Rabu, 18 Juli 2012

Kepada Seorang Kawan Yang Terlalu Memaksa Diri Pergi Dariku




            Seseorang pernah menulis kalimat ini, Kenangan akan selalu memperbaharui dirinya. Kau tahu, kurasa memang demikianlah sifat kenangan. Sesekali kecewa, penghianatan, penyesalan sering menjelma hujan yang tiba-tiba jatuh diwajahmu berupa rintik, ataupun jarum yang menusuk. Sesekali rasa suka, bahagia, kemenangan merupa matahari yang terbit di subuh buta dengan degradasi yang memukau, memikat, mendamaikan.
            Kenangan akan selalu memperbaharui dirinya disetiap kesempatan. Apapun itu yang pernah terjalin diantara kita, kenangan akan menyimpannya untuk dibuka lagi dalam rindu, diantara perpisahan, juga gamang yang sering menganga.
            Asal kau tahu, pada akhirnya kita akan selalu berpapasan, bersama, saling berbincang dalam setiap kemunculan ingatan. Maka tetaplah tersenyum, tetaplah haru, tetaplah begitu. Tak perlu ada kata lupa. Karena waktu dan sejarah tak pernah saling melupakan.

_Rafiqah Ulfah Masbah_

Kamis, 12 Juli 2012

Hanya Sebatas Itu



KAU tahu, pada akhirnya kita akan selalu jatuh
dan jatuh lagi pada tanda tanya yang tak habis
tentang rahasia, garis tangan, masa depan

APA itu masih akan berarti KITA?
atau siapa?

KAU tahu Sayang
kenapa ini melukakan?
karena kita tak pernah diikat kata PASTI
dan kita tak diberi hak untuk bergerak
dengan kata MESTI.

Meski INDAH
Sangat indah menyayangimu.
Hanya sebatas itu!

Rabu, 04 Juli 2012

Tentang Seorang Wanita yang Tak Perlu Lagi Kusebutkan Namanya kepada Kalian



Oleh : Azure Azalea


            Di meja ruang makan. Setiap pagi. Ya, Hampir setiap pagi segelas susu tersedia disana. Segelas susu yang tidak mungkin dibuat untuk satu pun dari penghuni rumah ini kecuali seorang perempuan yang bukan siapa-siapa.
            Di pekarangan  rumah. Setiap salam  telah tuntas dijabarkan perempuan itu ke seisi rumah. Ya, hampir setelahnya seorang wanita selalu berdiri disana. Mengantarkan sepeda motor itu keluar perlahan hingga melewati pagar, hingga melaju pergi meninggalkan senyumnya. Ya, menunggui dengan sangat sabar. Dalam keadaan apapun ia.
            Di atas sebuah sajadah. Setiap lima kali per hari. Ya, setidaknya tak kurang dari lima kali sehari. Ada rintik yang selalu menghulu hingga bumi. Ada raung tak bersuara yang tak henti mendekap kuat dua belah tangannya tengadah. Ya, untuk semua. Juga untuk seorang perempuan yang bukan siapa-siapa. Wanita itu sayang tak bosan. Tak pernah.
            Di sebuah pembaringan. Setiap malam. Ya, hampir setiap malam ada gelisah yang menikam kedua bola mata wanita itu. Mencederainya hingga ulu jiwa.
“Ápa lagi yang masih mungkin disediakan esok hari?” Kadang juga berbunyi,
“Masihkah ada satu kursi lagi di masa depan? Di hadapan kesuksesan?”
            Di setiap napas. Ada sengal yang selalu buatku gidik. Nyaris setiap kali, kurasa hembusannya disebalik tengkukku. Hingga ganti bertanya juga,
“Kapan perempuan yang tiada siapa itu tahu. Wanita itu semakin sepuh. Bukan dimakan  usianya. Tapi dilahap derita jiwa tentang hidup yang tak bisa digantikan, tentang waktu yang tak bisa disedekahkan. Tentang jerih payah yang tak bisa diwariskan.”
Perempuan itu sering kupanggil aku.
Dan wanita itu??
Bukankah sudah ku katakan tak perlu lagi ku sebutkan namanya kepada kalian.