tanya semacam, “Kapan yah bisa dipanggil olehmu Tuhan? Rasanya tak sabar.”
            Kini hanya bisa dengan secangkir rindu dan doa yang katamu akan selalu disatukan langit, menikmati setiap sajak yang sempat menyapa mata hitamku, juga berbincang hangat dengan hatiku yang menua dan banyak keropos.
            Benar. Inilah kehidupan. Semua memang ada musimnya. Dan musim tenang di kota kita kali ini menjadi waktu pilihan Tuhan kita yang Mahabaik itu untukmu. Tidak juga kering yang membuat kulitmu dibawah sana mungkin terpanggang. Tidak juga hujan yang membuat gigil.
            Rasanya aku masih sangat hijau dengan pena retakku untuk memaknai kata-kata. Masih sungguh mengharapkan waktu panjang untuk belajar tentang substansi. Masih sungguh merindu petuah kecil semacam,
            “Sesekali jadilah lidah, bukan mulut.”
            Tapi lagi-lagi. Rangkaian nasehat sempurna harus digenapkan dengan jeda panjang untuk lalu merenungi seluruhnya. Dan begitulah pembelajaran ini. Kali inilah saatnya aku harus berani menengok panjang kedepan dan kebelakang, terutama bersahabat kedalam. Katamu sampai aku tahu cara tertawa yang benar.
            Topi Jerami. Sepanjang cerita kepenulisanku yang entah ditutup kapan nantinya, kau adalah sebuah inspirasi yang tak pernah menguap. Sosok yang akan selalu kuhadirkan disetiap puisi-puisi kehidupan. Kau adalah guru yang akan selalu menyejarah.
            “Tuhan itu Mahabaik loh, Azure.” katamu selalu, “Dari-Nya, sebuah ujian bukanlah paksaan ataupun hal yang dipaksakan untuk  kita lalui.”
            Kuseka lagi air mataku. Ya. Tuhan itu baik untuk menyertakan TJ digaris takdir pembelajaranku.
            Akhirnya, tulisan ini tak akan pernah kau baca. Tapi setiap doa akan sampai, kan?
            Pergilah meraih Tuhan, kawan!
            Seperti pintamu, Semoga Ia memberi sedikit tempat disana. J
**
            Teman meninggal, dan mereka akan mencari kesempatan untuk meninggal sekali lagi di dalam tubuh kita.Tidak tahu apakah karena suara atau wajah mereka terlalu jelas terekam dalam ingatan, ataupun kita sudah tidak begitu lagi teringat mereka, dan seakan-akan lupa mereka tiada. –TJ
            Dan kesempatan kali ini dan esok hari adalah belajar diantara kenangan baik tentangmu dan kebijakasanaan untuk terus berjalan benar, agar tidak ada jeda untuk seorang TJ meninggal satu kali lagi di dalam tubuh AzureAzalea. Bukannya di pemakaman nyata yang sama.
***
Izinkan kuangkat lagi puisi kecil ini dihadapan seluruh pasang mata yang membaca, biar turut menghadirkan tenaga kebesaran jiwamu yang pernah diabadikan, agar doa semakin banyak mengantarmu bermesra denganNya.


Nyanyian Dewi Damara : Sebuah puisi Penutup Topi Jerami



Semenjak dirimu melangkah ke barat

ke jalan p..a..n..j..a..n..g matahari



                   aku tak lengah meniup musim

          menata namamu satu-satu

pada daun-daun kayu kentang

jari-jemari tuan yang turun

                   berayun

          berpelukan semangkuk janji



tak lagi tunai

tak pernah penuh kita selesaikan



aku menggesek putik-putik bunga

nyanyian nada-nada kecilmu

                   ~desaku yang kucinta

                             pujaan hatiku

                   tempat ayah dan bunda

                   dan handai tolanku ~



barangkali semilirku tak lagi setanggung

kaki-kaki pepohonan miranti dan binuang

namun kelak kambiumku tersampaikan jua

kekal membaca helai-helai daun rambutmu

kembali tuk kembali mengeja lagi

                             kaf ha ya ain shod

                   -ha mim ain sin kaf





; dewi damara : Dewi kesuburan dalam mitologi Inggris kuno

***



-Salam Perpisahan dari anak kecil yang coba menulis langit, untuk guru pecinta kata yang penuh kesederhanaan.
Innalillahi wa  inna ilaihi Rojiun...

Bukan sepertiku adik yang kau cari, Bukan sepertiku sahabat yang kau butuh




Yang mengaku-aku cinta tapi melukai itu palsu, Kakak.
Sudah kali keberapa kucederai perasaanmu ?
Kau mengerti kan?
Aku bukanlah sesosok saudari yang pantas dijabat hatimu.

