Jumat, 19 April 2013

apa mau dikata


dapatkah kita saling mencinta
tanpa saling menoda?
jika itu kini, jawabnya tentu tidak.
sebab cinta purna dan selayaknya
dihidupkan pada hal-hal yang purna pula
adakah selain pernikahan?
jiwa, usia, dan pikiran-pikiran orang menunjuk kita dengan tatapan seragam
“kalian, belum dewasa!” 

Rabu, 17 April 2013

Hapus Air Matamu, Ibu


Hapus air matamu, Ibu. Kumohon berhenti mengisak, sebab apa yang lebih memecahkan hati selain tangismu? Aku terus menuluskan rasa, berharap kelopak ini tak turut hujan.

Kumohon, hapus air matamu, Ibu. Tak pernah genap hidupmu, selalu saja derita memenuh. Namun kau selalu begitu, tanpa banyak berkata, melakukan segala yang kami tinggalkan, menanggung semua sendirian—bertahun-tahun tanpa serah. Lelah, payah, memang, tapi kau bertahan meski hanya punya satu-satunya hal paling setia; air mata. Aku, Ibu, sedih melihat kau dicumbui pedih. Tiap sebiji air tanggal dari sudut matamu, ia jatuh ke hatiku, membenamkan luka, yang kutahu di hatimu lebih purna.

Untuk sekian ulang. Maafkan kami, anak-anak yang (barangkali) malang kau punyai. 

Selasa, 16 April 2013

Makam

Telah lebih dari setengah tahun ini tak pernah lagi kulakoni ritual menziarahi itu. Dulu, paling sedikit dua kali sepekan aku pasti datang menengok, bahkan bisa setiap hari. Sekadar menuangkan kesah atau gembira, sekadar menabur kisah-kisah, memasrahkan perasaan-perasaan memendam yang tak sanggup lagi terpiara, atau sekadar menghabiskan sisa-sisa air mata.

Di segunduk tanah yang telah dibatasi keramik sisi-sisinya, terpampang jelas nama itu disana;
Masbah Amier
lahir : 8 Desember 1964
wafat : 12 Juni 2002
Ia, Pria itu, Ayahku, tak akan lagi pernah sanggup memarahi, menggertak, atau sekadar memelototiku hingga seluruh persendian berasa putus, tiap kali bersitatap, dulu, duluu sekali, ketika aku masih kanak dan seperti tak mengenal hal lain kecuali berbuat kesalahan. Ia kini barangkali hanya bisa memerhatikanku dari suatu dimensi yang entah bagaimana caranya kumengerti, sebab hanya jasadnya yang terbenam disini. Mungkin juga tak pernah ia tahu aku begitu rutin menemuinya, kadang sendiri, sesekali menyertakan sahabat 'tuk turut mendoakan, pernah juga bersama dua orang pria yang salah satunya tahu-tahu meritualkan dirinya sendiri untuk melakukan hal serupa aku, sejak saat itu; menziarahi makam pria itu, ayah dari perempuan yang katanya dicintainya, hendak dinikahinya kemudian, namun selalu ada jalan yang tak pernah dimengerti harapan. Aku tak tahu masihkah pria itu kini datang menengok serutin dahulu. Aku tak tahu, sungguh. Aku tak pernah lagi datang. Tak pernah lagi secara tak sengaja menemuinya.

Aku rindu, merindukan banyak hal dari tempat yang telah kunisbatkan sebagai satu dari tempat terfavorit setelah kamar tidurku sendiri dan toko buku. Jajaran penjual bunga-bunga dan bebotol air, anak-anak yang berlomba membersihkan nisan tiap aku datang, tentang deru pesawat yang gelegar suaranya memekikkan jika lewat, dekat, dekaaat sekali rasanya dari kepala, tentang pohon-pohon asam yang dedaunnya selalu setia luruh bila dipeluk angin, jatuh, kadang melatari drama air mataku, membuat nuansanya kian menyembilu. Aku merindu,. Hatiku sejauh ini kubiarkan penuh, agar ingat indahnya tiap melapangkan dada melaluinya. Aku tak ingin, tak pernah ingin ayahku luput dari sekian pergolakan yang menghantarku hingga dewasa, hingga nanti, hingga mati.

