Kamis, 30 Januari 2014

Perempuan Yang Bernama Azure Azalea

 
Sebelumnya, aku tak mengenal perempuan yang bernama Azure Azalea. Yang ku tahu, seingatku dulu dia yang mengaddku dalam situs facebook sebelum akun facebook baruku. Aku yang suka memilih-milih pertemanan di Facebook, aku terlebih dahulu melihat profilnya sebelum ku konfirmasi pertemananku dengannya. Yah, mungkin karena kebanyakan mempunyai teman yang sama dan berada di Fakultas yang sama. Tanpa berlama-lama aku mengkonfirmasinya. Seperti biasanya, aku hanya membuka beranda facebookku.

Setiap kali dia memposting status-statusnya di jejaring sosial itu. Aku sering melihat postingannya yang membuatku tertarik untuk membacanya. Rangkaian kata-katanya begitu indah, padat  dan mudah dicerna. Hingga aku tertarik untuk mencari tahu tentangnya. Siapa Azure Azalea dan benarkah nama aslinya Azure Azalea ? Anak FLPkah ? Azure Azalea artinya apa ? Akhirnya, kudapati. Nama aslinya Rafiqah Ulfah Masbah, anak FLP (Forum Lingkar Pena) dan arti dari nama Azure Azalea sekaligus blognya. Sepertinya, aku berusaha keras mencari tahu tentangnya yang sebenarnya mudah.

Nama yang menurutku berala-ala Jepang itu.  Aku mengenalnya lewat sulaman kata-kata yang berhasil diolahnya melalui ide-idenya yang segar. Aku mengenalnya lewat kalimat-kalimat sederhananya yang penuh makna. Yah, aku mengenalnya lewat kata yang menggambarkan perangainya dan penilaianku langsung merujuk ke angka delapan.

Hingga pada suatu ketika aku berjalan di koridor kampus dan seperti pada foto yang kulihat di Facebook dari kejauhan aku melihat sosoknya yang berjalan dengan anggunnya sesuai penilaianku lewat tulisan-tulisan di blognya. Ah, aku tak begitu ingat berada pada situasi apa saat itu. Tapi, seingatku dia yang lebih dulu menyapaku. “Apakah aku dikenalnya ? Hmm, sepertinya iya yang tidak lain adalah seniornya.”, gumamku dalam hati.

Pada pertemuan yang beberapa kali terjadi dan tanpa rencana terkadang yang kulakukan hanyalah melemparnya dengan senyum. Dengan kepribadianku, aku malu-malu, benar-benar malu menyapanya lebih dulu yang bahkan menurut perasaanku tak pernah. Selain, Darwis Tere Liye, Asma Nadia, Oki Setiana Dewi, Salim A. Fillah, Helvi Tiana Rosa, Habiburrahman El- Shirazi, Ahmad Fuadi, dan Andrea Hirata. Aku juga mengaguminya secara diam-diam dengan gaya menulisnya, gaya bahasanya dan prestasi-prestasi kepenulisan yang dimilikinya. Yah, aku melihat namanya tercantum pada sampul buku di sebuah foto yang ditagnya saat itu. Aku menyukai tulisan-tulisannya dan sampai saat ini aku hanya mengenalnya lewat kata. Perempuan yang bernama Azure Azalea ^^
 
***
 

Selasa, 28 Januari 2014

Kau Kuncup Bunga Tidur


Pernah kamu mencintai seseorang yang selalu nampak jauh sekali? Seseorang yang justru semakin kautempuh malah semakin jauh, seseorang yang semakin wujudmu kautampakkan semakin ia menghilang, tapi justru bagaimanapun caramu bersembunyi, selalu saja kaumampu ia temui? Aku pernah.  Iya, aku pernah.

Kupikir bukan dosa langit tak hitam memimpikan bulan. Karena bukankah akhirnya bulan menjelang senja dan selepas subuh itu tak mustahil? Maka aku memilih untuk berani memimpikanmu. Takdir lalu membawa hari-hari, kejadian-kejadian, tulisan-tulisan, dan aku sadar telah banyak jalan kujejal, telah banyak lalu lintas kulanggar, sudah lama sejak kali pertama kau kulihat menjurikan sebuah ajang cipta-baca puisi, lalu kaumenemukanku membaca puisi dengan malu-malu di acara kepenulisan yang lain. Barangkali memang ini saatnya berhenti bermain dan dimain-mainkan takdir.

Memang belum juga bisa kukatakan kakiku lelah, namun bisa dibilang perjalanan sudah terlalu rintang. Aku tahu, mimpi hanyalah mimpi jika didiamkan di tidur. Saat kaubangun dan sudah pergi melewati hujan, kemarau, dan angin kencang, kakimu masih tegak menopang, namun pelukanmu sudah patah duluan, mencari ke sana ke sini, tak juga ia bisa kau raih, berarti itu memang mimpi. Yang sedang kauwujudkan adalah mimpi itu sendiri.

Aku lantas memilih mundur teratur. Melenyapkan wujud dari picingmu. Berhenti tepat sebagai kelakaran sunyi. Aku menyembunyikanmu di doa-doa, di tulisan-tulisan yang tidak kubagikan. Aku menyembunyikan namamu dengan simbol-simbol, dengan akronim-akronim agar tak tertelusur kotak pencarian, aku menyembunyikan diri di balik rekaan cinta-cinta, di banyak wajah-wajah yang kaukenal, tapi memang percuma. Percuma saja. Aku berhenti menunjukkan diri pun berhenti membacamu, berhenti mengikuti aktivitasmu pun berhenti acuh, tapi selalu bisa kautemukan dirimu di dalamku.

Jika sudah begini, kupikir sudah waktunya pulang ke atas kasur. Menutup jendela dan berhenti memancing bulan. Sudah waktunya kau kuterima sebagai kuncup bunga tidurku, yang tidak akan pernah dimekarkan matahari pagi musim apapun. Dan aku akan mengubah haluan mengejar tidur. Aku tidak akan lagi banyak bergadang sebab cuma di tidur kau adalah kenyataan yang bisa kupercaya. Dan setidaknya, kau bisa ingat di hidupmu ada yang pernah nyata kaulihat cintanya.

Setidaknya, aku belajar untuk tidak menjadi mimpi banyak orang. 
Aku tidak apa-apa.

Minggu, 26 Januari 2014

Peringatan; Ini Curhatan!



