Sabtu, 30 Juni 2012

Disini




Meski sampai kapan pun aku menunggu
Menunggu hingga entah kapan
Aku selalu berharap tiba pada kalimat ini,
"Teruntuk Rafiqah Ulfah Masbah, Wanitaku.."

Ya, entah akankah itu menjadi pernah.





_Rafiqah Ulfah Masbah_
Pada sebuah pagi, di sebalut gigil

diantara kantuk mata beningmu

Jumat, 29 Juni 2012

Mungkin



Mungkin harusnya bukan pada orang sepertimu 
aku meluruh hati
Tapi apa pula kuasa akal atas apa yang dirasa jika sudah buncah.
Paling pun cuma prinsip yang akan tinggal mengekar satu-satunya.

Mungkin harusnya bukan pada orang sepertimu
kusembahkan simpul terdalam sebuah senyum.
Kadang orang bilang, sudah cukup sesemat kecil di ujung bibirku
merenda rasa.
Namun mendadak itu menjelma hukum keliru.
: Kau tanpa geming!

Mungkin harusnya bukan pada orang sepertimu
aku menatap hangat pagi ini,
menawarkan secangkir kopi dan
kau sambut gelengan kecil.
Tapi entah kenapa ini sudah terjadi saja.
Begitu saja.
Entah!



#Pannampu

Selasa, 05 Juni 2012

Topi Jerami ke Ujung Pena : Puisi ke Apresiasi (curhat ji)





Bagiku tak apa. Entah kau fiksi atau benar nyata. Entah benar kau telah tiada, atau cuma karangan. Ya, sebagai alibi untuk menghilang. Kau tahu, hanya saja masih ku percaya satu hal. Kau tetaplah orang yang lembut hati. Yang sudah pasti tak ‘kan marah karena aku berpikir seperti ini. Alasannya? 

Hey, Topi Jerami. Tahu tidak, beberapa hari yang lalu. Seseorang bertandang ke bilikku. Seperti juga dirimu. Hadir begitu saja. Berasal entah dari mana. Bernama abstrak. Dia menitipi jempol. Lalu menyapa hangat. Dan, berbagi petuah. Mengangkat namaku, persis seperti dirimu. 

TJ, sekali lagi maafkan aku mengusik. Biar lega sesudah membagi rasa. Mohon maklumilah. Kita sudah lama tak berbincang. Sudah lama pula tak ada puisi diantara kita. 

Baiklah, kulanjutkan. Sejujurnya sudah kuutarakan hal ini pada seorang sahabat. Dan, Ah!. Dia mungkin benar. 

“Fiqah terlalu naif sih. Saya sendiri tidak pernah benar-benar percaya. Ini dunia maya, Fiqah. Orang bisa menjadi siapa saja. Bisa menciptakan cerita apa saja. Kasihan kamu, Fiqah. Kasihan terlalu percaya.” 

Sekali lagi, Bagiku tak apa. Entah kau fiksi atau benar nyata. Entah benar kau telah tiada, atau cuma karangan. Itu tak penting adanya. Karena jalinan kita bukanlah soal realita. Kau bagiku adalah seorang penyair. Dan aku penikmat. Kau guru—yang tak jadi soal bernama siapa—Aku adalah pembelajar yang mau berguru pada siapa saja. Dan kau sahabat. Sahabat penaku yang baik. Itu cukup, bukan? 

Meski begitu maafkanlah karena kami sempat sampai pada kesimpulan bahwa kalian orang yang sama. Entahlah. Sudah kukatakan itu tak penting. 

Ujung Pena. Begitu namanya. Makassar. Tempat tinggal yang tertera. Membuka akunnya di awal Mei kemarin. Hmm.. sejauh ini kau sudah pasti mahfum dengan yang ku maksud. Tolong jangan tersenyum begitu. Ini catatannya tentangku, dan untuk kita. 

*** 

Essai Puisi #1 2012 
Oleh : Ujung Pena 


Kawan-kawan pecinta kata yang baik 

Sudah beberapa minggu terakhir, di sela-sela hari yang getol menyeret langkah kaki ini mencari segobang demi segobang pundi-pundi rupiah demi mengepulnya asap dapur kediaman pena, waktuku berteman cukup intens dengan buku kawan kita di maya ini. Jika saya menggulung lebih jauh lagi, tentu saja saya bakal menemukan beberapa puisi lain yang tak kalah gurih untuk dinikmati. Namun apakah anda tahu, waktu kadang suka membuat saya patah hati. Bukankah ini sebuah pembelaan yang cukup membumi, bukan! 

