Senin, 21 Mei 2012

Katakanlah Hidup Terlalu Sempurna




Katakanlah hidup terlalu sempurna. Laki-laki itu tak perlu menaruh timbangan sebesar gunung di bawah hatinya. Lalu bermesra dengan gelisah. Hari itu seentengnya ia berlatih dan hanya berlatih dengan tenang di karantina. Bersiap mengadu keberuntungan atas perjuangan yang memeras keringat sekian lamanya. Tapi, Kehadiran teleks itu menghadirkannya sebuah rasa yang hanya ia dan Tuhan yang tahu.
“Sayang sekali, Pak. Padahal ini kesempatan emas anda.” Wajah-wajah lengkap dengan cap kata mengiba berselingan menyapa. Tersenyum saja. Tanpa tanggapan. Karena memang bukan kalimat tanya yang perlu dijawab.
***
            Katakanlah hidup terlalu sempurna. Tanpa golakan, tanpa resiko, tanpa pengorbanan yang menggandeng kata mesti. Sebenarnya cukup setengah hari untuk menuntaskan pertandingan lalu kembali pulang dengan ketersediaan waktu sampai tak terhingga. Satu hari saja takdir boleh diajak kompromi. Ya, katakanlah hidup terlalu sempurna. Meski saat itu saja.
            “Bapak yakin akan pulang?”
            “Iya.”
            “Bapak selesaikanlah dulu semuanya. Bukannya ini impian Bapak sejak lama?” suara itu tersengal, dipaksakan tenang, “Disana masih ada yang menemani. Pasti akan baik-baik saja.”
            “Saya tetap harus pulang.”
***
            Katakanlah hidup terlalu sempurna. Bukannya tak harus memilih. Tapi bisa memilih keduanya. Apa mungkin masih ada cerita ini? Atau hari ini?. Atau ia beserta ceritanya hari ini?. Segalanya hari itu menggantikan tubuh laki-laki tak hitam itu bertanding di arena. Cinta. Obsesi. Bukannya ini biasa terjadi?. Tapi ia jatuh di tanggal ini, menjadikannya tak bisa dikatakan biasa.
            “Sayang sekali, Pak. Padahal ini kesempatan terakhir anda.”
            Laki-laki paruh baya itu lagi-lagi hanya punya segaris lengkungan yang tak sepenuhnya tuntas di bibir sebagai bentuk tersantun sebuah respon. Lagi-lagi, dan berulangkali.
            Siang itu aroma hangat sudah menyengat dari jauh. Bahana. Gempita. Ketegangan bahkan sudah menyatu sampai ke saraf-saraf rambut, andai kata ada. Tak jauh beda dengan siluet yang tergambar di jiwa lalu direflesikan di garis-garis wajahnya. Bedanya, arah lemparan hati mereka tak sama. Jika hari itu sekitar 200-an atlet berharap-harap tegang demi kemenangan mereka, laki-laki itu sibuk berharap bagaimana agar ia bisa secepatnya pulang. Berada disana, tepat disisi ranjang istrinya.
***
Katakanlah hidup terlalu sempurna. Kita jadi serba tahu. Tak salah. Dan tak pernah bersalah. Tapi ini dunia, bukannya surga. Kita hanya boleh memilih sekali pada saat yang sama. Kalaulah ada yang menaruh percaya bahwa yang baik berbuah baik, dalam kondisi terburuk sekalipun akan setia dengan yang terbaik.
Dari kota Helsinki, Finlandia, Final Olimpiade Kano, 1952. Telegram itu baru saja tiba. Ia menatap sebentar telegram tersebut. Memastikan. Ya, itu dari Frank. Benar-benar Frank!.
Ayah. Mungkin tak cukup dengan sekedar terima kasih. Tapi saya tetap ingin berterima kasih. Terima kasih telah menunggui kelahiran saya. Segera saya akan pulang dengan medali emas yang harusnya dimenangkan oleh Ayah beberapa tahun yang lalu.
Anakmu tersayang, Frank!”
Air mata laki-laki itu luruh ke tanah, tanpa sepatah kata. Kecuali rasa haru yang lagi-lagi cuma ia dan Tuhan yang tahu. Mungkin memang keputusan yang sayang. Tapi kasih sayang yang diinvestasikan dalam kenangan Frank tak pernah tidak lebih berharga dibanding semua penghargaan atas pekerjaannya.
Ya, sayangnya hidup tidak sepenuhnya sempurna. Tanpa kompromi, semua mesti dipilih. Namun apalah arti sebuah tropi untuk mengganti air mata yang tercinta dan gema tangisan pertama buah yang dirindukan. Dia hanya dunia. Tapi mereka—juga—akhirat.
***
            Katakanlah hidup terlalu sempurna bagi Bill Havens. Seorang pendayung berskala Internasional. Ya. Laki-laki itu bernama Bill Havens. Tapi, Tidak!. Ternyata Tidak!. Tak ada hidup yang sempurna. Semua hanya disempurnakan oleh ketidaksempurnaan kita.
***
Makassar, 20 Mei 2012
(Mengisahkan sendiri rasa hati  memaknai kisah Bill Havens)