Aku ingat betul. Itu yang pertama kali ada pria datang ke rumah memintaku kepada ibu. Rasa-rasanya agak konyol dan agak gila pasti bagi sebagian orang, mungkin bagiku juga. Kami masih kuliah, ia seangkatan denganku pula. Tapi di hari itu juga aku melihat banyak hal. Pertama, ketenangan ibu menghadapi kondisi itu. Kedua, melihat kedewasaanku sendiri.
Aku tahu hari itu umurku baru juga delapan belas, dan secara tiba-tiba dan pasti tidak ibu duga, anak gadisnya sudah ada yang hendak meminang. Aku yang tak dekat betul dengan ibu melihatnya dengan mata yang lain hari itu. Kami mendadak lebih cair dan terbuka. Lebih-lebih saat yang ke dua kalinya seseorang datang lagi dengan maksud yang sama. Sudah cukup alasan bagiku dan ibu untuk secara serius membincangkan ihwal pernikahan. Aku tahu hari-hari berikutnya ibu sadar kalau anak perempuannya sudah dewasa dan kapan saja, bisa saja akan diambil dari pelukannya. Ah, membahas pernikahan selalu tak mudah. Benar saja, tempo hari perbincangan-perbincangan tentang pernikahan bersama kawan-kawan hanya terasa seperti dongengang pengantar tidur, yang masih sebatas berada di awang-awang, tapi kian hari, kian beranjak waktu, kian bertambah umur, rasanya kian nyata saja. Sepertinya satu dua tahun lalu, aku masih menghadiri acara pernikahan kakak senior angkatan 2005, 2006, 2007, semakin ke sini, beberapa teman seangkatanku bahkan sudah banyak yang menikah, sudah ada yang beranak tiga.
Kenapa dari kecil dulu aku bercita-cita ingin menikah muda? Soalnya membayang-bayangkannya masih sebatas yang indah-indah saja. Sekalinya terwujud sungguhan ada yang meminangku, barulah segala pikiran pahit-pahit—yang entah dulu bersembunyi dimana—muncul satu-satu di benak. Bagaimana kalau aku berumah tangga saat masih juga kuliah, bagaimana aku nanti mengurus suami sementara mengurus diriku saja belum becus, apakah suamiku nanti akan mafhum denganku yang sangat fobia dengan hewan—yang artinya akan berat hidangan-hidangan berupa hewan kusajikan di atas meja makan, bagaimana kalau aku punya anak, apa aku memang sudah siap, apa aku sudah mampu. Banyak sekali, sampai aku susah tidur beberapa hari demi memikirkan itu semua.
Aku memang benar-benar harus memikirkannya dengan serius! Maksudku, hey, aku perempuan dan seluruh keluargaku sudah mulai cerewet dengan wanti-wantinya bahwa sekali lagi seseorang baik-baik tiba di ambang pintu rumahku, jangan sampai jadi bala kala aku tak tahu diri menutupkannya pintu lagi. Belum juga ibu sebagai orang tua tunggalku saat ini bukan tipikal orang tua yang ribet mensyaratkan aku harus lulus kuliah dulu, laki-laki yang datang padaku harus begini harus begitu. Kata ibu yang penting saleh dan bertanggung jawab, yang penting aku suka dan bersedia. Terlahir sebagai gadis bugis dengan segala kerempongan tetek-bengek pernikahan dan panai’, luar biasa tentram hatiku beribukan dirinya. Ibuku perempuan dengan pengertian dan kelapangan dada yang mengagumkan. Dan kurasa laki-laki manapun yang pernah tiba di ruang tamuku sampai menemui ibu, tidak ada lagi yang berpikir pusing-pusing mengajakku bertemu kemana-mana selain menemui di rumah saja. Ibu lebih damai begitu. Semua damai dengan begitu.
Sampai sekarang masih dengan segala yang terjadi, dengan seluruh kelakuan burukku, aku menuliskan ini semua karena tiba-tiba kagum saja dengan mereka-mereka—yang masih ada lho—yang bertahan mencintaiku, bertahan tetap baik padaku. Masih ada yang kulihat sungguh-sungguhan bekerja keras siang malam memapankan diri, dan masih mendatangiku setelah kutolak mentah-mentah, setelah kata-kata kasarku, setelah sejahat-jahatnya perlakuanku. Maksudku, ada lho laki-laki seperti itu saat aku pernah berpikir menghabisi nyawa hanya karena merasa tercampakkan dan sendirian. Masih ada yang setia sekali tegak berdiri di sampingku setelah kesalahanku yang berulang-ulang, saat banyak sekali yang kulihat pergi menjauh, masih ada yang sabar untuk tetap ada. Tiba di obrolan chatku, tiba di status-statusku, tiba dengan buku nasihatnya, tiba dengan segala kesantunan yang sampai membuat aku sendiri merasa tak pantas. Iya, mereka ada sampai mau kubuka mata, sampai aku berubah, sampai aku mau. Sungguhan ada lho yang masih begitu peduli dengan segala ketidakpedulianku. Aih, malah pernah aku berpikir mendatangi dulu mereka satu per satu jika sudah kuputuskan untuk memilih menikah nantinya. Entahlah, entah meminta izinkah, meminta restu kah, memohon maaf kah. Aku hanya rasa-rasanya ingin saja melakukannya. Merasa perlu saja mendatangi.
Hm, lagi-lagi kutulis catatan tak penting, tak baku, tak jelas, dan panjang membosankan seperti ini. Maaf, kalau kau pembaca setia blogku, aku menulis ini juga untuk berterima kasih. Bahkan aku yang setidak penting ini masih mau-maunya kalian baca. Masih mau-maunya kalian gemari. Pasti butuh kesabaran penuh misalkan untuk menelan habis tulisan sepanjang ini. Yang isinya curhatan pula. Tapi ya, aku senang berbagi apa saja. Kesedihanku, kesenangan, berita-berita baik, hal-hal tak penting, apa-apa yang ada di hati dan hidupku, karena bagiku kalianlah teman yang paling sejati. Orang-orang yang duduk berisisian denganku belum tentu orang yang sama yang mau peduli dengan apa yang kuceritakan, yang mau tahu tentangku. Tapi kalian mau. Jadi siapa yang sesungguhnya teman?
Sekali lagi terima kasih, untukmu, kau yang masih mencintaiku, kau yang masih peduli, kau yang masih membacaku, kau yang masih ada, kau yang masih membuatku merasa ada, kau; kalian!
Singkatnya; aku sayang kalian, dan aku ingin menikah! *ups
Hahaha, Iyalah, orang-orang juga mau menikah, meskipun tidak sekarang, kan? *peace.
Hei, sekali lagi maaf-maaf, selamat tidur! Semoga terberkahi dasbormu yang masih ada aku di dalamnya, semoga bisa kubalas waktumu dengan pertemuan di suatu masa, kelak! Aku juga ingin mendengar cerita-cerita anehmu.
Have a nice dream!  ̯_  ̯

Kamis, 23 Januari 2014

Menyoal Resolusi Menulis; Tak Ada Angka Tahun Ini


Seseorang tiba dengan sebuah pertanyaan—yang sejatinya wajar, resolusi apa yang sudah saya buat dalam hal menulis di tahun 2014 ini.

