Minggu, 30 Juni 2013

Selagi Kau Masih Bisa




Lukai aku sebanyak mungkin lagi.

Kutunggu matiku demi matamu yang berair sebab takkan mampu lagi melukai.

Ya, sebab takkan kau temukan mata yang lebih lapang bagi salahmu dari kelenjar air mataku.

Kutunggu matiku demi kesadaranmu yang mengerling sebab takkan lagi mampu mencari.

Ya, sebab takkan kau temukan perempuan yang lebih setia terluka untukmu selainku.

Bantu aku jatuh cinta sebanyak mungkin lagi!

Mencintaimu adalah cara tertragis untuk mati lebih dini.

Selagi kau masih bisa, lakukanlah yang kau suka!


Makassar, Juni 2013

disfungsi


diciptakan kata pada permulaan hidup
dikandung bahasa demi menggenapkan maksud-maksud
dilahirkan pena demi menjaga namamu dari uzur.
lalu mati, tak lagi perlu suami.


Makassar, Juni 2013

 

Image Source : here

A Little Hope

Terdengar dan terlihat bodoh. Tapi suatu hari jika mungkin dapat tiap hari, aku hanya ingin dituliskan sesederhana ini. Tak terlalu penuh metafora. Tapi perempuan mana yang tak suka? Ah!


Tentang Penemuan


Kita bertemu di persimpangan, rak buku. Saat hujan akan deras.
Bagiku, peluk itu adalah peluk tiga tahun untuk waktu yang menunggu.
Lenyap serupa serutan es pada tapak kaki.


Serupa gembok tua yang berkarat.
Kita dipertemukan untuk menghabiskan
masa kuliah, setelah itu ------------
berbalik lalu peluklah
aku sejadi-jadinya. Dan kita habiskan masa tua.


Jika keberhasilan hidup adalah sebuah penemuan,
maka aku telah menemukanmu.
Mencintaimu dengan jatuh cinta yang tak berubah oleh masamasa silam.




Pelita Raya, 20 Mei 2012. (01:58)
Sesaat setelah sms tidur terkirim.

(Puisi Kak Jumardan buat Kekasihnya)

Minggu, 23 Juni 2013

Catatan dari dan untuk Topi Jerami

Dalam catatan ini, hanya ingin kusampaikan terima kasihku. Nasihatmu akan benar-benar kupertimbangkan. Kau masih penulis yang kukagumi sejak dahulu. Kau masih sahabat pecinta kata yang baik hati. Tak ada yang berubah harusnya. Melalui ini, kuhaturkan pula ucapan selamat datangku kembali; padamu. Menyenangkan berjumpa sekali lagi dalam kata-kata, kan TJ?

Sekadar Menulis

oleh : Topi Jerami
 
Dear kawan-kawan pecinta kata yang baik hatinya, seperti yang sudah-sudah, diwaktu yang senggang, bila hari tidak sedang dikejar-kejar kerjaan saya memilih untuk santai sejenak bersama secangkir kopi dan beberapa buku bacaan sembari menyapa dan mengunjungi kawan-kawanku di dunia maya sekaligus menikmati beberapa puisi, syair dan beberapa jejak kata di catatan mereka. Seperti sekarang ini. Saya menemukan beberapa puisi yang membuat saya ikut terbakar didalamnya, tak jarang saya harus kembali memunguti sisa-sisa kenangan yang dihadirkan sipenulis dalam tiap jengkal rahasia kata-katanya dan tak jarang catatan kawan-kawan  di dunia maya yang sempat kutemui malam ini sangat pandai membuat saya "meleleh" tiap membaca puisi-puisi mereka.

Dari sini saya belajar banyak hal tentang mereka. Tentang gaya kepenulisan mereka, karakter mereka, pesan-pesan yang hendak mereka sampaikan, dan kelembutan dari kedalaman perasaan tiap penulisnya yang sungguh membuat saya kadang merinding dan diam terpaku saat membacanya. Akhirnya suasana-suasana seperti itu tak jarang kembali mengajak saya ikut menuliskanya. Tapi harus mulai dari mana, itu yang terkadang menjadi persoalan bagi saya. Terkadang kata-kata sulit keluar menjadi butiran kata yang berlompatan pada sebidang kertas di tiap lembar ke lembar berikutnya. Bukan karena kita kehabisan kata atau bahan untuk ditulis, melainkan kata-kata terkadang memilih hidup dan membaca untuk diri kita sendiri, menjadi bahasa yang mereka pilih untuk kita dengarkan di hati dan telinga kita sendiri tanpa ada yang melihat atau mendengarkanya hingga saya pun tak jarang kesulitan untuk memulai. Bila sudah seperti ini, terkadang saya pun mulai bingung untuk meminjam huruf dan butiran kata yang hendak saya tuangkan di atas selembar kertas. Kebanyakan, hanya saya dengarkan mereka (kata-kata) berbicara membentuk puisi dan syair yang saling bersahutan di telinga, ke dalam lobang-lobang hati, ke ingatan-ingatan yang memilih bermakam di dalamnya.