Senin, 14 Mei 2012

Cerita Setengah Keparat


Jangan jadi penulis, Kata orang tidak ada duitnya!. Nanti kamu miskin, Nak.1
***
Langit perlahan memerah, satu dari sekian juta pemandangan yang paling kusuka. Dan ini yang paling cantik. Saat sabit yang sedang runcing-runcingnya mulai terlukis tegas. Sabit yang selalu menyerupa sunggingan tipis senyum seseorang. Kadang bergantian sengaja kujelma wajah siapa-siapa yang kusuka. Ya, Petang yang menghibur.
Aku meraih lembar kertas yang baru saja tercetak. KRS  semester ini. Kuusap dalam dadaku. Tak tegar mata ini menatap lembaran itu lama-lama. 2,1. IP-ku semester ini 2,1. Hatiku perih mendidih. Ingin menumpahkan air mata. Tapi tak kuasa. Kering. Sudah kering di bulan-bulan belakangan ini.
            Aku masih berdiri dengan tubuh tak tegak  menghadap keluar jendela. Jendela kaca yang lebih mirip pintu tempatku melarikan diri. Atau kadang serupa  layar televisi dengan sajian drama melankolis. Langit menangis, bulan pemalu, tarian angin, kuncup tersipu. Ah, aku bosan menyelancarkan kalimat ini lagi—Inikah galau!?
***
            Galau memang. Itulah satu-satunya alasan aku disini.
Gadis itu masih merutuk. Mungkin auramu genit!. Itu pertama kali aku mendengar istilah macam itu disabdakan dan—dengan ekspresi beku. Dingin sekali. Bercanda?. Ah, agaknya tidak. Tapi, Aura? Genit?. Lebit tepat disebut sikap—kukira.
            Kau terima sajalah. Memang ada yang ditakdirkan hidup dengan sisi kemenarikan alami. Usahlah bimbang. Toh, tak  pernah kau bermaksud begitu kan? Dan aku yakin pasti. Lagipula pria baik-baik takkan sesumbar mengawinkan ekspresi ketertarikannya pada setiap lakunya dihadapanmu. Cuih! Aku saja yang tak sholeh-sholeh amat tahu pria seperti itu golongan flamboyan!. Tak sudi aku kau dekat-dekat dengannya.
            Ah, aku mengeja ulang kalimat-kalimat ‘bijaksana’ yang seperti biasa cair begitu saja dari bibirnya yang sudah menghitam—karena racun dari batang putih yang diisapnya tiap hari—saat kuceritakan perihal masalah klasik yang selalu kutemui. Aku tak cantik tapi kata orang aku memikat. Bukankah bagus?. Tidak! aku harus selalu kerepotan meladeni pria-pria disekitarku yang entah kenapa selalu kubuat jatuh hati.
Dan—Sholeh—tadi dia bilang Sholeh?. Tahu juga dia melafalkannya dengan fasih. Hmm, Apa mungkin ia tak sadar disetiap perbincangan selalu menyelipiku bahan  analisis yang cukup memeras otak? Orang ini memang aneh!. Aku mendengus.
            “Hai! Halo, Nona!?” Aku terkesiap mendengar bunyi jentik jarinya tepat di depan hidungku. Ia menatapku sekilas sebelum membuang jauh pandangannya ke garis cakrawala.
            “Maaf.”
            “Terlalu banyak berpikir! Huh.. Perempuan zaman sekarang.” Ia menyeloyorkan tubuhnya pada sandaran bangku. Mengerjap. Tentu—masih—dengan ekspresi tanggungnya.
“Bagaimana dengan keinginanmu kemarin?”
“Tak tahu. Masih bimbang.”
“Apa kau kira waktu mau menunggumu mengambil keputusan?”
Aku membisu. Tertunduk gontai.
“Heh. Kukasih tahu, yah. Zaman itu berubah cepat. Kau jangan terlalu canggung kalau kau tak mau hidup menertawaimu terpingkal-pingkal.” Tak sengaja aku mencipta senyum oblong dari wajah tak putihku yang biasanya anggun. Jelas sekali aku tampak bodoh jadinya. Ia menatapku lagi. Lagi-lagi dengan ekspresi yang sama. Menertawaikukah?. Ibakah?. Ah!
“Sudah. Aku pergi dulu! Kau pulanglah! Sudah malam.” Ia berlalu. Kalau masih mau berpikir, Pikirkanlah mana suara hati dan mana nafsu. Itu kata-kata terakhir yang dibisikkannya padaku. Aku mendongak. Mencipta tiga garis kerut di dahi. Menagih. Tapi ia berseluncur pergi. Hilang diantara remang lampu jalan dan lalu lalang kendaraan. Sesuatu seketika menghentak. Nafsu? Suara hati?.
Aku hanya sulit mencerna semua ini. Izinkan aku berpikir kembali!
***
Ah, Kita memang diberi batas waktu untuk hidup di luar yang kita pahami. Mengisyaratkan bahwa memang kita harus banyak berbuat. Terus berbuat. Tidak cuma berpikir terus.
Pukul 18.30 WITA. Gadisku yang cantik itu meraih kunci motornya. Melesat pergi tanpa pamit sama sekali. Lalu, hilang. Tak pernah kembali. Kehilangan?. Kuharap aku tak perlu merasa kehilangan seseorang yang bahkan tak pernah mengindahkan sepatah pun kata-kataku. Tapi kenapa aku menangis? Ah, haruskah lagi-lagi dengan alasan klasik—naluri?.
Ia lelah. Aku juga lelah. Sama-sama berpikir tapi tak berpikir sama-sama. Pergi. Mungkin itu satu-satunya hal yang bisa ia perbuat dari pelbagai macam pilihan. Keterlaluan!
***
            “Keterlaluan kau bilang? Aku sudah bosan bersitegang dengan kalimat-kalimat—tanya—kenapa-nya yang seolah tak pernah kehabisan amunisi membakar kulit-kulit pitamku. Kenapa kau tidak begini?, kenapa tidak begitu?, kenapa kau tidak berbuat seperti ini dan seperti itu?. Yang jika disemaknakan dengan kata perintah kurang lebih akan berbunyi: Harusnya kau begini! Harusnya begitu! Harusnya seperti ini! Harusnya seperti itu!. Tak bisakah sekali-kali ia bertanya : APA menurutmu hal ini baik? APA kau berpikir hal ini buruk? Atau, APA ia tak tahu apa itu musyawarah?. Ah, aku muak!. Memangnya ini hidup siapa!?”
            “Tapi maksudnya kan baik. Kau tak harus begini.”
            “Kau ini terlalu waras. Tahu apa sih, hah!? Sudahlah!” Tiit!
            Aku tak butuh kalian. Tahu apa tentang diriku?. Biarkan aku berjalan dalam pembuktian! Meskipun aku harus sendiri—melakukannya—mengejarnya!
***
Songsonglah lautan. Meski mungkin ibumu telah menasehatkan agar takut terhadap air. Kamu adalah seekor angsa liar—bukan binatang ternak yang harus tinggal di dalam tempat sumpek!
            Aku ingat betul. Siang itu ia masih sempat berceloteh ketus di depan pintu kamarku. Dengar baik-baik. Itu kata si Rumi!. Lalu ia membanting pintu. Tidak sedang marah padaku. Ia sedang kesal pada dirinya sendiri. Aku diam saja.