Adalah Azure Azalea, nama penyair yang baru saya kenal di maya ini. Di sebuah siang yang bising—oleh puisinya—dia mulai memasuki telinga saya dalam notenya “disebuah malam, di antara luka-luka” yang ia coba ungkap. Kawan kita Azure Azalea, menulis keresahan berbalut harapan seperti ini di dalam notenya 


*disebuah malam, di antara luka-luka 

sebenarnya 
selalu tersisa bongkah kristal di ujung bola matamu 
jika tawa lelah merepet 
ia bergelantung disana 
memainkan apiapi 
kau kira lagi ada cakaran baru 
:sempit sekali! 

sebenarnya 
aku merumpun tiaptiap redam gelak 
saatsaat sendiri cuma satusatunya 
:kau kira 

sebenarnya 
dan sebenarnya 
:kau masih menyalanyala 

tak ada guna 
buka hati melulu 
:buka dua pasang matamu! 


....... 

Aku menemukan puisi ini dibangun dari sebuah tema yang sangat sederhana. Sesuatu hal yang begitu akrab. Yang mungkin sering terjadi disekeliling kita. Atau bahkan mungkin sering kita alami; curhat-curhatan. Puisi ini cukup berhasil membangun daya hidup di dalamnya. Kita gampang menemukan ada sepasang manusia yang sedang mengalaminya. Sesuatu hal yang mungkin kawankawan dan juga aku pernah mengalaminya. 

Membacanya membuatku teringat salah satu penyair Makassar—yang kukenal lama bertualang di dalam dunia kepenulisan—M. Arsyad Nuh—pernah berkata kepadaku beberapa waktu yang lalu. Bahwa, tak mesti tema sebuah puisi itu diangkat dari sebuah persoalan yang karut semisal persoalan sosial, agama dan politik. Kenapa ? karena tema-tema itu rentan. Jika seorang penyair tak jeli dan cerdas dalam merangkai kata-katanya, dapat begitu mudah tergelincir, bahkan terjatuh dalam larik-larik puisi yang bersifat “menggurui” pembaca ataukah telanjang dengan “caci maki” tanpa ruang renung di dalamnya. Dan, menulis atau menuang kata-kata itu sebenarnya bukan hal yang paling utama. 

Kata-kata dan menulis hanyalah perpanjangan tangan dari dunia keterpesonaan jiwa. Apakah kesedihan, kegembiraan ataukah kenangan dalam hidup ini. Menyelami dunia hati dan tetap bening dalam tatapan-tatapan kepadanya inilah sebenarnya urgensi yang mesti dimiliki seorang pujangga. Jika pandangan itu sedikit kabur, kita sering mengatakannya lagi sedang buntu atau tak memiliki ide sama sekali dalam menulis. Seperti di sebuah pagi di tepi pantai, duduk sendiri menikmati desir angin serta buih ombak yang datang dari kejauhan itu adalah dunia puisi yang sesungguhnya bagiku. Suatu ketika, kelak mereka yang kita pandang itu akan bangkit dalam kata-kata kita. Percayalah. 

Kita perlu terus memperhatikan segala hal di sekitar kita. “Teruslah belajar dari kehidupan di alam ini.” Dan petuah ini kuperoleh langsung dari seorang penyair tua—asal Ngawi di maya ini—yang telah berpuluh tahun menulis puisi. 

Mulailah dengan hal seputar dirimu, katanya. Apa saja. Teman bicaramu yang senang berkicau, dompet yang terlupa di rumah, atau sebungkus roti kenari yang kau bagikan kepada teman-teman. Taruhlah begitu. Dari sanalah kejelian dan kekuatan diksi akan terbangun sendirinya dari alam bawah sadar puisimu. 

Di jalan kepenulisan ini, aku mengenal beberapa orang yang rajin menyajakkan segala sesuatu seputar kehidupannya, salah satunya adalah kawan saya si Simon, Si Peniup Seruling Bambu. Setahun belakangan ini dia begitu melesat dengan diksi-diksi dan liukan kata yang makin memesona. Padahal setahun yang lalu kawan ini lebih banyak meninggalkan jejak dalam note-notenya dengan hanya puisi yang begitu melayu. 

Dunia puisi memang selalu ada dalam jiwa semua orang. Tergantung bagaimana orang itu mengangkatnya dalam bahasa kata-kata. 

Salam hangat. 
..^_^.. 

