Selasa, 27 Januari 2015

Kota Kita

Berbelas-belas tahun hidup di kota ini, makin kabur pelajaran tentang luhur budi yang kau dan mama ajarkan dulu-dulu, yang bapak-ibu guru didikkan kemarin-kemarin, yang motivator dan para ustaz tuahkan hari-hari ini, juga kitab-kitab, buku-buku.

Aku tahu benar sulit mengenali kata hati. Engkau pun tahu, semua orang pun begitu. Tapi dibesarkan oleh kota ini membuatku melihat hal tersebut tidak lagi sebagai sesuatu yang sulit, selain nyaris mustahil.

Rumit rasanya, Pak. Orang di sini meninggikan tembok dan pagar-pagar mereka. Sesekali membuka daun jendela dan pintu, tapi tak pernah lagi terlihat duduk bersantai di pekarangan rumah saat kita lewat. Kota seperti menutupkan lengan untuk kita membagi senyum yang berlebih, apatah lagi bila kurang?

Rumit rasanya, Pak. Ingat tempo hari rumah kita kemasukan maling, dan mereka leluasa saja mondar-mandir karena tetangga kiranya cuma keluarga yang mampir? Atau maling lain yang enteng saja mendorong motor tetangga sebelah melewati lorong yang ramai, sebab dikira teman si anak tetangga itu? Sudah tak berbilang hitung pula yang kecurian bahkan di siang hari bolong.

Di sini, jangan pernah membolos menghadiri arisan. Saat ibu-ibu bertemu, mereka butuh topik untuk digunjingkan, dan tentu tak punya pilihan selain sesiapa yang tak ada ujung rambut di sana. Di sini, sulit mencari tempat yang asri, taman yang sejuk, ruang lapang untuk menenangkan diri, menghirup ruh baru saat kepala dan jiwa mulai berkabut, sebab lahan-lahan macam itu yang kini jadi tempat kegemaran setan, Pak. Mereka kian berkelas dan berselera. Penuh kita oleh warung makan dan tempat-tempat belanja. Semua orang mungkin makin terlihat sebagai monster kelaparan, dan soal lapar, cuma perut saja yang punya urusan barangkali.

Ah, rumit, Pak. Kian rumit mengecek kemurniaan hati. Bila kebetulan bertemu dan didatangi satu-dua pengemis, bingung untuk menolak atau menerima. Menolak pun sering resah sendiri menimbang ini sebab kehati-hatian ataukah diri yang mulai kikir. Bapak tahu tak ulah banyak pengemis sekarang? Mereka makin lucu dan berani, Pak. Makin menggemaskan dan menggeramkan. Mereka tak malu berganti pakaianyang bagus dengan yang compang-campingdi pinggir jalan, dilihat orang-orang. Mereka enteng berseluncur di trotoar-trotoar saat siang, lalu mengangkut papan rodanya dengan motor saat petang.

Ini kan belum lagi soal petinggi-petinggi tempat rakyat macam kita ini menggantung sekelumit asa ya, Pak? Duh, kalau bapak tonton berita bagaimana para politisi kita terlihat punya obsesi lawakan yang tak terfasilitasi itu berlaga, negeri ini bisa memprakarsai dongeng-dongeng ajaib untuk cucu dan cicit bapak. Kita bisa mengobrol sampai teh dan sore habis demi menulis bakal dongeng-dongeng itu.

Ah, Pak. Tak tahu bagaimana harus merasa. Tak tahu bagaimana harus dibawa hati anakmu ini. Tiap hari adalah hari yang baik untuk piknik kini. Ke luar ke manalah, selain dari pelukan kota. Tapi anak perempuanmu yang waktu kecil saja penuh perhitungan kau izinkan bermain ke luar, meski masih sebandel itu juga, tetap saja anak perempuanmu yang mengambil kali-kali mama untuk berkendara jauh-jauh dari sisinya.

Maka beginilah yang tersisa. Menulis surat-surat yang meski tak pernah terkirim, bisa saja kusimpan di sini dan berjalan sendiri. Entah ke mana, entah bila ada yang berkepentingan. Entah untuk apa, entah menyampah, entah demi melegakan perasaan.

Terakhir, apa kabar bapak di sana? Harusnya kau juga bisa menulis surat bila kauterima siksa sebab laku salah anakmu yang tidak disadarinya di sini. Tapilagi-lagibisa apa kita ya, Pak?

Maafkan Fiqah, Pak. Mama juga, adik-adik juga. Kami sayang bapak. Bahagia punya sedikit rasa sayang serumit apapun ini.