Apakah rerumput liar telah semakin meninggi di atas gundukan sana? Aku merindukannya, jauh dari itu semua; Ayahku, sebuah tempat dimana kukebumikan semua rasa tanpa segan. Aku akan kesana lagi, pasti! sebelum--mungkin--tak pernah bisa kembali. Lagi.

Senin, 15 April 2013

Blog ini terbuka hanya untuk pembaca yang diundang saja

"Sepertinya Anda belum diundang untuk membaca blog ini. Jika Anda merasa ini adalah kesalahan, Anda mungkin ingin menghubungi penulis blog dan meminta sebuah undangan."


Tidak. Aku tak ingin menghubungimu hanya untuk mengais agar masih dibolehkan membaca blog itu seperti ritual yang selalu kulakukan tiap-tiap membuka blog. Sebab bila sampai saat ini aku tak bisa membukanya, artinya aku memang termasuk orang yang tak boleh membaca disana. Tak perlu, tak perlu aku mengemis.

Tak lagi kau hiraukan mention-ku, tidak pula lagi pernah kutemukan namamu dalam jajaran daftar pengunjung blogku. Dan kini, bahkan kau, tak boleh kuakses. Maka tak bolehkah aku sedih? Sebab aku selalu suka membaca segala yang darimu. Maka tak pantaskah aku bertanya, atas salah yang mana hingga semua mendadak seperti ini, Kak? Bukankah dulu semua sempat berjalan menyenangkan? Mengalir dengan tenang hingga tak perlu ada kerisauan? Tapi, sudahlah. Mungkin aku telah membuat suatu kesalahan yang fatal, mungkin kau hanya ingin menyingkirkan beberapa hal tak penting, atau aku yang kelebihan percaya diri, disana kau merasa tak pernah berbuat apa-apa. Ya, banyak mungkin-mungkin lain. menerkanya terus-menerus hanya semakin menyisa lara.



Aku, sepenuh hatiku, merindukan pemilik blog itu,... -_-

Minggu, 14 April 2013

Sebuah Ucapan


SubhanAllah sekali, salah satu personil dari KPSS Insya Allah akan menginjakkan kakinya ke Tanah Mekkah. Salah satu tempat yang mungkin hanya sebagian dari manusia yang bercita-cita ke sana, termasuk saya. Andai ada Pertukaran Pemuda Antar Negara dan pilihannya Ke Tanah Mekkah, Insya Allah saya calon peserta pertama. Heemm... Tidak sama dengan Sutriani Nina dan Imha Enjel Yeon-ae cita-citanya cuma ingin ke Korea. Hahahhaaaaaa.....Pisss!!! By The Way and The Way, kalau manusia lain mengharapkan ole-ole yang pertama untuk dibawa pulang, Arini Suastika hanya ingin didoakan supaya menjadi manusia yang hanya menyembah Allah, menjadi manusia hanya berbakti kepada Allah, serta iman saya tetap terjaga dimanapun dan kapanpun. Dan satu lagi doakan juga untuk Sutriani Nina mudah-mudahan cepat dapat jodoh. Don't forget Doanya...Salam Rindu dan Salam Pelukan...Untuk namamu yang tetap terjaga rapi dalam hati Bunda Azure Azalea. Semoga dimudahkan ibadah-Nya...Amin


Kubuka facebook dan menemukan catatan kecil ini dari anakku di KPSS. Lama tak menjumpai mereka, berbilang bulan bahkan, membuat mataku kuyuh. Entah akibat rindu, entah tersebab haru. Love them, so much! I do really wanna meet them, soon.

Ayo! Selamati Aku!