Seperti saat-saat seperti ini. Tengah malam, saat jemari gerimis pelan mengetuk jeda sunyi lewat denting tik-tak-nya di genting, tiba-tiba secara tak sengaja di antara sepi yang teramat jarang saya jumpai di Ibu kota, saya menemukan sekumpulan koleksi lagu klasik yang telah lama tergeletak tak dimainkan di komputer teman saya. Lalu perlahan untaian nada-nada nan halus itu menari dengan indahnya, membuai saya. Seolah-olah ada sepasang tangan yang tak terlihat menengadah di depanmu, mengajakmu untuk menyelami kembali lembar-lembar kenangan yang entah kapan terakhir kalinya kau buka dan baca lewat untaian nada-nada itu.

Entah, tapi mungkin baru saja saya merasakannya, Kawan. Awalnya ada sepercik kerinduan yang mulai memekar perlahan, tepat di antara jeda terpecahnya sepi. Seakan-akan nada-nada itu merayapi kepingan masa lalu yang terpencar di setiap ujung terjauh simpul saraf ingatan saya; tentang cerita ketika saya mulai mengakrabi malam, menjabat dingin tengannya, berbincang dengan sepinya hingga kemudian saya mulai terbiasa untuk bersembunyi di belakang kelam selimutnya, menikmati tiap detik yang berlari meninggalkan saya dan malam.

Tapi tidak untuk malam ini. Saya menemukan catatan yang berjudul "Pasungan Masa-Masa" ini di salah satu note milik kawan saya Azure Azalea. Saya tidak sendiri menikmati luka ibu kita, anda, ataupun kalian yang masih memiliki ibu atau pernah sempat memilikinya. Dalam catatan Kawanku itu, betapa saya harus membayar mahal tiap jerih payah orang tua kita. Kau benar kawan, api-api itu mulai membakar saya juga malam ini. Bila boleh, saya memlih terbakar di dalamnya demi bisa membalas kebaikan mereka yang kukira takkan pernah mampu kita balas. Meski demikian, saya senang membacanya. Ada sedikit kerinduan yang tersampaikan dan terwakilkan oleh catatan kawanku itu kepada ibu kita agar lebih bisa menghargainya. Hanya saja, kulihat beberapa waktu belakangan ini kau jarang menulis lagi di blog atau sekadar di facebook milikmu.

Terlepas dari itu, saya belajar banyak hal dari dia. Terus terang saya sangat salut pada kawanku itu. Semakin hari ia mulai terbiasa meramu kata-kata. Tiap jengkal kata-katanya sangat indah dan enak untuk dinikmati. Sejak pertama mengenal kawanku itu, meski belum pernah sekalipun benar-benar bertemu dan membaca catatan pertamanya, saya yakin suatu saat kawanku ini akan menjadi seorang penulis besar di negeri ini. Kenapa? karena saya melihat "laut" di matanya. Laut dimana matahari pun bahkan padam dan tenggelam disana. Ada satu hal saja yang kukira kau perlu sedkit benahi kawan, yaitu "hatimu" untuk tidak terlalu sering berlarut-larut dalam ''kegalauan'' yang mungkin sering melanda. Karana kukira kau akan sangat membutuhkanya untuk menyelam di dalam sana. Terlalu banyak hal yang aneh yang kan kaudapati dan juga membuatmu bingung untuk mengarunginya bahkan sebelum sempat engkau sampai di dasarnya.

Sekian dulu. Kuharap dirahasia dunia kata kata-Nya, kita semua masih sempat dipertemukan lagi. Dan meminjam kata-kata ajaib sahabat penaku Azure Azalea, sebelum berpamitan dan salam penutup dariku,

''Hari ini indah esok juga indah''


Ya, hari ini indah dan akan selalu indah sahabat,

kukira. . .



~Makassar, 14 Juni 2013~
http://arifkindu.blogspot.com/2013/06/sekedar-menulis.html

 

***

Segala Kasih dari Yang Mahakasih



"Tidak diberi seseorang itu," kata Rasulullah, "nikmat lebih besar setelah iman kecuali saudara yang shalih."


