Kamis, 23 Mei 2013

Dua Perempuan dalam Dua Film Bagus


     Dalam sepekan ini, saya mendapatkan dua film bagus. Satu dari Kak Jumrang, satunya lagi dari Widya. Saya benar-benar harus berterima kasih kepada mereka berdua. Kedua film true story ini benar-benar sangat inspiratif. Masing-masing mengenai seorang perempuan yang buatku menakjubkan. Menilik sumbangsi-sumbangsi perempuan terhadap perbaikan dunia adalah sebuah panggilan bagi saya. O ya, Saya tidak akan menuliskan sinopsis film-film itu disini. Saya hanya akan membagikan sedikit hal tentang dua perempuan tersebut.


     Perempuan Pertama Bernama Temple Grandin, Judul Filmnya Sama; Temple Grandin



     Nama Temple Grandin memang tidak begitu terkenal di Indonesia. Namun, di negeri asalnya, Amerika Serikat, namanya sudah sangat dikenal luas, terutama jika dihubungkan dengan dunia autisme. Namanya pertama kali dikenal saat kisah hidupnya diangkat ke dalam sebuah buku yang ditulis oleh Oliver Sacks. Buku yang berjudul ”An Anthropologist On Mars” tersebut berisi gambaran Grandin mengenai perasaannya berada diantara orang-orang “neurotypical”.
     Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus  1947. Sebelum didiagnosa mengidap autis pada tahun 1950, Awalnya Grandin didiagnosa mengidap kerusaka otak ketika berusia dua tahun. Oleh orangtuanya ia kemudian dimasukan ke sebuah kelompok bermain yang guru-gurunya ia anggap sangat baik. Ibunya berkonsultasi kepada seorang dokter yang menyarankannya agar ia memberi putrinya itu terapi wicara. Ibunya kemudian menyewa seorang pengasuh yang menghabiskan waktu berjam-jam bermain sambil belajar bersama Grandin dan kakaknya.
     "Tidak bisa berbicara sangat membuat saya frustasi. Jika seseorang dewasa berbicara langsung kepada saya, saya dapat memahami apa yang mereka katakan, tetapi saya tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin saya ucapkan. Jika saya berada dalam situasi dengan tingkat stress yang sedikit, terkadang kata-kata tersebut akhirnya bisa keluar. Terapis wicara saya tahu bagaimana cara masuk kedalam dunia saya. Ia akan memegang dagu saya dan membuat saya menatap matanya dan kemudian berkata “bola.” Pada usia tiga tahun, saya bisa mengucapkan kata “bola” dan “bo’a” dengan tingkat stress tinggi. Jika si terapis terlalu memaksa, saya akan mengamuk (tantrum), dan jika ia tidak mencoba masuk jauh kedalam diri saya, maka tidak akan ada perkembangan berarti yang bisa dicapai saat itu. Ibu dan guru saya bertanya-tanya kenapa saya berteriak. Berteriak adalah satu-satunya cara agar saya bisa berkomunikasi. Terkadang saya berpikir pada diri saya sendiri jika saya akan berteriak sekarang karena saya ingin memberitahu semua orang bahwa saya ingin melakukan sesuatu." cerita Grandin.
     Pada usia empat tahun, Grandin mulai bisa berbicara dan mulai memperlihatkan perkembangan. Grandin merasa beruntung karena saat itu ia mendapat banyak dukungan dari para pengajar di sekolahnya dulu. Namun, ia menyebutkan bahwa masa-masa sekolah dasar dan menengah merupakan masa terburuk dalam hidupnya.
     Ia merupakan “anak aneh” yang menjadi bahan ejekan dan lelucon anak-anak lainnya. Ketika ia berjalan-jalan, orang-orang di jalanan akan mengejeknya “tape recorder” karena ia selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang. Grandin berkata, “ Sekarang ini saya dapat tertawa saat mengenangnya, tapi dahulu rasanya sangat menyedihkan.” Untuk membantu perkembangan kondisinya, Grandin mengkonsumsi obat anti depresi secara teratur dan menggunakan “squeeze-box” (mesin peluk) yang diciptakannya pada usia 18 tahun sebagai bentuk terapi personal. Beberapa tahun kemudian, kondisinya itu dapat dikenali dan pada usia dewasa ia di diagnosa menyandang sindrom Asperger, yang merupakan sejenis dengan spektrum autis.
     Setelah menyelesaikan sekolahnya di Hampshire Country School di Rindge, New Hampshire, pada tahun 1960-an, Grandin pun melanjutkan belajar ke universitas. Dia berhasil meraih gelar sarjana jurusan psikologi dari Franklin Pierce College pada tahun 1970, gelar master jurusan pengetahuan binatang dari Arizona State University pada tahun 1975, dan gelar doktor  atau PhD jurusan pengetahuan binatang dari University of Illinois di Urbana Champaign pada tahun 1989. Bagi seorang penyandang autis, prestasinya itu tentulah sangat luar biasa.
     Berdasarkan pengalamannya sebagai penyandang autis, Grandin memebantu memberikan konsultasi dalam mengenali gejala autis sejak dini. Ia juga memberikan konsultasi kepada para guru sehingga dapat memberikan penanganan langsung kepada anak autis dengan cara yang lebih tepat. Grandin dianggap sebagai pemimpin filosofis bagi gerakan kesejahteraan binatang dan konsultasi autis.
     Kedua gerakan tersebut pada umumnya berhubungan dangan karya-karya tulisnya yang bertemakan kesejahteraan binatang, neurologi, dan filosofi. Pada tahun 2004, ia meraih penghargaan “proggy” untuk kategori “Visionary” dari People for the Ethical Treatment of Animals. Karya-karya tulisnya mengenai autisme yang ditulisnya dari sudut pandang penyandang autis, sangat membantu para ahli dan dunia kedokteran dalam membantu penanganan autis. Karya-karyanya antara lain, ”Journal of Autism and Developmental Disorders” dan “Emergence: Labelled Autistic.”
     Prestasi yang diraih  Dr. Temple Grandin tersebut tentulah membuka harapan dan menjadi pencerahan bagi para penyandang autis dan gangguan perkembangan lainnya di seluruh dunia. Semoga di Indonesia pun akan muncul tokoh autis dan anak berkebutuhan khusus lainnya yang bisa membantu penanganan autis dan gangguan perkembangan lainnya di Indonesia.