            Ayo Ayo! Siapa yang ingin memberiku selamat? Ayolah, Ayolah berikan aku selamat! Sejak kapan di-folback seseorang menjadi begini menggilakan rasanya? Aku hanya mengecek Twitter sejenak, lalu mendapati  t o m a t  tertera disana, “mengikuti anda”, ah! Si @hurufkecil itu, Si Pria yang tak ada habisnya kujatuhcintai hanya dengan sebaris kata, atau tampakan sederhana, bahkan hanya oleh sebuah ingatan, yang tentangnya. Benar juga kata ia suatu kali, rasa bahagia jauh lebih sulit ditanggulangi ketimbang sedih. Aku mesti—lagi-lagi—menjadi senorak ini! Berbinar-binar, berjingkrak tak jelas, bahkan memasang gambar macam itu di atas. Ah Memalukan! Maka ayolah beri aku selamat, biar aku merasa sedikit tak segila itu.
            Aku menghela napas. Memutar kepalaku perihal muasal kejadian ini. Mengapa pula ia bisa menemukan akun tak penting ini, memilih untuk menekan kata “ikuti”? Sejak kapan pula aku pernah berurusan, ataukah sebagus apa juga untuk ia mengikutiku? Aku malas menyusahkan kepalaku, lebih suka menghidupi rasa senang ini.
            Aku, Miss Kepo, yang punya prosesi wajib tiap Sign In, mengecek timeline beberapa nama orang. Menyusur hal-hal bagus apa yang bisa  kutemukan. Tebaklah! Kutemukan tulisan ini, dan ... hatiku mengombak, berkecipak, terhantam-hantam (lebay!).



Argghh!!! Jadi sudah dibacanya tulisan itu!? Apa pula yang muncul di benaknya? Tidakkah ia berpikir aku tak sopan sekali menulis hal-hal macam itu perihal dirinya? Huhuhu... Tapi semoga, semoga ia tak marah. Ah! Ia bukan pemarah. Bukan bukan! Aku ini geer sekali, kenapa pula ia harus marah? Tidak tidak! Semoga ia berpikir tak penting betul tulisan itu. Tapi, Apa ... Apa ... Ah! Ah! Sudahlah!
Si penulis favoritku itu pernah mengunjungi blog ini satu kali—setelah aku numpang komentar di blog-nya—tepat pada saat tak ada hal bagus yang bisa dibaca sama sekali disini (sekarang juga masih sih). Aku kecewa waktu itu, kenapa pula aku belum bisa menulis dengan baik agar bisa menjamu tamu-tamuku hingga betah berlama-lama, atau berpikir untuk kapan-kapan kembali datang berkunjung. Tapi sudahlah! Si pria baik itu yang terpenting kembali lagi berkunjung kemari, pada catatanku yang masih tak bagus. Tapi aku senang, senang dibaca, dibaca olehnya! Aku senang. Senang termasuk dalam salah satu dari 1.406 orang yang diikutinya (Haha, bodoh!). Ia, malam ini merupakan hadiah paling manis yang dibingkiskan Si Iseng—penulis tweet di atas itupadaku. Nakal sekali dirinya. 
Namun begitu, aku suka hidup dalam dunia literasi ini selama mengenalnya. Selama bersama dia. Selama diperkenalkan dengan sederet nama yang mulanya tak pernah kutahu, atau karya-karya bagus yang luput, bahkan sekadar mendengarnya bicara, meski kadang tak bisa komentar banyak. Aku suka. Suka sekali setelah dikatakannya padaku, ia menyukai tulisan-tulisanku. Alangkah harunya. Betapa menyenangkannya saling dihidupkan dalam dunia kata-kata. Sebuah dunia yang jauh lebih menakjubkan di banding tempat aku memijak.
Hey, Kau @sajakimut Thanks a lot yah, Myf! Hehe... :D

