Senin, 23 Desember 2013

Pernah


            Apa yang membuatku tak akan ada habis terima kasih kepada Allah adalah untuk diizinkannya aku sampai di barisan ini. Pernah datang masa ketika dunia benar-benar memaksa aku berpikir sudah dibuang dari kehidupan, bahwa aku sungguh-sungguh sudah terusir sampai ambang pintu ketakbergunaan. Aku pernah sudah sangat percaya itu semua.
            Aku pernah meninggalkan barisan ini jauh sekali. Sangat jauh sampai seolah-olah aku tak lagi bisa menjangkau mereka dan mereka pula tak bisa lagi menjangkau aku. Aku pernah ditinggalkan oleh banyak sekali simpati bahkan oleh mereka yang paling setia menyediakanku lengan lapangnya setiap hari. Aku seperti kehabisan suara untuk memanggil mereka kembali saat mereka seperti tak mendengarkan apa-apa kecuali suara jijik.
            Hidup pernah berjalan begitu lurus. Ada sedikit riak, selebihnya tenang saja. Tapi bukankah laut juga berdiri tak hanya bersama dirinya sendiri? Sewaktu-waktu lempengan bisa berbenturan lalu ombak segulung gunung menampar keras wajahmu yang amat rapi tertata. Aku pernah kehilangan bentuk mukaku di depan semua orang. Lantas tamparan itu tak lebih tragis dari tragedi ingatan manusia. Seakan-akan meskipun memilih mati bunuh diri saat itu, kepala orang-orang memaksamu bernapas terus di dalam kuburmu. Hidup dan mati bagi orang-orang tak termaafkan artinya tak akan jauh berbeda.
            Sekali lagi apa yang membuatku tak akan ada habis terima kasih kepada Allah adalah untuk diizinkan-Nya aku sampai di barisan ini. Suatu hari aku datang dengan muka penuh gembok menggantung, pula dengan rasa malu yang sudah rapat-rapat kukurung. Mereka melebarkan lingkarannya untukku duduk, mengulurkan tangan dan senyumnya sebagai kunci. Mereka membuka gembok-gembok tersebut dan merapikan wajahku dengan begitu lembutnya. Kautahu apa yang dikatakan mereka?
            Maaf, maaf langkah kami tak cukup panjang untuk menjemputmu. Lama sekali kami menunggumu berbalik supaya kita bisa kembali bertemu lutut. Lama sekali kami menantimu pulang, Ukh.
            Maka aku pernah, juga pernah benar-benar mengicip langsung seperti apa rasa kepergian dan kepulangan. Aku pernah, pernah sangat tahu rasanya tertipu kemudian terlunta kehilangan rumah. Aku pula pernah, pernah sangat-sangat mengerti bagaimana muka sejatinya seorang saudara yang lebih sering kubaca dan dengarkan dari kitab, buku, dan petuah para ustad.
            Sesungguhnya persaudaraan di atas tali keimanan jauh lebih kokoh dari tautan darah.
            Hari-hari ini, tak bertakar indahnya rasa kembali. Kembali bergandeng dan berangkulan, berhadap-hadapan dengan senyum yang lebih luwes. Hari-hari ini, tak berulam bahagianya mengembus napas dengan wajah yang telah terangkat. Menatap bintang-bintang dan tak cuma merasakan gelap. Lantas menemukan bahwa sebanyak apa juga bintang yang sudah jatuh, masih ada miliaran lain yang kokoh menggantung. Aku lega, meskipun tahu, apa yang sudah dimaafkan tak serta merta dilupakan.
            Di barisan ini, aku mengerti, memilih berjalan sendiri, memilih merasa sendiri hanyalah bentuk kesombongan yang bersumbunyi. Saat aku sempurna berpikir akan mati kedinginan di jalan, lagi-lagi mereka sampai menjelma payung dan jaket hangat.
            Aku jadi suka kepada orang yang pertama mengatakan ini ; selagi napas manusia belum menyerah, sama sekali tidak pernah terlambat untuk berkata belum terlambat.
            Aih, aku curhat lagi sepertinya. Sebenarnya, sesuatu yang tak terjelaskan mendadak bergolak saja di dadaku. Seorang sahabat menge-tag gambar di bawah ini di facebook. Setelah semua yang pernah terjadi, lewat gambar tersebut aku jadi mafhum mengapa ukhuwah bisa punya kedudukan sebegitu agungnya. Jadi mafhum betapa barisan ini berharga.


            Kapan, kapan terakhir kali aku mengucap bahkan sekadar menuliskan ini;
Uhibbuki. Uhibbuki. Uhibbukifillah, yaa Ukhty.
            Memang sudah lama. Sudah lama sekali. Makanya aku menangis. Makanya menuliskan ini.

Allah kita memang Maharahman, ya?

Minggu, 22 Desember 2013

m a m a



 masih juga padamu aku selalu bersandar, ma. di usia yang sebegini belum juga nyaman pundakku untukmu merebahkan beban. orang-orang lagi banyak berbicara tentang ibu mereka. aku lagi sibuk menimbang-nimbang garis muka mama.


Sabtu, 21 Desember 2013

Tuhan Tak Menunggu Selamanya



ia selalu sibuk membilang lukanya dengan jutaan air mata.
terus menangis sembari berpikir mustahil selamat.

ia melipat hari-hari ke dalam koper pakaian.
jika pipinya terlalu basah, ia ambil sehelai-sehelai untuk dipakai mengelap.
lepas habis seratnya terisi, akan ia keringkan di jemuran.

namun hari-hari menguap ke udara, tidak pernah kering.
ia lipat lagi hari-hari yang baru
tak habis jera menunggui koper penuh.
"nanti baru menyusur jalan nadi untuk pulang ke entah."
katanya begitu

berulang terus.

hari-hari terlipat, lalu basah, lalu menguap.
dan tanpa ia hitung di bilangan air mata ke berapa, koper penuh ditimpuk hari.
ia tercenung lantas mengeluarkannya lagi sehelai-sehelai.
ia baru ingat, banyak hari terlipat sudah tanpa air mata.

hujan lalu jatuh jadi bandang. helai-helai hari hanyut terbawa.
aduhai sadar memang terlalu jauh, 
sering nasib juga terlambat jatuh.




.2013, Makassar

(Terbit di kolom Poem Soulmaks Magazine, edisi Agustus, 2014)

Untuk Surya Sunarya, Sepupu—Seenam Tahun Serumah—ku, Selamat Ulang Tahun!



Tulisan ini tentu tak akan kautemukan jika aku yang membagikan, sebab memang aku tak akan pernah ada muka menyodorkannya sendiri untuk kaubaca. Kau pasti mengerti, meski mungkin tak akan pernah habis pikir. Dan itulah yang mau kuceritakan di sini.
Orang-orang tak berkepentingan barangkali ada bertanya, mengapa harus kutulis yang beginian di sini, bingkai kecil yang siapa saja bisa mampir. Itu sudah kupirkan baik-baik, Kak. Karena bila aku mati sekarang, besok, atau lusa, dan cerita ini tak pernah mungkin lagi sampai padamu, di kuburku kau akan menjadi satu alasan aku meratap-ratap hingga malaikat kerepotan bertanya.
Maka, mari duduk kembali! Kita putar ulang waktu di ingatan kita (atau mungkin hanya aku) yang makin melarat. Rasanya memang terlalu banyak momen pun kejadian yang berlewatan hanya seperti debu tertiup angin di depan mata. Iya, di depan matamu, di depan mataku, tapi bukan mata kita satu sama lainnya. Dan entah berapa kata maaf kubutuhkan untuk mengganjar itu semua, Kak.
{}
Kautiba di rumah dengan tampang polos suatu hari. Rasa-rasanya terlalu khas mahasiswa baru. Aku masih ingat betul, aku baru tamat SMP pada liburan saat itu. Kulihat kau awal kali magrib ketika aku dan ibu baru saja pulang dari Malino. Kaumembantu membawakan tas dan beberapa barang bawaan kami keluar dari mobil. Kau masih sungkan, aku pula, pun kami semua.
Hari-hari berlalu, malah terus membeku. Agaknya sebab tak ada dari kita yang lihai benar memulakan percakapan-percakapan hangat. Kau cenderung jadi anak yang manut, terkesan lurus, pendiam. Aku sebaliknya. Kelakuan aku bersaudara pastilah sudah sukses membuat kau geleng kepala sejak semula. Membikin aku tambah sungkan. Tidak enak-an buncah makin berlebihan saja. Mafhumlah, anak gadis yang baru pubertas memang selalu melangit rasa malunya jika ada cacat diri barang secuil saja. Apalagi depan lawan jenis. Bagaimana juga, kau masih sepupu satu kali dari mamaku, bagiku pula masih sosok baru.
Hanya saja bukan itu. Bukan itu yang membuat kita berakhir hanya dengan tegur sapa seperlunya, hanya tersenyum yang itupun lebih banyak ditahan-tahan, meminta tolong apalagi, perlu durasi mempersiapkan diri lebih banyak dari persiapan presentasi ujian kululusan. Bukan itu, yang mengakhirkan kita sebagai saudara sepupu bersebelahan kamar namun tampak bak ancaman antara satu dan yang lain. Menyedikitkan bicara, menghindari papasan, menjauh-jauhkan jarak duduk, mengulur-ulur kepulangan. Bukan itu. Bukan itu muasal kita hidup bertahun-tahun sungguh mirip musuh yang dibuat mendekam dalam jeruji. Kebetulan saja kita terlanjur menyebutnya rumah. Bukan, alangkah bukan itu penyebab semua jadi begini tak adil bagi persaudaraan kita, Kak.
Kaumau tahu yang sebenarnya? Akan kuulang mulai cerita ini dengan kembali ke masa lebih awal lagi. Sebelum kaudatang kemari...
{}
Ketika kecil, aku suka menempel dengan semua sepupu, keluarga laki-laki (termasuk orang-orang dekat yang sudah dianggap keluarga sendiri), sehingga mudah bagiku untuk dekat dengan mereka. Anak kecil yang dari lahirnya tidak lepas dari gendongan dan ayunan, habis oleh umur dibuat tak pantas lagi, hijrah dari satu pangkuan ke pangkuan yang satu. Fiqah kecil adalah Fiqah dengan hobi minta dipangku sana-sini. Manja sekali. Aku pula tidak dekat dengan Bapak sehingga orientasi laki-laki baik (berbekal definisi baik sama dengan tidak galak) harus kucari di luar dirinya. Naluriah saja barangkali. Nahasnya, bapak bahkan meninggal dunia di usiaku yang belum juga sampai sepuluh. Dampaknya belakang hari ternyata ketahuan agak besar pada hidup anak sulung perempuan ini.
Oke, sederhananya, kau bakal menemukanku seperti anak kecil yang bandel namun hangat sekali di sekeliling keluarga besar kita. Sampai aku duduk di bangku SMP kelas dua pun, mama harus secara serius memperingatkan aku agar tidak main asal duduk di pangkuan laki-laki. Aku mengingat-ingatnya sambil lalu sebelum kejadian kusam siang itu.
Aku sungguhan tidak tahu benarkah mama tak memikirkannya sedikit saja saat beberapa kali menitipkan aku dan adik-adik di bawah penjagaan seorang pria dewasa lajang di rumah. Mama memang beberapa kali harus pulang ke Mare mengurus Puang yang kian sakit-sakitan atau menjenguk beberapa kenangan yang mungkinlah membikin rindu, namun bukankah saat itu aku sudah menjadi seorang gadis? Meskipun pria itu masih tergolong pamanku, tapi tetap saja silsilah ia di keluarga cukup jauh untuk tidak ditimbang sebagai ancaman. Aku tahu argumenku berlebihan, tapi kan berita-berita di TV sudah banyak yang bikin kita bergidik ngeri. Toh aku juga mengatakannya setelah kejadian ini terjadi.
Pamanku itu tipikal orang yang seru diajak main. Menyenangkan dan penuh dengan kegaiban. Begitu menurutku. Ia menguasai banyak permainan, mahir soal sulap-sulapan, punya koleksi cerita aneka rupa; humor, tragedi, dongeng, banyak! Dia asli jago bikin gambar pemandangan, juga enak diusili, meskipun reseknya juga tidak kalah. Makanya tak heran kami jadi akrab sekali dengannya. Yang pasti, sampai detik ini pun aku tidak sangsi ia sungguhan orang baik, ini semua sepenuhnya soal keadaan. Hanya keadaan.
Aku sedang tiduran di kamar ketika itu, gadis pemalas yang hobi asal perintah ini tiba-tiba saja merasa lapar dan kuteriakilah ia. Ia datang dengan tampang bosan lantas bertanya ada apa. Aku dengan tak berbudinya, cuek saja merengek minta dibuatkan mi. Gontai ia mendudukkan diri dengan malas di tempat tidurku, dan dari belakang langsung memelukku? Iya! Aku merasa dipeluk oleh paman sendiri saat kecil sebagai hal yang biasa saja. Tapi, demi Tuhan, tidak yang ini. Sebenarnya aku tidak akan merasa terganggu kecuali karena aku dibuatnya mendengar embusan napas panjang sekali di telingaku. Hal itu terjadi beberapa detik saja. Aku tercekat dan terbakar takut yang ganas. Lidahku kelu beberapa jenak. Mataku barangkali urung kedip saking kagetnya. Untunglah aku selamat oleh bakat basa-basi yang kukira secara tak langsung terlatih sejak kecil. Kutengarai suasana secepat mungkin. Kusorong santai badannya dengan mengambil tema lapar sebagai guyonan. Aku meronta dan melepaskan diri. Ia mendekapku lagi. Kali ini sambil melirih, “Sebentar dulu. Sebentar saja yah.” Oh demi apa saja, kau tidak akan bisa menakar betapa terguncangnya kejiwaanku di detik-detik tersebut. Aku mencoba menguasai kewarasan dengan sisa-sisa tenaga. Lagi. Kusorong paksa dirinya dan dengan cepat aku mengubah posisi berbaring ke duduk. Ia masih terlihat malas ketika berentetan aku mengejarnya dengan rengekan menyebalkan,
“Aduh, saya lapar. Lapar sekali. Sana deh bikin mi cepat, kalau tidak, saya lapor ke mama. Hu! Sana! Sana cepat, Om! Cepat lah!” cecarku cepat sekali.
Ia berdiri gontai menuju dapur. Tidak berbalik lagi. Aku bersyukur, namun cuma bisa duduk terpekur, terkunci oleh detakan jantung. Cuma malaikat saja yang pasti tak alpa menghitungnya. Bahkan tiada dayaku untuk beranjak sekadar menutup pintu rapat-rapat, mengantisipasi berbagai kemungkinan sama. Jejeran peristawa itu terlampau cepat buat otakku cerna satu per satu. Seluruhnya bahkan tak cukup semenit, kukira. Tapi kau mesti paham seberat apa kejadian tak cukup semenit itu harus kupikul kemana-mana sebagai beban trauma bahkan bertahun setelahnya, Kak. Sampai sekarang.
Sekali lagi, bukan ingin kukatakan pamanku itu bejat. Ia benar-benar masih tercatat sebagai paman yang baik di benakku. Aku tahu persis ia tak berniat untuk melakukan yang tidak-tidak pada kemenakannya. Ia bahkan punya kekasih yang ketika itu tak lama lagi akan ia nikahi. Aku pernah diajaknya serta saat mereka berkencan. Ia hanya bujang yang lagi kesepian saja. Toh usianya sudah kelewat matang untuk berumah tangga. Lagi-lagi ini hanya soal keadaan. Ada yang khilaf. Entahkah mama, entahkah paman, entahkah aku. Bahkan setelah kupikir-pikir, masing-masing dari kami bersalah. Jadi aku tidak menyalahkannya, tapi aku juga tak bisa mengelakkan guncangan besar di batin dan ingatanku oleh karena kejadian tersebut. Itu saja. Tak lebih.
Aku tidak menceritakan ihwal ini pada mama, pada siapapun kecuali sahabat-sahabat dekatku saja. Itupun kurancang saja sebagai guyonan sambil lalu. Tapi hari ini kupilih untuk menuliskannya jadi catatan panjang yang mungkin akan lelah kaubaca, yang akhirnya bisa dibaca siapa saja. Tak apalah. Mana tahu membuat dadaku bisa begini lapang kurasa. Yah, pula katakan saja ini kado ulangtahun dariku.
Enam tahun lebih hidup seatap, satu kali pun aku tak pernah mengucapimu selamat, kan? Lebih-lebih untuk memberi kado. Muskil jadinya. Ini saja hal terbaik yang bisa kubingkiskan buatmu, Kak. Sekotak kecil berisi rahasia yang sudah membesar jadi tragedi buat persaudaraan kita. Yang membuat kita kehilangan kesempatan untuk duduk berjajar di depan televisi, berbagi biskuit dan tawa-tawa lepas, yang membuat kita tak pernah tercerita saling bertukar ejekan kalau-kalau dari kamar mandi kita yang hanya terpisah tembok dan lubang ventilasi ukuran 30x100cm itu tercium aroma sengit akibat kita habis bersantap lahap olahan pete, atau yang membuat kita gagal saling menitip tolong untuk berjuta-juta kepentingan yang entah berapa banyak, untuk kehangatan itu, untuk itu semua.
Sungguh aku harus menangis demi menguras semua ingatan betapalah enam tahun usia kita lewat begitu saja tanpa seluruh yang tadi di dalamnya. Kau salah jika mengira aku tak terluka, Kak. Luka sekali. Luka sekali hatiku. Kau harus tahu bagaimana terkejutnya aku saat sudah masuk bangku kuliah. Hitungannya, kau sudah tiga tahun menetap di rumah. Lalu Ganis, tentangga kita, yang menjadi juniormu di kampus menerangkan panjang lebar betapa ternyata kau sangat cerewet dan suka mencela. Itu cuma bermakna satu hal; kau masih asing terhadap rumah ini, kami masih orang asing buatmu. Aku mengurung diri di kamar seharian setelah Ganis menceritakannya. Sambil menangis. Juga mengingat adik-adikku yang tanpa alasan malah ikut-ikutan membiarkanmu sebagai orang asing. Mama juga pernah menangis di depan kami semua demi supaya memperlakukanmu dengan baik. Kata mama, bapakmu yang membiayai sekolah mama saat zaman-zaman susah dulu, yang mengurusnya, yang membuat mama bisa sejauh sekarang. Kami tidak boleh berbuat begitu padamu, karena bahkan mama tak akan bisa membalasnya dengan dirinya sendiri. Apalagi kata mama, di BTP kau juga ada rumah sepupu yang lain, yang bisa saja kaupilih tinggali jika kau tak tahan lagi tinggal seatap bersama kami, namun nyatanya kautetap ada di sini. Bertahan di rumah kami, yang aku tahu tak pernah terasa seperti rumah tempat kau layak untuk pulang.
Maka bilakah ini sekotak kado, di atasnya kusimpul permaafan besar-besar sebagai pita. Aku harap setelah kaulepaskan juntai pitanya sedikit-sedikit, lapang juga hatimu untuk memaafkanku, Kak. Benar-benar memaafkan dosaku padamu. Dosaku yang entah bagaimana lagi caranya buat kutebus.
Terakhir. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kak Surya! Kumohon tinggalkan satu saja kenangan baik tentang kita di ingatanmu. Satu kenangan saja, Kak. Sudah akan cukup bahagiaku.
Tolong maafkanlah adikmu...
{}