Sumber: click here. Download film : here


     Perempuan Kedua Bernama Anne Sullivan, Filmnya Berjudul Miracle Worker





     Mungkin tidak banyak yang mengetahui tentang Anne Sullivan. Seorang wanita sederhana yang lahir pada tahun 1866 di Feeding Hills, Massachusetts. Johanna (Anne) Sullivan adalah puteri Thomas Sullivan, petani imigran Irlandia. Anne mempunyai seorang adik laki-laki bernama Jimmie yang lumpuh akibat penyakit tuberculosis (TBC).
     Pada usia 5 tahun Anne terserang penyakit trachoma yang menyebabkan matanya hampir buta. Dua tahun kemudian ibunya meninggal. Ayahnya kemudian meninggalkan Anne dan Jimmie di sebuah panti asuhan di Tewksbury. Tak lama kemudian Jimmie meninggal.
     Ketika berjumpa dengan Frank Sanborn, ketua sebuah yayasan sosial, Anne memohon supaya ia bisa bersekolah. Anne kemudian menjalani serangkaian operasi untuk menyembuhkan matanya. Penglihatan Anne membaik walaupun tidak sepenuhnya dan ia hanya dapat membaca dalam waktu singkat..
     Anne belajar dan lulus dengan nilai tinggi di the Perkins Institute for the Blind. Ia kemudian mengajar di sekolah khusus untuk orang buta tersebut. Anne dikenal sebagai guru yang berbakat dan tekun dalam pekerjaannya sebagai guru.
     Anne Sullivan kemudian direkomendasikan untuk mengajar Helen Keller, seorang anak yang kehilangan penglihatan dan pendengarannya akibat demam tinggi. Ketika Anne tiba di rumah keluarga Keller, Helen berusia tujuh tahun, dengan temperamen tinggi dan sulit diatur . Anne mengajarkan disiplin kepada Helen dan kemudian mengajarkan abjad secara manual dan huruf Braille.
     Pada 5 April 1887, setelah selama sebulan mengajari  Helen abjad  manual dan tingkah laku yang baik, Anne mengalami suatu terobosan menakjubkan yang membawa  Helen kembali kepada dunia komunikasi and pembelajaran.Ketika berdiri di sebuah pompa air dan air mengalir di tangan Helen, Anne mengeja kata "water" pada tangan Helen. Tiba-tiba Helen memahami permainan jari aneh yang mereka mainkan selama ini adalah sebuah upaya untuk berkomunikasi.
     Anne menemani dan membimbing selama Helen bersekolah  di  The Perkins Institute dan The Cambridge School for Young Ladies dan kemudian kuliah  Radcliffe College. Semua orang kagum dengan kemaampuan Anne berkomunikasi dengan Helen dan kecerdasan Helen dalam menerima pelajaran walaupun ia buta sekaligus tuli.
     Banyak orang mengira Anne hanya ingin mengendalikan dan memanfaatkan Helen Keller. Mereka tidak mempercayai komitmen Anne kepada Helen.
     Setelah Helen menyelesaikan pendidikan formalnya, Anne tetap mendampinginya melakukan perjalanan untuk memberikan ceramah. Setelah Helen lulus dari  Radcliffe, Anne menikah dengan seorang dosen muda dari  Harvard, John Albert Macy pada tahun 1905. Mereka bertiga tinggal bersama-sama hingga tahun 1912 ketika pasangan Macy berpisah. John dan Anne banyak membantu Helen menulis buku, termasuk otobiografinya, The Story of My Life (1903). Helen dan Anne tetap bepergian untuk  memberikan ceramah dan menggalang dana untuk the American Foundation for the Blind.
     Penglihatan Anne memburuk pada tahun 1935 dan ia menjadi buta. Anne Sullivan Macy meninggal pada tahun 1936. Menjelang akhir hayatnya Anne Sullivan Macy menerima penghargaan dari Temple University, the Educational Institute of Scotland, dan  the Roosevelt Memorial Foundation untuk  usahanya yang tak mengenal lelah dan komitmennya kepada Helen Keller.

Sumber : click here.  Download Film : here


apa yang lebih puisi dari ini?







       Jaringan buruk. Kita jadi sering gantian mengirim sms "sebagian teks hilang". Tapi aku sadar, belakangan ini artinya kita senang menulis sms panjang-panjang. Aku senang. Kau ingat, dalam prolog novelmu yang akan segera terbit itu ada kata-kata macam ini tertulis disana, "jika orang yang mengaku mencintaimu smsnya tak lagi lebih dari lima kata, cintanya sudah tak genap untuk kamu jadikan alasan bertahan, apalagi menunggu—dengan rindu." Aku menyesal membacanya waktu itu. Aku sadar aku selalu melakukannya, bahkan lebih tak jarang membiarkan sms-smsmu berlalu begitu saja tanpa balasan. Aku jahat sekali. Tapi kau tetap bertahan, tapi kau masih tak bosan mengirimiku sms--meski hanya sekadar menyapa, tapi kau masih mencintaiku. 
    Baru hari-hari ini aku mengirimimu sms lebih sering, lebih banyak, lebih selalu membuatmu khilaf meluputkan untuk menjawab pertanyaanku yang mendadak lebih banyak dari biasa. Aku tak marah. Diantara kesibukanmu yang membadai, menyempatkan untuk membalas smsku dengan tak hanya kata Ya, Tidak, atau Oke, itu sudah lebih dari cukup. Apalagi mendadak kau jadi lebih sering mengatakan; Saya mencintaimu. Hm, kenapa baru sekarang aku tahu bahwa kau bisa lebih manis jika aku sedikit lebih memerhatikan untuk membalas sms-mu dengan baik.
       Sore ini, mendadak aku menerima sms yang membuatku hampir menjatuhkan air mata. Dalam pesan singkat itu kau menulis bahwa kau mencintaiku, kau memintaku bersabar untuk mencintaimu dan agar segala yang bisa membuatku marah tak pernah menjadi alasan untuk mengurangi kebahagian kita. Aku membalasnya. Mengatakan bahwa aku tak marah dan bertanya mengapa tiba-tiba kau berkata demikian.
       "Saya sangat rindu. Dan saya merasa bersalah telah mengabaikanmu akhir-akhir ini karena kesibukanku. Kamu perempuan yang sangat baik. Saya lelaki yang sangat beruntung."
       Ah, Sempurna sudah haruku. Hujan, senja, kopi, dan perasaan rindu--pun dirindukan. Apa yang lebih puisi dari ini?
       Aku kian mencintaimu, akulah yang sejatinya lebih beruntung. Kau sibuk, dan kau tak melupakanku. Kau tak melupakanku bahkan kau masih sempat menghawatirkan perasaanku. Kau lelaki yang baik. Baik sekali. Itulah yang membuatku lebih sering menangis. Bukan sedih. Bahagia. Terlampau bahagia. 
       Kuseruput tenggakan terakhir kopi dinginku. Apa kau tahu, tiba-tiba ia tak lagi sepahit kemarin.




Makassar, 23 Mei 2013

Rabu, 22 Mei 2013

Hari Pertama, Catatan Pertama, dan Gelas Kopi Pertama


“Sediakan segelas kopi. Kau tentu masih ingat, dengan sedikit gula. Saya akan datang. Entah, kapan.”

Aku menyeduh segelas kopi. Lalu tak menyentuhnya sama sekali. Aku lantas menemukan gelas itu telah dingin dan kau belum juga datang. Baru sehari dan aku sudah sebegini luka. Tak pernah kurindui dirimu lebih dari ini, barangkali. Aku rindu. Ya, perempuan yang tak bisa tak mencintaimu ini sangat merindukanmu.
Sebenarnya tak ada yang berubah, kecuali bahwa kita bukan lagi bernama sepasang. Tapi tetap saja aku merasa kehilangan. Sebenarnya tak ada yang berubah, kecuali bahwa  kita tak perlu lagi sering-sering berjumpa, sebab perjumpaan selalu rakus menghabiskan ketegaran-ketegaran, padahal kita telah berjanji untuk sama-sama kuat. Hm, Tapi tetap saja aku merasa jauh lebih kehilangan dari perasaan yang seharusnya. Aku harus bagaimana? Aku tak tahu melakukan hal lain untuk merayakan kerinduan. Aku hanya bisa menulis, selebihnya menangis. Jika tidak, kukutuk laptopku dalam-dalam sebab selalu membuatku tak sabar. Ituu saja.
Hh, sekali lagi, bagaimana harusnya kuterakan ini pada diriku; bahwa tak ada yang berubah. Tak ada yang berubah kecuali bahwa kenangan kini menjelma jendela tanpa kaca. Tak ada yang berubah. Aku mungkin hanya akan lebih sering menyeduh kopi, lantas lebih sering menyeruput kopi dingin dengan rasa asin, dan juga akan punya lebih banyak koleksi pepuisi sedih. Seharusnya bukan masalah, kan? Tapi kenapa sulit sekali menanggunggnya? Entahlah.
Aku tak tahu pada hari yang ke berapa, pada catatan ke berapa, dan pada gelas kopi ke berapa baru bisa kuraih ketegaran yang sempurna. Aku pula tak pernah tahu pada hari ke berapa, pada catatan ke berapa, dan pada gelas kopi yang ke berapa kau akan benar-benar pulang—tidak sekadar datang—dengan sekotak pertanyaan semacam, “Masih adakah segelas kopi yang hangat? Aku ingin tinggal menghabiskan semua catatanmu, ingin tinggal menghabiskan hari-hari bersamamu. Mulai sekarang kau tidak perlu meminum kopi dingin yang asin setiap hari. Tidakkah menurutmu berbagi kopi hangat dengan sedikit gula jauh lebih nikmat, Sayang?” Dan jika saat itu tiba, aku akan mengangguk. Hanya akan mengangguk.
 