Barangkali terdengar pesimis, tapi tak ada lagi angka-angka yang tertarget. Berapa baris yang harus ditulis setiap hari, berapa tulisan yang harus lahir dalam seminggu, dalam sebulan berapa cerpen yang harus tuntas, berapa puisi, berapa esai, berapa naskah yang harus termuat media cetak, berapa perlombaan yang harus saya ikuti, berapa banyak buku yang harus saya baca, tak ada. Semua itu kini bersih dari baris-baris halaman catatan tahunanku.

Barangkali—memang—terdengar pesimis. Saya pemalas, yang ini sudah tidak usah ditanya, tapi bukan itu. Saya pembangkang jika diikat dengan sesuatu yang saya tahu ada celah buat saya lepas. Biasanya saya, justru ketika memasang target harus begini, wajib sebegitu, malah akan sibuk menghabiskan waktu memikirkan bagaimana cara menyelesaikannya ketimbang duduk tenang dan mulai saja langsung bekerja. Saya begitu. Tapi—lagi-lagi—bukan itu. Alasan terbaik yang saya punya dengan tak menargetkan macam-macam adalah soal kepercayaan, kepercayaanku pada anak-anakku (tulisan-tulisanku) sendiri. Menurutmu sampai perjalanan seberapa tahun ini, berapa kali saya pernah mengirimkan tulisan ke media? Lima, sepuluh? Berapa tahun saya menulis? Tiga, Empat? Mau saya jawabkan? Saya sudah menulis sejak SMP, yang artinya kurang lebih tujuh tahun lamanya, dan tulisan yang pernah berani-berani saya kirimkan ke media cetak hanya sejumlah satu! Satu buah tulisan! Kau dengar? Satu! Tidak termuat? Iya, yang itu tidak termuat, dan sekarang saat membacanya lagi, saya sangat mengerti kenapa.

Orang-orang di sekitarku jadi geram sendiri, jadi gemas sekali. Ketua FLP di rantingku bahkan sudah tak terjelaskan bagaimana lelahnya mengomeli. Saya ingat seorang senior—masih di FLP—bahkan nekad mencomot tulisanku di catatan facebook untuk dikirimnya mewakiliku, saking batuku. Ia meminta izin tentu saja, dan saya tak berkeberatan. Dimuat? Iya. Sebab sekali dimuat itulah saya memberani-beranikan diri mengirim satu puisi yang aih tadi.

Saya tak PD, sungguhan krisis kepercayaan diri yang akut sekali. Pernah lagi, dibuka kurasi puisi untuk penyair-penyair se-Makassar. Bakal dibukukan dan di-launching saat helatan MIWF 2013. Saya ikut? Beberapa orang—tentu saja—menyuruh, saya dengan sejuta timbangan dan sedebu kepercayaan diri mengirimkan naskah puisi di malam hari yang saya pikir deadline. Kak Muhary tiba di inbox facebook-ku yang kurang lebih berisi; file kirimanku tak bisa terbuka dan sebenarnya bukan hari ini, deadline kurasi itu kemarin. Beliau meminta maaf, saya menghela napas, entah sedih, entah lega karena tak dibaca. Tapi kak Muhary meminta dengan santun sekali agar saya mau mengiriminya puisi-puisi tersebut secara pribadi. Hanya ingin ia baca, katanya. Saya kirim? Of course not! Meskipun pada sebuah kesempatan saya pernah berjanji, tapi mana saya PD. Malamnya saya cek surel yang katanya file kirimanku tak terbuka itu, saya temukan kata-kata semacam maaf, sama, file kirimanku tak terbuka, dan saya diberi kesempatan mengirimnya lagi dalam tenggat waktu 2x24 jam. Lama saya menimbang-nimbang, membaca puisi-puisiku berulang-ulang, tapi percuma. Puisi-puisi tersebut harus tabah kembali mendekam di jeruji folder laptopku. 

Sebelum gelaran launching buku yang akhirnya dijuduli Wasiat Cinta itu, kak Muhary, masih, menagih janji. Merasa berhutang, terpaksalah saya mengiriminya. Saya ingat, ada emoticon smile di balasan inboxku beserta kalimat singkat, "Saya bisa menemukan ruh puisimu." Saya tersenyum, rasanya pujian yang berarti sekali. Tiba di gelaran launching, kak Muhary bercerita panjang-lebar termasuk menyebut beberapa karya yang gagal dibukukan karena lewat deadline pula tak bisa terbuka. Itu saya! Dan benar, menohok sekali saat ia tiba pada namaku, sungguhan di sesi itu ia menyebut namaku. "Ada Azure Azalea, setelah saya minta membaca puisinya, aduh, saya merasa sayang sekali, ia tidak bisa terikut, padahal bagus puisi-puisinya. Semoga ada Mimbar Penyair Makassar ke-2 tahun depan." Plak! Tertamparlah! Bukan apa-apa, soalnya sebuku dengan penulis idolaku Aan Mansyur, kak Fitrawan Umar, kamu, dan agh! some people who wow, is one of my dreams! Itu menyakitkan tentu saja! Sangat malah! Melewatkan kesempatan hanya karena tak percaya saya bisa, tak memercayai anak-anak yang susah-susah saya lahirkan. Bodoh sekali memang! Bodoh sekali saya saat itu!