            “Prak!” Dan daun pintu sebelah tak ketinggalan kebagian amuk. Malam ini ia dioleh-olehi celoteh panjang karena semua pekerjaan rumah terbengkalai. Piring, cucian, dan barang-barang lain berpesta ria dimana-mana.
            “Diam, Bun!” teriaknya. “Apa Bunda tidak mengerti saya capai seharian ini. Memangnya cuma saya satu-satunya anak perempuan yang hidup di neraka ini !?”
            Wanita paruh baya—yang duduk diatas ambal ruang tengah—itu kulihat kembali hanya bisa menangis. Parodi air mata yang sudah terlalu sering terjadi di rumah ini. Sesaat hening. Jeda memberi nafas sejenak untuk memahami lagi kejadian yang sedang terjadi. Sampai sebuah suara tak lagi bisa tertahan untuk memuncrat dari gerahnya.
            “Bundamu ini memang bodoh. Iya kan? Kamu sudah lebih pandai mungkin. Jelas lebih pandai. Kamu ngerti Nak apa artinya dosa?. Kamu tahu apa akibatnya durhaka pada orang tua?. Tidak berkah! Hidupmu tidak akan pernah berkah! Kamu tahu itu.” Suara itu masih anggun meski terbata, patah, dan terdengar retak. Aku merenda kuncup mataku dengan dua belah tangan. Turut merasa bersalah, tapi tak berani bersuara. Pun ia.
            “Kenapa cuma ada anak yang berdosa pada orang tuanya. Dan orang tua tak pernah berdosa pada anaknya?” Suara lirih itu tercuat. Nyaris berbisik. “Ah tidak, tapi ada jenis orang tua yang mendosakan anak-anaknya!” Ia membuang pandangan jauh-jauh. Sesaat kemudian diantarkan kaki dan seluruh jiwanya beralih ke pintu keluar. Terakhir kali wajah gadis yang hanya terpaut menit dengan usiaku itu merupa di rumah ini. Ia benar-benar tak pernah pulang. Tak pernah. Aku menunduk dalam. Entah harus ridha pada pihak siapa.
Oh Tuhan betapa drama ini penuh dengan dosa.
***
            “Aku tahu telah berdosa besar, Anggun. Tapi kita harus membuktikan keyakinan kita masing-masing. Mana kita tahu apa yang terbaik jika kita tak pernah mencoba melakukannya?”
            “Haruskah dengan cara lari?”
            “Memangnya masih ada cara lain yang tersisa disana?”
            “Tapi, apapun pencapaian kita tak akan pernah berberkah tanpa restu.”
            “Kau ini kanak sekali!. Hey, Apa kau sendiri menerima pendapatku?”
            “Apa maksudmu?”
            “Meskipun sudah kukatakan pria flamboyan itu bukan pria baik-baik, Apa kau sudah berhenti mencintainya?”
            “Apa yang kau bicarakan?”
            “Aku tak buta!”
            “Aku...”
            “Sudahlah! Aku tidak menyalahkanmu. Kau itu gadis pintar. Aku tahu kau tak sembarang suka pada laki-laki jika tak ada sepuluh hal baik berbanding satu hal buruk yang kau lihat dalam dirinya. Kau sendiri, Kau sendiri kan yang mengerti tentang dirimu? Jadi apa pendapatku menjadi penting?” Ia menghela napas berulang kali. Apapun yang kukatakan meski tak bersangkut-paut tetap selalu bisa mematahkan lidahnya. Hah, kurasa gadis ini juga aneh!. Tapi diluar semuanya, jujur aku salut—ia masih bisa bertahan dalam patuhnya hingga titik ini—sekaligus kasihan karena ia tak pernah—meskipun sekali—berani berbuat untuk dirinya sendiri.
            “Jadi kau tak mau ikut?”
            “Aku berpikir dulu..”
            “AH! Kau berpikirlah terus sampai otakmu mendidih!” Kesal juga aku dibuatnya.
***
            Betapapun aku sering kesal dibuatnya. Betapapun aku sering kecewa. Tapi aku tak pernah sanggup meluap. Aku bisa saja meruahkan kekesalanku setiap hari bila saja tak menenggang bahwa perempuan tua itu tetaplah orang yang bersipayah melahirkan dan membesarkanku.
“Bun, Mengapa tak Bunda terima saja lamarannya?” Kubuka perbincangan sore itu dengan sebaik-baik kesopanan yang kupunya.
“Kau masih kecil.”
“Tapi bukannya kita sudah bersepakat. Aku ingin menikah pada usiaku yang ke 20.” Ia diam. Entah sengaja tak peduli atau memang menghindar. Aku terus merepet.
“Bun, Aku sudah belajar keras.” Ah, mengapa suaraku jadi lirih begini. “Aku masuk kelas Akselerasi di SMP, pun SMA. Aku bahkan sudah sarjana sekarang. Tapi kenapa Bunda? Bukankah Bunda sendiri yang bilang, kalau kita tak boleh takabbur asal menolak.. Bukannya..”
“Jadi kau juga sudah belajar membantah?”
“Tidak, Bun. Aku cuma..”
“Kau pandai. Pandai sekali. Tapi kenapa tak kau ajari saudara perempuanmu yang satu itu bagaimana cara belajar yang benar?.” Suaranya datar. Tak berteriak seperti biasanya. “Apa kau tak peduli dengan nilainya yang berantakan seperti itu? Mau jadi apa dia?. Bahkan dia mungkin sudah menggelandang di luaran sana. Dan sekarang kau bilang ingin menikah!?” Ia mendongak. Menahan genangan air yang nyaris jatuh dari mata kerutnya. Lalu perlahan beranjak.
“Kalau memang Bunda masih peduli dengan Gempita.” Langkahnya mendadak terhenti. “Kalau Bunda ternyata masih sebegitu memikirkannya. Mengapa Bunda selalu mengabaikan dia?. Kenapa tak bisa bersahabat dengan anak-anak Bunda sendiri? Bunda tahu, Gempita bahkan lebih cerdas dariku. Tak seperti aku, sejak kecil ia selalu melakukan semuanya dengan senang hati—membahagiakan Bunda, mengajari aku. Tapi kenapa untuk satu saja keinginannya, Bunda tak bisa ridha? Tak bisa restu?” Aku berdiri dan menatap rambut ikalnya yang sudah banyak putih.
“Kau tak tahu apa-apa.” Ia berlalu ke kamar tidur. Mengunci rapat pintunya. Meninggalkanku seorang diri. Tergugu.
Jangankan Gempita, aku sendiri tak bersulam jawab dengan jalan pikiran Bunda.
***
            Bagaimanapun aku cukup mengenalnya. Sama sekali bukan sosok matrealistis, lebih-lebih kolot untuk senaif itu mengarang alasan berkisar uang atau kedudukan. Bundaku adalah perempuan agamis dan berpendidikan. Ia bahkan sangat ketat menelurkan ajaran—kerja keras, pantang minta—nya pada kami. Lalu apa?. Nah, itulah yang tak pernah bersambung jawab.
            Aku memulai obsesi tingkat dewaku pada sastra wabil khusus Puisi juga sedikit banyak—(Ah,yang benar adalah sangat banyak)—karena candu Bunda terhadap karya-karya sastra klasik sampai modern bahkan sejak aku masih di kandungan. Dan ia akan selalu dengan riang berceloteh panjang lebar tentang sejarah kesusastraan Indonesia, kadang-kadang bersajak sendiri.
