Selasa, 21 Juli 2015

Suatu Malam Di Selipan Percakapan Pendek Kita

pict from here

Ada cerita yang terus berjalan dalam sebuah puisi yang bagus.
Bagiku begitu.
Bahkah ketika aku merasa telah rampung menerjamahkan dan memaknainya, tetap saja dalam kondisi tertentu, sering kembali kutemukan kehidupan yang lain tiba-tiba bergerak dari sana. Beberapa puisi punya banyak jiwa yang bisa membuatku menangis satu waktu, dan tahu-tahu tersipu, marah, atau tertawa di kesempatan lain.
Kau bertanya mengapa aku menyukai puisi malam itu. Meski seperti kau tahu, tidak banyak waktu kita duduk berpanjang lebar untuk bercerita, seperti halnya tak banyak waktu untuk membaca lebih panjang, belum lagi memikirkannya.
Membaca puisi membuatku merenung, berpikir, dan berimajanasi lebih intens. Puisi memberiku ruang itu, ruang bercakap-cakap yang luas dan dalam dengan diri sendiri.

Sabtu, 18 Juli 2015

Hilal

pic from here

Sudah lima kali kunaikkan kalender di dinding. Dari kalender itu angka-angka berjatuhan bagai kelopak-kelopak bunga yang kukebiri, hingga terkumpul sekeranjang-sekeranjang untuk kutabur di pusara.
Lebaran tiba lagi. Seperti masih sekejap lalu aku terbangun dari kursi ruang tamu, mendapati kehadiranmu di ambang pintu. Menyatakan kalimat-kalimat yang tak pernah mampu aku ingat, sebab tengah separuh sadar, sebab tengah sepenuh terpanah. Kau tersenyum dan aku mengangguk. Entah mengapa dan bagaimana. Aku hanya ingat kembali tertidur dan melanjutkan mimpi setelahnya.
Hanya, tiba-tiba petang sudah menjelang. Belum sempat kusingkap mukena yang habis kupakai sembahyang, ketika sahabatmu memberondongku ke antara teriakan pilu orang-orang. Dari ambang pintu rumahmu, kurasa aku benar-benar dibangunkan Tuhan.
Silih berganti rangkulan kuterima dari keluarga, dari kawan-kawanmu. Di pundakku lirih mereka sampirkan kalimat-kalimat yang juga tak mampu aku ingat, sebab tengah separuh sadar, sebab tengah sepenuh terpanah. Aku mengangguk, namun tak ada lagi kau di hadapanku tersenyum. Hanya bayang-bayang abu-abu, yang pelan-pelan semakin pekat.

Berpekan-pekan silam. Jauh sebelum roda pesawat mengambil jarak dari landasan, dan burung besi tersebut membawamu pergi, kalimat ini saja yang sempat aku ingat pernah kau katakan dengan sungguh-sungguh.
“Kalau rindu, cari aku saat penghulu bulan. Tiap kali kau melihat lengkung sabit, aku tersenyum padamu di situ.”

Berentang sudah jarak pun waktu. Dan, Hilal, lebaran tiba lagi. Aku hanya ingin tahu, masih kaukah itu yang di sana tersenyum?