Termasuk puisi-puisiku di blog yang bukan dikutip, tapi diambil utuh beberapa buah oleh temanku sendiri—yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Dan masih banyak cerita lain lagi yang membuatku merasa sudah sangat tolol sekali dibuatnya! So, begitulah, maka saya putuskan khusus untuk tahun ini, resolusi menulis saya adalah :


Ya, menjadi ibu yang baik. Menjadi ibu yang baik artinya siap untuk secara serius menghasilkan anak-anak yang berkualitas—sehat, mencerahkan, sesuatu semacam itu. Serius memberikan kesempatan pada anak-anakku untuk menguji dirinya di luaran sana, serius untuk jadi lebih giat, lebih bekerja keras, lebih menjaga asupan. Belajar menjadi ibu juga berarti belajar untuk mencintai pekerjaan sebagai ibu—dalam hal ini yang saya maksud penulis tentu. Begitulah. Mungkin sebagian kalian tetap tidak menganggap alasanku sebagai alasan yang tepat, tapi saya menilai resolusi dengan cara saya sendiri, menurut kebutuhanku sendiri.

Rabu, 22 Januari 2014

Semacam Ucapan Perpisahan

Mencintai berarti belajar untuk tidak memiliki apa-apa
selain dari yang kau cinta.
-Fitrawan U, Penggalan puisi Akhirnya Nanti-


Sebenarnya satu kali saja kaukatakan, "Jangan pergi!", satu kali saja, aku pasti akan menurut, dan aku masih akan berjalan di sampingmu dengan senyum yang sama, dengan telinga yang sama. Meski aku tahu jalan kita berbeda. Aku berjalan pergi dari seseorang, kau berjalan datang menuju seseorang. Kalaulah saat ini kita berjalan berdampingan, tapi aku cuma perjalananmu, bukan tujuan. Sementara aku sedang mencari tujuanku, berbahayanya sebab bisa saja itu menjadi dirimu. Itulah mengapa cepat atau lambat, niscaya perpisahan kita! 
 
Oh ya, kurasa sudah waktunya kau membuat tujuanmu jelas. Kaubertahan hidup di dunia yang abu-abu itu tak akan baik. Kau bakal terlalu banyak luka sendiri, terluka yang mungkin tak perlu. Beberapa hal harus keluar dari sangkaan dan diwujudkan dalam pembicaraan-pembicaraan yang layak. Aku hanya takut kau kehabisan waktu untuk melakukannya. Bagaimanapun, orang-orang harus memilih untuk melepas atau sekalian mengejar cintanya sampai mati. Dan kau tak bisa memperjuangkan apa-apa hanya dengan memikirkan dan menyangka-nyangkanya saja.

Aku mendoakanmu. Doakan aku juga. Semoga jalan cinta kita berdua indah, dan kita bisa membagi senyum dan cerita di masa yang entah kapan, kelak.

Berbahagialah, dan baik-baiklah, Kita! 

Sabtu, 18 Januari 2014

di usiaku yang ke dua puluh satu

saya tidak sedang sehat, kalau itu penting kalian tahu. kalian masih ada di sini, masih menyapa, masih mengingat, itu yang penting buatku.

semua yang ingin saya katakan lewat catatan ini--kalau bisa--adalah permintaan maaf saja. apa yang saya lakukan selama dua puluh satu tahun hidup di muka dunia ini tentu terlalu banyak untuk kemungkinan tak menggores hati kalian dengan banyak pula.

saya pemalas, ceroboh, pelupa. mudah bosan, gampang lelah, tidak praktis. terbiasa ingkar, sering menghilang begitu saja, senang terlambat. tak pandai menolak, tak senang memberi alasan, tak mau tahu prioritas. biasa terlalu cerewet, biasa sangat lamban, selalu semaunya, berharap seluruh dunia berisi orang baik yang tak pemarah, pengertian, dan pemaaf.

saya enteng menghabisakan pulsa, tapi malas beranjak mengisi ulang, bahkan meski counter pulsa berada tepat di samping rumah. saya tidak mengangkat telepon dari nomor-nomor baru dan saat-saat saya terlalu pusing dengan diri saya sendiri--soalnya kapan juga saya tak dipusingi diri saya?. saya jarang menolak sesuatu secara langsung kecuali menghindar tanpa kata-kata dan tak suka pusing-pusing merekayasa alasan-alasan untuk membuat orang sekadar merasa tenang. dulu saya perempuan yang bisa tersenyum pada semua orang yang tak dikenal sekali pun, dulu--sebelum terlalu banyak fitnah ketika tertakdir lahir jadi perempuan.

kalau kalian (orang-orang di masa sekarangku) juga mau tahu, saya dulu orang yang sangat memikirkan orang lain lebih dari diri sendiri. apa yang mereka pikirkan, rasakan, apa saya tak melukai, apa saya tak membuat mereka jatuh hati, sampai lelah sendiri. sampai jadi begini. senang sendiri, sudah malas diajak basa-basi, mulai tak peduli.

maka, maaf. dunia berubah dengan anggun, saya berubah dengan lebih buruk. sudahlah. sebagai kado, bisakah kalian memaafkan saja itu semua? ayolah, hari ini saya berulang tahun, baiklah padaku sedikit. oke deal? deal! hahahaha.

omong-omong soal hari ulang, ini yang terbaik hari ini; catatan ulang tahun dari sahabatku dan ucapan pertamanya tepat di pukul dua belas malam--saya tak sangsi dialah belahan jiwa yang mencintaiku sangat sejati. mana mana mimi? saya ingin sekali memeluknya. terbaik lainnya teleponmu, hey, terima kasih membuatku merasa punya seseorang, dan sms dari bapak ini yang termanis;

assalamu'alaikum. fika met milad ya. barakallah. keep semangat, optimis menggapai impian. doa bapak mengiringi. bapak sayang fiqah seperti ke puteri bapak. jadilah wanita salehah ya, sayang. doa bapak selalu.


aih, salah satu hadiah paling indah dari tuhan di tahun-tahun ini adalah bapak--yang membuatku merasa sungguh-sungguh masih memiliki bapak. hm, fiqah sayang bapak. oh ya, yang lain adalah catatan sahabatku yang satu ini. haru sekali rasanya ketika kautahu ada yang diam-diam menyepakatimu sebagai sahabat dan menuliskanmu sementara ia punya alasan menuliskan hal yang jauh lebih indah lagi. isma, peluk! lalu untuk kalian dengan segudang doanya. aduhai doa-doa kalian sudah seindah-indahnya hadiah.

akhir kata, terimakasih, rabb, untuk kelahiranku dalam cinta, dan maaf, teman-teman, untuk takdirku sebagai manusia dengan segala keluputannya.
semoga terberkahi kita semua! jazakumullahu khairan, uhibbukum fillah!