Dongeng-dongeng pengantar tidurku bukanlah dibumbui imajinasi tentang si Kancil yang katanya nakal, tak ada cerita Cinderella bahkan Gadis Berkerudung Merah. Aku sudah diakrabkannya dengan nama-nama Chairil, Rendra, Sutardji, Gibran, Sapardi ,GM sampai pemuka Arab setenar Jalaluddin Rumi. Aku sudah terbiasa diperdengarkan contoh mainstream puisi yang batang tubuhnya terbentuk dari rangkaian diksi aerobik, juga yang tenang seperti aliran sungai macam Chairil dan Gunawan Muhammad. Oh kau bisa bayangkan! Untuk  anak kecil usia sejari, apakah itu masuk akal?. Kadang aku tertidur bukannya karena larut dengan cerita-cerita Bunda. Lebih sering karena lelah mengernyit dahi. Bosan tak mengerti.
 Setelah aku akhirnya turut jatuh hati dalam sastra dan semua tentang kepenulisan, dengan tak bertanggungjawabnya Bunda tak sudi menggandengku menyelaminya. Lagi-lagi selalu dengan alasan klasik. Uang. Ah, sudah kukatakan sebelumnya, pasti ada alasan lain. Tapi ia bungkam berterus terang. Dan itu yang kubenci. Tak diberi alasan logis!
Aku beruntung seorang kawan sudi menampungku dikamar kost-nya yang masih terbilang elit disaat semua kawan-kawan baik menolakku. Alasannya sederhana, nasib kami hampir-hampir mirip, katanya. Ya, bagaimanapun pagi dalam empat bulan belakangan ini sama dengan pagi-pagi biasa. Agenda rutinnya adalah menyuapi mata. Kali ini sajiannya jatuh pada kumpulan puisi terbaru Min Absurd yang dihadiahkan Anggun tepat pukul 12 semalam tadi. Hari ini ulang tahun kami yang ke 21. Rasanya aku ingin melompat kegirangan saat pertama kali melihat ujung sampulnya.
Dari sekian penjelajahanku pada karya-karya penyair terkemuka di Indonesia, aku menemukan Min Absurd, Seorang penyair wanita yang coba mengalahkan waktu dengan kata-katanya yang selalu membuatku mengigil - dalam kacamataku saat ini - ia seorang pesajak liris yang berbakat dan mewarisi ketajaman batin dari para penyair-penyair hebat terdahulu.2
Aku menyelancarkan mata halaman demi halaman. Larut. Sampai tiba di sebuah...
“Ya Rabbi. Tidak mungkin!!”
***
            “Apa yang tidak mungkin, Anggun!?”
            “Lalu kita harus kemana sekarang?”
            “Rel, Anggun!. Rel!!”
            Kami berlari tanpa sempat lagi berpikir bahwa teknologi telah memrakarsai sesuatu yang disebut kendaraan bermesin. Mungkin satu-satunya yang masih kami sadari adalah kami masih punya dua kaki.
“Oh, Tuhan. Bunda!!”
            “Kenapa kalian disini?”
            “Bunda, Gempita mohon, Jangan berdiri disana, Bun. Gempita minta maaf. Gempita tidak tahu!!” Napas kami tersengal, tempo suara Gempita pun tak lagi padu. “Bunda, Gempita sudah pulang kan? Gempita sudah pulang. Gempita mohon maaf Bunda.  Tolong Bunda! Tolong jangan berdiri disana!!” Ia terus berteriak.
            Kulihat Bunda terus menghela napas berkali-kali. Aku sendiri masih menghimpun kewarasan.  Rasanya seluruh tubuhku dingin dan bergetar kuat.
            “Kenapa baru pulang sekarang?”
            “Gempita tak tahu. Kenapa Bunda tak menceritakan semuanya?”
            “Bunda, Anggun juga menyesal. Kami tak tahu. Tolong Bunda kemari.”
            “Baiklah, Bukan salah kalian. Kita bicara!” Aku tersenyum sekilas.
            “Cepat, Bun!!”
            “Baju Bunda tersengkut, Nak!!” Seluruh urat-urat saraf kami menegang seketika. Ya Tuhan, keretanya.
“Bundaa!! Awaas!!”
            “Oh, Tuhan. Gempitaaa!!”
***
            Wanita paruh baya yang bahkan dari kejauhan masih menghimpun bekas-bekas keremajaan yang memesona di pendar wajahnya itu nyaris tiap hari kesana. Begitu yang kutahu dari tetangga yang biasa memerhatikan. Ke tempat rindang dengan pohon asam yang berdiri kokoh nyaris di setiap petak gundukan. Aku menyeksamai bulir-bulir yang berlomba jatuh dari sudut-sudut matanya yang layu tiap kali.
            Aku menguntit. Awalnya bermaksud meredam penasaranku tentang kegiatan rutinnya diluar rumah saban matahari hampir tergelincir selama beberapa tahun belakang ini. Tapi aku akhirnya terbiasa. Aku hanya tak ingin mengganggu khusyu’nya menabur kelopak-kelopak kertas yang diserak dari puisi-puisi kasih yang ditulisnya sekali duduk. Tentang dua perempuan yang semasa adanya tak pernah begitu tergerus harapnya. Lalu menyiramkan dengan air mata. Aku mengunci bibirku yang bergetar tiap kali agar tak juga menggesek rintih di pita suara. Tapi aku sungguh sudah tak tahan. Hatiku remuk-rengsa.
            “Sudah petang. Mari kita pulang...” Kuulurkan perlahan tanganku disisi kanan bahunya.
            “Ke..Kenapa bisa...?” tampaknya ia terkejut sekali. Aku hanya tersenyum.
            “Mari kita pulang, Bun.”
            “Tapi, Aku belum sele...”
            “Bunda, Orang-orang disekitar kita meninggal, dan mereka akan mencari kesempatan untuk meninggal sekali lagi di dalam tubuh kita. Tidak tahu apakah karena suara atau wajah mereka terlalu jelas terekam dalam ingatan, ataupun kita sudah tidak begitu lagi teringat mereka, dan seakan-akan lupa mereka tiada.3” Ia menatap mataku lekat sekali. Menghela napas panjang dan akhirnya beringsut dipelukanku. Aku tak tahu ia bisa layu.
            “Sekarang kita pulang yah, Bunda.”
            “Iya.”
Kami menyusur jalan berbatu diantara puluhan pohon asam yang setiap kali digelitik angin akan menjatuhkan puluhan dedaunan diantara kami. Aku menggandeng tangannya perlahan.
            “Boleh aku bertanya?”
“Hmm?”
“APA mungkin Bunda menyukaimu, Yah?”
            “Hey. Tentu saja. Bunda tahu, dulu hampir semua ibu yang memiliki anak gadis berebutan ingin menjadikanku menantu.” Aku terbahak. Wanitaku itu tersenyum kecil. Manis sekali.
“Tapi kenapa Ayah bisa disini?”
“Kenapa? Karena aku memang selalu disini. Tapi enggan sesumbar menampakkan diri.” Aku tersenyum. “Tak mau dipanggil flamboyan lagi.” Ia menatapku datar, diam, sekian detik sampai tawanya pecah, gelakku buncah.
***

