Minggu, 22 November 2015

Donoma

bening-bening jatuh
peluhi sekujur

berpecahan tetes-tetes luka,
merah membiru.
lebam kerongkongannya, menggali-gali suara
sisa jerit yang dibekap kaos amis bau keringatmu; pahit!
tercuri sudah kedip.
kelopak itu menggantung
kosong kering.
matanya sudah mengibaskan pisau,
menodongmu dengan kilatan runcing,
dan kau hanya berpaling.

dalam tendangan yang tak sampai,
dalam cakaran yang tak mengelupas,
tubuhnya dirampas!

tangan perempuan itu keras meraih-raih,
meronta menggapa-gapai langit.
mencari uluran telapak Tuhan biar ia direnggut pergi.

tak kau, tak Tuhan, tak masa depan
menunduk. mendudukkan acuh.
menyumpal telinga dengan suara-suara baru.
melengking tingggi, tak habis-habis bicara asasi.

ular di perut perempuan itu terbahak menatap moncongmu
melepaskan peluru-peluru. menyasarnya, namun meleset terus.
bersarang ke dada perempuan itu.
memuing, berpencar. kian melukainya di serabut urat, di sepanjang pembuluh darah.

tapi kau lihat hanya apa yang mau kau lihat
kau dengar hanya apa yang mau kau dengar.
diam kau pilih, risiko tak mau kau ambil.
kalaupun bicara, kita bicara tanpa dosa.
berkelakar atas kesalahan, tapi tak merasa salah. bertanya-tanya.
tak seorang pun menanggung jawab.
terpukul, tak hendak memikul.


kita berjalan-jalan dengan sebelah mata.
mondar-mandir melengkungkan senyum serupa perahu
sementara tangis-tangis menjadi laut. gemuruh dan berombak
tapi tetap tak terguling peduli.

takut sudah jadi paling mendung.
amarah sudah jadi paling kilat.
tangis sudah jadi paling hujan.
jerit sudah jadi paling badai.

entah kulit, entah masa depan, berlubang sudah.
terkoyak sekian puluh.
entah pendiaman, entah pembiaran, berkalang sudah.
mengatup dan membunuh.

alangkah keadilan bukan payung.
tegak semata oleh sebatang kabung,

bening-bening jatuh.
peluhi sekujur.



Makassar, November 2015