Kesadaran itu rupanya selalu lebih samar dalam garis-garis kegundahan. Betapa banyak nikmat yang diluputi pandangan kita sebab masalah-masalah dan hilangnya kedekatan jiwa dengan Empunya. Rasa-rasanya selalu saja yang kita punya dalam menghadapi aral-aral hidup hanya kesendirian saja. Melupakan bahwasanya Allah dekat, dan ke-Mahakuasaan-Nya melingkupi segala yang tak sempat akal dan rasa kita kira.

Hari-hari ini, di antara rentetan ujian yang masih, satu-satu cahaya itu menghilir. Ditunjukkan-Nya padaku segala yang mungkin Ia lakukan untuk membaikkan diriku, disentakNya dadaku dengan serumpun kewarasan mengenai hidup yang tak selalunya getir, pula bahwa saat dititipkanNya satu kesedihan, disertakan bersamanya jua kebahagiaan yang lain.

Air mataku selalu saja tak pernah tabah agaknya. Mengenang satu-satu wajah saudari-saudariku memerah lebih dalam lagi kelenjar haru. Tak pernah kusangka akan kumiliki saudari yang sungguh setia dan amat besar cintanya dalam ukhuwah ini. Mereka-mereka yang mau merepotkan diri menegur tiap-tiap salahku tanpa segan, tanpa lelah. Mereka yang selalu memilih bertabayyun meski punya pilihan untuk memercayai segala berita buruk yang mungkin tentang aku. Mereka yang tabah menanyakan kabar meski tak kugubris, bahkan mungkin meski selalunya mereka kulupakan. Mereka yang lengannya senantiasa terbuka untuk kusampiri. Mereka yang nasihatnya selalu sedia ketika jiwaku kerontang. Mereka yang dengan gagah tak hentinya merangkul dan merangkul semangatku tiap kali hendak berhenti. Pula yang kurasa lebih besar pedulinya terhadap diriku ketimbang aku pada diriku sendiri.

Ya, saudari-saudari macam mereka ini yang kumaksud. Mereka selalu menjadi tameng pertama jika ada pihak-pihak tak berkepentingan memasuki hidupku dan siap mengancam keimananku, mereka yang tak ada bosan-bosannya mengingatkanku untuk membatasi diri dalam aturan-aturan syariat, mereka yang kadang lebih dulu menawarkan pertolongan bahkan sebelum diminta, mereka yang menyedekahkan dirinya demi kebaikan yang selalu kami ikrarkan sebagai jalan kehidupan. Ya, Mereka. Mereka yang mencintaiku karena Allah. Kami tak sekandung, tak sesusu, namun sungguh ikatan apa yang lebih kokoh dari cinta yang dibangun atas dasar keimanan?

Kelak, aku akan benar-benar berterima kasih untuk amarah-amarah mereka saat aku bertutur terlampau lembut saat berbicara dengan lawan jenis, saat berlebihan dalam dunia maya, saat kesibukan menyita kehangatanku dari keluarga, saat ibadah-ibadahku tak karuan. Kelak, aku akan benar-benar berterima kasih, untuk mereka yang justru kerepotan mengurusi kuliahku yang sempat bahkan urung kupeduli, mengurusi beasiswaku, mengurusi niali-nilaiku, mengurusi amanah-amanahku, dan banyak hal lagi. Kelak, aku akan sungguh-sungguh berterima kasih untuk mereka yang sebegitu pedulinya memohonkan kepada orang lain agar memasrahkanku dalam kebaikan.

Aku sungguh akan benar berterima kasih sebab tak pernah memadai membalas segalanya. Telah begitu lama tak kutuliskan perihal mereka hingga tak dapat sungguh menerangkannya dengan baik. Banyak sekali yang ingin kutuliskan, banyak sekali nama yang ingin kutuliskan, namun bukankah doa selalu lebih berharga? Sampaikanlah jika kalian sempat, Aku mencintai mereka. Setulus-tulusnya sangat mencintai mereka karena Allah.... 


Makassar, 23 Juni 2013

Sabtu, 22 Juni 2013

Kepada Seseorang

 
Takdir punya banyak cara untuk memberi dan merampas. Beberapa hal dalam kehidupan kita dihadirkan bukan untuk kita miliki selamanya. Pertemuan berarti banyak hal. Sebuah permulaan untuk berjalan beriringan, boleh jadi pula untuk seterusnya saling memunggungi. Tapi, pertemuan kita rupanya tak sesederhana itu. Kita memilih singgah sejenak, menciptakan beberapa kisah untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Kisah-kisah yang ada untuk selalu menjadi alarm bahwa sejatinya pertemuan tak harus selalu dirayakan dengan tergesa. Kita pun memilih untuk berpisah. Entah pada perpisahan tersebut punggung siapa yang berbalik. Yang pasti, bumi ini (hampir) bulat, banyak garis yang mungkin. 

