Senin, 29 Juli 2013

Malam, Semesta, Perayaan, Kita?



            Matahari bersisa 90° lagi untuk sampai di atap timur rumah. Purnama dan anak-anaknya masih merayakan malam yang menjadi giliran mereka. Mengerdip nyala dengan lagu yang selalu hanya didengar pekatnya hening. Mereka sedang bahagia, aku tahu. Sebab jika tidak, mereka tentu lebih memilih bergelut di bawah selimut awan-awan, memeras air mata di sana. Sehingga giliran hujan yang akan bernyanyi, membujuk mereka, merayu kegerahan sejagad manusia untuk menari bersama dalam doa-doa. Kupikir, hujan memang selalu menjadi pentas hiburan yang megah. Meski tidak kali ini. Langit dan laut jiwaku tidak bersepakat. Kami memilih menggelar perayaan sendiri-sendiri. Aku yang tidak bahagia.
            Lima hari belakangan ini, gravitasi mendadak berubah lebih kuat dari biasa, Sayang. Aku selalu bermimpi dapat terbang menuju langit dan menemukan saklar yang dapat mengubah pertunjukan-pertunjukan—angkasa—disana. Itu amat berguna untuk merekayasa hidup dan perasaan, bukan? Namun nampaknya cita-cita mewah itu harus kuurungkan sementara. Jangankan terbang, sekarang berjalan merupa pekerjaan paling menguras tenaga. Kakiku sulit diangkat, berat diseret. Tubuhku keras ditenggar, rekat menempel. Mendadak aku merasa dikunci oleh bumi dan terus berpikir kemungkinan terburuk bahwa lahad barangkali tengah sangat merinduiku.
            Kuterka-terka, hidupmu sendiri mungkin sedang memainkan kisah terbalik. Lima hari belakangan ini, tanah tempatmu memijak mulai kehilangan gravitasi. Kau mulai melayang menjemput lapang tata surya. Semakin dekat dengan pergelaran bahagia besar-besaran. Selamat. Keputusanmu tepat. Jika kau punya kesempatan menjadi bagian dari bambang semesta sebagai medalion, mengapa kau harus di sini—tinggal mendekapku kuat-kuat—dengan sayap yang dipaksa terlunta?
Keputusanmu sudah tepat. Tanah—tempatku tinggal—dan kau seperti dua kutub magnet yang terus bertolak belakang. Kau tak perlu menyelamatkanku dengan mengorbankan daya usiamu. Memang kau berhak hidup dengan agung. Sekali lagi, tidak perlu merasa bersalah. Segala hal telah direkayasa sepaket dengan takdirnya, bukan?. Kita semua seperti besi yang tinggal menunggu lekat pada magnet yang memencar. Tak sepertimu—aku mungkin belum menemukan alasan mengapa aku dikunci oleh bentala. Tapi bukan berarti aku akan menyerah untuk mencari. Sepertimu, aku juga ingin lepas, kelak bersinar sendiri sebagai asterik yang ruah.
            Aku memang masih kerap berdarah. Tulang-tulangku entah tinggal berapa yang tak patah. Namun katamu aku harus sembuh. Aku sudah berjanji untuk setia padamu, yang berati juga setia pada pinta-pinta yang darimu. Aku harus sembuh, harus hidup, meski belum sampai hitunganku pada bilangan hari yang mana jawaban akan keharusanku bertahan ini dapat kutemukan. Yang pasti, aku percaya Tuhan tak akan setega itu membiarkanku lahir tanpa merencanakan sinar. Tentu saja aku harus bersinar sebelum benar-benar tak sanggup lagi mengenal cahaya.
Sayang, meski tak selalu janjimu dapat dipercaya, aku masih percaya tak semua janji yang salah menjadi takdirku. Kelak kita masih akan bersama, pada bentangan bebintangan di atas langit sana; cita-cita kita. Setidaknya demi itulah. Aku juga baru sadar akhirnya, napas ternyata tak dibentuk dari molekul-molekul kimia, mereka adalah kumpulan dari rereaksi kepercayaan. Satu-satunya jawaban mengapa dadaku masih berdetak diantara segala koyaknya sekarang; aku mencintaimu, memercayaimu lebih dari keyakinanku sendiri. Terbanglah yang tinggi, Sayang! Berbahagialah! Pintaku satu saja, jika telah sampai ke lapis langit paling angkasa, sampaikanlah ke Mikail untuk menurunkan hujan. Aku kesepian.


