Minggu, 29 September 2013

Ukhty, Kalianlah Ketegaran Itu



            Ada banyak rasa bahagia belakangan ini. Ada begitu banyak ruh baru yang melengkung hangat di antara deras luka dan cahaya-cahaya yang mendadak Tuhan nyalakan di sana-sini. Perasaan ini, rasa yang setingkat lebih di atas dari rasa bahagia saat pertama kali menghirup napas tarbiyah. Sesuatu yang baru, hangat, indah, entah apa tepatnya kata yang sanggup mewakilkan. Semacam, kau teledor menghilangkan dirimu sendiri di jalan, lalu Tuhan dengan baik hatinya mengembalikan dirimu di saat-saat paling sekarat. Pada awalnya, tak dapat kau kenali ia, kau tolak mentah-mentah. Dan, dengan ikhlasnya Tuhan rela mondar-mandir rumahmu tiap hari demi mengembalikan milikmu sendiri, meyakinkanmu—ketika mudah saja bagiNya untuk abai, toh dalam perkara itu kita sama-sama tahu siapa yang membutuhkan siapa. Dan kautemukanlah kembali dirimu sendiri, kautemukan kembali cahaya di matamu, cahaya di senyumanmu. Perasaan itu. Ya, perasaan bahagia seperti itu.
            Malam ini, sepulang tarbiyah, kami bertiga memutuskan singgah bersantap malam lalu berselancar ke sebuah masjid, menunaikan salat isya bersama. Sesuai rencana, ingin sekadar berbagi cerita di sana. Kabar indah yang pertama, satu sahabatku tengah mendekati ‘rumah tempat penyempurna separuh agamanya’. Tak bertara bahagiaku mendengar kabar baik tersebut. Meski dalam perkara jodoh, kita tak pernah sanggup memastikan apa-apa sebelum ijab-qabul terucap, kami membagi doa-doa dan harapan yang sangat banyak semoga segalanya berjalan lancar.
Satu sahabatku lagi, sama denganku, sedang sibuk menikmati jiwa-jiwa kami yang mulai sehat dari jatuhnya yang mematah-matahkan hidup bahkan hampir segala kemarin. Nikmat macam apa lagi kiranya yang lebih besar di jagad semesta ini melainkan iman yang kembali bercahaya? Dan kami benar-benar bersyukur, sedalam-dalamnya syukur, bahwa pada kejatuhan kami yang kemarin, Allah tak begitu saja menelantarkan kami. Masih diizini kami tertampar dan bangun menyadari dosa-dosa. Bukankah rasa-rasanya hukuman terbesar dari sebuah dosa adalah rasa tidak berdosa?
            Ada banyak kalimat dari sahabatku satu itu yang lekat sekali di ingatan hingga sekarang—dan merasa penting bagiku untuk menuliskannya.
            “Saya sudah memasrahkan hati kepada Allah. Saya mencintainya. Sangat mencintai laki-laki itu. Tapi saya pikir, masih terlalu banyak kemungkinan dalam hidup ini untuk hanya menggantungkan harap pada seseorang. Dia laki-laki yang baik. Iya, baik. Tapi di luaran sana masih sangat banyak laki-laki yang jauh lebih baik lagi—yang hanya belum saya temui. Meskipun dia cukup tahu perihal benar-salah dalam agama, tapi dia tetap saja saya nilai tak cukup paham. Pada akhirnya saya merasa lebih banyak membimbing dia untuk begini untuk begitu. Dan akan sampai kapan? Sebagai seorang perempuan, adakalanya kita yang justru butuh lebih banyak dibimbing. Jika pemaknaan agama suami kita sendiri—yang notabene imam dalam keluarga—tak bagus, akan jauh lebih sulit mengayuh bahterah itu ke surga. Saya merasa sayang jika akhirnya harus bersama dengan seseorang yang bukan