Makassar, 21 Mei 2013



Selasa, 21 Mei 2013

Pertemuan dengan Sparkling Autumn




Selalu ada cara-cara sederhana menjadikan pertemuan-pertemuan pertama berkesan.


Sparkling Autumn. Rasa-rasanya kami sudah saling mengenal cukup lama. Hanya saja tak pernah berjumpa. Kuhafalkan wajahnya. Ia tidak. Aku jarang memajang foto di dunia maya, memang. Pada kegiatan Green Campus di UNHAS siang ini, tak sengaja aku melihatnya masuk bersama Kak Atun. Mereka memilih duduk dua baris di belakangku. Aku memerhatikan mereka dan secara kebetulan matanya menubruk pandanganku. Aku tersenyum. Ia tidak. Kuterka, ia mungkin berkata-kata dalam hatinya semisal, "Siapa sih? Kenal yah?" Aku mendengus lucu memikirkannya.
Aku kembali melempar pandangan ke depan, melihat Riri Riza tahu-tahu sudah duduk manis di sofanya bersama moderator. Tak lama berselang, mereka berdua memilih pindah duduk di dua kursi samping kananku. Kak Atun sempat menyapaku dengan tatapan dan senyum sederhana, kemudian mereka menjadi sibuk terlibat perbincangan. Aku juga--bersama teman sebelah kiriku yang juga anak FLP. Kupikir-pikir ingin sekali aku memperkenalkan diri. Aku mulai memvisualisasikan cara memperkenalkan diri yang baik. Apa harus kupegang pundaknya lebih dulu lalu kukatakan dengan antusias, "Hey, Saya Azure Azalea." Lantas menjabat tangannya erat. Meski terlalu percaya diri, aku memang sudah berencana melakukannya, tapi untuk beberapa menit ke depan, bukan sekarang. Aku sedang malas membual.
Selembar absensi kemudian diedarkan dan sampai ke tanganku dari arah kiri. Hm, ide yang bagus untuk mengenalkan diri yang baik pikirku. Aku menuliskan namaku sangat rapi dengan font yang sedikit lebih besar dari yang lain. Paling tidak, jika tidak ia hapalkan nama asliku, ia bisa melihat alamat emailku yang bertulis azalea disana. Setelah kuselesaikan, kuserahkan padanya. Kulihat sepintas ia sudah hampir menulis nama sebelum tiba-tiba berbalik menatapku dan bertanya cepat,
"Maaf, nama ta ini?" Aku tersenyum lebar, sesuai rencana, dengan percaya diri mengulurkan tangan yang langsung disambutnya
"Ya. Perkenalkan, Azure Azalea."
"Ya Tuhan..." Kami sepakat tertawa, mungkin merasa konyol.
"Kita tahu jeka?"
"Ya. Sering pasang foto, kan? Saya hafal. Sejak tadi sudah memerhatikan, hanya sungkan memulai pembicaraan." Aku menyengir.
Selebihnya ia terus saja menghela napas. Masih sulit percaya akhirnya kami berjumpa barangkali. Itu pikiranku saja sih.
"Sebenarnya di tempat ini saya yakin banyak teman-teman dunia maya kita, hanya tak saling tahu. Jadi rasanya selalu menyenangkan setiap ada perkenalan-perkenalan tidak terduga macam ini." Aku tersenyum, menyepakatinya. 

Selang beberapa menit kudapati kami sudah terlibat perbincangan yang cukup hangat, meski sedikit masih kaku, tentang ia yang katanya sudah mencari-cariku di Dikdas Jurnalistik Identitas berkat namaku yang tercetak di absensi namun selalu kosong. Juga tentang penulis-penulis favorit, buku-buku, ia yang senang menulis prosa, ia yang ternyata aktif di komunitas Lego-lego bersama 'seseorang' yang kukenal baik tentunya. Lalu keadaan FLP. Dan beberapa hal lain. Tak terlalu banyak. Setelah itu, kami bertukar nomor handphone lantas berjanji akan berbincang-bincang lagi di lain waktu. Ia gadis yang menyenangkan. Dan ini pertemuan yang lebih menyenangkan.



Makassar, 21 Mei 2013

Mei Bertanggal Dua Puluh, Kenangan yang Berhenti Memenjarakan Kenyataan, dan Sebuah Kalimat yang Meloloskan Air Mata




“Sebab tidak selamanya cinta melulu seperti anak kecil, pula seperti orang buta!”

            Waktu seperti tumpukan berlembar pelajaran baik yang sempat tercatat maupun yang cukup mengekal di ingatan. Kita telah belajar banyak hal. Banyak sekali hal. Apa kau ingat? Pada tanggal yang sama dengan ini, pada bulan yang sebelumnya, kita masih sibuk menakjubi lantas menertawakan kenyataan-kenyataan tentang betapa banyak yang terlalu cepat diantara kita. “Hal-hal baik memang harus disegerakan. Bukan begitu?” ucapmu selalu. Aku tak pernah menjawab kecuali dengan sepotong senyum—yang itupun tanggung. Sebab apa? Aku memang tak tahu—atau mungkin pura-pura tak tahu—apakah benar hal tersebut baik atau hanya diupayakan baik.
            Awal-awal, aku sering menangis; menangis menyesal, mungkin juga menangisi ketidakmenyesalan. Tapi tiba-tiba aku memang terlanjur terkepung pada sebuah dunia yang dihidupi hanya oleh keinginan dan harapanku saja. Terus bertahan hidup disitu. Tak mau keluar. Tak peduli bahwa duniaku juga hidup pada dunia dimana aku maupun orang-orang memukim. Tidak hanya aku, mata-mata lain juga mungkin berkunjung kesitu. Aku bodoh, aku tak mau peduli. Aku tak mau tahu. Tapi sekali lagi, waktu selalu menjadi guru yang setia. Cinta juga dapat tumbuh mendewasa.  Kau, lebih banyak belajar. Kau, lebih punya mata yang tegar menatap kenyataan. Kau, lebih punya kebaikan hati yang besar. Lebih dari aku.
“Saya hanya tidak ingin menjadikan perempuan yang saya cintai menjadi munafik!” Kalimat itu yang merubuhkan segala kekuatan—untuk tak memedulikan pandangan orang lain—yang kukokohkan sehari demi sehari, yang kupelihara baik-baik tanpa sedikitpun membiarkannya retak. Aku rubuh, air mata yang barangkali sudah kuperam dalam-dalam setiap hari dalam lebih tiga bulan ini terpaksa kuloloskan. Terpaksa.
            Aku tak sanggup meraba perasaan macam apa yang bertandang kala itu. Aku menelungkupkan segenap hatiku untuk melawan tiap butir kenangan yang mendadak deras berjatuhan. Aku sungguh mengira, hanya menanggung luka-luka dosa ini sendirian. Tak pernah kusangka kau memeram risau yang jauh lebih kekar. Tak pernah kusangka bisa kau pahami semua ini dengan sendirinya.          Aku dengan segenap hatiku sungguh tak pernah habis menyangka, kau menatapku dengan mata yang lebih permata.
            Aku menangis bukan sebab perpisahan memang selalu dirayakan oleh tangisan. Aku menangis sebab kata-kataku kehabisan maknanya. Aku luka, haru, bahagia, sedih dalam satu hentakan perasaan dan tak tahu kemana harus menumpahkan. Hh, akhirnya kita sungguh-sungguh bersepakat sore ini. Sungguh cepat, bahkan tak ada setengah hari untuk sekadar menimbang-nimbang. Kita sungguh-sungguh memilihnya dengan kesadaran yang terbuka; Berjalan—masing-masing—tanpa sebuah tali yang terikat di jari (lagi). Jika kelak ada yang bertanya perihal kita, gantian aku yang meminjam kekatamu, “Hal-hal baik memang sudah seharusnya disegerakan.”
            Ya, pada Mei yang bertanggal dua puluh ini, kau mengambil jempolku—bukan kelingking, sebab katamu tak lebih kokoh—berjanji untuk harus sama-sama kuat. Berkali-kali memintaku untuk kuat. Berkali-kali memintaku tak menangis. Berkali-kali menjanjikan padaku tentang kebaikan lebih besar yang sanggup kita kenyam. Aku juga—berkali-kali memintamu untuk tidak mengatakan hal-hal yang menyedihkan, berkali-kali memohon untuk tak membuatku tertawa—sebab aku hanya menginginkan perpisahan yang sederhana; sebuah senyuman dan ucapan selamat malam. Tak lebih, tak kurang.
            Aku lantas pulang—setelah beberapa jam menghabiskan sisa-sisa rindu yang sudah mengeringkan sungai-sungai di pipiku—dengan senyum yang masih terjaga. Aku tak menangis lagi dan itu ajaib. Ya, katamu sejatinya kita tidak saling kehilangan satu sama lain. Mungkin itu yang menenangkanku. Tapi, permintaanmu untuk menulis, permintaan itu... mengantarku terpaksa kembali berurai air mata. Menuliskan semua ini kembali dengan segala rasa yang cuma mampu dilelehkan oleh tangisan. Namun tenang, aku sudah berjanji untuk kuat. Tak akan kusia-siakan kerelaanmu menyerahkan kebersamaan kita demi kehormatanku; perempuan yang katamu tak pernah selesai kaucintai. Barangkali aku juga. Tapi cinta yang dewasa tahu memilih kapan seharusnya keindahan dirayakan. Kau benar, segalanya memiliki waktu yang disebut tepat. Terima kasih.