Makassar, 29 Juli 2013, 02.30 am

Kamis, 25 Juli 2013

puisi; terakhir



senyumku telah lama kering, telah kering sangat lama 
di matamu. sementara kau masih ikan. alasan 
paling masuk akal untuk menghempas diri. sebab ikan 
memang hanya hidup di air.

senyumku telah lama kering. menguap seluruh
nya sebagai awan pekat di kelenjar air mataku. 
menunggu tanggal satu-satu. menuju 
muasal paling luhur; tanah—penawar
segala asin.

senyumku telah kering sejak lama.
semenjak kau putuskan menghempas
ekor kuat-kuat, pagar hujan patah.
awan-awan di mataku leleh lebih cepat.

senyumku telah kering sejak lama.
sementara aku juga ikan. ekorku lesap
kau lalap. jika air telah habis,
lalu mataku ikut kering, katakanlah, kasih,
adakah insang yang nyawanya abadi?

senyumku telah kering sejak lama.
benar! maka,
bernapaslah di tawar hujan mataku.
aku mati sebagai hidupmu.


~



#DuetPuisi berakhir hari ini, bukan? tulisan ini hanya coba memasangkan dirinya kepada puisi yang entah siapa. Bisa saja kau memang.

Senin, 22 Juli 2013

Sebuah Catatan yang (Masih) Tak Ramah


Aku meletakkan rapi setiap kidung yang kau cetak di tiap sela perjumpaan kita. Aku tidak mengatakannya. Semenjak namamu tak kuangkat, banyak catatan cacat yang kau biarkan tanpa kaubagi kesah—kubantu rawat. Aku diam saja. Meski ada lebih banyak peristiwa yang karenanya tak mau lagi coba kau bahasakan. Kulihat tercukupkan dengan uap-uap yang dihambur napasmu tiap detiknya. Kau bahkan tak mau lagi ingat, pada desahan ke berapa kau menghembus bahagia. Dan lebih lupa telah berapa musim kau hirup nestapa. Aku hanya menatap, sesekali sembari meratap.

Kata orang, selayaknya kekasih adalah puisi bagi kekasihnya. Kawan-kawan bahkan meramal kita sebagai sejoli yang dilestarikan sajak-sajak. Mereka hanya tak sanggup menenggelamkan matanya pada sanubari tempat cinta kita memakam. Sebuah pemakaman megah yang telah ditumbuhi terlalu banyak reranjau prasangka. Kita berdua menanam retak pada jemari lantas menyumpahinya untuk melupakan nama satu sama lain. Tapi bahasa adalah tirani bagi semua penyair. Apa saja yang tak digenapkan kata, selalu bisa dilengkapkan kalimat-kalimat. Lalu aksara nama-nama kita leleh ke dalam segala isyarat yang acapkali kita sendiri ingin ingkari. Mengetahui, tapi tetap tak henti saling melukai. Ranum jiwa kita lesap dientak reriak emosi yang kita lihat senang tertawa pada kesabaran. Kita rela dibiaki oleh kepercayaan-kepercayaan kita sendiri. Tak lagi menyediakan gelaran kelapangan hati untuk berpesta dan menarikan habis syair-syair yang tak pandai menggulirkan diri.

Aku meletakkan rapi setiap kidung yang kau cetak di tiap sela perjumpaan kita. Aku tidak mengatakannya! Sebab sejak awal lebih kupilih bersyukur ketimbang mendamba. Telah kupahami, keberlangsunganku lebih perkasa di antara helaan napas daripada kata-kata. Dan telah kau pilih untuk setia merapal nasib dengan dongeng-dongeng yang tak menyertakan keperkasaanku di dalamnya. Kau terus mengabaikan napasmu. Aku terus menggerutukan pepuisi cintaku. Sebab aku tak mau tahu bahwasanya orang yang mencintai tak akan menganginkanmu lama-lama di atas jemuran. Kau pun tak mau acuh bahwasanya aku hanya perempuan yang menghormatimu. Tidak akan mengawankan kepalamu dengan kepulan sandiwara sekadar untuk membuatmu terpuja.

Dan demikianlah, semakin kesini orang-orang akan semakin tak mengerti, bagaimana cinta kita tak dilestarikan sajak-sajak, melainkan pilihan-pilihan. Kita tak mau memedulikan alasan, pun nas dan asas-asas. Sibuk menyejajarkan iktikad, perihal lebih kuasa mana,
cinta kita atau kata-kata.