Kepada seseorang di dua tahun yang lalu; terima kasih ternyata masih mengagumi tulisan-tulisan tak bagusku. Tetaplah menempuh jalan yang lurus, tetaplah berjalan memunggungiku!


.Juni, 2013

Senin, 17 Juni 2013

Jelas Tak Jelas, Penting Tak Penting, Hanya Ingin Kuselamatkan Diriku dengan Menuliskan Apa Saja


Masa lalu adalah kampung halaman yang sesekali wajib kita jenguk. Bukankah dari sana kita lahir, menyusu, dan tumbuh? Masa depan lebih seperti daratan antara dua lempengan yang lebih sering berbentur dari perkiraan, sedang masa kini adalah rumah yang dapat runtuh kapan saja.
Bagiku, perjalanan ke masa lalu bukanlah sebuah kedatangan, melainkan kepulangan. Sehingga akan lebih tepat menggambarkan kondisiku saat ini dengan kata ‘pulang’. Diantara kisruh BBM yang mengganas di kota ini--meski aku adalah bagian kecil penentang--tapi aku sungguh tengah memilih pulang. Pulang ke masa lalu, menengok kenangan-kenangan yang tak pernah bosan mengirimkan surat. Barangkali diam-diam diperamnya pula gelisah mengenai nasib ingatanku yang bisa kian melonjak mahal untuk sekadar kembali bertandang. Ya, mungkin saja.

Cafe Danau

Aku berkeras menabung seluruh gairah untuk berjalan kemari. Pilihan untuk menikmati liburan di atas kasur berbantal kegalauan dan berselimutkan rasa malas adalah pilihan yang jauh lebih menggoda. Namun membiarkan diri terlelap berarti bersiap untuk menambah koleksi mimpi buruk bagi ingatanku yang tengah terlampau lelah.
Di tempat inilah sebuah anak kisah dari diriku lahir. Kubiarkan ia pulang bersua dengan ayah ibunya. Aku tak ingin mengasuh anak yang durhaka pada kenangan. Bagaimana bisa ada hidup yang selamat ketika lupa? Aku duduk, menjelma meja yang begitu patuh tetap tegak. Kupapah segala macam sajian yang anak itu perlukan. Anak itu melahap segala yang disediakan ayah ibunya. Beberapa cangkir air mata dengan warna berbeda, ada piring berisi senyum-senyum yang asin, toples tempat segela pertengkaran garing berada, pula semangkuk besar sup yang mengabadikan segala janji. Diantara kesemuanya, isi mangkuk itu saja yang tak sanggup habis. Ia ambil tangan ayah dan ibunya lantas memaksa mereka menyuapkannya agar tak bersisa. Tapi sungguh, bahkan tangan-tangan itu sendiri telah retak jauh sebelum berhasil ia genggam. Anak itu menangis dan aku berkeras tak berserong dari kukuh.
Orang-orang pulang pada kampung halaman bukankah tak hanya untuk menghabiskan makanan orang tuanya yang langka? Memelihara rasa masakan itu tetap kekal di kepala telah jauh dari sekadar cukup. Setidaknya, anak itu perlu berbincang lebih hangat pada orang tuanya, sekadar melepas kata-kata yang tak lagi bisa tertampung, membuat kesepakatan-kesepakatan, atau menikmati desahan-desahan napas pada hening, saling bertukar lengan, atau apa saja. Bukankah aku sanggup menjelma segala, semisal sapu tangan atau bahkan menjadi air mata itu sendiri jika matanya tak kunjung lelah jadi kemarau? Apa saja. Yang aku mau ia kantongi dari sana hanya sekotak kedamaian. Sehingga pada akhirnya kami pulang hanya setelah  berhasil membawa oleh-oleh itu. Bagiku begitu.

Jalanan

Ada dua tempat yang mana imajinasiku dapat membuka diri lebar-lebar; kamar mandi dan jalanan. Jika kepalaku sedang buntu, hatiku lagi badai, atau koleksi kewarasanku mati semua, aku akan mendatangi kamar mandi, berdiam diri, lalu merapikan kenyataan, kemudian membasuh muka. Jika mataku hujan, telingaku menumpul, tulang-tulangku melunak, akan kuambil kunci motor lalu berkendara kemana saja, memutar kenangan dan kemungkinan, lalu berharap tak segera sampai dengan doa bahwa setiap udara yang kuterobos mencatatkan segala itu—meski tak mungkin, kemudian singgah untuk benar-benar menulis.
Hm, tapi aku lebih mencintai jalanan daripada kamar mandi. Ah ya, tentu saja! Hf! Kau tahu, kamar mandi membersihkan kelemahanku, tapi jalanan meloloskan segala keganjilan. Antara kekuatan dan kegenapan, aku jauh lebih membutuhkan perasaan genap. Sayangnya, aku justru lebih mungkin sering mendatangi kamar mandi dibandingkan jalanan. Sehingga kapanpun aku sempat, seperti sekarang, berlama-lama di jalan adalah pekerjaan yang tak ingin kuselesaikan.
Selain itu, terdapat banyak cerita yang mungkin mengutuhkan diri dari jalanan ketimbang kamar mandi berukuran tiga kali tigaku. Aku butuh setidaknya kecepatan kurang dari 20 km/jam untuk menyelamatkanmu dari tak tercatat oleh waktu. Ya, jika tidak begitu, catatan ini tak akan pernah terbaca, dan jika tak terbaca, kita berdua akan lebih mudah mati oleh lupa. Di duniaku, lupa adalah dosa yang selalu hanya bisa ditebus oleh lupa-lupa yang lain.

Rindu

Menurutmu rindu sebenarnya beralamat dimana? Apa yang rindu perlukan? Bagaimana menjaganya agar tak berkeliaran? Sebaiknya kapan ia ditemui? Lalu siapa saja sahabat dekatnya? Dan kenapa rindu mesti diciptakan?
Pertanyaanku ini bodoh semua. Tapi paling tidak, menjawabnya satu-satu mungkin akan sedikit mengubah interpretasimu tentang air yang membanjir di pipiku senja ini.

Ponsel

Tak banyak persoalan yang dapat membiak ketika selesai dibincangkan dengan benar. Kita beruntung, kemajuan ilmu pengetahuan telah berhasil memprakarsai teknologi bernama Telepon Seluler. Bukankah itu jadi sangat membantu sepasang manusia menyelamatkan diri dari rindu, masalah, lupa, ketertinggalan, kebosanan, dan banyak hal yang lain? Meski kantong kita kian karat mengaminkan benda ini sebagai tambahan kebutuhan primer yang menyaingi sandang, pangan, dan papan. Meski kepekaan kita kian hari justru kian tergerus. Meski adakalanya, ketimbang manfaat, lebih banyak kesia-siaan yang lahir dari bersahabat dengan telepon genggam. Meski.. Meski.. Ah sudahlah!
Yang pasti—kupikir, jika seseorang yang memiliki ponsel masih tak selamat dan berhasil menyelamatkan orang lain dari kata rindu yang sangat, maka ponselnya itu lebih baik ia kuburkan ke dalam tumpukan prangko lalu pergi menanggantung dompetnya di hidung! Setelah itu, akan lebih baik lagi jika diambilnya handuk lantas berbenam di gayung. Itu aku.

Kesediaan

Petang ini, setelah melalui beberapa jam perjalanan pulang dan kembali, kutemukan kekata ini tahu-tahu menubuh di otakku; Sebenarnya setiap manusia punya satu nama depan yang seragam dari langit, namanya kesediaan. Nama belakangnya saja yang berbeda.
Sekian.

***


Picture source : here
           

Senin, 10 Juni 2013

Pasungan Masa-masa



Di suatu kanak, dari lidahmu
kau sesap susu pada buah dadanya
demi menghidupi badanmu yang tengah tumbuh
Ia serah.

Di belahan dewasa, dari kerongkonganmu
yang telah mengeringkan air susunya, menelur
serapah yang menghidupi lukanya hingga tak
henti menyusu air mata
Ia pasrah.

Di sebuah masa yang entah
apiapi akan mengendapkan lagi setiap bulir air susu dari
badanmu serupa minyak tanah; menjadi bahanbahan bakar.
airair mata dari tubuhnya takkan lagi menjelma
salju kecuali nanah yang terpaksa kau kunyah demi selamanya.
Ia tak lagi berdoa.

*




.2013
.di serampangan dudukan, ruang tunggu kemahasiswaan Unhas

Minggu, 09 Juni 2013

Tebusan

Bilakah tak sedia
kauregas bebaris waktu
yang memerangkap luka.
Bilakah kau tak sudi
kulanggam tetetes nyawa dari
ruh kau yang berarak lansia
Bilakah telah takdir meneluh
sesumpah setia
yang menanggal satu-satu
Izinkan saja
kutikam kau di kelenjar air matamu.


.2013