Jumat, 29 Mei 2015

Apa-apa yang Tak Bisa Digapai Seluruhnya, Jangan Serta-merta Meninggalkan Semuanya

Barangkali saya orang yang pikirannya sedangkal; lebih baik dicap buruk, daripada dinilai munafik! Makanya sekali pengin baik, ya baik sekalian. Sekalinya bikin yang buruk, biasanya keterusan buruk. Relatif memang. Hanya, entahlah. Disebut (maaf) bejat mungkin mengerikan, tapi dikenal sebagai orang baik sungguh lebih menakutkan, dan bila ada yang lebih gelap dari keduanya, label palsu dan munafik itulah.

Hoam, tapi pikiran ya tetap pikiran. Sejulang apapun, manusia cuma mewarisi nol-koma-nol-nol-nol-sekian-sekian persen dari ilmu Allah. Sangat sedikit, sangat terbatas. Dan, itu yang sering saya lupakan, bahwa saya hanya manusia. Manusia biasa tentu berbuat kesalahan, tentu berbuat kekeliruan. Sedangkan insan semulia, se-tak-tercela Rasulullah Muhammad pun pernah ditegur oleh Allah. Diabadikan malah di kitab suci Alquran. Penanda yang adil sekali bahwa manusia punya kodratnya sendiri, dan ia bukan malaikat yang tak bernafsu, bukan hewan yang tak berpikiran. Meskipun ia bisa melampaui keduanya.

Allah benar baik sekali mempersahabatkan saya dengan dua perempuan yang baik. Dua perempuan yang berikutnya memperantarai saya bertemu dengan guru yang amat lembut hati. Seseorang yang sangat banyak menjadi titik tolak perubahan masa-masa remaja kami waktu itu. Masih terpahat benar salah satu nasihat yang ‘kakak’ sering ulang-ulang, “Apa-apa yang tidak dapat digapai seluruhnya, jangan serta merta meninggalkan semuanya.” Untuk menjelaskan bahwa Islam itu bertahap, berkebaikan harus dilakukan terus menerus meskipun tak bisa seluruhnya, meskipun mungkin belum sempurna. Itulah mengapa surga punya banyak pintu khusus. Ada pintu yang khusus dimasuki untuk ahli shalat, ahli puasa, ahli sedekah, para mujahid, dsb. Mungkin sebab kita bisa unggul pada salah satu atau salah dua saja. Makanya, untuk manusia yang tidak bisa setengah-setengah, tapi sayangnya suka tidak fokus dan pemalas seperti saya, idealisme kacau macam paragraf pertama di atas itu seperti jurang setan yang dalam sekali.

Hm, tiba-tiba saya teringat potongan percakapan antara Elena dan Damon pada salah satu episode Series The Vampire Diaries di bawah ini;


Dalam beberapa kesempatan, potongan percakapan itu sering terngiang-ngiang dan terasa masuk akal. Tapi kemudian saya berpikir lagi, apa yang salah dari harapan kebaikan yang digantungkan orang lain kepada kita? Bukankah itu sebuah pertanda Allah menginginkan kebaikan dengan menutup cela-cela kita yang banyak. Membuat orang lain tetap melihat kita sebagai sosok yang baik? Menjadi cambuk tiap kali kita terpikir untuk berseleweng dalam hal-hal yang buruk? Agar terus berbenah diri?

Mengapa harus begitu bergantung pada penilaian diri sendiri? Selama yang kau tunjukkan tidak mengada-ada, tidak berdusta, tidak mengandung niatan macam-macam. Apa yang masalah dari penilaian orang lain? Bukankah yang penting di sini apa yang Allah tahu dari segala yang tersembunyi di dalam hati?

Ya, apa yang salah dari harapan kebaikan yang digantungkan orang lain? Apa untungnya andai kata mereka justru memandang buruk kepada kita? Selalu merasa kehadiran kita sebagai ancaman, sebagai beban? Mereka merasa tak aman, tak nyaman. Mungkin memang mereka tak bakal menaruh banyak harap, tapi tetap saja, membuat orang lain berperasaan buruk tidakkah pula menjadi salah satu bentuk pengzoliman?