Di Sudut Terruncing Senyummu, 23 Juli 2013

Ujung Kembara


tibalah kau di titik terjauh sebuah kembara. padahal letakku dekat saja; di ruang tercerah tiap sunyi yang kau sembah

sepenuhnya hidup hanyalah rentang panjang perjalanan.
sepantarnya kita hanyalah kumpulan kedatangan dan peninggalan.

tak kah kau ingat, kasih, pada perayaan gusar yang paling temaram, aku—kau berteriak lantang diantara jajaran kapal di dermaga kota kita “jika hidup adalah mencari, untuk keberlangsunganku sendiri, takkan mau kutemukan dirimu hingga mati.” ya, yakin kita, surga tempat terbaik mengabadikan hati.

aku—kau berjalan dalam sejajar garis yang takdir jaga. kita mengalahkan terjal gemunung paling angkasa, menebas belantara hutan paling keramat, menenggak habis air mata matahari, menikam purnama-purnama, meracau musim dan cuaca

lalu tibalah aku di titik terjauh sebuah kembara. padahal letakmu dekat saja; di ujung bayangku yang paling samar.

tetapi napas kita—bukan kaki, adalah pejalan yang lebih perkasa.
waktu dengan segala kuasa menyampirkan lengan pada garis-garis udara yang terhirup masuk ke hidung-hidung kita.
lantas temu, ternyata hilir yang tak mampu perahu pilih.

kita dicumbui jabat-jabat
berkhianat pada sumpah-sumpah.

aku—kau sepakat menghidupi keterlanjuran dengan menjadi badan separuh-separuh
aku menjadi kaki yang kiri, kau menjadi kaki yang kanan.
kita berjalan bersama perkara dengan dada yang penuh koyak
demi memenuh-genapkan tualang

dan tibalah kita di titik ujung sebuah lelah. padahal kita dekat saja. telah hilang sekat.

lalu demi apa aku kau tinggal? demi apa kita harus memenggalkan diri, hidup bertahan hanya dengan satu kaki? aku tak seperkasamu, kasih.

lepas kau lucuti lambung dan vaginaku, lepas kau tenggak habis darah dari dadaku.
hidup macam apa yang minta kau kekalkan?
hidup macam apa jika yang bersisa hanyalah nyawa?
dunia mana yang sudi menerimaku dengan segala cacat nganga dan bernanah?

kekasih, sepantas apa kugemakan tanya perihal mengapa kau harus pergi?
lidahku lesap, dilahap geligi kita.
kerap kali dahaga seperti bir yang menjarah sulbi-sulbi kewarasan.
jika segala cair dari badanku leleh ditelan sekian kemarau yang tak bertanggal, katakanlah, kasih, adakah jantung yang detakannya abadi?

saban hari, bila kau dapati gerimis jatuh sangat asin
minumlah dari tadah tanah yang menawar airnya.
lukaku makam disana.
mengganjar sumpah untuk hanya
mati sebagai hidupmu.

Makassar, 2013


Dibacakan pada Closing Ceremony MIWF 2014

Minggu, 21 Juli 2013

Pesugihan di atas Lehermu




Semua manusia mirip pejalan yang suka bermain-main ke dalam hujan. Kalian sepakat membenci gigil, sepakat meluputkan payung dari sela pikir. Ya, katamu sebab kalian lelaki. Pantang menenteng payung diantara telunjuk dan ibu jari.

Akulah kepala. Dialamatkan makam pada dirimu yang mengutuk kewarasan. Bukan salah kau, nasibku saja tak mujur. Di dirimu tiap hari kutasbihkan segala kosakata yang kucuri telan dari buku-buku di depan matamu. Tak penting betul mau kau tahu mau kau peduli sebab kata-kata itu urusanku, bukan urusanmu. sama persis dengan tak pentingnya genangan air yang tak kau acuh di pori-pori lembab kekasihku; rambutmu. Sebab itu hakmu, tak penting mauku. Meski sebab terancu inilah barangkali kau tak kunjung genius.

Ialah rambut, perempuan-perempuan paling setia yang mengekori diriku sampai tanggal satu-satu. Sebab aku, sepertimu juga, suka bermain-main hujan. Kau mengutuk Tuhan dengan seluruh angkuh di tubuh jagad semesta, aku mengutukmu dengan segalah kisruh di badan kemanusiaan. Rambut-rambut itu saja yang tak suka mengutuk. Merelalah diri mereka menampung kita berdua, menampung puluhan musim hujan, hingga segala hitam dari dirinya habis untuk sekadar menyuguhi kita bercangkir-cangkir kopi. Agar kau hangat, agar aku waras!

Ah, kita ini sama saja. Kau lelaki keras kepala, aku kepala pengaku-aku lelaki yang selalu bersikeras. Kau memilikiku sebagai kepala, aku memiliki rambut yang penyayang. Bedanya, aku peduli kau, peduli pada rambutmu yang telah hilang sebagian. Kau tak peduli aku. Yang kau peduli hanya cara menghilangkan rusuh di keseluruhan badanku! Kelak, harusnya kau tahu, tak ada satupun cara melawan kepala. Setiap ingatan ditakdirkan membuahi kepikunan.

Kita semakin menua, dan waktu tak pernah menemukan cara untuk cara-cara kita saling menerangkan. Maka biarkan saja kita terus diguyur hujan, terus menyesap kopi hingga rambut memutih, hingga aku licin, hingga kau mati!

.2013, Makassar