Kisah Setengah Keparat

 Kenapa cuma ada anak yang berdosa pada orang tuanya?
Orang tua tak pernah berdosa pada anak-anaknya
Ah, tapi ada jenis orang tua yang mendosakan anak-anaknya!
Ia akan menebusnya pada titik balik sejarah

Kebisuan
Kau memang tak perlu dengar
Geram
Kakekmu, Ayah, Paman, menebusnya di ujung peluru penjajah!
Air mata
Dunia cuma tak boleh mencibiri kalian haram
Kau?
Lupakan masa lalu!
Kita?
Tak ada. Aku juga tumbal!
Kami?
Bukannya tak ada yang sudi pulang?

_Ujung kereta yang akan menelanjangi kita, tahun ke 21_
Min Absurd_
***

Ket :
1. Kutipan berasal dari kumpulan Puisi dan Sketsa “Racun” (Glitzy Book Publishing, 2011)
2. Potongan pujian Topi Jerami, seorang sahabat dunia maya saya,  untuk Dyn Ambigu, seorang penyair muda asal Sidoarjo.
3. Topi Jerami

Makassar, 12-13 Mei 2012

Kamis, 10 Mei 2012

Rahinah



"Luar biasa!".
Kata ini selalu terhenti di ujung jari.
Tak pernah merupa.
Kenapa?
Kukira ia menjelma amatir tipa bersitatap pada sajak yang kau himpun.
Jemariku malu menelurkannya pada dua pasang matamu.
Ah, Itulah masalahnya!

Rabu, 09 Mei 2012

Mengarahkan Takdir, Mengukir Peta Hidup




Mimpi adalah konspirasi tak terbatas dengan Tuhan.
_Nendenk ‘nd, Cerpenis_

Banyak orang yang hidup dalam keadaan statis yang ketika ditanyai berdalih, membuat justifikasi mengatas namakan Nasib. “Setiap orang itu sudah memiliki garis hidup,” katanya, “Yah.. mungkin sudah nasib saya punya otak tumpul atau hidup melarat seperti ini.”. Oh ya?. Apa seperti itu?. Hanya sampai disitu sajakah pemahaman kita tentangnya?. Apakah demikian Allah mengajarkan kepada kita?.
            Jika demikian, mengapa firmannya sampai berbunyi. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum, sehingga ia mengubah apa-apa yang ada pada jiwa mereka...” (Ar-Ra’d : 11). Bukankah ini bisa menjadi salah satu patokan, bahwa bagaimanapun, campur tangan kita pada takdir Allah juga berperan.

Mengarahkan takdir
Takdir bukanlah mengenai kesempatan,
Melainkan mengenai pilihan.
Ia bukanlah sesuatu yang kehadirannya ditunggu,
Melainkan sesuatu yang harus diraih.
_William Jennings Bryan_

Di awal  kita telah menyinggung, bahwa segalanya bermula dari apa yang kita pilih dalam hidup ini. Dalam mengarahkan takdir, pilihan-pilihan itulah yang akan menjadi batu loncatan bagi kita, apakah ianya ke depan, atau membuat kita semakin mundur ke belakang.
            Ya. Segalanya adalah pilihan. Antara tidur delapan jam sehari, atau memaksa bangun dibekunya malam untuk bermunajat dan melakukan aktivitas lain. Antara menghabiskan uang dengan perilaku konsumtif, atau justru untuk investasi. Antara menjadi beban, atau justru meringankan beban.
            Segalanya adalah pilihan, antara hidup bermanfaat, atau terhina. Tapi lihatlah prinsip hidup agung tak tergugat seorang mu’min yang hanya mematok dua pilihan  hidup. Antara mati syahid, atau hidup mulia. Subhanallah!.

Tanpa rencana, hidup kita hanya akan disibukkan dengan berpindah dari satu masalah ke masalah yang lain, tanpa jelas untuk apa. Tanpa rencana, kita akan mencari kerja, bekerja keras, dan melalui semua kesulitan hidup, tanpa tahu untuk apa. Yang hidup dengan rencana - saja, sering dikagetkan oleh kehidupan, apalagi yang santai menua tanpa rencana.
-Mario Teguh-

            Dalam mengarahkan takdir, mulailah dengan menemukan satu tujuan, dan keinginan besar kita akan mengikutinya. Nah, disinilah poin penting selanjutnya, mengukir peta hidup.

Mengukir Peta Hidup
Sebuah cita-cita yang tidak dituliskan,
Hanyalah harapan belaka.