ikhwan. Hal-hal kecil semacam kita hidup-mati menjaga kehormatan dengan tidak sembarang menyentuh yang bukan mahram, mati-matian menjaga pandangan, dan laki-laki yang kita cintai menganggap sepele hal-hal semacam berangkulan, berboncengan, dan hal-hal semacam itu dengan lawan jenisnya, meskipun mungkin ia terang-terang sudah tahu hadis yang misalnya berbunyi; lebih baik kepala seorang laki-laki itu ditusuk dengan besi panas daripada menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Tahu. Tapi apakah memang deen ini tegak hanya oleh sekadar ‘tahu’ tanpa mengimani? Yah, meski lagi-lagi jodoh siapa yang bisa menebak, kita tetap punya kesempatan untuk berusaha mengupayakan yang terbaik tidak hanya demi diri sendiri, tapi juga untuk generasi kita kelak. Bukankah sudah menjadi tanggung jawab kita memilih ayah/ibu yang shalih bagi anak-keturunan kita nanti? Saya cuma tidak mau menyesal. Entah kenapa saya terngiang-ngiang kata-katanya Mario Teguh, “Perempuan yang baik sudah jelas untuk laki-laki yang baik. Kalaupun dapat yang tidak baik, biasanya karena kamunya yang bandel.” Saya tidak bilang diri saya baik, tapi saya cuma tidak ingin bandel memaksakan diri untuk sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak baik. Perasaan ini maksudnya. Lagipula saya jatuh cinta kepada laki-laki itu saat sedang berada pada fase futur-futurnya. Padahal harusnya cinta yang baik itu tumbuh dalam keimanan yang terang, kan? Jelas muaranya, benar jalurnya. Tapi sudahlah. Yang saya bisa sekarang ya tinggal berdoa. Berdoa untuk dosa-dosa yang kemarin, berdoa diberi yang terbaik untuk ke depannya. Berdoa untuk perasaan saya yang sekarang. Semoga bila dia ternyata bukan jodoh saya nanti, agar perasaan ini dimatikan sesegera mungkin. Dan bila akhirnya kami justru berjodoh, biar rasa ini rapi dalam dada kami masing-masing, juga agar dalam masa-masa menunggu ini dia maupun saya juga bisa merapikan pribadi sampai bertemu dalam keadaan yang baik, dalam kondisi yang sama-sama baik. Ya, itu saja. Saya tidak menyesal untuk tangis-tangis luka saya yang kemarin-kemarin, tidak menyesali pertemuan. Justru pertemuan itu, justru luka-luka yang lahir dari situlah, banyak tabir pikir yang terbuka. Meskipun ujian satu ini katakanlah gagal, saya tidak mau gagal menangkap hikmah dari itu semua. Setidaknya saya sudah merasa bahagia sekarang. Sangat terasa bagaimana Allah lebar-lebar membukakan jalan kembali, dan kita harus mulai lebih melebarkan diri untuk tegar mulai saat ini, kan Fiqah?”
            Perempuan itu tersenyum. Aku lebih banyak diam dan mendengar untuk kesempatan ini. Dan sudah cukup semua yang dikatakannya. Sudah sangat-sangat cukup untukku harus bicara lagi. Kau ingat, pernah bersabda Rasulullah;
“Tak diberi seseorang itu nikmat lebih besar setelah iman kecuali saudara yang shalih.”
            Mereka-mereka inilah nikmat itu. Mereka-mereka inilah sejatinya yang kusebut-sebut kekayaan. Mereka-mereka inilah kaki dan tanganku itu—yang bila aku masih tegar di jalan ini, tak lepas karena penggenapan mereka pada ganjil-ganjil langkahku. Aih, ya Allah, bagaimana bisa sebesar dan seindah ini kasih-Mu?