Sabtu, 13 April 2013

di sebuah warung makan; beberapa cerita saat duduk bersisian, dengannya


Sahabatku—Kami akhirnya berjumpa dalam sebuah syuro’ sore ini. Selalu bahagia bertemu ia. Kesibukan kuliah, aktivitas lain yang tidak senada, barangkali untuk urusan-urusan dakwah saja kami—alhamdulillah—masih selalu sempat dipertemukan.
Ia nyaris pulang dengan angkot, dan aku dengan sepeda motorku, masing-masing seorang diri. Tapi entah bagaimana, akhirnya kami jadi pulang bersama—nekat meski dengan satu helm yang di kepalaku saja. Di perjalanan ia bercerita, sehabis subuh, saat ia melanjutkan tidur, ia bermimpi tentangku, menggelikan katanya. Aku penasaran sekali dan terus bertanya namun ia sibuk sekali tertawa. “Saya lapar, kita singgah di warung makan, di sana akan saya ceritakan.” Ini memang prosesi yang hampir tidak pernah terlewat tiap berjumpa; singgah di warung makan. Yang juga berarti, sebuah percakapan yang sangat panjang akan terjadi, bahwa kami mesti pulang larut, selalu begitu.
Tidak akan kuceritakan detil mimpinya disini, sebab ada yang mengatakan, tak baik mengumbar isi mimpi kepada yang tidak seharusnya mengetahui. Yang pasti ia bermimpi tentangku yang sedang dengan seseorang. Nyata sekali mimpi itu, kata ia, sehingga saat terbangun ia merasa kejadian itu sempat benar-benar terjadi. Dan nyata merasakan kecewanya di dalam hati. Ia benar, mimpinya itu menggelikan, menggelikan sekali. Aku tak henti tertawa. Ia juga. Tak penting betul apa yang tetangga-tetangga meja kami pikirkan. Sialnya, di hari yang sama, kuharap tidak pada saat yang persis, aku juga sedang bermimpi tentang diriku, diriku yang bersama dengan seseorang. Meski orang yang di mimpinya tak sama dengan orang yang di mimpiku, tapi sungguh tema dari kisah itu persis. Pun, persis sama menggelikannya. Kebetulan betul!
Aku tak tahu mengapa hal itu terjadi lagi. Dulu, kejadian seperti ini pun pernah menimpaku dengan sahabatku yang lain. Aku punya dua orang sahabat. Sejak SMA, kami terbiasa saling membawa. Dan ini terjadi lagi, mimpi. Lagi-lagi menyoal mimpi. Tak ada yang bisa kusimpulkan selain; mereka punya firasat yang luar biasa. Hatiku bergejolak, hingga saat catatan ini kutuliskan. Tapi sudahlah!
Kami memesan menu serupa. Selanjutnya, perbincangan kami berubah. Menyoal buku puisi yang terlanjur kusodorkan. Milik si penyair favoritku, Sudahkan Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?, demikian judulnya. Aku tak ingat mengapa kami berakhir dengan menyeksamai beberapa buah puisi di buku tersebut. Ia, Sahabat Perempuanku itu, mengejanya dengan sangat lucu, sekata demi sekata, sebaris demi sebaris, untuk memahaminya. Aku menertawakan ia. Tak henti tertawa, mengingat keringat di keningnya mulai menganak. Ia tampak sekali berusaha keras mengusung simpulan demi simpulan perihal makna puisi-puisi itu, terutama bagi judul-judul yang kusebut 'bagus'. Tiap gagal paham pada satu judul, ia pindah ke judul lain, “Satu lagi. Kali ini saya pasti bisa paham. Yang ringan-ringan saja.“ Ia menghela napas. Sesekali dahinya berkerut, kadang kepalanya mengangguk ragu, sesekali mengusap keringat di wajah. “Ah. Mati jika suamiku nanti penyair! Bisa dikata tolol betul diriku ini.” Ia menggaruk kepalanya, sekian detik lalu terbahak. Kurasa air mataku bahkan terpaksa menyeruak keluar sebab tawaku tak mampu lagi menanggung kelucuan ini sendirian.
Kau jangan salah, ia perempuan cerdas. Aku bahkan sering berakhir patuh dalam serangkaian idealismenya yang sukar ditolak. Ia hanya tak menyukai hal-hal absurd. Baginya, kelugasan jauh lebih memikat. Aku tahu, malam ini ia hanya berusaha mengimbangi serangkaian kegilaanku—katanya—pada aksara beserta orang-orang yang bersamanya. Lagipula, kami selalu menikmati momen-momen yang membawa kotak-kotak kenangan perihal masa dimana sejumlah nama beserta syair-syair memasuki otak dan hati kami hingga hampir gila. Mengusut, mengeja, mencari, hingga menjatuhcintai. Banyak hal seputar masa lampau, tentang puisi-puisi yang seolah-olah hanya untuk masing-masing kami. Barangkali, kami hanya rindu. Merindukan beberapa keping kisah yang tak pernah selesai. Barangkali ia-nya, yang mungkin juga ia-ku. Barangkali sesajak di ulang tahun, atau beberapa andai yang menyemburu. Ah, entahlah. Aku hanya memilih betah dimakan nuansa. Membiarkan semuanya mekar lantas menyembunyikan lembut di balik senyuman. 
Nasi goreng kami sudah datang!