            Dalam sebuah penelitian Mc Corrmack di Harvard Business School, setiap mahasiswa baru akan diwawancarai tentang target-target hidupnya, 10 tahun kemudian, setelah lulus dari sana, mereka kembali di interview satu per satu. Hasilnya menakjubkan. 13 % dari mahasiswa yang sebelumnya memiliki target hidup namun tidak menuliskannya, memiliki pencapaian hidup dua kali lipat lebih besar daripada 89% mahasiswa yang bahkan tidak memiliki target hidup sama sekali sebelumnya. Yang lebih menakjubkan lagi, mahasiswa yang hanya 0,3%,  yang memiliki target hidup kemudian menuliskannya, memiliki pencapaian hidup sepuluh kali lipat lebih besar dibanding yang tidak menuliskannya.
            “Peta hidup merupakan jalur-jalur menggapai tujuan hidup paling akhir.” kata Pak Dwi Henry Cahyono (Gus Uwik) dalam salah satu trainingnya. Karena kita akan menuju sebatas apa yang kita gambarkan dikepala. Tetapi jangan pula melupakan bahwa, ketika sebersit mimpi tidak tergambar secara jelas, mudah bagi manusia melupakannya, dia tidak akan memiliki sesuatu yang kita sebut power.
Kita kemudian bisa membuktikan bagaimana beda antara pemilik peta dibanding si pengembara dengan tangan kosong. Ibarat si buta berjalan tanpa tongkat. Sulit!. Tak berarah!. Jatuh bangun!. Bingung!. Ya. Begitulah kira-kira gambarannya.
            Sahabat, jika bisa diumpamakan, “Manusia itu,” kata Mac Anderson dalam bukunya The Power of Attitude, “seperti batang dinamit. Kekuatannya ada di dalam.”, “Tapi tidak ada yang terjadi hingga sumbunya terbakar.” Peta hidup kita inilah yang akan menjadi apinya. Api yang meledakkan potensi, meladakkan kreatifitas, meledakkan semangat kerja, meledakkan keyakinan untuk kita menyala menyentuh mimpi-mimpi kita.
Jika anda masih ragu dan bertanya mengapa harus dituliskan secara nyata, saya ingin membagi sebuah kisah tentang seorang bernama Mac Anderson tadi, pendiri Successories, Inc., tokoh dalam merancang dan memasarkan produk-produk untuk motivasi dan penghargaan. Dan pelajaran ini ia dapatkan ketika ia masih muda. “Ketika itu saya adalah seorang mahasiswa baru di Murray State University, Kentucky,”ia mulai bercerita. “dan direkrut oleh seorang teman bernama Eddie Grogan untuk menjual buku-buku keluaran Southwestern Company. Perusahaan tersebut sudah menjalani bisnis ini selama lebih dari 100 tahun dan setiap musim panas mempekerjakan beberapa ribu mahasiswa. Saya begitu bergairah dan ingin mencoba pekerjaan itu untuk mendapatkan pengalaman baru dan memperoleh uang tambahan. Akan tetapi ada satu masalah kecil. Ayah tidak ingin saya mengambil pekerjaan itu. Bukan hanya karena ayah tidak ingin saya melakukan pekerjaan tersebut. Namun beliau juga berpikir saya tidak akan mampu.
            Dan begitulah. Sekarang saya memiliki sebuah misi. Seorang anak yang akan membuktikan bahwa pikiran ayahnya salah.
            Bagaimanapun juga musim panas datang, dan perasaan ragu menyelinap di dada. Lebih jauh lagi, saya sadar bahwa ini akan menjadi pekerjaan yang sulit—lebih dari enam puluh jam per minggu selama tiga bulan. Mungkin saya tidak memiliki kedisiplinan untuk itu atau mungkin saya tidak bisa menghadapi penolakan dari penjualan langsung yang dilakukan dari pintu ke pintu.
            Namun demikian, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba. Sebuah kesempatan untuk membuktikan bahwa ayah salah menyikapi keraguan dan ketakutanku. Saya menulis sepucuk surat untuk diri sendiri dan berjanji akan membacanya setiap hari. Saya masih menyimpan surat  tersebut, dan inilah isinya:

Dear Mac,
            Ini adalah sebuah kesempatan seumur hidup. Kau akan mengetahui terbuat dari apa dirimu. Ayahmu berfikir kau tidak bisa melakukannya. Kau bisa membuktikan bahwa dia salah. Ini tidak akan mudah dan saya yakin nantinya kau akan seringkali ingin berhenti. Bertahanlah di sana dengan setiap ketekunan yang bisa kau kerahkan.
            Dan pada akhir musim panas ini, ketika kau memandang ke cermin. . .  ucapkan dengan bangga. . .  saya berhasil.
            Buat ia bangga untuk mengatakan, ini putra saya.

            Nah, apakah saya memang membuat ayah bangga? Anda pasti yakin bahwa saya berhasil. Dari sekian ribu mahasiswa dari sejumlah universitas di seluruh penjuru negeri, saya berhasil meraih posisi ketujuh dalam penjualan untuk musim panas itu. Tetapi yang jauh lebih penting, saya telah membuktikan bahwa saya memiliki keberanian dan kedisiplinan untuk melalui masalah tersebut. Hal ini juga menjadi dorongan besar bagi rasa percaya diri saya. Sering saya tanyakan pada diri saya sendiri apakah saya akan berhasil tanpa surat yang saya tulis itu? Dan jawaban yang kembali muncul dalam pikiran saya adalah. . . Tidak! Saya merasa yakin seratus persen bahwa perbedaan dalam kesuksesan atau kegagalan pada musim panas itu adalah karena 84 kata yang saya tulis pada selembar kertas buku catatan itu. Pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan sungguh kuat: disiplin, kerja keras, cita-cita. Namun hal paling penting yang saya pelajari adalah kekuatan dari kata-kata  ketika dirangkaikan menjadi satu tujuan.”
            Sekarang, jika anda sudah memahami betapa pentingnya menuliskan bahkan sekedar sebentuk kecil mimpi anda, mulailah disini, dengan menemukan  tujuan hidup anda. Awal-awal anda mungkin masih samar mengenalinya. Ada beberapa langkah yang memungkinkan untuk anda lakukan, salah satunya seperti dr. Andhyka Sedyawan katakan dalam salah satu trainingnya, Amazing You, adalah membuat Nisan diri. Tuliskan segala hal yang anda ingin dunia kenal dan kenang tentang diri anda sekiranya anda telah tiada. Disitulah mungkin akhirnya anda mampu meraba-raba hal yang sungguh-sungguh anda punya untuk diwujudkan. Berikut juga ada dua tips praktis untuk memudahkan anda menemukan jawabannya :
1.                 Pertama, Sadarilah bahwa Anda adalah spesial, Kita semua adalah unik dan memiliki bakat khusus. List hal-hal yang menjadi kekuatan & kelemahan Anda. Ingat ini. Dapatkan pula umpan balik dari orang terpercaya disekitar anda. Sehingga anda akan mendapatkan gambaran realistis mengenai bakat-bakat Anda.
2.                 Kedua, Temukan apa yang membuat Anda bersemangat—Temukan keinginan besar Anda & berusahalah dengan keras untuk menyemangati hidup. Namun demikian, jangan abaikan peringatan ini... bersabarlah. Tujuan dalam hidup mungkin tidak muncul ke permukaan dalam semalam, namun seperti halnya cinta, ia akan menemukan kita saat kita benar-benar mengharapkannya.
    Sahabat-sahabat saya yang baik, ketika segalanya kian terang untuk anda. Maka, mulailah sekarang. Saat ini juga. Gambarkan peta hidup itu secara nyata.gambarkan dengan rinci, akan kemana anda, akan berbuat apa, atau akan seperti apa anda kedepannya. Jika perlu tempelkan peta hidup itu dengan gamblang dan besar di dinding kamar anda, atau disampul diary harian anda. Setelah itu, serahkan pena dan penghapusnya kepada Allah. Biarkan ia yang menghapus apa yang tak layak, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan ingatlah ini. Optimis. Karena kesuksesan itu adalah hak semua orang, kemuliaan itu adalah hak kita semua. Asal, kita mau BERUSAHA.
   Nah, dengan demikian. Berarti kesiapan itu sudah ditangan. Untuk konsekuensi baik maupun buruknya, untuk perjalanan yang akan menyenangkan dan menyembilunya, untuk air mata yang harus tertumpah, keringat yang mesti tercurah, lelah yang harus dibayar, Anda siap. Sudah siap. Segera kita akan berkompetisi bersama. Dan Rasulullah beserta para sahabat dan mujahid lainnya sudah menunggu kita membersamai mereka di mimbar kemenangan. Lihatlah kesana!. Di ujung jalan itu kita akan bertemu, untuk bersama melepas senyum, menyampai selamat atas keberhasilan kita menempuh jalan-jalan yang telah kita buat dengan indah. Saya, tentu berharap, kelak anda ada disana, menjadi bagian dari kelegaan terbesar. Sahabat, sekali lagi, mengambil kata-kata bergairah kak Nendeng ‘nd, karena mimpi adalah konspirasi tak terbatas dengan Tuhan. Selamat bermimpi.