Hartako, 29 September 2013

Minggu, 15 September 2013

Bersama Sepotong Puisi Penyair Kesayangan


---- Siang ini, puisi ini, cinta ini, kau ini, yang membuat segalanya begini membakar. ----


Mendengar Radiohead


.... 

masing-masing kita adalah kumparan diri sendiri, orang lain, dan bayangan yang setia. tidak ada kemurnian. dalam pengingkaranmu akan aku, ada cinta yang akan membuatmu bersedih suatu kelak.

sementara aku, aku tahu cara mengisi kekosongan adalah menunggu. dunia ini dipenuhi keseimbangan-keseimbangan. tepat ketika seorang melihat matahari sore menutup mata, di tempat lain ada seorang menatap matahari pagi bangun. ketika matamu tiba-tiba berair, dari jarak yang tidak kau ketahui aku tersenyum menghangatkan kesedihanmu.



 

Kamis, 12 September 2013

Senja dari Kamar Kosmu Katamu Indah Sekali

Aku berdandan secantik secukupnya. Sore ini ada jadwal bertemu demi membincangkan naskah, bersama kita yang beberapa. Kemungkinan paling besar, aku tahu kau tak datang. Tidak masalah, harapku senang berlaku dengan kehendak sendiri. Tetap saja kuharap kau muncul dengan tiba-tiba di ujung pintu, lalu aku akan gelagapan mengingat kata sibukmu saat tadi kutelepon. Lalu kau akan bertanya ini itu, dan aku akan diam dan lebih banyak mematut dengar. Sebab kesempatan untuk mendengar suaramu barangkali tak akan lagi cukup banyak di waktu-waktu depan. Itu hanya harapan! Nyatanya sudah kautegaskan. Sedang dalam berbagai urusan kecuali cinta, kau tak banyak mematahkan perihal. Lagi-lagi tak masalah.
Masalahnya? Satu, mataku ini yang lelah menanggung gugur telinga pada pelbagai tanya yang mengenaimu. Bagaimana pula caranya kuterakan pada mereka hingga tak lagi ada kepala yang menelurkan pertanyaan-pertanyaan anakan? Dua, dadaku ini yang bernas oleh fakta-fakta yang barusan banyak lidah berani bocorkan. Mengapa sekarang? Berharap kutemui segera benda setelah garam pada luka yang mampu mewakilkan definisi atas segala ini. Dan tiga, letihnya aku berandai!
Aku beranjak lebih cepat, tak memesan makan, tak memesan minum. Pekerjaan mempermalukan diri dengan rintik dari mata bukan tontonan bagus bila terjadi. Bagiku cukup yang kutahu hari ini, bagiku cukup alasan mengenakan kacamata dan masker di atas motor. Kutemukan satu hal bagus akhirnya; selain di dalam hujan, mengaduh di tengah hiruk jalan raya adalah konser pedih yang paling sembunyi—pun estetis! Perihal macam apa yang merusuhi benak hingga sepeda motorku berlaju menuju kosmu tak tepat kuterka. Tahu-tahu saja kakiku sudah memarkir di sana, lantai dua, sebelah tangga, tepat di depan pintu yang tak pernah lupa kaukunci, berdiri, entah menunggu, entah mencari, entah untuk alasan apa. Maka detik itu juga, kupilih satu alasan—sebab tak ada yang tak beralasan, artinya bila tak kutemukan, harus kuciptakan!
Hei, katamu pernah, senja dari sudut kosmu indahnya mengenakan terlalu. Itu hal yang cukup bagus sebagai alasanku di sini; memandang apa yang kaupandang, merumuskan apa yang kaupaham indah. Aih, tapi sayang sekali, angin cukup banyak berhembus di sini, mataku jadi berair. Tapi bukannya aku mengenakan kacamata? Lantas mengapa … ? Ah entahlah, yang pasti hanya angin tersangka paling hidup untuk dituduh.
