Kamis, 04 Juni 2015

Sepercik MIWF Hari Kedua

Hari ke-2 MIWF 2015. Saya bahagia. Pertama, Mimi sudah sembuh dan akhirnya bisa bersama sahabat sejauh cinta-sejauh usia-ku itu sehari penuh ini. Dalam tiap hal-hal menyenangkan, rasanya selalu berlipat-lipat kalau ada Mimi di dalamnya. Kedua, meskipun begitu sibuk mengomentari beberapa penampilan pada Under The Poetic Sky-nya MIWF, Bukan memang jiwaku ini. Ndak cocok memang saya beginian. Kenapa puisi itu harus bikin terputar-putar kata-kata, dan sebagainya dan sebagainya. Saya senang kawan-kawan sefakultasku banyak yang setidaknya "mau" menyempatkan diri ke sini. Ketiga, beberapa penampil kembali memukau. Saya begitu bahagia karena terharu dan dibuat menangis dengan cerita singkat yang Bryan Whalen tuturkan terbata-bata dalam bahasa Indonesia tentang Makassar dan bagaimana ia merasa diperlakukan. Ah, I love him. Saya dibuat tersenyum-senyum sendiri oleh tingkah manis Yana dan Nina, terutama pada bagian kak Khrisna dan Yana membacakan puisi Hujan Bulan Juni Sapardi dalam Bahasa Indonesia dan Makassar. Huwyeah! Terbait meman kak Khrisna. Dan penutup yang spektakuler dari El, Luna Vidya, dan Khrisna Pabichara dalam musikalisasi puisi Aku milik Chairil Anwar yang gagal menahan saya tak berteriak kencang; Yuwrawk, Gaes!
Menengok jam yang sudah berada pada hitungan nyaris sekarat-nya Cinderella, saya dan Ami beranjak cepat. Kelima (tadi belum selesai), bertemu Aqila lagi, sedang duduk terlipat kelelahan di depan stand buku. Pamit singkat karena satu dari ratusan volunteer yang begitu bekerja keras demi lancarnya seluruh acara sekaligus adik manis saya di FLP itu terlihat tidak lagi berenergi sekadar untuk tersenyum. Saya pun berlalu, sampai Aqila berteriak,
"Kak Fiqah."
"Iyaa."
"Mauka pelukki dulu."
Dia berjalan gontai sekali. Saya meraih lekas Aqila sambil tersenyum. Mungkin dengan sisa-sisa daya, Aqila memeluk saya dalam sekali.
"Bau sekali meka ini, Kak. Dari pagi belum ganti baju. Tapi biarmi."
"Sama jeki, Dek."
"Tiap kulihat ki selaluku mi itu mau pelukki, Kak, kalau saya ingatki pas baca puisi tempo hari."
Aqila mengeratkan pelukannya. Dan kami terdiam beberapa jenak.
"Hati-hatiki pulang, Kak Fiqah." kata ia akhirnya sambil melepaskan saya yang masih termangu dan berusaha menahan senyuman tetap pada lengkungnya. Tak tahu harus berkata apa.
Ah, Aqila. Padahal saya baru bertemu dia tiga kali, tapi tiap kalinya Aqila selalu bisa menarik banyak jarak antara dirinya dan hati orang-orang, atau setidaknya saya.


Begitulah tiap tahunnya, MIWF tak pernah alpa membagi pertemuan demi pertemuan, kehangatan demi kehangatan.