Senin, 13 Januari 2014

Jalan Panjang Rindu


rindu adalah terjemahan kata-kata yang terkekang dalam tubuh yang getah. dipinjamkan jalan, hujan, dan mata bagi kisah cinta ibu dan ayah. kabarnya di jauh sebelum kata-kata menemukan bentuk, puisi-puisi ibu tersusun dari angguk, kerjapan, dan senyum-senyum. ialah ayah, bahasa yang diam-diam membentuk dirinya ke sudut-sudut bibir ibu.

kesedihan adalah kenang-kenangan yang mampu melihat jalan, namun patah kakinya. pikiran-pikiran jatuh tergelepar, terserak jadi genangan berarus deras. mereka melipat perahu-perahu dengan jari tangan, dari  kata-kata, tetas-tetasan  air mata. cerita-cerita dilarungkan, dikabarkan, tetapi surat-surat berbadan perahu tidak bersauh. bisa saja penantian hanyalah serentang takdir dan perjalanan.

keheningan  adalah suara yang bernyanyi dari sukma ke terma, dari dada ke sabda. pohon-pohon dahulu jelmaan melodi bagi nyanyian burung-burung. bila ayah dan ibu bangun subuh, rindu masih sempat diruntut jadi bait-bait lagu. bersama napas, pun wangi embun. lalu angin mengetuk-ngetuk lubuk.di musim penghujan, tanah masih liat dan rinai masih bisa berpeluk rapat dengan lengan terbuka. hanya masa memangkas pepohonan, menyisa jalan-jalan besi tanpa kehangatan, kecuali amarah yang memantulkan segala suara. tiang-tiang listrik dan satelit mengulurkan tangan seperti menjanjikan rindu, sedih, dan nanti  adalah  surga yang bisa ditebus mereka.

ada masa—kata ayah—telinga mereka yang tak beratap, bandang hingga luap jadi kelakar. bahkan  lidah tak mampu tegak sendiri. kata bergerak dari bibir ke jari, dari mata ke nanti. lalu puisi-puisi hanya berhenti di sudut mata atau di sebelah ujung bibir. rindu tak lagi jalan panjang menuju relung, tapi buaian dari kantuk ke tidur.

suatu saat ayah pasrah menubuhkan tanah, dan mata ibu setia  jadi hujan yang lengan. kali terakhir ibu berujar, perahu-perahu yang  sesat akan labuh akhirnya, sementara sentuhan-sentuhan maya karam kembali dalam hening yang mulai serak. malam lalu ibu menitip sebutir air matanya di keningku, ia bangun lalu jatuh sebagai air mataku.

sampai kini ibu masih menangis, ayah  masih jadi aroma tanah, mengentalkan kerinduan. namun ada berapa ayah dan ibu yang bekerja membasuh ingatan anak-anak mereka? ketika keduanya memilih abadi kupuisikan, waktu terlanjur patah,  lalu bahasa kian memutar di
atas kata-kata—yang terpaksa menjelma kertas-kertas kecil.

pada masa tak lama lagi, kata-kata yang kian tak bertulang akan meggantikan tangis ibu bagi surat-surat dan tulisan tangan ayah. kemudian rindu, akhirnya kata-kata sedih yang menghabiskan hari mencari keheningan-keheningan sejati.

Makassar, 2014
Terbit di kolom Fiksi Soulmaks Magazine edisi Agustus 2014

Anak Perempuan Bapak

Anak-anak perempuan membentuk kakinya dari nasihat-nasihat bapak mereka. Dulu sekali, aku masih merengeki ibu jika ingin menonton kartun hari minggu, masih bergidik jika ada deru sepeda motormu tiba di depan pintu, masih gemetar jika namaku kauteriakkan. Dulu sekali, aku belum mengerti apa pentingnya belajar menghitung dan membaca, apa artinya satu-dua pensil yang hilang hingga harus menerima hukuman, aku belum paham kenapa tak boleh duduk mengangkang, dan menyisir rambut sebelum ke sekolah. Dulu sekali, aku tak tahu kenapa harus merayakan ulang tahunku dan malah tak pernah tahu ulang tahunmu. Tapi aku terlalu kanak dulu, terlanjur lamban memahami cahaya-cahaya itu hingga sudah menabrak ke sana ke situ.

Sekarang, Pak, anakmu lagi mencemburui masa kanak banyak teman perempuannya, lagi menangisi ia yang sekarang, yang meremaja dengan terlalu banyak keterlanjuran bersama teori-teori yang akhirnya selalu terlihat percuma.

Sebabnya dulu sekali, kau sudah mendekam ke bawah tanah, sebelum kakiku tegak berjalan.

Malam ini, lagu ini, yang membuatku begini rindu padamu, Pak.
 

Minggu, 12 Januari 2014

^found something funny^

Jadi ceritanya, saya kalau kurang kerjaan itu punya hobi stalkingin orang-orang di tab mention. Nah, nemulah nih twit-an.


Haha, Dalem gila'! Rasanya suka aneh sama orang yang nyata-nyata ndak kufollow, tapi masiih mau nomention. Cuma yah memang kalau sudah takdirnya kutemukan, yaa gimana. Mesti dibilang ini orang punya feeling bagus, atau kalau niatnya memang tidak untuk kubaca, justru feeling yang salah sekali. :D 
Omong-omong, sebenarnya tetap saja haram hukumnya mengutip apa-apa tanpa mencantumkan nama. Ini penting lho! Oke tinggalin itu!

Penasaran, saya pun lanjut ngepoin TL-nya ke bawah, ke bawah lagi, ehhh malah nemu ini....


Khak! hahaha, seriusan nih orang gokil! Betul-betul gokil!!
Pas lagi suntuk-suntuknya nemuin kayak ginian benar-benar hiburan berati.Thanks, God!
 (eh, tapi maksudnya bukan kata-katanya dia yah yang berarti, tapi karena tingkahnya yang seriusan lucu.) *halah, ngeles*

Bdw, jadi kamu kenal nggak dengan tuh orang, Fiq? Suer, tidak sama sekali! :|
Tapi apapun, makasih kamu yang entah siapa...