Minggu, 19 Mei 2013

Jika kata-kata sudah bertemu dengan ujung jariku, kau tahu apa yang masih mungkin kusembunyikan tentangku? Tak ada! Sama sekali tak ada! Maka tak perlu mengajakku berkenalan. Sampai kesini, membacalah saja!

Oh ya, mengenai mana fiktif dan bukan fiktif disini, kau pikirkanlah saja sendiri. Sekian. <3 u all. ^_~

Perihal Aku, Kau, Tulisan-tulisan, dan Berbagai Macam Alasan


Kau tak pernah menulis tentangku. Mana tulisan-tulisanmu yang tentang diriku? Mana puisi-puisi yang biasa kau buat untuk banyak wanita sebelum aku? Kemana semua kata-katamu yang manis itu? Takluk kah? Sebab apa? Aku terlalu indah? Ah, sudahlah, aku memang tak pernah sedikit saja kekurangan kenarsisan.
Aku menulis ini atas permintaanmu. Sebuah short message masuk di telepon genggamku. Boleh jujur, saya rindu membaca tulisan-tulisanmu di blog. Aku terharu sekali membacanya. Kubalas cepat. Itu kalimat pertama yang paling indah, yang kuterima hari ini. Dengan lebih cepat lagi balasanmu masuk Serius, saya ngefans dengan tulisanmu. Sumpah. Sukaaa gaya menulismu; genit dan cerdas menurut saya, cukup bisa dikagumi. Tulis yang tentang saya yah.
Dan aku senang sekali membacanya hingga tak tahu harus mengatakan apa. Sudah lama tak kurasa perasaan dikagumi yang olehmu. Kenyataan yang dulunya kukira hanya kau ada-adakan. Aku menuliskan ini sebab message itu. Tak lain.

            Pada suatu waktu aku benar-benar menagih tulisan-tulisanmu. Kau banyak menulis tentangku kau bilang, hanya tak pernah kau posting. Aku tahu kau hanya ingin menyenangkan hatiku saat itu. Aku menulis tentangmu jauh lebih banyak ketimbang kau sendiri. Entah mengapa, Aku yakin pasti. Meski kenyataan ini tak bisa dipungkiri; kita memang sama-sama jarang saling menuliskan satu sama lain.
            Pada sebuah kisah selain kita. Aku pernah memikirkan ini sangat lama. Mengapa semakin orang-orang merasa saling memiliki dan tak mungkin berpisah semakin ia kehilangan puisi dalam dirinya? Orang-orang bisa menulis sangat banyak saat ia sedang kasmaran-kasmarannya, saat sedang luka-lukanya, saat sedang rindu-rindunya, saat kehilangan, saat sendiri, saat mengagumi, saat ia sedang risau. Bukan pada perasaan tenang dengan pikiran yang baik-baik saja. Apakah karena kebersamaan yang lama selalu menghapuskan kekaguman-kekaguman? Apakah karena jalinan yang damai tak lagi memerlukan kata-kata untuk menghidupinya? Aku mempertanyakan banyak hal. Dan aku menemukan diriku memahami itu baru setelah kutagih tulisan-tulisanmu.
            Aku senang sekali menulis, kau tahu sejak aku duduk di bangku SMP. Aku pernah jatuh cinta. Pernah mencintai seseorang cukup lama. Aku mendapati diriku pada suatu waktu menyesali mengapa tak pernah kutuliskan tentang dirinya sama sekali. Ia meninggal oleh sebuah kecelakan suatu ketika. Aku sedih. Aku tak mengikuti final Bahasa Indonesia karena jatuh sakit. Kebetulan aku sangat dekat dengan dosen Bahasa Indonesiaku—beliau tak memiliki putri dan beliau menyayangiku, itu yang kutahu. Beliau menanyakan perihal aku kepada sahabat terdekatku yang kebetulan sekelas dalam kuliahnya. Akhirnya beliau tahu dan mengajakku bertemu. Ya, aku harus mengganti final. Hari itu beliau membersamaiku menangis di lantai dua MKU, menghadiahi hatiku banyak sekali nasihat dan petuah. Beliau tak memberiku soal, tak memberiku tugas yang terkait dengan perkuliahan. Pengganti finalku sederhana saja; aku menuliskan tentang orang yang kucintai itu dalam bentuk tulisan yang terserah. Cerpen, puisi, atau bahkan catatan harian yang tak baku, lalu kuserahkan padanya. Beliau katanya tak ingin memberatkan pikiranku yang sudah kalut. Tapi tugas itu rupanya menjadi lebih berat. Aku tak pernah menulis apa-apa tentang orang itu. Aku telah melewati masa guncangan berat selepas ditinggalkannya. Aku sedang tenang. Dan aku tak bisa menulis. Lebih-lebih untuk dipaksa memutar ulang kesedihan itu. Akhirnya apa? Kudapati diriku semester ini duduk kembali di bangku kelas MKU, mengulangi Mata kuliah Bahasa Indonesia yang oleh banyak sekali orang tak bisa dipercayainya.
            Ya, aku menuliskan hal diatas bukan sengaja membuatmu cemburu. Hanya ingin kukatakan, aku pernah mencintai dan bersama seseorang pada sebuah tenggang waktu yang cukup lama. Kami bertemu hampir tiap hari. Suatu  hal yang membuatku tak sering-sering mengakrabi rindu. Fakta pertama yang membuatku jarang menuliskannya; aku jarang merindu. Kami kerap bertengkar, namun ia benci pertengkaran, tak pernah lebih sehari, ia akan datang lagi padaku meminta maaf. Fakta kedua; sebenarnya hubungan kami damai. Aku mungkin mengaguminya awal-awal, namun kebersamaan selalu membuka lebih banyak tirai-tirai kekurangan antara satu dan lainnya, ya, aku jadi lebih sibuk menjaga hatiku dalam posisi penerimaannya ketimbang disibukkan untuk mengagumi. Itu fakta ketiga. Ah, masih banyak lagi fakta lain. Aku tak bisa merumuskan semua hasil pemikiran dan perenunganku mengenai keterkaitan-keterkaitan dan kemungkinan-kemungkinan itu. Satu yang kutahu, satu saja pada akhirnya yang bisa kukatakan. Ketika bersama, kadang keindahan menjadi cukup untuk dirasakan saja, untuk memukim di dada kita saja. Tak lebih. Sebab kata-kata lebih sering mengganggu. Di lain waktu, lebih sering tak memadai. Perasaan-perasaan kita kadang lebih besar untuk sebuah kata bahagia, juga kadang lebih luka dari kata sedih. Kita berharap menemukan kata lain yang lebih mumpuni, namun tak menemukannya kecuali di dalam dada kita sendiri.
            Aku menemukan diriku hari ini mengandung sebuah perasaan yang lebih megah untuk kuwakilkan dengan hanya kata; cinta—yang lebih sering dijadikan orang lain permainan—kepadamu. Kesadaran itu selalu mampu menyabarkan hatiku dalam tiap-tiap kemunculan cemburu, terhadap pertanyaan-pertanyaan perihal mengapa lebih banyak kau tuliskan perempuan lain ketimbang aku. Aku mengerti, satu-satunya hal yang selalu kupercaya; kau sedang sangat mencintaiku—saat kau tak sedang menuliskan apa-apa tentang kita. Dan, hingga detik terakhir kuselesaikannya catatan ini, aku belum membaca apa-apa yang darimu. Kau mesti mencintaiku, dan aku bahagia. Sudah cukup bahagia.

