Jumat, 10 Januari 2014

Air Mata yang Bercermin



M
ASA lalu adalah penjara yang tak semua orang mampu menemukan kuncinya.
Apa yang bisa disesalkan dari peristiwa yang telah menjadi pilihan? Bukankah dahulu pernah kaukatakan padaku, setiap permulaan cerita dalam kehidupan ini milik Tuhan? Ya, lantas kita yang memilih bagaimana harusnya cerita tersebut diselesaikan.
•••
“APA semua kesalahan berhak dimaafkan?” tanyamu pada perempuan itu.
“Jika Tuhan Maha Pemaaf, apa kita punya alasan untuk tidak memaafkan?”
Kaulontar napas.
“Jika seorang pria dan wanita pernah hidup pada sebuah kata bernama pernikahan, maka seharusnya itu hanya sekali dan selamanya, bukan?”
“Apa seseorang bisa menjaminkan dirinya selalu setia?”
Sekali lagi, kau hanya menhela napas. Lebih panjang.
“Bagaimana dengan pilihan?”
“Bagaimana dengan kuasa Tuhan?” Perempuan itu tersenyum.
Dan, selalu, pertanyaan-pertanyaanmu hanya berjodoh dengan pertanyaan pula. Dan, selalu, rasanya segala jawaban hanya berjodoh dengan lengan-lengan kalian yang tak pernah letih menggenap—setelahnya, dalam kosong, dalam hening, dalam ringkukan rasa yang hanya kau dan dia yang tahu. Selalu begitu.
•••
APA yang lebih megah dari sebuah keluarga yang lengkap? Ibu, ayah, anak, dan cinta. Hidupmu harusnya purna, namun bukankah kehidupan pula selalu punya cara untuk menguji?
Memang tak pernah mudah menjadi dirimu dalam cerita ini. Anakmu diculik. Anak kalian diculik saat kau dan istrimu bahkan belum sempat menghafal rupanya. Belum juga sembuh lukamu, sudah mesti perih sekali menanggung kenyataan depresi dari istri yang amat kaucintai. Ah, malang betul menjadi kau.
Hanya saja bukankah pada setiap permulaan yang Tuhan berikan, kita punya kuasa untuk memilih juga? Kaumemilih memberikan lagi perempuan itu anak. Seorang bayi perempuan yang kaupikir hanya kau dan Tuhan yang tahu dari mana asalnya. Mungkin kaupungut, mungkin jatuh dari langit. Tak pernah ada yang tahu—pula perempuan itu, istrimu. Tapi lengkap tak sama dengan genap. Kau tetap saja merasakan keganjilan. Sesuatu yang mengganggu.
“Semua akan baik-baik saja!” terus kau menghibur diri. Perempuan itu telah lebih sehat. Kalian kian saling mencintai, meski sering berulam tengkar perihal mengapa kau selalu tampak membenci anakmu—yang tak pernah mau kaubahas pada siapa pun.
•••
MENURUTMU siapa yang lebih tabah dari 29 Februari dan mereka yang ditakdirkan keluar dari perut ibunya di tanggal tersebut? Betapa Reka tabah sekali menghitung angka-angka usianya dalam empat tahunan. Dan, ini perayaannya yang kedua. Apa kautahu betapa bahagianya dia? Sejak 1 Februari lalu dilingkarinya kalender setiap hari dengan wajah yang kian berseri.
“Sebentar lagi Ayah akan memberi Reka kado. Ayah akan memberi Reka selamat dan memeluk Reka. Ayah sudah berjanji,” bisiknya selalu dengan riang pada dirinya sendiri tiap menatap kalender duduk di ruang tamu. Dia bahagia. Kau tak pernah tahu bagaimana bahagianya dia.
Perempuan itu menyiapkan segalanya untuk hari ini—sesuai permintaanmu. Kau sungguh membenci segala yang perempuanmu itu curahkan untuk Reka, tapi kau sudah berencana untuk membahagiakannya hari ini. Hari ini saja, sebelum Reka pergi selamanya.
Segala rencana telah kaususun untuk itu. Sebuah pesta kecil di rumah; lilin, kue, sirup. Sederhana saja. Sebuah perayaan kehidupan yang sebentar lagi. Reka duduk di sisi kananmu, perempuan itu di sisi kanannya. Reka tak henti menatapmu—perempuan itu juga, barangkali hingga lupa mengerjap saking tak percayanya kauberada di sana bersiap untuk memberinya selamat, menghadiahkannya kado, memeluknya. Kau tak henti menghela napas. Kaupikir harusnya kau telah lebih dari siap untuk perayaan ini. Lebih dari siap untuk segalanya.
Perlahan, akhirnya kausodorkan sebuah kotak kecil ke tangan Reka. Terbata-bata, lalu mengucapinya selamat, dan ... dan memeluk anak yang begitu kaubenci itu. Reka tak mengatakan apapun. Ia hanya tertawa dan tak melepaskan rangkulannya dari pundakmu. Lama. Ya, cukup lama. Kaugelagapan. Perempuan itu menitikkan air mata. Momen yang terlampau indah. Aku mengusap dada dalam-dalam demi mengingat peristiwa itu.
Acara tiup lilin pun dimulai. Kauizinkan Reka membuat permohonan lebih dulu.
“Reka cuma mau terus sama-sama Papa dan Mama untuk selamanya. Reka sayang Papa dan Mama.”
