Kamis, 30 Oktober 2014

yang berguguran di hari kering



langit menyembunyikan perih musim
dalam sunggingan senyum sabit malam ini.
“bumi cuma butuh waktu lebih mengeringkan luka-lukanya”
sementara malam terus berjalan, dan embun di daun-daun
pindah pelan-pelan di kulit-kulit kami yang gersang
“esok pagi semoga tersisa setimba-dua timba air buat mandi ya, dek.”

disampirkan selimut di punggung aku, terbatuk-batuk
ditegak-tegakkan badannya di sisi resbang.
“bumi cuma butuh waktu lebih mengeringkan luka-lukanya.” ulangnya
kian lansia malam, kian palam.

“musim apa ini, mak?”
sesaat sebelum lelap benar, aku ingat bertanya.
“musim tiap orang tua tak berani sakit. tak berjuang hidup, dek, berjuangnya agar tak mati.”
tidak, itu hanya desah panjang mamak yang berbunyi,
mungkin suara desis lambungnya yang beriris,
mencoba menggapa-gapai lariku di taman mimpi.

siapa mau mandikan, ah, apa mau dimandikan?
langkah-langkah dongengang nasib ini patah-patah.

angin mengembus wangi, menyanyi-nyanyi. napas mamak sunyi.
dalam mimpi aku dan mamak bermain hujan. putih baju kami, cerlang.
“kita dimandikan tuhan, mak.”
kelopak-kelopak bunga gugur dari kembang senyum mamak.
tanah mengambilnya.


Makassar, 2014

kalau hati berpintu, mestinya juga berjendela

Kamis, 23 Oktober 2014

Sebelum Engkau Siap Bertanggung Jawab

“Cinta itu tanggung jawab.”
—99 Cahaya di Langit Eropa

Saat kau belum siap bertanggung jawab memastikan kabahagiaan seseorang, jangan memasukkannya ke hidupmu. Saya akhirnya percaya, urusan perasaan itu berbahaya. Selalu percaya, luka apapun yang kautoreh di hati orang-orang yang tulus mencintaimu akan dicatat bumi dan langit baik-baik, untuk dibacakannya kembali padamu di lain hari lewat orang serupa atau yang lain, lewat luka yang sama atau yang mirip.

Makanya aneh, kata sahabat saya, saat orang-orang bisa naik awan karena begitu banyak yang mencintainya, bisa merasa aman saat menyakiti perasaan seseorang dengan sengaja, tidak berhati-hati dalam menyikapi cinta orang lain. Mana tahu kita hari ini adalah bentukan sekumpul doa-doa orang yang mencinta dan membenci kita?

Saat kau belum siap memastikan kebahagiaan seseorang, jangan memasukkannya ke hidupmu, sengaja membekalinya kenangan dan harapan yang mengiris-iris kekuatannya. Hati adalah kerak telur dan doa-doa serupa palu. Manusia bisa saling menjaga, atau sekali berpukulan hingga berdarah.

Mari berhati-hati dengan cinta yang jatuh di tangan maupun hati!

freehdwalls.net
Makassar, 09 Oktober 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

UntukMu


 Siapa yang bisa berpura tak bercela? Yang terlihat, manusia terus melakukan semampunya ajaran Tuhan, berharap dengan perasaan paling tulus di antara segala tekanan pikiran bulus.

freehdwalls.net

Selesai kubaca sepotong puisi Mario F.Lawi dalam kumpulan puisi Ekaristi-nya. Berhenti cukup lama, kukhayati sepenggal kalimat ini lamat-lamat; “Karena berkorban adalah menjadi terbatas.” —di Delapan Catatan Kecil Adventus
Kupinggirkan buku tersebut. Berbaring telentang di atas kasur, kulempar pandang jauh, jauuuh menembus langit-langit kamar, ke lapis-lapis langit yang mungkin tersentuh khayal, menuju ke masa silam, sampai ke bayang-bayang samar akan perihal-perihal yang kusebut-sebut berkorban untuk-Mu. Lalu, mengertilah aku!
Sering aku mengerjakan perintahMu, mengaji, shalat, bersedekah, puasa, menolong sesama, belajar dan bekerja, kusebut itu untukMu, padahal itu untukku sendiri, agar aku Kau beri pahala, dimasukkan ke surga.
Sering aku meninggalkan laranganMu, judi, khamr, kikir, malas, gosip, caci, boros, sombong, culas, curang, maling, tipu. Kusebut itu untukMu, padahal untuk diriku sendiri, karena aku takut Kausiksa, takut dijatuhkan dari jembatan Siratul Mustaqim.
“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersaksikan bahwa dirinya telah ikhlas maka sungguh dia butuh untuk ikhlas lagi”,
Ungkapan As-Susiy ini pahit sekali. Puluh, ratus, ribu, atau sudah jutaan kali barangkali kusandarkan pengorbananku pada sangka, siasat, dan muslihatku sendiri. Sepertinya berkorban memberiku jarak berparsec-parsec dari pemahamanku akan keikhlasan. Membawa unsur bernama tulus itu semakin samar-samar semakin jauh. Membuat aku kian berkorban, kian terbatas memahami hakikat niatan, harapan, hakikat berperasaan, hakikat menghamba, tapi pula menunjukiku secara terang-benderang hakikat diriku sebagai ciptaan. betapa aku memang lah hanya seorang manusia biasa, Manusia yang sengaja Engkau buat terbatas. Dan oleh keterbatasan itulah, paham aku betapa sempurna Engkau.
Manusia itu baik karena semanusia-manusianya dia, bukan karena semalaikat-malaikatnya.”
Di sebuah kesempatan, seorang kawan mengatakan hal tersebut dengan nada paling gelisah. Aku mengingat sebuah cerita ketika Ibrahim harus menyusuri curam lembah dan bebukitan tinggi, meletakkan cincangan burung-burung dalam resahnya. “Tunjukkan aku jika Engkau benar bisa menghidupkan yang mati, Rabbi.” Maka begitu Ibrahim panggil, Allah terbangkan burung-burung itu setelah disatukanNya kembali.
Gelisah mungkin hal paling manusiawi yang dipunyai. Dan tiap kegelisahan cuma butuh manusia berkorban—seperti Ibrahim berpayah menjejal gemunung—untuk menemukan pengertian dan jawaban sederhananya dari Tuhan; Kerja! Aku melihat usaha! Memberi pemahaman atasnya.
Nabi SAW  ketika menceritakan keadaan para malaikat menyabdakan firman Allah Ta’ala, 
فَمَا يَسْأَلُونِى قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ
Apa yang para malaikat mohon pada-Ku?” “Mereka memohon pada-Mu surga,” sabda beliau.

