Sabtu, 17 Desember 2016

Fajar

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّة
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ 
رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي

Panggilan itukah yang sama kita nantikan?
Di antara sengkarut dunia yang merentakan akal,
Keinginan menggunduli usia
Pada pokok-pokok takdir yang tegang dicabangi keluh.

Firman itu mencari-carimu.
Bumi ini retak sudah, pongah memikul
Bangunan-bangunan tinggi, diri-diri yang meninggi.
Langit ke berapa tengah kau tantang?
Berlapis-lapis angkuh kaupasak
Tiang-tiang serakah
Berdiri di antara bata-bata derita
Bening yang mengecat seluruh kelampauanmu
Barangkali air mata terperah orang orang
Yang kauinjak.

Apa kalimatku masih jeritan, dan tudinganmu masih teriakan?
Luka di kakimu bukan duri yang Tuhan tabur.
Di mana harusnya kauletakkan pijakan
Adalah pilihan-pilihan membentur.

Selagi jiwamu masih gemuruh,
Langit tetap pekat, hidup selalu siklus.
Tuhan mengalir di sana, sebagai tinta di garis waktu.
Simpul saksi yang mengikat seluruh mau, segala laku.
Hingga sepanjang-panjang musim mengguliri keyakinan,
Sumpah-Nya pasti mengering. Dan siapa tahu di gesekan angin mana kau digugurkan,
bangunanmu diratakan, putaranmu dirampungkan.

Sebelum fajar terakhir berhenti di sedebu kesementaraan yang satu,
Semoga kita sempat menekuri kerutan di kulit hitam malam ke sepuluh.

2016