***

            Oh ya, kau mungkin bertanya lantas mengapa aku menulis catatan—yang tentang kita—ini. Apa aku sedang tak mencintaimu? Ah bukan. Sama sekali bukan. Kau harus tahu, aku menuliskan ini mula-mula hanya karena kelewat bahagia dengan short message-mu di atas. (Sudah kukatakan kan, dari hasil pengamatanku, perasaan dikagumi sanggup membuatmu lebih banyak menulis) Namun tak kuselesaikan kemarin. Sekarang, aku sedang dalam posisi yang sangat merindu, siang tadi kita bertengkar dan hingga sekarang jangankan berbaikan, kita bahkan masih memilih tak saling menghubungi. Posisi yang baik buatku untuk terus-terus memikirkan dan menemuimu lewat kata-kata, lewat catatan—yang kupilih untuk menuntaskannya—saat ini juga.

Sabtu, 18 Mei 2013

Tiba-tiba Ingin Kutuliskan tentang Adik-adikku Disini


[Naufal Khalil Mubarak Masbah, Halil]


Manusia yang tidak menyukai manusia (baca: keramaian). Tak suka diajak jalan ke Mall. Jika keluarga pergi makan bersama, dia hanya akan minta dibungkuskan. Jika tak kau belikan ia baju baru, jangan harap ia akan beli sendiri meski bajunya sudah sobek sana-sini. Saking tak sukanya dengan manusia, sejak kecil jika giginya goyang, ia tak pernah ingin ke dokter gigi untuk mencabut giginya itu, alhasil, jadilah ia manusia dengan gigi yang penuh dan bersusun-susun di gusinya. Senang hidup di kamarnya yang berantakan, bermukim diantara tumpukan buku dan tugas-tugas juga laptop bahkan hingga larut malam. Ia paling jenius diantara kami, jelas. Tak hanya jenius, ia juga kreatif dan berjiwa seni. Ia banyak meniruku untuk hal itu hoho. Bicara seperlunya. Jika tak suka tak segan berkata tak suka, tak memedulikan perasaanmu. Membenci ke-lebay-an.
Seseorang yang jika kau beri apa-apa dan tidak disukainya, sampai mati juga tidak akan dia gunakan meski kau menangis darah. Seseorang yaang jika lagi care-care-nya enak sekali dimanfaatkan *eh.
Anti dengan jeans ‘botol’, kau tahu apa yang dikatakannya saat kubelikan ia celana seperti itu? “Laki-laki yang menggunakan ini tahu, sadar mereka menyiksa diri. Tapi tetap memakainya. Tahu demi apa? Gaya. Hah, Appa namanya itu kalau bukan bodoh.” Kau dengar, luar biasa yah?. Ia pulalah manusia yang jika berjalan tidak suka menatap ke bawah (angkuh sekali kan? haha). Satu dari entah berapa orang di muka bumi ini yang dengan enteng mengataimu ‘alay’ saat kau ucapi selamat ulang tahun. Namun, dialah satu-satunya partner ‘telur’ sejatiku di rumah. Ya, dia membenci kuning telur, dan saya membenci putih telur. Dalam hal ini, kami memang soulmate untuk mata sapi.
            Dulu, duluu skali. Ketika masih SMP, kusadari ada hal tak beres dalam diri adikku ini. Ia terlalu penyendiri. Aku merasa itu terlalu tak wajar. Kau bayangkan, suatu hari aku naik angkot dan melintas di belakang sekolahnya. Aku melihat adikku itu duduk mematung seorang diri saat jam istirahat di dekat semak-semak, menatap kosong ke depan dan itu sangat mengerikan. Mirip orang putus asa dan tak punya harapan hidup, di lain sisi juga mirip orang dengan gangguan kejiawaan. Membuat bulu kudukku bergidik, sungguh. Kulaporkan hal itu kepada Ibu. Kusarankan agar membawanya ke psikiater atau therapis. Tapi kau tahu apa tanggapan Ibu? Aku keterlaluan! Aku mengada-ada!. Ya sudah. Suatu hari, ketika sudah SMA. Seorang guru melaporkan kepada Ibuku bahwa ketika ia mengajar, entah oleh sebab apa, tiba-tiba wajah Halil memerah. Merah sekali dan matanya membulat. Teman-teman disekitarnya terkejut dan menyingkir. Halil lalu mundur ke belakang dan bersandar ke tembok, mungkin untuk menahan diri. Ia terlalu pendiam untuk bisa mengungkapkan perasaannya, barangkali, kali itu emosinya terlalu memuncak. Kau tahu akhirnya? Ibuku sendiri yang lalu memintaku mencari therapist untuk Halil mengingat saat itu aku sedang aktif-aktifnya menggeluti dunia training, dan cukup kenal dengan beberapa ahli hipnoterapi. Aku mencoba mempertemukan Halil dengannya tapi agaknya sulit. Kemudian aku sendirilah yang disarankan melakukan pendekatan interpersonal terhadap dia. Halil mungkin tak punya teman bicara. Aku bersyukur itu cukup berhasil. Tak lama, ia mulai terbuka dan senang menanyaiku berbagai macam hal. Yang kutahu, meski tak bisa disebut dekat, paling tidak akulah satu-satunya saudara yang paling dekat dengannya. Sampai saat ini, jika ibu ingin menegur atau menyampaikan sesuatu yang mungkin akan melukai perasaannya, pasti melaluiku dulu.
            Di bangku perkuliahan ini, adikku sudah mulai bergaul. Meski masih sangat sentimentil, setidaknya Ia tak lagi segelap dulu. Aku bahagia. Tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. Oh ya, ada satuu bagian yang sempat membuatku tertawa tentangnya baru-baru ini. Ia memilih UKM PSM. P-S-M, Paduan Suara Mahasiswa. Kukira ia mengada-ada. Tapi ia sungguhan serius. Kutanyakan hal itu padanya berkali-kali, “Serius kau masuk PSM? Serius?”, “Iya. Kenapakah? Santai aja kalee..Nda usah kaget begituuhh.” Glek! Masalahnya satu saja; aku tak pernah tahu Halil punya suara bagus. -_-



[Sarah Nurul Lathifah, Nunu]