Ah, bahkan malaikat pun memintai Allah surga, padahal mereka adalah seutama-utamanya wali, sedang telah mereka kandung sifat-sifat berikut, Apatah kita manusia?
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Malaikat-malaikat itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Ya! Terlipurlah gelisah. Maka biarkan. Biarlah akhirnya semua niat Engkau, Allah, yang raba patut-tidaknya. Biar segala usaha korbananku, diganjar sesuai ketetapanMu.

“Tugas manusia adalah menjadi manusia.” (Multatuli)
Sebagaimana Engkau turunkan dikalangan kami Rasul dan Nabi-nabi dengan wujud manusia—bukan malaikat, membuat kami mengerti esensinya mengabdi padaMu dalam cara-cara paling manusiawi, lewat hal-hal yang mungkin. Maka kulakukan tugas-tugas kemanusiaanku; beribadah, belajar dan bekerja untuk memberi. Diam dan menumpuk hanya menjadikanku seonggok daging tak bergizi, tak mengandung pemikiran, tak mengandung pengertian. Bila seandainya ada satu dua jerih yang melenceng dari esensi penghambaanku, duhai Allahu Gaffur, maka yang sebenar-benarnya untukMu inilah pengakuan daifku, pasrahku.
Ya, sekiranya berkorban menjadikanku terbatas, sekali lagi, biarlah. Sebab terbatas mungkin adalah landasan paling logis untuk tidak pernah berputus juang. Sebab terbatas mungkin definisi paling mumpuni atas diri seorang hamba.




Makassar, 22 Oktober 2014,

Dalam pongah yang panjang

Minggu, 12 Oktober 2014

Apatah Kun-Mu

freehdwalls.net

Matahari saban pagi, kuhitung jari
Telah lebih dekat mana ini, mati atau lahir.

Saat menguak mata, kutunggu kapan atap rumah jatuh menimpa,
Biar sekali terkubur cerita-cerita.
Bukan lembut matahari, yang meleleh-lelehkannya lagi.
Saat kepala tinggalkan bantal tidur ini, Ayah,
yang ingin kudengar hanya gelegar sangkakala.
Biar pecah kenangan, biar lantak jiwa sekalian.
Bukan cericit burung, yang lebih mirip duri desahmu.
Aku bangun lebih subuh. Tiap kalinya kuguyur air di tubuh sekujur, menyerap jarum-jarum gigil.
Aku berharap tulang-tulangku patah dan kulit ini gegas mati rasa.
Bukan justru mengamini alir airnya, basah yang kian serupa amis keringat kita.

Berganti hari-hari, bersilih musim-musim, dan ingatan menetap.
Tak pindah perih barang sesenti, barang semili.
Mengental terus di sudut-sudut mata, memekat melulu di ujung-ujung langkah.

Tragedi ini siapakah yang mengutus, Tuhan? Siapakah yang habis memberi restu,
yang sedang memain-mainkan Kun-Mu?

Patah ke mana sayap-sayap malaikat di punggung kekar seorang ayah?
Dulu ia kumpul segala tabiat lembut demi menimang kasih
putrinya yang masih persih.
Yang menghalau lelah dan kantuknya demi mengayun-menidurkan rewel putrinya.
Patah ke mana sayap-sayap malaikat di punggung kekar seorang ayah?
Yang pernah tegak berdiri menameng segala bahaya bagi si putri.
Mengapa pula tahu-tahu kini serumah aku pria dewasa yang malah membahayakan diri?

Apatah Kun-Mu, tak Engkau bikin bicara saja benda-benda.
Biar melapor ranjang tidur, dan boneka-boneka besar di almari, kamar, dan ruang tengah.
Apatah Kun-Mu tak Engkau bikin bergerak saja benda-benda.
Genteng, tangga, perabot, apalah itu di sana, Engkau jatuhkanlah saja di kepalanya hingga pecah.
Apatah Kun-Mu, membiarkan dendam biak di dada seorang anak ke pada Ayah-Nya.
Sementara malaikatmu yang satu, ibuku, berpeluh air mata, memohon-mohonkan sang anak berhati permata.

Aku tak bisa berkata apa-apa, Tuhan.
Kau tahu rasanya
ketika orang yang paling kaucinta
bahkan tak bisa kaupercaya?

Aku tak bisa berkata apa-apa, Ibu.
Luka yang mematah-matahkan lidah itu,
Siapakah yang akan ganti menyuarakan nanti?

Tinggal aku di sini, sendiri.
Merawat bisuku yang ngilu dan perih, dengan takut yang lain.
Melawan trauma yang kemarau, dengan berhujan-hujan air mata yang derau.






Makassar, 11 Oktober 2014