Bukan apa-apa.
Karena aku memahami diriku dengan baik.
Ia adalah kepalsuan yang selalu merupa-rupa.
Dan waktu tidak akan pernah menyembunyikan kenyataan.
Aku bukanlah gadis yang baik!

Aku sungguh merasa haru mendalam atas kasih sayang yang selalu tulus.
Aku bisa merasainya dengan sebongkah jiwaku yang keropos setiap kali kau jabat tanganku dengan bertenaga dan memeluk tubuhku erat.
Untuk pertama kalinya kurasa memiliki kakak perempuan yang sungguh-sungguh mengasihiku.

Tapi harus bagaimana?
Aku tidak tahu sudah kuberi makan apa hati ini,
Mengapa ia selalu melukai?

Ingin menangis rasanya saat dulu kau minta aku tidak memanggilmu kakak,
Cukup dengan nama saja, kau bilang.
Karena katamu, kau tidak sedang mencari adik,
Tapi memerlukan sahabat.
Ah, Tapi bukan sepertiku adik yang kau cari,
Bukan sepertiku sahabat yang kau butuh.

AKU PALSU.

***

Jumat, 13 April 2012

Mengenang Topi Jerami dalam 7 hari menyatunya jari-jari emas itu dengan tanah



“Bila sudah disana TJ masih boleh menulis kan Tuhan?”
Aku mengingat dengan jelas kalimat tanya itu dalam sebuah status suatu hari. Ya. Bukannya pertama kali isyarat itu ia abadikan dengan baik. Dan bukan juga untuk pertama kali aku kehilangannya.
Topi Jerami. Lebih akrab ia, aku, dan sahabat lainnya memanggil dirinya TJ. Tanpa sebuah nama yang bisa membuatku yakin apakah dia adalah sosok yang kukenal, ataukah sebuah rupa yang bisa kuingat.
“Biar cukup Tuhan yang tahu. Saya bukan siapa-siapa. Cukuplah mampir dan belajar dari penulis semacam anda, Sist.” katanya suatu ketika saat kutanya lebih serius.
Ya. Tak tahu. Tak pula jelas siapa, bagaimana, dan seperti apakah sosok guru yang kukagumi sejak sekian tahun lalu. Tapi benar katanya, Tidaklah penting siapa dia, tidak lagi menjadi penting untuk terkaan-terkaan tak berkesudahanku selama ini. Aku hanya benar-benar sedang merasai kehilangan mendalam yang membuat kantukku tertahan semalaman.
“Mengapa harus menangis,” katanya di momen penanda pertama kali saat terang aku menangisinya, “bukankah kehidupan yang lebih hijau ada setelah kita tiada dan kembali untuk ada, lebih kekal dan lebih indah bersama dengan yang Maha indah?”
Jum’at, 06 April 2012
Tuhan menjawab sudah panggilanmu.
Ini bukan lagi dustanya firasat.
Apakah sudah terlalu lelah?
Mungkin tidak. Hidup ini tidak melelahkan, lebih tepatnya mungkin sesuatu yang kau cicip dengan betul-betul bahagia.
Benarkah tak lagi ada jeda panjang untuk merebahkan mataku diantara bait-bait puismui yang harus kumaknai dengan tertatih-tatih?
Aku tak pandai memaknai kata sepertimu yang kutahu menjadi perenungan panjang diantara hidup dan kematian.
Tidak lagi ada sore kemerah-merahan dimana kau bisa melihat langit menyorakimu dengan gembira. Bahwa istirahat hari ini akan tetap menyenangkan.
Tak lagi ada malam tempatmu memintal harapan bersama bebintang yang tak habis kau hitung sampai lelap setiap harinya.
Dan juga bagiku,
Seperti hari-hari girang setiap kali masih mendapati kata-katamu berirama di beranda facebook.
Haruskah kemarin menjadi Esai terakhir yang memuat “aku”, yang sangat akrab kau panggil “si penulis Azure Azalea” dijajaran nama-nama Chairil Anwar, GM, Rendra, dan Sapardi?
Aku membacanya lagi dan nyaris ingin berteriak.
Aku tahu aku tak pernah menjadi dewasa.
Kutemukan cacat terbesarnya karya-karyaku dalam untaian pujianmu yang sangat banyak hari ini.
Aku bahkan tak pernah sempat banyak bertanya
Karena selalu kehilangan keberanian
Tapi selayaknya sahabat, kau mengajarkanku bijaksana dengan sedikit-sedikit dan sabar.
Bukankah aku pernah berjanji untuk tak pernah berhenti belajar?.
Dan kau bertanya dengan hati-hati makna dari kata belajar yang selalu kukambing hitamkan sebagai jawaban atas apa yang kadang aku sendiri tak pernah ingin tahu
Dan seperti biasa. Aku diam seribu bahasa.
Lalu kau menitip senyum lewat simbol dengan sepenggal kalimat-kalimat sederhana yang berbeda. Dan percakapan akan selalu berakhir demikian.
Aku menangis terisak-isak bukannya karena belum sempat mendapat jawaban apa-apa lantas kau begitu saja tiada.
Aku hanya kehilangan seseorang yang untuk pertama kalinya dalam hidupku kukatakan, “AKU MENEMUKAN SEORANG PENULIS SEJATI YANG NYATA.”
***
            Subuh menemuiku dengan megah. Berharap menemukan lukisan tanganmu dari atas sana, pada awan-awan yang menggantung air mata. Kau selalu bisa menulis dimanapun berada. Dan setiap goresanmu mengabadi, TJ. Bukan aku atau kami. Karena engkaulah sejatinya pecinta kata yang budiman. Ya, Tuhan tahu. Tuhan pasti sangat menyayangimu. Inilah waktu beristirahat dari semua jemu. Dunia kita hari ini makin terbakar, usah lagi kau memenuhi kepalamu dengan semua sampah dari Rumah paling tinggi sampai jalan-jalan yang biasa menjadi tempatmu pulang melelapkan hati. Di Bantimurung, Jembatan Layang, Losari dan puncak Gunung Bawakaraeng masih menyimpan semua rekam ceritamu. Mereka selalu siap mendongengkan kembali kisah kearifanmu dalam tidur panjang. Dengarlah dari sana, semua kata gelisah mencari jari-jarimu untuk kembali dirajut. Kemarin langit yang warna-warnanya tak pernah bosan menjadi latar puisi-puisimu sedang mengering. Air matanya habis memandikan ruhmu, TJ.
            Ini April yang abu-abu. Untuk dua kehilangan yang beruntun. Izinkan aku menyembahyangi mu dari kata-kata yang tak rapi ini dikediaman sunyi. 

