Kamis, 21 November 2013

Sebelum Pecah


—Untuk  Iqbal Ahmad

Jangan biarkan siapapun menunaskanmu sebagai pisau.
Tubuh ialah kerak telur rapuh.
Mungkin tak pecah sebab disangkil lancip
Hanya bila kauingat jiwa ialah tetasan,
Akan kau ketahui darimana datangnya darah yang memerahi matamu, Kak.

Jangan biarkan siapapun menunaskanmu sebagai pisau.
Tak perlu menunggu patah batu asah,
Maklumkanlah kepalamu terhadap ingatanku
Sering untuk mengenal sisi tumpul pun aku alpa.


Makassar, 2013

entahlah. saya begitu jatuh cinta dengan sajak-sajak si tuan "pelesir mimpi" ini sejak dahulu kala.


TUBUH IMAN

Selama Kau masih denyut, aku masih akan darah.
Tak soal ke mana aku mengalir, Kau masih akan akhir.


Solo, 2013

Adimas Immanuel

Sabtu, 09 November 2013

bilakah bahagia, bu?

mengapa belum bisa kau kubahagiakan, bu?
mengapa
belum bisa aku kaubahagiakan
meskipun kau telah banyak berusaha
meskipun aku
juga telah keras berusaha?

mengapa belum juga bisa kita saling membahagiakan?
apakah sebelum kelahiran kita masing-masing—jauh di kehidupan sebelumnya—kita pernah terlalu banyak saling melukai? atau apa justru kelewat penuh bahagia hingga harus menanggung dukanya saat ini, hingga begini?
atau
karena kita malah terlalu berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain?
apa mungkin karena itu?
karena kita akhirnya lupa untuk merasakan bahagia itu sendiri?

dalam sebuah film, pernah aku dengar,
“kau tak akan bisa membahagiakan seseorang, jika kau sendiri tidak bahagia.”
sejak menonton itu, aku lalu coba membahagiakan diriku, bu. apa kau sudah mencobanya? atau mungkinkah telah kau coba lebih dulu dari aku lantas
.... gagal?
lalu apa yang harus kita lakukan?
apa sampai mati akan terus kulihat matamu berkaca,
akan terus kaulihat pipiku basah—layak sekarang—tanpa bisa melakukan apa-apa,
bahkan sekadar
berpelukan?

apa harus begini hidup kita, bu?
bukankah tak bisa disalahkan takdir? berkali-kali diulang penceramah, dicatat buku-buku, hingga anak bayi sekalipun telah pandai melafalkan teori itu; tak seorang pun dilahirkan untuk dibuat menderita!
lalu mengapa kau masih menangis?
mengapa aku masih menangis?
mengapa kita terus saja menangis?
apakah di rahimmu dulu, apakah di rahim ibumu dulu, kita pernah meninggalkan senyum karena terlalu terburu-buru?
apakah kita lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?

***

ah, bu! mari berhenti menangis dan coba menjawab setidaknya satu saja pertanyaan. siapa tahu itu bisa sedikit menghibur perasaan.


Sabtu, 02 November 2013

Jalan Memutar

Dear Azure,
          Terus terang, saya begitu terluka ketika kamu bilang, “makin ke sini makin iri sama kamu, kaf. Tidak semua orang cukup pintar menjalani apa yang benar-benar mereka mau jalani di hidupnya.” Aku perlu menarik napas dalam-dalam bahkan untuk sekadar membacanya. Aku teringat dengan banyak orang yang mengambil “jalan memutar”, Azure. Karena di twitter tidak memungkinkan mengurai cerita, aku cerita di sini, ya. Iya.
Azure yang baik,
          Aku selalu sedih dengan konsep “jalan memutar”: kita melakukan yang dunia mau dulu sebelum kita melakukan hal sekehendak kita.
          Aku selalu sedih dengan konsep “jalan memutar”: kita perlu menjadi orang lain dulu sebelum kita menjadi kita.
          Aku selalu sedih mengingat banyak orang di luar sana yang menjalani hidup, tetapi bukan hidupnya.
          Aku selalu sedih mengingat kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang dimunculkan. Namun, itu mesti ada. Kesenjangan, masalah, mesti ada, Azure. Karena itu hidup terbit.
         
Azure yang baik,
          Setiap orang memiliki alur hidup dan pertimbangannya sendiri. Jangan iri kepada saya, jangan. Kepada orang lain pun tidak. Kalau iri membuat semangatmu bangkit, barangkali tak apa. Namun, jika iri hanya membuat hatimu karut-marut… sudah, sudah, jangan sakiti hati kita lebih dari itu.
          Mari, Azure, jika kita sekarang ini tidak menjadi yang kita inginkan, mari berjanji suatu saat kita menjadi diri sendiri. Sementara untuk mengarah ke sana jalani hidup kita dengan (berusaha) sepenuh hati.