Ah, tiap kali saya kembali berpikir bodoh dan dangkal seperti tadi, saya pergi ke depan cermin dan membentak diri sendiri, “Hei! Memangnya siapa yang suruh kau jadi orang sempurna? Memangnya kau siapa? Kau cuma disuruh bekerja keras, disuruh berbuat baik sebagai tebusan atas janjimu sendiri ke Tuhan sebelum dilahirkan. Siapa yang suruh kau jadi sempurna!?”

Lalu kembali lagi bergelut ke hal-hal yang perlu. Mungkin begitu saja yang bisa dilakukan untuk sementara, sambil merapikan lagi hal-hal yang terlanjur saya rusak. Sembari tetap berupaya mengembalikan mindset ke posisi yang benar. Bahwa keseluruhan hidup ini adalah bentuk peribadahan, bukan ranah pengekspresian ego. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, bukan yang paling sempurna. Bahwa patokan terendah seorang mukmin di tengah-tengah manusia adalah ‘aman’. Merasa aman saudaranya dari dirinya. Jadi tidak ada alasan untuk bertahan pada kondisi buruk. Atau berhenti di jalan kebaikan yang panjang, memang bercabang-cabang, dan juga penuh aral melintang.

Apa-apa yang tidak bisa digapai seluruhnya, jangan serta-merta meninggalkan semuanya. Begitulah.

Sabtu, 16 Mei 2015

Aku hanya mengerti dua hal mengenai jatuh hatinya orang yang baik; Ia menghormati orang yang dicintainya. Atau, menghormati dirinya untuk tidak mencederai kehormatan orang yang ia cintai.


Kamu benar, supaya cinta membuat kita terhormat, menghormati tiap kedatangannya pun diperlukan. Menghadapi cinta yang terbaik memang tak boleh digesa-gesa, namun bukan berarti semudahnya ditunda-tunda, kan? Memperlakukan kedatangan cinta pelik sekali, ya? Tentu saja. Sebab rasa cinta adalah rahmat dari Allah yang diturunkan ke hati (bukan dijatuhkan begitu saja). Jika ada yang membuat cinta terjatuh, pasti manusia itu sendiri, sebab tak menyimpannya dengan baik, tidak  membawanya dengan hati-hati.

Bahkan tidak hanya sampai di situ, sebab menghormati cinta tidak sesempit hati kita sendiri. Ia luas, jauh hingga ke lubuk-lubuk hati orang lain, jauh melampaui langit. Benar, bagaimana bila kamu yang membuat cinta seseorang terjatuh? Apa kamu akan membalik punggung, lantas berlalu pergi, tak peduli? Membiarkan orang itu merapikan sendiri kepingan-kepingan cintanya yang hancur berantakan?

Ya, menghormati cinta sungguh tak sesempit hati kita sendiri. Bukan hanya soal menghadapi cinta yang ada di hati, tapi juga cinta yang orang lain letakkan di tangan kita. Meskipun bagaimana seseorang bisa mencintai seorang yang lain selalu jadi hal yang misteri, namun pemahaman yang baik seharusnya tak mengaburkan dan menggelapkan hati seseorang.

Siapa yang tahu pada senyum, tutur, laku, atau perangai yang mana jangkar itu tak sengaja menyangkuti perasaannya, siapa yang tahu bahkan pada hal paling buruk dari diri kita sekali pun? Lalu, bila hal itu disebut ketidak-sengajaan, patutkah kita sengaja membiarkannya? Sengaja membiarkan orang tersebut terus tergantung pada kita? Sehingga ia mulai bertanya, mulai mencoba menggapai kejelasan dirinya? Lantas apa yang mau kita berikan? Harapan? Penolakan? Pengabaian? Hanya karena khawatir tidak terikat pada siapapun, takut sendiri, lalu membiarkannya tetap di sana sungguh sesuatu yang jahat.

Ah, ini mengapa sejak dahulu aku amat menghormatimu. Sebab kamu meletakkan cintaku dengan baik, tidak mencoba-coba menggenggamnya, tidak pula semena-mena melemparnya jatuh. Kamu membuatku terhormat dengan tak membuat cintaku bergantung. Cukup dengan menggantung harap pada-Nya, tempat kamu juga menggantung harap, meski entah untuk siapa. Kadang saja hatiku bergumam pelan, “Akukah orangnya?”