Aku menghela napas entah sekian kali. Tetap aku berdiri di situ, kali itu memandang jauh ke luar. Sedang apa aku di sana, agaknya tak banyak yang peduli benar. Dan, sontak tertumbuklah pandanganku pada sesosok pria dengan Jupiter Z-nya yang baru tiba. Terkejut sekaligus bingung, aku lalu menunduk dan beralih-berlari kecil ke sisi utara kamar kosmu. Dadaku masih berdetak tanpa kendali. Sepintas dari jauh, kulihat kauamati sepeda motorku, harapku tak kauhafal betul plat nomor Beat putih tersebut. Sempat pula, kuamati kusut garis-garis wajahmu,  kau mesti sangat lelah seharian. Meski tak tertara bahagianya melihat wajahmu dari jauh sekali pun, sesejenak bagaimanapun, alangkah pedihnya tak kau mengerti bagaimana menyaksikan wajah seseorang yang kau cintai dan tak sanggup menyapanya bahkan sekadar menenangkan dengan tanya, “Kamu lelah, Sayang? Mau saya buatkan teh hangat?”
Satu biji air lolos dari sebelah kanan kelopak. Kuhapus pelan lantas kupastikan apa sudah sempurna kau masuk kamar. Sesegera kuturuni anak tangga, memasang sepatu dan menyambar motor di parkiran. Tak lagi menoleh, tak lagi mau ingat. Anggaplah saja tak pernah aku ke sana, kupaksa berpikir demikian. Maaf, Sayang. perihal senja yang kaukata indah, ternyata belum tepat waktu untuk kujamahi ia. Hari-hari ini, rupanya angin lebih banyak berhembus, berair terus mataku, mengabur. Sembari menanak segala materi yang rasuk ke kalbu, di sana—entah seperti apa persisnya—diam-diam doa menubuh. Seolah terinsaf, mendokan kebaikanmu adalah satu bagian dari tubuhku yang selalu pandai merawat sendiri dirinya, bahkan meski dari kendali, ia kuluputkan.
Ah, Sayang. Baru kupahami nelangsanya relung yang kehilangan hilir. Dahulu, kukira telah tuntas kukhatamkan segala jenis derita yang tersebut paling dari makhluk yang ternamai kekasih. Sesuatu yang kejam pernah terjadi melampui segala ini, namun lukaku yang dulu-dulu, ternyata sama sekali belum bisa diadu dengan pergimu. Tapi, meski bagaimana, masih tersisa satu perihal sederhana; tak ada cinta yang tak berbalas. Bila tak dirimu, akan kautemukan balasnya dari seseorang bahkan sesuatu yang lain. Luka pun.
Untuk itu, ini kali kueja kembali doa-doa yang biasa gulir dari hati hingga bibirku sendiri, memastikan tak ada terselip benci kecuali perihal diberinya kau—maupun aku—kebahagiaan dan kebaikan entah oleh apa. Dapatkah kuminta pula satu saja doamu? Sekiranya telah regas akhirnya matahari cinta di dadamu, doakanlah dada ini untuk juga mengenal malam. Namun, sekiranya masih kaugantung ia di langit, kautahu pasti, masih selalu ada pagi.
Bila nanti, misalkan diam-diam aku datang lagi, semoga yang dikecup mataku adalah sematan senyum di bibirmu. Berbahagialah agar tak kusesalkan mengapa dahulu kau kuizinkan pergi “sementara”, Sayang. Pastikanlah kaucintai dirimu lebih besar dari cintaku.