Cerita Belum Selesai


            “Mulai sekarang kalau kita pergi bersama, semua yang kita makan harus dibagi dua. Bagaimana?”

            “Untuk apa?”

            “Untuk dikenanglah.” Fe tertawa.

            “Kenapa harus membuat banyak kenangan? Seperti akan berpisah saja, atau seperti sedang sangat saling mencintai.”

            “Karena kamu adalah salah satu orang yang tak mau kulupakan tahu.” Rei mengernyit melihat Fe tersenyum. Terlalu spontan.

            “Nantipun aku kau bikin tersinggung, atau terluka, atau kau tinggalkan, tidak apa-apa. Nanti kita berpisah, jadi tidak apa-apa. Kenangan-kenangan akan membuatku memaafkan.” Rei bimbang, menerka-nerka kata-kata Fe.

“Seperti dia, datang, pergi, sebentar melukai, sebentar sengaja membuat kenangan. Aku tidak suka, tapi anehnya tak bisa membenci dia.” Fe menatap langit-langit, memperbaiki posisi duduk. Rei menatapnya, tak mencela.

“Kenangan-kenangan baik membuat hatiku lebih bersih, Rei. Hati yang membawaku mau terus percaya dia tetap orang yang baik, membuatku merasa selalu dalam kasih. Aku mempercayainya seperti kepercayaanku yang mula-mula, seperti saat aku menyetujuinya jadi kekasih. Sedikit pun tak berkurang.

“Malah aku berpikir, barangkali dia meninggalkanku untuk memberikan pengertian ini.”

“Kau memercayaiku, Fe?”

“Kepercayaan itu terpilih, bukan mau atau tidak mau kuberi. Kau memilih untuk kupercayai, makanya hari itu kau datang, makanya menelepon, makanya membuatku mau terbuka, bercerita, menangis, lalu dibuat tertawa. Sampai sekarang.

“Aku memilih dipercayaimu, makanya mengangkat telepon, mendengarkan, menurut dinasihati, membuatmu bercerita banyak rahasia, memberi ucapan selamat pagi atau selamat tidur, cerewet jika kau terlambat makan dan pulang, atau suka mandi malam, meskipun bukan kekasih, bukan sahabat, hanya teman.”

“Itu cuma nama. Nama yang diberi, disepakati.”

“Hm, kau benar.”

“Jadi apa kau tidak gelisah, siapa tahu nanti di antara kita, salah satu atau keduanya, ada yang jatuh cinta lalu tak sengaja terluka atau melukai?”

“Lha, makanya tidak perlu digelisahkan.”

“Hmm?” Fe mengambil napas sebentar sambil menyendokkan beberapa potong batagor ke piring Rei. Tidak diprotes.

“Rei, karena terlalu berpikir, terlalu cemas, orang-orang jadi ceroboh. Jadi tak sadar terjatuh, tak sengaja membikin luka yang lain.” Fe menghela napas panjang. Teringat-ingat lagi barangkalilah alasan itu juga yang membuatnya ditinggalkan kekasihnya. Dulu.

“Maksudku, kan cinta sudah punya nasibnya sendiri sejak ia dilahirkan ke hati, jadi yah tugas kita diam saja. Tidak usah dibunuh, tidak usah dilarang-larang, tidak usah juga disilakan. Biar saja bekerja sendiri, capai sendiri, atau apa maunya. Dia berhak hidup dengan caranya dia.”

Rei tersenyum. Meraih pisau dan garpu di atas meja. Fe menyeruput Es Tehnya.

“Aku kira selama ini kau tak pernah berpikir, kecuali menyahut, atau menangis.”

Fe mengangkat ke atas kepal tangan kanannya yang masih memegang sendok, seperti mau memukul.

“Aku kan cuma tak suka terlihat cerewet.” Rei terbahak, terejek. Fe juga tertawa, puas.

            “Hei, kau harus berhati-hati padaku. Mengingat yang kau katakan tadi, kau bisa-bisa benar-benar mencintaiku.” Giliran Rei menyerahkan kentang gorengnya ke piring Fe. Diterima dengan bergairah.

            Slow! Justru mengingat kau yang dari tadi terbengong-bengong takjub saja mendengarku bicara, kukira kau yang bakal jatuh cinta duluan.” Fe menjulurkan lidah. Mengejek. Rei malah menyuapkan es krim ke mulutnya. Berlepotan. Fe benar-benar menggetok kepala Rei kali ini.

            “Hei, kau ingat perbincangan kita di taman waktu itu?”

            “Apa?”

            “Katamu, seharusnya kita tidak pernah takut sendirian, karena selalu ada yang mencintai, meskipun tidak diketahui, tidak disadari, meskipun tidak berkaitan. Tapi kau sangat meyakininya. Ada yang diam-diam memperhatikan, memuja, menaruh hati, melindungi. Kita hanya tak merasa, atau sengaja belum dibuat sadar.”

            “Iya?”

            “Aku mulai percaya, Rei.”

            “Ada yang mencintaimu?”

            “Tidak tidak. Kubilang aku percaya dan cuma berusaha menebak-nebak.”

            “Jangan ditebak, Fe. Tebak-tebakan itu juga adalah kecerobohan. Kau bisa terluka.

            “Kau juga berarti ingat kan, waktu itu kukatakan untuk tenang dan damai menjadi diri sendiri. Entah kau cerewet atau pendiam, entah tomboy atau anggun, entah supel atau cuek, entah pemarah atau pemalu, selalu ada yang suka, selalu ada yang tidak suka. Entah kau cari atau diamkan, mereka akan selalu ada. Dan akan kelihatan sendiri nanti.”

            “Iya, itu benar. Aku hanya berpikir-pikir, Rei, mungkin akan menjengahkan jika berjalan terlalu lurus, menjalani apa yang diyakini atau yang sudah terbukti, sudah teruji. Tidak mencoba melawan, melanggar batas-batas.”

            “Fe…”

            “Tidak, aku cuma berpura-pura tegar, berpura-pura mengerti. Untuk urusan cinta, tak ada orang yang benar-benar bisa bijaksana. Kita menghibur diri dengan pemahaman-pemahaman, tapi sebenarnya cinta bukan paham yang bisa dibantah atau disempurnakan.” Suara Fe lirih. Rei memilih menggeser kursi ke sisi Fe, mengambil tubuhnya dengan sebelah lengan.