Senggama Rindu yang Meniadakan




            “Kau tahu kenapa aku sangat menyukai malam padahal pagi dan siang selalu lebih agresif menyediakan cerita-cerita menarik?” Lelaki paruh baya dengan rambut hitam yang masih mengkilap itu menyelancarkan pandangannya jauh ke garis cakrawala. Terkesan dalam. Ah, tidak. Aku kena pancing lagi. Menyerah, ku buka sedikit rahang.
            “Kenapa?”
            “Agar ada waktu untuk Tuhan menciptakan cerita tentang dirimu hingga hari ini, Nak.”
            Aku tersenyum sambil mendaratkan pungggung tanganku ke bahu Bapak. Ia selalu bisa membumbui suasana sepekat apapun pada hari. Tidak, tepatnya pada hatiku. Ia menatapku sekilas. Tanggung.
            Aku masih menyusun kewarasan pada pelupuk mata yang terus tengadah menghadap  bulan. Pernah ada yang bilang, “Cari saja aku pada setiap permulaan tanggal Hijriah. Di langit sana. Saat rindumu sampai padaku dan aku tidak disana. Ya. Pada sabit itu. Tidakkah kau lihat itu serupa senyumku?”.
            Ah, Tapi ini purnama, bukan?
***

            Hidup itu seperti roda, Kawan. Berputar!!
            Benar. Kali ini baru bisa kalimat itu berseluncur rapi dan penuh isi dari lidahku yang turut pucat merasai putarannya yang cukup drastis. Lain memang.  Jika dulu asam tak pernah sudi menubruk gulingan senyumku, sekarang manis lelah terus menjadi arsitek tanpa bayaran di dasar hati. Lain memang. Aku tak terbiasa tidak mendapatkan apa yang kuharap!. Menyerah?. Ah, Tidak. Aku masih akan memeliharanya. Rapat, jauh di dalam.
            Jika bisa itu disebut cinta.
***

            Pulanglah, Dik. Kumohon berilah sedikit ruang maaf untukku. Atau tak bisakah kita bicara sebentar? Sebentar saja untuk aku menjelaskan. AKU MOHON...
            Pola yang tak jauh beda. Nada messagge-nya kali ini tetap saja serupa hambar yang tak sudi kutelan. Mengherankan bagaimana kebersamaan yang memekarkan putra-putri di antara kami tetap tak menyisakan “paham” untuk tabiatku disela hati atau fikirannya. Kapan pernah aku luluh untuk lagu semacam itu !?
***

“Ndak lapar kamu, Nduk?  Sudah malam. Masuklah.”
“Endak, Bu’. Aku masih mau disini. Ibu bujuklah Bapak untuk istirahat dulu. Aku sejak tadi tak mau didengarnya.”
“Bukannya kamu yang tak mau mendengarkanku?”
“Walah. Kamu dan Bapakmu ini sama saja keras kepalanya. Ibu tahu sia-sia juga hasilnya rayuan ibu di kuping kalian. Mantul semua. Yowes.”
Ibu berlalu. Kembali merunut tatanan piring di meja makan. Aku tahu ujungnya. Pun Bapak. Ibu juga tak akan menyentuh sesendok pun nasi tanpa kami. Kurasa benar kata Ibu. Aku dan Bapak sama kerasnya. Namun, tak terkecualikan Ibu sendiri, kukira.
            “Lalu sekarang ?”
            “Apa, Pak?”
            “Apa maumu, Nak?” Aku menunduk. Mencipta jeda sejenak untuk, yah, kutahu akan ada bertubi pertanyaan jika Bapak sudah melempar mata ibanya padaku sedekat ini.
            “Penyelesaian apa yang sudah kau temukan?. Tak kasihan kau pada suami dan anak-anakmu?”
            “Aku masih berpikir, Pak.” Jika ingin tak lebih pedih, aku harus menjawab. Apa saja.
            “Berpikir saja tanpa tindakan nyata tak akan pernah berbuah mantap. Bapak tahu kamu, Nak. Mengapa selalu berdusta?”
            Wajahku mendongak anggun dengan kernyit yang melengkung di dahi. Menagih.
            “Kau tak bisa membuka hatimu. Ah bukan. Tepatnya tak pernah mau, bukan?”
            “Sudah, Pak.”
            “Tidak, Nak. Itu tidak pernah kau mulai.” Sanggah itu mengalir tenang membersamai palingan wajah Bapak yang berarti perbincangan selesai.
            Ah, Apa aku berdosa merindukanmu, Mas? Apa aku salah menaruh hatiku?. Lalu bagaimana? Kita terlanjur jauh tak menggapai. Terlalu jauh.
***