Makassar, Rabu, 11 September 2013

Sekalipun



Sekalipun dalam maya, tersenyum padamu tiap pagi telah lebih dari cukup,
tanpa sepengatahuanmu.
Sekalipun dalam sembunyi, menatap lusuh, letih wajahmu telah lebih dari pilu,
apalagi jauh.
Sekalipun dalam diam, mengulang-ulang kenangan kita telah lebih dari syukur,
sementara kau berlalu.
Sekalipun seorang diri, janjiku pada cinta setidaknya telah kutunai.
Sedangkan perkara pada yang henti akan dilunasi tangan yang lain.

.2013


Selasa, 03 September 2013

Perempuan itu, Azure Azalea.

Oleh : Rafiah H


Aku tidak benar-benar tahu sedang melakukan apa saat menuliskan ini, selain mengurai akar kegilaan yang mulai menyerabut di hatiku, yang kutahu dan benar benar kusadari saat menuliskan ini, adalah bahwa aku sedang jatuh cinta. Pada seorang perempuan.

Percayalah, aku belum pernah menuliskan hal macam ini, meski cinta yang kurasa serupa anggur yang memabukkan, tapi tiap kata yang berderet dalam kalimat ini kutulis dengan seutuh sadar dan kewarasan yang kumiliki.

Bahkan pada lelaki yang paling kucinta, aku tidak –atau belum- pernah seserius ini menyatakan perasaanku. Sejak menemukan perempuan itu dalam suatu bait puisinya -pasungan masa-masa-, aku tahu, ia telah menawanku pada rasa kagum yang mungkin ‘kan kekal.

Di suatu kanak, dari lidahmu
kau sesap susu pada buah dadanya
demi menghidupi badanmu yang tengah tumbuh
Ia serah.

Di belahan dewasa, dari kerongkonganmu
yang telah mengeringkan air susunya, menelur
serapah yang menghidupi lukanya hingga tak
henti menyusu air mata
Ia pasrah.

Di sebuah masa yang entah
apiapi akan mengendapkan lagi setiap bulir air susu dari
badanmu serupa minyak tanah; menjadi bahanbahan bakar.
airair mata dari tubuhnya takkan lagi menjelma
salju kecuali nanah yang terpaksa kau kunyah demi selamanya.
Ia tak lagi berdoa
.

Orang-orang yang mengenalnya mungkin juga merasai yang kurasa, atau lebih gila lagi padanya. Cinta dan kegilaan, apakah mereka saudara kembar dari satu sel zigot? Ah...

Tapi biar kukatakan hal lain tentang mencintai perempuan yang satu ini.

Rasa haus!

Iya, saat membaca tulisannya, tak ubahnya aku musafir dengan sebuah perahu kecil yang karam di lautan.  Tiap kalimat dan sajak yang ia hitamkan dengan tinta seumpama air laut yang tak kan meredakan dahaga meski kau terus menenggaknya.

Dan aku, -mungkin juga yang lain- bisa dengan senang hati menahan derita dahaga demi menanti sebuah kalimat atau sepatah sajak yang ia tulis sepenuh rasa.

Nah, sebelum aku lupa mengatakannya, perempuan itu kukenal dengan nama : Azure Azalea


***
Pernah kau dicintai seorang perempuan? Kupikir, hal-hal aneh di dunia ini justru lebih waras dari kebiasaan. Pernah kau dituliskan oleh orang lain tanpa kau minta, kau duga, bahkan harap? Bagiku, saat seseorang bersedia menyediakan diri untuk menyukaimu, sampai repot-repot menuliskan dirimu, kau lebih dari wajib untuk tidak menyia-nyiakan dirimu sendiri. Rasa haru hujan di dadaku, mendadak semangat terbit terik sekali di atas sana. Kak, terima kasih sudah mencintaiku, terima kasih jika telah kau anggap dirimu cukup gila demi mengakuinya, terima kasih telah membuatku menemukan satu lagi definisi; berkarya adalah cinta yang selalu perawan. Uhibbuki, Illah, Fillah, Kak. Ajarkan aku menjadi gila. :)


Senin, 02 September 2013

P e r e m p u a n [kuadrat]