            “Kan, sudah kubilang jangan menangis. Aku juga tidak peduli dengan definisi-definisi yang ada. Terpentiing bagiku, kau jangan menangis. Pikirkan, kalau tidak memikirkannya membuatmu menangis, tapi kalau malah berpikir yang membuatmu menangis, jangan pikirkan lagi. Mengerti?”

            “Hm.” Fe mengangguk, tergugu.

            “Jangan pergi, Rei.”

            “Memangnya aku mau ke mana?”

            “Aku merasa bakal kau tinggalkan.” Fe merajuk, Rei mendalamkan dekapan, tak membalas.

            “Kau lihat, aku sudah mengerti, aku sudah tahu membenahi diri, aku sudah sembuh, tapi semua akan sama saja begitu kau pergi. Kembali ke nol. Kembali seperti aku tak tahu apa-apa, dan akan hancur, tak mau hidup. Seperti dulu.”

            “Fe…” Rei melonggarkan lengannya, membuat ia bisa memandang lekat wajah Fe, mengelap air matanya.

            “Aku tahu kau mencintai yang lain, tak mungkin mencintaiku. Orang itu juga belum terhapus di hatiku. Aku tidak bilang mencintaimu, kita tetap saja teman, tapi kau penting sekali buatku, Rei. Kau mengerti?”

            “Iya iya. Aku mengerti. Tapi kenapa kita berbicara seperti akan berpisah sih?”

            “Aku merasa bakal kau tinggalkan. Kita jadi terlalu dekat, seperti tak lama lagi akan jauh. Seperti sudah dekat waktunya berpisah. Kita sudah jarang tertawa. Ditelepon lebih banyak diam dan membahas yang remeh temeh, seperti tidak ada lagi yang penting. Seperti aku tidak lagi penting.”

            Rei tak menanggapi, mendekap Fe sekali lagi, merapikan rambutnya, membereskan tas, lalu meminta datang pelayan. Rei membayar tagihan dan mengantar Fe pulang.

            Mereka tiba di rumah Fe. Rei memilih tak langsung pergi, dan menunggu kalau-kalau ada yang ingin Fe katakan, tapi percuma. Fe memandangi Rei lama sekali, sampai Rei memilih memohon diri. Fe mengangguk pasrah.

. . . .

