Selasa, 30 Oktober 2012

M.E.N.U.N.G.G.U




MENUNGGU adalah salah satu cara terbaik untuk memperumit hidup.[1]

Ah! Saya menyepakatinya dari lubuk hati paling dalam saat pertama kali membaca kalimat ini. Saya mungkin secara nyata mengetahui persis detail rasanya. Menunggu sekian kali membuka banyak tabir kesadaran tentang kata sejenis, “alangkah cepat waktu berjalan”. Dan mendadak saya telah tiba disini. Pada usia ke 19 tahun 9 bulan 11 hari. Sungguh, selama ini saya terlalu sibuk bermimpi. Mimpi tentang kedewasaan, kerapihan berpikir, keanggunan sikap, kesuksesan, kebahagiaan, cinta dan penghargaan. Lalu, pekerjaan bernama terbangun menjadi terlalu berat mengatakannya. Mengapa? Karena pada akhirnya takdir tak bisa dipersalahkan untuk semua tumpukan pekerjaan yang entah bagaimana tetap meminta haknya untuk diselesaikan. Kita lantas mendadak tak berdaya dengan tangan tengadah, menjambak sisi kanan dan kiri rambut untuk sekedar berkata, “Arrgghh!!”

Menunggu mungkin adalah pelarian terbaik bagi sisi kepengecutan. Saya seringkali menunggu untuk membalas sekian belas message di handphone. Memikirkan hal terbaik yang bisa saya katakan. Atau sekedar memberi jeda bagi ketidaksanggupan saya berkata tidak untuk tawaran-tawaran dan tanggung jawab yang diberikan. Saya menunggu memohonkan maaf bagi diri saya demi sebuah pemikiran baik bahwa orang-orang akan demikian mudah melupakan lantas memaafkan kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan. Saya terus saja menunggu untuk mengucapkan salam kepada orang yang saya cintai dan berharap dia lebih dulu berpikir untuk menyapa saya dan menjadikannya sedemikian natural untuk sebuah kegenapan rasa bahwa dia sungguh memikirkan saya, hingga tanpa sadar saya justru membuatnya berpikir bahwa tak ada lagi kepedulian yang tersisa. Menunggu pada akhirnya, menghilangkan banyak simpati dan orang-orang baik dari sisi saya.

Menunggu seperti tampungan kepura-puraan yang manis. Alangkah menjanjikan kata nanti saat dibayangkan dan dikatakan. Demi sebuah tidur pagi yang nyenyak, demi sebuah pekerjaan bernama santai, dengan gadget tempat dunia nampak bgitu kecil ditangan, lalu segelas kopi yang tak bosan diseduh. Hidup sesederhana itu manis sekali. Tapi bukankah waktu tak hanya dihabiskan untuk pekerjaan bernama santai?. Maaf. Mungkin terlalu abstrak. Biar saya sederhanakan dengan kata bermalas-malasan. Menunggu weekend untuk beberapa buah tugas kuliah yang tak masuk logika dikerjakan dalam sehari-dua hari, namun tetap saja saya senang sekali menunggu weekend. Mungkin demi sebuah kepercayaan tentang kekuatan super power dari langit yang entah ke berapa dan pasti turun setiap kali saya membutuhkan. Agak sedikit picik memang. Tapi faktanya saya mungkin membuat anda sedikit tersinggung. Dan saya merasa senang. Bukan menyenangi kebiasaan buruk kita. Tapi saya senang jika anda sempat berpikir bahwa saya memaknai kegiatan bernama menunggu dengan cara salah.

Selarut ini, karena tak lagi mau menunggu, saya hadiahkan tulisan ini. Saya mengetik sedikit cepat untuk memastikan bahwa dua bola mata saya masih stabil dalam mengenali huruf demi huruf.  Dan, Oh ya, Saya juga ingin mengingat satu per satu orang yang saya cintai dan mengiriminya doa. Lalu menyelesaikan tugas yang bisa saya selesaikan sebelum lelap. Tak lupa saya berterima kasih kepada seseorang yang membuat saya sangat lama menunggunya untuk sebuah kesadaran bahwa harusnya saya berhenti melakukannya dengan alasan percuma saat ini juga. Saya ingin tersenyum pada malam yang sangat baik memberi saya ketenangan kali ini. Saya ingin menghidupinya dengan secarik syukur, bahwa tak perlu menunggu esok untuk tetap bahagia. Untuk selalu merasa dipenuhi berkah. Kepada Ia, yang tak pernah bosan dengan maaf-Nya.

Sebelum saya bergeser dari pandangan anda, saya ingin menitip dukungan untuk sebuah visi sederhana yang baru saja saya buat, “Saya akan berhenti menunggui cinta, akan saya datangi.”
Wassalam.. Gnight ^_~


Ket:






 

Jumat, 12 Oktober 2012

Memang



Memang benar
kau tak memberiku janji
untuk bisa dikata telah mengudarakanku tinggi ke alam
bernama masa depan bertitel bahagia.
Tak pernah.
Memang!

Tapi tidakkah kau pahami
cara kerja dari rasa?
Ia bisa mengambil tanganmu 
bahkan sebelum kau menawarkannya untuk dijabat.
Lantas, menurutmu setelah kau bahkan menyodorkannya
dihadapan dua pasang mataku yang baru melewatkan
sembab setelah luka yang terlalu banyak ditangiskan,
itu tidak nampak seperti tawaran hidup yang lebih baik?

Bukan janji.
Memang.


Tapi setiap daftar sapaan,
tiap rentetan kata yang merupa di layar ponselku hari-hari.
Lalu setiap hitungan kata sayang yang pernah termuntah.
Kau membuat banyak harap menari terlalu lincah di benak,
membuat sangkaan tak bertempat.
Sudah terlalu banyak lukisan rupa-rupa yang tak cukup 
bermodalkan penghapus karet ukuran satu kali tiga
untuk begitu saja memusnahkannya
untuk begitu gampang kau telantarkan.

Kau tak pernah memberiku janji. Memang!
Tapi kau melukiskanku terlalu banyak harapan!
Meski aku bertaruh penuh,
kau amat mahfum ;
di kanvas bernama rasa,
setiap tinta yang menempel menjadi permanen!



__@MIB -03.54 (Iseng sambil nunggu interview calon Staff)__