Sabtu, 30 September 2017

Harapan

Mimpi-mimpi, sebagaimana penyesalan, terus tumbuh. Harapan-harapan, sebagaimana kenangan, sering sulit dikendalikan.

Kadang kita hanya ingin bahagia walau tak nyata. Itu mengapa kita suka membiarkan harapan membesar melebihi jangkauan dua lengan.

Kita dikuasai harapan dan terbelenggu dalam bayangan-bayangan semu. Mulai merasa kecewa sebab menilai kebaikan Tuhan hanya sejauh harapan-harapan kita saja.

Kita mengupayakan–bahkan mengejar–segala hal dengan buta. Kita mulai membangun ambisi. Dalam kendali yang buruk, ambisi itu pun berubah menjadi obsesi yang tidak terkendali.

Kita lupa mensyukuri apa yang dekat dan kita punyai. Lupa bahwa Tuhan menjanjikan nikmat lebih di dalam syukur dan alpa menitipkan harapan pada pemegang kabul. Kita luput mengingat bahwa harapan-harapan didekatkan tidak hanya dalam upaya, tapi juga keberserahan.

2 komentar:

  1. I've ever read and we all know, expectations is the root of every disappointment. But, we do, still. Tapi, kita memang sering luput, apa yang ada bersama kita, untuk bersyukur dan berserah. :)

    BalasHapus
  2. inspiratif sekali, kak.

    dengan bersyukur semua begitu tenang yh.

    BalasHapus

Say something!