 .Apr 11, 2013

Sepotong Sore



               Tentang sebuah perjalanan pulang kali ini.
            Sepeda motorku melesat pelan memasuki gerbang BTP. Tidak seperti biasa memang. Laju yang barangkali selalu mengesalkan pengendara kiri-kanan-depan-belakang-ku itu tak berlangsung di kesempatan ini. Pikiranku terbang. Tak tahu kemana persisnya melayang.
            Entah pukul berapa. Suhu sore ini lebih hangat dari biasa. Aku tiba-tiba dikepung suasana yang sulit bagiku menjelaskan betul detilnya. Sederhananya, aku merasa sedang berkendara tepat pada nuansa jelang buka puasa, seperti banyak Ramadhan lampau. Hangat terus merambat, menjalar, barangkali mencari-cari kemana mestinya sandar. Tak tahu apa ini baru terjadi atau aku yang—selama ini terlalu sibuk dengan dunia dalam kepalaku sendiri, hingga—tak memerhatikan. Jalanan meramai, mulai lebih macet, cukup banyak penjual es buah dan kue-kue di sepanjang jalan. Mengapa? Entah!

 Sesuatu menyeretku pada perasaan yang hampa. Motorku masih melaju, meski tak tahu dikendarai siapa. Aku sudah tidak di sana sejak sekian detik lalu. Aku pergi menubrukkan diri ke kepingan-kepingan ingatan. Akhirnya kehilangan khayalan juga, yang bersisa berikutnya tinggal kenangan. Berdesak masuk, memenuhkan rongga air mataku. Ia pecah. Aku tersenyum, semata sebab rindu. Rindu memulangkan waktu. Barangkali perihal tegukan-tegukan salju di rerimbun matamu, pada tiap lantunan adzan yang terkumandang! Meski akhirnya lidahmu kini tak pulang. Tak akan lagi pernah! Semoga bukan sebab Tuhan tak lebih sayang. Ummi-mu-
Abi, bukan aku, bukan Ummi, kami, kami semua merindukan Ramadhan-ramadhan kita yang semakin diburamkan usia, senada matahari yang pelan-pelan membunuh jingga di atas sana. Sesekali datanglah menjenguk, gelas-gelas kami sengaja selalu diisi tiga per empat air saja, selebihnya kami letakkan wajahmu disana. Biar tiap kami berbuka di petang, malam tak turut menggelapkan kenangan. Bi, Ini masih April. Juli nanti Ramadhan. Aku mulai kehilangan rasa sabar!

Sudah tiga puluh menitkah? Ah! Pintu pagar masih belum terbuka. Ck. Alangkah! -_-‘

.Apr 12, 2013

Jumat, 12 April 2013

Apa Mungkin Ibuku akan...