~Bismillahirahmaanirrahiim~
“Kepada kau, Perempuan yang sejak mula kutemui dalam kebetulan—yang sesungguhnya bukan kebetulan—telah sangat memesona. Coba terus tawan kami di sana. Buat sangkar yang lebih besar, masih banyak cinta yang perlu kau tangkap, bahkan –semisal—keindahanmu sendiri.” [Kepada Seorang Perempuan, Azure Azalea]
“Seseorang kemudian mengambil sebuah peran dalam kebekuanku pada pena. Ia menulis, dan aku membacanya. Ia menulis lagi dan aku membacanya lagi. Ia menulis kalimat-kalimatnya, lalu aku mengaguminya. Ia menulis sajaknya, kemudian aku mencintainya. Ia terus menulis, dan…aku hidup!” [Menemukan Diriku Pada Seseorang, Rafiah Hafidz]
*
Sebuah pena memilih mati di malam buta. Sebelum ayam berkokok, sebelum sinar mentari membias di kaca jendela, sebelum Sang Pemilik –pikirnya— membuangnya karena kehabisan tinta. Namun, Kata berhamburan dari buku di atas meja, dari Diary yang terselip di bawah bantal, juga dari note-note kecil yang tertempel di dinding yang dingin. Mereka bersatu, menekan dalam-dalam rasa takut kehilangan, dan lirih berkata: 
Haruskah engkau mati ketika darimulah kami dilahirkan? Tegakah engkau menjadikan kami yatim-piatu dalam waktu yang bersamaan? Sesuatu yang tak ada dalam dirimu bukan berarti izin untuk meniadakanmu. Tunggulah sejenak, Sang Pemilik akan mengisi tinta baru untukmu, sedikit bersabar adalah jalan untuk kesegaran jiwamu. Engkau tak boleh mati, karena kita, Engkau-Kata-kata bersatu untuk menghidupkan banyak elemen kehidupan. Maukah engkau?”

*
Menganalogikan diriku seperti Pena di atas adalah keseriusan yang lucu, juga sedikit perih, aku –pernah, hampir selalu—ingin berhenti menulis. Merasa tak adalagi ‘tinta’ dalam diriku untuk melahirkan kata yang pantas dilahirkan, dibesarkan, lalu kuakui inilah anakku: karyaku!

Sumpah, aku gemetar ketika seseorang memanggilku ‘Penulis’, memujiku, meminta saranku, bagaimana bisa begini-begitu, seperti diserbu ribuan orang yang meminta resep kesembuhan sedang aku hanyalah dukun gadungan yang sedang sakit juga. Kuberi saja mereka mantra, kumohon pergilah! Hei, kalian perlu tahu, di situlah titik aku selalu ingin ‘mati’, sebelum mentari bersinar dan menegaskan wajah asli diriku –yang katanya— penulis itu. Sebelum kokokan ayam menjadi cibiran yang mematuk-matuk rasa maluku. Aku ingin hilang dalam kesunyian. Aku ingin hilang sebelum terang. Karena aku, bukanlah siapa-siapa!

Tapi, di usiaku yang dua kuadrat –tertawa—, aku tak mati. Tepatnya, memilih untuk tetap hidup. Aku memang bukanlah siapa-siapa, selain aku adalah aku, namun aku merasa aku adalah ‘seseorang’ ketika 2 orang perempuan menulis tentang diriku. Mengapa kini? Ah, hebat sangat cara kerja Tuhan tanpa kita campur tangan. Dua perempuan itu –tak lagi kulihat perempuan— mereka selaksa anugerah, serupa dua  cahaya lurus menembus dinding hatiku yang berlubang dan dengan sempurnanya memadat, menutup, serta meneranginya. Aku menjadi seseorang dengan hati yang bersinar. Aku rasa, mereka berdua ‘agen penyelamat’ Tuhan di muka bumi.
Dua Perempuan, sepasang perempuan, ah, manisnya kuucap…
P e r e m p u a n  1
Perempuan pertama, Azure Azalea, kalian lihat sebait tulisan pembuka di atas? Yah … Kepada Seorang Perempuan adalah kado –bila boleh aku anggap— yang Azure berikan padaku. Siapa dia bagiku? Siapa aku baginya? Tidak, sungguh bukan kami sahabat lama yang segula-segaram kehidupan. Kami hanyalah dua perempuan yang bertemu dalam beberapa kesempatan –bisa dihitung jari— yang tak juga banyak smsan maupun telponan. Namun mengapa dia mau menuliskanku dengan sebegitu mengharukannya? Satu-satunya jawaban yang aku tahu, karena aku-dia mencintai kata, dan tuhan mempersaudarakan hati kami. Dengan ikatan yang ramah, aku membaca blognya-dia membaca blogku. Aku membacanya-dia membacaku. Lalu, bagaimana aku bisa memilih ‘mati’ saat perempuan ini telah aku ‘tawan’, tak mungkin aku mengajaknya mati bersama. Memperbanyak alasan untuk 'hidup' dan menulis, kini aku jalani sekuat hati. Dia pasti akan menguatkan aku –berharap dan tertawa— lagi.
P e r e m p u a n  2

