Jumat, 03 April 2015

Ada Surga di Rumahmu!

Surga itu begitu dekat.
Tapi, kenapa kita begitu sibuk mengejar yang jauh?


Turut dibuka dengan kisah mahsyur mengenai Uwais Al-Qarni, film Ada Surga di Rumahmu ini menyambut penonton dengan anggun sekali. Kita sudah hafal benar cerita ini. Ramadhan kecil yang dihukum sang ayah untuk membawa sebuah ceramah di tempat pengajian lepas melakukan pertengkaran bersama kawannya itu menceriterakan ulang agungnya ketaatan Uwais kepada sang ibu dengan air mata menitik. Ya, siapa pula yang begitu keras hati bila tak trenyuh tiap diperdengarkan kisah tersebut?
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada Al Adabul Mufrad : Ketika Abdullah bin Umar ra melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf ke Ka’bah dan ke manapun sang ibu ingin, orang tersebut sempat bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatan ini mungkinkah aku sudah membalas jasa ibuku?” Getir jawaban Abdullah bin Umar, “Belum. Setetes (keringatnya) pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.”
Belum setetes pun!
Perlu digaris-bawahi betul-betul hal itu oleh kita yang hari-hari ini bangga atau merasa cukup dengan pergi kesana-kemari menuntut ilmu, jauh menggali pengalaman, berupaya menebar kasih ke segala alam, bekerja memeras keringat siang-malam untuk dunia yang katanya demi akhirat juga, tapi menelentarkan surga terdekat dari diri, surga yang mempersembahkan kita kepada dunia, dunia pertama yang membawa surga di kakinya, ibu.
Film ini mengingatkan saya pada pesan mama yang rajin sekali beliau ulang-ulang tuahkan saat awal-awal terpapar lingkungan tarbiyah di SMA, lebih-lebih ketika menginjak dunia kampus, saat hasrat menjadi aktivis lagi menggebu-gebunya, agar saya ingat untuk mendakwahi keluarga lebih mula sebelum keluar ke mana-mana. Ada yang selalu lebih penting dibangun, kata beliau, ada ikatan yang selalu lebih prioritas dijaga. Sesuatu yang sudah dipilihkan oleh Allah lebih awal dari teman-teman bahkan pikiran-pikiran kita sekarang. Ya, keluarga.
Saya yakin telah banyak film mengenai orang tua, terutama ibu, yang pernah kita tonton. Mungkin paling sering membuat kita menangis dan marah. Ada Surga di Rumahmu ini termasuk yang mengandung banyak kejenakaan. Harus saya puji, film ini berhasil membuat kepala saya pening karena emosi yang ditarik ulur. Belum selesai tertawa, saya menangis, sebentar tertawa lagi. Hampir begitu terus.

Nonton bareng @flp_makassar (31/03/15)

Sederhana dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, kira-kira demikian gambaran umumnya. Anak lelaki yang bandel dan senang berkelahi, angan terkenal dan menjadi artis, orang tua dengan harapan anak-anaknya menjadi saleh, kenakalan-kenakalan khas santri pesantren, ketertarikan lawan jenis, perbedaan status sosial, film ini memang tertebak-tertebak saja arah ceritanya, tidak ada scene yang terlalu mewah, keanggunan sungai Musi yang menjadi salah satu icon penting kota Palembang, latar utama cerita ini, pun diperlihatkan dengan lembut dan apa adanya, tapi Aditya Gumay tahu apa yang paling substansial, isi cerita!
Baiklah, soundtrack filmnya saya sukaaa! Sampai di sini, kita ke-samping-kan hal-hal mengganggu seperti label-label sponsor yang menuntut terbaca di setiap film, termasuk nomor seri komik Naruto yang kata teman sebelah saya terbit di tahun 2014 (menyalahi latar waktu di film ini), juga keluhan dia mengenai kisah cinta segitiga yang—katanya—tak tahu ke mana berlabuh itu membuat saya tersadar sendiri, bahwa bukan itu yang inti, bukan kisah cinta segitiga itu yang menjadi bagian penting dalam film ini. Pada akhirnya cukup dengan satu scene penutup di antara megahnya Musi, Ramadhan (Husein Al Atas) dan Nayla (Nina Septiani) yang berdiri berdampingan, sebuah kalimat semenentramkan, Kau akan menjadi surga bagi anak-anakmu, Nayla, bukankah membuat genap sudah segala? Ehehe
Oh ya, meskipun bertema religi, yang tentu saja muatan nilai dan batasan-batasan syariat menjadi hal yang cukup sensitif, persoalan seperti interaksi lawan jenis tidak akan saya bahas lebih jauh. Kita bisa mengkaji hal tersebut sendiri-sendiri.
Novel (dengan judul sama) hasil adaptasi karya Oka Aurora ini pun belum saya baca sebelumnya, sehingga tak mungkin bagi saya untuk membanding-bandingkan. Saya hanya merasa alur cerita film yang terinspirasi dari kisah hidup Ust. Al-Habsyi ini terlalu banyak melompat. Pada beberapa bagian, kesan terburu-burunya cukup terasa. Mungkin karena penulis skenario dan sutradara berusaha terlalu keras memuat lebih banyak isi novel.
Adapun tentang tokoh-tokoh. Tolong saya, tolong cubitkan pipi si Raihan Khan (pemeran Ramadhan kecil) itu. Aih, saya sungguh-sungguh jatuh hati dengan dia di film ini. Husein Al Atas (Ramadhan dewasa) di luar dugaan juga sangat apik bermain peran. Satu titik saja yang terasa ‘kurang dapat’, yaitu ketika Ramadhan menangis di tempat wudu lepas mendapati seorang anak yatim-piatu tersedu-sedu berdoa dan berharap masih punya momen untuk dihabiskan bersama orang tua. Itu saja. Selebihnya pemeran lain, kecuali Nina Septiani (hanya masalah selera), tampil mengagumkan.
Ah, beberapa bagian cerita yang menjadi favorit saya benar-benar ingin saya tulis ulang dan bahas di catatan ini, tapi demi menjaga misi pribadi agar kalian mengadu hati sendiri di bioskop-bioskop terdekat, saya urungkan hasrat tersebut.
Akhir kata, izinkan saya mengutip petuah Ustaz Athar (Ust. Al-Habsyi) kepada Ramadhan di ujung ajalnya, “Seorang ibu selalu berani mati demi sepuluh anaknya, tapi sepuluh anak belum tentu berani mati demi seorang ibunya.” Selagi surga kita masih sedekat ini, ayo datangi, ayo sayangi!



---
Beberapa review dari teman-teman FLP Makassar juga bisa dilihat di sini: