Minggu, 24 Maret 2013

Untuk Suamiku (Kelak)


Aku hanya ingin berbincang dengan sederhana.

Apakah kau pernah memikirkanku seperti aku kini?
Memikirkan apakah kita saling memikirkan.
Meski kita tahu, sama-sama tak saling tahu.

Apakah kau memikirkanku seperti aku kini?
Aku memikirkan kabarmu, perasaanmu, imanmu.
Kita (kelak) sudah pasti bersama
Tapi sudah seberapa pantas dipersatukan?

Apakah kau memikirkanku seperti aku kini?
Memikirkan kecemasanmu tentang jodoh yang tak pasti
Lebih dari itu, memikirkan apakah kau tak sedang bersama perempuan lain
Memadu kasih, berbagi puisi dan tak memikirkanku sama sekali.

Ah. Aku akan berhenti bertanya. Karena
di pusiini jawabanmu tak mungkin turut serta
Hanya agar kau tahu,
memikirkanmu bermesra dengan yang bukan aku
sungguh (amat) membakar cemburu.

.2012, Feb

Rabu, 20 Maret 2013

Saya, Gadget, Jejaring Sosial, Teknologi, dan Interaksi (Beberapa Hal yang Dirampas Perkembangan)


Rafiqah Ulfah Masbah

Autis!” Bukan untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Pernyataan ini mendadak familiar sekali digunakan untuk menyinggung atau sekedar menegur teman-teman yang seolah lupa segalanya jika sudah berhadapan dengan gadget mereka. Kemutakhiran teknologi memprakarsai kemudahan dalam berinteraksi—meski sebuah tuntutan zaman, tidak bisa dipungkiri—memang sudah menjadi hal pasti akan memunculkan dilema tersendiri.
Orang-orang mengistilahkannya; dunia dalam genggaman. Menarik sekali pada sebuah diskusi kelas yang cukup memanas, kepada seorang kawan yang sibuk sekali mendebat kali itu saya spontan menjawab datar, “Hal apa lagi yang tidak bisa kita ketahui hanya dengan memiliki smartphone kecuali kapan kita mati!?” sontak dosen saya terbahak. Seisi kelas terdiam, lalu ikut meledak sekian detik setelahnya. Saya tercengang, menatap seisi ruangan satu per satu, tak tahu berarti apa. Entah apa mereka sepakat, yang pasti saya puas teman saya tadi terlanjur rileks dalam tawanya dan lupa untuk kembali bertanya. Perkembangan teknologi yang semakin canggih patut sekali kita apresiasi. Hanya saja, kemajuan-kemajuan yang terjadi ini jika tidak disertai dengan perkembangan kebijaksanaan dalam pemanfaatannya, jangan-jangan justru bukan menjadi manfaat, tapi penjerumusan.
Perkembangan ada bukan untuk kita perangi, tapi untuk bersinergi dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Tanpa harus selalu duduk di bangku-bangku sekolah misalnya, kita sudah bisa mengakses pelajaran-pelajaran atau melengkapi wawasan kita tentang berbagai hal. Dalam mengembangkan bisnis, jasa online marketing sangat mempermudah para pengusaha dalam mempercepat perkembangan bisnis mereka. Begitupun dalam membangun relasi, berbagai jejaring sosial sangat berandil dalam membangun citra diri, berbagi informasi dan promosi. Pada beberapa waktu, keadaan, dan kalangan hal ini bahkan telah beralih menjadi kebutuhan primer.
Hal-hal positif tidak mungkin berdiri sendiri. Perkembangan juga menyertakan pengaruh-pengaruh buruk. Internet, lebih khusus jejaring sosial akan mendatangkan sangat banyak manfaat jika digunakan secara bijaksana, masalahnya adalah jika bukan lagi sekedar kebutuhan tersier, sekunder, atau primer, melainkan sudah menjadi candu. Orang-orang menjadi begitu sibuk dalam dunia maya, membangun citra diri mereka, lalu lupa melakukan hal tersebut di kehidupan nyata. Orang-orang menjadi begitu sibuk berhubungan dengan kawan-kawan mereka yang tidak begitu jelas identitasnya , kemudian tidak lagi ingat menjaga hubungan emosional yang baik dengan orang-orang di sekitarnya.
Saya tidak tahu apakah ini sebuah bentuk teguran. Yang pasti saya memang sempat tertegur. Beberapa kawan mengirimi saya short message—ada yang sekedar basa-basi menanyakan kabar, ada yang berpikir saya sakit, ada yang singkat saja menulis; tumben gak update—saat beberapa hari saya tak menampakkan batang huruf di jejaring sosial. Menegaskan kepada diri saya sendiri betapa kehidupan saya disana sedemikian intensnya. Saya lantas sadar ketika itu disaat bersamaan saya sudah sangat sering hilang  dalam panggung-panggung sosial. Fakta yang lebih pahit, barangkali hal tersebut belum sama sekali berubah.
Di lain sisi, bagaimana perasaan anda saat berbincang dengan seseorang yang tidak menatap anda sama sekali, sibuk mengotak-atik telepon genggamnya, kecuali sesekali mengiyakan apa yang anda katakan. Lantas saat anda bertanya tentang pendapatnya, orang tersebut justru meminta anda mengulangi cerita anda panjang lebar. Atau tentang kencan-kencan anda yang gagal karena anda tak merasa lebih berharga dari membalasBBM. Atau mungkin juga semisal keluarga, sahabat, yang kehabisan kehangatan karena merasa pertemuan-pertemuan tidak lagi sepenting menyelesaikannya dengan ujung jempol kita. Untuk kasus ini teman saya pernah menyeletuk, “Jangan-jangan suatu hari nanti manusia tidak sadar kalau dia sudah bisu dan tuli. Masih lebih mending kalau lupa mandi.”
Banyak hal yang terampas. Keberadaan teknologi bukan untuk menggantikan hal-hal manusiawi. Bagaimana pun teknologi membuat kita tetap bisa bertatap muka dalam layar kaca, kita tetap butuh bersenggama dengan keluarga, tetap penting untuk menjaga hubungan emosional dengan kawan-kawan kita. Sekali pun rapat-rapat kini bisa dilakukan secara online, itu hanya alternatif, bukan untuk dibiasakan sebagai pembenaran. Bertemu tetap jauh lebih efektif. Jangan sampai perkembangan justru merampas hal-hal alamiah kita. Sekali lagi, perkembangan-perkembangan ada tidak lain hanya untuk menunjang, melengkapi, bukan mengganti. Untuk lebih mempertegas keberadaan kita, bukan justru merampas kita dari dunia sosial yang nyata.
http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/03/20/3/544243/saya-gadget-jejaring-sosial-teknologi-dan-interaksi-beberapa-hal-yang-dirampas-perkembangan.html

Rabu, 13 Maret 2013

Aku, Kau


Kita semua memilih

Aku memilihmu, Kau tak memilihku

Tapi ada yang memilihku, mereka tinggal kupilih.

Sederhanakan saja.


.2012 Feb

Rabu, 06 Maret 2013

yang tanpa dan dengan




aku hanya tak tahu menyederhanakan cinta kita
sehingga ia menjadi cukup bagi dirinya saja
sehingga cukup dengan tanpa tanpa dan selain
dengan meski dan mesti.

aku hanya tak tahu dimanakah merumah sebuah mengerti
sehingga ia menjadi cukup bagi diam yang terus mengganjil
sehingga cukup untuk tanpa yang lupa
dengan dewasa yang terus kanak.

aku hanya tak tahu perihal puisi berlengankan hilang
sehingga ia menjadi cukup bagi dengan yang tanpa dengan.
sehingga cukup untuk klise menubuhkan mati
dengan bait yang kehilangan baris

aku hanya tak tahu arti sebuah lengkap
maka, kemari dan menggenaplah!
jangan mati duluan!


.2013, Mar

Minggu, 03 Maret 2013

Tidak Perlu Bertanya dan Menjawab Apa-Apa



Di hati kita, musim juga ternyata  tak lagi mau diikat waktu. Persis, persis sama seperti musim kota kita. Kata orang, bumi kita sudah tua, sebagian lagi mengatakan sudah terlalu banyak kerusakan yang diciptakan tangan manusia. Berapa usiamu sekarang? Usiaku dua puluh tahun lebih empat puluh enam hari. Apa hati kita memang sudah demikian  tua? Atau barangkali ini tersebab tangan manusia?

Mengapa hati kita ikut koyak? Tak peka, mudah terluka, diawani duka? Sebentar, ada yang pernah mengatakan kepadaku bila cinta itu tak mungkin menyakiti. Jika sakit--katanya--bukan cinta namanya. Lantas bagaimana ini? Ini bukan musim penghujan, hanya hujan sedang senang-senangnya turun. Belakangan ini banyak sekali badai, bukan? Bagaimana nasib cinta kita? Di hatiku ia sedikit gigil, bagaimana kabar ia di hatimu?

Aku ini naif sekali. Aku punya akun facebook, punya twitter, aku bisa saja menanyaimu di situ, bukankah kau rutin membukanya setiap hari? Ah, meski begitu kedua dunia itu selalu menyisakan keganjilan, entah apa. Aku punya telepon genggam, sebenarnya bisa saja kubuka daftar nama di sana lantas menghubungimu, menanyaimu secara langsung. Tapi tak lengkap rasanya mendengar jawabanmu tanpa memahami matamu. Jangan-jangan kau hanya berusaha terdengar baik-baik saja saat berkata baik-baik saja. Aku bisa saja mendatangimu, atau memintamu datang ke tempatku. Namun meski kita bertemu. Meski kau dengan seluruh kesabaranmu yang kau pelihara baik sekali di hadapanku itu dan berkata tenang,"Intinya saya mencintaimu dan kau bahagia bersamaku." kadang aku merasa tak cukup, maaf. Kalimat itu lebih berbunyi seperti, "Cintaku tidak membahagiakan."

Hati kita barangkali memang sudah tua. Terlalu banyak menampung kerinduan. Lama tak terpelihara. Ataukah mungkin aku salah menggunakan kata ganti kita? Atau jangan-jangan ini hanya perasaanku? Ataukah hatiku saja yang terlalu purba? Jika benar begitu, aku--artinya--sedang menjahatimu. Jika benar begitu, jangan-jangan air yang kau rasa di dadamu itu berkat hujan yang badai di hatiku. Percaya diri sekali aku mengatakannya. Ah! di luar hujan agak deras. Semoga kau melihatnya dan tahu aku pun melihatnya. Hatiku selalu ribut. Sekarang sibuk bertanya-tanya. Apa ini cinta? Apa benar hati kita sudah bersepakat? Lebih dari itu, bahagiakah? bahagiakah kita? aku? kamu?

Ah! apa yang sedang kutuliskan ini? Jika kau membaca tulisan ini, aku sungguh tak tahu kenapa harus menulis ini, tak tahu mengapa menulis begini. Jangan-jangan hanya karena kau selalu menagih tulisan-tulisanku. Kutuliskan apa saja. Bacalah saja semua (jika kausuka). Aku tak pernah berbohong dengan apa yang kutuliskan. Yah, anggaplah untuk sedikit membantumu mengerti dengan setiap apa yang kurasakan. Aku masih di sini, di samping telepon genggamku, merindukan short message yang selalu bertuliskan, "Syg" ditemani cangkir kopi yang sejak tadi sudah kulucuti habis, masih bernapas, meski tak baik-baik saja. Jangan bertanya. Musim lagi tak mau diikat waktu, semua akan segera kembali seperti dahulu.

Kita harus tetap bahagia, bukan begitu?

Sabtu, 02 Maret 2013

The Dash by Linda Ellis

Saya membaca puisi ini pada semester awal perkuliahan. Saya menyukainya. Hari ini, dengan tak sengaja membacanya lagi, dan masih tersentuh. Saya berharap dapat mengucapkan ini pada Linda Ellis, "Terimakasih sudah menuliskannya." Kubagikan pada kalian ...