            Saat kecil, saat mulai tahu untuk tertarik kepada lawan jenis, sejak teman-teman lain mulai menasbihkan segala macam kriteria yang katanya wajib dipunyai sebagai standar dalam memilih pasangan, aku juga ikut-ikutan membuat list meski tak tahu sepenting apa berikutnya list itu ketika kau benar-benar sedang jatuh cinta kemudian bahkan tak sempat lagi mengingatnya. Konyol memang, aku sering menertawakan diriku bila teringat upayaku mencari kriteria spesifik tentang seperti apa pria sempurna itu sebenarnya. Sial betul aku pernah menulis sekian kata macam ini ; baik, perhatian, pintar, bisa bahasa inggris (biar bisa ngajarin), tinggi, putih, gentle (tanpa tahu bahwa gentle itu ternyata berarti lembut), pebasket, ustad, dan—ini yang paling gila—bule. Ya Tuhan, labil betul. Izinkan kuusap dadaku sejenak. Memang pada akhirnya orang-orang dengan tipe macam di atas hampir semua pernah mewarnai hari-hariku di masa lampau, tapi hal tersebut akhirnya membawaku pada suatu simpulan kecil; baik-buruk, sempurna-tak sempurna, masing-masing adalah dua sisi yang relatif.
            Pertanyaannya  mungkin begini, apakah menentukan kriteria selalu menjadi hal tidak penting pada akhirnya? Tentu tidak. Di luar rencana Tuhan yang boleh jadi menjodohkkan kita dengan siapa saja, entah pernah terpikir atau tidak, kita tetap harus punya standar tersendiri. Standar itu yang kemudian kita pakai untuk mengukur diri hingga kita pantas untuk kriteria itu juga. Bukankah tak lucu mengharapkan orang cerdas, sementara pada saat bersamaan orang cerdas itu juga sedang mengimpikan memiliki kekasih yang lebih cerdas darinya. Setidaknya, orang-orang mesti ingat untuk menjadi sepantas kriterianya. Tapi aku tak akan berpanjang lebar membahas mengenai hal tersebut. Ini sepenuhnya tentang sebuah mimpi yang baru terbersit saat di bangku kuliah ini, mengenai aku yang berharap bersuamikan seorang penyair.
     Hm ya, aku sempat bermimpi, ingin sekali tiap hari ada seseorang yang menyanandungkan kekata manis di telingaku sebelum lelap, menyediakan bagiku secarik kertas dengan puisi kecil di dalamnya sebagai sarapan, setiap pagi—perihal aku yang masih sangat ia cintai, bahkan mengenai aku yang masih cantik dalam pandangannya sekali pun nanti kami telah sama-sama menua. Ia bahasakan, digunakannya segala macam kata hingga hal ini tak pernah menjadi membosankan, hingga tiap aku bangun dengan kenyataan, aku tahu lelakiku masih sangat mencintaiku. Haha, konyol sekali yah? Atau lebay? Tenang saja, aku berpendapat sama. Tapi bagiku, orang-orang yang mengambil lebay sebagai dalih untuk tidak menyenangkan hati pasangannya jauh lebih konyol lagi! Dan sebuah cinta yang kehabisan kekonyolan di dalamnya tak lebih dari selembar daun kering yang menunggu tanggal dari ranting. Memang, memang sih tak semua rasa harus diekspresikan dalam kata-kata, namun adakalanya ia harus diluahkan untuk menebalkan kekukuhan. Itu saja, menurutku.
            Oh iya, sebenarnya—ketika menuliskan ini—aku baru saja tiba dari sebuah Pelatihan Kepenulisan dengan seorang penulis favoritku sebagai pembicara tunggal. Sudah lama aku tahu ia belum menikah, orang tua dari mantan kekasihnya tak ridha anaknya bersandingkan ia yang penulis, itu katanya. “Tak banyak orang tua yang bisa merelakan anak gadisnya pada seorang penulis dengan berbagai alasan terutama materi.” Mungkin iya. Aku tidak akan membahas perihal dirinya, juga mungkin perihal penulis lain yang bernasib sama, toh bukankah jodoh tak ‘kan kemana. Aku hanya terpikir mengenai kalimatnya itu sepanjang jalan—makanya aku menulis ini—, sembari mengeja dalam hati sekian puisi—yang ia tuliskan—yang kuyakin juga kutebak asal-asalan adalah perihal ia dan kekasihnya itu. Entah mengapa mengingatnya selalu membuat hatiku tersayat. Entah mengapa. Di luar kata si pria beralis tebal itu bahwa penulis itu pembohong, aku merasa tak penting betul untuk tahu mana yang benar dan salah dari setiap peristiwa yang ditorehkannya. Terpenting bagiku, menikmati karya itu adalah tentang seberapa berhasil si penulis itu menghidupi ceritanya, seberapa mampu juga ia menghidupkan pembaca-pembacanya ke dalam sana. Anggaplah semisal ini :

Lelaki yang engkau cintai itu, mati
dan tak membawamu ke makamnya
Sementara aku,
bertahan hidup
bertahun-tahun sanggup tak mati oleh rindu
dan menanti di surga

Hawa,
aku masih ular yang setia mencintaimu
sepanjang usia Tuhan.”