Perempuan tersangar yang pernah menghidupi takdirku. Ya, perempuan yang bahkan dari jarak 10 km sudah bisa kau dengar suaranya, saking lantang dan menggelegarnya. Manusia yang baru-barunya dalam hidupku kulihat saat sedang malas diganggu enteng mengusir pulang teman-temannya menggunakan kalimat sarkasme. Perempuan dengan kening yang tidak pernah diluputi kerut, saking seringnya ngambek. Aku tak bosan mengingatkannya dengan nada mengejek berkat nama Lathifah yang diberikan bapak. Lathifah berarti lembut. Dan ia tak ada lembut-lembutnya sama sekali, ck.
Adikku ini sanggup berada di depan layar monitor tiga hari tak henti-henti hanya untuk menghabiskan drama korea. Menggilai Yesung dengan face yang kupikir kekanakan dan tak ada cakep-cakepnya sama sekali (tak pernah aku habis pikir).
Perempuan dengan tangan yang jika sudah mencengkrammu lebih besi dari tangan lelaki inii menjadikanku korban langganan penganiayaannya tiap hari, perempuan malang yang lembek dan tahunya cuma menangis, memang sasaran kebengisan yang empuk. Aku dijulukinya cengeng. Dan dia membenci perempuan lemah. Ia tak pernah pacaran, buang-buang waktu menurut dia. Untuk satu hal ini aku tak pernah henti menyukurinya, setidaknya adik perempuanku satu-satunya tak tercemari hal-hal tak benar dari pergaulan semacam pacaran. Aku cuma tahu ia pernah menyukai seorang laki-laki yang itu pun tak kutahu namanya. Jika ada lelaki yang kujatuhcintai lalu membuatku menangis, hanya akan dijitaknya kepalaku lalu dibisiknya pelan, “Hey, Bodoh. Sadar! Cantik-cantikmu, mau-maumu dibuat menangis laki-laki. Ckck”
Dulu ia pernah insyaf, sudah menggunakan jilbab menutup dada, sudah menggunakan gamis meski ditentang oleh ibuku karena dipikirnya itu terlalu cepat, bukan jilbabnya, tapi gamisnya. Dipikirnya juga itu berkat intervensiku dan aku kena marah. Tapi aku tak peduli, dan aku senang-senang saja semua gamis-gamisku dipreteli olehnya. Suatu hari ia naik ojek menggunakan long dress ter-ter-ter-favoritku dan tersangkut di trali motor tukang ojek itu, bajuku hancur. Ia mengirimiku sms permohonan maaf yang sangat menyedihkan. Untuk pertama kalinya kutahu bahwa dia mesti sangat galau. Hingga pagi ia menginap di rumah temannya, tak pulang ke rumah. Kutelepon ia berkali-kali dan mengatakan bahwa aku tak marah, namun ia tetap ketakutan, tidak hanya padaku tapi juga pada ibu. Esoknya, ia pulang dengan mata yang sudah bengkak. Sejak saat itu, ia kembali pada jeans dan jilbab ‘lempar-lempar’ nya. Trauma, aku mahfum.
Aku tak pernah memaksakan apa-apa terhadapnya. Aku tahu ia lebih dewasa dan punya pikiran terbuka ketimbang aku. Dengan sendirinya suatu hari ia berjanji kepadaku, “Kalau kuliah saya akan pakai rok, Fiqah. Tenang saja.” Dan aku hanya tersenyum, mengaamininya dalam hati. Aku tak ragu, ia orang yang teguh. Pada prinsipnya maupun pada janjinya.



[Sayyid Dzaky Zuhair Masbah, Iid]


Ia sudah tidak tinggal serumah dengan kami sejak usianya enam tahun. Sejak ia pindah ke Surabaya dan diasuh oleh tante dan omku, aku baru dua kali bertemu dengannya. Suatu kenyataan yang membuatku memang tak tahu betul ia tumbuh dengan karakter macam apa. Paling hal-hal seputar masa kecilnya ini saja yang kuingat.
Saat kecil, adikku ini bajingan sekali. Dalam seminggu bisa tiga kali ibu membeli sapu berkat kenakalannya. Eit, bukan karena sapu itu digunakan oleh ibuku untuk mencambuknya yah. Ibuku adalah perempuan yang paling tak pernah memukul anak-anaknya, yang lebih sanggup menangis daripada marah (hm, aku sayang Ibu). Adikku yang satu ini, jika ada maunya akan memukul segala benda dengan sapu, diberantakkannya barang-barang, dilempar kemana-mana, sampai sehancur-hancurnya. Punya dua anak kecil macam dia saja di rumahku saat itu, sudah cukup membuat keluargaku bangkrut.
Ada satu part dalam ingatanku yang paling abadi menyoal Iid. Seperti biasa, ia selalu merepotkan ibu dan pembantu yang masih bekerja di rumah kami ketika itu. Jika sudah pulang sekolah Iid akan sulit sekali dilarang keluar berkeliaran. Orang tua mana yang bisa tenang jika anaknya main di jalanan tiap hari, di siang bolong pula. Kadang belum ganti pakaian, selalu tak pernah makan siang. Tiap hari pembantu kami harus menguras keringat lebih dalam untuk mengejarnya dengan makanan. Akhirnya ibu memutuskan, jika ia pulang, pintu rumah langsung dikunci dan ia tak bisa lagi kabur. Tapi, kau tahu tidak, ia lebih cerdik dari ibuku. Selama beberapa hari ibu memerhatikan dengan sedikit bingung mengapa anak ini jadi hobi memakai pakaian double di balik pakaian seragamnya. Ternyata, kau tahu, jika sudah sampai di depan pagar, ia tak langsung mengetuk, dibukanya dulu semua seragamnya, ia gantung di pagar, tas nya juga. Baru dia teriak. Jika batang hidung orang rumah sudah kelihatan, ia langsung tancap gas. Sebuah kecerdikan yang sanggup membuat orang-orang berkali-kali mengurut dada. Haha.
Satu yang kutahu mengenai adikku itu sekarang. Ia sudah lebih baik. Sudah sangat baik bahkan. Tanteku adalah perempuan yang sangat disiplin dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan moral. Selama dibawah asuhannya aku tahu, adikku tak pernah dididik menjadi laki-laki yang manja, aku tahu betul hal tersebut.



[Shadiq Far’ras Mufaddhal Masbah, Faddal]


