Sabtu, 30 Januari 2016

Sapu Tangan Peninggalanmu Tak Lagi Muat Bagi Air Mata Ibu

Kebersamaan umpama musim yang pasti bersilih.
Sejak kanak rajin kubilang daun-daun pepaya di teras rumah kita. Sejauh kutahu belum ada yang setabah ranting-ranting pepohonan mengeja kehilangan. Menyaksikan betul tunas-tunas tumbuh, layu, dan kian keriput. Lantas mengerti harusnya kapan ranting-ranting yang lengan memasrahkan pelukannya. Membiarkan dedaunan lepas, luruh, kering, habis di kaki, sampai tunans-tunas baru bercokol lagi.

Tapi, kau bukan daun gugur yang menunggu pengganti. Sebab itu air mata ibu belum pernah sanggup penuh kuhitung.

Aku mengingat kepergianmu sebagai bising kota yang meneriakkan kesunyian.
Kota tempat aku kaubesarkan yang kian rimbun-beruban. Tinggal sedikit ruang buat belajar naik sepeda. Pohon-pohon segala mitos belakang komplek sudah jadi jalan raya, tempat angkot-angkot memanjangkan jalur rezeki. Burung-burung yang dulu senang hinggap berbaris-baris di untaian kabel listrik tak pernah lagi ada. Entah punah, entah ke mana. Anak-anak kecil di sekitar rumah kita tak mengenal lagi musim layangan, tak pernah lagi terlihat bermain kelereng atau petak-umpet di sore hari. Aku baru melihat mereka keluar rumah begitu tahu-tahu sudah berusia sekian-sekian dan pandai bersolek juga.

Aku tak tahu bagaimana bisa perempuan begitu banyak menangis.
Suatu kali aku jatuh dan berdarah, pernah aku membentak dan merengekinya saat ingin ini-itu,menangis ibu. Aku tekun belajar, meraih penghargaan. Saat lulus kuliah, disunting seorang pria. Pernah kubuang muka, atau kukecup tangannya, ia masih, masih menangis.

Aku tak tahu bagaimana bisa perempuan begitu banyak menangis. Sampai mataku panas dan tahu-tahu berair, tiap kali mengintipnya menengadahkan tangan saban malam hari.
Mendoakanmu, mendoakanku.

Kami terus saja menangis.
Entah apa di rahimnya dulu, apakah di rahim ibunya dulu, kami pernah meninggalkan senyum karena terlalu terburu-buru.
Apakah kami lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?

Tapi, perempuan itu bisa saja menghabiskan seluruh sisa hidupnya dengan pipi yang basah, dan bisa betul-betul kuhabiskan sisa hidupku untuk menunggu telapak tanganmu tiba menyeka kembali air matanya.
Sebab kedua tanganku tak pernah cukup, tak pernah cukup.

Seperti payung bagi derai hujan, mungkin kau benar dengan meninggalinya sepucuk sapu tangan. Sebab kita tahu mata adalah sebenar-benarnya musim yang paling tak tentu. Rindu pula adalah cahaya yang selalu punya cara menyembul keluar. Sudah berapa kali matahari terbit-terbenam, dan kenangan masih tak bisa belajar menentukan siklus timbul dan tenggelamnya. Bulan di malam-malam kami seperti bekas-bekas ingatan yang tertawa lebar di lengkung garis mata ibu.

Dan, sampai kini ibu masih menangis, aku masih membilang lembar-lembar daun pepaya, engkau masih jadi aroma tanah, mengepulkan kerinduan.
Tapi, sapu tangan peninggalanmu tak lagi muat bagi air mata ibu.

Kenapa tak memilih saja jadi air matanya, biar kau bisa ia jaga tak lepas, dan tugasku tinggal memastikan senyumnya tak lesap.


Makassar, 2014