Nah kan, perasaanku kembali beriak, luka ini selalu sampai setiap aku membaca potongan puisi Kepada Hawa-nya, kak Aan.
            Mengenai mimpi kecil yang kukatakan tadi. Aku tentu tak akan memaksakan diri, juga tak akan berdoa siang-malam hanya agar diberi jodoh seorang penyair. Sebab, Tuhanku yang Mahasegala itu tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya, dan aku percaya. Ini hanya misalkan—ini misalkan saja—kejadian macam ini terjadi, terjadi padaku. Apakah ia, ibuku, akan merelakan anak gadisnya pada seorang pemuda yang tak membawa apa-apa kecuali sebuah keyakinan untuk membahagiakan putrinya, kecuali oleh sebuah janji untuk bekerja keras, kecuali oleh sebuah kematangan hati bahwa menulis bukanlah profesi yang tidak menghidupkan? Apakah perempuan itu, ibuku—dengan bingkai pemikiran yang kurasa dimiliki oleh secara umum orang tua, kira-kira akan mengizini? Ah! Panjang sekali imajinasiku ini. Tapi sudahlah,—sekali   lagi—di luar semua mimpi, di luar semua ingin, jauh dari batasan semua hasrat dan upaya, selalu ada rencana Tuhan yang lebih baik. Lagi-lagi, bukankah jodoh tak ‘kan kemana? Tak perlu cemas, Wahai diri, juga kau yang membaca ini. Life must go on!

Senin, 01 April 2013

Untuk Seseorang yang Sempat Memanggilku Wanitanya

Abdi Setiawan, kekasih dari si gadis 2017 :D

Aku, kamu--kita punya banyak janji yang dikecewakan ingatan, waktu, juga kesenjangan yang perlahan diterima, bahkan oleh sengaja. Tapi jangan semua.

Gambar amatir ini telah kau mintaku menjanjikannya lebih dari delapan bulan lalu. Baru kusanggupi. Meski begitu, maafkan. Ia berakhir dengan nasib persis dengan sketsa(wajahku, buatanmu) yang hendak kau beri di ulang tahunku, januari lalu. Menghilang. Di kamarku sendiri. Sepertimu dulu, telah kucari. Nihil. Pun, beruntung masih sempat aku memotretnya. Pula sepertimu, aku hanya memberi pernyataan, pemberitahuan. Bahwa aku tak menyengaja, tak lupa.

Kepada--yang menyebutku--teman baik, belum kutemukan laki-laki yang menghargai aku, lebih atau setidaknya sebaik dirimu, Dii. Demikian, di balik halaman itu aku menulis. Perlu kau tahu, kau masih teman yang baik, bahkan setelah saat-saat panjang menggesek banyak sekali cerita--yang sepenuhnya barangkali hanya kita yang paham.

Aku banyak sekali menulis tentangmu, kau pun selalu tahu memilah tulisan-tulisan mana saja yang memang hanya untukmu. Meski percaya diri sekali kau memanggilku untuk pertama kali, Teruntuk Rafiqah Ulfah Masbah, Wanitaku. Nah!? Haha, kau suka, katamu, kalimat itu (kau curi dari sebuah postingan kecil di blog ini). Aku hanya tertawa mula-mula. Kau juga. Oh iya, aku sudah mulai menggambar lagi, Dii. Beberapa teman bahkan memintaku menggambar mereka. Kau benar waktu itu, harusnya aku mencobanya saja, sebab dulu aku pun pernah melakukannya. Sayang  sekali, baru kulakukan belakangan ini. Namun menyenangkan rasanya menggambarmu pertama kali dan cukup berhasil.

Baiklah. Aku tak bisa menulis panjang-panjang. Alasannya sudah kau tahu pasti, bukan? Terakhir, Dii. Terima kasih. Semoga janjiku yang ini sudah terlunasi. Semoga. Sampaikan salamku pada gadismu, si 2017 itu. Jika catatan ini membuatnya cemburu, bahwa aku bukan siapa-siapa dan kau sangat mencintainya. Kita cuma teman yang sempat senang bersama menertawakan apa saja. Tak lebih. Benar kan? :-)