            Berbicara masalah manja, kami bersaudara akan sepakat menunjuk serentak ke arahnya. Ya, ya, ya, adik bungsuku ini kebetulan sekali masuk dalam mayoritas anak-anak bungsu secara umum; manja. Hh, jika ia lupa dimana menaruh kaos kaki saja, dia takkan berhenti menelpon ibuku meskipun ia tahu betul bahwa ibu tak akan pulang hanya untuk mencarikannya kaos kaki. Lalu buat apa? Curhat saja mungkin, biar lega sehabis berbagi rasa (baca: merengek). Sampai dia duduk di bangku SMP ini, ia masih tidur bersama Ibu. Hm, kalau melihat dia, banyak yang berpikir dia masih SD karena tubuhnya memang kecil, beda dengan adik laki-lakiku lainnya yang pada bongsor semua.
            Tapi kalau ngomongin masalah selera, masalah objektivitas, kasih ke dia. Dia punya selera yang bagus dalam hal makanan maupun pakaian, meski mungkin belum untuk dirinya sendiri. Tapi dia pandai menilai hal-hal bagus. Ibu dan aku senang menanyai pendapatnya sehabis berpakaian atau hendak bepergian. Jika dalam pandangannya jelek, ia akan mengatainya jelek. Ia tak segan-segan mengatakan, “Kayak pakaian mau ke pasar, Ma.” Atau “Kelihatan gemuk”, “Kayak Ibu-ibu.”, “Lebih cantik kalau kau pakai jilbab segitiga.” Atau sejenis itu, termasuk kalau dandanan kami kelewat menor dan tidak sempat menyadarinya. Lalu, kalau bagus juga dia tak segan memuji. “Ya, sudah cantik.” Atau semacamnya. Yang sakit itu kalau sudah menyoal makanan dan ia dengan tak berperasaan mengatakan padamu yang sudah capek-capek masak; tidak enak! Hm.
            Harus kukatakan sebenarnya adikku ini cerdas. Hanya saja malasnya tidak ketulungan. Tulisan tangannya hancur. Sama sekali tak mewarisi tulisan emas dan ketekunan bapak kami. Andai kata ia sedikit lebih bergairah dalam belajar, aku tahu ia bisa lebih berprestasi. Kuamati ia punya daya serap yang baik. Tapi tak bisa disalahkan sih. Kulihat ia cenderung lebih meminati segala yang berbau seni. Menggambar, Musik. Aku mahfum. Meski orangtuaku tidak. Itulah!
            Ada sedikit hal yang berbanding terbalik dalam dirinya. Belakangan kupikir ini masalah pola asuh saja. Sejak bapak meninggal, Ibu mengurusi kami seorang diri. Sementara Ibu adalah perempuan yang tak bisa keras. Sedikit hal yang kupikir sangat memengaruhi kami tumbuh menjadi anak-anak yang malas dan manja. Oh ya, kembali. Di luar kata manja yang kulekatkan pada diri adikku di awal. Aku sangat menyayanginya sebab ia sebenarnya anak yang empati dan punya kepedulian tinggi. Di usia yang masih kanak saja, ia bisa tampak lebih dewasa dari aku, kakak paling sulungnya sekalipun. Cara ia berbicara. Kemampuannya memilih kata, caranya bersikap. Kadang-kadang kami sering dibuatnya tak percaya.
            Bisa kau bayangkan, ia pernah ditawari oleh tanteku untuk ikut tinggal bersamanya. Dengan tenang sekali, ia tersenyum begitu takzim-nya, menghela napas panjang, lalu menjawab dengan begitu matang dan mantap, “Akan saya pikirkan dulu. Beri saya waktu.” Wah. Umur segitu, kalau itu aku yang ditanya, paling cuma bisa cengengesan.
            Terakhir, ini yang paling tidak akan bisa kulupakan tentang  Faddal. Suatu hari, Ibu pulang kampung. Aku masih SMA ketika itu, dia kelas 4 SD. Keadaan memaksaku mengurusi rumah dan adik-adikku sendirian. Baru kali itu Ibu pergi lama dan hanya membiarkan kami hidup berempat di rumah. Dan baru saat itu juga kusadari betapa repotnya tanpa Ibu. Aku mencuci semua pakaian mereka, mencuci piring, menyapu, memasak (ah, maaf. Lebih tepat disebut bereksperimen dengan bahan makanan) yang sama sekali bukan aku. Sesuatu yang jarang kulakukan, pasalnya selalu. Selalu dan selalu semua hal di rumah ini dikerjakan oleh Ibu saja. Aku lelah, lelah bukan main. Pada suatu malam, Halil dan Nunu bertengkar hebat. Aku terlalu capai untuk sebuah pertengkaran yang membuat seisi rumah kembali berantakan, bahkan untuk sekadar marah-marah. Aku menangis hari itu. Terisak-isak di depan mereka semua. Faddal, dengan bijaksana, dengan begitu tenangnya, begiitu lembutnya berkata kepada dua orang Kakaknya itu, “Halil, Nunu. Sudah-sudahmi itu. Nda kau lihat kasihan itu Kakamu menangis. Capeknya meki kasihan itu Fiqah na urusi, baru dikasih berantakan sekali lagi rumah. Sudahmi Halil, Nunu.” Demi Tuhan, itu untuk pertama kalinya adikku itu membuatku terharu. Keharuan yang tak akan pernah kulupakan. Tak akan pernah.

···

            Memiliki adik-adik seunik mereka adalah sebuah warna. Selalu ada cerita tak terduga. Mereka memberiku kehidupan yang tak datar. Mereka anugerah. Jika aku langit, bagiku mereka pelangi. Sesenang apapun kami bertengkar dan berselisih, kami tahu, kami selalu saling menyayangi.

Kamis, 16 Mei 2013

sebab menulis mengekalkan ingatan, sebab tulisan mengekalkan penulisnya, sebab kebaikan yang terus terbaca mengekalkan pahala bahkan setelah hayat tak dikandung badan. aku menulis, bahkan lebih dari sebab-sebab itu.


Sedikit Kenyataan Mengenai Perempuan yang Kau Cintai Ini



      Ah, tak tahu, adakah perempuan yang sebaik aku menyoal kejadian ini. Kau tahu, dengan tak tahu diri pada sebuah pagi aku mengirim surat kepada seorang pria. Surat? Ah iya, aku merasa sms tak mumpuni untuk menampung segala yang ingin kukatakan. DM, pun inbox Facebook. Kuputuskan menulis surat untuknya. Sudah lama juga aku tak berkirim surat. Modernisasi merampas banyak tinta dan kertas dariku lalu memindahkannya pada tombol-tombol yang entah sejak kapan dijatuhcintai ujung-ujung jariku, pun kau, mungkin. Pria ini bahkan lebih banyak kutulis ketimbang permintaanmu padaku untuk selalu menuliskan apa saja perihalmu lalu meminta membacanya. Pria yang tak pernah henti kuminta kau untuk tak perlu mencemburuinya. Pria itu. Ya, pria kekasih hujan itu. Maafkanlah. Aku tahu kau akan sangat marah hingga selesai membacanya.

Assalamu alaikum. Mm, saya tidak tahu menyusun kalimat pembuka yang baik di hadapan sepasang mata seorang pria yang tentu sudah banyak memesrai kekata indah. Jadi barangkali akan menjadi lebih baik jika saya langsung saja. Toh, kakak tentu terlampau sibuk untuk sehelai surat dari perempuan yang bahkan tak kakak kenal. Ah, Maaf, sok akrab sekali saya memanggilmu dengan sapaan kakak. Namun semoga kau tak keberatan. 
Saya hanya akan menyampaikan beberapa kenyataan padamu. Bacalah saja surat ini hingga selesai, dengan sabar. Kau tak mengenalku. Itu kenyataan pertama. Kenyataan kedua, siapa pula yang tak mengenalmu, Kak. Saya mencintaimu entah sejak kapan, kau salah jika berpikir barangkali hanya oleh tulisan-tulisanmu saja saya jatuh hati, atau barangkali saya perempuan pengidap penyakit bernama obsesif. Sudah kuteliti hal tersebut sekian lama hingga berani kusimpulkan demikian, hingga dengan tak tahu malunya menuliskan surat macam ini. Itu kenyataan ketiga.
Cinta tak memerlukan alasan. Kak, tidak tahu, berhakkah kupakai kalimat tersebut untuk konteks ini. Namun, saya sungguh berharap kau mengerti. Saya bukan perempuan pandai, bukan perempuan yang cantik, tak pula sebaik kekasih-kekasihmu sebelum ini yang tak tahu mengapa hingga sekarang tak pernah ada habisnya kau menuliskan hal-hal indah tentang mereka, semenyakitkan apapun itu kau rasa. Saya-kau tahu, barangkali bukan calon istri yang baik, tak pandai memasak, tak punya pikiran yang dewasa, senang menangis, dan barangkali pula egois. Tapi tak bolehkah hatiku menjatuhkan cintanya padamu? Aku memohon maaf untuk kelancangannya. Semoga kau bermurah memaafkan.
Ah, maaf. Saya terlalu gugup, surat ini jadi lebih panjang dari yang kukira, padahal saya sudah berjanji tak menyusahkan matamu pun mengambil waktumu banyak-banyak. Baiklah, singkatnya begini; maukah kau menjadikanku istri? akan kupastikan ibuku menerima pilihanku ini, kujanjikan pula akan berusaha menjadi sebaik-baik perempuan yang mengisi rumahmu, yang selalu berjalan setia di sampingmu. Semoga, kau membaca ini tak sambil tertawa, Kak, karena saya menulisnya hingga berurai air mata. Semoga kau berkenan menemuiku di tempat dan waktu yang kusertakan bersama surat ini. Sejenak saja, bahkan jika kau tak berkenan membahas ketidaklogisan ini. Tak mengapa, cukup membawa sebuah kata, buah tangan untuk kubawa pulang. Entahkah 'iya' ataupun 'tidak'. Sekian. Terima kasih telah sabar membaca, Kak. -Az
 ***