Makassar, 20 Desember 2013

Minggu, 15 Desember 2013

#Dialog1 Dungu

 
 

“Apa-apaan ini. Kau masih mengingat-ingat dia?”
“Tidak, aku cuma teringat.”
“Bagaimana dengan kata-katamu yang soal setia? Yang itu masih kauingat?
“Tentu saja.”
“Katamu setia memang pekerjaan yang baik, tapi juga harus benar. Katamu setia pada orang tidak setia itu kebodohan, bukan?”
“Iya, benar.”
“Lalu kenapa? Apa kau mau mengatakan kau bodoh?”
“Tidak. Aku merasa tidak melakukan kesalahan.”
“Kau masih setia padanya.”
“Apa masalahnya?”
“Dia sudah tidak setia, Re!”
“Dia setia. Setelah kupikirkan lagi ia bahkan lebih setia dari yang kuduga.”
Hah, kau bercanda!”
“Ia mencintai perempuan itu jauh sebelum ia berpikir akan mengenalku. Tiba-tiba saja aku datang di hidupnya, dan ia kira ia jatuh cinta dengan perempuan berkerudung biru yang duduk paling depan saat peluncuran bukunya hari itu. Kami terus bersama meski sadar ada yang ganjil di sana. Tapi itu hanya sampai ia menyadari masih perempuan itu yang dicintainya. Apa kau tidak merasa ukuran setampang ia bisa jadi begitu setia?”
“Apapun itu. Yang penting dia mengkhianatimu.”
“Bukan. Ia habis mengkhianati hatinya sendiri.”
Agh, demi Tuhan. Lalu untuk apa dia masih kau cintai?”
“Demi Tuhan, apa kau berpikir cinta itu seperti kertas yang habis lecek tinggal dibuang ke tong sampah?”
“Ayolah, Re! Sudahlah.”
“Menyudahi apa?”
“Perasaanmu.”
“Sama saja seperti kita, perasaan punya jatah usianya sendiri-sendiri. Manusia bukan Tuhan yang bisa mengatur ajal cuma dengan berkata; Kun!”
“Apa rencanamu?”
“Aku mau ke CafĂ©, memesan kopi, dan membuat perayaan kecil.”
Cih! Kau memang sudah gila.”
Hei, kau mesti baik-baik pada perasaanmu. Kalau ia murka, kau sendiri yang susah.”
“Ya sudah, aku ikut. Aku merasa butuh secangkir kopi supaya bisa lebih waras berbicara denganmu.”
“Hahaha. Apa kau sudah mulai gila juga?”
“Iya!! Kalau aku tidak mencintaimu, kau pasti sudah kubunuh. Dasar bodoh!”
“Aku juga. Pasti ia sudah kubunuh kalau aku tidak gila, kan?”
Ish!
"Kau cantik kalau lagi marah lho."
“Gila!”
“Cantik!”
“Bodoh!”
“Hahaha. Ayo pergi.”

Makassar, 15 Desember 2013