Sebuah langkah tidak hanya akan berhenti sampai disini,
Karena didepan sana masih banyak jalan yang harus kitalewati,
Tapi percayalah, dengan sebuah keyakinan yang sepenuhnya,
Apapun itu akan slalu menjadi indah diakhir cerita dalam setiap perjalanan kita masing-masing,
Karena seperti kata seorang sahabat
Hari ini indah dan esok juga akan indah kawan.

_Status terakhir Topi Jerami, 02 April 2012_


Salam perpisahan ini cukup menyalamiku dengan anggun. Setidaknya kau tak pergi begitu saja. Kau masih sempat menjengukku dengan kalimat kesayanganku diakhir paragraf penutup itu.
            Terimakasih TJ. Untuk ke 42 kalinya. Lagi-lagi Terima kasih atas semua inspirasi, atas semua kebijaksanaan, untuk seluruh kebaikan. Apakah lagi yang harus kukatakan?, rasanya ingin marah, Siapa suruh kau bilang ingin ditikam lebih dalam biar lekas berkelana dalam hidup yang tak lagi mati. Tapi, tidak. Sejatinya memang itulah yang benar-benar kau rindukan.

Selamat jalan sahabat, guru, kakak ..
Surga sedang riuh menunggu kehadiranmu...
Dan semoga Allah SWT mengganjar dengan sebaik-baiknya balasan.

 Biar kukatakan :
Dunia sastra pasti kehilangan penggiat sejatinya.
Seperti sebuah ulasan yang kau buat untuk memuji seorang kawan,
Apapun ciri bertutur dalam puisi yang kita kenal, bentuk narasikah, absurbkah,realiskah, sureliskah, mbelingkah,liriskah, dengan ragam topologikah dll. maka  kukira yang mengandung unsur  kontemplatif / mengajak pembaca merenunglah yang selalu berada di puncak-puncak legenda sastra kita. Dunia kata-kata dalam puisi tanpa pusaran renungan di dalamnya bakal menguap kembali ke kitab induk di langit sana baik sejak ia mula dilahirkan atau beberapa waktu kemudian.”
Dan itulah kenapa, Bagiku Topi Jerami adalah penyair ‘timur’ terbaik generasi ini.

***

Ah, bagaimana bisa kau menitipiku pesan terakhir untuk belajar tertawa dengan benar disaat harusnya aku diizinkan menangis. T_T
**Semoga benar-benar masih bisa bersua diwaktu & tempat yang lebih indah TJ.



Jum’at-13 April 2012
Ya. Hari ini indah, Esok juga indah.
Harus terus berjalan!