The Dash

I read of a man who stood to speak at the funeral of a friend.
He referred to the dates on her tombstone from the beginning to the end.

He noted that first came the date of her birth and spoke of the following date with tears,
But he said what mattered most of all was the Dash between those years.

For that Dash represents all the time that she spent alive on Earth,
And now only those who loved her know what that little line is worth.

For it matters not, how much we own, the cars, the house, the cash,
What matter is how we live and love and how we spend our Dash.

So think about this long and hard; Are there things you’d like to change?
For you never know how much time is left that can still be rearranged.

If we could just slow down enough to consider what’s true and real
And always try to understand the way other people feel.

And be less quick to anger and show appreciation more
And love the people in our lives like we’ve never loved before.

If we treat each other with respect and more often wear a smile,
Remembering that this special dash might only last a little while.
So when your eulogy is being read with your life’s actions to rehash
Would you be proud of the things they say about how you spent your Dash?





Translate bebasku [^_^]

Masa Hidup

Saya memperhatikan seorang laki-laki berdiri (memberikan kesaksisan) pada sebuah upacara pemakaman seorang teman perempuan
Laki-laki itu menunjuk tanggal yang tertulis pada batu nisan
dari awal hingga akhir

Ia menjelaskna yang pertama adalah tanggal kelahiran
dan mengucapkan tanggal berikutnya sambil menangis
Namun laki-laki itu menceritakan hal yang paling penting
yaitu masa-masa di antara tahun-tahun itu

Karena batas waktu itu mewakili segalanya
waktu yang diberikan semasa hidup di dunia
Dan sekarang hanya orang-orang yang mencintainya
yang tahu apa makna ungkapan tersebut.

Karena itu, bukanlah masalah seberapa banyak yang kita miliki;
mobil, rumah uang
Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita hidup dan mencintai
dan bagaimana kita menghabiskan batas waktu kita

Jadi pikirkanlah hal ini dengan baik;
apakah ada hal yang ingin kau ubah?
Karena kau tak tahu berapa banyak waktumu yang tersisa
Selagi hal-hal tersebut masih bisa direncanakan.

Jika saja kita bisa sedikit santai sejenak
untuk memikirkan apa yang benar dan nyata,
dan selalu mencoba untuk memahami bagaimana perasaan orang lain.

Dan menjadi tidak cepat marah, dan menunjukkan lebih banyak apresiasi
Dan mencintai orang-orang dalam kehidupan kita
seperti kita tak pernah dicintai sebelumnya

Jika kita saling menghargai satu sama lain,
dan lebih sering tersenyum
mengingat bahwa batas waktu berharga ini
mungkin hanya tinggal sedikit.
Jadi, ketika masa-masa hidupmu dikenang
dengan membangkitkan kenangan akan tindakan-tindakanmu
Akankah kau merasa bangga akan hal-hal yang mereka katakan
tentang bagaimana kau menghabisakan masa hidupmu?

hal-hal tertentu yang harus diingat





kuharap cinta membuatku ingat
untuk dibahagiakan dalam keadaan yang apa saja.
aku, katamu tak boleh sedih
lebih-lebih menangis

maafkanlah air mataku, hatiku,
luka barangkali lupa, sudah kuputuskan dirinya sejak lama
namun ia mendendam
aku benci pendendam.

aku masih suka menangis, sebab
cinta dan benci tak mugkin saling berangkul dalam satu perasaan.
jika aku terluka kembali, sudah seharusnya kauingat untuk tak lagi bertanya;
kenapa?


.2013, Mar

Jumat, 01 Maret 2013

I Wanna Love the Longing


If missing crushed out my sanity
sometimes I'd rather go to bed soon
because in the world called dream, you live on there
being my lover that is not nothing you can do other than love me
Then I don't wanna get up 'til you go back
caressing my chin
once again

..you know, with this song