*** 


Memulai semuanya dengan apa saja. Maka ku mulai tulisan ini seputar dirimu. Topi Jerami ke Ujung Pena. Oh! Aku tak bermaksud membuat ganti atau pembanding-pembanding, TJ. Hanya saja, bukankah dulu kau tak jemu berbagi cerita dan hikmah dari sosok-sosok baru yang kau temui. Menyandingkan kami dalam banyak tulisan selayaknya sahabat, meski tak pernah kami saling mengenal. Maka, tak apalah sekali ini kusandingkan dirimu dengan si Tuan Ujung Pena ini. Sungguh menyenangkan mungkin sekiranya kalian adalah dua jiwa dalam satu tubuh. Tak saling sepi. 

Masihkah kau ingin lebih jauh menilai?. Baiklah, kuangkat salah satu puisinya disini 




Memandang Asap Yang Berlari 



jauh di sini. dari semampai rindang 

pepohonan sawit dan malam yang linang 

kutemukan malai - malai datang memuai 

ada gunung menjulang semesta ingatan 


orang - orang dari masa itu datang mengitir 

pintu kecemasan terulur terjuntai - juntai 

mengakar. nun jauh ke lapisan terdalam 

selingkup kekalahan bersembunyi 


di negeri ini musim selalu bingung. liur 

dan suara disebut perkakas perang 

mengali kubur di halaman koran 

dan papan nama pertokoan 


sebab jalan - jalan padat mengulari isi kepala 

jembatan gantung dan tinggi gedung mendesaukan 

arah pintas dan lengkap. tempat penyesalan bersarang 


semisal di toko bahagia abadi 

kami menjual sekrup, pemotong besi 

obeng dan seloyang besar cita - cita 

leluhur dan anak cucu yang tak sampai - 

sampai. letupan suara kegusaran di ufuk itu 

bersama tajam kilat menjalar ke perbukitan 

remang - remang. 



jauh di sini. dari semampai rindang 

pepohonan sawit dan malam yang linang 

aku mengecup namamu berulang - ulang 

memandang asap yang berlari dan hilang 

di ujung kelokan jalan 



2012. 





Bagaimana?. Bukankah si Tuan Ujung Pena ini termaktub dalam tipe penyair dengan kedalam jiwa yang hangat?. Kurasa beliau salah satu pengelana yang bermata jeli. Membaca puisi beliau selalu mengingatkanku padamu. Juga Sapardi. Si Tuan Ujung Pena ini menuangkan kata-kata dengan cukup sederhana, mengajak kita memasuki sulbi-sulbi terdalam renung dengan tak tergesa dan emosional. Kau tahu, aku tidak pernah tidak suka debu-debu pinggiran. Menghadirkannnya seperti kebiasaan kalian selalu mengguncang kesombongan lintah-lintah beratap emas diatas sana. Seperti kukatakan. Sungguh menakjubkan sekiranya kalian adalah dua jiwa dalam satu tubuh. Entah siapa dirimu maupun dirinya. Lagi-lagi. Itu tak penting. 

Ah! Berbicara soal puisi. Dalam ruang nyata aku punya punya beberapa nama yang cukup berhasil membuatku jatuh hati pada puisi-puisi mereka. Beberapa nama pria yang tak bisa dikata akrab denganku. Tapi bolehlah disebut paling dekat dengan pengenalanku. Alasannya?.(Ngelesnya) Meminjam istilah si Tuan Ujung Pena, waktu kadang suka membuat saya patah hati. Hehe. (Kalau jujurnya) Memang saya tak banyak tahu. Dangkal. Masih sangat dangkal. 

Ada Fitrawan Umar. Ah, di Sulawesi Selatan, siapa pula anak asuhan Lingkar Pena yang tak mengenal beliau. Lebih khusus Makassar. Bapak Ketua FLP SulSel ini kurasa juga seorang yang lembut hati. Memilih jalan perpuisiannya dengan mainstream yang tenang bak mata air. Membaca puisi-puisi beliau tak perlu menyuat kernyit di dahi, karena yang dihadirkannya adalah ketentraman yang selalu melicinkan aliran darah. Padanya, kata-kata Robert Cormier (seorang penulis Amerika) ini menjadi hidup: Kadang-kadang, kata-kata paling sederhana adalah yang terindah dan paling efektif. Tapi beliau ini—sepanjang penelusuranku—lebih sering membuatku tersipu. Ya, coba kau tengoklah salah satu potongan favoritku ini, 
Doaku sederhana 
Semoga doamu dikabulkan. 

Ah ya, Kau setuju denganku ‘kan? 