            Hilal namanya. Perawakannya agak gempal, tinggi, meski tak juga cukup tinggi. Kulitnya kecokelatan, Wajahnya cerah dengan senyum yang tak pernah bosan melengkung disana. Ia sabit. Dan sabit seperti senyumnya. Menawan.
            Aku membersamainya lebih dari separuh remajaku. Mencintainya lebih dari setengah usiaku. Tak lelah. Tak pernah. Ah, Tapi roda itu berputar. Ya, berputar.
            Laki-laki itu terhenti tepat disaat kesadaran terbit untuk harus kembali menata lagi sematan gambar masa depan yang terlanjur kuputuskan. Aku tahu. Mana ada manusia yang berhak memutuskan takdirnya. Tapi percayalah, aku memilihnya dengan segenap kewarasan saat itu, dan sayangnya kini aku tak bisa memilih ulang. Ia kawan akrab hati. Dan pendamping tak terganti bagi jiwa ini.
            Aku harus menuntaskannya segera.
***

            Aku tunggu di belakang X jam 18.50 tepat. Aku harus berjumpa denganmu, Mas.
            Kususuri jalan dengan tegar yang kusempurnakan. Belum waktunya bahagia. Belum waktunya membuang napas panjang yang mulai tak sabar terpompa keluar. Aku mengenal Naya. Secepat lintasan hati berubah, secepat itu pula terkaan meleset. Wanitaku ini tak pernah bisa ditebak dengan kewarasan.
            “Belakang X”, Ini adalah kode rahasia antara aku dan Naya. Belakang X yang berati “W” untuk Warung Pecel tempat kami pertama kali berjumpa, yang lalu menjadi seperti tempat pulang setiap kami bertubrukan dan menjauh. Kurapatkan jari-jari, mempercepat laju motor Jupiter hitamku sepersekian detik kemudian. Aku tahu saat ini terlambat menjadi hukum haram.

            18.50 WIB. Jalanan menegang. Kendaraan rapat terkunci. Tak bisa meminggir, lebih-lebih berbalik. Masih setengah perjalanan dan hanya tinggal sepuluh menit lagi, Ya Allah. Kumohon, Tolonglah..
***

            Ini yang terakhir, Mas. Aku berharap kau benar tiba agar semua selesai dengan kelegaan. Aku tahu dirimu tak pernah tepat waktu. Tapi tidakkah juga bisa bagi diriku?. Saat ini sedetik nafas bertaruh. Untuk pertama kalinya aku benar-benar berharap kau disini. Sebagai tumbal. Tumbal bagi rasa yang mengakar di dalam. Dimana kau sekarang, Mas?
***

            “Ya Tuhan, Naya!!!. Naya bangun, Sayang. Tolong bangun!. Maafkan aku. Aku sungguh tak becus menepati pintamu. Tapi aku tak bermaksud. Sungguh. Kenapa begini, Naya? Kenapa, Dik !!?”
            Suaraku serak. Sesuatu roboh didalam diriku. Entah apa. Yang kutahu seluruh persendianku lemas dan darahku mengombak. Segalanya berputar hingga menjadi satu titik. Gelap.
***

            “Papa.. Papa sudah bangun?” Suara kecil memanja itu sangat kuhafal.
            “Papa dimana, Izky?”
            “Di rumah lah, Papa. Papa gimana sih..” Izky tersenyum.
Rumah ?. Ah Benarkah?. Syukurlah ini cuma..
“Sudah bangun, Nduk? Bagaimana keadaanmu?” Aku tak menjawab. Mencoba mencerna. Ibu disini. Kenapa?.
“Sabar yah, Nduk. Lapangkan hatimu...”
O Tuhan. Tidak mungkin. Bukan mimpi. Ini bukan mimpi. Kuremas kedua tanganku dengan erat. Kembali sesuatu berguncang di dada. Kuat sekali. Jika bisa sekali lagi aku roboh. Atau hilang dari sadarku selamanya. Tak bisa.
“Tuhan!! Naya!! Naya, Ibu.....”
“Sabar, Nduk. Sabar.” Wanita berkerudung itu meraih tubuhku. Isaknya tak kalah. Kami beradu air mata beberapa lama. Sebelum lebih dulu ketegaran diraihnya untuk bicara. Sekali lagi.
“Ini Nduk. Surat ini ditemukan di tas Naya. Untukmu.”

***
Kau terlambat, Mas. Biar kau tahu betapa aku berharap kau datang agar surat ini tak harus kau baca. Agar aku tak mesti melukai hatimu dengan mengatakannya.
AKU TAK PERNAH MENCINTAIMU, MAS ANDRI!!.
Aku berbohong dengan berpura-pura tertarik saat pertama kali kita bertemu. Aku hanya jengah dengan tuntutan Bapak dan Ibu agar aku segera menikah di usiaku yang sudah melewati keremajaannya. Aku terpaksa menarik simpatimu agar kau jatuh hati padaku. Dan itu tak sulit. Karena pria sepertimu cenderung memiliki tipe yang sama. Perempuan yang tampaknya seperti diriku ini. Manis dan sedikit “pemalu” yang kurekayasa secara sempurna hingga hari H pernikahan kita. Aku tahu aku berdosa padamu, Mas. Tapi aku tak bisa melumpuhkan hatiku sendiri. Sebongkah rasa merengkuhnya terlalu kuat. Dan ia bukan untukmu, Mas. Tapi pada karibmu sendiri. Ia kekasihku dulu. Dan sampai takdir merenggutnya dari tanganku aku tak bisa menghampar jarak untuk berpura-pura, AKU MASIH MENCINTAINYA. Masih teramat dalam mencintai laki-laki itu. Meski kau yang menempeli kulitku di hari-hari kita. Meski diantara kesabaran dan cucuran perhatian. Aku tak bisa, Mas.
Hari ini kurenggangkan hati dengan mengumpulkan segenap kewarasan, menjernihkan gambaran suamiku sendiri didalam diri. Aku harap bisa memulai semua dari awal. Untuk mengenalmu secara nyata. Untuk mendekapmu dengan ikhlas sampai menembus hatiku. Hanya sebelum matahari tergelincir, Mas. Untuk meyakinkan bahwa aku tak salah berharap. Tapi kau tak datang. Bahkan sekali saja demi diriku. Kau terlambat, Mas. Kau terlambat!!
Maka izinkanlah aku untuk juga tak pernah pulang. Berjalan sendiri meraih cinta yang tak pernah menelantarkanku. Meski ia tak tersentuh. Meski semu. Jangan merindu!. Kau masih punya anak-anak kita untuk menebus cinta yang tak sempat tereguk. Kau tahu, aku punya cinta pada mereka. Kita’ masih terjelma dalam diri mereka. Selalu, Mas. Maafkanlah aku...

_Naya_
***