Jumat, 10 Januari 2014

Air Mata yang Bercermin



M
ASA lalu adalah penjara yang tak semua orang mampu menemukan kuncinya.
Apa yang bisa disesalkan dari peristiwa yang telah menjadi pilihan? Bukankah dahulu pernah kaukatakan padaku, setiap permulaan cerita dalam kehidupan ini milik Tuhan? Ya, lantas kita yang memilih bagaimana harusnya cerita tersebut diselesaikan.
•••
“APA semua kesalahan berhak dimaafkan?” tanyamu pada perempuan itu.
“Jika Tuhan Maha Pemaaf, apa kita punya alasan untuk tidak memaafkan?”
Kaulontar napas.
“Jika seorang pria dan wanita pernah hidup pada sebuah kata bernama pernikahan, maka seharusnya itu hanya sekali dan selamanya, bukan?”
“Apa seseorang bisa menjaminkan dirinya selalu setia?”
Sekali lagi, kau hanya menhela napas. Lebih panjang.
“Bagaimana dengan pilihan?”
“Bagaimana dengan kuasa Tuhan?” Perempuan itu tersenyum.
Dan, selalu, pertanyaan-pertanyaanmu hanya berjodoh dengan pertanyaan pula. Dan, selalu, rasanya segala jawaban hanya berjodoh dengan lengan-lengan kalian yang tak pernah letih menggenap—setelahnya, dalam kosong, dalam hening, dalam ringkukan rasa yang hanya kau dan dia yang tahu. Selalu begitu.
•••
APA yang lebih megah dari sebuah keluarga yang lengkap? Ibu, ayah, anak, dan cinta. Hidupmu harusnya purna, namun bukankah kehidupan pula selalu punya cara untuk menguji?
Memang tak pernah mudah menjadi dirimu dalam cerita ini. Anakmu diculik. Anak kalian diculik saat kau dan istrimu bahkan belum sempat menghafal rupanya. Belum juga sembuh lukamu, sudah mesti perih sekali menanggung kenyataan depresi dari istri yang amat kaucintai. Ah, malang betul menjadi kau.
Hanya saja bukankah pada setiap permulaan yang Tuhan berikan, kita punya kuasa untuk memilih juga? Kaumemilih memberikan lagi perempuan itu anak. Seorang bayi perempuan yang kaupikir hanya kau dan Tuhan yang tahu dari mana asalnya. Mungkin kaupungut, mungkin jatuh dari langit. Tak pernah ada yang tahu—pula perempuan itu, istrimu. Tapi lengkap tak sama dengan genap. Kau tetap saja merasakan keganjilan. Sesuatu yang mengganggu.
“Semua akan baik-baik saja!” terus kau menghibur diri. Perempuan itu telah lebih sehat. Kalian kian saling mencintai, meski sering berulam tengkar perihal mengapa kau selalu tampak membenci anakmu—yang tak pernah mau kaubahas pada siapa pun.
•••
MENURUTMU siapa yang lebih tabah dari 29 Februari dan mereka yang ditakdirkan keluar dari perut ibunya di tanggal tersebut? Betapa Reka tabah sekali menghitung angka-angka usianya dalam empat tahunan. Dan, ini perayaannya yang kedua. Apa kautahu betapa bahagianya dia? Sejak 1 Februari lalu dilingkarinya kalender setiap hari dengan wajah yang kian berseri.
“Sebentar lagi Ayah akan memberi Reka kado. Ayah akan memberi Reka selamat dan memeluk Reka. Ayah sudah berjanji,” bisiknya selalu dengan riang pada dirinya sendiri tiap menatap kalender duduk di ruang tamu. Dia bahagia. Kau tak pernah tahu bagaimana bahagianya dia.
Perempuan itu menyiapkan segalanya untuk hari ini—sesuai permintaanmu. Kau sungguh membenci segala yang perempuanmu itu curahkan untuk Reka, tapi kau sudah berencana untuk membahagiakannya hari ini. Hari ini saja, sebelum Reka pergi selamanya.
Segala rencana telah kaususun untuk itu. Sebuah pesta kecil di rumah; lilin, kue, sirup. Sederhana saja. Sebuah perayaan kehidupan yang sebentar lagi. Reka duduk di sisi kananmu, perempuan itu di sisi kanannya. Reka tak henti menatapmu—perempuan itu juga, barangkali hingga lupa mengerjap saking tak percayanya kauberada di sana bersiap untuk memberinya selamat, menghadiahkannya kado, memeluknya. Kau tak henti menghela napas. Kaupikir harusnya kau telah lebih dari siap untuk perayaan ini. Lebih dari siap untuk segalanya.
Perlahan, akhirnya kausodorkan sebuah kotak kecil ke tangan Reka. Terbata-bata, lalu mengucapinya selamat, dan ... dan memeluk anak yang begitu kaubenci itu. Reka tak mengatakan apapun. Ia hanya tertawa dan tak melepaskan rangkulannya dari pundakmu. Lama. Ya, cukup lama. Kaugelagapan. Perempuan itu menitikkan air mata. Momen yang terlampau indah. Aku mengusap dada dalam-dalam demi mengingat peristiwa itu.
Acara tiup lilin pun dimulai. Kauizinkan Reka membuat permohonan lebih dulu.
“Reka cuma mau terus sama-sama Papa dan Mama untuk selamanya. Reka sayang Papa dan Mama.”
Senyum gadis itu kembang di matamu. Kaumerasakan sesuatu berdesir jauh di dalam sana. Hampir sudah kau gugur dan menangis. Tapi telah pula kau berjanji agar tegar. Reka menunggu empat tahun lamanya demi merasakan kebahagiaan ini. Kau, juga, telah menunggu empat tahun untuk melakukan ini.
Tak lama, kautemukan dirimu sedang menawari Reka dan perempuan itu sirup. Kau terus menatap dua perempuan di hadapanmu itu secara bergantian. Membiarkan segala perasaan mencair tanpa perlu lagi kautahan. Kaumenghela napas menyaksikan mereka—juga kau—menenggak minuman itu dengan sangat bahagia. Semua selesai. Semua bahagia. Kau memeluk mereka erat.
•••
Sebab takdir yang kaupilih boleh jadi terbentur takdir pilihan orang lain.
KAUMEMBENCI Reka dengan segenap hatimu selama ini. Sebab melihatnya selalu mengingatkanmu padaku, perempuan gelapmu yang kauambil paksa satu-satunya miliknya demi perempuan yang nyaris gila dan kehilangan separuh dari ingatannya itu. Kaumembenci Reka sebesar aku membencimu, sebesar Reka mencintaimu, sebesar cintanya perempuan itu pada Reka, sebesar segala kebohongan, sebesar segala penyesalanmu yang pasti.
Sebab aku tak mati. Di hari ketika aku sekarat di sebuah jalan raya—berkatmu, perempuan itu menolongku. Aih, takdir selalu punya cara kerja yang rumit. Aku tak mati, kautahu? Aku tak mati untuk menceritakan pada perempuan itu segala kenyataannya. Bahwa kaukeparat. Sialnya, perempuan itu mafhum.
Aku mengutuk Tuhan, mengapa kau harus seberuntung itu memiliki perempuan macam ia? Mengapa perempuan itu harus tak seberuntung itu dicintai olehmu dan dengan cara yang begitu buruk?
Salah hatimu satu saja; tak pernah mencintai Reka. Tak pernah dapat kaucintai darah dagingmu sendiri—ketika perempuan itu bahkan sanggup membasuh segala lukanya membesarkan anakmu—yang setahunya bukan anaknya—hanya demi menjaga ingatan Reka bahwa ayahnya bukan bajingan. Demi menjaga lupamu agar segala masa lalu tak perlu terus melukaimu tiap menatapnya. Ah, Tapi mungkin perempuan itu salah. Lupa bahwa orang-orang tak bisa lupa untuk melupakan selamanya—pun seperti ia.
Aku turut menyesal. Beginilah akhirnya kisah ini kauselesaikan. Perempuan itu mati, Reka mati. Kalian harusnya mati bersama dan membiarkan segala rahasia turut terkubur di liang lahat. Tapi kau tak mati. Aih, kauterpukul sekali menerima kenyataan itu. Mengapa kau masih hidup? Mengapa kau tak mati oleh obat yang telah kautuang rata di gelas-gelas tersebut? Dan polisi? Dari mana pula mereka itu datangnya? Siapa yang memanggil? Kaucoba merunutkan segala pertanyaan, namun gagal.
•••
Kita lahir untuk menanggung hidup. Hidup ada untuk menanggung segala akibat.
SELAMAT, kaulahir kembali. Tidak, tepatnya hidup kembali dari maut yang hampir—berkatku. Jeruji tak lebih dari rumah istirahat di mana saat kaukeluar, kungkungan dari kehidupan nyata jauh lebih menyiksa. Sebab tak ada penjara yang lebih besar dari dunia di mana kaukembali pada sendiri.
Beginilah takdirmu. Seterusnya akan hidup untuk mengutuki diri. Selamanya tertakdir untuk jauh lebih tabah mengeja waktu, kenangan, dan semua nuansa. Selamanya hanya bisa bersabar hidup untuk menunggu bertamunya ajal, untuk menyesali mengapa kau tak mati jua.
Aku, bertahan tetap hidup, hanya untuk menyaksikan kisah ini berjalan. Hanya untuk memastikan luka semua perempuan dalam hidupmu berbalas. Memastikan luka istrimu terbahasakan, lukaku, luka Reka, luka anak kita.
Aku tak mati hingga sekarang hanya untuk menemui hari ini. Sebuah pagi dengan secangkir kopi hitam pekat ditemani sebuah short message yang baru saja masuk di ponselku, menuliskan kembali—segalanya, lantas menemukan diriku berhasil tertawa—setelah bertahun-tahun lamanya.
Jangan kaukira aku tak tahu kaukeguguran! Keparat!
Kubuka kembali short message itu, dan tertawa. Lagi. “Terlambat sekali kautahu!” aku mendesis puas dalam hati. Tahu pasti kaumenangis sejadi-jadinya saat mengirimnya, tahu perempuan itu dan Reka (gadis kecil yang sebenarnya anak kandung kalian berdua yang kuculik) tengah mengutukmu dalam-dalam di surga. Aku tahu janin yang kautanam di rahimku—dan gagal tumbuh waktu itu—telah cukup besar di sana untuk bersorak;
           “Selamat menanggung hidup, Ayah!”
***
Makassar, Juni 2013