Muhary Wahyu Nurba. Oh, lagi. Kata kak Fitrawan Umar. Wajib banyak membaca jika ada penulis Makassar yang tak kenal beliau. Ya, sastrawan kita ini mengingatkanku pada Rumi dan Jubran Khalil Jubran. Rumi mungkin seorang pujangga muslim terkesan rumit. Ia hadir menguak tabir kepengecutan manusia. Dan Khalil yang individualis-humanis hadir dengan gesekan nada yang merayu mata-mata melakukan perjalanan ke satu tempat dimana para pecinta berkumpul. Jiwa. Bersamaan dengan itu membebaskan diri dari belenggu eksklusifisme. Diluar kenyataan bahwa Gibran (nama yang lebih dikenal luas) ini seorang pemeluk Kristen Maronit. Ia melihat agama lebih dalam daripada ajaran kaku. Seperti Bang Muhary ini, terlepas dari kejernihan instingnya sebagai muslim, ia juga seorang sastrawan lokal yang bermata blingsat. Melalui karya-karyanya, beliau memberontak kelaziman tatanan masyarakat yang sering disebut berlandas nilai-nilai leluhur. Oh kau tahu kini mengapa bait penutup puisiku diatas berbunyi begitu. 

Muhammad Nursam. Temui ia jika hendak mencari instrumen. Karena kurasa kak Nursam ini adalah pemain bunyi yang andal. 

M. Aan Mansyur. Jangan lagi dinanya soal ini. Satu kesan saja, Profetik!. 

Oh ya, diluar para pujangga-pujangga diatas. Izinkan aku menyapa jeng Ambygu. Hey, berkatmu juga aku mengenalnya. Jika kau masih disana, ingin rasanya kuminta kau menyampaikan; disini aku baru mengenal seorang akhwat. Aida Radar namanya. Oh, kau tahu, aku yakin Jeng Dyn Ambigu itu pasti suka pada kak Aida. Mereka sama-sama pesajak liris yang memesona. 

TJ, Aku sungguh berharap, suatu hari nanti ada panggung yang akan menghimpun kalian dalam satu pertunjukan. Akan ada banyak penonton yang bahkan tak sempat berdecak sepertiku pasti!. 

Ah, kau tahu tidak. Aku kini banyak bermetamorfosa dengan sepenggal nasihat kecilmu ini. Jadilah lidah, bukan mulut!. Dan akhirnya baru kutahu nikmatnya kopi dan es krim. Aku harus mencoba menyantap mereka bergantian saat menyaksikan pertunjukan lakon puisi kalian. Hehe. Apa hubungannya? 

Hmm, kau benar. Menyelami dunia perpuisian memang tak pernah menjemukan. Selama bumi tak lelah mengorbit, saban puisi selalu mungkin terbit. Entah dari timur ke barat. Atau sebaliknya. Terilham juga aku untuk selalu menjadi sahabat seperjuanganmu. Ya, bakda kau berkicau di Februari yang kusam kemarin akanNya. 

Demi jalan pedangku, AKU mungkin ada diantara mereka yang akan terus mengikuti jalan kepenulisan yang pernah ditempuh manusia seperti Rumi, ataupun si Belerang Merah Ibnu A’rabi, bahwa kehadiran mereka di alam ini lebih mula daripada matahari. Mataharilah yang baru di bawah mereka, hingga saat aku bertemu dengan jalan yang bagiku sangat aneh bahwa “Theres nothing new under the sun”, aku tak perlu mencabut pedangku. Sebab cahayaku lebih abadi mula dijadikan dibandingkan sepenggal matahari yang mereka agungkan. 


Baiklah. Ku tahu kau ingin kembali beristirahat siang. Langit Makassar agak panas mencakar. Ku cukupkan dulu kali ini. Dan biar ku tutup dengan penggalan syair si Tuan Ujung Pena yah, 

jika waktu adalah janji 
berjanjilah untuk baik-baik saja 
jika waktu adalah pilihan 
bebaslah kita saling berlari 
ditiap persinggahan. 



Sebuah siang di `Juni 2012 
Salam Pena, Kawan. Hari ini indah, esok juga indah. 
-^_^- 

#Az

Jumat, 01 Juni 2012

disebuah malam, di antara luka-luka




sebenarnya
selalu tersisa bongkah kristal di ujung bola matamu
Jika tawa lelah merepet
ia bergelantung disana
memainkan apiapi
kau kira lagi ada cakaran baru
:sempit sekali!

sebenarnya
aku merumpun tiaptiap redam gelak
saatsaat sendiri cuma satusatunya
:kau kira

sebenarnya
dan sebenarnya
: kau masih menyalanyala

tak ada guna
buka hati melulu
: buka dua pasang matamu!



#Az
_BlitzBTP, Rajab 1433 H_