Senyum gadis itu kembang di matamu. Kaumerasakan sesuatu berdesir jauh di dalam sana. Hampir sudah kau gugur dan menangis. Tapi telah pula kau berjanji agar tegar. Reka menunggu empat tahun lamanya demi merasakan kebahagiaan ini. Kau, juga, telah menunggu empat tahun untuk melakukan ini.
Tak lama, kautemukan dirimu sedang menawari Reka dan perempuan itu sirup. Kau terus menatap dua perempuan di hadapanmu itu secara bergantian. Membiarkan segala perasaan mencair tanpa perlu lagi kautahan. Kaumenghela napas menyaksikan mereka—juga kau—menenggak minuman itu dengan sangat bahagia. Semua selesai. Semua bahagia. Kau memeluk mereka erat.
•••
Sebab takdir yang kaupilih boleh jadi terbentur takdir pilihan orang lain.
KAUMEMBENCI Reka dengan segenap hatimu selama ini. Sebab melihatnya selalu mengingatkanmu padaku, perempuan gelapmu yang kauambil paksa satu-satunya miliknya demi perempuan yang nyaris gila dan kehilangan separuh dari ingatannya itu. Kaumembenci Reka sebesar aku membencimu, sebesar Reka mencintaimu, sebesar cintanya perempuan itu pada Reka, sebesar segala kebohongan, sebesar segala penyesalanmu yang pasti.
Sebab aku tak mati. Di hari ketika aku sekarat di sebuah jalan raya—berkatmu, perempuan itu menolongku. Aih, takdir selalu punya cara kerja yang rumit. Aku tak mati, kautahu? Aku tak mati untuk menceritakan pada perempuan itu segala kenyataannya. Bahwa kaukeparat. Sialnya, perempuan itu mafhum.
Aku mengutuk Tuhan, mengapa kau harus seberuntung itu memiliki perempuan macam ia? Mengapa perempuan itu harus tak seberuntung itu dicintai olehmu dan dengan cara yang begitu buruk?
Salah hatimu satu saja; tak pernah mencintai Reka. Tak pernah dapat kaucintai darah dagingmu sendiri—ketika perempuan itu bahkan sanggup membasuh segala lukanya membesarkan anakmu—yang setahunya bukan anaknya—hanya demi menjaga ingatan Reka bahwa ayahnya bukan bajingan. Demi menjaga lupamu agar segala masa lalu tak perlu terus melukaimu tiap menatapnya. Ah, Tapi mungkin perempuan itu salah. Lupa bahwa orang-orang tak bisa lupa untuk melupakan selamanya—pun seperti ia.
Aku turut menyesal. Beginilah akhirnya kisah ini kauselesaikan. Perempuan itu mati, Reka mati. Kalian harusnya mati bersama dan membiarkan segala rahasia turut terkubur di liang lahat. Tapi kau tak mati. Aih, kauterpukul sekali menerima kenyataan itu. Mengapa kau masih hidup? Mengapa kau tak mati oleh obat yang telah kautuang rata di gelas-gelas tersebut? Dan polisi? Dari mana pula mereka itu datangnya? Siapa yang memanggil? Kaucoba merunutkan segala pertanyaan, namun gagal.
•••
Kita lahir untuk menanggung hidup. Hidup ada untuk menanggung segala akibat.
SELAMAT, kaulahir kembali. Tidak, tepatnya hidup kembali dari maut yang hampir—berkatku. Jeruji tak lebih dari rumah istirahat di mana saat kaukeluar, kungkungan dari kehidupan nyata jauh lebih menyiksa. Sebab tak ada penjara yang lebih besar dari dunia di mana kaukembali pada sendiri.
Beginilah takdirmu. Seterusnya akan hidup untuk mengutuki diri. Selamanya tertakdir untuk jauh lebih tabah mengeja waktu, kenangan, dan semua nuansa. Selamanya hanya bisa bersabar hidup untuk menunggu bertamunya ajal, untuk menyesali mengapa kau tak mati jua.
Aku, bertahan tetap hidup, hanya untuk menyaksikan kisah ini berjalan. Hanya untuk memastikan luka semua perempuan dalam hidupmu berbalas. Memastikan luka istrimu terbahasakan, lukaku, luka Reka, luka anak kita.
Aku tak mati hingga sekarang hanya untuk menemui hari ini. Sebuah pagi dengan secangkir kopi hitam pekat ditemani sebuah short message yang baru saja masuk di ponselku, menuliskan kembali—segalanya, lantas menemukan diriku berhasil tertawa—setelah bertahun-tahun lamanya.
Jangan kaukira aku tak tahu kaukeguguran! Keparat!
Kubuka kembali short message itu, dan tertawa. Lagi. “Terlambat sekali kautahu!” aku mendesis puas dalam hati. Tahu pasti kaumenangis sejadi-jadinya saat mengirimnya, tahu perempuan itu dan Reka (gadis kecil yang sebenarnya anak kandung kalian berdua yang kuculik) tengah mengutukmu dalam-dalam di surga. Aku tahu janin yang kautanam di rahimku—dan gagal tumbuh waktu itu—telah cukup besar di sana untuk bersorak;
           “Selamat menanggung hidup, Ayah!”
***
Makassar, Juni 2013

2 komentar:

  1. aku tersesat...namun aku sangat menikmati ke-tersesat-an dalam 'air mata yang bercermin ini'
    TOLONG.. :D

    BalasHapus

Say something!