      Aku benar-benar gila sekali memilih cafe ini sebagai tempat bertemu. Tempat pertama kali aku menyaksikan sebuah kekaguman lahir lalu mendewasa menjadi cinta kepada pria itu, dalam waktu yang sama sekaligus menjadi mula aku ditabrak tatapanmu. Maka seharusnya aku memang tak perlu terlalu heran bagaimana suasana-suasana ganjil mengepungku dalam satu serangan terus menerus kali ini. Maaf, sekali lagi aku menjadi samar mengenali mana lagi rasa bersalah dan menyesal. Tak sampai hatiku berterus terang padamu, terpaksa catatan ini kutulis dengan harapan yang besar kau mengerti. 
      Pria itu tak datang. Kau senang? Ia tak datang hingga empat jam lebih aku menunggu, menghabiskan dua cangkir kopi dan segelas cappucino ice. Ya, empat jam, lebih dua puluh tiga menit. Kuputuskan menyudahi seluruh aksi cinta tak masuk akal ini. Setidaknya sudah kuutarakan rasaku, paling tidak telah kuperjuangkan dengan sedapatnya yang kubisa. Kupikir memang beginilah takdir, bukan kekasih setia semua ingin. AKu berjalan gontai menuruni anak tangga dengan sebiji air yang masih menggantung di kelopakku. Ajaib, ia tak jatuh, berhasil tak jatuh sejak aku duduk disana, bahkan hingga aku beranjak. Seperti kecerobohan yang selalu kulakukan, aku tak sengaja menabrak pelayan cafe yang berada disana. Segelas penuh lemon tea menumpahi kemeja biru seorang pria yang berjalan tergesa di sampingnya. Seorang pria. Dan, ya Tuhan, pria itu adalah dia. Dia datang. Sialnya, bagian ini sebenarnya indah, namun terlalu mirip FTV. 
      Ia, aku, kami mematung dan saling menatap, lantas ocehan pelayan cafe seolah terhenti sebelum sampai di gendang telinga, waktu melambat, dan ah ya, rasa macam apa ini. Sekian detik saja, sekian detik lalu semua buyar oleh hentakan kecil di bahuku.
     "Dek, Ini bagaimana? Ade' dengar saya tidak sih?"
     "Ah, eh, mm, maaf, Mba. Akan saya ganti, Maaf."
     "Tapi pelanggan kami jadi ikut basah. Ade harus tanggung jawab."
     "Oh, tidak apa-apa. Tidak masalah." Laki-laki itu mendadak angkat suara, "Lagi pula saya memang ingin menemui dia." Apa? Aku? Ia mengenalku? Ya Tuhan.
      Pria itu lalu mengambil tanganku cepat dan menariknya pelan tanpa berkata apa-apa, meninggalkan sang pelayan yang sedang mengambil gelas yang terjatuh di lantai--yang ajaibnya tak pecah--,menuju sebuah meja. Tapi bukan meja tempatku menghabiskan empat jam dua puluh tiga menitku tadi. Aku menurut dan terlampau terkejut untuk dapat berkata apa-apa. Persendianku berasa lemah saat itu juga.
      Kami duduk bersisian, tidak berhadap-hadapan. Namun ia tak memandang ke depan melainkan sibuk menatapku. Masih tanpa suara. Mungkin ia masih berusaha mencerna semua ini. Kupilih tak mengganggu. Aku duduk dengan punggung tersandar menatap jauh kedepan, tidak ke matanya sekali pun, pasrah menunggu apalagi yang akan diperbuat takdir. Waktu terus merambat, dan hening masih berpesta diantaranya. Aku tak tahu apakah ia juga menunggu, menunggu pita suaraku menelurkan sekata dua kata paling tidak untuk memperkenalkan diri barangkali. Entahlah, aku hanya tak sanggup bersuara, bahkan mungkin sekedar mengedip. 
     "Dek, kamu sadar?" Akhirnya, akhirnya jatuh juga suaranya. Aku hanya mengangguk pelan, sungguh mendadak kehilangan kemampuan bicara. Tiba-tiba semakin berat kurasakan kesadaranku bertahan disana. Ia menghela napas, berkali-kali, dan setiap kalinya kurasakan darahku makin lambat melintasi paru-paru. Jeda kemudian mengisi sekian menit yang masih bisa kusaksikan dari arloji. Aku sungguh tak tahu apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba entah mengapa menjadi tak penting betul.  Aku ini kenapa aku tak tahu, aku hanya merasa semakin kehilangan diriku. Sedetik kemudian dibukanya lagi katup bibirnya, dan kali ini beserta sesemat senyum, masih sempat kutangkap samar kata 'maaf' dan 'iya' lahir dari sana lalu entah apa setelahnya. Semua samar, terus menyamar, kemudian gelap.

***

      Kehidupan punya dimensi yang acapkali tak kita mengerti. Seperti takdir, kehidupan juga punya cara tersendiri mengotak-kotakkan mimpi dan kenyataan.
      Aku terbangun di ranjang kamar tidurku dengan sebuah memori yang masih memutar. Aku sayangnya tak menangis, aku tak pula merasa bahagia. Yang pasti, harusnya kau senang, kisah itu tertakdir berjalan pada dimensi lain kehidupan yang kita sebut bukan kenyataan. Kau harus berterima kasih kepada Tuhan. 
      Selamat, itu cuma mimpi. Dan lelaki itu tak pernah menemuiku, aku tak pernah mengiriminya surat, aku tak pernah meminta dinikahinya, aku, dan aku tak mencintainya. Itu sedikit membuatku sedih. Aku ingin pria yang dalam mimpiku itu benar-benar didatangkan oleh  takdir segera seorang perempuan yang baik, lalu mereka menikah, dan aku punya bahan bacaan tentang sepotong kebahagiaan--yang kutanam di angan-angan dan doaku selama ini--yang menjadi nyata, tentang mereka--pada buku pria itu berikutnya. Ah! Sudahlah. Itu cuma mimpi. Selamat pagi, Cinta. Salahmu semalam tak berdoa untukku bermimpi indah. Hm.






Selasa, 14 Mei 2013

untuk seorang gadis yang oleh kekasihnya dipanggil; si gadis bergingsul manis



Hai, Manis. Semoga disaat aku menulis catatan kecil ini kau dalam keadaan terpenuhi segala kebutuhannya, lebih dari itu semoga sedang, masih, dan selalu dalam naungan rahmat-Nya.

Tak akan kutulis panjang-panjang. Tenang saja. Melalui catatan ini hanya ingin kuucapkan padamu; Selamat. Meski tak tahu kata Selamat-kah yang patutnya kuhaturkan. Namun kuberi kau selamat, yang anggaplah saja doa. Selamat, Ra, semakin berkurang saja jatah hidupmu. 21 tahun memukim di kehidupan bernama dunia tentu sangat panjang sekali kala diingat, namun aku tahu, 21 tahun ini kau habiskan dengan jauh lebih baik dariku, terbaca, terbaca dari perangaimu, prestasi-prestasi yang kau raih. Perlu kau tahu, itulah yang sejak dulu membuatku selalu mengagumi sosokmu.

Aku tentu bukanlah teman yang cukup dekat, tidak pula cukup baik, aku tahu tak pula cukup penting. Tapi cukup bagiku mengenalmu, belajar banyak hal darimu. Ah, aku ini naif sekali yah? Katanya kagum, tapi sepotong kado pun tak kuberi, surprice party pun tidak, bahkan telepon, sms. Tak ada. Semoga kau tidak berpikir aku lupa, atau sengaja. Aku hanya sempat berpikir; tidakkah doa yang diam lebih indah dari sekata selamat? Aku lupa, Ra. Aku lupa bahwa menunjukkan kasih bisa lebih mendekatkan hati. Maka kutulis catatan tak baku dan sederhana ini. Sedikit ungkapan selamat, dan selarik lampiran doa, semoga hidupmu di hari-hari mendatang dipenuhi berkah dan kesuksesan. Semoga semakin banyak manusia, yang mencintaimu, menyangimu, terinspirasi lebih dari aku. Ara, selamat mengulang tanggal kelahiran. Aku seorang kawan yang menyayangimu meski dalam diamku selama ini. Moga Tuhan mengekalkan kebaikan dalam dada kita, bersama, saling membaikkan.

Sekali lagi, Selamat Ara