Perempuan kedua, Rafiah Hafidz, sebagaimana aku yang hampir ‘mati’, perempuan ini pun pernah sekarat jiwanya. Katanya, dalam 'Menemukan Diriku Pada Seseorang', dia bercermin padaku dan dia hidup! Ah, super sekali kehidupan membawa kami pada permainan ‘Petak-Umpet’. Lihatlah, dia menuliskan bagaimana diriku telah menyelamatkan hidupnya sedang saat ini aku menuliskannya bagaimana dia menyelamatkan hidupku. Mungkin benar, aku bukanlah siapa-siapa, bagi diriku. Tapi bagi orang lain? Aku mana tahu. Sampai perempuan ini bertestimoni, cukup aku melihat dirinya, kemudian aku mengenali diriku. Oh Tuhan, Maka nikmatMu yang manakah yang aku dustakan? Seperti pintanya, aku bahagia. Aku bahagia, kak… Aku bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk hidup sedang aku di ujung tanduk. Tapi, sungguh…aku bahagia.

*
Begini, aku tak pernah minta untuk dituliskan, diabadikan dalam kata dan dijamu dengan kemulian di rumah (blog) siapapun. Tidak pada perempuan pertama dan kedua. Pula, tanpa aku minta izin, kadang tanpa disyiarkan, aku menuliskan tentang orang-orang, beberapa yang padanya hatiku menggerakkan tangan untuk bercerita.

Mengapa demikian?
Tahukah kalian? Mengertilah aku sekarang…menemukan dirimu dituliskan dengan kesantunan kata paling santun oleh seseorang adalah hal yang paling membahagiakan setelah melihat senyum ibumu. Yah, itulah yang aku rasakan. Meski itu sepotong, sepotong saja dalam baitnya tertulis namamu, lekas terbit senyummu. Dengan itulah, aku yakin, kedua perempuan yang sedang membaca tulisan –yang membicarakan dirinya— kini tengah tersenyum. Manis. Manis sekali… sepertinya mereka tertawa sekarang. Hahaha…

Lalu, tidakkah tergerak hati kalian untuk menulis tentang seseorang. Mulailah dengan seseorang yang terbersit –kini— di pikiran kalian. Dan setelah itu, kalian hanya perlu memilih…memberitahukan ‘dia’ atau biarkan ‘dia’ menemukannya sendiri. Persilahkan hatimu memilih.
Terakhir dan penting untukku, bisa saja, tidak hanya dua perempuan ini yang menuliskan tentang diriku. Masih ada perempuan lain lagi yang berikhlas ria mem-frame diriku dalam kata-katanya. Atau mungkin dari kaum Pria? Demi menjaga nama baikku, dengan kemurahan hatinya diam-diam memberikan singgasana kata-nya untukku. Hahaha, mana tahulah aku! Aku takkan mencari tahu. Cukuplah aku berterima kasih, setulus ketulusan yang aku punya, pada kedua perempuan cahaya –mari amiinkan—juga pada orang-orang yang menulis tentang diriku. Sekalipun aku hanya dukun gadungan yang ternyata masih sakit –non kronis—, aku akan tetap bertahan. Tetap memilih hidup. Tetap menulis. Sampai…
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri.
(Pada Suatu Hari Nanti, Sapardi Djoko Damono)

di BTN, 01 September 2013 
 Uhibbukifillah, Ukhty. Nangis baca ini.

Kukira Seperti



Kukira aku di kepalamu
seperti apa yang dinilai kulit sebagai gerimis
seperti embun yang dikira bekas hujan malam lalu
seperti cairan luka yang pipi sangka air mata.


Makassar, 21 Agustus 2013